CA Nasofaring MALIGNA

  • View
    126

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of CA Nasofaring MALIGNA

http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/02/ca-nasofaring.html LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP PADA KLIEN DENGAN CA NASOFARING A. PENGERTIAN Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146) B. EPIDEMIOLOGI DAN ETIOLOGI Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500 kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146). Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer antivirus EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146). C. Tanda dan Gejala Gejala karsinoma nasofaring dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu antara lain : 1. Gejala nasofaring Adanya epistaksis ringan atau sumbatan hidung.Terkadang gejala belum ada tapi tumor sudah tumbuh karena tumor masih terdapat dibawah mukosa (creeping tumor) 2. Gangguan pada telinga Merupakan gejala dini karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (fosa Rosenmuller). Gangguan dapat berupa tinitus, tuli, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia) 3. Gangguan mata dan syaraf Karena dekat dengan rongga tengkorak maka terjadi penjalaran melalui foramen laserum yang akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI sehingga dijumpai diplopia, juling, eksoftalmus dan saraf ke V berupa gangguan motorik dan sensorik. Karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare yang sering disebut sindrom Jackson. Jika seluruh saraf otak terkena disebut sindrom unialteral. Prognosis jelek bila sudah disertai destruksi tulang tengkorak. 4. Metastasis ke kelenjar leher Yaitu dalam bentuk benjolan medial terhadap muskulus sternokleidomastoid yang

akhirnya membentuk massa besar hingga kulit mengkilat. Hal inilah yang mendorong pasien untuk berobat. Suatu kelainan nasofaring yang disebut lesi hiperplastik nasofaring atau LHN telah diteliti dicina yaitu 3 bentuk yang mencurigakan pada nasofaring seperti pembesaran adenoid pada orang dewasa, pembesaran nodul dan mukositis berat pada daerah nasofaring. Kelainan ini bila diikuti bertahun tahun akan menjadi karsinoma nasofaring. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 147 -148). D. Pemeriksaan Penunjang a. Nasofaringoskopi b. Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan mulut. Dilakukan dengan anestesi topikal dengan Xylocain 10 %. c. Pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher untuk mengetahui keberadaan tumor sehingga tumor primer yang tersembunyi pun akan ditemukan. d. Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mengetahui infeksi virus E-B. e. Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 148 - 149). E. Penatalaksanaan Medis a. Radioterapi merupakan pengobatan utama b. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan antivirus. Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil. Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi kemoradioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan radiasi yang bersifat RADIOSENSITIZER. F. Pengkajian a. Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker payudara b. Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu. c. Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan). d. Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146) e. Tanda dan gejala : Aktivitas Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas. Sirkulasi Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah,

epistaksis/perdarahan hidung. Integritas ego Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah. Eliminasi Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen. Makanan/cairan Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit. Neurosensori Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus Nyeri/kenyamanan Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran Pernapasan Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok), pemajanan Keamanan Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan, demam, ruam kulit. Seksualitas Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan. Interaksi sosial Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung (Doenges, 2000) H. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi 1. Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi karingan saraf Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol Kriteria hasil : mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi nyeri . Intervensi : Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi, frekuensi, durasi Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung) dan aktivitas hiburan. Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi) musik, sentuhan terapeutik. Evaluasi penghilangan nyeri atau kontrol Kolaborasi : berikan analgesik sesuai indikasi misalnya Morfin, metadon atau campuran narkotik. 2. Gangguan sensori persepsi berubungan dengan gangguan status organ sekunder metastase tumor Tujuan : mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori pesepsi

Kriteria hasil : mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan Intervensi : Tentukan ketajaman penglihatan, apakah satu atau dua mata terlibat. Orientasikan pasien terhadap lingkungan Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur Bicara dengan gerak mulut yang jelas Bicara pada sisi telinga yang sehat 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah sekunder kemoterapi radiasi Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. Kriteria hasil : Melaporkan penurunan mual dan insidens muntah Mengkonsumsi makanan dan cairan yang adekuat Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan Intervensi : Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan toleransi pasien Berikan dorongan higiene oral yang sering Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang diresepkan Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan setelah pemberian obat, kaji masukan dan haluaran. Pantau masukan makanan tiap hari. Ukur TB, BB dan ketebalan kulit trisep (pengukuran antropometri) Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat. Kontrol faktor lingkungan (bau dan panadangan yang tidak sedap dan kebisingan) 4. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder imunosupresi Tujuan : tidak terjadi infeksi Kriteria hasil : Menunjukkan suhu normal dan tanda-tanda vital normal Tidak menunjukkan tanda-tanda inflamasi : edema setempat, eritema, nyeri. Menunjukkan bunyi nafas normal, melakukan nafas dalam untuk menegah disfungsi dan infeksi respiratori Intervensi : Kaji pasienterhadap bukti adanya infeksi : Periksa tanda vital, pantau jumlah SDP, tempat masuknya patogen, demam, menggigil, perubahan respiratori atau status mental, frekuensi berkemih atau rasa perih saat berkemih

Tingkatkan prosedur cuci tangan yang baik pada staf dan pengunjung, batasi pengunjung yang mengalami infeksi. Tekankan higiene personal Pantau suhu Kaji semua sistem (pernafasan, kulit, genitourinaria) 5. Resti kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunologi, efek radiasi kemoterapi Tujuan : integritas kulit tetap terjaga Kriteria hasil : Menunjukkan perubahan yang minimal pada kulit dan menghindari trauma pada area kulit yang sakit Intervensi : Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping kanker Mandikan dengan menggunakan air hangat dan sabun ringan Hindari menggosok atau menggaruk area Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun, bedak, salep apapun kecuali diijinkan dokter. Hindarkan pakaian yang ketat pada aea tersebut Oleskan vitamin A dan D pada area tersebut Tinjau ulang efek samping dermatologis yang dicurigai pada kemoterapi. 6. Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral behubungan dengan efek samping agen kemoterapi radiasi Tujuan : tidak terjadi gangguan pada membran mukosa Kriteria hasil : Menunjukkan mukosa oral yang bersih dan utuh Tidak menunjukkan adanya ulserasi atau infeksi pada rongga mulut Melaporkan tidak adanya nyeri, kesulitan menelan dan d