of 19 /19
BAB V MATERIAL CONTROL | 25 BAB V MATERIAL CONTROL Divisi material control adalah divisi yang bertugas memeriksa kebutuhan material pada proyek yang sedang dibangun. Material control pada proyek pembangunan Centennial Tower adalah divisi baru dari PT. ACSET. Tujuan dari dibentuknya divisi ini adalah agar penggunaan material dapat sesuai dengan kebutuhan guna tercapai nilai yang lebih efisien. Karena pelaksanaan proyek yang baru berjalan 6 bulan dan pembangunan baru dilakukan pada basement 3, 2, dan 1, material yang sudah dikontrol sampai pada tahap ini adalah batako dan besi. Namun dalam pelaksanaan Kerja Praktek ini, material lebih terfokus pada penggunaan besi karena masih dalam pekerjaan struktur. Sedangkan pengontrolan untuk batako sudah dilakukan sebelum penulis melakukan kerja praktek di proyek pembangunan Centennial Tower. A. Pengontrolan Besi di Lapangan Pemeriksaan material yang dilakukan adalah dalam segi kuantitas, baik kuantitas yang ada di lapangan maupun kuantitas yang diperlukan dalam pembuatan struktur. Untuk besi, pengontrolan di lapangan adalah

Bab V Lap KP

Embed Size (px)

DESCRIPTION

KP Centennial Tower

Citation preview

Page 1: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 25

BAB V

MATERIAL CONTROL

Divisi material control adalah divisi yang bertugas memeriksa kebutuhan

material pada proyek yang sedang dibangun. Material control pada proyek

pembangunan Centennial Tower adalah divisi baru dari PT. ACSET. Tujuan dari

dibentuknya divisi ini adalah agar penggunaan material dapat sesuai dengan

kebutuhan guna tercapai nilai yang lebih efisien.

Karena pelaksanaan proyek yang baru berjalan 6 bulan dan pembangunan

baru dilakukan pada basement 3, 2, dan 1, material yang sudah dikontrol sampai

pada tahap ini adalah batako dan besi. Namun dalam pelaksanaan Kerja Praktek

ini, material lebih terfokus pada penggunaan besi karena masih dalam pekerjaan

struktur. Sedangkan pengontrolan untuk batako sudah dilakukan sebelum penulis

melakukan kerja praktek di proyek pembangunan Centennial Tower.

A. Pengontrolan Besi di Lapangan

Pemeriksaan material yang dilakukan adalah dalam segi kuantitas, baik

kuantitas yang ada di lapangan maupun kuantitas yang diperlukan dalam

pembuatan struktur. Untuk besi, pengontrolan di lapangan adalah dengan

menghitung jumlah besi yang ada di tiap zona. Zona yang ada terbagi menjadi

zona A, B, C, D, E, F, G, H, dan podium. Berikut adalah gambaran dari zona-zona

yang ada di lokasi proyek untuk penempatan besi.

Gambar 5.1. Zona penempatan besi

Page 2: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 26

Untuk mendapatkan jumlah besi yang ada di lokasi proyek, perhitungan

dilakukan pada tiap zona. Jumlah ditentukan dalam batang dan ikat. Untuk batang,

besi dihitung satu persatu. Untuk ikat jumlah besi sudah ditentukan dalam tiap

ikat. Jumlah tiap ikat untuk masing-masing diameter berbeda-beda.

Dari bab sebelumnya, sudah diketahui bahwa besi didatangkan dari Master

Steel dan Toyo Giri Steel. Jumlah tiap batangnya dalam satu ikat pun berbeda

untuk masing-masing merk tersebut. Jumlah tiap ikatnya dapat dilihat pada tabel

berikut :

Tabel 5.1 Jumlah besi untuk merk Master Steel

Diamater (mm) Jumlah dalam 1 ikat Berat (ton)

32 30 2,2

29 40 2,5

25 50 2,3

22 70 2,5

19 100 2,6

16 150 2,8

13 200 2,5

10 300 2,2

Tabel 5.2 Jumlah besi untuk merk Toyo Giri Steel

Diamater (mm) Jumlah dalam 1 ikat Jumlah besi dalam 1

bendel (batang)

32 4 -

29 5 -

25 6 -

22 8 -

19 10 120

16 15 180

13 20 240

Page 3: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 27

10 25 400

Dengan adanya jumlah-jumlah tersebut dapat memudahkan dalam proses

rekapitulasi jumlah besi yang tersedia. Pengecekan di lapangan dilakukan 2 atau 3

hari sekali. Berikut ini adalah contoh hasil rekapitulasi dari pengecekan di

lapangan :

Tabel 5.3 Rekapitulasi pengecekan besi di lapangan

LOKASI

UKURAN

32 29 25 22 19 16 13 10

Ikatbtng Ikat

btng Ikat

btng Ikat

btng Ikat

btng Ikat

btng Ikat btng Ikat

btng

A  26  15  84  46

B  45  53  2  78  33

C  47 32 25  44  66

D  19 8  87  87  4T 7 T

E  22  56  46  43 4T  13

F  31 12  22 21 64

G1  26  23 34T  2T  56

G2  15  31 32T  53T

H  44 63 34  46 32

Podium  47  57  20  39

Pada tabel di atas, dapat dilihat jumlah besi dalam hitungan ikat dan

batang. Jika dalam hitungan ikat, maka perlu dikalikan dengan jumlah yang ada

pada tabel 5.1 atau 5.2. Untuk keterangan “T” adalah besi dengan Merk Toyo Giri

Steel, sedangkan yang tidak memiliki keterangan merupakan Merk Master Steel.

Page 4: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 28

Selain melakukan pemeriksaan jumlah besi di lapangan, penulis juga

mengontrol kebutuhan besi untuk slab, balok, dan kolom. Pada pengontrolan ini,

dibutuhkan beberapa parameter untuk mendapatkan jumlah besi yang diperlukan

untuk tiap lantai. Parameter-parameter itu antara lain panjang, jumlah dan berat

per batang besi.

Tabel 5.4 Berat besi per batang

DESCRIPTIONWEIGHT

(kg/pc)UNIT

DIA.32 MM 75.76 kg

DIA.29 MM 62.28 kg

DIA.25 MM 46.20 kg

DIA.22 MM 35.76 kg

DIA.19 MM 26.76 kg

DIA.16 MM 18.96 kg

DIA.13 MM 12.48 kg

DIA.10 MM 7.40 kg

Panjang untuk tiap batang besi adalah 12 meter. Oleh karena itu, untuk

mendapatkan berat batang yang digunakan adalah :

Berat perlu=Panjang perlu12

x Berat /batang

Keterangan : Panjang perlu diperoleh dari gambar yang ada

B. Pembesian Slab

Page 5: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 29

Untuk mendapatkan berat perlu besi pada slab, sebelumnya dicari panjang perlu

dari tiap jenis slab di tiap lantai. Terdapat beberapa jenis slab untuk tiap lantainya.

Contoh untuk salah sau jenis slab dapat dilihat pada gambar berikut dan lebih

lengkapnya dapat dilihat pada lampiran :

Gambar 5.2 Pembesian Slab Basement 2 Tipe FS20

Dari gambar tersebut, kita bisa mendapatkan panjang perlu dengan melihat besi

yang ada di 0,25L dan 0,5L. Untuk lebih jelasnya, kita dapat meihat contoh

perhitungan berikut ini dari gambar di atas :

Arah Vertikal

Horizontal

Vertikal

Page 6: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 30

1. 0,25L

D13-100

4 x (0,25 x 7500 : 100) x (0,25 x 8000 + 200) = 165 m

D10-300

2 x (0,25 x 7500 : 300) x (0,5 x 8000 + 2 x 200) = 55 m

D13-125

2 x (0,25 x 7500 : 125) x 8000 = 240 m

2. 0,5L

D10-300

(0,5 x 7500 : 300) x (0,5 x 8000 + 2 x 200) = 55 m

D13-350

(0,5 x 7500 : 350) x (0,5 x 8000 + 2 x 200) =47,14 m

D13-150

2 x (0,5 x 7500 : 150) x (0,25 x 8000 + 200) = 110 m

D13-350

(0,5 x 7500 : 350) x 8000 = 85,71 m

Arah Horizontal

1. 0,25 L

D13-125

4 x (0,25 x 8000 : 125) x (0,25 x 7500 + 200) = 132,80 m

D10-300

2 x (0,25 x 8000 : 300) x (0,5 x 7500 + 2 x 200) = 55,33 m

D13-150

2 x (0,25 x 8000 : 150) x 7500 = 200 m

2. 0,5 L

D10-300

(0,5 x 8000 : 300) x (0,5 x 7500 + 2 x 200) = 55,33 m

D13-175

2 x (0,5 x 8000 : 175) x (0,25 x 7500 + 200) = 94,86 m

Page 7: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 31

D13-400

(0,5 x 8000 : 400) x (0,5 x 7500 + 2 x 200) = 41,50 m

D13-400

(0,5 x 8000 : 400) x 7500 = 75 m

Setelah mendapatkan panjang perlu, kita bisa mendapatkan berat perlu

dengan mengalikannya dengan berat perbatang untuk masing-masing diameter :

Untuk D10 dengan berat perbatang 7,40 kg/pc, kita mendapatkan berat

perlu :

Panjang perlu = 55 + 55 + 55,3 + 55,3 = 220,66 m

Berat perlu = 220,66 : 12 x 7,40 = 136,07 kg

Untuk D13 dengan berat perbatang 12,48 kg/pc, kita mendapatkan berat

perlu :

Panjang perlu = 165 + 240 + 47,14 + 110 + 85,71 + 132,80 + 200 + 94,86

+ 41,50 + 75 = 1192,01 m

Berat perlu = 1192,01 : 12 x 12,48 = 1239,69 kg

Dengan luas slab 8 m x 7,5 m = 60 m2, maka kebutuhan besi untuk slab

tipe FS20 adalah 1239,69 : 60 = 20,66 kg/m2.

Perhitungan dilakukan untuk masing-masing tipe slab. Setelah

mendapatkan semuanya, maka akan didapatkan total berat keseluruhan. Setelah

itu kita bisa mendapatkan prosentase berat masing-masing diameter sebagai acuan

kita dalam pemesanan besi. Contoh perhitungan slab untuk satu lantai dapat

dilihat pada lampiran.

C. Pembesian Balok

Page 8: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 32

Hampir sama dengan pembesian pada slab, perhitungan untuk pembesian

balok juga memerlukan, panjang, berat perbatang, serta jumlah besi yang

diperlukan. Dalam hal ini, penulis menghitung kebutuhan besi untuk balok yang

ada di basement 2. Tipe balok yang ada pada basement juga sangat beragam yang

dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 5.3 Detail Beberapa Tipe Balok Pada Basement 2

Berikut ini adalah cara perhitungan panjang besi :

Pada perhitungan ini, selimut beton adalah 25 mm.

Top

2 x (tebal balok – 2 x selimut beton) + (panjang balok – selimut beton)

Bottom

Panjang balok – 2 x selimut beton + 2 x 50 mm

Sengkang

2 x [(tebal balok – 2 x selimut beton) + (lebar balok – 2 x selimut beton) +

50 mm)].

Diatas, terdapat nilai 50 mm yang berasal dari besi yang dibengkokkan

untuk kedua ujungnya.

Page 9: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 33

Panjang besi yang didapat juga ditentukan oleh kondisi di ujung –

ujung balok. Kondisi diujung balok bisa berupa balok lain, kolom, atau

shear wall. Dengan kondisi tersebut, maka panjang besi ditambah dengan

lebar kolom atau shear wall atau balok lain dikurangi dengan selimut

beton sebesar 25 mm atau ditambah sebesar 40D (40 x diameter tulangan).

Kondisi yang lain adalah ketika tipe balok memiliki tulangan tengah atau

tulangan pinggang. Untuk tulangan tengah, kedua ujungnya ditambahkan

dengan 40D. sedangkan untuk tulangan pinggang dihitung dengan cara 14

bentang balok + 40D. Berikut adalah contoh perhitungan panjang balok

pada basement 2 dengan tipe balok B24 :

Gambar 5.4 Detail Balok Basement 2 Tipe B24

Gambar 5.5 Panjang Balok Tipe B24 Pada Denah Balok Basement 2

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Balok B24

Tulangan utama B24

Sengkang Balok B24

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Panjang Balok Tipe B24 = 2387 mm

Page 10: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 34

Dari Gambar 5.4, kita dapat melihat penampang melintang bagian

kiri, tengah, dan kanan balok tipe B24 yang memiliki dimensi 200 x 400

mm. Pada balok tersebut digunakan tulangan ulir dengan diameter 16 mm

untuk tulangan utama dan diameter 10 mm untuk sengkang. Cara

menghitung kebutuhan besi pada balok tersebut ialah :

Top

Panjang perlu = 2 x (400 – 2 x 25) + (2387 + 175 + 275) = 3537 mm

Bottom

Panjang perlu = 2387 + 175 + 275 + (2 x 50) = 2937 mm

Sengkang

Panjang perlu = 2 x ( 400 – 2 x 25 + 200 – 2 x 25 + 50) = 1100 mm

Tebal balok

Selimut beton

Panjang balok

Tebal balok lain di ujung – selimut beton

Panjang balok

Tebal balok lain di ujung – selimut beton

Besi yang dibengkokkan

Lebar balok

Selimut betonBesi yang dibengkokkan

Tebal balok

Page 11: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 35

Setelah mendapatkan panjang besi dari tiap tipe dan bentang balok, kita

bisa mendapatkan berat besi yang diperlukan untuk tiap balok dengan diameter

masing-masing. Dari hitungan di atas, diperoleh berat :

Top

(3537 : 1000) m x 18,96 kg : 12 m = 5,588 kg

Volume = 5,588 x 3 = 16,77 kg

Bottom

(2937 : 1000) m x 18,96 kg : 12 m = 4,640 kg

Volume = 4,640 x 3 = 13,92 kg

Sengkang

(1100 : 1000) m x 7,40 kg : 12 m = 0,678 kg

2387 : 150 = 15,91 buah ≈ 16 buah sengkang

Volume = 0,678 x 16 = 10,85 kg

Jadi, volume total untuk 1 balok tipe B24 dengan bentang 2387 mm pada

basement 2 adalah 16,76 + 13,92 + 10,85 = 41,54 kg

Perhitungan yang serupa juga dilakukan untuk semua jenis tipe balok di

tiap lantai. Setelah itu seluruh volume besi untuk tiap diameter yang sama

dijumlahkan untuk mendapatkan prosentase jumlah besi yang diperlukan untuk

diameternya. Sebagai contoh, dibutuhkan 72% D19, 4,5% D16, dan 23,5% D10

untuk basement 2. Selain itu kita juga menghitung volume balok (tebal x lebar x

bentang balok) sebagai pembanding untuk mendapatkan berat besi yang

diperlukan untuk 1 m3 balok (kg/m3) dengan membagi volume total besi dengan

volume total balok.

D. Pembesian Kolom

Tidak begitu berbeda dengan balok, perhitungan untuk pembesian kolom

juga hampir sama. Diperlukan, panjang, berat perbatang, serta jumlah besi untuk

mendapatkan volume besi. Pada kolom terdiri dari tulangan utama, sengkang, dan

tulangan sepihak. Contoh detail penulangan kolom dapat dilihat pada gambar

berikut ini :

Page 12: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 36

Gambar 5.6 Detail Penulangan Kolom Basement 3 – Ground Floor Tipe C8

Untuk perhitungan panjang perlu kolom dapat dilihat pada contoh berikut ini :

Gambar 5.7 Detail penulangan Kolom C11 (2)

Page 13: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 37

Panjang perlu untuk tipe kolom C11 (2) dihitung dari stek kolom pada pile

cap sampai dengan basement 1.

Stek kolom

8D22

L = 270 + 2590 = 2860 mm

8D19

L = 230 + 2310 = 2540 mm

Sengkang (D13 – 125)

L = 4 x (600 – 2 x 25) + 2 x 50 = 2300 mm

Jumlah sengkang = 300 : 125 = 2,4 ≈ 3 buah

Basement 3 – basement 1

8D22

L = 8000 mm

8D19

L = 7880 mm

Sengkang (D13 – 125)

L = 4 x (600 – 2 x 25) + 2 x 50 = 2300 mm

Jumlah sengkang = 8000 : 125 = 64 buah

Tulangan sepihak (D13 – 125)

L = 600

Jumlah tulangan = 2 x 64 = 128 buah

Page 14: Bab V Lap KP

B A B V M A T E R I A L C O N T R O L | 38

Setelah didapatkan panjang perlu, dapat diperoleh volume besi untuk kolom C11

(2) untuk basement 3 hingga basement 1 , yaitu :

Stek kolom

Volume = 8 x 2860 : 1000 : 12 x 35,76 = 68,18 kg

Volume = 8 x 2540 : 1000 : 12 x 26,76 = 45,31 kg

Volume = 3 x 2300 : 1000 : 12 x 12,48 = 7,18 kg

Basement 3- basement 1

Volume = 8 x 8000 : 1000 : 12 x 35,76 = 190,72 kg

Volume = 8 x 7880 : 1000 : 12 x 26,76 = 140,58 kg

Volume = 64 x 2300 : 1000 : 12 x12,48 = 153,10 kg

Volume = 128 x 650 x 1000 : 12 x 12,48 = 86,53 kg

Jadi, volume total besi untuk satu kolom Tipe C11 (2) yang dibangun dari

pile cap hingga basement 1 adalah 691,42 kg. Setelah volume besi dari semua

kolom yang ada didapatkan, maka kita dapat mendapatkan total volume besi dari

pile cap hingga basement 1.

Perhitungan di atas adalah beberapa contoh perhitungan yang dikerjakan

oleh divisi material control. Dalam pengerjaan suatu konstruksi, sebagai

contohnya adalah besi, terdapat waste (besi yang dilebihkan) yang besarnya 2,5%

- 3%. Hal tersebut dimaksudkan untuk pengerjaan yang menyisakan bentang besi

yang tidak dapat dipakai kembali.