Contoh karya tulis ilmiah lengkap

  • View
    206.077

  • Download
    28

Embed Size (px)

DESCRIPTION

(lampiran pp mari menulis karya ilmiah-giyanti)

Transcript

  • 1. KORELASI ANTARA AKTIVITAS SISWA MEMBACA BUKU PERPUSTAKAAN TERHADAP MINAT MEMBACA DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X DAN XI UNGGULAN SMA PLUS PGRI CIBINONG SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Karya Tuis Ilmiah Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kenaikan Kelas XI IPA Unggulan oleh Rahimah Muslimah PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN ALAM SMA PLUS PGRI CIBINONG BOGOR 2011
  • 2. 2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Mencerdaskan kehidupan bangsa... kalimat tersebut terdapat dalam UUD 1945. Disebutkan dalam kalimat tersebut, bahwa negara kita ingin mewujudkan bangsa yang cerdas. Perlu diingat, untuk mencapai bangsa yang cerdas, tentu harus ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dengan sistem pendidikan yang mapan, akan terbentuk masyarakat yang berpikir kritis, kreatif, dan produktif. Masyarakat tersebut juga akan memiliki kemampuan dan keterampilan mendengar dan minat baca yang besar. Apabila membaca sudah merupakan kebiasaan dan membudaya dalam masyarakat, maka jelas buku tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Bacalah! (Iqra), demikian bunyi ayat pertama kitab suci Al-Quran yang diturunkan untuk umat Muhammad. SAW dan manusia di muka bumi sesudahnya, 1440 tahun yang lalu. Membaca disini mempunyai pengertian yang luas, yang tidak hanya membaca buku bacaan tetapi membaca apa saja yang ada di depan mata kita, yang ada di sekitar diri kita, yang ada pada penciptaan diri kita, yang tak terlihat sekalipun oleh mata kita, dan semuanya. Di negara-negara maju, masyarakat telah sadar dengan sendirinya akan pentingnya budaya membaca buku untuk mendapatkan informasi. Walaupun di negara-negara maju tersebut harga PC relatif murah dan informasi melalui
  • 3. 3 internet sangat mudah dan juga cepat, namun demikian baik perpustakaan maupun toko-toko buku tidak pernah sepi dengan pengunjung. Sekarang ini harus diakui bahwa minat membaca yang diwujudkan dengan aktivitas membaca buku dikalangan siswa umumnya masih rendah. Alasan klasik yang sering mengemuka adalah bahwa membaca belum membudaya di kalangan masyarakat, khususnya pelajar. Sebagian besar pelajar menganggap aktivitas membaca adalah merupakan aktivitas yang membosankan atau membuat jemu dan lelah. Bahkan membuat citra pelajar tersebut dianggap tidak gaul atau cupu. Menurut laporan World Bank Nomor 16369-IND dan International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA) di Asia Timur pada tahun 2000, Indonesia menempati posisi terendah pada skala kebiasaan membaca. Apabila dibandingkan dengan negara tetangga sekitar, kebiasaan membaca anak Indonesia berada pada skor 51,7. Angka ini tentu tidak sebanding dengan Hong Kong yang memiliki skor 75,5 atau Singapura (74,0), maupun Thailand (65,1). Bahkan dengan Filipina saja, Indonesia masih kalah. Negeri yang letaknya di utara Nusantara itu berada pada skor 52,6 untuk skala kebiasaan membaca anak (Website Mandrasah Aliyah Negeri Pacet Cianjur - Tingkatkan Kegemaran Membaca Anak) Pada tahun 2000 juga, organisasi International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA) menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia diurutan ke-38 dari 39 negara. Indonesia merupakan negara
  • 4. 4 terendah kedua diantara negara-negara ASEAN dalam kemampuan membaca. Dengan kondisi seperti itu, maka tidak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia diurutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti (Bali Post). Menghadapi abad ke-21 yang merupakan abad teknologi dan informasi, siswa dituntut untuk memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, sikap kritis, serta kesiapan untuk bersaing secara kompetitif dalam berbagai aspek kehidupan. Budaya aktivitas membaca yang tinggi merupakan cermin kemajuan suatu bangsa. Bangsa atau masyarakat yang maju akan selalu menempatkan kebiasaan membaca sebagai salah satu kebutuhan hidupnya sehingga tercipta masyarakat yang senang membaca (reading society). Masyarakat yang gemar membaca pada dasarnya adalah masyarakat yang belajar (learning society). Dalam masyarakat yang membaca dan belajar, buku-buku dan bahan-bahan bacaan lainnya mempunyai kedudukan yang sangat penting (Staf Pengajar SMP Stella Duce Tarakanita, 1991:40). Untuk mencapai maksud tersebut maka perlu dilakukan berbagai upaya terus-menerus memberikan pemahaman dan apresiasi kepada siswa akan pentingnya peningkatan aktivitas dan kegemaran membaca bagi siswa terhadap prestasi belajarnya di sekolah. Keberhasilan suatu lembaga pendidikan dapat diukur dari prestasi belajar siswanya. Prestasi belajar yang tinggi memberi arti kepada keberhasilan dalam
  • 5. 5 proses belajar mengajarnya, begitu pula sebaliknya prestasi belajar yang rendah memberi arti kegagalan lembaga pendidikan tersebut dalam proses belajar mengajarnya. Keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh kecakapan membaca. Berbagai penelitian melaporkan bahwa ketidakcakapan dalam membaca menjadi penyebab utama kegagalan anak dalam sekolah. Hal ini disebabkan oleh karena setiap mata pelajaran di sekolah memprasyaratkan anak untuk mempelajari dan memahami materi setiap mata pelajaran tersebut. Pemahaman terhadap materi pelajaran hanya dapat dilakukan jika anak memiliki kemampuan dan keaktifan membaca yang baik. Ketidak mampuan siswa membaca akan berakibat rendahnya prestasi belajarnya. Hal ini dapat terjadi karena apabila siswa tersebut tidak mampu membaca, maka siswa tersebut tidak akan dapat memahami isi materi pelajaran tersebut, sehingga prestasi belajarnya pun akan rendah Prestasi belajar siswa dimungkinkan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah minat dan keaktifan siswa membaca. Siswa yang mempunyai minat membaca tinggi, dimungkinkan akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Siswa dengan minat baca tinggi, dengan sendirinya akan timbul kesadaran untuk belajar serta mengisi waktu luangnya dengan membaca buku, baik buku pelajaran maupun buku lain yang masih berhubungan dengan pelajaran sehingga mereka akan memiliki pengetahuan lebih jika dibandingkan dengan siswa lain yang memiliki minat baca rendah. Begitu juga apabila minat membacanya
  • 6. 6 rendah, akan membawa hasil yang rendah pula. Siswa yang memiliki minat baca rendah hanya akan mengandalkan apa yang diberikan guru disekolah. Seorang siswa yang memiliki kegemaran membaca akan nampak lebih dewasa daripada teman sebayanya. Siswa tersebut akan lebih dewasa dalam hal bergaul dan berpikir. Dia akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh karena lebih tahan menghadapi berbagai tantangan. Hal itu terjadi karena daya kritis, kepekaan ilmiah, dan kepekaan sosial siswa akan berkembang sesuai dengan besarnya wawasan yang didapat dari kegiatan membaca Aktivitas membaca bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja secara rutin. Melalui kegiatan membaca seseorang dapat menambah informasi dan memperluas ilmu pengetahuan. Dengan membaca membuat orang menjadi cerdas, kritis dan mempunyai daya analisa yang tinggi. Melalui kegiatan membaca juga selalu tersedia waktu untuk merenung, berfikir dan mengembangkan kreativitas berfikir. Upaya peningkatan aktivitas membaca siswa sangat erat kaitannya dengan keberadaan perpustakaan di sekolah. Perhatian terhadap keberadaan perpustakaan sekolah sering terabaikan. Padahal, keberadaan perpustakaan sekolah dalam upaya mendorong tumbuhnya minat dan kegemaran membaca sangat strategis. Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan
  • 7. 7 pengajaran. Melalui penyediaan perpustakaan, siswa dapat berinteraksi dan terlibat langsung baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar (Darmono, 2001:2). Pemanfaatan perpustakaan sekolah secara maksimal, diharapkan dapat mencetak siswa untuk senantiasa terbiasa dengan aktifitas membaca, memahami pelajaran, mengerti maksud dari sebuah informasi dan ilmu pengetahuan, serta menghasilkan karya bermutu. Kebiasaan membaca buku yang dilakukan oleh siswa, akan meningkatkan pola pikirnya sehingga perlu dijadikan aktivitas kegiatan sehari-hari. Buku harus dicintai dan bila perlu dijadikan sebagai kebutuhan pokok siswa dalam membantu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Perpustakaan sekolah dapat dijadikan sumber belajar siswa baik dalam proses kegiatan belajar mengajar secara formal maupun non formal untuk membantu sekolah dalam upaya mencapai tujuan pendidikan di sekolah tersebut. Namun pada kenyataannya, perpustakaan kurang mendapat tempat di lingkungan sekolah sendiri. Tidak banyak siswa yang memanfaatkan waktu luang atau jam- jam kosong pelajaran untuk membaca di perpustakaan. Perpustakaan hanya dikunjungi oleh siswa yang memerlukan informasi saja, sedang selebihnya memilih memanfaatkan sarana lain seperti internet untuk belajar. Hal ini menunjukkan kurangnya minat siswa dalam memanfaatkan koleksi perpustakaan