Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 2.docx

  • Published on
    24-Nov-2015

  • View
    33

  • Download
    12

Transcript

Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 2 DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAN BELLS PALSY Jacky Munilson, Yan Edward, Wahyu Triana Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP. Dr.M. Djamil Padang Abstrak Bells palsy merupakan penyakit kelumpuhan saraf fasialis akut yang terbanyak dan penyebabnya belum diketahui. Penanganan kasus Bells palsy sebaiknya dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari terjadinya gejala sisa yang permanen. Telah dilaporkan suatu kasus kelumpuhan saraf fasialis perifer akut yang diduga sebagai Bells palsy pada perempuan berusia 17 tahun yang dinilai dengan menggunakan sistem House-Brackmann dan metode Freyss dan dalam penatalaksanaan diberikan terapi kortikosteroid dosis tinggi yang diturunkan secara bertahap, obat anti viral dan fisioterapi. Kata kunci : Kelumpuhan saraf fasialis, Sistem House-Brackmann, Metode Freyss Abstract Bells palsy is the most common acute pheriperal facial palsy that the cause of the disease was unknown. The management of Bells palsy should be done immediately to achieve the good result and prevent permanent sequelae. A case of facial nerve paralysis with suspected Bells palsy in a 17 years old girl that evaluated by House-Brackmann grading system and Freyss method was reported and in management was used corticosteroid high dose which tapering off, antiviral drug and physiotherapy . Key word : Facial nerve palsy, House-Brackmann Grading System, Freyss Method

PENDAHULUAN Bells palsy adalah suatu kelumpuhan saraf fasialis perifer yang bersifat unilateral, penyebabnya tidak diketahui (idopatik), akut dan tidak disertai oleh gangguan pendengaran, kelainan neurologi lainnya atau kelainan lokal.1,2 Diagnosis biasanya ditegakkan bila semua penyebab yang mungkin telah disingkirkan. 3 Sir Charles Bell (1774-1842) dikutip dari Singhi2 dan Cawthorne4 adalah orang pertama yang meneliti tentang sindroma kelumpuhan saraf fasialis dan sekaligus meneliti tentang distribusi dan fungsi saraf fasialis. Oleh karena itu nama Bell diambil untuk diagnosis setiap kelumpuhan saraf fasialis perifer yang tidak diketahui penyebabnya. Saraf fasialis (N.VII) mengandung sekitar 10.000 serabut saraf yang terdiri dari 7.000 serabut saraf motorik untuk otot-otot wajah dan 3.000 serabut saraf lainnya membentuk saraf intermedius (Nerve of Wrisberg) yang berisikan serabut sensorik untuk pengecapan 2/3 anterior lidah dan serabut parasimpatik untuk kelenjer parotis, submandibula, sublingual dan lakrimal. Saraf fasialis terdiri dari 7 segmen yaitu :5 1. Segmen supranuklear 2. Segmen batang otak 3. Segmen meatal 4. Segmen labirin 5. Segmen timpani 6. Segmen mastoid 7. Segmen ekstra temporal

Insiden Bells palsy dilaporkan sekitar 40-70% dari semua kelumpuhan saraf fasialis perifer akut.2,3 Prevalensi rata-rata berkisar antara 1030 pasien per 100.000 populasi per tahun dan meningkat sesuai pertambahan umur. Insiden meningkat pada penderita diabetes dan wanita hamil. Sekitar 8-10% kasus berhubungan dengan riwayat keluarga pernah menderita penyakit ini. 2,6,7 Gambar 1 : Perjalanan saraf fasialis yang memperlihatkan distribusi motorik, sensorik dan parasimpatis 8 Gejala Bells palsy dapat berupa kelumpuhan otot-otot wajah pada satu sisi yang terjadi secara tiba-tiba beberapa jam sampai beberapa hari (maksimal 7 hari). Pasien juga mengeluhkan nyeri di sekitar telinga, rasa bengkak atau kaku pada wajah walaupun tidak ada gangguan sensorik. Kadang- kadang diikuti oleh hiperakusis, berkurangnya produksi air mata, hipersalivasi dan berubahnya pengecapan. Kelum-puhan saraf fasialis dapat terjadi secara parsial atau komplit. Kelumpuhan parsial dalam 17 hari dapat berubah menjadi kelumpuhan komplit. 2,7 Dalam mendiagnosis kelum- puhan saraf fasialis, harus dibedakan kelumpuhan sentral atau perifer. Kelumpuhan sentral terjadi hanya pada bagian bawah wajah saja, otot dahi masih dapat berkontraksi karena otot dahi dipersarafi oleh kortek sisi ipsi dan kontra lateral sedangkan kelumpuhan perifer terjadi pada satu sisi wajah. Derajat kelumpuhan saraf fasialis dapat dinilai secara subjektif dengan menggunakan sistim House-Brackmann dan metode Freyss. Disamping itu juga dapat dilakukan tes topografi untuk menentukan letak lesi saraf fasialis dengan tes Schirmer, reflek stapedius dan tes gustometri.6,9 Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 3 Tujuan penatalaksanaan Bells palsy adalah untuk mempercepat penyembuhan, mencegah kelum-puhan parsial menjadi kelumpuhan komplit, meningkatkan angka penyembuhan komplit, menurunkan insiden sinkinesis dan kontraktur serta mencegah kelainan pada mata. Pengobatan seharusnya dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah pengaruh psikologi pasien terhadap kelumpuhan saraf ini. Disamping itu kasus Bells palsy membutuhkan kontrol rutin dalam jangka waktu lama.10 Prognosis pasien Bells palsy umumnya baik, terutama pada anak-anak. Penyembuhan komplit dapat tercapai pada 85 % kasus, penyembuhan dengan asimetri otot wajah yang ringan sekitar 10% dan 5% penyembuhan dengan gejala sisa berat.11 Bells palsy biasanya dapat sembuh tanpa deformitas. Hanya 5% yang mengalami deformitas. Deformitas pada Bells palsy dapat berupa :11 Regenerasi motorik inkomplit

Ini merupakan deformitas terbesar dari kelumpuhan saraf fasialis. Dapat terjadi akibat penekanan saraf motorik yang mensarafi otot-otot ekspresi wajah. Regenerasi saraf yang tidak maksimal dapat menyebabkan kelumpuhan semua atau beberapa otot wajah. Manifestasi dari deformitas ini dapat berupa inkompetensi oral, epifora dan hidung tersumbat. Regenerasi sensorik inkomplit

Manifestasinya dapat berupa disgeusia, ageusia atau disesthesia. Regenerasi Aberrant

Selama regenerasi dan perbaikan saraf fasialis, ada beberapa serabut saraf yang tidak menyambung pada jalurnya tapi menyambung dengan serabut saraf yang ada didekatnya. Regenerasi aberrant ini dapat menyebabkan terjadinya gerakan involunter yang mengikuti gerakan volunter (sinkinesis).11 LAPORAN KASUS Seorang pasien perempuan berusia 17 tahun datang ke poliklinik THT RSUP Dr. M. Jamil Padang tanggal 20 Desember 2010 (MR 721070) dengan keluhan wajah kanan mencong sejak 2 hari yang lalu. Pipi kanan melemah dirasakan sewaktu pasien berkumur-kumur, sehingga air keluar dari mulut. Pasien juga merasakan nyeri di sekitar telinga kanan dan kelopak mata kanan terasa berat. Tidak ada riwayat keluar cairan dari telinga kanan sebelumnya, tidak ada keluhan gangguan pendengaran, pusing berputar, tidak ada demam, batuk dan pilek sebelumnya serta tidak ada riwayat trauma, terpapar udara dingin, riwayat sakit gula dan hipertensi. Riwayat wajah mencong dalam keluarga tidak ada. Pada pemeriksaan fisik dida- patkan keadaan umum baik, kesadaran komposmentis, kooperatif, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 82x/menit, nafas 20x/menit dan suhu 36,4 0C. Pada pemeriksaan otoskopi ditemukan liang telinga lapang, membran timpani utuh dan refleks cahaya normal. Pemeriksaan hidung dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan fisik di daerah wajah tidak ditemukan vesikel pada daerah sekitar telinga dan tidak terdapat pembengkakan atau massa pada kelenjer parotis. Pada pemeriksaan penala, Rinne positif pada telinga kiri dan kanan, Weber tidak terdapat lateralisasi dan Schwabach telinga kiri dan telinga kanan sama dengan pemeriksa. Pada audiometri nada murni didapatkan kesan normal pada kedua telinga dengan ambang dengar telinga kanan 11,25 dB dan telinga kiri 17,5 dB. Pemeriksaan derajat kerusakan saraf fasialis menggunakan sistem House-Brackmann didapatkan wajah masih simetris pada keadaan istirahat, tonus saat istirahat normal, dahi pada sisi kanan masih ada gerakan sedikit, mata kanan dapat tertutup sempurna dengan usaha maksimal dan mulut pada sisi kanan terdapat kelemahan ringan. Pada pemeriksaan ini dapat disimpulkan bahwa kelumpuhan saraf fasialis perifer kanan dengan House-Brackmann (HB) derajat III. Pemeriksaan fungsi saraf fasialis perifer kanan dengan metode Freyss didapatkan nilai fungsi motorik otot-otot wajah 10, tonus otot 12, sinkinesis 4, fungsi motorik pada gerakan emosi 1 dan tidak ditemukan hemispasme, total nilai 27. Untuk pemeriksaan fungsi motorik ini didapatkan fungsi motorik terbaik 54%. Pemeriksaan topografi saraf fasialis dilakukan tes gustometri dan tes Schirmer. Gambar 2: Foto pasien pada pemeriksaan House- Brackmann Hasil tes gustometri, ditemukan kelainan pada fungsi pengecapan lidah sebelah kanan, Pasien tidak bisa merasakan rasa manis, asam dan asin. Pada tes Schirmer ditemukan perbedaan produksi air mata antara mata kanan dan kiri sekitar 30 %, dimana air mata kanan lebih sedikit produksinya dibanding kiri. Saat itu pasien didiagnosis dengan kelumpuhan saraf fasialis perifer kanan setinggi genikulatum dengan fungsi motorik terbaik 54%, House-Brackmann derajat III dan penyebabnya idiopatik (Bells palsy). Gambar 3 :. Foto pasien pada pemeriksaan metode Freyss Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 4

Pasien diterapi dengan prednison tablet 60 mg/hari dibagi dalam 4 dosis selama 5 hari. Setelah lima hari, dosis prednison ditapering off menjadi menjadi 40 mg/hari selama 5 hari berikutnya. Disamping itu pasien juga diberikan acyclovir tablet 5 x 400 mg selama 10 hari dan neurotropik. Tanggal 23 Desember 2010 pasien datang untuk kontrol pertama kalinya. Dari anamnesis nyeri di sekitar telinga dan rasa berat di kelopak mata kanan sudah berkurang. Pemeriksaan dengan sistem House-Brackmann didapatkan House-Brackmann derajat III dimana pada keadaan istirahat wajah masih terlihat simetri, kerutan dahi pada sisi kanan mulai jelas dibanding pemeriksaan sebelumnya, mata kanan dapat menutup sempurna dengan usaha maksimal dan mulut pada sisi kanan masih terdapat kelemahan ringan. Pada pemeriksaan saraf fasialis perifer kanan dengan metode Freyss, nilai fungsi motorik 14, tonus otot 12, sinkinesis 4, fungsi motorik pada gerakan emosi 1 dan hemispasme tidak ada, nilai total 31. Pada tes Schirmer tidak ditemukan lagi perbedaan produksi air mata antara mata kiri dan mata kanan, pemeriksaan timpanometri dite- mukan reflek stapedius normal dan tes gustometri fungsi pengecapan pada sisi kanan masih terganggu. Kesan yang didapatkan kelumpuhan saraf fasialis perifer kanan dengan fungsi motorik terbaik 62% dan lokasi setinggi khorda timpani. Terapi pada pasien ini dilanjutkan dan pasien dikonsulkan ke unit rehabilitasi medis untuk dilakukan fisioterapi. Tanggal 30 Desember 2010, pasien datang untuk kontrol kedua kalinya. Pada anamnesis tidak terdapat keluhan. Pemeriksaan sistem House-Brackmann ditemukan simetri wajah dalam keadaan diam, kerutan dahi pada sisi kanan mulai jelas, mata kanan dapat menutup sempurna dengan usaha minimal dan pada mulut sisi kanan terdapat asimetri ringan, kesimpulan House-Brackmann derajat II. Pemeriksaan saraf fasialis dengan metode Freyss didapatkan nilai fungsi motorik 19, tonus otot 14, sinkinesis 4, fungsi motorik pada gerakan emosi 1 dan hemispasme tidak ada, nilai total 38. Pada tes topografi saraf fasialis, tes gustometri tidak ditemukan lagi abnormalitas pengecapan pada sisi kanan lidah. Kesan dari pemeriksaan di atas kelumpuhan saraf fasialis perifer kanan setinggi infra korda timpani dengan fungsi motorik terbaik 76%. Terapi prednison diturunkan secara bertahap setiap tiga hari sampai dosis minimal (1x1 tablet) sedangkan acyclovir tablet dihentikan setelah sepuluh hari pemberian. Fisioterapi dan obat neurotropik tetap dilanjutkan. Tanggal 28 Januari 2011 pasien kontrol keempat kalinya. Dari anamnesis tidak ada keluhan. Wajah kanan pasien tidak terlihat mencong lagi. Pemeriksaan sistem House-Brackmann didapatkan simetris pada wajah sisi kiri dan kanan, kerutan dahi sisi kiri dan kanan sudah sama, mata kanan dapat menutup sempurna dan tidak terdapat lagi kelemahan pada sudut mulut sisi kanan. Kesan normal (House-Brackmann derajat I) Gambar 3 : Foto pasien pada pemeriksaan sistem House-Brackmann kontrol keempat Pemeriksaan metode Freyss didapatkan nilai fungsi motorik 30, tonus otot 15, sinkinesis 4 dan hemispasme 1, jadi nilai totalnya 50. Kesan fungsi motorik sudah normal dengan fungsi motorik terbaik 100%. Gambar 4 : Foto pasien pada pemeriksaan Metode Freyss kontrol keempat DISKUSI Telah dilaporkan suatu kasus Bells palsy pada seorang perempuan berusia 17 tahun. Menurut Holland12 (2007) di Inggris insiden Bells palsy terjadi pada 20/100.000 orang per tahun dengan usia terbanyak adalah 1540 tahun dan tidak terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Berbeda dengan penelitian Tsai dkk13 (2009) di Taiwan melaporkan bahwa insiden Bells palsy juga terdapat pada anak berusia 3 bulan 18 tahun, anak perempuan lebih banyak dibanding anak laki-laki (rasio 1,4 : 1) dan banyak terjadi pada musim dingin dibanding musim panas. Pada pasien ini, penyebab kelumpuhan saraf fasialis tidak diketahui (idiopatik). Tiemstra dkk7 (2007) mengatakan bahwa Bells palsy disebabkan oleh inflamasi saraf fasialis pada ganglion genikulatum sehingga menyebabkan kompresi, iskemia dan demielinasi saraf. Baru-baru ini perhatian terfokus pada virus Herpes Simpleks tipe I (HSV-1) yang dianggap sebagai penyebab inflamasi tersebut. Hal ini berdasarkan pada penelitian Mukarami dkk dikutip dari Desatnik14 yang mendeteksi DNA HSV-1 pada 79% pasien Bells palsy dengan menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Menurut Holland10 (2008) HSV-1 dapat dideteksi lebih dari 50% kasus Bells palsy sedangkan virus Herpes Zoster (HZV) hanya sekitar 13% kasus. Herpes zoster lebih sering menyebabkan kelumpuhan saraf fasialis dalam bentuk Zoster sine herpete (tanpa Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 5 vesikel) dan hanya 6% dalam bentuk Ramsay Hunt Syndrome (dengan vesikel). Zoster sine herpete ini diduga juga sebagai penyebab hampir sepertiga kelumpuhan saraf fasialis yang idiopatik. Infeksi virus Herpes Zoster ini juga berhubungan dengan prognosis yang jelek dan menimbulkan inflamasi saraf yang irreversibel. Untuk menentukan adanya virus ini, dapat digunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) dengan cara mengisolasi DNA virus pada cairan endoneural saraf fasialis selama fase akut. Selain itu dapat pula dilakukan biopsi pada otot sekitar daerah auricular bagian posterior yang dipersarafi oleh saraf fasialis. 12,14 Kelumpuhan saraf fasialis pada pasien ini masih dalam fase akut, yaitu terjadi sejak 2 hari sebelum datang ke rumah sakit. Menurut Yanagihara dkk yang dikutip dari Singhi2 berdasarkan studi yang dilakukannya terhadap etiologi, derajat, sisi lesi dan progresivitas inflamasi saraf fasialis, Bells palsy dibedakan dalam 3 fase yaitu : Fase akut (0-3 minggu)

Inflamasi saraf fasialis berasal dari ganglion genikulatum, biasanya akibat infeksi virus Herpes Simpleks (HSV). Inflamasi ini dapat meluas ke bagian proximal dan distal serta dapat menyebabkan edema saraf. Fase sub akut (4-9 minggu)

Inflamasi dan edema saraf fasialis mulai berkurang. Fase kronik (> 10 minggu)

Edema pada saraf menghilang, tetapi pada beberapa individu dengan infeksi berat, inflamasi pada saraf tetap ada sehingga dapat menyebabkan atrofi dan fibrosis saraf. Pemeriksaan fisik telinga, hidung dan tenggorok serta pemeriksaan lokalis pada daerah wajah, tidak ditemukan kelainan. Hasil pemeriksaan audiometri dan timpanometrinya normal. Reflek stapedius juga baik. Setiap pasien dengan kelumpuhan saraf fasialis seharusnya menjalani pemeriksaan THT yang lengkap seperti pemeriksaan otoskopi, pemeriksaan massa pada parotis dan pemeriksaan audiologi untuk menentukan fungsi dari N.VII dan N.VIII.2 Bila terdapat kelainan pada pemeriksaan audiometri, maka dianjurkan pemeriksaan Auditory Brainstem Response (ABR) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI).5 Pemeriksaan optalmologi terutama dilakukan bila terdapat lagoftalmus pada mata sisi yang lumpuh. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan tingkat lagoftalmus sehingga dapat diperkirakan kesanggupan kelopak mata dalam melindungi kornea.2 Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan opthalmologi karena tidak terdapat lagoftalmus, mata pasien dapat menutup sempurna sehingga resiko terjadinya keratitis atau ulkus kornea dapat dihindari. Pemeriksaan laboratorium, CT scan, MRI dan elektrodiagnostik tidak dilakukan pada pasien ini. Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk mendiagnosis kasus Bells palsy, kecuali bila dicurigai adanya penyebab yang lain. Pemeriksaan radiologi tidak rutin dilakukan pada kasus ini kecuali bila adanya riwayat paralisis rekuren, curiga adanya lesi pada Cerebellopontine Angle (CPA), terdapat kelainan pada telinga tengah (otitis media akut, otitis media kronik atau kolesteatom), ada riwayat trauma serta pada pasien yang belum menunjukan perbaikan paralisisnya dalam 1 bulan.16 Pemeriksaan MRI dilakukan pada kasus yang kita curigai suatu neoplasma tulang temporal, tumor otak, tumor parotis atau untuk mengevaluasi multiple sklerosis. Gambaran MRI pada kasus Bells palsy dapat berupa peningkatan gadolinium saraf pada bagian distal kanalis auditorius interna dan ganglion genikulatum yang merupakan lokasi tersering terjadinya edema saraf fasialis yang menetap.2,16 Dalam mendiagnosis Bells palsy perlu dibedakan apakah kelumpuhannya parsial (inkomplit) atau komplit. Sistim House-Brackmann digunakan untuk menentukan derajat kerusakan saraf fasialis dengan cara menilai fungsi motorik otot-otot wajah. Sistem House-Brackmann terdiri dari 5 derajat. Derajat I berfungsi normal, derajat II disfungsi ringan, derajat III dan IV disfungsi sedang, derajat V disfungsi berat dan derajat VI merupakan kelumpuhan total. Derajat II-V merupakan kelumpuhan parsial sedangkan derajat VI merupakan kelumpuhan komplit.5 Pada pasien ini, awalnya didiagnosis dengan kelumpuhan saraf fasialis perifer kanan dengan House-Brackmann derajat II. Setelah 10 hari pengobatan, kelumpuhan saraf fasialisnya mengalami perbaikan menjadi House-Brackmann derajat II dan Setelah 3 minggu terapi fungsi motoriknya sudah normal dengan House-Brackmann derajat I serta tidak terdapat sinkinesis atau gejala sisa lainnya. Pada metoda Freyss dinilai 4 komponen yaitu pemeriksaan fungsi motorik dari sepuluh otot wajah, tonus otot, sinkinesis dan hemispasme. Sistem ini pertama kali diperkenalkan di Perancis.5 Pemeriksaan fungsi motorik dengan metode Freyss pada pasien ini terdapat perbaikan, dari awalnya fungsi motorik terbaik 54% menjadi 76% dalam waktu 10 hari dan dalam waktu 3 minggu fungsi motorik sudah normal (100%) Lokasi kerusakan saraf fasialis pada pasien ini sewaktu datang adalah setinggi ganglion genikulatum, dimana terdapat gangguan fungsi lakrimasi pada mata kanan pasien, yang dibuktikan dengan tes Schirmer. Pada tes gustometri ditemukan abnormalitas pengecapan pada lidah sisi kanan. Pemeriksaan reflek stapedius tidak dapat dilakukan. Hal ini sesuai dengan Singhi dkk,2 yang mengatakan bahwa lokasi lesi saraf fasialis sering terdapat pada segmen labirin, dimana pada segmen ini terdapat ganglion genikulatum. Segmen ini merupakan segmen tersempit dalam kanalis fasialis sehingga bila terjadi inflamasi ringan saja pada saraf, dapat menyebabkan kompresi saraf tersebut. Untuk menentukan topografi kerusakan saraf fasialis ini dilakukan beberapa pemeriksaan seperti tes Schirmer, pemeriksaan refleks stapedius, tes gustometri dan tes salivasi.5 Tes Schirmer dilakukan untuk mengevaluasi fungsi saraf Petrosus dengan menilai fungsi lakrimasi pada mata kanan dan kiri. Hasil abnormal menunjukan kerusakan pada Greater Superficial Petrosal Nerve (GSPN) atau saraf fasialis di proksimal ganglion genikulatum. Lesi pada tempat ini dapat menyebabkan terjadinya keratitis atau ulkus pada kornea akibat terpaparnya kornea mata yang mengalami kelumpuhan.5 Pemeriksaan refleks stapedius rutin dilakukan pada kelumpuhan saraf fasialis. Pemeriksaan ini untuk mengevaluasi fungsi cabang stapedius dari saraf fasialis. Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 6 Tes ini merupakan tes yang paling objektif dari beberapa tes topografi saraf fasialis lainnya. Pada kasus Bells palsy dengan refleks stapedius yang masih normal menandakan bahwa penyembuhan komplit dapat terjadi dalam 6 minggu.5 Tes Gustometri dilakukan untuk menilai fungsi saraf khorda timpani dengan menilai pengecapan pada lidah 2/3 anterior dengan rasa manis, asam dan asin. Tes ini sangat subjektif. Disamping fungsi pengecapan, khorda timpani juga berperan dalam fungsi salivasi. Kita dapat menilai fungsi duktus Whartons dengan mengukur produksi saliva dalam 5 menit. Bila Produksi saliva berkurang dapat diprediksi khorda timpani tidak berfungsi baik. Menurut Quinn dkk5, pada kasus Bells palsy sering terdapat kesenjangan topografi saraf fasialis seperti pada pasien terdapat kehilangan fungsi lakrimasi sedangkan reflek stapedius dan fungsi pengecapan masih normal atau dapat juga fungsi lakrimasi dan reflek stapedius mengalami ganguan, tetapi fungsi salivasinya masih normal. Hal ini disebabkan karena terdapatnya multipel inflamasi dan demyelinisasi disepanjang perjalanan saraf fasialis dari batang otak ke cabang perifer.5 Dalam penatalaksanaan Bells palsy pada pasien ini kita berikan kortikosteroid dan antiviral. Tiemstra dkk7 mengatakan bahwa, kortikosteroid sangat bermanfaat dalam mencegah degenerasi saraf, mengurangi sinkinesis, meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan inflamasi pada saraf fasialis sedangkan Acyclovir diberikan untuk menghambat replikasi DNA virus. Pada pasien ini kortikosteroid kita berikan pada hari kedua onset penyakit dengan dosis 60 mg/hari dibagi dalam 4 dosis. Karena terdapat perbaikan pada kontrol hari ketiga pengobatan, maka setelah hari kelima dosis kortikosteroid kita turunkan menjadi 40 mg/hari dibagi dalam 4 dosis selama 5 hari berikutnya. Setelah 10 hari pemberian kortikosteroid, pada kontrol terdapat perbaikan yang cukup besar, maka dosis kortikosteroid kita turunkan secara bertahap setiap 3 hari sampai mencapai dosis minimal (1x5mg). Cara pemberian kortikosteroid ini berbeda pada masing-masing studi menurut Tiemstra dkk 7 Prednison pada dewasa dimulai dengan dosis 60 mg/hari selama 5 hari dan diturunkan menjadi 40 mg/hari selama 5 hari berikutnya. Menurut Engstrom dkk15 Prednison dimulai dengan dosis 60 mg/hari selama 5 hari dan diturunkan 10 mg/hari dalam 5 hari berikutnya (total pemberian prednison 10 hari). Untuk antiviral dapat digunakan Acyclovir atau obat jenis lainnya seperti Valaciclovir, Famciclovir dan Sorivudine yang mempunyai bioavailabilitas yang lebih baik dari Acyclovir. Dosis Acyclovir diberikan 400 mg 5 kali sehari selama 10 hari atau Valaciclovir 500 mg 2 kali sehari selama 5 hari. Jika penyebabnya diduga virus herpes zoster, maka dosis Acyclovir di naikan menjadi 800 mg 5 kali sehari atau Valaciclovir 1 gram 2 kali sehari.11 Kombinasi penggunaan kortikosteroid dan Antiviral oral memberikan hasil yang lebih baik daripada penggunaan kortikosteroid oral saja dan akan lebih baik bila terapi diberikan dalam 72 jam pertama. Studi lain juga mengatakan bahwa tidak terdapat perbedaan lama penyembuhan antara pemberian obat-obatan ini secara oral atau intravena. 16 Disamping terapi obat-obatan, pada kasus Bells palsy juga dilakukan Perawatan mata dan fisioterapi. Perawatan mata tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kekeringan pada kornea karena kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna dan produksi air mata yang berkurang. Perawatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan artificial tear solution pada waktu pagi dan siang hari dan salep mata pada waktu tidur. Pasien juga dianjurkan menggunakan kacamata bila keluar rumah. Bila telah terjadi abrasi kornea atau keratitis, maka dibutuhkan penatalaksanaan bedah untuk melindungi kornea seperti partial tarsorrhaphy.2 Pada pasien ini, tidak diberikan perawatan mata karena mata kanan pasien masih dapat tertutup sempurna walaupun dengan usaha maksimal dan setelah 3 hari pemberian terapi produksi air mata pasien sudah kembali normal, yang dibuktikan dengan tes Schirmer telah sama antara mata kiri dan mata kanan. Pada pasien ini fisioterapi dimulai pada hari kelima onset penyakit. Menurut Sukardi,17 fisioterapi dapat dilakukan pada stadium akut atau bersamaan dengan pemberian kortikosteroid. Tujuan fisioterapi adalah untuk mempertahankan tonus otot yang lumpuh. Caranya yaitu dengan memberikan radiasi sinar infra red pada sisi yang lumpuh dengan jarak 2 ft (60 cm) selama 10 menit. Terapi ini diberikan setiap hari sampai terdapat kontraksi aktif dari otot dan 2 kali dalam seminggu sampai tercapainya penyembuhan yang komplit. Disamping itu juga dapat dilakukan massage pada otot wajah selama 5 menit pagi dan sore hari atau dengan faradisasi. 17,18 Terapi pembedahan pada kasus Bells palsy masih kontroversi. Terapi dekompresi saraf fasialis hanya dilakukan pada kelumpuhan yang komplit atau hasil pemeriksaan elektroneurography (ENoG) menun jukan penurunan amplitudo lebih dari 90%. Karena lokasi lesi saraf fasialis ini sering terdapat pada segmen labirin, maka pada pembedahan digunakan pendekatan middle fossa subtemporal craniotomy sedangkan bila lesi terdapat pada segmen mastoid dan timpani digunakan pendekatan transmastoid.19 Prognosis Bells palsy tergantung pada jenis kelumpuhannya, usia pasien dan derajat kelumpuhan. kelumpuhan parsial (inkomplit), mempunyai prognosis yang lebih baik. Anak-anak juga mempunyai prognosis yang baik dibanding orang dewasa dan sekitar 96,3% pasien Bells palsy dengan House-Brackmann kurang dari Derajat II dapat sembuh sempurna, sedangkan pada House-Brackmann lebih dari derajat IV sering terdapat deformitas wajah yang permanen.15 Pada pasien ini, hari ketiga pengobatan sudah terdapat perbaikan walaupun belum maksimal. Pada hari kesepuluh, kelumpuhan saraf fasialisnya sudah mencapai House-Brackmann derajat II, lokasinya setinggi infra khorda dan fungsi motorik yang terbaik meningkat menjadi 76%, setelah 3 minggu terapi kelumpuhan saraf fasialisnya sudah tidak terlihat lagi (HB I) dan fungsi motorik otot wajahnya sudah normal. Diperlukan pemeriksaan untuk menentukan prognosis penyakit ini. Pemeriksaan tersebut direko- mendasikan pada kelumpuhan komplit atau bila tidak terdapat tanda-tanda penyembuhan dalam 3 minggu dari onset penyakit.2 Menurut Yeo dkk15 ENoG merupakan alat yang dapat membantu memperkirakan prognosis penyakit. Alat ini dapat mencatat compound action potential dari otot fasialis setelah diberikan stimulasi elektrik supramaksimal pada saraf fasialis bagian distal dari foramen stilomastoid. Rekurensi pada kasus Bells palsy jarang dilaporkan terutama pada anak-anak. Chen dkk19 Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 7

melaporkan terdapat 6% kasus Bells palsy yang mengalami rekurensi. Rekurensi ini dapat disebabkan oleh terserang virus kembali atau aktifnya virus yang indolen di dalam saraf fasialis. Bila rekurensi terjadi pada sisi yang sama dengan sisi yang sebelumnya, biasanya disebabkan oleh virus Herpes Simpleks. Rekurensi meningkat pada pasien dengan riwayat Bells palsy dalam keluarga. Umumnya rekurensi terjadi setelah 6 bulan dari onset penyakit. DAFTAR PUSTAKA 1. Vrabec JT, Coker NJ. Acute Paralysis of Facial Nerve in: Bailey BJ, Johnson JT, Newland SD, editors. Head

&NeckSurgery-Otolaryngology.4th Ed. Lippincott Williams & Wilkins; Texas; 2006. P. 2139-54 2. Singhi P, Jain V. Bells Palsy in Children. Seminar in Pediatric Neurotology.2003; 10(4): 289-97 3. Marsk E,Hammarstedt L,Berg et al. Early Deterioration in Bells Palsy : Prognosis and Effect of Prednisolone. Otology & Neurotology. 2010; 31:

1503-07 4. Cawthorne T. The Pathology and Surgical Treatment of Bells Palsy in: Section of Otology. Proceeding of the Royal Society of Medicine. 1950;44 : 565-72. 5. Quinn FB. Facial Nerve Paralysis. Deparment of Otolaryngology, UTMB,Grand Rounds. 1996 6. Rath B, Linder T, Cornblath D. All That Palsies is not Bells The Need to Define Bells Palsy as an Adverse event following immunization. Elsevier. 2007; 26: 1-14 7. Tiemstra JD, Khatkhate N. Bells Palsy: Diagnosis and Management. American Family Physician. 2007;76(7): 997-1002 8. Alford BR. Anatomy of the 7th cranial nerve. Baylor College of Medicine. 2010 9. Gilden DH. Bells Palsy. N Engl J Med. 2004; 351: p 1323-31. 10. Holland J. Bells palsy. BMJ Publishing. 2008; 1-8. 11. Lo B. Bell Palsy. [Update Feb 24,2010: cited Dec 21,2010]. Available from: http://www.emedicine.medscape.com/article/791311-overview 12. Holland NJ, Weiner GM. Recent Developments in Bells palsy. BMJ. 2004; 29: 553-57 13. Tsai HS, Chang LY, Lu CY et al. Epidemiology and Treatment of Bells Palsy in Children in Northern Taiwan. J Microbiol Immunology and Infecton.2009;42: 351-6 14. Desatnik AS, Skoog E, Aurelius E. Detection of Herpes Simplex and Varicella-Zoster in Patient With Bells Palsy by the Polymerase Chain Reaction technique.Annals of Otology, rhinology & Laryngology.2006;115(4): 306-11 15. Yeo SW, Lee DH, Jun BC et al. Analysis of Prognostic factor in Bells Palsy and Ramsay Hunt Syndrome. Auris Nasus Larynx, vol 34. 2007: 159-1643 29; 2004 :553 557. 16. Engstrom M, Berg T, Stjernquist A, et al. Prednisolone and Valaciclovir in Bells Palsy : a Randomized, Double-Blind,Placebo-Controlled,Multicentre Trial. Lancet Neurol. 2008;7: 993-1000 17. Sukardi. Bells Palsy. http://www. kalbe.co.id/cdk/Spalsy.Pdf/spalsy.html 18. Mosforth J, Taverner D. Physiotherapy for Bells Palsy. British Medical Journal.1958;13: 675-7 19. Chen WX, Wong V. Prognosis of Bells Palsy in Children-Analysis of 29 cases. Brain & Development, vol 27. 2005: 504-8

BellsPalsyPengantar FT pada Bells PalsyPengeratian : Suatu kelainan pada n. facialis yang menyebbkan kelemahan atau kelumpuhan pada otot di suatu wajah. Suatu keadaan ketidak simetrisan wajah dikarenakan penurunan fungsi n. facialis yang mengakibatkan ketidak seimbangan kekuatan / aktivitas muscular pada kedua sisi wajah pada kedua.Penyebab : Tidak diketahuiDiduga karena pembengkakan pada saraf wajah akibat infeksi virusAdanya Penekanan pada n. facialisGangguang Metabolik atau kurangnya suplai darah (Oxigen dan nutrisi) pada n. FacialisNerve injury akibat tekanan Tekanan yang terjadi dapat secara singkat atau lama Neuropraxia dapat terjadi karena tekanan singkat atau lama yang menyebabkan kerusakan minimal atau tidak ada kerusakan struktur Neurotmesis Terjadi krn axon, schwann cell dan myelin sheat terputus dan terjadi degenerasi Saraf banyak mengandung serabut yang jika rusak dpt mengakibatkan tipe lesi yang bermacam-macm sehingga sulit mendiagnosis Tekanan yang singkat pada saraf mengakibatkan hilangnya konduksi yang dapat membuat ischemic dan secara cepat reversible Contoh : Duduk dengan kaki menyilang dapt mengaibatkan hilangnya konduksi sementara di ibu jari (n. peroneal) Kompressi injury yang lebih lama mengakibatkan mechanical displacement nodus of ranvier Jika proses penekanan hilang sebelum terjadi perubahan strktur maka akan pulih dalam beberapa minggu. Gejala Klinis Bells palsy terjadi secara tiba-tiba beberapa jam sebelum terjadi kelemahan pada otot wajah Biasanya terdapat rasa nyeri di daerah mastoid Kelemahan otot ringan sampai berat Selalu pada salah satu sisi wajah Merasa sensasi menurun walaupun sebetulnya sensasi normal Sisi wajah dengan kelemahan tampak tanpa ekspresi Mengalami kesulitan dalam menutup salah satu mata. Kadang mempengaruhi pembentukan ludah, air mata, atau rasa pada lidah Kesulitan bercukur karena bibir mencong Infalmasi n. VII saraf cranialis Diduga infeksi virus yang menyebar Umumnya menyerang remaja dan dewasa muda Prognosis cukup baik jika penanganan sedini mungkin Biasanya pulih dalan 1 6 mingguPemeriksaan Anamnesis Keluhan utama pasien Rasa lemah di sebagian sisi dan disertai adanya rasa nyeri pada belakang telinga Paraestasia salah satu sisi wajah Inspeksi Tampak kelemahan pada wajah Wajah tidak simetris Ekspresi wajah tidk sama Palpasi Nyeri tekan pada belakang telinga Suhu normal Vital Sign Blood Preasure Normal Heart Rate Normal Respiratory Rate NormalPemeriksaan Fungsi Gerak Dasar Aktif Pasif Tes Isometrik Melawan Tahanan Pada ketiga tes tersebut dominan menunjukkan adanya kelemahan.Pemeriksaan KhususPemilihan Tes khusus didasarkan atas hasil temuan pada pemeriksaan sebelumnya Kekuatan Otot MMT pada wajah Sensorik Dermatom Test Myotom Test Fungsional ADL IADL Laboratorium Electro Diagnostik (EMG) Kecepatan hantar saraf melemahPrinsip Intervensi Fasilitasi aktif otot wajah Dapat diberikan stimulasi electric pada otot yang mengalami kelmahan. Mencegah kontraktur atau ischemic otot Pemeliharaan fungsi-fungsi pd wajah Re-edukasi ototDilakukan sedini mungkin PNF Wajah Stimulasi aktifasi saraf wajah Latihan fungsi wajah (facial exercise) Massage wajahPrognosis Umumnya sembuh Penanganan dini memberikan prognosis baik Tergantung tingkatan patologis / kerusakan yang dialami oleh saraf VII Tergantung Daya tahan tubuh terhadap virus.

Bell's palsy adalah kelumpuhan saraf kranial VII (saraf wajah) mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengontrol otot-otot yang wajah di sisi yang terpengaruh. Beberapa kondisi dapat menyebabkan kelumpuhan wajah, misalnya, tumor otak, stroke dan penyakit Lyme. Namun, jika tidak ada alasan khusus yang dapat diidentifikasi, kondisi ini dikenal sebagai Bell's palsy. Diberi nama setelah Charles Bell, yang pertama kali menggambarkannya, ahli anatomi berkebangsaan Skotlandia Bell's palsy mononeuropathy akut yang paling umum (penyakit yang melibatkan hanya satu saraf) dan paling umum yang menyebabkan kelumpuhan saraf wajah akut.Bell's palsy didefinisikan sebagai idiopatik sepihak facial nerve kelumpuhan, biasanya membatasi diri. Merek dagang adalah cepat munculnya sebagian atau sepenuhnya lumpuh, biasanya dalam satu hari.Diperkirakan bahwa kondisi peradangan menyebabkan pembengkakan saraf wajah. Saraf perjalanan melalui tengkorak di kanal sempit tulang di bawah telinga. Saraf pembengkakan dan kompresi di kanal sempit tulang dianggap menyebabkan saraf inhibisi, kerusakan atau kematian. Penyebab tidak mudah diidentifikasi Bell's palsy telah ditemukan.Dokter dapat meresepkan obat-obatan anti-inflamasi dan anti-virus. Awal perawatan diperlukan untuk terapi obat untuk memiliki efek. Efek pengobatan masih kontroversial. Kebanyakan orang pulih secara spontan dan mencapai dekat normal untuk fungsi normal. Banyak menunjukkan tanda-tanda perbaikan sedini 10 hari setelah awal, bahkan tanpa pengobatan.Sering mata di sisi yang terkena dampak tidak dapat ditutup. Mata harus dilindungi dari mengering, atau kornea mungkin secara permanen rusak mengakibatkan gangguan penglihatan. Dalam beberapa kasus denture pemakai mengalami beberapa ketidaknyamanan

Apa Yang Dimaksud Dengan Bell's Palsy?Bell's Palsy adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan kelumpuhan sementara wajah akibat kerusakan atau trauma pada salah satu nervus fasialis, yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengontrol otot wajah pada sisi yang terkena. Hal ini merupakan penyebab paling umum dari kelumpuhan wajah. Penyebab pasti dari Bell's Palsy masih belum diketahui, tetapi telah diteliti bahwa kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus, seperti meningitis virus dan herpes zoster. Kondisi ini terjadi ketika nervus fasialis membengkak dan kemudian meradang sebagai reaksi terhadap infeksi. Gejala dapat terjadi tiba-tiba atau memerlukan 2-3 hari untuk muncul, tetapi kebanyakan orang sembuh secara spontan dan berfungsi kembali mendekati normal atau bahkan normal sama sekali paling cepat 10 hari setelah gejala timbul. Spesialisasi Medis dan Fokus Klinik Neurologi Pediatri Bedah Plastik Bedah Syaraf Kedokteran Neuromuskular Bedah Plastik dan Rekonstruksi Oftalmik Neurotologi Bedah Plastik Pediatri Bedah RekonstruktifApa Saja Gejala-Gejala Bell's Palsy?Tanda dan gejala Bell's Palsy yang mungkin timbul: Kedutan otot di wajah Lumpuh pada satu sisi wajah Mata kering Menderita Hilangnya Sensasi Pengecapan Menderita Hipogeusia Menderita Sakit Kepala Mengalami kesulitan makan Mengalami kesulitan minum Mengalami kesulitan untuk membuat ekspresi wajah Mulut kering Peka terhadap suara Perubahan jumlah air mata dan air ludah yang dihasilkan Rasa sakit di belakang telinga pada sisi yang terkena Rasa sakit pada rahang Rasa sakit pada telinga Rasa sakit pada wajah Wajah yang meredupApa Yang Menyebabkan Bell's Palsy?Penyebab Bell's Palsy adalah: Infeksi Virus Herpes Simpleks (HSV)Risiko terjangkit Bell's Palsy meningkat bila Anda: Sedang hamil Sedang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Bagian Atas Sedang menderita Otitis Media Sedang menderita Sarkoidosis Telah didiagnosa mengidap Diabetes MellitusBell's Palsy dapat menyebabkan komplikasi sebagai berikutnya: Dapat menyebabkan perkembangan Ulkus Kornea Kehilangan penglihatanTidak ada cara pencegahan khusus untuk Bell's Palsy saat ini.Penanganan dan pengobatan Bell's Palsy dapat berbeda tergantung pada kondisi pasien dan penyakit yang dideritanya. Pilihan pengobatan adalah: Antivirus Bedah Dekompresi Syaraf Bedah Kelopak Mata Blefaroplasti Asia Kortikosteroid Pengangkatan Alis Pengencangan Wajah Suntikan Botox Tarsorafi Terapi FisikBELLS PALSY ADALAH PENYAKIT SYARAF PADA MUKA ATAU WAJAH YANG MEMBUAT WAJAH ANDA MENJADI MENCENG,DAN TIDAK SIMETRIS ,MATA SUSAH/TIDAK MENUTUP SEMPURNA,ALIS DAN DAHI TIDAK BISA DIGERAKKAN,BANYAK PENYEBAB DARI TIMBULNYA BELLS PALSY ANTARA LAIN1. LEMAHNYA SISTEM OTOT2. KELELAHAN SETELAH BERLAMA LAMA DI DEPAN MONITOR3. TERKENA HAWA DINGIN DALAM WAKTU LAMA,DARI ANGIN MALAM/DALAM RUANGAN BER ac4. BENTURAN KERAS SEHINGGA TERJADI KERUSAKAN JARINGAN SARAF5. DEMAM TINGGI6. STRES OTOT LEHERcara agar terhindar dari bells palsy. lakukan perawatan dengan pijat kebugaran setelah sebulan penuh ,beraktifitas hindari tidur dengan kipas menghadap muka hindari tidur telungkup dan menempel lantai hindari membasuh muka pada saat sehabis olahraga gunakan masker disaat mengendarai kendaraan bermotor dimalam hari jangan melakukan pemijatan jika tidak paham pada saat demam tinggi terutama bagian leher JIKA ANDA MENGALAMINYA TIDAK USAH BINGUNG DAN GUGUP ANDA BISA MELAKUKAN TERAPI SENDIRI DENGAN PEMIJATAN RINGAN,sengaja saya sertakan petunjuk pemijatan lebih detail dari sebelumnya,CARANYA UNTUK BAGIAN MUKA PIPI LAKUKAN URUT DENGAN KRIM PIJAT ATAU LOTION AGAR LICINARAH PEMIJATAN BAGIAN PIPI ADALAH KE BELAKANG DENGAN MENGURUT MEMAKAI EMPAT JARI

pada bagian rahan cobalah buka mulut lebar dan rasakan pada jari anda pada garis ,anda akan merasakan otot yg tegang ,lakukan pengurutan sesuai arah panah,pemijatan atau pengurutan cukup 5 x gerakan, dan pindahkan tangan ke pemijatan yang lain ,dan bisa di pijat lagi berurutan atau bergantian ,/tidak monotontanda titik pada wajah dimaksudkan untuk melakukan penekanan dengan telunjuk agak keras sehingga terasa sakit, LALU UNTUK DAGU LAKUKAN KE BAWAH BERURUTANUNTUK MATA ARAH PEMIJATAN KE BAWAH DAN DI ATAS ALIS DI URUT KE ATAS atau MELINGKARBAGIAN LEHER JUGA DIPIJAT KE BAWAHCARILAH TITIK DI KEPALA BELAKANG KUPING LALU TEKAN TEKAN SAMPAI MENEMUKAN TITIK YG TERASA SAKIT .LAKUKAN PENEKANAN BERULANG2 DENGAN TEKANAN SEDANGJANGAN MELAKUKAN PEMIJATAN PADA SAMPING MATA DENGAN PIJATAN MELINGKAR.LAKUKAN PENEKANAN DENGAN JARI PADA AREA KENING SECARA URUTLAKUKAN JUGA PENEKANAN TITIK CEKUNG PADA SEBELAH HIDUNG DENGAN GERAKAN MELINGKARperiode 1= LAKUKAN PEMIJATAN pada{ pkl 7 } {pkl 11 } {pkl 16} {pkl 19} periode ini lakukan SELAMA 4 hariperiode ke dua = LAKUKAN PEMIJATAN {pkl7} {pkl11} {pkl 16 } periode ini lakukan SELAMA 4 hariperiode 3= HARI SEKALI pada pagi dan teruskan sampai sembuh pada periode ke 3 pemijatan ini tidak lebih dari 15 menitteknik pemijatan di atas pemijatan bukan ahli pijat tetapi pijat diri sendiritetapi jika anda ingin meminta bantuan ahli urut langkahnya berbeda dengan pemijatan yang dilakukan diri sendiri.jika pemijatan dikerjakan oleh ahli urut berikut caranyaperiode pertama pkl 8 pagi dan jangka waktunya adalah .,,, sebagai contohtanggal .1dipijat lagi tanggal 4>8>12>16>20>24>28 jika pemijatan tepat maka kesembuhan penderita bells palsy golongan berat sudah mencapai titik kesembuhan sekitar 60% sd 75%periode kedua pemijatan dilakukan selama seminggu sekali sampai sembuhkenapa kok berbeda antara dipijit sendiri dan menggunakan tenaga ahli pijat?karena teknik dan kemampuan ahli pijat dengan bukan ahli pijat adalah lain hasilnyadan jangan melakukan pemijatan pada pembuluh darah,atau pemijatan yang terlampau keras tekanannya untuk menghindari kerusakan jaringan syaraf yang laindi bawah ini menunjukkan gambar dengan titik hitam yang akan dipijit ,jika mata mengalami kejulingan karena penarikan otot pada mata,pemijatan dilakukan ke arah atas 3x kebawah sekali,carilah titik otot yang terasa nyeri diluar wajar,dan pemijatan titk pada kaki dan tangan juga dimaksudkan agar otot pada selatut mata bisa menutup, karena beberapa kasus bells palsi juga ada yang mengakibatkan tidak normalnya selaput penutup mata dan, mata mengalami kejulingan,dan itupun tergantung pada ,parah atau tidaknya kondisi kerusakan syaraf

tidak disarankan melakukan pemijatan lebih dari 15 menit ,satu titik adalah 5 x pengurutanLAKUKAN KOMPRES DENGAN AIR HANGAT 2 KALI SIANG DAN MALAMLAKUKAN JEMUR PADA PAGI HARI PADA MATAHARI LANGSUNGJIKA ANDA BINGUNG KARENA tak kunjung SEMBUH BISA DATANG PADA KAMItidak ada pantangan makanan, hindari terkena nagin langsung pada wajah ,atau pengaruh ac pada ruangan ,yang langsung pada wajah anda,lakukan olahraga ,agar badan terutama bagian wajah berkeringatHati-Hati Serangan BELL'S PALSY dan Cara Mengobati BELLS PALSY MUKA MENCENG HATI-HATI SERANGAN BELL'S PALSY

Bells Palsy adalah suatu gejala klinis penyakit mononeuropati (gangguan hanya pada satu syaraf) yang menyerang syaraf no.7 (syaraf fascialis). Inti dari syaraf 7 berada di batang otak dan berfungsi untuk mengatur otot pergerakan organ wajah antara lain di daerah mulut seperti meringis, bibir maju ke depan. Pada mata, syaraf ini juga mengatur pergerakan kelopak mata seperti memejamkan mata, pergerakan bola mata serta mengatur aliran air mata. Syaraf ini juga memiliki serabut yang menuju ke kelenjar ludah dan juga pendengaran.Pada kasus Bells Palsy, gangguan pada syaraf ini mengakibatkan tidak dapat mengatur impuls motorik kepada otot karena tersumbat akibat pembengkakan. Akibatnya otot-otot pada organ yang langsung berhubungan dengan syaraf tersebut menjadi tidak berfungsi dan organ pun menjadi lumpuh.Gejala awal Bells Palsy beragam, antara lain mata menjadi kering, telinga bergemuruh, susah mengangkat alis, kelopak mata tidak bisa ditutup, bola mata memutar ke atas dan pada akhirnya kelumpuhan diseparuh wajah.Hingga kini, penyebab penyakit Bells Palsy ini masih dalam penelitian. Beberapa literature menyebutkan penyakit ini disebabkan karena berbagai bentuk virus. Hal lain yang diduga kuat adalah factor genetic yaitu riwayat keluarga yang pernah mengalami Bells Palsy. Dari beberapa penderita menunjukkan Bells Palsy erat hubungannya dengan suhu dan udara dingin.Beruntungnya, penyakit Bells Palsy ini bisa sembuh dengan sendirinya, setelah melalui masa akut selama 7 hari. Bila pada masa itu pasien mendapatkan terapi kortikosteroid, kemungkinan pasien akan total sembuh lebih cepat dan tanpa meninggalkan cacat.Seperti halnya penyakit stroke, pasien Bells Palsy juga disarankan ditangani dalam waktu 72 jam, karena hasil penelitian menunjukkan hasil klinis yang buruk bila ditangani setelah 72 jam.Penanganan terhadap penyakit ini juga harus berhati-hati, karena bila tidak, maka syaraf yang seharusnya mempunyai kemampuan memperbaiki diri, akan mengalami pertumbuhan syaraf yang salah. Selain itu, penanganan yang tidak tepat juga bisa menyebabkan kerakan sinkinesis.Data dari jurnal menunjukkan bahwa 85% penderita penyakit ini bisa sembuh sempurna dalam waktu 3 minggu dan sebanyak 15% sembuh dalam waktu 3-4 bulan dengan atau tanpa cacat yang menyertainya.Untuk itu kita perlu memiliki pengetahuan dan pengenalan yang cukup terhadap penyakit Bells Palsy ini agar bisa menangani secara tepat dan tidak berlebihan karena menduga pasien terkena stroke.

CARA MENGOBATI BELLS PALSY MUKAMENCENG

BANYAK PENYEBAB DARI TIMBULNYA BELLS PALSY ANTARA LAIN1. LEMAHNYA SISTEM OTOT2. KELELAHAN SETELAH BERLAMA LAMA DI DEPAN MONITOR3. TERKENA HAWA DINGIN DALAM WAKTU LAMA,DARI ANGIN MALAM/DALAM RUANGAN BER ac4. BENTURAN KERAS SEHINGGA TERJADI KERUSAKAN JARINGAN SARAF5. DEMAM TINGGI6. STRES OTOT LEHERcara agar terhindar dari bells palsy. lakukan perawatan dengan pijat kebugaran setelah sebulan penuh ,beraktifitas hindari tidur dengan kipas menghadap muka hindari tidur telungkup dan menempel lantai hindari membasuh muka pada saat sehabis olahraga gunakan masker disaat mengendarai kendaraan bermotor dimalam hari jangan melakukan pemijatan jika tidak paham pada saat demam tinggi terutama bagian leher JIKA ANDA MENGALAMINYA TIDAK USAH BINGUNG DAN GUGUP ANDA BISA MELAKUKAN TERAPI SENDIRI DENGAN PEMIJATAN RINGAN,sengaja saya sertakan petunjuk pemijatan lebih detail dari sebelumnya,CARANYA UNTUK BAGIAN MUKA PIPI LAKUKAN URUT DENGAN KRIM PIJAT ATAU LOTION AGAR LICINARAH PEMIJATAN BAGIAN PIPI ADALAH KE BELAKANG DENGAN MENGURUT MEMAKAI EMPAT JARI

pada bagian rahan cobalah buka mulut lebar dan rasakan pada jari anda pada garis ,anda akan merasakan otot yg tegang ,lakukan pengurutan sesuai arah panah,pemijatan atau pengurutan cukup 5 x gerakan, dan pindahkan tangan ke pemijatan yang lain ,dan bisa di pijat lagi berurutan atau bergantian ,/tidak monotontanda titik pada wajah dimaksudkan untuk melakukan penekanan dengan telunjuk agak keras sehingga terasa sakit, LALU UNTUK DAGU LAKUKAN KE BAWAH BERURUTANUNTUK MATA ARAH PEMIJATAN KE BAWAH DAN DI ATAS ALIS DI URUT KE ATAS atau MELINGKARBAGIAN LEHER JUGA DIPIJAT KE BAWAHCARILAH TITIK DI KEPALA BELAKANG KUPING LALU TEKAN TEKAN SAMPAI MENEMUKAN TITIK YG TERASA SAKIT .LAKUKAN PENEKANAN BERULANG2 DENGAN TEKANAN SEDANGJANGAN MELAKUKAN PEMIJATAN PADA SAMPING MATA DENGAN PIJATAN MELINGKAR.LAKUKAN PENEKANAN DENGAN JARI PADA AREA KENING SECARA URUTLAKUKAN JUGA PENEKANAN TITIK CEKUNG PADA SEBELAH HIDUNG DENGAN GERAKAN MELINGKARperiode 1= LAKUKAN PEMIJATAN pada{ pkl 7 } {pkl 11 } {pkl 16} {pkl 19} periode ini lakukan SELAMA 4 hariperiode ke dua = LAKUKAN PEMIJATAN {pkl7} {pkl11} {pkl 16 } periode ini lakukan SELAMA 4 hariperiode 3= HARI SEKALI pada pagi dan teruskan sampai sembuh pada periode ke 3 pemijatan ini tidak lebih dari 15 menitteknik pemijatan di atas pemijatan bukan ahli pijat tetapi pijat diri sendiritetapi jika anda ingin meminta bantuan ahli urut langkahnya berbeda dengan pemijatan yang dilakukan diri sendiri.jika pemijatan dikerjakan oleh ahli urut berikut caranyaperiode pertama pkl 8 pagi dan jangka waktunya adalah .,,, sebagai contohtanggal .1dipijat lagi tanggal 4>8>12>16>20>24>28 jika pemijatan tepat maka kesembuhan penderita bells palsy golongan berat sudah mencapai titik kesembuhan sekitar 60% sd 75%periode kedua pemijatan dilakukan selama seminggu sekali sampai sembuhkenapa kok berbeda antara dipijit sendiri dan menggunakan tenaga ahli pijat?karena teknik dan kemampuan ahli pijat dengan bukan ahli pijat adalah lain hasilnyadan jangan melakukan pemijatan pada pembuluh darah,atau pemijatan yang terlampau keras tekanannya untuk menghindari kerusakan jaringan syaraf yang laindi bawah ini menunjukkan gambar dengan titik hitam yang akan dipijit ,jika mata mengalami kejulingan karena penarikan otot pada mata,pemijatan dilakukan ke arah atas 3x kebawah sekali,carilah titik otot yang terasa nyeri diluar wajar,dan pemijatan titk pada kaki dan tangan juga dimaksudkan agar otot pada selatut mata bisa menutup, karena beberapa kasus bells palsi juga ada yang mengakibatkan tidak normalnya selaput penutup mata dan, mata mengalami kejulingan,dan itupun tergantung pada ,parah atau tidaknya kondisi kerusakan syaraftidak disarankan melakukan pemijatan lebih dari 15 menit ,satu titik adalah 5 x pengurutanLAKUKAN KOMPRES DENGAN AIR HANGAT 2 KALI SIANG DAN MALAMLAKUKAN JEMUR PADA PAGI HARI PADA MATAHARI LANGSUNGJIKA ANDA BINGUNG KARENA tak kunjung SEMBUH BISA DATANG PADA KAMItidak ada pantangan makanan, hindari terkena nagin langsung pada wajah ,atau pengaruh ac pada ruangan ,yang langsung pada wajah anda,lakukan olahraga ,agar badan terutama bagian wajah berkeringat,

Recommended

View more >