Bahan Hipertensi Maligna Dan Obat Hipertensi Maligna

  • Published on
    30-Dec-2014

  • View
    172

  • Download
    15

Embed Size (px)

DESCRIPTION

farmasi, obat-obatan

Transcript

<p>BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sebagaimana diketahui jumlah penduduk di Indonesia adalah yang kelima terbesar di dunia. Ini merupakan suatu potensi nasional yang besar bila dapat di bina insaninya.Pada dasarnya kualitas manusia di tentukan oleh derjad kesehatanya. Yang ingin dicapai pada tahun 2000 seperti yang di canamkan oleh WHO adalah Health For All By The Year. Untuk itu harus dimengerti masalah kesehatan di Negara berkembang pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Hal ini sangat terkait dengan pola kependudukan serat lingkungan yang mempengaruhinya. Sebagai mana dilihat, piramida kependudukan di Indonesia pada saat ini menunjukkan besrnya jumlah anak-anak 0 15 tahun yaitu 38,6% dari jumlah seluruh penduduk.Dengan kemajuan ekonomi dan derajat kesehatan, hal ini akan bergeser, karena semakin banyak penduduk usia dewasa muda dan orang orang yang menjadi tua.Dalam tahun 2010 diperkirakan bahwa umur harapan hidup akan meningkat menjadi 66 tahun dari sebelumnya yaitu 60-62 tahun pada 2000.Dangan pergeseran pola pendudukan ini bergeser pula pola penyakit dimasyarakat, yaitu dari penyakit infeksi,baik infeksi saluran napas maupun gastrointestinal yang pada saat ini masih menduduki sebab kematian yang utama,kepada penyakit-penyakit yang generative seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit kanker dan lain sebagainya.Penyakit jantung dan pembuluh darah,dengan perkataan lain penyakit kardiovaskuler,dalam kurung waktu 10 terakhir menunjukkan kenaikan yang jelas. Selain factor kependudukan, yang mempengaruhi meningkatnya penyakit Jantung dan pembuluh darah juga adalah factor berubahnya masyarakat agraris menjadi masyarakat industry .Hal ini terutama terlihat dikota kota besar di mana terdapat ketegangan jiwa berubahnya kebiasaan hidup seperti kurang gerak,berubahnya pola makan kearah konsumsi tinggi lemak, kebiasaan merokok, dll. Dalam bidang keperawatan khususnya keperawatan kritis (critical care)saat ini telah terjadi pula pengembangan tugas perawat dari tingkat basic nursing yang paling dasar menuju keperawatan modern yang kompleks.Dan peran perawat meliputi 3bidang yakni : caring role,coordinating role,dan therpeutic role. Dengan demikian luasnya peran perawat tersebut maka perawat dituntut untuk selalu siap mental,siap pengetahuan dan keterampilan serta siap alat dan obat,untuk mengatasi menit-menit kritis klien,dalam hal ini di perlukan kerjasama team untuk memberikan terapi supportif demi menyelamatkan jiwa klien khususnya bagi perawat yang bertugas di ruang perawatan. Selama melakukan praktik di ruang Intensif Care Unit (ICU), perwatan ICU adalah klien infark miokard.Atas dasar tersebut maka penulis merasa tertarik untuk mengambil kasus ini sebagai bahan belajar demi meningkatkan pengetahuan penulis tantang penanganan krisis hipertensi di Ruang perwatan ICU. B. Tujuan 1.Tujuan Umum Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan krisis hipertensi diruang ICU. 2.Tujuan Khusus</p> <p>a. b. c. d. e.</p> <p>Diperolehnya pengalaman nyata dalam pengkajian,analisa dan penetapan diagnose keperawatan pada klien krisis hipertensi di ruang ICU. Diperolehnya pengalaman nyata dalam penyusunan rencana keperawatan pada klien dengan krisis hipertensi di ruang ICU. Diperolehnya pengalaman nyata dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien krisis hipertensi di ruang ICU. Diperolehnya pengalaman nyata dalam mengevaluasi asuhan keperawatan pada klien dengan krisis hipertensi. Diperolehnya pengalaman nyata dalam pendokumentasian asuhan asuhan keperawatan pada klien dengan krisis hipertensi di ruang ICU.</p> <p>C. Metode Penulisan Dalam penyusunan makalah ini memerlukan data objekti yang relevan dengan teori teori yang akan dijadikan dasar analisa dalam pemecahan masalah. Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis menggunakan berbagai data antara lain : 1. Studi kepustakaan Mempelajari literatur literature yang berkaitan atau relevan dengan isi makalah ini.</p> <p>2. Studi Kasus Studi kasus asuhan keperawatan yang komperhensif, meliputi pengkajian data, analisa data, penetapan diagnose keperawatan. Untuk menghimpun data atau informasi dalam pengkajian, maka penulis menggunakan tekhnik : a. Observasi yaitu pengamatan langsung terhadap klien. b. Wawancara yaitu dengan mengadakan Tanya jawab secara langsung pada keluarga, serta perawat dan dokter yang menangani klien tersebut. 3. Diskusi dengan pembimbing, perawat dan sesame mahasiswa. D. Manfaat Penulisan 1. Hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan keperawatan khususnya bagi program peminatan di ruang ICU. 2. Menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa S1 keperawatan, yang mengikuti praktik peminatan di ruang ICU dalam merawat klien, khususnya yang mengalami krisis hipertensi E. Sistimatika Penulisan Sistimatika penulisan makalah ini dibagi atas 5 Bab, dimana setiap Bab akan diuraikan kedalam sub- sub Bab dengan susunan sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Meliputi :Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, Manfaat Penulisan dan Sistematika Penulisan. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>BAB III</p> <p>Merupakan laporan hasil studi yang meliputi : Definisi, etiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan penunjang serta diagnosa keperawatan yang muncul. : TINJAUAN KASUS Merupakan Laporan hasil studi kasus yang meliputi : pengkajian Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Rencana Keperawatan.</p> <p>BAB IV</p> <p>BAB V</p> <p>: PEMBAHASAN Merupakan ulasan kesenjangan antara teori- teori yang telah dikemukakan dengan kasus nyata yang diperoleh selama perawatan pasien. : PENUTUP Berisi kesimpulan hasil studi kasus dan juga berisi saran- saran penulis.</p> <p>BAB II TINJAUAN PUSTAKA KRISIS HIPERTENSI 1. DEFENISI Secara praktis krisis hipetensi dapat diklasifikasikan berdasarkan prioriras pengobatan sebagai berikut:</p> <p>a. Hipertensi Emergency ( darurat ) ditandai dengan tekanan darah diastolic &gt; 120 mmHg, disertai kerusakan berat dari organ sasaran yang disebabkan oleh satu atau lebih penyakit kondisi akut b. Hipertensi urgency ( mendesak ) ditandai tekanan darah diastolic &gt; 120 mmHg dan dengan tanpa kerusakan komplikasi minimum dari organ. Tekanan darah harus diturunkan dalam 24 jam sampai batas yang aman memerlukan terapi aurenteral.Dikenal beberapa istilah berkaitan dengan krisis hipertensi antara lain :</p> <p>a. Hipertensi refrakter : respon pengobatan tidak memuaskan dan tekanan darah &gt; 200/110 mmHg. Walaupun telah diberikan pengobatan yang efektif ( triple drug ) pada penderita dan keputusan pasien. b. Hepertansi akselerasi ; tekanan darah meningkat (diastolic ) &gt; 120 mmHg disertai dengan kelainan funduskopi Kw 111, Bila tidak diobati dapat berlanjut fase malikna. c. Hipertensi maligna : Penderita hipertensi akselerasi dengan tekanan darah diastolic &gt; 120 130 mmhg dan kelainan fonduskopi kw 1V disertai papioledema. Peniggian tekanan intracranial kerusakan yang cepat dari peskuler, ginjal akut, ataupun kematian bila penderita dengan riwayat hipertensi essensial ataupun sekunder dan jarang terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai tekanan darah normal d. Hipertensi ensepalopati: kenaikan tekanan darah dengan tiba tiba disertai dengan keluhan sakit kepala yang sangat, perubahan kesadaran dan keadaan ini dapat menjadi reversible bila tekanan darah diturunkan.tingghinya tekanan darah yang dapat menyebabkan kerusakan organ secara tidak hanya dari tingkatan tekanan darah actual, tetapi juga dari tingginya tekaekan nan darah sebelumnya, cepat kenaikan tekanan darah, bangsa,seks dan usia penderita. Penderita hipertensi kronis dapat mentolelir kenaikan tekanan darah yang lebih tinggi disbanding dengan normotensi ataupun pada penderita hipertensi baru dengan penhentian obat yang tiba-tiba, dapat timbul hipertensi ensepalopati dmikian juga pada eklelonsi,hertensi ensepalopati dapat timbul walaupun tekanan darah 160/10.2. PATOFISIOLOGI Ada dua teori yang dianggap dapat menerangkan timbulnya hipertensi yaitu; Dengan kenaikan tekanan darah menyebabkan spasme yang berat pada arteriole mengurangi aliran darah keotak (CBF) dan iskemi.meningginya permeabilitas kapiler akan menyebabkan pecahnya dinding kapiler , udema di otak patikhie pendarahan dan micro infark. 3. teori breakthrough of cerebral autoregulation Bila tekanan darah mencapai stressor tertentu dapat mengakibatkan transudasi , mikro infark dan edema otak patikhie, hemorrhages, fibrinoid dari arteriole.</p> <p>over autorregulation </p> <p>over autorregulation spasme otak arteriole oedema</p> <p>TD naik mendadak</p> <p>CBF</p> <p>petekhie</p> <p>Hipertensi</p> <p>hemorhage</p> <p>Ensefalopati CBF breakthrough autoregulation mikro infark nekrosis vaskuler</p> <p>Aliran darah ke otak pada penderita hipertensi kronis tidak mengalami perubahan bila mean arterial pressure (MAP) 120-160 mmHg. Sedangkan pada penderita hipertensi baru dengan MAP diantara 60-120 mmHg. Pada keadaan hipertensi kapnia, autoregulasi menjadi lebih sempit dengan batas tertinggi 120 mmHg. Pada keadaan sehingga perubahan yang sedikit saja dari TD menyebabkan asidosis otak akan mempercepat timbulnya edema otak . PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran TD (baring dan berdiri) mencari kerusakan organ sasaran (retinophaty, gangguan neurologi, payah jantung kongestif, altadiselasi). Perlu dibedakan komplikasi krisis hipertensi dengan kegawatan neurologi ataupun payah jantung kongestif dan oedema paru. Perlu dicari penyakit penyerta lain seperti penyakit jantung koroner. Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan dua cara yaitu:</p> <p>1. a. b. c. d. 2. a. b. c.</p> <p>Pemeriksaan yang segera seperti; Darah; rutin, BUN, creatinine, elektrolik KGD Urine; Urenelisa dan kultur urine EKG; 12 lead, melihat tanda iskemik Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan terlaksana) Pemeriksaan lanjut (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang pertama) Sangkaan kelainan renal: IVP Renald Angiograph , biopsy renal (kasus tertentu) Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi: spinal tab, CT Scan Bila disangkikan feokhromositoma; urine 24 jam untuk ketekholamine, metamefrin, venumandelic Acid (VMA).FAKTOR PRESIPITASI PADA KRISIS HIPERTENSI Dari anamneses dan pemerisaan fisik, pemeriksaan penunjang dapat dibedakan hipertensi emergensi, urgensi dan factor-faktor yang mempresipitasikan timbulnya krisis hipertensi antara lain;</p> <p>a. b. c. d. e. f.</p> <p>Kenaikan TD tiba-tiba pda penderita hipertensi kronis esensial (tersering) Hipertensi renovaskuler. Glomerulonefritis akut. Sindroma withdrawal anti hipertensi. Cedera kepala dan ruda paksa susunan saraf pusat Rennin-Secrotin tumor.PENGOBATAN KRISIS HIPERTENSI</p> <p>A. Dasar-dasar penanggulangan krisis hipertensi</p> <p>TD yang sedemikian tinggi haruslah segera diturunkan karena penundaan akan memperburuk penyakit yang akan timbul baik cepat maupun lambat. Tetapi pihak lain penurunan yang terlalu agresif juga dapat menimbulkan perpusi dan aliran darah di turunkan. Untuk menurunkan TD sampai ke tingkat yang diharapkan perlu diperhatikan berbagai factor antara lain keadaan hipertensi sendiri TD segera diturunkan atau bertahap, pengamatan problema yang menyertai krisis hipertensi perubahan aliran darah dan autoregulasi TD pada organ vital dan pemilihan obat anti hipertensi yang efektif untuk krisis hipertensi dan monitoring efek samping obat. B. Stasus volume cairan Oleh karena itu juga diberi terapi diuretika, kecuali bila secara klinis dibuktikan adanya volume overload seperti payah jantung kongestif atau oedema paru. Perlu diketahui bahwa pembatasan cairan dan garam (Na) serta diretika hipertensi manigna akan menyebabkan bertambahnya volume deplation. Pemberian diuretika dapat dilakukan bila setelah diberikan obat anti hipertensi nondiuretikal beberapa hari dan telah terjadi reflex volume retention. PENANGGULANGAN HIPERTENSI EMERGENSI a. Bila diagnose hipertensi emergensi telah dikatakan maka TD perlu segera diturunkan. Langkah-langkah yang perlu diambil - Rawat di ICU, pasang pulmoral intraarterial line dan pulmonary kordiopulmonaris dan status volume intra vaskuler - Anamneses singkat dan pemeriksaasn fisik - Tentukan penyebab krisis hipertensi - Sinkirkan penyakit lain yang menyurpai krisis hipertensi - Tentukan adanya kerusakan organg sasaran - Tentukan tekanan darah yang di inginkan didasari lamahnya, tingginya tekanan darah sebelumnya cepatnya kenaikan dan keeparahan hipertensi, masalah kliniks yang menyertai usia pasien - Penurunan tekanan darah diastilik tidak kurang dari 100 mmhg .tekanan darah sistolok tidak kurang dari 160 MmHg ataupun MAP tidak kurang dari 120 MmHg selama 48 jam pertama kecuali krisis hipertensi ( missal ; di setting AORTIK aneurysm) penurunan tekanan darah tidak lebih dari 25 % dari MAP ataupun tekanan darah yang di dapatPEMAKAIAN OBAT-OBATAN UNTUK KRISIS HIPERTENSI Obat anti hiertensi oral atau parenteral yang digunakan pada krisis hipertensi tegantung dari apakah pasien emergensi atau urgensi jika emergensi dan disertai dengan kerusakan organ sasaran maka penderita di rungan intensive care unit ( ICU ) dan diberi salah satu obat anti hipertensi intavena ( IV ) MANIFESTASI KLINIK</p> <p> Tanda umum adalah : sakit kepalah hebat nyeri dada pingsang tackikardi &gt; 100 / menit</p> <p> tackikardi &gt;20 / menit muka pucat tanda ancaman kehidupan Gejala khas : sakit kepala hebat nyeri dada peningkatan tekanan vena shock / pingsang Dengan ABCD Airway yakni kepatenan jalan napas berikan alat bantu napas jika perlu ( guedel atau nasopharyngeal ) jika terjadi penurunan fungsi pernapasan segera kontak ahli anastesis dan bawah segera ICU Eksposure selalu mengkaji dengan menggunakan test kemungkinan KP jika pasien stabil lakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik lainnya jangan lupa memeriksa untuk tanda-tanda gagal jantung kronik Factor resiko terjadinya KP a. meminum obat tidak teratur b. stress terhadap tindakan pembedahan c. terjadinya trauma d. keganasan e. pasien mengkomsumsi kontrasepsi oral f. pasien mendapatkan terapi hormone g. obesitas h. neprotik syndrome Perawatan KP Sejak diagnose KP maka pasien harus mendapat obat vasodilator secara rutin. Breathing Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter. Untuk mempertahankan &gt; 92 % Berikan oksigen dengan aliran melalui non re-breath mask Pertimbangkan untuk mendapatkan pernapasan dengan menggunakan bag-valve-mask ventilation Lakukan pemeriksaan gas darah arterial untuk mengkaji Pa O2 dan Pa CO2 Kaji jumlah pernapasan / auskultasi pernapasan Circulation</p> <p> Kaji heart rate dan ritme kemungkinan terdengar suara gollap Kaji peningkatan jup Monitoring tekanan darah Pemeriksaan ekg mungkin menunjukkan sinus tacikardi Disability kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AUPU</p> <p>penurunan kesadaran menunjukkan tanda awal pasien masuk kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera dan membutuhkan perawatan di ICUDIAGNOSA KEPERAWATAN</p> <p>1. Intolerans akktivitas b / d curah jantung meningkat Intervensi; Berikan dorongan untuk melak...</p>

Recommended

View more >