Bagaimana Mencegah Peningkatan Ketimpangan dalam Desa? DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Penurunan kemiskinan

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Bagaimana Mencegah Peningkatan Ketimpangan dalam Desa? DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Penurunan kemiskinan

  • c

    Bagaimana Mencegah Peningkatan

    Ketimpangan dalam Desa?

    Nila Warda

    Elza Elmira

    Mayang Rizky

    Rachma Indah Nurbani

    Ridho Al Izzati

    Kertas Kerja SMERU

  • KERTAS KERJA SMERU

    Bagaimana Mencegah Peningkatan Ketimpangan

    dalam Desa?

    Nila Warda

    Elza Elmira

    Mayang Rizky

    Rachma Indah Nurbani

    Ridho Al Izzati

    Editor

    Fandi Muhammad Hizbullah

    Gunardi Handoko

    Wiwin Purbaningrum

    The SMERU Research Institute

    September 2019

  • Bagaimana Mencegah Peningkatan Ketimpangan dalam Desa?

    Penulis: Nila Warda, Elza Elmira, Mayang Rizky, Rachma Indah Nurbani, dan Ridho Al Izzati Editor: Fandi Muhammad Hizbullah, Gunardi Handoko, Wiwin Purbaningrum Foto Sampul: Novita Maizir Data Katalog-dalam-Terbitan The SMERU Research Institute Warda, Nila KERTAS KERJA SMERU: Bagaimana Mencegah Peningkatan Ketimpangan dalam Desa?. / Ditulis oleh Nila Warda; Elza Elmira; Mayang Rizky; Rachma Indah Nurbani; Ridho Al Izzati; Editor Fandi Muhammad Hizbullah; Gunardi Handoko; Wiwin Purbaningrum. v; 40p.; 30 cm. ISBN 978-602-7901-92-6 ISBN 978-602-7901-93-3 (PDF) 1. ketimpangan 2. Perdesaan 3. modal penghidupan I. Judul 362.582 –ddc’23 Diterbitkan Oleh: The SMERU Research Institute Jl. Cikini Raya No.10A Jakarta 10330 Indonesia Cetakan pertama, September 2019

    Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial 4.0 Internasional. Konten SMERU dapat disalin atau disebarluaskan untuk tujuan nonkomersial sejauh dilakukan dengan menyebutkan The SMERU Research Institute sebagai sumbernya. Jika tidak ada kesepakatan secara kelembagaan, format PDF publikasi SMERU tidak boleh diunggah dalam jaringan (daring) dan konten daring hanya bisa dipublikasikan melalui tautan ke situs web SMERU. Temuan, pandangan, dan interpretasi dalam laporan ini merupakan tanggung jawab penulis dan tidak berhubungan dengan atau mewakili lembaga-lembaga yang mendanai kegiatan dan pelaporan The SMERU Research Institute. Untuk mendapatkan informasi mengenai publikasi SMERU, hubungi kami melalui nomor telepon 62-21-31936336, nomor faks 62-21- 31930850, atau alamat surel smeru@smeru.or.id; atau kunjungi situs web www.smeru.or.id.

  • i The SMERU Research Institute

    UCAPAN TERIMA KASIH Kertas kerja ini dapat selesai berkat dukungan berbagai pihak. Untuk itu, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Yayasan TIFA yang telah memfasilitasi terselenggaranya penelitian ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Firman Hidayat, Plt. Kepala Subdirektorat Perencanaan Ekonomi Makro, Bappenas; Sunaji Zamroni, Direktur IRE; Muhammad Syukri, kandidat doktor dari University of Western Australia; dan Harry Seldadyo, dosen Universitas Atmajaya yang telah meninjau substansi hasil studi ini dan turut menyempurnakan kertas kerja ini. Ucapan terima kasih kami sampaikan pula kepada rekan-rekan dari pemerintah dan organisasi nonpemerintah yang telah hadir dalam kelompok diskusi terfokus dan memberikan masukan yang sangat berharga untuk perbaikan dan penajaman temuan studi ini.

  • ii The SMERU Research Institute

    ABSTRAK

    Bagaimana Mencegah Peningkatan Ketimpangan dalam Desa? Nila Warda, Elza Elmira, Mayang Rizky, Rachma Indah Nurbani, dan Ridho Al Izzati

    Studi ini ditujukan untuk mengetahui faktor-faktor yang secara signifikan menentukan ketimpangan ekonomi di desa-desa di Indonesia. Studi ini menganalisis data-data sekunder dalam periode 2000– 2010 dengan menggunakan model first-difference. Ketimpangan dalam desa diukur melalui indeks Gini pengeluaran yang bersumber dari Peta Kemiskinan Indonesia 2000 dan Peta Kemiskinan dan Penghidupan Indonesia 2010. Faktor-faktor penentu ketimpangan diukur melalui berbagai indikator yang menggambarkan kondisi modal penghidupan di desa yang disusun dari data Sensus Penduduk 2000 dan 2010, serta data Potensi Desa 2000 dan 2011. Analisis heterogenitas juga diterapkan untuk melihat variasi ketimpangan antarkelompok wilayah, yaitu (i) antara Indonesia bagian barat dan timur dan (ii) antara Pulau Jawa dan non-Jawa, serta antarpola penghidupan. Studi ini menemukan bahwa sebagian besar indikator pembangunan ekonomi dan sosial berkorelasi dengan tingkat ketimpangan yang lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi desa, beragamnya sektor pekerjaan, keberadaan kompleks pertokoan, perbaikan akses masyarakat terhadap air minum layak, dan pembangunan saluran irigasi di desa, serta aksi kolektif masyarakat merupakan indikator-indikator yang secara signifikan berkorelasi dengan ketimpangan yang lebih tinggi. Hanya 4 dari 23 indikator berkorelasi dengan ketimpangan yang lebih rendah, yaitu (i) akses rumah tangga terhadap listrik yang lebih baik, (ii) rasio fasilitas kesehatan terhadap jumlah penduduk yang lebih kecil, (iii) rata-rata lama sekolah masyarakat desa yang lebih tinggi, dan (iv) keberadaan koperasi di desa. Hal ini menunjukkan bahwa upaya afirmatif diperlukan untuk pemerataan akses masyarakat terhadap layanan dasar dan kesempatan untuk memanfaatkan hasil pembangunan. Untuk mengendalikan ketimpangan dalam desa, diperlukan pula pemahaman mengenai hierarki sosial masyarakat desa yang berpotensi menghambat peningkatan kesejahteraan kelompok termiskin. Kata kunci: ketimpangan dalam desa, perdesaan, modal penghidupan

  • iii The SMERU Research Institute

    DAFTAR ISI

    UCAPAN TERIMA KASIH i

    ABSTRAK ii

    DAFTAR ISI iii

    DAFTAR GAMBAR iv

    DAFTAR LAMPIRAN iv

    DAFTAR SINGKATAN DAN AKRONIM v

    I. PENDAHULUAN 1

    II. TINJAUAN PUSTAKA 3 2.1 Pembangunan dan Ketimpangan 3 2.2 Modal Penghidupan dan Ketimpangan 4

    III. METODOLOGI 9 3.1 Data 9 3.2 Metode 11

    IV. HASIL DAN DISKUSI 13 4.1 Analisis Deskriptif 13 4.2 Analisis Inferensial 14 4.3 Diskusi 16

    V. KESIMPULAN 23

    DAFTAR ACUAN 24

    LAMPIRAN 31

  • iv The SMERU Research Institute

    DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Penurunan kemiskinan dan tingkat ketimpangan di perdesaan Indonesia 1

    Gambar 2. Kurva Kuznets 4

    Gambar 3. Hasil estimasi tingkat ketimpangan dalam desa (seluruh sampel) 15

    DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Tabel A1. Statistika Deskriptif 32

    Lampiran 2 Tabel A2. Hasil Estimasi Model OLS 34

    Lampiran 3 Tabel A3. Hasil Estimasi Metode Bootstrap 37

  • v The SMERU Research Institute

    DAFTAR SINGKATAN DAN AKRONIM

    BLT Bantuan Langsung Tunai

    BPR Bank Perkreditan Rakyat

    BPS Badan Pusat Statistik

    DFID Department for International Development

    EDI indeks keragaman ekonomi (economic diversity index)

    KDP Kecamatan Development Program

    OLS kuadrat terkecil biasa (ordinary least square)

    PKKPM Peningkatan Kesejahteraan Keluarga melalui Pemberdayaan Masyarakat

    PNPM Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat

    Podes Pendataan Potensi Desa

    P2B Program Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan

    Raskin Beras untuk Rumah Tangga Miskin

    Riskesdas Riset Kesehatan Dasar

    SAE estimasi wilayah kecil (small area estimation)

    Sakerti Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia

    SD sekolah dasar

    SDA sumber daya alam

    SDM sumber daya manusia

  • 1 The SMERU Research Institute

    I. PENDAHULUAN Meskipun tingkat kemiskinan nasional menurun secara drastis selama satu dekade terakhir, tingkat kemiskinan di perdesaan masih belum mengalami penurunan serupa. Tingkat kemiskinan di perdesaan pun dua kali lipat lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan di perkotaan. Rata-rata penurunan kemiskinan tahunan di perdesaan juga lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan dan paling rendah di tingkat nasional. Dalam empat tahun terakhir (2013–2016), tingkat kemiskinan di perdesaan rata-rata hanya menurun sebesar 0,06 titik persentase. Sementara itu, tingkat kemiskinan di perkotaan mengalami penurunan rata-rata tahunan paling tinggi, yaitu 0,21 titik persentase, dan disusul tingkat kemiskinan nasional dengan penurunan tahunan sebesar 0,17 titik persentase. Tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan di perdesaan pun terus naik dalam periode yang sama. Indeks kedalaman kemiskinan (P1) di perdesaan yang terus meningkat menggambarkan makin jauhnya rata-rata konsumsi masyarakat miskin dari batas kemiskinan berdasarkan tingkat konsumsi bulanan. Lebih parah lagi, di antara masyarakat miskin perdesaan sendiri pun terjadi ketimpangan distribusi tingkat konsumsi yang ditunjukkan oleh peningkatan indeks keparahan kemiskinan (P2). Secara ironis, indikator yang sama di wilayah perkotaan mengalami tren penurunan dan cenderung stagnan pada skala nasional. Dengan kronisnya kondisi kemiskinan dan tingginya persentase penduduk miskin di perdesaan (lebih dari 60%), upaya penanggulangan kemiskinan di perdesaan mutlak diperlukan untuk menurunkan tingkat kemiskinan nasional.

    Gambar 1. Penurunan kemiskinan dan tingkat ketimpangan di perdesaan Indonesia Sumber: Data penurunan kemiskinan di perdesaan diperoleh dari Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) 2005–2017.

    Data tingkat ketimpangan di perdesaan diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), 2018.

    Beberapa studi menemukan bahwa ketimpangan merupakan faktor penting di balik perlambatan laju penurunan kemiskinan. Suryahadi, Suryadarma, dan Sumarto (2009) menemukan bahwa ketimpangan melemahkan kemampuan pertumbuhan ekon