15

Click here to load reader

Blognya Anak Kedokteran

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Blognya Anak Kedokteran

Blognya Anak Kedokteran

Beranda About

Atelektasis dan Abses   Paru

2009 Desember 10Tinggalkan komentaroleh panmedical

Atelektasis

• Berkurangnya volume paru akibat tidak memadainya ekspansi rongga udara (kolaps)–>pengalihan darah yang kurang teroksigenasi dari arteri ke vena paru mengakibatkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi dan hipoksia.

• Berdasarkan mekanisme dan distribusi kolaps alveoli, dibagi 4 kriteria:o Atelektasis Resorpsi. Karena obstruksi menghambat udara mencapai jalan napas distal, Udara yang terjebak diserap–> kolaps alveoli. Dapat mengenai seluruh paru, satu lobus, satu/lebih segmen; tergantung tingkat obstruksinya. Penyebab tersering: obstruksi bronkus oleh sumbat mukopurulen/mucus (sering pada pasca operasi walaupun juga menjadi penyulit asma bronchial, bronkiektasis, bronchitis kronis). Obstruksi kadang oleh aspirasi benda asing (anak), bekuan darah saat bedah mulut atau anestesi, tumor (karsinoma bronkogenik), pembesaran KGB (pada TB), dan aneurisma (jarang)o Atelektasis kompresi/pasif/relaksasi: berkaitan dengan penimbunan cairan, darah, udara dalam cavum pleura–> paru didekatnya kolaps (secara mekanis). Etiologi: efusi pleura yang disebabkan gagal jantung kompresi (sering), bisa karena pneumotoraks. Atelektasis basal akibat posisi diafragma meninggi sering pada pasien tirah-baring, asites, selama dan pasca bedah.o Mikroatelektasis/atelektasis nonobstruktif: akibat ekspansi paru berkurang secara generalisata karena hilangnya surfaktan (terpenting) dan serangkaian proses lain. Terjadi pada sindrom gawat napas akut (neonatus), penyakit paru berkaitan peradangan interstisium, pasca bedaho Atelektasis kontraksi/sikratisasi: karena fibrosis local /generalisata paru /pleura menghambat ekspansi dan meningkatkan recoil saat ekspirasi

• Kecuali atelektasis kontraksi, prognosisnya berpotensi pulih dan harus segera diterapi mencegah hipoksemia dan infeksi sekunder paru yang kolaps.

Abses Paru

• Suatu daerah lokal nekrosis supurativa dalam parenkim paru–>satu/lebih kavitas besar (Istilah pneumonia nekrotikans pernah dipakai, karena proses serupa).

• Pneumonia nekrotikans sering terdapat bersama/berkembang menjadi abses paru (sehingga perbedaan antara keduanya sering dibuat-buat)

Page 2: Blognya Anak Kedokteran

• Organisme penyebab mungkin masuk ke paru melalui salah satu mekanisme:o Aspirasi bahan terinfeksi dari gigi berlubang atau sinus atau tonsil (terutama saat bedah mulut, anestesi, koma, atau intoksikasi alkohol dan pasien dengan debilitas reflex batuk tertekan)o Aspirasi isi lambung, biasanya disertai oleh organisme orofaringo Sebagai penyulit pneumonia bakterialis nekrotikans (terutama disebabkan S. aureus, S. pyogenes, K. pneumonia, pseudomonas, (jarang) pneumokokus tipe 3). Infeksi jamur dan bronkiektasis juga berperano Obstruksi bronkus, terutama pada karsinoma bronkogenik yang sumbat bronkus/bronkiolus. Etiologi lain: gangguan drainase, atelektasis distal, aspirasi darah, fragmen tumor, rongga nekrotik tumor.o Embolus septik, dari tromboflebitis septik atau endokarditis infeksiosa kanan jantungo Penyebaran hematogen bakteri pada infeksi piogenik diseminata (terutama bakterimia stafilokokus dan sering menyebabkan abses paru multiple).

• Bakteri anaerob sering terdapat di semua abses paru, dengan jumlah banyak (kadang), dan merupakan isolat eksklusif pada ⅓-⅔ kasus.

• Anaerob tersering: flora komensal yang normalnya di rongga mulut (Prevotella, Fusobacterium, Bacteroides, Peptostreptococcus, streptococcus mikroaerofilik)

• Sering infeksi campuran aerob-anaerob (aerob tersering: S. aureus, Streptococcus β-hemolitikus, Nocardia, gram negatif)

• Morfologi Abses Paru:o Diameter dari ukuran millimeter hingga kavitas besar 5-6 cm. Letak dan jumlah abses tergantung cara terbentuknyao Abses paru akibat aspirasi bahan infeksi lebih sering ditemukan di sisi kanan karena lebih lurus; umumnya tunggal; cenderung di segmen posterior lobus atas dan apeks lobus bawah kanan. Hal ini mencerminkan adanya bahan hirupan saat berbaring.o Abses yang terbentuk hingga pneumonia dan bronkiektasis sering multiple, basal dan difuso Embolus septic dan abses secara hematogen sering multiple dan mengenai seluruh paruo Semakin membesar focus supurasi–>abses pecah, mengalir ke saluran napas. Hal ini menjadi penyulit ketika abses menjadi emboli bahan septic ke otak (meningitis atau abses otak). Abses pecah ke rongga pleura menghasilkan fistula bronkopleura–> pneumothoraks atau empiemao Secara histologis, supurasi dikelilingi jaringan parut fibrosa dan infiltrasi sel mononukleus dengan variasi derajat sesuai kronisitas lesi

• Perjalanan Abses Paru: Mirip Bronkiektasis dan mencakup batuk mencolok (biasanya disertai banyak sputum berbau, atau bercak darah; kadang hemoptisis). Demam tinggi, malaise, jari gada, BB turun, anemia. Abses infeksi sering dengan karsinoma bronkogenik, sehingga pasien lansia dengan dugaan abses paru, perlu dipertimbangkan adanya karsinoma penyebab

• Abses kronis, terjadi amiloidosis sekunder

• Terapi Abses Paru dengan antibiotic dan (jika perlu) drainase secara bedah. Angka kematian ±10%

Page 3: Blognya Anak Kedokteran

SumberKumar V, Cotran R. S, Robbins S. L. 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta : EGC.

from → Sistem Pernapasan

Batuk Berdahak Kental disertai Panas   Badan

2009 Desember 8Tinggalkan komentaroleh panmedical

Kali ini kita kedatangan seorang wanita 35 tahun datang ke poli Penyakit Dalam dengan keluhan batuk berdahak kental, badan panas sejak 10 hari yang lalu. Penderita minum obat batuk yang dibeli di apotik namun batuk tidak mereda. Pemeriksaan paru oleh dokter didapatkan infeksi pada lobus tengah paru kanan. Keredupan pada perkusi paru dan ronkhi basah pada auskultasi. Untuk memastikan infeksi harus dilakukan foto rontgen thoraks.

Batuk berdahak kentalBatuk merupakan gejala penyakit pernapasan yang paling umum, berfungsi, terutama untuk pertahanan paru terhadap masuknya benda asing. Baik orang sehat maupun orang sakit, batuk dapat dengan disadari (volunteer) maupun tak disadari (involunter). Batuk yang disadari merupakan respon terhadap perasaan adanya sesuatu dalam saluran napas. Batuk yang tak disadari terjadi akibat reflex yang dipacu oleh perangsangan laring, trakea, atau bronchi yang besar atau hilangnya compliance paru. Batuk dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak dan tidak sesuai atau terbentuk sputum. (Stark, 1990)Suara batuk efektif memerlukan: (1)Glotis yang berfungsi normal; (2)Inspirasi dan ekspirasi yang adekuat; (3)Saluran napas yang terbuka, obtruksi saluran napas akan mengganggu ekspektorasi secret; (4)Pembersihan bronchial yang normal, hal ini butuh silia, elastisitas bronkus, dan viskositas cairan yang normal. (Stark, 1990)Sputum merupakan materi yang diekspektorasi dari saluran napas bawah oleh batuk, yang bercampur ludah. Sekresi bronkus normal tak cukup banyak untuk diekspektorasi, biasanya dialirkan ke laring oleh aksi silia lalu ditelan. (Stark, 1990)Gambaran sputum. Mungkin dapat membantu diagnosis, meskipun makanan/minuman yang baru saja ditelan mungkin mengkontaminasi sputum. (Stark, 1990)

Kita mencurigai penyakit pneumonia pada penderita sakit akut apabila didapati demam, batuk (dengan/ tanpa sputum purulen), sesak napas, nyeri pleuritik. (Stark, 1990)

Pneumonia merupakan suatu penyakit saluran napas bawah (lower respiratory tract, LRT) akut, biasanya disebabkan infeksi disertai demam, gejala thoraks fokal dan pembentukan bayangan paru pada foto thoraks (CXR). (Ward J.P.T, ward. J, Leach R.M, Wiener C.M: 2006)Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki 3 bentuk transmisi primer:• Aspirasi secret berisi mikroorganisme pathogen yang berkolonisasi di orofaring• Inhalasi aerosol infeksius• Penyebaran hematogen ektrapulmonal (jarang). (Lorraine M.Wilson, 2006)Mikroorganisme dan masalah patologis yang menyebabkan pneumonia

Page 4: Blognya Anak Kedokteran

• Infeksi bakteri (S. pneumonia, H. influenza, Klebsiella pneumonia, P. aeruginosa, E. coli)• Infeksi atipikal (M. pneumonia, Legionella)• Infeksi jamur (Aspergillus, Candida)• Infeksi virus (Influenza, Adenovirus, Sinsitial respiratorius, Coxsackie)• Infeksi protozoa (Pneumocystis carinii, Amebiasis, Toksoplasmosis). (Ward J.P.T, ward. J, Leach R.M, Wiener C.M: 2006)Bentuk-bentuk pneumonia (gambaran anatomis)• Lobaris : seluruh lobus mengalami konsolidasi, eksudat intraalveolar supuratif, biasanya oleh pneumococcus, klebsiella• Nekrotisasi: granuloma dapat mengalami nekrosis kaseosa dan membentuk kavitas , biasanya oleh jamur, infeksi basil tuberkel, mycobacterium tuberculosis,• Lobular : penyebaran berbercak dengan diameter daerah infeksi 3-4 cm, eksudat fibrinosa terutama pada bronkiolus, biasanya oleh streptococcus, staphylococcus• Interstisial:eksudat perivaskular dan edema diantara alveoli, disebabkan oleh virus atau mikoplasma. (Lorraine M.Wilson, 2006)Pada situasi klinis, klasifikasi mikrobiologis pneumonia tidak mudah dilakukan karena organisme penyebab tidak terindentifikasi atau penegakan diagnosis memerlukan beberapa hari. Demikian juga, gambaran anatomis (radiografis). (Ward J.P.T, ward. J, Leach R.M, Wiener C.M: 2006)

Badan panas sejak 10 hari yang lalu yang merupakan hasil dari inflamasi (kalor)

Infeksi pada lobus tengah paru kanan.Pada kasus diatas terjadi infeksi pada lobus tengah paru kanan, penulis berpikir ke pneumonia lobaris, yang menunjukkan adanya konsolidasi pada lobus tersebut, terdapatnya eksudat intraalveolar supuratif, biasanya oleh pneumococcus, klebsiella (Wilson,2006). Lalu dengan menggunakan petunjuk radiologis bisa ditentukan etiologi bakteri berupa streptococcus pneumoniae, mycoplasma pneumonia. Pada pemeriksaan fisiknya menunjukkan gerakan paru yang berkurang, pekak pada perkusi dan derak inspirasi lambat (late inspiratory crackles) (Stark, 1990).Penjelasan mengenai eksudat dan transudat:Eksudat merupakan cairan berprotein >30 g/L, yang mungkin terjadi akibat:• Peradangan: pneumonia, abses subprenik, infark paru• Neoplasma pleura: efusi karena keganasan seringkali merah karena darah, dan kambuh lagi setelah aspirasi• Kelainan drainase limfe: sindroma kuku kuning. (Stark, 1990)Transudat merupakan cairan berprotein <30 g/L, seringkali bilateral dan mungkin terjadi akibat:• Peningkatan tekanan vena pulmonalis: gagal ventrikel kiri (umum), stenosis mitral (jarang), perikarditis konstriktiva (jarang)• Hipoalbuminemia: malnutrisi, malabsorpsi, sindroma nefrotik, sirosis• Mediastinisis fibrosis atau myxedema (sangat jarang). (Stark, 1990)

Keredupan pada perkusi paru karena terdapat keredupan pada paru kanan lobus tengah yang menunjukkan paru mengalami pemadatan. Hal ini terlihat pada gambaran hasil ronsen thoraks. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi oleh sel radang dan cairan yang merupakan bentuk

Page 5: Blognya Anak Kedokteran

respon tubuh mematikan kuman. Tapi respon ini berakibat terganggunya fungsi paru, sehingga penderita sulit bernapas karena tak tersisa ruang oksigen.

Ronkhi basah pada auskultasiRonki basah (crackles atau rales)merupakan suara napas yang terputus-putus, bersifat non musical, biasanya terdengar saat inspirasi akibat udara yang melewati cairan dalam saluran napas. Ronki basah dibagi ronki basah halus dan kasar tergantung besarnya bronkus yang terkena. Ronki basah halus terjadi karena adanya cairan alveoli pada bronkiolus, sedangkan pada ronki basah yang lebih halus berasal dari alveoli (krepitasi)akibat terbukanya alveoli pada akhir inspirasi terjadi terutama pada fibrosis paru. Sifat ronki basah ini dapat bersifat nyaring (bila ada infiltrasi misal pneumonia) atau tidak nyaring (edema paru). (Rumende, 2007)

Foto rontgen thoraks.Foto rontgen thoraks bisa menjadi pemeriksaan penunjang batuk, mempunyai gambaran normal pada batuk akibat asma, tumor trakea, tumor endobronkial, bronchitis kronis, bronkiektasis sehingga akan tampak gambaran abnormal thoraks dengan batuk pada pneumonia. Foto rontgen thoraks PA dan Lateral diperlukan untuk menyakinkan adanya konsolidasi yang kecil, untuk membedakan konsolidasi yang kolaps dan menentukan letak perselubungan pada paru. Dan jika diteruskan pada pemeriksaan mikrobiologi sputum akan banyak membantu mendiagnosis penyebab batuk yaitu berupa pneumonia. (Stark, 1990)Pada pneumonia, sputum bentuk purulen, berwarna kuning yang menunjukkan adanya peradangan dalam paru (Stark, 1990). Sputum berwarna kuning karena adanya neutrofil aktif (Rumende, 2007)

PenatalaksanaanTindakan suportif: meliputi oksigen untuk mempertahankan PaO₂ >8 kPa (SaO₂ <90%) dan resusitasi cairan intravena (±inotrop) untuk memastikan stabilitas hemodinamik. Bantuan ventilasi: ventilasi noninvasive (misal: tekanan jalan napas positif kontinu (Continuous positive airway pressure/CPAP)) atau ventilasi mekanis mungkin diperlukan pada gagal napas. Fisioterapi dan Bronkoskopi: membantu bersihan sputumTerapi Antibiotik awal: menggambarkan “tebakan terbaik” berdasarkan klasifikasi pneumonia dan kemungkinan oraganisme, karena hasil mikrobiologis tidak tersedia selama 12-72 jam. Terapi disesuaikan bila ada hasil dan sensitivitas biotik. (Ward J.P.T, ward. J, Leach R.M, Wiener C.M: 2006)

Blognya Anak Kedokteran

Beranda About

Sesak Napas2009 November 23by panmedical

Page 6: Blognya Anak Kedokteran

Pada saat ini kita dihadapkan kasus seorang wanita 25 tahun datang dengan keluhan sesak napas terus-menerus yang tidak dipengaruhi aktivitas, sesak timbul manakala penderita membersihkan rumah atau saat udara dingin, kadang penderita sering terbangun pada malam hari karena sesak dan berbunyi ngik-ngik namun kadang berkurang dengan obat asmasolon yang dibeli di warung, adiknya juga menderita asma. Pada pemeriksaaan oleh dokter Puskesmas didapatkan bunyi mengi.

Melihat kasus pasien tersebut, penulis cenderung membuat hipotesis bahwa pasien mengalami asma bronchial. Hal ini terlihat sesak napas terjadi saat tidak beraktivitas sehingga kita tinggalkan pendapat sesak akibat penyakit jantung, sesak juga timbul saat membersihkan rumah sehingga mungkin terpapar debu (allergen), sesak karena udara dingin (irritan) dan sesak saat malam hari (gejala khas asma) serta disertai mengi. Disini penulis akan membahas gejala dan patogenesis penyakit tersebut.Sesak napas (dyspnea) merupakan suatu perasaan yang tidak nyaman. Setiap penyakit yang membatasi pertukaran O₂ dan CO₂ antar jaringan dan lingkungan (udara) akan menyebabkan usaha napas yang lebih banyak dalam upaya mempertahankan keseimbangan (homeostasis). Beberapa penyebab umum sesak napas karena: (1)penyakit paru, menyebabkan gangguan ventilasi dan/atau perfusi paru; (2)penyakit dinding dada atau neurologis, menyebabkan berkurangnya kemampuan paru untuk melakukan ventilasi adekuat; (3)penyakit jantung, kegagalan cardiac output untuk mempertahankan perfusi otot saat beraktivitas yang menyebabkan pernapasan anaerob saat kerja ringan sehingga terjadi asidosis metabolic dan sesak napas; (4)penyakit darah, anemia mengurangi kapasitas darah untuk mengangkut oksigen; (5)kelainan metabolic, hipertiroidisme atau keracunan salisilat dapat menyebabkan pemakaian O₂ dalam jaringan yang tidak sesuai dengan peningkatan kebutuhan, O₂ asidosis pada gagal ginjal mungkin akan meningkatkan usaha bernapas tanpa terjadi perubahan pertukaran udara, vebtilasi menjadi berlebihan untuk mencukupi kebutuhan O₂; (6)faktor emosional, perasaan tidak nyaman, misal pada pasien penyakit paru kronis yang mengalami depresi akan mengalami sesak napas akibat ambang sesak napasnya yang rendah. (Stark, 1990: 3)

Mengenai sifat sesak pada asma, bisa mendadak dan semakin memberat dalam waktu beberapa menit, atau secara bertahap dan semakin memberat secara progresif dalam beberapa jam atau hari. Pasien asma umumnya terbangun diantara jam 03.00-05.00 (Rumende, 2007:40). Tapi tidak menutup kemungkinan sesak pada asma tersebut bisa terjadi pada penyakit lainnya. Sesak saat udara dingin pada malam hari terjadi karena udara yang lembab dan kandungan O₂ yang rendah mengganggu keseimbangan (homeostasis) tubuh dalam respirasi, sehingga penderita terbangun yang disertai wheezing atau bisa terjadi pada saat tidur karena aspirasi refluks oesofagus.

Wheezing adalah suara yang bernada tinggi yang terjadi akibat aliran udara yang melalui saluran napas yang sempit (Rumende, 2007:40).

Mengenai mengi (wheezing) merupakan suara kontinyu yang dihasilkan jika dinding napas mengalami obstruksi sebagian (analog dengan musik tiup). Terdapat mengi monofonik dan mengi polifonik. Mengi monofonik (analog dengan suara dari satu alat musik) menunjukkan bahwa saluran napas obstruksi tak bervariasi ukuran (caliber)nya berarti suatu penyempitan lokal (misal pada paru atau stenosis bronkus atau trakea). Suara ini terbaik atau hanya terdengar pada tempat penyempitan saja. Mengi polifonik (lebih umum), analog dengan beberapa nada yang

Page 7: Blognya Anak Kedokteran

dimainkan secara berbarengan, dimana mengi hampir selalu terdengar pada kedua sisi (bilateral). Hal ini menunjukkan suatu penyempitan saluran napas yang umum, terutama terjadi pada bronchitis obstruktif, emfisema atau asma. (Stark, 1990:32)

Pada mengi terdapat dua jenis mengi mengenai timbulnya suara mengi berdasarkan letak obstruksinya yaitu: (1)wheezing pada obstruksi saluran napas intrathorakal, dan (2)wheezing pada penyempitan ekstrathorakal.

Mengi yang terjadi akibat obstruksi saluran napas intrathorakal terutama pada ekspirasi karena saluran napas, sesuai dengan perubahan intrathorakal , cenderung melebar pada inspirasi dan menyempit pada ekspirasi (Stark, 1990). Peningkatan resistensi intrathorakal biasanya terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan bronkus karena tekanan dari luar, kontraksi otot bronkus, penebalan lapisan mukus, atau sumbatan lumen oleh mucus, hal ini benyak terjadi pada asma atau bronchitis kronis (Lang, 2007:76).

Obstruksi intrathorakal terutama mengganggu proses ekspirasi karena saat inspirasi tekanan intrathorakal menurun sehingga melebarkan jalan pernapasan. Perbandingan waktu ekspirasi dan inspirasi akan meningkat. Ekspirasi yang terhambat akan melebarkan duktulus alveolus (emfisema sentrilobular) menurunkan elastisitas paru (peningkatan komplians), dan bagian tengah pernapasan akan terdorong kearah inspirasi (barrel chest). Hal ini meningkatkan kapasitas residu fungsional dan dibutuhkan tekanan intrathorakal untuk melakukan ekspirasi karena komplians dan resistensi meningkat. Akibatnya, terjadi penekanan bronkiolus sehingga tekanan jalan napas semakin meningkat. Obstruksi akan menurunkan kapasitas pernapasan maksimal (V max) dan FEV1 (Lang, 2007:76). Kejadian ini penting dimengerti pada penderita (misal) asma karena pasien dengan penyakit asma ketika asma kambuh, pasien akan gugup karena merasa sesak napas dan makin berusaha inspirasi sebanyak-banyaknya, oleh karena itu bagi dokter atau perawat harus bisa menenangkan terlebih dahulu kejiwaan pasien, karena ketika gugup dan inspirasi kuat makin memperburuk kondisi mereka.

Jika mengi yang terdengar pada saat inspirasi menunjukkan adanya penyempitan saluran napas ekstrathorakal, misal pada trakea bagian atas atau laring (Stark, 1990:32). Peningkatan resistensi ekstrathorakal, misalnya pada kelumpuhan pita suara, edema glotis, dan penekanan trakea dari luar (tumor/struma). Pada trakeomalasia, dinding trakea melunak dan mengalami kolaps saat inspirasi. (Lang, 2007:76)

Akibat penyakit paru obstruktif adalah ventilasi menurun. Jika terjadi penyumbatan ekstrathorakal, yang terutama dipengaruhi adalah proses inspirasi (stridor inspirasi) karena pada saat ekspirasi tekanan dilumen prastenosis meningkat sehingga melebarkan bagian yang menyempit. (Lang, 2007:76)

Tapi jika pada keadaan berat dapat terdengar baik pada inspirasi dan ekspirasi. Wheezing digambarkan sebagai bunyi yang mendesir akibat adanya secret pada saluran napas atas. Wheezing yang timbul pada saat melakukan aktivitas merupakan gejala yang sering didapatkan pada pasien asma dan PPOK. Pada asma, wheezing menyebabkan pasien terbangun dari tidur pada malam hari sedangkan wheezing yang timbul pada pagi hari didapatkan pada PPOK (Rumende, 2007:40).

Page 8: Blognya Anak Kedokteran

Keterangan:Emfisema Sentrilobular: ditandai dengan pelebaran yang dominan dari duktus alveolaris dan bronkiolus respiratorik terutama disebabkan penyakit paru obstruktif (Lang, 2007: 78)Komplians (C=daya kembang) adalah ukuran sifat elastic (distensibilitas) yang dimiliki paru dan thoraks. Didefinisikan sebagai perubahan volume perunit perubahan tekanan dalam keadaan statis. (Lorraine M.Wilson, 2006 : 763)FEV1 (Forced expired Volume dalam detik), normal udara ekspirasi yang dikeluarkan ≥80%, apabila <80% menandakan abnormal

Patogenesis asma terjadi melalui Jalur Imunologis yang didominasi oleh IgE dan Jalur Saraf Autonom. Pada Jalur Imunologis IgE, masuknya allergen ke tubuh akan diolah APC (Antigen Precenting Cell) yang selanjutnya hasil olahan allergen tersebut dikomunikasikan ke sel Th. Sel Th memberi intruksi melalui interleukin atau sitokin agar sel plasma membentuk IgE, serta sel radang lain (mastosit, makrofag, sel epitel, eosinofil, neutrofil, trombosit, limfosit) untuk mengeluarkan mediator inflamasi (histamin, prostaglandin, leukotrin, platelet activating factor, bradikinin, tromboksin) yang akan mempengaruhi organ sasaran sehingga menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding vascular, edema saluran napas, infiltrasi sel radang, sekresi mucus dan fibrosis subepitel sehingga menimbulkan hiperreaktivitas saluran napas. Jalur Saraf Autonom merangsang sistem saraf autonom yang menyebabkan peningkatan respon saraf parasimpatis sehingga terjadi bronkokontriksi. (H. Sundaru dan Sukamto, 2007)

Asmasolon (Generik Teofilin): mengandung kombinasi dua bronkodilator yaitu theophyllin dan ephedrin. Theophyllin merupakan turunan metilxantin yang mempunyai efek merangsang SSP dan melemaskan otot polos terutama mengurangi spasme broncus. Ephedrin bekerja merangsang kedua reseptor alpha dan beta adrenergik yang meningkatkan aktivitas adenyl cyclase dan merangsang produksi cAMP. (www.dechacare.com)Kandungannya Ephedrin HCl 12,5 mg, Teophyllin anhidrat 130 mg.

Batuk Berdahak2009 November 11by panmedical

Pada kesempatan kali ini kita dihadapkan seorang pria datang ke poli Penyakit Dalam dengan keluhan batuk berdahak kental dan banyak sejak 3 bulan dan tidak berkurang meski sudah diobati dengan berbagai macam obat batuk. Batuk sudah berlangsung selama 2 tahun namun kadang mereda, dan kali ini bertambah berat. Sebelumnya penderita seorang perokok berat dan bekerja di pabrik kimia. Pada pemeriksaan fisik: kesan bentuk thorax emfisematous dan hasil foto thorax kesan hiperlusen.

Batuk merupakan gejala penyakit pernapasan yang paling umum, berfungsi, terutama untuk pertahanan paru terhadap masuknya benda asing. Baik orang sehat maupun orang sakit, batuk dapat dengan disadari (volunteer) maupun tak disadari (involunter). Batuk yang disadari merupakan respon terhadap perasaan adanya sesuatu dalam saluran napas. Batuk yang tak disadari terjadi akibat reflex yang dipacu oleh perangsangan pada reseptor sensorik laring,

Page 9: Blognya Anak Kedokteran

trakea, atau bronchi sampai alveolus yang besar atau hilangnya compliance paru. Batuk dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak dan tidak sesuai atau terbentuk sputum. (Stark, 1990; Rumende, 2007)

Sputum merupakan materi yang diekspektorasi dari saluran napas bawah oleh batuk, yang bercampur ludah. Sekresi bronkus normal tak cukup banyak untuk diekspektorasi, biasanya dialirkan ke laring oleh aksi silia lalu ditelan. Gambaran sputum mungkin dapat membantu diagnosis, meskipun makanan atau minuman yang baru saja ditelan mungkin mengkontaminasi sputum. Sputum bisa dibedakan dari ludah. Ludah (saliva) akan membentuk gelembung jernih di bagian atas cairan dalam penampung sputum, sedang pada sputum hal ini jarang terjadi kecuali pada edema pulmonal. (Stark, 1990)

Pada kasus kali ini, hipotesis penulis cenderung penderita mengalami bronchitis kronik. Hal ini ditemukan pada batuk berdahak kental yang terus-menerus, bertambah parah meski sudah diobati. Batuk kronis (batuk perokok) dan sputum mukoid (dahak kental) merupakan satu-satunya gejala bronchitis kronis (stark, 1990). Kemungkinan jika dicari tentang gejalanya lebih teliti, sifat batuk Bronchitis kronik berupa batuk dengan dahak yang persisten tiap pagi hari pada seorang perokok dan sputum bronchitis bersifat mukoid dengan sputum jernih keabu-abuan (Rumende, 2007). Pada keadaan tertentu lumen bronkiolus yang sempit dapat menjadi menyempit karena mucus dan kontraksi otot bronkus. Mukus disekresi untuk mengambil patogen yang terperangkap dan partikel kotor. Mukus ini dibawa silia dari lapisan epitel ke kerongkongan untuk ditelan. Karena silia tidak dapat mendorong mukus yang kental, larutan elektrolit biasanya juga dikeluarkan untuk mendorong mukus dari silia sehingga mucus dapat bergerak maju ke kerongkongan dalam lapisan cairan yang encer. Lumen dapat menyempit karena kerja otot bronkus, yang meningkatkan kemungkinan patogen ditangkap oleh mukosa. Tetapi kerugiannya menyebabkan resistensi meningkat (penyakit paru obstruktif) (Lang, 2007). Bronchitis merupakan gangguan klinis yang ditandai oleh pembentukan mucus yang berlebihan dalam bronkus dan bermanifestasi sebagai batuk kronik dan pembentukan sputum selama sedikitnya 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dalam 2 tahun berturut-turut. Temuan patologis pada bronchitis kronik adalah hipertrofi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah dan ukuran sel goblet dengan infiltrasi sel-sel radang dan edema mukosa bronkus. Pembentukan mucus yang meningkat mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronkiolus kecil hingga menjadi rusak dan dindingnya melebar. Faktor etiologi utama adalah merokok dan polusi udara industri. Polusi udara yang terus menerus merupakan predisposisi infeksi rekuren karena polusi memperlambat aktivitas silia dan fagositosis, sehingga timbunan mucus meningkat dan mekanisme pertahanan melemah (Wilson, 2006). Diagnosis ini sebaiknya diduga pada perokok lama (Stark,1990). Pada pemeriksaan fisik thorax kesannya emfisematosa karena terdapat kumpulan udara secara patologis (Dorland, 2009). Thoraks emfisema (barrel-shape) mempunyai ciri berupa: (1) Dada menggembung; (2) Diameter antero-posterior lebih besar dari diameter latero-lateral; (3) Tulang punggung kifosis dan angulus costa >90˚(Rumende, 2007). Foto thorax kesan hiperlusen karena banyaknya udara yang terkumpul dalam paru melebihi normal.

Sputum: Bahan yang didorong keluar dari trakea, bronki, dan paru melalui mulutMucus: Lendir bebas membran mukosa, terdiri dari sekresi kelenjar, berbagai garam, sel yang berdeskuamasi, dan leukosit.

Page 10: Blognya Anak Kedokteran

Kifosis: Curvatura vertebra melengkung secara berlebihan kearah anterior.Mukoporulen: Mengandung mucus maupun nanah