Catatan Glaukoma Akut Kronik

  • View
    463

  • Download
    20

Embed Size (px)

Text of Catatan Glaukoma Akut Kronik

Glaukoma Akut dan Glaukoma Kronik

Narasumber: Dr. Tjahjono D.G, PhD Presentan: Utami Noor Syabaniyah Dian Amalia

Departemen Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, September 2007

1

GLAUKOMA Glaukoma merupakan suatu keadaan dimana tekanan bola mata seseorang menjadi sangat tinggi atau tidak normal sehingga menimbulkan gangguan pada sebagian atau seluruh lapang pandang bahkan bisa menyebabkan kebutaan. 1 Meskipun saat ini ditemukan bahwa glaukoma dapat juga terjadi pada tekanan bola mata yang normal.2 Sebagai penyebab kebutaan, glaukoma menempati urutan ketiga di Idonesia, yaitu 0,16% dari penduduk Indonesia. Kebanyakan dari penderita glaukoma ini tidak mengetahui dirinya menderita glaukoma dan beberapa akan mengalami kebutaan pada dekade usia 4, 5, dan 6. 1 Salah satu faktor risiko terpenting yang menyebabkan terjadinya glaukoma adalah peningkatan tekanan bola mata atau tekanan intraokular TIO.2 Tekanan intraokular (TIO) merupakan tekanan yang diperlukan oleh bola mata untuk mempertahankan bentuknya sehingga mata dapat berfungsi dengan baik.3 Pada populasi masyarakat barat (Eropa), tekanan intraokular cenderung mengalami peningkatan sebesar satu mmHg pada setiap dekade setelah usia 40 tahun. Normalnya, tekanan bola mata berkisar antara 10 21 mmHg. Perlu diketahui pula bahwa terdapat irama sirkadian TIO dimana nilai maksimum terjadi pada pukul 8 dan 11 pagi, sedangkan nilai minumum terjadi pada sekitar tengah malam dan pukul 2 dini hari. Variasi diurnal normal berkisar antara 3 5 mmHg. Pada penderita glaukoma yang tidak diobati, kisaran variasi diurnal ini menjadi lebih lebar.2 Tekanan intraokolar ini dipengaruhi oleh produksi dan transportasi cairan bilik mata (aqueous humor). Cairan bilik mata adalah cairan yang terdapat pada bilik mata depan dan bilik mata belakang. Cairan ini berfungsi sebagai bantalan bola mata dan berperan dalam menutrisi bola mata serta pembuangan zat-zat sampah.4 Cairan mata ini diproduksi oleh badan siliar yang kemudian bersirkulasi dari bilik mata belakang ke bilik mata depan. Cairan bilik mata ini mengalir melalui pupil menuju sudut bilik mata depan, melalui trabekula menuju kanal Schlemn, saluran konektor, kemudian masuk ke dalam pleksus vena di jaringan sklera dan episklera, juga ke dalam vena siliaris anterior di badan2

siliar. Saluran yang mengandung cairan bilik mata depan dapat dilihat di daerah limbus dan subkonjungtiva yang dinamakan aqueous vein. Glaukoma terjadi apabila terdapat ketidak seimbangan antara pembentukan dan pengaliran cairan bilik mata.5

Gambar 1. Diagram bola mata dan aliran cairan bilik mata (ditunjukkan dengan panah biru)4 Dijumpai beberapa pembagian glaukoma. Menurut Sugar, glaukoma dibagi menjadi beberapa jenis5: 1. Glaukoma primer a. Dewasa: i. Glaukoma simpleks (sudut terbuka, kronis) ii. Glaukoma akut (sudut tertutup) b. Kongenital atau juvenil 2. Glaukoma sekunder Pembahasan dalam makalah ini dibatasi pada glaukoma akut (glaukoma primer sudut tertutup) dan glaukoma kronik (glaukoma primer sudut terbuka).

3

Glaukoma Akut Glaukoma primer Sudut tertutup akut Glaukoma akut adalah glaukoma yang terjadi secara mendadak akibat penutupan sudut bilik mata depan secara tiba-tiba sehingga menghalangi keluarnya cairan bilik mata melalui trabekula secara total. Akibatnya tekanan intraokular naik mendadak dengan gejala klinis yang terlihat berupa sakit di mata yang mendadak, visus turun mendadak, serta adanya tanda kongesti di mata berupa mata merah dan kelopak mata bengkak. Glaukoma akut hanya terjadi pada orang-orang yang memiliki faktor predisposisi anatomi berupa sudut bilik mata yang sempit (glaukoma primer sudut tertutup akut).1,3,5 Meskipun demikian, gejala glaukoma akut dapat dijumpai pula pada kelainan mata sekunder (glaukoma sekunder) yaitu: glaukoma akut akibat katarak intumesen dan glaukoma fakolitik.6 Terdapat beberapa faktor risiko seseorang menderita glaukoma primer sudut tertutup, yaitu7: 1. 2. 3. hitam. 4. Riwayat keluarga. Seseorang dengan orangtua menderita glaukoma memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita glaukoma juga. Hal ini terkait dengan struktur anatomi mata. Selain itu, terdapat juga beberapa faktor predisposisi anatomi mata yang meningkatkan risiko terkena glaukoma primer sudut tertutup, faktor tersebut adalah sebagai berikut8: 1. Diafragma iris-lensa yang relatif lebih anterior. 2. Bilik mata depan yang dangkal. 3. Sudut bilik mata depan yang sempit.4

Usia. Rata-rata kejadian pada orang dengan usia sekitar 60 tahun Jenis kelamin. Wanita lebih sering terkena dibandingkan pria Ras. Glaukoma primer sudut tertutup lebih sering dijumpai di Asia

dengan prevalensi semakin meningkat dengan bertambahnya umur. dengan perbandingan 4:1. Tenggara, Cina, dan Eskimo. Kelainan ini jarang dijumpai pada ras kulit

Tiga hal yang mempengaruhi terjadinya 3 faktor di atas: a. pertumbuhan aksial dari lensa Dengan bertambahnya umur lensa akan bertambah tebal. Hal ini akan mendorong diafragma iris-lensa ke arah anterior sehingga permukaan anteriornya akan lebih dekat dengan kornea. Keadaan ini akan terlihat sebagai bilik mata depan yang dangkal.8 b. diameter kornea yang kecil Diameter kornea berhubungan dengan kedalaman dan lebar dari sudut bilik mata depan. Kornea pada glaukoma primer sudut tertutup diameter korneanya lebih kecil sekitar 0,25 mm dari mata yang normal. Pada pasien dengan mikrokornea risiko glaukoma sudut tertutup menjadi meningkat.8 c. sumbu aksial bola mata yang pendek Pada mata normal ketebalan lensa, letak lensa dan diameter kornea berhubungan dengan sumbu aksial bola mata. Pada mata hipermetrop dimana panjang aksialnya lebih pendek dari normal, dengan diameter kornea yang lebih kecil dan lensa yang terletak lebih anterior sehingga secara anatomik menjadi lebih sempit.8 Selain itu, tebalnya iris juga mempengaruhi sudut bilik mata depan. Makin tebal iris, makin dangkal bilik mata depan.5 Pada beberapa keadaan, bilik mata depan dapat menjadi lebih sempit. Faktor fisiologis yang menyebabkan bilik mata depan menjadi sempit adalah sebagai berikut: a. blok pupil relatif pada mata dengan keadaan anatomi seperti diatas glaukoma terjadi saat mata berdilatasi (dilatasi sedang-mid dilatasi). Hal ini biasanya terjadi pada malam hari dimana tingkat pencahayaan kurang atau pada keadaan yang menyebabkan mata harus lebih berakomodasi.5 Saat itu bagian iris yang berkontak dengan lensa menjadi lebih luas.7 b. iris bombe5

karena dilatasi yang terus menerus bagian perifer dari iris menjadi lebih kaku. Adanya blok pupil relatif meningkatkan tekanan pada bilik mata belakang sehingga iris akan terdorong ke arah anterior. Keadaan iris seperti ini yang disebut sebagai iris bombe.7 c. iridotrabekular kontak terdorongnya iris ke arah anterior mengakibatkan terjadinya kontak iris dengan trabekulum sehingga menutup sudut bilik mata depan dan tekanan intraokular (TIO) meningkat.7

Gambar 2. Faktor fisiologis yang menyebabkan bilik mata depan menjadi lebih sempit7 Selain faktor di atas, dikatakan juga kongesti badan siliar juga dapat menyebabkan bilik mata depan menjadi lebih sempit. Penyebab kongesti badan siliar ini antara lain5: a. b. c. d. Neurovaskuler, misalnya meningitis, jengkel, dan kelainan emosi Penyakit lokal dari saluran traktus respiratorius bagian atas. Operasi daerah kepala. Humoral, seperti haid. yang lain.

Bila faktor fisiologis ini terjadi pada orang-orang yang memiliki predisposisi anatomis berupa sudut bilik mata yang sempit, maka ada kemungkinan timbul6

glaukoma sudut tertutup.5 Meskipun kedua mata memiliki sudut bilik mata yang sempit, onset akut seringkali unilateral.8 Seseorang yang mengalami glaukoma akut akan mengalami gejala klinis yang khas berupa mata merah, penurunan visus secara mendadak (bahkan dapat sampai buta), dan gambaran pelangi di sekitar objek (halo). Penderita dapat merasakan sangat kesakitan, nyeri hebat, sakit kepala, mual, dan bahkan muntah.3,5,7 Beberapa penderita dapat merasakan gejala prodormal seperti penglihatan kabur, melihat alo di sekitar lampu atau lilin, disertai sakit kepala, sakit pada matanya, dan kelemahan akomodasi. Keadaan ini berlangsung selama 30 menit sampai 2 jam. Stadium prodormal ini dapat diperhebat dengan insomia, ganguan emosi, kongesti vena, gangguan emosi, kebanyakan minum, dan pemakaian midriatika.3,5 Pada pemeriksaan fisis dijumpai keadaan visus sangat menurun; tekanan intraokular meninggi; palpebra yang bengkak; bilik mata depan dangkal; konjungtiva bulbi: hiperemia kongestif, kemotis dengan injeksi silier, injeksi konjungtiva, injeksi episklera; kornea: suram, insensitif karena tekanan pada saraf kornea; iris: gambaran cirak bergaris tak nyata karena edema, berwarna kelabu; pupil: melebar, lonjong, miring agak vertikal, kadang-kadang ditemukan midriasis yang total, warna kehijauan, dengan refleks cahaya lamban atau tidak ada sama sekali; dan diskus optikus terlihat hiperemis dan edem.5,7 Funduskopi sulit dilakukan karena kornea sangat keruh.5 Dalam menetapkan diagnosis glaukoma, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang, yaitu:1. Tonometri. Alat ini berguna untuk menilai tekanan intraokular. Tekanan

bola mata normal berkisar antara 10-21 mmHg.7 2. Gonioskopi. Sudut bilik mata depan merupakan tempat penyaluran keluar humor akueus. Dengan gonioskopi kita berusaha menilai keadaan sudut tersebut, apakah terbuka, sempit atau tertutup ataukah terdapat abnormalitas pada sudut tersebut.7

7

5 4 3 2 1 Keterangan: 1. Iris processes 2. Scleral spur 3. Schlemm canal 4. Trabeculum 5. Scwalbe line

Konfigurasi sudut pada gonioskopi ditentukan oleh bentuk kornea dan pembesaran lensa. Berikut ini skala penilaian gonioskopi:

3 4

2

1 0

Skala 0, artinya tidak terlihat struktur sudut dan terdapat kontak kornea dengan iris. Interpretasi: sudut tertutup. Skala 1, artinya tidak terlihat bagian trab