Contoh Makalah Manajemen Mutu

  • Published on
    30-Dec-2015

  • View
    2.394

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

contoh makalah

Transcript

  • Tugas kelompok

    MAKALAH

    BUDAYA PERUSAHAAN

    D

    I

    S

    U

    S

    U

    N

    Oleh Kelompok :

    Mata Kuliah : MANAJEMEN MUTU

    FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN

    UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH BANDA ACEH

    2003

  • KATA PENGANTAR

    Dengan memanjatkan syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT, atas segala

    limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada Kami sehingga dapat menyelesaikan makalah yang

    berjudul Budaya Perusahaan Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini

    berkat bantuan dan tuntunan Allah SWT dan dosen pembimbing serta teman-teman yang

    telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini untuk itu dalam kesempatan

    ini kami menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua

    pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.

    Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari

    kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah

    berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang Kami miliki sehingga dapat

    selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan

    terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya Kami

    berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi Penulis, teman-teman dan seluruh

    pembaca.

    Jakarta, 23 Juni 2002

  • DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR ...................................................................................... I

    DAFTAR ISI ................................................................................................... II

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Pengertian Budaya Mutu ........................................................................... 1

    B. Lebih Tentang Budaya ................................................................................. 1

    C. Budaya Mutu Berdasarkan Iso ..................................................................... 2

    D. Dasar Budaya Mutu ..................................................................................... 2

    BAB II PEMBAHASAN

    A. Mengiatkan Perubahan Budaya Mutu .................................................... 6

    B. Perubahan Budaya .................................................................................... 8

    C. Landasan Kerja Manajemen Mutu .......................................................... 9

    D. Evolusi Manajemen Mutu ........................................................................ 10

    E. Elemen Budaya Mutu ............................................................................... 12

    F. Penanggulangan Penolakan Terhadap Perubahan Budaya Mutu ......... 18

    G. Penetapan Budaya Mutu ......................................................................... 23

    BAB III PENUTUP

    A. Kesimpulan ........................................................................................... 22

    DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... III

  • BAB I

    LATAR BELAKANG

    A. Pengertian Budaya Mutu

    Budaya adalah suatu pola dari asumsi-asumsi dasar (keyakinan dan harapan) yang

    ditemukan ataupun dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu dari organisasi, dan

    kemudian menjadi acuan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan

    adaptasi keluar dan integrasi internal, dan karena dalam kurun waktu tertentu telah berjalan

    atau berfungsi dengan baik, maka dipandang sah, karenanya dibakukan bahwa setiap anggota

    organisasi harus menerimanya sebagai cara yang tepat dalam pendekatan pelaksanaan

    pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi oleh Shein (1985-1990).

    Disisi lain, menurut Krober dan Klukhon (1950) kebudayaan, definisinya adalah

    kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi

    yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh simbol-simbol yang menyusun pencapaiannya

    secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia, termasuk di dalamnya perwujudan

    benda-benda materi; pusat esensi kebudayaan terdiri atas tradisi cita-cita atau paham, dan

    terutama keterikatan terhadap nilai-nilai.

    Berdasarkan definisi tersebut diatas, maka dapat disimpulkan budaya lebih terfokus

    pada pola pikir seseorang yaitu bagaiman cara menganalisa sesuatu hal berdasarkan

    keyakinannya dan bagaimana langkah yang akan diambil dalam rangka beradaptasi dengan

    lingkungan sekitarnya untuk mencapai suatu harapan atau tujuan. Sedangkan, kebudayaan itu

    sendiri lebih menyangkut pada tradisi yang dianut, symbol yang dibentuk suatu kelompok

    tertentu dan nilai yang menjadi pedoman hidup dalam mengambil tindakan apa yang

    dibenarkan sesuai dengan tradisi masing masing kelompok etnis.

    B. Lebih Tentang Budaya

    Budaya adalah keyakinan bersama, nilai, sikap, lembaga, dan pola perilaku yang

    menjadi ciri anggota komunitas atau organisasi. Dalam budaya bisnis yang sehat, apa yang

    baik bagi perusahaan dan bagi pelanggan datang bersama-sama dan menjadi kekuatan

    pendorong di belakang apa yang semua orang tidak suka. Ini adalah budaya yang secara

    alamiah menekankan perbaikan terus menerus dalam proses, yang menghasilkan tempat kerja

    yang sehat, pelanggan yang puas, dan perusahaan, tumbuh menguntungkan. Sebuah kekuatan

    besar TQM dan pandangan sistem adalah bahwa hal itu menunjukkan kepada kita bahwa

    pertumbuhan, profitabilitas, kepuasan pelanggan, dan lingkungan kerja yang sehat yang tidak

  • saling eksklusif. Bahkan, mereka saling mendukung dan perlu untuk berhasil dalam jangka

    panjang.

    Budaya mutu pada dasarnya adalah penggabungan kualitas dalam sistem keseluruhan

    organisasi yang mengarah pada lingkungan internal positif dan penciptaan pelanggan

    senang. Sebuah pola pikir berubah di semua tingkat manajemen adalah alat dasar untuk

    pelaksanaan seperti suatu budaya. Sebagai proses memulai dimulai kualitas budaya dengan

    manajer yang memahami nilai pandang sistem dan juga percaya dalam implikasinya. Jadi

    dalam rangka menciptakan budaya seperti pola pikir yang berubah adalah penting. Dan itu

    dicapai baik melalui realisasi diri di tingkat atas atau melalui pelatihan dan lokakarya atau

    mengikuti organisasi.

    C. Budaya Mutu Berdasarkan Iso

    Budaya mutu perlu diterapkan dalam organisasi/perusahaan. Apalagi dengan adanya

    International Stadart Organization (ISO. Pengukuran kinerja bisnis dengan penerapan ISO

    9001 dan profesi dibidang mutu.Dalam dunia bisnis, kita tidak dapat berjalan tanpa

    perencanaan. Target dan objective bisnis dapat dicapai jika resources kita handal. Kita harus

    meningkatkan kinerja bisnis dengan aplikasi Quality Management System dan proses

    continual improvement.

    Ternyata semua organisasi/perusahaan punya peluang sama untuk mendapatkan

    sertifikasi ISO, meskipun organisasi tersebut hanya memiliki satu orang tenaga kerja.

    Organisasi bisa memperoleh sertifikasi ISO jika tenaga kerjanya multi skill dan mampu

    meng-handle seluruh pekerjaan dalam organisasinya berdasarkan standar mutu. Tapi

    sertifikasi ISO bukan hanya dipajang sebagai hiasan dinding saja.

    D. Dasar Budaya Mutu

    Untuk mengelola dan mengoperasikan sebuah budaya mutu dengan berhasil, bagi

    pimpinan perlu mengarahkan, mengendalikan dan mengukur dengan cara sistematis dan

    transparan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan. Keberhasilan dapat tercapai jika

    penerapan dan pemeliharaan sistem manajemen yang dirancang dapat untuk memperbaiki

    kinerja mutu dan dapat memenuhi kepuasan kebutuhan semua pihak berkepentingan

    (pengguna jasa mutu). Pengelolaan manajemen mutu pada organisasi mutu mencakup

    berbagai disiplin ilmu lainnya, tidak sekedar ilmu manajemen saja. Ada delapan dasar

    manajemen mutu dapat dipakai oleh pucuk pimpinan untuk memimpin organisasi yang

    menuju ke arah perbaikan kinerja, yaitu meliputi :

  • Orentasi perhatian terpusat pada kepuasan kebutuhan pengguna

    Keberlangsungan hidup mutu bergantung pada pengguna jasanya. Pengguna jasa

    terbesar untuk mutu adalah mahasiswanya. Oleh karenannya, sudah selayaknya jika mutu

    hendaknya memahami kebutuhan sekarang dan mendatang mahasiswanya, tidak sekedar

    memenuhi kebutuhan minimal saja tetapi berusaha melampaui harapan mahasiswanya.

    Kepemimpinan

    Pemimpin perusahaan hendaknya menyusun perencanaan strategi untuk mencapai

    visi, misi, kebijakan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui program-program yang telah

    disusun. Mereka hendaknya menciptakan dan memelihara lingkungan internal yang

    memungkinkan semua karyawan dapat melibatkan dirinya secara penuh dalam pencapaian

    tujuan organisasi.

    Melibatkan semua karyawan

    Karyawan merupakan inti penggerak organisasi, baik karyawan administrasi maupun

    karyawan edukatif. Semua karyawan tidak memandang tingkatan hendaknya menggunakan

    segala kemampuannya untuk dapat memberikan manfaat bagi organisasi yang menaunginya.

    Menekankan Proses bukan Hasil

    Proses kegiatan merupakan hal penting dan utama bagi suatu proses kualitas. Hasil

    yang berkualitas tidak dapat dihasilkan tanpa proses yang berkualitas. Efisiensi akan terjadi

    secara sendirinya jika proses yang dilakukan berkualitas. Oleh karena itu optimalisasi

    sumberdaya yang dimiliki dan hasil kegiatan yang ingin dicapai perlu dikelola dalam suatu

    bentuk serangkaian proses.

    Pengelolaan Manajemen mutu Menggunakan Pendekatan Sistem

    Pengelolaan Manajemen mutu menggunakan pendekatan sistem. Artinya, aktivitas

    yang diselenggarakan sebuah mutu merupakan serangkaian banyak proses kegiatan yang

    banyak melibatkan karyawan dari berbagai unit kerja, sehingga tidak dibatasi oleh fungsi

    kegiatan. Karena itu dalam mengelola aktivitas tersebut terintegrasi dalam sebuah sistem.

    Tuntutan untuk mengetahui, memahami dan mengelola proses yang terkait sebagai sistem

    menjadi hal penting bagi semua orang sehingga setiap orang akan memberi sumbangan pada

    keefektifan dan efisiensi organisasi dalam mencapai tujuannya.

  • Peningkatan Perbaikan Berkelanjutan

    Keefektifan dan keefisienan dalam melaksanakan proses kegiatan tidak dapat

    diperoleh secara tiba-tiba tetapi perlu terencana dan terprogram serta tidak sesaat. Metode

    dan cara kerja dari setiap individu dalam organisasi dituntut untuk dapat menemukan metode

    dan cara yang efektif dan efisien, sehingga untuk mencapainya perlu perbaikan-perbaikan

    terus menerus. Peningkatan perbaikan berkelanjutan terjadi jika secara periodik ada evaluasi

    terhadap metode dan cara kerja tersebut. Dengan demikian, perbaikan berkelanjutan

    organisasi secara menyeluruh hendaknya dijadikan tujuan tetap dari organisasi.

    Pendekatan fakta pada pengembalian keputusan

    Sampai saat ini dikalangan pimpinan Organisasi masih banyak yang memutuskan

    suatu kebijakan tidak didasarkan fakta, tetapi interpretasi pribadi. Hal ini mengakibatkan

    kebijakan yang diambil cenderung by accident atau sekedar trend sehingga hasil yang

    diperoleh minimalis atau kurang efektif/tidak tepat sasaran dan cenderung high cost

    (pemborosan) yang seharusnya tidak terjadi. Keputusan yang didasarkan pada analisa data

    dan informasi akan menghasilkan hasil yang efektif dan tepat sasaran.

    Hubungan kemitraan yang saling menguntungkan

    Pada hakekatnya unit-unit kerja dalam satu organisasi merupakan mitra kerja,

    sehingga hubungan antar unit kerja adalah kemitraan. Hasil kerja (keluaran) unit satu akan

    menjadi dasar pekerjaan (masukan) unit kerja lainnya. Jika keluaran yang dihasilkan unit

    sebelumnya cacat maka akan membuat unit penerimanya harus memproses kembali agar

    dapat dikerjakan. Hal ini berarti unit penerima tidak diuntungkan. Akibatnya secara

    keseluruhan terjadi pemborosan baik waktu maupun biaya. Oleh karena itu, perlu dibangun

    hubungan kemitraan yang saling menguntungkan agar tercapai efektivitas dan efisiensi dari

    proses aktivitas tersebut sehingga menciptakan nilai tambah. Hal ini juga berlaku bagi mitra

    di luar organisasi.

  • BAB II

    PEMBAHASAN

    A. Mengiatkan Perubahan Budaya Mutu

    Pada zaman globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)

    yang semakin canggih terus menggelobal dan berdampak pada hampir semua sistem

    kehidupan umat manusia di muka bumi dewasa ini. Lembaga ataupun organisasi merupakan

    salah satu sistem juga tidak dapat terhindar dampak dari kemajuan tersebut, dengan demikian

    maka disetiap lembaga maupun organisasi dituntut untuk dapat mengantisipasi berbagai

    perubahan-perubahan tersebut.

    Keberadaan TQM yang digunakan dalam penerapan di dunia bisnis menuai hasil yang

    sangat signifikan, sehingga TQM memiliki daya tarik tersendiri, untuk bisa diaplikasikan

    pada objek-objek kelembagaan atau organisasi, baik dalam bidang politik, sosial. Hal ini

    dalam rangka efektivitas dan hasil yang baik sebagai target yang diidam-idamkan.

    Secara filosofis manajemen menekankan pada kepuasan pelanggan, layaknya sebuah

    perusahaan yang selalu mengutamakan kepuasan pelanggan(customer). Yakni, institusi

    memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan apa

    yang diinginkannya. Pelayanan yang diberikan kepada pelanggan tentunya haruslah bermutu

  • sehingga dapat memuaskan pelanggan. Dengan demikian organisasi maupun lembaga selalu

    dituntut untuk memperbaiki kualitas mutu demi tercapainya mutu yang baik dan kepuasan

    pelanggan.

    Pelanggan dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu pelanggan dalam (internal

    customer) dan pelanggan luar (external customer). Yang termasuk pelanggan adalah

    pengelola dan penyelenggara organisasi maupun lembaga. Adapun pelanggan luarnya adalah

    mayarakat, pemerintah dan dunia bisnis. Jadi, suatu organisasi dikatakan bermutu apabila

    kepuasan pelanggan dalam dan pelanggan luar telah terpenuhi.

    Oleh karena itu, untuk memposisikan organisasi seperti industri jasa, maka harus

    memenuhi standar mutu Total Quality Management, serta harus memenuhi spesifikasi yang

    telah ditetapkan. Secara operasional mutu dapat ditentukan oleh dua faktor, yaitu

    terpenuhinya semua spesifikasi yang telah ditetapkan dan sesuai dengan kebutuhan pengguna

    jasa. Menurut Edward Sallis (2008: 7) yang pertama dapat disebutquality infect (mutu

    sesungguhnya) dan kedua disebut quality in perception (mutu persepsi).

    Selanjutnya dalam operasi Total Quality Management in Education perlu diperhatikan

    beberapa hal pokok sebagai konsep yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas atau

    mutu. Adapun hal-hal yang pokok tersebut adalah:

    pertama, perbaikan secara terus menerus (continuous improvement). Konsep ini

    mengandung pengertian bahwa pihak pengelola hendaknya senantiasa mengadakan

    perbaikan-perbaikan guna tercapainya mutu yang benar-benar berkualitas sebagaimana yang

    diharapkan. Adapun perbaikan tersebut membutuhkan introspeksi agar setiap kesalahan yang

    didapat dalam perjalanannya diketahui dan kemudian terus diperbaiki.

    Kedua, menentukan standar mutu (quality assurance). Ini merupakan konsep

    mendasar untuk menentukan apakah bermutu atau tidak tergantung pada standar mutu yang

    telah ditentukan oleh pihak pengelola. Penentuan standar mutu harus memenuhi seluruh

    aspek yang terdapat dalam organisasi, mulai dari tujuan hingga pada peraturan yang

    diguna...