of 25 /25
Terjadinya perdarahan berkepanjangan setelah trauma superfisial yang terkontrol, merupakan petunjuk bahwa ada defisiensi trombosit. Masa perdarahan memanjang pada kedaan trombositopenia ( <100.000/mm 3 ada yang mengatakan < 75.000 mm 3 ), penyakit Von Willbrand, sebagian besar kelainan fungsi trombosit dan setelah minum obat aspirin. Pembuluh kapiler yang tertusuk akan mengeluarkan darah sampai luka itu tersumbat oleh trombosit yang menggumpal. Bila darah keluar dan menutupi luka , terjadilah pembekuan dan fibrin yang terbentuk akan mencegah perdarahan yang lebih lanjut . Pada tes ini darah yang keluar harus dihapus secara perlahan-lahan sedemikian rupa sehingga tidak merusak trombosit. Setelah trombosit menumpuk pada luka , perdarahan berkurang dan tetesan darah makin lama makin kecil. Tes masa perdarahan ada 2 cara yaitu metode Duke dan metode Ivy . Kepekaan metode Ivy lebih baik, dengan nilai rujukan I - 7 menit dan metode Duke dengan nilai rujukan 1 – 3 menit. http://analisqmateri.blogspot.com/2010/10/bleeding-time-masa- perdarahan.html Waktu perdarahan (bleeding time, BT) adalah uji laboratorium untuk menentukan lamanya tubuh menghentikan perdarahan akibat trauma yang dibuat secara laboratoris. Pemeriksaan ini mengukur hemostasis dan koagulasi. Masa perdarahan tergantung atas : ketepatgunaan cairan jaringan dalam memacu koagulasi, fungsi pembuluh darah kapiler dan trombosit. Pemeriksaan ini terutama mengenai trombosit, yaitu jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada jaringan subendotel dan membentuk agregasi Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium : Metode yang digunakan; teknik yang tidak tepat – bila terjadi luka pungsi yang mungkin lebih dalam daripada yang seharusnya. Bila tetesan darah ditekan paksa pada permukaan kertas dan tidak menunggu tetesan darah benar- benar terisap dengan sendirinya pada kertas penghisap, hal ini dapat merusak partikel fibrin sehingga memperlama perdarahan. Obat aspirin dan antikoagulan dapat memperlama perdarahan. http://labkesehatan.blogspot.com/2010/01/waktu-perdarahan.html

Bahan makalah hematologi

Embed Size (px)

Text of Bahan makalah hematologi

Terjadinya perdarahan berkepanjangan setelah trauma superfisial yang terkontrol, merupakan petunjuk bahwa ada defisiensi trombosit. Masa perdarahan memanjang pada kedaan trombositopenia ( 24 atausampai lebih dari 12 meni pendarahan tetap berlangsungmaka hentikan tes ini . Tes Rumpel-Leede (Tes Tourniquet) : Tes ini digunakan utk mengetahui kelainan vaskular (resistensikapiler) dan trombosit (terutama jumlahnya) . Pada trombositopenia tes ini sering positif , dan tes ini bisa positif walaupun BT-nya normal Alat : Sphygmomanometer, Stethoscope, Marker Pen, Stopwatch Teknik :Gambar dengan menggunakan marker sebuah lingkaran (diameter5cm) pada permukaan volar dari forearm, yaitu sekitar 5cm dibawahsiku .- Pasang tensimeter dengan tekanan diantara Sistolik dan Diastolik, maksimum 100 mmHg . Pertahankan 5 menit .- setelah 5 menit, lepaskan Cuff dan hitung jumlah petekhiae ygterbentuk : Cara menilai kepositifan Petekhiae : Setelah Cuff dilepaskan, tunggu 5 menit, kemudian periksa volarlengan bawah : ada < 10 petekhiae = normal ada > 10 petekhiae = abnormal Masa Pembekuan ( Clotting Time ): Tujuan : menentukan waktu yang diperlukan darahuntuk membeku Bahan : darah tanpa antikoagulan

Alat : 3 tabung clotting (10x1 cm) bersih dan kering .- S t o p w a t c h Teknik (Modifikasi-I) : 3 ml darah vena (pasang stopwatch saat darah tampak masuk kepangkal jarum) bagi dlm 3 tabung @ 1 ml . Inkubasi 3 tabung pd 37 0 C (waterbath atau digenggam) selama 4menit , kemudian setiap 30 detik setelahnya miringkan ke-3 tabungdan perhatikan tabung mana yg sudah tampak membeku catat waktunya ( I )

Setiap 30 detik berikutnya miringkan 2 tabung sisanya danperhatikan tabung mana yg sudah tampak membeku catat waktunya ( II ) Setiap 30 detik selanjutnya miringkan dan perhatikan tabung ke-3 ,bila sdh tampak membeku catat waktunya ( III ) Ambil rata-rata dari I + II + IIINormal : 5 15 menit Teknik (Modifikasi-II) : Ambil 3 ml darah vena (pasang stopwatch saat darah tampakmemasuki pangkal jarum) bagi dlm 3 tabung @ 1 ml , beri tanda Tabung-I, II, dan III . Simpan ke-3 tabung pd 37 0 C (waterbath atau digenggam), biarkan 4menit kemudian setiap 30 detik periksa Tabung-I (Tabung-II dan IIIbiarkan) dan catat bila tabung-I tampak membeku . Selanjutnya tiap 30 detik berikutnya periksa Tabung-II (Tabung-IIIbiarkan) dan catat waktunya bila Tabung-II sudah tampak membeku . Setiap 30 detik selanjutnya, periksa Tabung-III dan catat waktunyabila Tabung-III sudah tampak membeku . Waktu Pembekuan = waktu pembekuan dari Tabung III Tes Retraksi Bekuan ( Clot Retraction) : Prosedur : Hasil Clotting Time setelah membeku, biarkan dlm waterbath 37 0 Cdan diamati 2 jam setelah membeku :- bila retraksi sebagian laporkan . - bila belum ada retraksi , teruskan sampai 24 jam laporkan sudah/belum terjadi retraksi lengkap . Modifikasi McFarlane : Ambil 5 ml drh vena (catat waktu saat darah tampak pd pangkal jarum), masukkan dlm tabungsentrifus berskala dan tempatkankawat-berkait didalamnya Inkubasikan tabung-darah tsb dlm waterbath 37 0

C sampai membekusempurna dan biarkan 1 jam dan tarik kawat dari tabung hinggaseluruh bekuan terangkat keluar . Biarkan beberapa saat sampai tdk ada lagi serum menetes daribekuan . Baca pd skala tabung berapa vol.serum yg tersisa dan hitung berapa% vol.serum tsb dibandingkan thdp vol.darah semula (5 ml) Normal : % retraksi bekuan = 48 64%

PEMERIKSAAN RESISTENSI OSMOTIK DARAH CARA VISUALPEMERIKSAAN RESISTENSI OSMOTIK DARAH CARA VISUAL I. PEMERIKSAAN RESISTENSI OSMOTIK DARAH CARA VISUAL II. TANGGAL PRAKTIKUM Selasa, 8 Juni 1010 III. TUJUAN 1. Mahasiswa akan dapat mengetahui pemeriksaan resistensi osmotic darah secara visual. 2. Mahasiswa akan dapat mengetahui osmotic yang mulai lisis dan yang lisis sempurna. IV. DASAR TEORI Hemolisa adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah merah menuju ke cairan di sekelilingnya. Keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membrane sel darah merah. Membrane sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh ion-ion H+, OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl-, dan juga oleh substansi-substansi yang lain seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam urat. Sebaliknya membrane sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca++, Mg++, fosfat organic dan juga substansi lain seperti hemoglobin dan protein plasma. Secara umum, membrane yang dapat dilaui atau ditembus oleh suatu substansi dikatakan bahwa membrane ini permeable terhadap substansi tersebut. Membrane yang betulbetul semi permeable adalah membrane yang hanya dapat ditembus oleh molekul air saja, tetapi tidak dapat ditembus oleh substansi lain. Tidak ada membrane pada organism yang bersifat betul-betul semi permeable, yang ada adalah membrane yang bersifat permeable selektif, yaitu membrane yang dapat ditembus oleh molekul air dan substansi-substansi lain, tetapi tidak dapat ditembus oleh substansi yang lain lagi. Jadi membrane sel darah merah termasuk yang permeable selektif. Ada 2 macam hemolisa yaitu : 1. Hemolisa Osmotik Hemolisa osmotic terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosa cairan di dalam sel darah merah dengan cairan di sekelilingnya sel darah merah. Dalam hal mini tekanan osmosa isi sel jauh lebih besar daripada tekanan osmosa di luar sel. Tekanan osmosa isi sel darah merah adalah sama dengan tekanan osmosa larutan NaCl 0.9%. bila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan 0,8 % belum terlihat adanya hemolisa tetapi sel darah merah yang dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,4 % hanya sebagian saja dari sel darah merah yang mengalami hemolisa sedangkan sebagian sel darah merah yangt lainnya masih utuh. Perbedaan ini disebabkan karena umur sel darah merah berbeda-beda. Sel darah merah yang sudah tua, membrane sel mudah pecah sedangkan sel darah merah yang muda, membrane selnya kuat. Bila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,3%, semua sel darah merah akan mengalami hemolisa. Hal ini disebut hemolisa sempurna. Larutan yang

mempunyai tekanan osmosa lebih kecil daripada tekanan osmosa isi sel darah merah disebut larutan hipotonis, sedangkan larutan yang mempunyai tekanan osmosa lebih besarisi sel darah merah disebut larutan hipertonis. Suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosa yang sama besar dengan tekanan osmosa isi sel disebuit larutan isotonis. 2. Hemolisa Kimiawi Pada hemolisa kimiawi, membrane sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa dinding selm darah merah terutama terdiri dari lipid dan protein membentuk suatu lapisan yang disebut lipoprotein. Jadi setiap substansi kimia yang dapat melarutkan lemak (pelarut lemak) dapat merusak atau melarutkan membrane sel darah merah. Kita mengenal bermacam-macam pelarut lemak yaitu kloroform, aseton, alcohol, benzene dan eter. Substansi lain yang dapat merusak membrane sel darah merah diantaranya adalah bias ular, bias kalajengking, garam empedu, saponin, nitrobenzene, pirogalol, asam karbon, resi, dan senyawa arsen. Sel darah merah yang ditempatkan dalam larutan garam yang isotonis tidak akan mengalami kerusakan dan tetap utuh.Tetapi bila sel darah merah ditempatkan dalam air distilata,sel darah merah akan mengalami hemolisa,karena tekanan osomose isi sel darah merah jauh lebih besar daripada tekanan osomose diluar sel sehingga mengakibatkan banyak air masuk kedalam sel darah merah(osmosis).Selanjutnya air yang banyak masuk kedalam sel darah merah itu akan menekan membrane sel darah sehingga membrane pecah. METODA Daya Tahan Osmotik Cara Visual V. PRINSIP KERJA Sel darah merah akan mengalami lisis bila ditempatkan pada larutan (osmotic fragility of the erythrocytes) bertalian dengan bentuk sel darah merah. Pemeriksaan ini bermakna pada bermacam-macam kelainan seperti pada anemia hemolitik, Hb abnormal dll. VI. ALAT DAN BAHAN Alat 24 Tabung reaksi Rak tabung reaksi Pipet kapiler Bahan Larutan NaCl 0,5 % Reagen EDTA 3 cc darah vena Aquades VII. CARA KERJA 1. Susunlah sebanyak 24 tabumg reaksi pada rak dan dibagi menjadi 2 baris,masing-masing berbaris 12 tabung.Deretan baris pertama digunakan untuk control. 2. Masing-masing tabung tersebyt diberi nomor dari kiri kekanan dengan urutan sebagai berikut:25,24,23,22,21,20,19,18,17,16,15,14. 3. Kemudian diteteskan NaCl 0,5% dengan pipet kapiler yang banyaknya disesuaikan dengan nomor tabung. 4. Diteteskan pula aquades pada tiap tabung,sampai volumenya berjumlah 25 tetes tiap tabung.Contoh 24 tetes NaCl 0,5% + tetes aquades,23 tetes NaCl 0,5% + 2 tetes aquades. 5. Konsentrasi NaCl pada masing-masing larutan menjadi sebagai berikut:0,5%;0,48%;0,46%;0,44%;0,42%;0,40%;0,38%;0,36%;0,34%;0,32%;0,30%;0,28%.

6. Diambil 3cc darah vena dan diberi 2 tetes EDTA lalu pada masing-masing tabung ditetesi 1 tetes darah,dicampur serta didiamkan 2jam,pada temperature kamar.Untuk control tidak diberi darah. 7. Dibaca tabung dimana terjadi permulaan hemolisis dan tabung dimana terjadi hemolisis yang sempurna (complete hemolisis) 8. Hasil dibandingkan dengan control normal. Nilai Normal : Mulai lisis pada NaCl 0,44% (0,42% 0,02 % NaCl) Hemolisis sempurna pada NaCl 0,34% (0,34% 0,02% NaCl). VIII. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk pemeriksaan osmotic 1 ml dari darah Reni Dwi Agustina. Mulai lisis pada tabung nomor 23 dan lisis sempurna pada tabung nomor 15. Tabung 23 23 tetes NaCl 0,5% dan 2 tetes Aquades Tabung 15 15 tetes NaCl 0,5% dan 10 tetes Aquades Mulai lisis pada NaCl 0,46 % ( 0,44% 0,02 % NaCl) Lisis sempurna pada NaCl 0,30% ( 0,28% 0,02 % NaCl) Perhitungan ini berbeda dengan nilai normal karena selisih 0,02. PERTANYAAN : 1. Jelaskan anemia hemolitik otoimun dan sebutkan contoh penyakitnya. Patofisiologi anemia hemolitik otoimun : a. Karena Aktivasi system komplemen Membrane sel darah merah mengalami lisis atau hancur dan terjadi hemolisis intravaskuler. b. Aktivasi mekanisme seluler Karena adanya rangsangan keluarnya Immunoglobulin G (IgG) menyebabkan terjadinya hemolisis ekstravaskuler. c. Kombinasi keduanya Membrane sel darah merah mengalami lisis atau hancur dan terjadi hemolisis intravaskuler. Selain itu, juga adanya rangsangan keluarnya Immunoglobulin G (IgG) menyebabkan terjadinya hemolisis ekstravaskuler. Anemia hemolitik autoimun memiliki banyak penyebab, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui (idiopatik). Diagnosis ditegakkan jika pada pemeriksaan laboratorium ditemukan antibodi (autoantibodi) dalam darah, yang terikat dan bereaksi terhadap sel darah merah sendiri. Anemia hemolitik autoimun dibedakan dalam dua jenis utama, yaitu anemia hemolitik antibodi hangat (paling sering terjadi) dan anemia hemolitik antibodi dingin. Anemia Hemolitik Antibodi Hangat. Anemia Hemolitik Antibodi Hangat adalah suatu keadaan dimana tubuh membentuk autoantibodi yang bereaksi terhadap sel darah merah pada suhu tubuh. Autoantibodi ini melapisi sel darah merah, yang kemudian dikenalinya sebagai benda asing dan dihancurkan oleh sel perusak dalam limpa atau kadang dalam hati dan sumsum tulang. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita. Sepertiga penderita anemia jenis ini menderita suatu penyakit tertentu (misalnya limfoma, leukemia atau penyakit jaringan ikat, terutama lupus eritematosus sistemik) atau telah mendapatkan obat tertentu, terutama metildopa. Gejalanya seringkali lebih buruk daripada yang diperkirakan, mungkin karena anemianya berkembang sangat cepat. Limpa biasanya membesar, sehingga bagian perut atas sebelah kiri

bisa terasa nyeri atau tidak nyaman. Pengobatan tergantung dari penyebabnya. Jika penyebabnya tidak diketahui, diberikan kortikosteroid (misalnya prednison) dosis tinggi, awalnya melalui intravena , selanjutnya peroral (ditelan). Sekitar sepertiga penderita memberikan respon yang baik terhadap pengaobatan tersebut. Penderita lainnya mungkin memerlukan pembedahan untuk mengangkat limpa, agar limpa berhenti menghancurkan sel darah merah yang terbungkus oleh autoantibodi. Anemia Hemolitik Antibodi Dingin. Anemia Hemolitik Antibodi Dingin adalah suatu keadaan dimana tubuh membentuk autoantibodi yang bereaksi terhadap sel darah merah dalam suhu ruangan atau dalam suhu yang dingin. Anemia jenis ini dapat berbentuk akut atau kronik. Bentuk yang akut sering terjadi pada penderita infeksi akut, terutama pneumonia tertentu atau mononukleosis infeksiosa. Bentuk akut biasanya tidak berlangsung lama, relatif ringan dan menghilang tanpa pengobatan. Bentuk yang kronik lebih sering terjadi pada wanita, terutama penderita rematik atau artritis yang berusia diatas 40 tahun. Bentuk yang kronik biasanya menetap sepanjang hidup penderita, tetapi sifatnya ringan dan kalaupun ada, hanya menimbulan sedikit gejala. Cuaca dingin akan meningkatkan penghancuran sel darah merah, memperburuk nyeri sendi dan bisa menyebabkan kelelahan dan sianosis (tampak kebiruan) pada tangan dan lengan. Penderita yang tinggal di daerah bercuaca dingin memiliki gejala yang lebih berat dibandingkan dengan penderita yang tinggal di iklim hangat. Diagnosis ditegakkan jika pada pemeriksaan laboratorium ditemukan antibodi pada permukaan sel darah merah yang lebih aktif pada suhu yang lebih rendah dari suhu tubuh. Tidak ada pengobatan khusus, pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala-gejalanya. Bentuk akut yang berhubungan dengan infeksi akan membaik degnan sendirinya dan jarang menyebabkan gejala yang serius. Menghindari cuaca dingin bisa mengendalikan bentuk yang kronik. 2. Jelaskan penyakit malaria yang berhubungan dengan hemolisis Sel darah Merah. Penyakit malaria sangat khas dengan adanya serangan demam yang yang intermiten, anemia sekunder dan spenomegali. Penyakit ini cenderung untuk beralih dari keadaan akut ke keadaan menahun. Terjadinya infeksi oleh parasit Plasmodium ke dalam tubuh manusia dapat terjadi melalui dua cara yaitu : a. Secara alami melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria b. Induksi yaitu jika stadium aseksual dalam eritrosit masuk ke dalam darah manusia, misalnya melalui transfuse darah, suntikan, atau pada bayi yang baru lahir melalui plasenta ibu yang terinfeksi (congenital). Patofisiologi malaria sangat kompleks dan mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut : 1. Penghancuran eritrosit yang terjadi oleh karena : -Pecahnya eritrosit yang mengandung parasit -Fagositosis eritrosit yang mengandung dan tidak mengandung parasit Akibatnya terjadi anemia dan anoksia jaringan dan hemolisis intravaskuler Anemia pada malaria dapat terjadi akut maupun kronik, pada keadan akut terjadi penurunan yang cepat dari Hb. Penyebab anemia pada malaria adalah pengrusakan eritrosit oleh parasit, penekanan eritropoesis dan mungkin sangat penting adalah hemolisis oleh proses imunologis. Pada malaria akut juga terjadi penghambatan eritropoesis pada sumsum tulang, tetapi bila parasitemia menghilang, sumsum tulang menjadi hiperemik, pigmentasi aktif dengan hyperplasia dari normoblast. Pada darah tepi dapat dijumpai poikilositosis, anisositosis, polikromasia dan bintik-bintik basofilik yang menyerupai anemia pernisioasa. Juga dapat

dijumpai trombositopenia yang dapat mengganggu proses koagulasi. IX. KESIMPULAN 1. Mahasiswa mampu mengukur resistensi osmotic darah secara visual dengan adanya lisis ataupun lisis sempurna. 2. Sel darah merah akan mengalami lisis bila ditempatkan pada larutan hipotonis. 3. Pemeriksaan resistensi osmotic darah ini bermanfaat dalam mendiagnosa bermacam macam kelainan seperti anemia hemolitik, Hb abnormal maupun pada penyakit malaria yang terjadi hemolisis sel darah merah oleh parasit Plasmodium sp. Diposkan oleh ReYni Teen di 12:06 1 komentar Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz

Fragilitas Osmotik EritrositPosted by Riswanto on Saturday, July 24, 2010 Labels: Tes Hematologi Bila eritrosit berada dalam larutan yang hipotonis, cairan yang kadar osmolalitasnya lebih rendah daripada plasma atau serum normal (kurang dari 280 mOsm/kg)

Uji fragilitas osmotik eritrosit (juga disebut resistensi osmotik eritrosit) dilakukan untuk mengukur kemampuan eritrosit menahan terjadinya hemolisis (destruksi eritrosit) dalam larutan yang hipotonis. Caranya adalah sebagi berikut : eritrosit dilarutkan dalam larutan salin dengan berbagai konsentrasi. Jika terjadi hemolisis pada larutan salin yang sedikit hipotonis, keadaan ini dinamakan peningkatan fragilitas eritrosit (=penurunan resistensi/daya tahan eritrosit), dan apabila hemolisis terjadi pada larutan salin yang sangat hipotonis, keadaan ini mengindikasikan penurunan fragilitas osmotik (=peningkatan resistensi eritrosit). Hemoglobin keluar dari sel pada masing-masing tabung yang berisi larutan NaCl yang kadarnya berbeda-beda. Kadar Hb kemudian ditentukan secara fotokolorimetrik. Hasilnya dilaporkan dalam persentase (%) hemolisis. Kumpulan hasil-hasil hemolisis diplot dalam suatu kurva dibandingkan dengan data eritrosit normal. Pada keadaan peningkatan fragilitas, eritrosit biasanya berbentuk sferis, dan kurva tampak bergeser ke kanan. Sedangkan pada penurunan fragilitas, eritrosit berbentuk tipis dan rata, kurva tampak bergeser ke kiri.

Masalah KlinisPENURUNAN FRAGILITAS : Talasemia mayor dan minor (anemia Mediterania atau anemia Cooley),

anemia (defisiensi besi, defisiensi asam folat, defisiensi vit B6, sel sabit), penyakit hemoglobin C, polisitemia vera, post splenektomi, nekrosis hati akut dan sub akut, ikterik obstruktif.PENINGKATAN FRAGILITAS : Sferositosis herediter, transfusi (inkompatibilitas ABO dan Rhesus), anemia

hemolitik autoimun (AIHA), penyakit hemoglobin C, toksisitas obat atau zat kimia, leukemia limfositik kronis, luka bakar (termal).

Prosedur Uji ini biasanya dilakukan pada sampel darah segar kurang dari 3 jam dan/atu sampel darah 24 jam yang diinkubasi pada suhu 37oC. Sampel darah yang digunakan berupa darah heparin atau darah defibrinated. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau minuman. Pada pengujian ini dibuat larutan NaCl dengan konsentrasi yang berbeda. Penilaian hasil dengan metode fotokolorimetri (menggunakan alat fotometer atau spektrofotometer). Sebelum melakukan pengujian, sediakan dulu larutan stock buffer NaCl 10% yang terbuat dari NaCl 9 gram, Na2HPO4 1,365 gram, dan NaH2PO4.H2O 0,215 gram. Bahan-bahan tersebut kemudian dilarutkan dengan aquadest sampai 100 ml. Sebelum digunakan untuk pemeriksaan, buatlah larutan pokok NaCl 1,0% dengan cara melarutkan 5,0 ml stock buffer saline 10% dengan aquadest hingga 50,0 ml. Selanjutnya lakukan pengujian sebagai berikut : 1. Sediakan 12 buah tabung lalu buatlah pengenceran bertingkat larutan NaCl dengan konsentrasi : 0,85%, 0,75%, 0,65%, 0,60%, 0,55%, 0,50%, 0,45%, 0,40%, 0,35%, 0,30%, 0,20% dan 0,10%, masing-masing sebanyak 5,0 ml. Larutan-larutan NaCl tersebut dibuat dari larutan pokok NaCl 1,0%. 2. Tambahkan ke dalam tabung-tabung itu masing-masing 50 l sampel darah. Campur (homogenisasi) dengan cara membolak-balikkan tabung beberapa kali. 3. Inkubasikan selama 30 menit pada suhu kamar. 4. Campur (homogenisasi) lagi lalu pusingkan (centrifuge) tiap tabung tersebut selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm. 5. Ukur absorbans (OD) dari supernatant pada 540 nm dengan blanko supernatant tabung ke1 (NaCl 0,85%). 6. Hitung % hemolisis dengan cara membagi absorbans (OD) sampel dengan absorbans (OD) tabung ke-12 dikalikan 100%. 7. Buat kurva dengan konsentrasi NaCl sebagai axis (x) dan % hemolisis sebagai ordinat (y). Bandingkanlah dengan kurva dari kontrol darah normal.

Nilai Normal Permulaan hemolisis pada konsentrasi NaCl 0,40% - 0,45% Hemolisis sempurna pada konsentrasi NaCl 0,30% - 0,35% Persentase hemolisis dalam keadaan normal adalah : 97 - 100 % hemolisis dalam NaCl 0,30% 50 - 90 % hemolisis dalam NaCl 0,40% 5 - 45 % hemolisis dalam NaCl 0,45%

0 % hemolisis dalam NaCl 0,55%

Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium

pH plasma, suhu, konsentrasi glukosa, dan saturasi oksigen pada darah Eritrosit yang berumur lama cenderung memiliki fragilitas osmotik yang tinggi Sampel darah yang diambil lebih dari 3 jam dapat menunjukkan peningkatan fragilitas osmotik.

Perdarahan waktu adalah tes kesehatan dilakukan pada seseorang untuk menilai mereka trombosit fungsi The term "template bleeding time" is used when the test is performed to standardized parameters. [ 1 ] This makes it easier to compare data collected at different facilities. The "template waktu perdarahan" digunakan ketika tes dilakukan untuk parameter standar. [1] ini membuat lebih mudah untuk membandingkan data yang dikumpulkan di fasilitas berbeda.

Contents Isi[hide]

1 Process 1 Proses o 1.1 Ivy method 1,1 Ivy metode o 1.2 Duke Method 1,2 Duke Metode 2 Interpretation 2 Interpretasi 3 Controversy 3 Kontroversi 4 The Bleeding Time in Popular Culture 4 Waktu Perdarahan dalam Budaya Populer 5 References 5 Referensi 6 External links 6 Pranala luar

[ edit ] Process [ sunting ] ProsesIt involves cutting the underside of the subject's forearm, in an area where there is no hair or visible veins . Ini melibatkan pemotongan bagian dalam lengan subyek, di daerah di mana tidak ada rambut atau terlihat urat . The cut is of a standardized width and depth, and is done quickly by an automatic device. Potong ini dengan lebar standar dan kedalaman, dan dilakukan dengan cepat oleh perangkat otomatis. A blood pressure cuff is used above the wound, to maintain venous pressure at a special value. Sebuah manset tekanan darah yang digunakan di atas luka, untuk mempertahankan tekanan vena dengan nilai khusus. The time it takes for bleeding to stop (ie the time it takes for a platelet plug to form) is measured. Waktu yang diperlukan untuk perdarahan berhenti

(yakni waktu yang diperlukan untuk steker trombosit ke bentuk) diukur. Cessation of bleeding can be determined by blotting away the blood every several seconds until the site looks 'glassy'. Penghentian pendarahan dapat ditentukan dengan blotting jauh darah setiap beberapa detik hingga situs terlihat 'kaca'.

[ edit ] Ivy method [ sunting ] Ivy metodeThe Ivy method is the traditional format for this test. Metode Ivy adalah format tradisional untuk tes ini. While both the Ivy and the Duke method require the use of a sphygmomanometer, or blood pressure cuff, the Ivy method is more invasive than the Duke method, utilizing an incision on the ventral side of the forearm, whereas the Duke method involves puncture with a lancet or special needle. Sementara kedua Ivy dan metode Duke memerlukan penggunaan sphygmomanometer, atau manset tekanan darah, metode Ivy adalah lebih invasif daripada metode Duke, memanfaatkan sayatan di sisi ventral lengan bawah, sedangkan metode Duke melibatkan tusukan dengan lanset atau jarum khusus. In the Ivy method, the blood pressure cuff is placed on the upper arm and inflated to 40 mmHg. Dalam metode Ivy, manset tekanan darah ditempatkan pada lengan atas dan meningkat sampai 40 mmHg. A lancet or scalpel blade is used to make a shallow incision that is 1 millimeter deep on the underside of the forearm. Sebuah pisau pisau bedah atau pisau bedah digunakan untuk membuat sayatan dangkal yaitu 1 dalam milimeter di bagian bawah lengan bawah. A standard-sized incision is made around 10 mm long and 1 mm deep. Sebuah sayatan berukuran standar ini dibuat sekitar 10 mm dan 1 mm dalam. The time from when the incision is made until all bleeding has stopped is measured and is called the bleeding time. Waktu dari saat insisi dibuat sampai perdarahan berhenti semua diukur dan disebut waktu perdarahan. Every 30 seconds, filter paper or a paper towel is used to draw off the blood. Setiap 30 detik, kertas filter atau handuk kertas digunakan untuk mengalirkan darah. The test is finished when bleeding has stopped completely. Tes ini selesai ketika pendarahan telah berhenti sepenuhnya. A normal value is less than 9 and a half minutes. [ 2 ] Nilai normal adalah kurang dari 9 setengah menit. [2] A prolonged bleeding time may be a result from decreased number of thrombocytes or impaired blood vessels. Sebuah waktu perdarahan berkepanjangan mungkin akibat dari penurunan jumlah trombosit atau pembuluh darah terganggu. However, it should also be noted that the depth of the puncture or incision may be the source of error. Namun, juga harus dicatat bahwa kedalaman tusukan atau sayatan dapat menjadi sumber kesalahan. Normal values fall between 2 9 minutes depending on the method used. Nilai normal jatuh antara 2 - 9 menit tergantung pada metode yang digunakan.

[ edit ] Duke Method [ sunting ] Cara DukeWith the Duke method, the patient is pricked with a special needle or lancet, preferably on the earlobe [ 3 ] or fingertip , after having been swabbed with alcohol. Dengan metode Duke, pasien ditusuk dengan jarum khusus atau lanset, sebaiknya pada daun telinga [3] atau ujung jari , setelah telah diseka dengan alkohol. The prick is about 34 mm deep. Tusukan lebih sekitar 3-4 mm dalam. The patient then wipes the blood every 30 seconds with a filter paper.

Pasien kemudian menyeka darah setiap 30 detik dengan kertas saring. The test ceases when bleeding ceases. Tes tersebut dihentikan pada saat pendarahan berhenti. The usual time is about 13 minutes. Waktu biasanya sekitar 1-3 menit.

[ edit ] Interpretation [ sunting ] InterpretasiBleeding time is affected by platelet function, certain vascular disorders and von Willebrand Disease --not by other coagulation factors such as haemophilia . Waktu perdarahan dipengaruhi oleh fungsi trombosit, gangguan pembuluh darah tertentu dan von Willebrand Penyakit - bukan dengan lain faktor koagulasi seperti hemofilia . Diseases that cause prolonged bleeding time include thrombocytopenia , disseminated intravascular coagulation (DIC), Bernard-Soulier disease , and Glanzmann's thrombasthenia . Penyakit yang menyebabkan waktu pendarahan berkepanjangan termasuk trombositopenia , koagulasi intravaskular diseminata (DIC), Bernard-Soulier penyakit , dan Glanzmann yang thrombasthenia . Aspirin and other cyclooxygenase inhibitors can prolong bleeding time significantly. Aspirin dan siklooksigenase inhibitor dapat memperpanjang waktu perdarahan secara signifikan. While warfarin and heparin have their major effects on coagulation factors, an increased bleeding time is sometimes seen with use of these medications as well. Sementara warfarin dan heparin memiliki efek besar mereka pada faktor-faktor koagulasi, waktu perdarahan meningkat kadang-kadang terlihat dengan penggunaan obat-obat ini juga. People with von Willebrand disease usually experience increased bleeding time, as von Willebrand factor is a platelet adhesion protein, but this is not considered an effective diagnostic test for this condition. Orang dengan penyakit von Willebrand biasanya mengalami waktu pendarahan meningkat, seperti faktor von Willebrand adalah protein adhesi platelet, tetapi hal ini tidak dianggap sebagai tes diagnostik yang efektif untuk kondisi ini. It is also prolonged in hypofibrinogenemia . [ 4 ] Hal ini juga berkepanjangan dalam hypofibrinogenemia . [4]

Perdarahan waktu adalah tes kesehatan dilakukan pada seseorang untuk menilai mereka trombosit fungsi The term "template bleeding time" is used when the test is performed to standardized parameters. [ 1 ] This makes it easier to compare data collected at different facilities. The "template waktu perdarahan" digunakan ketika tes dilakukan untuk parameter standar. [1] ini membuat lebih mudah untuk membandingkan data yang dikumpulkan di fasilitas berbeda.

Contents Isi[hide]

1 Process 1 Proses o 1.1 Ivy method 1,1 Ivy metode o 1.2 Duke Method 1,2 Duke Metode 2 Interpretation 2 Interpretasi 3 Controversy 3 Kontroversi 4 The Bleeding Time in Popular Culture 4 Waktu Perdarahan dalam Budaya Populer 5 References 5 Referensi 6 External links 6 Pranala luar

[ edit ] Process [ sunting ] ProsesIt involves cutting the underside of the subject's forearm, in an area where there is no hair or visible veins . Ini melibatkan pemotongan bagian dalam lengan subyek, di daerah di mana tidak ada rambut atau terlihat urat . The cut is of a standardized width and depth, and is done quickly by an automatic device. Potong ini dengan lebar standar dan kedalaman, dan dilakukan dengan cepat oleh perangkat otomatis. A blood pressure cuff is used above the wound, to maintain venous pressure at a special value. Sebuah manset tekanan darah yang digunakan di atas luka, untuk mempertahankan tekanan vena dengan nilai khusus. The time it takes for bleeding to stop (ie the time it takes for a platelet plug to form) is measured. Waktu yang diperlukan untuk perdarahan berhenti (yakni waktu yang diperlukan untuk steker trombosit ke bentuk) diukur. Cessation of bleeding can be determined by blotting away the blood every several seconds until the site looks 'glassy'. Penghentian pendarahan dapat ditentukan dengan blotting jauh darah setiap beberapa detik hingga situs terlihat 'kaca'.

[ edit ] Ivy method [ sunting ] Ivy metodeThe Ivy method is the traditional format for this test. Metode Ivy adalah format tradisional untuk tes ini. While both the Ivy and the Duke method require the use of a sphygmomanometer, or blood pressure cuff, the Ivy method is more invasive than the Duke method, utilizing an incision on the ventral side of the forearm, whereas the Duke method involves puncture with a lancet or special needle. Sementara kedua Ivy dan metode Duke memerlukan penggunaan sphygmomanometer, atau manset tekanan darah, metode Ivy adalah lebih invasif daripada metode Duke, memanfaatkan sayatan di sisi ventral lengan bawah, sedangkan metode Duke melibatkan tusukan dengan lanset atau jarum khusus. In the Ivy method, the blood pressure cuff is placed on the upper arm and inflated to 40 mmHg. Dalam metode Ivy, manset tekanan darah ditempatkan pada lengan atas dan meningkat sampai 40 mmHg. A lancet or scalpel blade is used to make a shallow incision that is 1 millimeter deep on the underside of the forearm. Sebuah pisau pisau bedah atau pisau bedah digunakan untuk membuat sayatan dangkal yaitu 1 dalam milimeter di bagian bawah lengan bawah. A standard-sized incision is made around 10 mm long and 1 mm deep. Sebuah sayatan berukuran standar ini dibuat sekitar 10 mm dan 1 mm dalam. The time from when the incision is made until all bleeding has stopped is measured and is called the bleeding time.

Waktu dari saat insisi dibuat sampai perdarahan berhenti semua diukur dan disebut waktu perdarahan. Every 30 seconds, filter paper or a paper towel is used to draw off the blood. Setiap 30 detik, kertas filter atau handuk kertas digunakan untuk mengalirkan darah. The test is finished when bleeding has stopped completely. Tes ini selesai ketika pendarahan telah berhenti sepenuhnya. A normal value is less than 9 and a half minutes. [ 2 ] Nilai normal adalah kurang dari 9 setengah menit. [2] A prolonged bleeding time may be a result from decreased number of thrombocytes or impaired blood vessels. Sebuah waktu perdarahan berkepanjangan mungkin akibat dari penurunan jumlah trombosit atau pembuluh darah terganggu. However, it should also be noted that the depth of the puncture or incision may be the source of error. Namun, juga harus dicatat bahwa kedalaman tusukan atau sayatan dapat menjadi sumber kesalahan. Normal values fall between 2 9 minutes depending on the method used. Nilai normal jatuh antara 2 - 9 menit tergantung pada metode yang digunakan.

[ edit ] Duke Method [ sunting ] Cara DukeWith the Duke method, the patient is pricked with a special needle or lancet, preferably on the earlobe [ 3 ] or fingertip , after having been swabbed with alcohol. Dengan metode Duke, pasien ditusuk dengan jarum khusus atau lanset, sebaiknya pada daun telinga [3] atau ujung jari , setelah telah diseka dengan alkohol. The prick is about 34 mm deep. Tusukan lebih sekitar 3-4 mm dalam. The patient then wipes the blood every 30 seconds with a filter paper. Pasien kemudian menyeka darah setiap 30 detik dengan kertas saring. The test ceases when bleeding ceases. Tes tersebut dihentikan pada saat pendarahan berhenti. The usual time is about 13 minutes. Waktu biasanya sekitar 1-3 menit.

[ edit ] Interpretation [ sunting ] InterpretasiBleeding time is affected by platelet function, certain vascular disorders and von Willebrand Disease --not by other coagulation factors such as haemophilia . Waktu perdarahan dipengaruhi oleh fungsi trombosit, gangguan pembuluh darah tertentu dan von Willebrand Penyakit - bukan dengan lain faktor koagulasi seperti hemofilia . Diseases that cause prolonged bleeding time include thrombocytopenia , disseminated intravascular coagulation (DIC), Bernard-Soulier disease , and Glanzmann's thrombasthenia . Penyakit yang menyebabkan waktu pendarahan berkepanjangan termasuk trombositopenia , koagulasi intravaskular diseminata (DIC), Bernard-Soulier penyakit , dan Glanzmann yang thrombasthenia . Aspirin and other cyclooxygenase inhibitors can prolong bleeding time significantly. Aspirin dan siklooksigenase inhibitor dapat memperpanjang waktu perdarahan secara signifikan. While warfarin and heparin have their major effects on coagulation factors, an increased bleeding time is sometimes seen with use of these medications as well. Sementara warfarin dan heparin memiliki efek besar mereka pada faktor-faktor koagulasi, waktu perdarahan meningkat kadang-kadang terlihat dengan penggunaan obat-obat ini juga.

People with von Willebrand disease usually experience increased bleeding time, as von Willebrand factor is a platelet adhesion protein, but this is not considered an effective diagnostic test for this condition. Orang dengan penyakit von Willebrand biasanya mengalami waktu pendarahan meningkat, seperti faktor von Willebrand adalah protein adhesi platelet, tetapi hal ini tidak dianggap sebagai tes diagnostik yang efektif untuk kondisi ini. It is also prolonged in hypofibrinogenemia . [ 4 ] Hal ini juga berkepanjangan dalam hypofibrinogenemia . [4]