Benjolan Di Telinga

  • View
    544

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

benjolan di telinga tumor

Text of Benjolan Di Telinga

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangTelinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. (Sutami, 2011)Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Telinga tengah dan luar berkembang dari brankial. Telinga dalam seluruhnya berasal dari plakoda otika. Dengan demikian suatu bagian dapat mengalami kelainan kongenital sementara bagian lain berkembang normal. (Higler, 2007)Dalam praktik kedokteran, seringkali seorang dokter menjumpai penyakit-penyakit di telinga yang menunjukkan gambaran klinis dan gejala-gejala yang sama atas sekelompok penyakit yang berbeda. Seperti contoh benjolan pada telinga, dimana benjolan ini merupakan bentuk abnormalitas pada telinga.Benjolan pada telinga merupakan suatu kejadian yang sering ditemukan. Hal tersebut dapat dihubungkan dengan beberapa lesi yang dapat terjadi pada telinga, antara lain: trauma, kista, infeksi, tumor jinak maupun tumor ganas.Tumor merupakan pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat dikontrol tubuh. Untuk itu, seorang dokter harus dapat membedakan jenis-jenis tumor pada telinga, Selain itu, perlu juga mengetahui etiologi-etiologi yang dapat menyebabkan suatu benjolan yang menyerupai tumor. (Sutami, 2011)Maka pada makalah ini akan dibahas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan lesi yang terjadi pada telinga yang bisa menyebabkan benjolan di telinga serta cara menegakkan diagnosis dan kemudian penatalaksanaan yang dapat dilakukan.I.2 Tujuan PenulisanI.2.1 Tujuan UmumTujuan umum dari pembuatan referat ini adalah untuk mengetahui tentang benjolan di telinga yang berhubungan dengan penyakit.I.2.2 Tujuan Khusus1. Mengetahui definisi benjolan di telinga dan macam-macam benjolan1. Mengetahui macam-macam penyakit dengan gejala klinik adanya benjolan di telinga1. Mengetahui pendekatan terhadap keluhan suatu penyakit dengan gejala klinik adanya benjolan di telinga1. Mengetahui mekanisme patofisiologi benjolan ditelinga (disertai dengan tanda inflamasi lain atau tidak hubungan dengan penyebabnya)1. Mengetahui penegakkan diagnosis suatu penyakit dengan kelainan adanya benjolan di telinga1. Mengetahui penatalaksanaan penyakit dengan gejala klinik benjolan di telingaI.3 Manfaat Penulisan1. Manfaat untuk Penulis: menambah pengetahuan tentang penyakit dengan gejala klinik adanya benjolan di telinga1. Manfaat untuk Pembaca: menambah pengetahuan dan wawasan tentang penyakit dengan gelaja klinik adanya benjolan di telinga1. Manfaat untuk Institusi: menambah referensi karya ilmiah atau makalah

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Benjolan di TelingaBenjolan di telinga adalah suatu keluhan berupa benjolan di dalam, luar, depan, maupun belakang telinga. Benjolan tersebut dapat berupa gejala awal suatu penyakit yang berhubungan dengan telinga dan fungsi pendengaran, maupun manifestasi klinis dari penyakit tersebut. Benjolan di telinga dapat merupakan bentuk akut yang tidak bermasalah atau bentuk kronik dari suatu penyakit yang dapat berkembang menjadi lebih berbahaya seperti tumor. (FKUI, 2007)Benjolan pada telinga adalah suatu lesi pada telinga yang arah perluasannya diatas permukaan jaringan yang ditempatinya. Secara umum jenis-jenis benjolan ini adalah:1. Papula adalah suatu massa yang menonjol pada kulit atau mukosaberbentuk bulat atau lonjong dengan diameter < 1 cm.1. Plaque/Plak adalah suatu massa yang menonjol dengan atap yang rata. Permukaannya bisa halus,kasar atau pecah-pecah. Ukurannya lebih besardari papula.1. Vesikula (vesikel, vesicle) adalah Suatu benjolan bulat dan bening, transparan berisi cairan dengan ukurannya < 1 cm1. Bula (bulla): samadengan vesikel dengan ukurannya > 1 cm1. Pustula : Sama seperti bula dan vesikula, tetapi pustula ini berisi pus (purulen)1. Nodul (nodule): suatu massa yang padat dan menonjol, juga mempunyai dimensi perluasan ke bawah. Ukurannya 1 cm1. Tumor: suatu masa padat yang menonjol dan juga mempunyai dimensi perluasan ke bawah. Ukurannya > 1cm. Tumor atau neoplasma adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat dikontrol oleh tubuh.Tumor (neoplasia) terbagi menjadi 2 yaitu:1. Tumorjinak (benignneoplasma) Neoplasia jinak adalah pertumbuhan jaringan baru yang lambat, ekspansif, terlokalisir, berkapsul, dan tidak bermetastasis (menyebar)1. Tumor ganas (maligant neoplasma) adalah tumor yang tumbuhnya cepat, infiltrasi ke jaringan sekitarnya dan dapat menyebar ke organ-organ lain (metastase). Neoplasia ganas sering disebut kanker. (Sutami, 2011)2.2 Macam-macam Penyakit yang Dapat Menimbulkan Benjolan di TelingaBenjolan pada telinga dapat dihubungkan dengan beberapa lesi yang dapat terjadi pada telinga, antara lain: trauma, infeksi, kista, tumor jinak maupun tumor ganas. Berikut ini akan disebutkan macam-macam penyakit yang dapat menimbulkan keluhan benjolan di telinga, antara lain yaitu:2.2.1 Tuberkulosis Pada Anak2.2.1.1 Etiologi dan PenularanTuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis (sangat jarang disebabkan oleh Mycobacterium avium). Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. Basil tuberculosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan kering, tetapi dalam cairan mati pada suhu 60 C dalam 15-20 menit. Fraksi protein basil tubercuosis menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor penyebab terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel. (Behram, 2000)Basil tuberculosis tidak membentuk toksin (baik endotoksin maupun eksotoksin). Penularan Mycobacterium tuberculosis biasanya melalui udara, hingga sebagian besar fokus primer teberkulosis terdapat pada paru. Selain melalui udara penularan dapat peroral misalnya minum susu yang mengandung basil tuberkulosis, biasanya Mycobacterium bovis. Dapat juga terjadi dengan kontak langsung misalnya melalui luka atau lecet di kulit. Tuberkulosis kongenital sangat jarang dijumpai. Selain Mycocbacterium tuberculosis perlu juga dikenal golongan Mycobacterium lain yang dapat menyebabkan kelainan yang menyerupai tuberkulosis. Golongan ini disebut Mycobacterium atipic atau disebut juga Unclassified Mycobacterium.Runyon (1959) membagi Mycobacterium atipic menjadi 4 golongan:1. Golongan fotokromogen, misalnya M. kansasii yang dapat menyebabkan penyakit di dalam dan di luar paru seperti tuberkulosis.1. Golongan skotokromogen, misalnya M. scrofulaceum yang dapat menyebabkan adenitis servikalis pada anak.1. Golongan nonfotokromogen, misalnya M. intracellulare (Battey strains), yang dapat menyebabkan penyakit paru seperti tuberkulosis.1. Golongan rapid growers, misalnya M. fortuitum yang dapat menyebabkan abses. M. smegmantes merupakan saprofit pada smegma. (Behram, 2000)2.2.1.2 Patogenesis dan PatologiMasuknya basil tuberkulosis dalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit. Terjadinya infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil tuberkulosis serta daya tahan tubuh manusia. Infeksi primer biasanya terjadi dalam paru. Ghon dan Kudlich (1930) menemukan bahwa 95,93% dari 2.114 kasus mereka mempunyai fokus primer di dalam paru. Hal ini disebabkan penularan sebagian besar melalui udara dan mungkin juga karena jaringan paru mudah terkena infeksi tuberkulosis (susceptible). (Behram, 2000) Tabel 1. Lokalisasi fokus primer pada 2.114 kasus Ghon dan Kudlich LokasiPresentase (%)

Paru95,93%

Telinga tengah0,09%

Usus1,14%

Kelenjar parotis0,05%

Kulit0,14%

Konjugtiva0,05%

Tonsil0,09%

Hidung0,09%

Tidak diketahui2,41%

Basil tuberkulosis masuk dalam paru melalui udara dan dengan masuknya basil tuberkulosis maka akan terjadi eksudasi dan konsolidasi yang terbatas dan disebut fokus primer. Basil tuberkulosis akan menyebar dengan cepat melaui saluran getah bening menuju kelenjar regional yang kemudian akan mengadakan reaksi eksudasi. Fokus primer, limfangitis dan kelenjar getah bening regional yang membesar, membentuk kompleks primer. Kompleks primer terjadi 2-10 minggu (6-8 minggu) setelah infeksi. Bersamaan dengan terbentuknya kompleks primer terjadi hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein yang dapat diketahui dari uji tuberkulin. Waktu antara terjadinya infeksi sampai terbentuknya kompleks primer disebut masa inkubasi. Pada anak lesi dalam paru dapat terjadi dimana pun, terutama di perifer dekat pleura. Lebih banyak terjadi di lapangan bawah paru dibanding dengan lapangan atas, sedangkan pada orang dewasa lapangan atas paru merupakan tempat predileksi. Pembesaran kelenjar regoinal lebih banyak terdapat pada anak dibanding orang dewasa. Pada anak penyembuhan terutama ke arah klasifikasi, sedangkan pada orang dewasa terutama kearah fibrosis. Penyebaran hematogen lebih banyak terjadi pada bayi dan anak kecil. (Behram, 2000)Schmid dkk (1963) meragukan adanya fokus primer di dalam jaringan paru, lesi dalam jaringan paru yang dianggap sebagai fokus primer oleh Ghon dan Kudlich, sebenarnya terjadi sekunder karena pecahnya kelenjar getah bening bronkial. Jadi Schmid dkk berpendapat bahwa infeksi terjadi dalam kelenjar lebih dahulu. (Behram, 2000)Tuberkulosis primer cenderung sembuh sendiri, tetapi sebagian akan menyebar lebih lanjut dan dapat menimbulkan komplikasi. Tuberkulosis dapat meluas dalam jaringan paru sendiri. Selain itu basil tuberkulosis dapat masuk kedalam aliran darah secara langsung atau melalui kelenjar getah bening. Basil tuberkuosis dalam aliran darah dapat mati, tetapi dapat pula berkembang terus. Hal ini bergantung kepada keadaan penderita dan virulensi kuman. Melalui aliran darah basil tuberkulosis dapat mencapai alat tubuh lain seperti bagian paru lain, selaput otak, tulang, hati