BAB IV PENDEKATAN KRITIK SENI PADA SENI RUPA · PDF filePENDEKATAN KRITIK SENI PADA SENI RUPA MODERN INDONESIA ... tema dan karya seni rupa serta gagasan seni/estetika Islam. ... ANALISA

  • View
    265

  • Download
    12

Embed Size (px)

Text of BAB IV PENDEKATAN KRITIK SENI PADA SENI RUPA · PDF filePENDEKATAN KRITIK SENI PADA SENI RUPA...

  • 80

    BAB IV

    PENDEKATAN KRITIK SENI PADA SENI RUPA MODERN INDONESIA

    BERNAFASKAN ISLAM:

    FESTIVAL ISTIQLAL I 1991 DAN FESTIVAL ISTIQLAL II 1995

    Telah diurai dan dijelaskan sebelumnya, jika Festival Istiqlal I dan II merupakan

    tonggak penting berkibarnya gagasan seni Islam pada perkembangan sejarah seni rupa

    modern Indonesia. Pada kenyataannya, baik peristiwa Festival Istiqlal I dan II, di

    samping upaya untuk memperkenalkan hasil-hasil kebudayaan dan kesenian Islam yang

    telah diperoleh dari masa lalu hingga zaman modern yang terjadi di bumi nusantara.

    Secara teoritis, Festival Istiqlal juga merupakan sebuah tawaran wacana dari

    kemungkinan-kemungkinan yang muncul dari apa yang disebut sebagai gerakan gagasan

    seni Islam, khususnya yang terjadi di Indonesia (A.D Pirous, Kertas Kerja Tim 7 Pada

    Bagian Seni Rupa Modern Indonesia, 1991).

    Adalah suatu kenyataan praktik, jika landasan yang diacu dalam peristiwa

    Festival Istiqlal I dan II merupakan rumusan formulasi gagasan seni Islam secara

    konseptual. Rumusan tim 7 contohnya, merupakan landasan bagaimana praktik dan

    gagasan seni rupa Islam di nusantara bertujuan bisa dimaknai lebih terbuka sekaligus

    egaliter. Asumsi dari persoalan ini, menegaskan bahwa masalah ekspresi estetik seni

    Islam di Indonesia sesungguhnya berbeda dengan ekspresi estetik di negara-negara Islam

    lainnya, begitu pun sebaliknya. Ada situasi faktor-faktor sejarah budaya dan sosial yang

    jelas berbeda menaungi terhadap masalah-masalah tersebut. Dasar dari masalah ini,

    bertumpu pada keyakinan bahwa ekspresi seni Islam yang berlaku di negara-negara Islam

    tersebut, hanyalah bagian dari ekspresi kultural yang meniscayakan perbedaan satu-sama

    lainnya. Di situlah perlu ditekankan perbedaan bukan pada nilai Islam yang diacunya ,

    melainkan perbedaaan pada ekspresi kultural yang terjadi di masing-masing negara

    Islam.

  • 81

    Masalah dinamika ke-Islaman pada seni rupa kontemporer Indonesia itu sudah lama

    berlangsung, muncul dan terjadi tidak kurang dari 30 tahun. Meskipun demikian,

    kecenderungan ke-Islaman itu, hingga kini masih belum dipahami maknanya dalam

    konteks perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia (Tradisi dan Inovasi KeIslaman

    Dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia dan Kaligrafi hingga Representasi, Bayt Al-

    Quran & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, 20 April-20 Juli 1997).

    Pengertian seni rupa kontemporer sendiri adalah jenis seni rupa yang saat ini telah

    menjadi fenomena internasional. Dalam beberapa catatan diterangkan, bahwa jenis seni

    rupa ini pada mulanya tumbuh dan berkembang bersama gelombang perubahan yang

    lebih luas, mencakup bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya semenjak awal abad 20.

    Proses perubahan itu, di negara-negara berkembang sering disebut dengan istilah

    modernisasi, industrialisasi dan pembangunan.

    Oleh karena itu, jenis seni rupa ini juga sering disebut dengan istilah seni rupa

    modern. Istilah seni rupa kontemporer, bisa dikatakan muncul dan menunjuk pada

    kecenderungan pada dinamika jenis seni rupa yang sezaman dengan gelombang

    perubahan yang berskala global. Masalah-masalah ini muncul diakibatkan seni rupa

    kontemporer menjadi fenomena dunia, dalam konteks tersebut bias budaya Barat nampak

    kuat. Wacana-wacana intelektual dalam paruh ini mengelilingi misalnya:

    mempertentangkan Barat-Timur, Universal-Nasional, Modern-Tradisi.

    Di Indonesia perkembangan seni rupa kontemporer yang mempunyai gagasan

    Islam, berkembang pada tahun 1970. Seni rupa kontemporer Islam ini memunculkan

    kecenderungan baru, yaitu masuknya unsur-unsur ke-Islaman seperti kaligrafi Islam dan

    pilihan gaya seni abstrak. Kecenderungan ini makin meluas memasuki dekade 80-an dan

    90-an, melibatkan banyak seniman muda. Demikian pula, pilihan gaya pada

    kecenderungan seni rupa kontemporer bernafas Islam itu tidak terbatas pada gaya

    kaligrafi Islam dan abstrak meditatif saja, tetapi meluas pada gaya ekpresif, simbolis,

    hingga instrumental (baik realisme maupun surealisme).

  • 82

    Rupanya tidak hanya di Indonesia, gelombang gagasan seni Islam itu secara

    serentak terjadi juga di kawasan Asia Tenggara lainnya misalnya di Malaysia, yang

    secara lamat-lamat sudah mulai nampak pada awal tahun 1970. Kemudian, secara terbuka

    tumbuh pada akhir 1970 (Rezda Piyadasa :1993). Fenomena ini diawali oleh

    perkembangan policy baru dalam bidang ekonomi dari pihak pemerintah Malaysia. Awal

    kejadiannya pada tahun 1971, lewat sebuah kongres nasional kebudayaan, yang

    diselenggarakan di Kuala Lumpur, yang pada saat itu hadiri sejumlah kaum intelektual,

    akademisi, seniman, arsitek, musisi, penulis, dan para profesional. Mereka telah sepakat

    untuk merumuskan policy baru terhadap praktik budaya yang sedang terjadi di Malaysia .

    Hasilnya, adalah kesepakatan tentang masyarakat multi-etnis (multiracial-society).

    Kecenderungan gerakan gagasan seni Islam di Malaysia, diakibatkan oleh

    munculnya ketidakpuasan para seniman-seniman muslim Malaysia terhadap modernisme

    Barat yang dinilai materialistis sehingga bisa membahayakan pandangan dunia Islam

    (Islamic world-view ) (Rezda Piyadasa :1993). Pada kenyataan situasi seperti itu, bisa

    dimaknai bahwa perkembangan seni rupa modern baik yang terjadi di Indonesia maupun

    yang terjadi di Malaysia, merasakan adanya upaya dominasi dari modernitas Barat yang

    secara umum juga melanda kawasan Asia Pasifik. Bagi kritikus seni Apinan Poshyananda

    persoalan perkembangan seni rupa demikian tidak mungkin dipahami lewat jendela

    paradigma Eropa dan Amerika (Caroline Turner :1993).

    Dalam perjalanan panjang sejarah seni rupa modern Indonesia selanjutnya .

    Gagasan ke-Islaman mulai menancapkan fenomena yang besar pada saat peristiwa

    Festival Istiqlal I tahun 1991 yang kemudian disusul Festival Istiqlal II tahun 1995.

    Festival Istiqlal merupakan peristiwa pameran seni rupa modern yang memuat isu ke-

    Islaman dan identitas Islam, yang pada masa orde baru dilaksanakan secara bergilir dan

    tetap sebagai peristiwa budaya dan seni yang digiatkan 4 tahun sekali.

    Masalah-masalah pokok dan substantif yang terangkum dan dapat dianalisa pada

    tampilnya kedua Festival Istiqlal tersebut, pada akhirnya bagi penulis sendiri bisa diteliti

  • 83

    dalam dua arah sekaligus. Pertama, Festival Istiqlal sebagai pergulatan konteks masalah

    internal yang bertaut pada pokok-pokok estetik karya seni rupa meliputi: medium, teknik,

    tema dan karya seni rupa serta gagasan seni/estetika Islam. Pada pokok estetik ini

    meskipun tidak seluruhnya diulaspenulis akan meninjau beberapa kasus karya seniman

    yang tampil pada kedua Festival Istiqlal. Pemilihan seniman-seniman tersebut,

    dipertimbangkan dengan alasan keikutsertaan pada kedua pameran Festival Istiqlal I 1991

    & II 1995, dan kecenderungan tawaran estetik yang ditampilkan. Kedua, dalam konteks

    eksternal atau non-estetik, Festival Istiqlal dilihat sebagai hasil dari konstruksi-konstruksi

    kepentingan yang meliputi persoalan publik Islam, panitia Istiqlal, politik kekuasaan,

    serta persoalan identitas Islam dalam modernitas.

    Estetik Non-Estetik

    FESTIVAL

    ISTIQLAL

    I 1991 DAN II 1995

    1. Medium

    2. Teknik

    3. Tema dan Gagasan

    4. Karya seni rupa

    1. Publik Islam

    2. Panitia Istiqlal

    3. Politik

    4. Identitas Islam dan Modernitas

    Gambar 4.1

    Konteks Penelitian Festival Istiqlal 1991 dan 1995

    4.1 Pendekatan Kritik Seni pada Pameran Seni Rupa Modern Islam Festival Istiqlal

    Sudah dipaparkan pada bab sebe lumnya apa yang bisa kita maknai dari tampilnya

    kedua Festival Istiqlal tersebut yaitu adalah persoalan makna kebedaan dalam memaknai

    gagasan seni rupa modern Islam di tanah air. Masalahnya , baik pada Festival Istiqlal I

    1991 dan Festival Istiqlal II 1995, ditemukan keragaman corak ekpresinya yang tidak

    terkira dan kepelbagaian kecenderungan estetiknya ternyata juga memperlihatkan bahwa

    karya-karya ini tidak lahir dari sumber pandangan atau wawasan estetika Islam yang

    tunggal.

  • 84

    Pada pameran seni rupa modern di Festival Istiqlal I 1991, para seniman muslim

    sudah menampilkan karya lama dan karya baru, yang ternyata tidak terbatas hanya pada

    kaligrafi, arabesque (ragam hias tetumbuhan) dan geometri. Seperti apa yang sering

    dikemukakan oleh peneliti seni Islam orientalis Thomas W. Arnold, bahwa subject matter

    seni Islam kerap berdekatan pada masalah-masalah kaligrafi, arabesque, dan geometri

    (Thomas Arnold :1965). Sementara, dalam kedua Festival Istiqlal tersebut, karya seni

    rupa Islam berbagai medium dan gaya kemudian tampil seperti: lukisan- lukisan figuratif

    dan pemandangan alam, yang realis maupun semirealis juga dipamerkan. Di temukan

    juga ada di antaranya yang cenderung impresionis dan ekspresionis. Soal demikian, pada

    kenyataannya tidak semuanya dapat diakui sebagai bentuk-bentuk ekspresi estetik seni

    Islam, tetapi semua itu membuktikan keanekaragaman wawasan estetika Islam yang

    mendasari penciptaannya.

  • 85

    FESTIVAL ISTIQLAL I 1991 FESTIVAL ISTIQLAL II 1995

    Konsep 1. Seni rupa modern yang hendaknya

    dipahami sebagai suatu bagian kepentingan dari konstelasi dunia seni rupa secara menyeluruh.

    2. Indonesia dalam bagian kepentingan

    yang men

Search related