Contoh PTK PAUD

  • View
    42

  • Download
    5

Embed Size (px)

Text of Contoh PTK PAUD

46

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangDalam bidang pendidikan sangatlah penting adanya pendekatan yang mendasar untuk mengajarkan anak usia dini tentang kedisiplinan dan hidup mandiri. Karena pada usia lahir sampai memasuki pendidikan formal merupakan masa penting dalam tahapna kehidupan anak, dimana akan menentukkan perkembangan anak selanjutnya. Dalam tahap usia dini ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan nilai tanggung jawab untuk mendisiplinkan diri, serta membangun sikap tidak selalu bergantung pada orang lain. Sehingga harapannya kelak anak-anak akan terbiasa memiliki tanggung jawab untuk berdisiplin dan akan menyadari untuk selalu bersikap mandiri. Dan usaha untuk menanamkan rasa tanggung jawab untuk berdisiplin dan bersikap mandiri, ditempuh guru salah satunya melalui metode pemberian tugas.Walaupun selalu terjadi perubahan perkembangan yang sifatnya tidak seperti kondisi tubuh atau psikologi seperti sikap moral seperti disiplin. Dengan meningkatnya kemampuan intelektual terutama kemampuan berfikir dan melihat. Maka konsep-konsep tersebut harus ditanamkan dan diserap oleh anak.

1Dari serangkaian perubahan tersebut akan terjadi sebab akibat dan proses pematangan dan pengalaman. Landasan yang diletakkan pada masa awal akan menentukkan berbagai macam cara anak dalam menyesuaikan diri dengan orang lain atau dengan situasi lingkungan sekolah dimana mereka hidup dan yang akan mempengaruhi perkembangannya. Sebab pada awal masa kanak-kanak inilah perkembangan tanggung jawab disiplin dan kemandirian masih dalam tingkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena perkembangan berfikir anak belum mencapai kemampuan, dimana anak dapat mempelajari atau menerapkan sikap perilaku yang abstrak tentang mana yang benar dan yang salah.Disiplin dianggap perlu untuk perkembangan anak, tetapi pandangan tentang apa yang merupakan disiplin yang baik telah mengalami banyak perubahan. Disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan aturan dan tata tertib untuk dilakukan. Dengan begitu anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih sayang.Karena belum mengerti tentang disiplin anak-anak harus belajar berperilaku mandiri dalam pembiasaan diri di lingkungan sekolah danj juga perlu belajar menggunakan akal dan penalarannya serta pengalaman langsung. Sehingga mereka memiliki control pribadi untuk mempelajari pembiasaan yang dihadapi. Disiplin merupakan cara guru untuk menciptakan lingkungan sekolah yang tertib atau damai yaitu dengan menggunakan disiplin yang efektif. Dimana diplin yang baik bukanlah dalam bentuk hukuman melainkan instruksi.Karena nilai tanggung jawab dan disiplin yang dimiliki, merupakan kondisi potensial atau manusia sebagai makhluk normatif dan juga memperlihatkan tingkah laku yang normatif. Sehingga anak tersebut dapat menemukan bahwa perubahan yang telah dipelajari dari orang tua, pendidik (guru) maupun orang lain menjadi berubah. Jadi anak mulai dapat memperhitungkan pelanggaran moral. Misalnya sudah mengerti berkata benar atau berkata bohong, tidak mau mengambil yang bukan miliknya. Menghargai temannya dan sudah menyatakan pendapat suka atau tidak suka.Bila ditinjau dari segi historinya perkembangan nilai-nilai tanggung jawab disiplin dan kemandirian anak memegang peranan penting untuk menentukkan arah perkembangan anak yang normal. Sehingga apapun yang mengalami perkembangan dapat dianggap sebagai bahaya potensial. Hal tersebut dapat dipahami sebab dalam menyentuh afeksi seseorang jauh lebih sulit daripada meningkatkan kemampuan seseorang serta kognitif atau psikomotor. Untuk mengolahnya pun memerlukkan corak tersendiri serta menggunakan tangan-tangan yang terampil.Peningkatan nilai-nilai kedisplinan pada anak usia dini akan sangat efektif bila dalam hal ini diterapkan metode pemberian tugas. Sehingga dengan demikian anak akan merasa terawasi dan bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan olehnya itu peneliti mengajukan judul penelitian yaitu Meningkatkan Kedisiplinan Anak Melalui Metode Pemberian Tugas Di Kelompok B PAUD Anatupara.1.2 Rumusan MasalahApakah melalui metode pemberian tugas dapat meningkatkan kedisiplinan anak di kelompok B PAUD Anatupura1.3 Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan anak melalui metode pemberian tugas di kelompok B PAUD Anatapura1.4 Manfaat PenelitianPenelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:1. Anak Didik: Sebagai metode yang dapat meningkatkan nilai-nilai tanggung jawab disiplin dan kemandiriannya.2. Guru: Sebagai bahan masukan agar menggunakan metode yang efektif dalam pembelajaran.3. Sekolah: Sebagai sumbangan positif guna memperbaiki mutu pendidikan di sekolah khususnya di PAUD Anatapura

BAB IIKAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Penelitian Yang Relevan1. Lisniati (2013) telah melakukan penelitian dengan judul meningkatkan kedisiplinan anak melalui metode pemberian tugas di kelompok B PAUD Aisyiyah Liku Palu Utara. Penelitian yang dilakukan berlatar belakang dari pengalamannnya sebagai seorang guru yang mengajar di kelompok B merasakan ada masalah. Khususnya yang berkaitan dengan kedisiplinan anak. Anak masih kurang displin dalam berbagai hal. Sebagai guru yang mengajar di kelomppok tersebut merasakan masalah itu yang harus dicarikan jalan keluarnya.Oleh karena itu dia melakukan PTK dengan pilihan tindakan menggunakan metode pemberian tugas. Metode pemberian tugas menjadi dasar anak-anak untuk meningkatkan kedisplinan. Pada saat diberikan tugas maka anak-anak akan lebih bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan kepada mereka. Pilihan tersebut sangat tepat karena terbukti dari hasil kesimpulan yang dikemukakan bahwa melalui metode pemberian tugas dapat meningkatkan kedisiplinan. Karena adanya peningkatan kemampuan dari siklus 1 ke siklus 2 dari aspek atau indicator yang diukur dalam penelitiaanya.

52.2 Kajian Pustaka2.2.1 Pengertian KedisiplinanAkhir-akhir ini, kedisiplinan sering diidentikkan dengan kekerasan. Sejak dini, anak telah dididik disiplin dengan kekerasan seperti: hukuman, makian, dan lain-lain. Hal tersebut diterapkan agar anak menjadi takut dan patuh pada aturan yang ada. Dorongan untuk belajar berupa kekerasan seperti itu merupakan pendidikan yang berdasarkan materialistis. Tuntutan yang diberikan hanya akan menimbulkan rasa kecewa, berontak, dan keputusasaan. Sebaliknya, bila pendidikan memiliki dasar rohani, maka kebutuhan untuk menjatuhkan hukuman atau memarahi dapat ditiadakan. Sejak dini, anak ditanamkan cinta kasih dalam belajar segala hal, sehingga akan timbul hasrat yang besar dari motivasi seperti itu. Pendidik dapat mengajarkan cinta kasih dan sifat-sifat baik pada anak dengan bahasa yang sederhana dan dimengerti anak. Hal itu adalah langkah awal untuk memunculkan pemahaman anak. Selanjutnya, tujuan dari pendidikan anak ialah memperoleh sifat-sifat mulia. Mengekspresikan tujuan lain (misalnya: anak tidak boleh berkelahi) juga tidak akan efektif, karena terfokus pada apa yang dilarang, bukannya pada apa yang harus dilakukan. Pendidik dapat lebih fokus mengekspresikan hal-hal yang positif, misalnya; menghargai teman, dan lain-lain. Sehubungan dengan hal di atas, langkah selanjutnya adalah: pendidik seharusnya dapat menjadi teladan bagi anak. Pendidik diharapkan dapat memberi contoh sikap disiplin agar anak dapat menerapkannya. Akhirnya, pendidikan harus dilandasi kasih sayang. Pendidik harus memberikan motivasi pada anak untuk mengembangkan sifat-sifat baiknya.1. Pengertian DisipinMenurut Suharsimi Arikunto (1990:118), disiplin merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan dan tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya. Mulyasa (2003:108) mengemukakan bahwa disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang tergabung dalam suatu system tunduk pada peraturan-peraturan yang ada dengan senag hati.Untk membentuk satu sikap hidup, perbuatan dan pembaiasaan dalam mengikuti, menaati dan mematuhi peraturan berlaku, orang dapat mengembangkannya melalui kesadaran diri dari kebebasan dirinya dalam menaati dan mengikuti aturan yang berlaku.Suharsimi Arikunto (1990:155) menjelaskan bahwa:Peraturan dan tata tertib merupakan dua hal yang sangat penting bagi kehidupan sekolah sebagai organisasi yang menyelenggarakan pendidikan. Untuk menjaga berlakunya peraturan dan tata tertib diperlukan kedisiplinan dari semua personil sekolah. Di dalam kehidupan sekolah peraturan peraturan dan tata tertib yang dimaksudkan untuk menjaga terlaksananya kegiatan belajar mengajar siswa, di samping itu juga untuk memenuhi kebutuhan setiap pribadi yang terlibat di dalamnya karena mereka adalah individu yang mesti dipandang sebagai manusia seutuhnya.

Seogeng Prijodarminto Tuu (2004:31) Disiplin:

Sebagai kondisi yang tercipta dan berbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan atau ketertiban. Disiplin muncul terutama karena adanya kesadaran batin dan iman kepercyaan bahwa yang dilakukan baik bermanfaat bagi diri dan lingkungan.

Dilihat dari sudut pandang sosiologis dan psikologis, disiplin adalah suatu proses belajar mengembangkan kebiasaan, penugasan diri, dan mengakui tanggung jawab pribadinya terhadap masyarakat. Maka kedisiplinan peserta didik dalam mengikuti suatu kegiatan pun akan menimbulkan sikap tanggung jawab, atau disiplin dalam menghadapi pelajaran atau dalam belajarnya. Dengan demikian indikator disiplin belajar dapat dilihat dalam proses dan hasil belajar. Dalam proses belajar indikatornya dapat dilihat dari: kehadiran di kelas, motivasi belajar, partisipasi dalam kelas, etika dan sopan santun,kerapian berpakaian, belajar beberapa jam setiap hari, menyimak dengan sungguh-sungguh setiap pelajaran, dan mencapai Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM).

2.2.2 Disiplin Awal Masa Kanak-KanakKonsep popular dari disiplin adalah sama deng