Botani Mangrove Biodiversitas Ekosistem Mangrove Di Jawa Tinjauan Pesisir Utara Dan Selatan Jawa Tengah

  • View
    557

  • Download
    12

Embed Size (px)

Text of Botani Mangrove Biodiversitas Ekosistem Mangrove Di Jawa Tinjauan Pesisir Utara Dan Selatan Jawa...

B BU UK KU U A AJ JA AR R

BiodiversitasEkosistem Mangrove di Jawa;T Tiin Ja njja aw wa au aT ua an Te nP en ng Pe ga es ah siis h siir rU Ut ta ar ra ad da an nS Se ella at ta an nJ

A Ah hm ma ad dD Dw wii S Se etty ya aw wa an n

BIODIVERSITAS EKOSISTEM MANGROVE DI JAWA;TINJAUAN PESISIR UTARA DAN SELATAN JAWA TENGAH

Ahmad Dwi Setyawan

Buku Ajar:

Biodiversitas Ekosistem Mangrove di Jawa; Tinjauan Pesisir Utara dan Selatan Jawa Tengah

Penulis (Editor): Ahmad Dwi Setyawan, S.Si., M.Si.

Co-author: Ari Susilowati, S.Si., M.Si., Prof. Drs. Indrowuryatno, M.Si., Drs. Kusumo Winarno, M.Si. (alm.), Purin Candra Purnama, S.Si., Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D., Prof. Drs. Sutarno, M.Sc., Ph.D., Drs. Wiryanto, M.Si.

2008 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penulis dan penerbit, kecuali untuk tujuan pengajaran di ruang kuliah dan laboratorium.

Penerbit: Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Biodiversitas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret Surakarta

Cetakan Pertama 2008

Prakata

Pemanasan global kini telah menjadi isu penting yang menarik perhatian banyak peneliti, pemerintah maupun masyarakt awam. Kenaikan suhu global sekitar 0,5oC selama tiga decade terakhir diyakini telah meningkatkan tidak saja panas di permukaan bumi tetapi juga mempengaruhi iklim secara keseluruhan, seperti terjadinya kekeringan panjang atau sebaliknya hujan sepanjang tahun. Pemanasan global terjadi akibat meningkatnya produksi gas-gas rumah kaca, khususnya CO2, terutama karena meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil. Meningkatnya industrialisasi sepanjang 30 tahun terakhir merupakan penyebab utama pemanasan global. Apabila hal ini tidak dikendalikan, dengan laju konsumsi bahan bakar fosil pada saat ini maka pada tahun 2050 suhu permukaan bumi diperkirakan akan meningkat hingga 2oC dan permukaan air laut akan naik sekitar 25 m karena mencairnya es di kutub, sehingga menjadi ancaman serius bagi negara kepulauan seperti Indonesia beserta kota-kota pantainya. Ekosistem mangrove retan terhadap pemanasan global, perubahan permukaan laut akan menyebabkan perubahan garis pantai, sehingga ekosistem mangrove harus beradaptasi terhadap kondisi ini, namun perubahan yang cepat dapat menyebabkan kegagalan proses adaptasi sehingga menyebabkan terancamnya keberadaan ekosistem mangrove. Di sisi lain, mangrove memiliki beberapa manfaat ekologi yang dapat mengurangi dampak negatif pemanasan global. Secara kasat mata, mangrove dapat meredam badai yang terus meningkat kualitas dan kuantitasnya sejalan dengan meningkatnya perubaan iklim bumi akibat pemanasan global. Mangrove juga dapat menyerap gas-gas rumah kaca yang bertanggungjawab terhadap pemanasan global ini, seperti CO2 dan CH4 melalui proses sekuestrasi karbon. Di samping itu, mangrove juga masih memiliki banyak manfaat lain, baik manfaat ekonomi secara langsung seperti kayu dan ikan, manfaat sosial-budaya seperti pariwisata dan pendidikan, maupun manfaat ekologi seperti perlindungan pantai dari abrasi. Namun perkembangan terakhir menunjukkan adanya tekanan kuat terhadap eksistensi ekosistem mangrove. Ditemukannya sistem pertambakan udang secara intensif pada tahun 1970-an, menyebakan sejumlah besar ekosistem mangrove dunia diubah menjadi tambak udang intensif yang tidak berkelanjutan. Sebelumnya sejak sekitar 500 tahun yang lalu di Jawa telah dikenal tambak ikan bandeng yang relatif lebih berkelanjutan, meskipun nilai ekonominya lebih rendah dari pada tambak udang intensif.

Di Indonesia, sebagai pemangku ekosistem mangrove terluas di dunia, konversi lahan mangrove menjadi tambak udang, ikan, dan penggunaan lainnya telah mengakibatkan hilangnya lebih dari 50% ekosistem mangrove dari luasan awal sekitar 4 juta ha. Kerusakan ini menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem, khususnya pada perairan dangkal di sekitar pantai, serta menyebabkan menurunnya produktivitas perairan dan menurunnya kesejahteraan nelayan kecil (subsisten) yang menggantungkan pendapatannya dari perairan dangkal tersebut. Sebagai ekoton kawasan daratan dan lautan, ekosistem mangrove dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi di kedua kawasan tersebut. Pada masa lalu, Propinsi Jawa Tengah merupakan pemiliki lahan mangrove tunggal terluas di pulau Jawa, yakni di Segara Anakan, Cilacap. Namun tingginya laju sedimentasi dari sungai Citanduy dan sungai-sungai lainnya yang bermuara di dalamnya menyebabkan kawasan tersebut cenderung berubah menjadi ekosistem daratan, sehingga keberadaan mangrove menjadi terdesak. Hal ini diperparah dengan tingginya laju penebangan pepohonan untuk pembuatan arang. Ekosistem mangrove di Jawa Tengah juga menarik dikaji karena adanya perbedaan menyolok antara fisiografi pantai utara yang bertanah lempung dan berombak relatif tenang dengan pantai selatan yang bertanah pasir dan berombak sangat kuat. Oleh karena itu, ekosistem mangrove di kawasan ini perlu dikaji lebih mendalam untuk mendapatkan gambaran kondisi terkini, memahami kondisi-kondisi yang dapat mengancam kelestariannya, serta upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk menjaga kelestariannya. Pemahaman yang spesifik terhadap kondisi mangrove di Jawa Tengah perlu pula dipahami dari sudut pandang yang lebih luas kondisi keseluruhan di pulau Jawa, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan lengkap. Buku berjudul Biodiversitas Ekosistem Mangrove di Jawa; Tinjauan Pesisir Utara dan Selatan Jawa Tengah ini disusun terutama dari kumpulan artikel-artikel publikasi yang penulis persiapkan selama menjalani pendidikan S-2 di Ps. Biologi UGM Yogayakarta dan Ps. Ilmu Lingkungan UNS Solo. Dalam penulisan artikelartikel tersebut penulis banyak dibantu oleh kolega yang namanya tercantum sebagai tim penyusun buku ini maupun tidak. Beberapa di antaranya adalah Dr. Tjut Sugandawaty Djohan, M.Sc dari UGM Yogyakarta yang memberi banyak masukan awal hingga menumbuhkan ketertarikan penulis akan ekosistem mangrove, dan Drs.

ii Kusumo Winarno, M.Si (Alm) dari UNS Solo yang banyak memberi bantuan fasilitas laboratorium. Dalam koleksi data lapangan, data laboratorium, dan penyusunan manuskrip artikel-artikel tersebut penulis banyak mendapatkan bantuan antara lain dari dari Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D., Prof. Drs. Sutarno, M.Sc., Ph.D., Dr. Sugiyarto, M.Si., Ari Susilowati, S.Si., M.Si., Cahyanto Mukti, S.Si., Ainur Rohimah, S.Si., Asriyati Asih Lestari, S.Si., dan Sugito. Penulis juga mendapat kawan seperjalanan antara lain Suhar Irianto, S.Si., Udhi Eko Hernawan, S.Si., Prandaya Umaro, S.Si., Guntur Trimulyono, S.Si., Dwi Yulianti, S.Si., dan Vina Rahmawati, S.Si. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih. Tiada gading yang tak retak. Buku ini juga masih menyisakan sejumlah permasalahan yang belum sempat tergarap. Buku ini disusun berdasarkan asumsi bahwasanya ekosistem mangrove tersusun atas tumbuhtumbuhan mangrove. Adapun keberadaan hewan yang sangat melimpah dan beragam sepenuhnya tergantung pada keberadaan tumbuh-tumbuhan tersebut, oleh karena itu dalam buku ini hanya dibahas tentang ekosistem mangrove dalam perspektif tumbuhan mangrove. Dalam buku ini penulis juga belum melakukan kajian kondisi ekosistem mangrove dengan metode GIS (geographycal information system), suatu perangkat standar yang biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi ekosisten mangrove di suatu kawasan, meskipun citra satelit dan peta topografinya telah penulis tampilkan di buku ini Akhirnya, selain memberikan informasi kondisi mangrove di JawaTengah, penulis juga berharap kiranya buku ini dapat menjadi sumber kajian bagi para peneliti mangrove serta menjadi masukan bagi pengelola lingkungan untuk manjaga kelestarian mangrove di Jawa Tengah pada khususnya. Bogor, 10 Nopember 2008 Penulis (Editor)

Ahmad Dwi Setyawan

ii

Daftar Isi

Prakata Daftar isi BAGIAN I: Pendahuluan 1. Ekosistem Mangrove di Jawa 2. Mangrove: Ekoton Perairan Tawar dan Laut BAGIAN II: Kajian Terkini Mangrove di Jawa Tengah 3. Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove 4. Komposisi dan Struktur Vegetasi 5. Diagram Profil Vegetasi 6. Keanekaragaman Isozim Sonneratia alba 7. Kandungan Nutrien Sedimen Tanah 8. Pencemaran Logam Berat Fe, Cd, Cr, dan Pb 9. Pemanfaatan Langsung, Penggunaan Lahan, dan Restorasi BAGIAN III: Beberapa Permasalahan dan Penanganannya 10. Habitat Reliks Mangrove di Pantai Selatan Jawa 11. Konservasi Mangrove di Kabupaten Rembang 12. Konservasi Mangrove di Segara Anakan melalui Penyudetan Sungai Citanduy 13. Tumpahan Minyak Bumi, Mitigasi dan Restorasinya BAGIAN IV: Penutup 14. Restorasi Ekosistem Mangrove di Jawa Bibliografi Key words index Lampiran 3 15 33 45 51 61 73 80 86 103 115 121 130 143 157 158 159

1

BAGIAN I Pendahuluan

2

3

Ekosistem Mangrove di Jawa

ABSTRACTMangrove ecosystem is a specific ecosystem that only take about 2% of total land in the earth. Indonesian mangrove ecosystem is the widest in the world and as a center of distributioan and ecosystem biodiversity, however it undergoes rapid and dramatic destruction. In just 11 years, between 19821993, more than 50% of Indonesian mangrove disappeared. The most factor threatening the mangrove ecosystem is human activities, including convertion to aquaculture, deforestation, and environmental pollution. Other factors such as reclamation, sedimentation, and natural disturbance are also contributed to the disappearance of the mangrove. Mangrove ecosystem is very important in term of socio-economic and ecology functions. Because of its functions, wide range of people alaways paid attention whenever mangrove restoration taken place. Mangrove restoration potentially increases mangrove resource value, protect the coastal area from destruction, conse