Cadaver

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Cadaver

Citation preview

Kamu yang paling pojok, ayo ikut saya masuk ke Anatomi..?Siapa Kak, saya maksudnya ? jawab saya. Iya, siapa lagi emangnya...sekarang giliran kamu...! Teriak salah seorang panitia ospek yang waktu itu menunjuk saya. Tanpa berkata apa-apa saya langsung mengikuti langkahnya dengan sedikit menundukkan kepala ditambah bulu kuduk yang masih merinding dari sejak pagi.

Bayangkan saja, berbicara anatomi adalah berbicara tentang hal-hal yang sudah diawetkan, dan itu berarti berbicara tentang mayat, bukan kodok atau ayam, melainkan mayat manusia. Kaki sedikit sulit untuk memasukinya ketika saya tau banyak teman-teman lain yang menangis dan menjerit-jerit, sungguh terlalu.Benar saja, ruangannya sengaja di desain dengan warna gelap ditambah dengan alunan musik gamelan jawa yang diputar dari sebuah tape recorder yang semakin membuat merinding bulu kuduk.

Masuk ke ruang pertama !lalu buka penutupnya..! teriak salah seorang panitia yang tidak saya ketahui suara itu berasal darimana, benar-benar gelap.

Saya berjalan perlahan-lahan, dan tiba-tiba ada lampu senter mengarah ke arah saya.Astagfirullah..astgfirullah...! saya hanya bisa membaca kalimat itu, benar-benar terkejut dan puncak ketakutan memenuhi pikiran saya waktu itu...

Tangan saya begitu bergemetar ketika tau bahwa yang saya buka adalah....

mayat yang masih utuh. Sendirian bersama mayat dan berada dalam kegelapan serta diiringi dengan suara gamelan jawa. Bukan hanya sampai disitu, saya juga disuruh memindahkan mayat itu dari satu meja ke meja yang lainnya, dan itu sendirian. Ditambah lagi, zat formalin yang digunakan sebagai pengawet benar-benar membuat mata saya begitu perih.

Tet...tet....tettt...! Bel yang berasal dari ruang anatomi ini berbunyi kencang dan saya mengira bel itu juga tanda selesainya acara menarik ini. Tapi ternyata bunyi itu sebagai pertanda bahwa saya harus memasuki ruang berikutnya.

Tidak perlu saya jelaskan lebih rinci, yang pasti saya harus memasuki 5 bagian lagi dan makin kesana makin menakjubkan buat jantung saya.

Itu adalah pertama kalinya saya berkenalan dengan kadaver atau mayat yang diawetkan. Buat kami sebagai mahasiswa kedokteran, mereka adalah profesor-profesor besar yang banyak berjasa. Tiap modul kami menggunakan jasa dan ilmunya untuk memperdalam ilmu kedokteran selama hampir tiga tahun.

Modul sekarang adalah modul terakhir di jadwal pre-klinik yang ada tulisan anatomi, itu akhirnya kami juga terakhir bisa melihat dan berjumpa dengan mereka. Terimakasih atas semua yang telah diberikan, mereka adalah para guru besar yang sebenarnya.