bimo setiawan

  • View
    89

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of bimo setiawan

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Sumberdaya lahan merupakan modal pembangunan di berbagai bidang, termasuk pengembangan pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Lahan

merupakan sumberdaya yang amat diperlukan bagi masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, meningkatkan kesejahteraan dan upaya memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih baik. Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya lahan harus disesuaikan dengan potensinya agar produktivitas lahan dapat dicapai secara optimal. Penggunaan lahan yang kurang disesuaikan bahkan melenceng jauh dari potensi lahan tersebut untuk memproduksi hasil-hasil pertanian dapat

mengakibatkan tanah tersebut rusak dan dapat membuat hasil pertanian semakin menurun. Penggunaan lahan yang sesuai dapat dilakukan dengan metode dan pengetahuan yang ada. Salah satu ilmu yang dapat diterapkan dalam Pendekatan

penggunanan lahan ini adalah dengan pendekatan parametrik.

parametrik adalah sistem klasifikasi dan pembagian lahan atas dasar pengaruh atau nilai ciri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruh-pengaruh tersebut untuk memperoleh kesesuaiannya (Udawatta and Henderson, 1986). Penggunaan lahan di daerah lembang sampai saat ini digunakan untuk budi daya pertanian tanaman hortikultura, perkebunan (teh), dan hutan konservasi. Penggunaan tanaman pangan pada wilayah ini belum banyak di usahakan sebagai tanaman utama. Pengunaan lahan umumnya untuk tanaman hortikultura yang digunakan antara lain berupa tanaman kentang, wortel, kol, petsai, cabai, tomat,

dan berbagai tanaman sayuran lainnya serta bunga-bungaan. Namun demikian tanaman pangan dapat dikembangkan selain sebagai tanaman utama pada pola rotasi tanaman juga sebagai tanaman sela. Secara geografis, Kecamatan Lembang yang terletak di sebelah utara kota Bandung pada ketinggian 1250 meter di atas permukaan laut. Topografi Kecamatan Lembang merupakan daerah berbukit-bukit antara 8-30 % dan termasuk daerah yang memiliki elevasi cukup tinggi dengan iklimnya sejuk dengan suhu udara berkisar pada 14,90 C 25,50 C (Bambang Hadi S, 2008). Di daerah lembang memiliki jenis tanah yang dominan yaitu tanah andisol. Tanah andisol dicirikan tanah yang berwarna gelap, coklat sampai hitam, porositas tinggi, memiliki kapasitas air tinggi, tetapi ketahanan terhadap erosinya rendah. Sifat fisik kimia Andisol ditandai dengan reaksi tanah agak masam sampai netral (pH 5.06.5), kejenuhan basa sekitar 2040%, KTK tanah 20-30 me/100g, kandungan, berat jenis 15% (Tan 1991 dan Pusat Penelitian Tanah (1983). Pada penelitian yang akan saya lakukan dengan memusatkan

pengembangannya untuk tanaman pangan terutama tanaman ubi jalar. Penelitian yang dilakukan dengan melihat besarnya produktifitas dari modifikasi yang akan saya lakukan dan yang dijadikan acuan. Ubi jalar merupakan komoditi pangan penting di Indonesia dan diusahakan penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Ubi jalar merupakan salah satu bahan pangan local yang berpotensi untuk dikembangkan dimasa mendatang. Tanaman ini banyak dijadikan tanaman pokok

yang cukup digandrungi terutama di negara Jepang. Di Jepang, ubi jalar sejak lama telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan tradisional dan dipromosikan setara dengan hamburger dan pizza. Tak mengherankan jika di negara Sakura ini, berbagai makanan berbahan baku ubi jalar kini banyak dijumpai di toko-toko hingga restoran bertarap internasional (anekaplanta.wordpress.com,2010). Ubi jalar mempunyai manfaat yang dapat di jadikan pertimbangan untuk di manfaatkan secara optimal. Ubi jalar (1) merupakan karbohidrat keempat setelah padi, jagung, dan ubi kayu, (2) mempunyai produktifitas tinggi, (3)

memiliki kandungan zat gizi yang beragam, (4) sebagai bahan baku industri pangan (5) memiliki potensi permintaan yang cukip tinggi baik lokal, regional maupun untuk eksport. Selain itu mempunyai manfaat untuk mengendalikan produksi hormon melatonin yang dapat bekerja untuk menghasilkan kelenjar pineal di dalam otak. Melatonin merupakan antioksidan andal yang menjaga kesehatan sel dan sistem saraf otak, sekaligus mereparasinya jika ada kerusakan. Kekurangan asupan vitamin A menghambat produksi melatonin dan menurunkan fungsi saraf otak sehingga muncul gangguan tidur dan berkurangnya daya ingat. Ubi jalar mempunyai vitamin A dan E yang dapat mengoptimumkan produksi hormon melatonin (Usmiati, 2005). Dalam upaya mendukung program keragaman pangan serta program ketahanan pangan merupakan salah satu program utama pembangunan pertanian guna menopang ketahanan ekonomi daerah dan nasional. Pembangunan ketahanan pangan diarahkan agar kekuatan ekonomi domestik mampu menyediakan pangan bagi seluruh masyarakat. Kebutuhan pangan akan terus meningkat dalam jumlah,

kualitas, keragaman dan keamanan sesuai dengan laju pertumbuhan dan tingkat kesejahteraan penduduk yang terus berkembang. Pada tahun 2009 pemerintah mengeluarkan instrument kebijakan pemerintah untuk mempercepat terlaksananya diversifikasi pangan pertanian di Indonesia khususnya terkait dengan aspek konsumsi. Instrumen kebijakan

tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 tahun 2009 tentang kebijakan keanekaragaman konsumen pengan berbasis sumberdaya local.

Perpres tersebut kemudian ditindak lanjuti dalam Peraturan Menteri Pertanian No 43/Permentan /OT 140/10/2009 tentang gerakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis Sumberdaya Lokal (Badan ketahanan pangan, 2009). Pencapaian produktivitas lahan secara optimal membutuhkan suatu kajian terhadap sumberdaya lahan yang ada. Melalui kajian ini dimaksudkan untuk menentukan dan membuat suatu perbandingan terhadap kemungkinan bentukbentuk penggunaan lahan yang dapat diterapkan di daerah . Kajian ini akan berhubungan dengan kesesuaian lahan, dimana kajian terhadap kesesuaian lahan mempunyai penekanan yang tajam yakni membuat alokasi pemanfaatan ruang yang memiliki sifat-sifat positif dalam hubungannya dengan keberhasilan produksi atau penggunaan lahan dengan lebih optimal. Peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan dapat dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Peningkatan produksi melalui intensifikasi dapat dilakukan dengan menerapkan inovasi teknologi pertanian unggulan pada lahan secara teknis. Sedangkan peningkatan produksi melalui

ekstensifikasi selain ditempuh melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) yang dapat ditempuh melalui perluasan areal pertanian.

1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah tingkat produktivitas tanaman pangan ubi jalar (Ipomoea batatas) dengan metode pendekatan parametrik di daerah lembang? 2. Berapakah besarnya tingkat akurasi model pendekatan evaluasi lahan parametrik dalam mengembangkan tanaman pangan ubi jalar (Ipomoea batatas) di daerah lembang?

1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui tingkat produktivitas lahan pertanian pangan ubi jalar (Ipomoea batatas) berdasarkan penilaian parametrik produktivitas lahan pada daerah lembang. 2. Mengetahui besarnya tingkat akurasi model untuk pengembangan lahan di daerah lembang.

1.4. Kegunaan Penelitian Luaran yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna untuk meningkatkan potensi ilmu pengetahuan baik secara ilmiah maupun praktis, dari segi ilmiah kegunaan penelitian ini diharapkan dapat

memberikan sumbangan ilmu dalam perencanaan dan evaluasi lahan. Secara praktisnya diharapkan penelitian yang dilakukan dapat memprediksi produktivitas lahan pertanian terutama tentang komoditas pangan khususnya tanaman pangan ubi jalar pada daerah lembang.

1.5. Kerangka Pemikiran Dent and Young (1987) menyatakan bahwa evaluasi lahan suatu proses untuk memprakirakan potensi lahan untuk penggunaan tertentu termasuk didalamnya penggunaan lahan untuk tanaman pangan, perkebunan, pemukiman dan daerah konservasi. Dengan demikian evaluasi lahan merupakan suatu tindakan untuk menentukan jenis penggunaan lahan yang optimal pada setiap lahan/wilayah. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan potensinya akan mengakibatkan produktivitas menurun, degradasi kualitas lahan dan tidak berkelanjutan. Guna menghindari hal tersebut, maka diperlukan adanya evaluasi lahan untuk mendukung perencanaan pembangunan pertanian yang berkelanjutan (Rossiter, 1994; Davidson, 1992). . Penggunaan lahan yang sesuai dengan potensinya dapat meningkatkan produksinya serta usaha pertanian tersebut dapat berkesinambungan. Menurut Sitorus (2004) mengungkapkan bahwa kegunaan lahan bagi penggunaan tertentu dapat dilakukan melalui penilaian kemampuan lahan, kesesuaian lahan ataupun nilai lahan. Penggunaan yang sesuai ini diperlukan pengetahuan tentang bagaimana cara dan metode yang akan dilakukan dalam mendukung peningkatan produksi pertanian yang akan dilakukan. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk menduga penilaian ini dilakukan melalui pertimbangan pengaruh

sifat lahan terhadap daya dukungnya bagi pertanian secara optimal diantaranya dengan pendekatan parametrik. Pendekatan parametrik adalah sistem klasifikasi dan pembagian lahan atas dasar pengaruh atau nilai ciri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruh-pengaruh tersebut untuk memperoleh kesesuaiannya (Udawatta and Henderson, 1986). Pendekatan parametrik dilakukan pemberian bobot atau rating pada tiap karakteristik (kualitas) lahan. Jika karakteristik lahan atau kualitas lahan optimal untuk suat tipe penggunaan lahan yang dipilih, maka diberikan nilai rating 0 100, namun jika karakteristik atau kualitas lahan memperlihatkan adanya pembatas, maka diberikan nilai rating yang rendah (Sys et al., 1991). Menurut Mabbut, (1996) dalam Sitorus (1989), pendekatan parametrik mengkelaskan lahan atas dasar sejumlah sifat lahan tertentu, dimana pemilihan sifat tersebut ditentukan ol