21
Askep Bronkhitis Kronis 1. Defenisi Bronkhitis akut adalah radang pada bronkhus yang biasanya mengenai trakhea dan laring, sehingga sering dinamai juga dengan laringotracheobronchitis. Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan napas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik misalnya pada morbili, pertusis, ditteri, dan tipus abdominalis. Istilah bronkhitis kronis menunjukkan kelainan pada bronkhus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor, meliputi faktor yang berasal dari luar bronkhus maupun dari bronkhus itu sendiri. Bronkhitis kronis merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus trakheobronkhial yang berlebihan, sehingga menimbulkan batuk yang terjadi paling sedikit selama tiga bulan dalam waktu satu tahun untuk lebih dari dua tahun secara berturut-turut. Bronkhitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronkhitis akut. Walaupun demikian, seiring dengan waktu, dapat ditemukan periode akut pada penyakit bronkhitis kronis. Hal tersebut menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronkhus yang tidak normal, infeksi sekunder oleh bakteri dapat menimbulkan kerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan.

Bronkhitis Kronis

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Bronkhitis Kronis

Askep Bronkhitis Kronis

1. Defenisi

Bronkhitis akut adalah radang pada bronkhus yang biasanya mengenai trakhea dan laring,

sehingga sering dinamai juga dengan laringotracheobronchitis. Radang ini dapat timbul

sebagai kelainan jalan napas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik

misalnya pada morbili, pertusis, ditteri, dan tipus abdominalis.

Istilah bronkhitis kronis menunjukkan kelainan pada bronkhus yang sifatnya menahun

(berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor, meliputi faktor yang berasal

dari luar bronkhus maupun dari bronkhus itu sendiri. Bronkhitis kronis merupakan

keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus trakheobronkhial yang berlebihan,

sehingga menimbulkan batuk yang terjadi paling sedikit selama tiga bulan dalam waktu

satu tahun untuk lebih dari dua tahun secara berturut-turut.

Bronkhitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronkhitis akut. Walaupun

demikian, seiring dengan waktu, dapat ditemukan periode akut pada penyakit bronkhitis

kronis. Hal tersebut menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronkhus yang

tidak normal, infeksi sekunder oleh bakteri dapat menimbulkan kerusakan yang lebih

banyak sehingga akan memperburuk keadaan.

2. Etiologi

Terdapat tiga jenis penyebab bronkhitis akut, yaitu:

a. Infeksi: Staphylococcus (stafilokokus), Streptococcus (streptokokus), Pneumococcus

(pneumokokus), Haemophilus influenzae.

b. Alergi

c. Rangsangan lingkungan, misal: asap pabrik, asap mobil, asap rokok, dll.

Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik pada beberapa alat

tubuh, yaitu:

a. Penyakit jantung menahun, yang disebabkan oleh kelainan patologik pada katup

maupun miokardia. Kongesti menahun pada dinding bronkhus melemahkan daya tahan

Page 2: Bronkhitis Kronis

sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.

b. Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, area infeksi merupakan cumber bakteri

yang dapat menyerang dinding bronkhus.

c. Dilatasi bronkhus (bronkInektasi), menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding

bronkhus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.

d. Rokok dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronkhus sehingga

drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk

pertumbuhan bakteri.

Rokok

Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah

penyebab utama timbulnya bronchitis. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan

penurunan VEP (volume ekspirasi paksa) 1 detik. Secara patologis rokok berhubungan

dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamus epitel saluran

pernafasan juga dapat menyebabkan bronkostriksi akut.

Infeksi

Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang

kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak

adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie.

Polusi

Pulusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah

merokok resiko akan lebih tinggi. Zat – zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis

adalah zat – zat pereduksi seperti O2, zat – zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon,

aldehid, ozon.

Keturunan

Belum diketahui secara jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak, kecuali pada

penderita defisiensi alfa – 1 – antitripsin yang merupakan suatu problem, dimana

kelainan ini diturunkan secara autosom resesif. Kerja enzim ini menetralisir enzim

Page 3: Bronkhitis Kronis

proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk

jaringan paru.

Faktor sosial ekonomi

Kematian pada bronchitis ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi rendah,

mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.

3. Patofisiologi

Penemuan patologis dari bronchitis adalah hipertropi dari kelenjar mukosa bronchus dan

peningkatan sejumlah sel goblet disertai dengan infiltrasi sel radang dan ini

mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai peningkatan

sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronchiolus yang kecil – kecil sedemikian

rupa sampai bronchiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar. Faktor etiologi utama

adalah merokok dan polusi udara lain yang biasa terdapat pada daerah industri. Polusi

tersebut dapat memperlambat aktifitas silia dan pagositosis, sehingga timbunan mukus

meningkat sedangkan mekanisme pertahanannya sendiri melemah.

Mukus yang berlebihan terjadi akibat displasia. Sel – sel penghasil mukus di bronkhus.

Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta

metaplasia. Perubahan – perubahan pada sel – sel penghasil mukus dan sel – sel silia ini

mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus dalam

jumlah besar yang sulit dikeluarkan dari saluran nafas.

Serangan bronkhitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali

sebagai eksaserbasi akut dari bronkhitis kronis. Pada umumnya, virus merupakan awal

dari serangan bronkhitis akut pada infeksi saluran napas bagian atas. Dokter akan

mendiagnosis bronkhitis kronis jika pasien mengalami batuk atau mengalami produksi

sputum selama kurang lebih tiga bulan dalam satu tahun atau paling sedikit dalam dua

tahun berturut-turut.

Page 4: Bronkhitis Kronis

Serangan bronkhitis disebabkan karena tubuh terpapar agen infeksi maupun non infeksi

(terutama rokok). Iritan (zat yang menyebabkan iritasi) akan menyebabkan timbulnya

respons inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa, dan

bronkospasme. Tidak seperti emfisema, bronkhitis lebih memengaruhi jalan napas kecil

dan besar dibandingkan alveoli. Dalam keadaan bronkhitis, aliran udara masih

memungkinkan tidak mengalami hambatan.

Pasien dengan bronkhitis kronis akan mengalami:

a. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronkhus besar sehingga

meningkatkan produksi mukus.

b. Mukus lebih kental

c. Kerusakan fungsi siliari yang dapat menunjukkan mekanisme pembersihan mukus.

Pada keadaan normal, paru-paru memiliki kemampuan yang disebut mucocilliary

defence, yaitu sistem penjagaan paru-paru yang dilakukan oleh mukus dan siliari. Pada

pasien dengan bronkhitis akut, sistem mucocilliary defence paru-paru mengalami

kerusakan sehingga lebih mudah terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus

akan menjadi hipertropi dan hiperplasia (ukuran membesar dan jumlah bertambah)

sehingga produksi mukus akan meningkat. infeksi juga menyebabkan dinding bronkhial

meradang, menebal (sering kali sampai dua kali ketebalan normal), dan mengeluarkan

mukus kental. Adanya mukus kental dari dinding bronkhial dan mukus yang dihasilkan

kelenjar mukus dalam jumlah banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan

mempersempit saluran udara besar. Bronkhitis kronis mula-mula hanya memengaruhi

bronkhus besar, namun lambat laun akan memengaruhi seluruh saluran napas.

Mukus yang kental dan pembesaran bronkhus akan mengobstruksi jalan napas terutama

selama ekspirasi. Jalan napas selanjutnya mengalami kolaps dan udara terperangkap pada

bagian distal dari paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolus,

hipoksia, dan acidosis. Pasien mengalami kekurangan 02, iaringan dan ratio ventilasi

perfusi abnormal timbul, di mana terjadi penurunan PO2 Kerusakan ventilasi juga dapat

meningkatkan nilai PCO,sehingga pasien terlihat sianosis. Sebagai kompensasi dari

hipoksemia, maka terjadi polisitemia (produksi eritrosit berlebihan).

Page 5: Bronkhitis Kronis

Pada saat penyakit bertambah parah, sering ditemukan produksi sejumlah sputum yang

hitam, biasanya karena infeksi pulmonari. Selama infeksi, pasien mengalami reduksi

pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. Jika masalah tersebut tidak

ditanggulangi, hipoksemia akan timbul yang akhirnya menuiu penyakit cor pulmonal dan

CHF (Congestive Heart Failure).

4. Manifestasi Klinik

a. Penampilan umum: cenderung overweight, sianosis akibat pengaruh sekunder

polisitemia, edema (akibat CHF kan an), dan barrel chest.

b. Usia: 45-65 tahun.

c. Pengkajian:

- Batuk persisten, produksi sputum seperti kopi, dispnca dalam beberapa keadaan,

variabel wheezing pada saat ekspirasi, serta seringnya infeksi pada sistem respirasi.

- Gejala biasanya timbul pada waktu yang lama.

d. Jantung: pembesaran jantung, cor pulmonal, dan Hematokrit > 60%.

e. Riwayat merokok positif (+).

Keluhan

Batuk, mulai dengan batuk – batuk pagi hari, dan makin lama batuk makin berat, timbul

siang hari maupun malam hari, penderita terganggu tidurnya.

Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum menjadi purulen atau mukopuruen

dan kental.

Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah, kadang – kadang disertai tanda –

tanda payah jantung kanan, lama kelamaan timbul kor pulmonal yang menetap.

5. Manajemen Medis

Pengobatan utama ditujukan untuk mencegah, mengontrol infeksi, dan meningkatkan

drainase bronkhial menjadi jernih. Pengobatan yang diberikan adalah sebagai berikut:

a. Antimicrobial

b. Postural drainase

Page 6: Bronkhitis Kronis

c. Bronchodilator

d. Aerosolized Nebulizer

e. Surgical Intervention

Pemeriksaan fisik

Pada stadium ini tidak ditemukan kelainan fisis. Hanya kadang – kadang terdengar ronchi

pada waktu ekspirasi dalam. Bila sudah ada keluhan sesak, akan terdengar ronchi pada

waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi. Juga didapatkan tanda – tanda

overinflasi paru seperti barrel chest, kifosis, pada perkusi terdengar hipersonor,

peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih ke bawah, pekak jantung berkurang, suara

nafas dan suara jantung lemah, kadang – kadang disertai kontraksi otot – otot pernafasan

tambahan.

Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan radiologis

Tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang paralel, keluar dari hilus

menuju apeks paru. bayangan tersebut adalah bayangan bronchus yang menebal.

Corak paru bertambah

Pemeriksaan fungsi paru

VEP1 (Volume ekspirasi paksa 1 detik) : menurun.

4,8 liter). 3,1 liter, KV (kapasitas vital) : menurun (normal

1,2 liter). 1,1 liter, VR (volume residu) : bertambah (normal

KTP (kapasitas total paru) : normal (normal 6,0 liter). 4,2 liter,

KRF (kapasitas residu fungsional) : sedikit naik atau normal (normal 2,2 liter). 1,8

liter,

Analisa gas darah

Pa O2 : rendah (normal 25 – 100 mmHg)

Pa CO2 : tinggi (normal 36 – 44 mmHg).

Page 7: Bronkhitis Kronis

Saturasi hemoglobin menurun.

Eritropoesis bertambah.

Penganganan

Tindakan suportif

Pendidikan bagi pasien dan keluarganya tentang :

Menghindari merokok

Menghindari iritan lainnya yang dapat terhirup.

Mengontrol suhu dan kelembaban lingkungan.

Nutrisi yang baik.

Hidrasi yang adekuat.

Terapi khusus (pengobatan).

Bronchodilator

Antimikroba

Kortikosteroid

Terapi pernafasan

Terapi aerosol

Terapi oksigen

Penyesuaian fisik

Latihan relaksasi

Meditasi

Menahan nafas

Rehabilitasi

Prognosis

Prognosis jangka panjang maupun jangka pendek bergantung pada umur dan gejala klinik

waktu berobat.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Pengkajian.

Data dasar pengkajian pada pasien dengan bronchitis :

Page 8: Bronkhitis Kronis

Aktivitas/istirahat

Gejala : Keletihan, kelelahan, malaise.

Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari – hari.

Ketidakmampuan untuk tidur.

Dispnoe pada saat istirahat.

Tanda : Keletihan

Gelisah, insomnia.

Kelemahan umum/kehilangan massa otot.

Sirkulasi

Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah.

Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat.

Distensi vena leher.

Edema dependent

Bunyi jantung redup.

Warna kulit/membran mukosa normal/cyanosis

Pucat, dapat menunjukkan anemi.

Integritas Ego

Gejala : Peningkatan faktor resiko

Perubahan pola hidup

Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang.

Makanan/cairan

Gejala : Mual/muntah.

Nafsu makan buruk/anoreksia

Ketidakmampuan untuk makan

Penurunan berat badan, peningkatan berat badan

Tanda : Turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat.

Penurunan berat badan, palpitasi abdomen

Hygiene

Gejala : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan

Tanda : Kebersihan buruk, bau badan.

Pernafasan

Page 9: Bronkhitis Kronis

Gejala : Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama minimun 3 bulan

berturut – turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun.

Episode batuk hilang timbul.

Tanda : Pernafasan biasa cepat.

Penggunaan otot bantu pernafasan

Bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal.

Bunyi nafas ronchi

Perkusi hyperresonan pada area paru.

Warna pucat dengan cyanosis bibir dan dasar kuku, abu – abu keseluruhan.

Keamanan

Gejala : Riwayat reaksi alergi terhadap zat/faktor lingkungan.

Adanya/berulangnya infeksi.

Seksualitas

Gejala : Penurunan libido

Interaksi sosial

Gejala : Hubungan ketergantungan

Kegagalan dukungan/terhadap pasangan/orang dekat

Penyakit lama/ketidakmampuan membaik.

Tanda : Ketidakmampuan untuk mempertahankan suara karena distress pernafasan

Keterbatasan mobilitas fisik.

Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.

Pemeriksaan diagnostik :

Sinar x dada : Dapat menyatakan hiperinflasi paru – paru, mendatarnya diafragma,

peningkatan area udara retrosternal, hasil normal selama periode remisi.

Tes fungsi paru : Untuk menentukan penyebab dispnoe, melihat obstruksi,

memperkirakan derajat disfungsi.

TLC : Meningkat

Volume residu : Meningkat.

FEV1/FVC : Rasio volume meningkat.

GDA : PaO2 dan PaCO2 menurun, pH Normal.

Bronchogram : Menunjukkan di latasi silinder bronchus saat inspirasi, pembesaran

Page 10: Bronkhitis Kronis

duktus mukosa.

Sputum : Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen.

EKG : Disritmia atrial, peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF.

Diagnosa keperawatan

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme

bronchus.

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual

muntah.

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit

kronis.

Intoleran aktifitas berhubungan dengan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.

Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit

dan perawatan dirumah.

Perencanaan Keperawatan

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.

Tujuan :

Mempertahankan jalan nafas paten.

Rencana Tindakan:

Auskultasi bunyi nafas

Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan

dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas.

Kaji/pantau frekuensi pernafasan.

Rasional : Tachipnoe biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan selama /

adanya proses infeksi akut.

Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir

Rasional : Memberikan cara untuk mengatasi dan mengontrol dispoe dan menurunkan

jebakan udara.

Page 11: Bronkhitis Kronis

Observasi karakteristik batuk

Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada lansia, penyakit akut

atau kelemahan

Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari

Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret mempermudah pengeluaran.

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme

bronchus.

Tujuan :

Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat dengan GDA

dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.

Rencana Tindakan:

Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan.

Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan kronisnya proses

penyakit.

Tinggikan kepala tempat tidur, dorong nafas dalam.

Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan

nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispenea dan kerja nafas.

Auskultasi bunyi nafas.

Rasional : Bunyi nafas makin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi

Awasi tanda vital dan irama jantung

Rasional : Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek

hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.

Awasi GDA

Rasional : PaCO2 biasanya meningkat, dan PaO2 menurun sehingga hipoksia terjadi

derajat lebih besar/kecil.

Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA

Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia.

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.

Tujuan : perbaikan dalam pola nafas.

Rencana Tindakan:

Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir

Page 12: Bronkhitis Kronis

Rasional : Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien

akan bernafas lebih efisien dan efektif.

Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dan periode istirahat

Rasional : memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres berlebihan.

Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernafasan jika diharuskan

Rasional : menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernafasan.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual

muntah.

Tujuan :

Menunjukkan peningkatan berat badan.

Rencana Tindakan:

Kaji kebiasaan diet.

Rasional : Pasien distress pernafasan akut, anoreksia karena dispnea, produksi sputum.

Auskultasi bunyi usus

Rasional : Penurunan bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster.

Berikan perawatan oral

Rasional : Rasa tidak enak, bau adalah pencegahan utama yang dapat membuat mual dan

muntah.

Timbang berat badan sesuai indikasi.

Rasional : Berguna menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi keadekuatan rencana

nutrisi.

Konsul ahli gizi

Rasional : Kebutuhan kalori yang didasarkan pada kebutuhan individu memberikan

nutrisi maksimal.

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit

kronis.

Tujuan : mengidentifikasi intervensi untuk mencegah resiko tinggi

Rencana Tindakan:

Awasi suhu.

Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi atau dehidrasi.

Page 13: Bronkhitis Kronis

Observasi warna, bau sputum.

Rasional : Sekret berbau, kuning dan kehijauan menunjukkan adanya infeksi.

Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan sputum.

Rasional : mencegah penyebaran patogen.

Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.

Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tekanan

darah terhadap infeksi.

Berikan anti mikroba sesuai indikasi

Rasional : Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur.

Intoleran aktifitas berhubungan dengan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.

Tujuan :

Menunjukkan perbaikan dengan aktivitas intoleran

Rencana tindakan:

Dukung pasien dalam menegakkan latihan teratur dengan menggunakan exercise,

berjalan perlahan atau latihan yang sesuai.

Rasional : Otot-otot yang mengalami kontaminasi membutuhkan lebih banyak O2.

Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

Tujuan : pasien akan mengalami penurunan rasa ketakutan dan ansietas.

Rencana tindakan:

Kaji tingkat kecemasan (ringan, sedang, berat).

Rasional : Dengan mengetahui tingkat kecemasan klien, sehingga memudahkan tindakan

selanjutnya.

Berikan dorongan emosional.

Rasional : Dukungan yang baik memberikan semangat tinggi untuk menerima keadaan

penyakit yang dialami.

Beri dorongan mengungkapkan ketakutan/masalah

Rasional : Mengungkapkan masalah yang dirasakan akan mengurangi beban pikiran yang

dirasakan

Jelaskan jenis prosedur dari pengobatan

Page 14: Bronkhitis Kronis

Rasional : Penjelasan yang tepat dan memahami penyakitnya sehingga mau bekerjasama

dalam tindakan perawatan dan pengobatan.

Beri dorongan spiritual

Rasional : Diharapkan kesabaran yang tinggi untuk menjalani perawatan dan

menyerahkan pada TYME atas kesembuhannya.

Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses

penyakit dan perawatan di rumah

Tujuan : Mengatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan.

Intervensi :

Jelaskan proses penyakit individu

Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan partisipasi pada rencana

pengobatan.

Instruksikan untuk latihan afas, batuk efektif dan latihan kondisi umum.

Rasional : Nafas bibir dan nafas abdominal membantu meminimalkan kolaps jalan nafas

dan meningkatkan toleransi aktivitas

Diskusikan faktor individu yang meningkatkan kondisi misalnya udara, serbuk, asap

tembakau.

Rasional : Faktor lingkungan dapat menimbulkan iritasi bronchial dan peningkatan

produksi sekret jalan nafas.

Impelementasi

Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam

rencana perawatan pasien. Agar implementasi/pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat

waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan

mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta

mendokumentasikan pelaksanaan perawatan. Pada pelaksanaan keperawatan

diprioritaskan pada upaya untuk mempertahankan jalan nafas, mempermudah pertukaran

gas, meningkatkan masukan nutrisi, mencegah komplikasi, memperlambat

memperburuknya kondisi, memberikan informasi tentang proses penyakit (Doenges

Marilynn E, 2000, Remcana Asuhan Keperawatan)

Page 15: Bronkhitis Kronis

Evaluasi.

Pada tahap akhir proses keperawatan adalah mengevaluasi respon pasien terhadap

perawatan yang diberikan untuk memastikan bahwa hasil yang diharapkan telah dicapai,

Evaluasi merupakan proses yang interaktif dan kontinyu, karena setiap tindakan

keperawatan, respon pasien dicatat dan dievaluasi dalam hubungannya dengan hasil yang

diharapkan kemudian berdasarkan respon pasien, revisi, intervensi keperawatan/hasil

pasien yang mungkin diperlukan. Pada tahap evaluasi mengacu pada tujuan yang telah

ditetapkan yaitu : jalan nafas efektif, pola nafas efektif, pertukaran gas adekuat, masukan

nutrisi adekuat, infeksi tidak terjadi, intolerans aktivitas meningkat, kecemasan

berkurang/hilang, klien memahami kondisi penyakitnya. (Keliat Budi Anna, 1994, Proses

Keperawatan)