BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4 - IV.pdfBAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4 - IV.pdfBAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil...

37

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pembelajaran yang diterapkan pada penelitian guna meningkatkan kreatifitas dan

prestasi belajar dalam pemecahan masalah matematika adalah pembelajaran kooperatif

model cooperative script yaitu siswa dibagi berpasangan pada saat pembelajaran dan

diberi peran sebagai pendengar serta pembicara, untuk kemudian mereka melaksanakan

peran yang ditentukan guna mencapai pembelajaran yang efektif. Pembagian siswa

secara berpasangan ditentukan oleh guru matematika berdasarkan rata-rata kemampuan

siswa, yaitu setiap pasangan terdiri dari satu siswa yang mempunyai kemampuan

akademik lebih di banding pasangannya. Pengumuman pembagian pasangan dilakukan

pada awal pembelajaran matematika pertemuan I siklus I. Jumlah seluruh siswa kelas V

SDN Salatiga 08 adalah 40 siswa tetapi dalam penelitian kali ini data yang akan digunakan

adalah data siswa selama pertemuan pertama sampai pertemuan kedua. Penelitian

tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2012 sampai 10 Maret 2012 dan 14

Maret 2012 sampai 17 Maret 2012. Pokok bahasan yang dipelajari adalah operasi hitung

pecahan. Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus yakni siklus pertama terdiri dari 2

pertemuan dan siklus kedua terdiri dari 2 pertemuan. Rincian pelaksanaan penelitian yang

dilakukan di kelas V SDN Salatiga 08 pada materi operasi pecahan hitung pecahan dapat

dilihat pada lampiran 2 dan lampiran 5.

Berikut ini adalah uraian pelaksanaan penelitian yang dilakukan.

4.1.1 Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I

4.1.1.1 Deskripsi Observasi Pembelajaran Siklus I Pertemuan I

a. Hasil observasi keterampilan guru

Hasil observasi keterampilan guru pada siklus I pertemuan I dapat dilihat pada

tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.1 Hasil Observasi Kemampuan Guru dalam Pembelajaran Siklus I Pertemuan I

No Aspek yang diamati Tingkat kemampuan

A B C D 1 Apersepsi 10 2 Motivasi 12 3 Revisi 12

38

No Aspek yang diamati Tingkat kemampuan

A B C D 4 Penguasaan materi 10 5 Penggunaan metode 10 6 Penggunaan alat peraga 10 7 Managemen kelas 10 8 Pemakaran materi yang penting 10 9 Menciptakan suasana belajar aktif

pada siswa 13

10 Kesesuaian dengan indikator 12 11 Pengamatan terhadap kemajuan

siswa 10

12 Rangkuman 10 13 Pemberian tugas 13

Jumlah 0 62 80 0 Tingkat Keberhasilan 10,92 Kriteria Keterampilan Guru B

Keterangan: Tingkat keberhasilan : penjumlahan nilai tingkat kemampuan dibagi dengan jumlah aspek yang

diamati Patokan kriteria dan penskoran : A (16-20) kategori amat baik, B (11-15) kategori baik, C (6-10)

kategori cukup, D (1-5) kategori rendah

Tabel 4.1. hasil observasi kemampuan kegiatan belajar mengajar guru dalam

mengelola pembelajaran matematika materi operasi hitung pecahan dapat diketahui

bahwa untuk kegiatan pra pembelajaran guru melaksanakan proses pembelajaran

berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Selama pembelajaran

matematika berlangsung peneliti dibantu 1 orang pengamat lain melaksanakan

pengamatan berdasarkan lembar observasi yang telah dibuat. Kegiatan siklus I

dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung dalam waktu 2 x

35 menit.

Pada keterampilan guru membuka pembelajaran dengan apersepsi, guru

mempersiapkan siswa untuk mengikuti pelajaran materi operasi hitung pecahan.

Kemudian guru menginformasikan bahwa pada hari ini akan diterapkan pembelajaran

kooperatif model cooperative script.

Guru menjelaskan proses pembelajaran menggunakan model cooperative

script, siswa di minta untuk merangkum materi operasi hitung pecahan kemudian

menyelesaikan soal yang telah diberikan. Setelah itu, siswa menjelaskan hasil yang

diperoleh kepada pasangan masing-masing. Guru kemudian membagi siswa

39

berpasangan berdasarkan rata-rata kemampuan akademik masing-masing siswa yaitu

siswa yang mempunyai kemampuan akademik lebih dipasangkan dengan siswa yang

mempunyai kemampuan akademik dibawahnya. Pada saat pengelompokan siswa,

suasana kelas sangat ramai, siswa sangat sulit dikondisikan.

Siswa duduk berdasarkan pasangan masing-masing dan sudah terkondisikan

dengan baik, guru dibantu peneliti membagikan soal latihan pada setiap siswa.

Kemudian guru meminta siswa untuk merangkum materi operasi hitung pecahan pada

buku catatan masing-masing. Setelah itu guru meminta siswa untuk menyelesaikan

soal yang dibagikan. Guru memberitahukan kepada siswa pada saat merangkum,

siswa bebas menambahkan ide-ide mereka atau mereka bebas menggunakan bahasa

mereka sendiri yang terpenting adalah siswa menjadi lebih paham dengan materi

operasi hitung pecahan. Guru juga memberitahukan kepada para siswa jika mereka

merasa kesulitan, boleh bertanya kepada pasangannya atau bertanya kepada guru.

Guru juga berkeliling untuk membimbing siswa yang merasa kesulitan, misalnya: guru

membimbing siswa untuk mengingat-ingat materi. Setelah waktu untuk merangkum

dan menyelesaikan soal habis, guru kemudian menentukan peran pembicara dan

pendengar. Siswa yang mempunyai kemampuan lebih diberi kesempatan pertama

untuk menjadi pembicara dan pasangannya menjadi pendengar.

Siswa kemudian melaksanakan peran yang diperoleh, siswa yang berperan

menjadi pembicara menjelaskan hasil rangkuman dan hasil jawabannya kepada

pasangannya sedangkan siswa yang menjadi pendengar menyimak penjelasan dan

boleh bertanya jika mengalami kesulitan. Siswa kelihatan sangat aktif bertanya kepada

teman jika mereka merasa kesulitan, mereka merasa lebih nyaman jika bertanya

kepada teman dibandingkan bertanya kepada guru dan mereka juga saling bertukar

pendapat. Setelah waktu yang ditentukan habis, guru meminta siswa untuk bertukar

peran yaitu siswa yang menjadi pembicara berganti menjadi pendengar dan

sebaliknya. Pertukaran peran hanya berlangsung 3 menit, hal tersebut dikarenakan

keterbatasan waktu. Guru juga tidak sempat meminta siswa untuk mempresentasikan

hasil jawabannya di depan kelas untuk di bahas bersama. Guru hanya bertanya

jawaban yang diperoleh siswa secara umum. Setelah itu, bertanya kepada siswa

apakah ada yang mempunyai jawaban yang berbeda dengan yang lainnya. Siswa

40

tidak menyampaikan pendapatnya karena mereka malu dan justru takut salah. Guru

membahas beberapa soal dan kemudian menyuruh siswa untuk mengumpulkan hasil

jawaban mereka.

b. Hasil observasi aktivitas siswa

Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I pertemuan I dapat dilihat pada

tabel dibawah ini:

Tabel 4.2 Hasil Observasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran

Siklus I Pertemuan I

No. Aktivitas Yang Diamati Jumlah Siswa

Skala Penilaian

Hasil

1 Kehadiran siswa dalam mengikuti pelajaran

40 11 440

2 Siswa mendengarkan guru menerangkan 40 12 480

3 Siswa mencatat pelajaran 40 11 440

4 Siswa berani menjawab tanpa ditunjuk 40 10 400

5 Kerjasama dengan teman-teman dalam satu kelompok

40 11

440

6 Siswa mengerjakan LKS 40 12 480

7 Kemampuan tutur menjelaskan kepada teman-temannya

40 9

360

8 Ketepatan mengumpulkan hasil diskusi 40 12 480

9 Siswa mengerjakan soal latihan/ tes 40 13 520

Jumlah 360 101 4040 Rata-Rata 40 11,22 448,89 Tingkat Keberhasilan 11,22

Keterangan: Tingkat keberhasilan : hasil total dari aktifitas yang diamati dibagi dengan jumlah total siswa dari

aktifitas yang diamati Patokan kriteria dan penskoran : A (16-20) kategori amat baik, B (11-15) kategori baik, C (6-10) kategori

cukup, D (1-5) kategori rendah

Berdasarkan tabel 4.2. hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I keterlaksanaan

pembelajaran matematika melalui pembelajaran kooperatif model cooperative script sudah

terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Pada pertemuan ini ada

empat kegiatan yang tidak terlaksana. Pada kegiatan pertemuan pertama siswa mengeluhkan

belum memahami materi yang disampaikan. Hal tersebut juga menyebabkan beberapa siswa

41

menyelesaikan soal asal-asalan. Beberapa siswa saling bertukar pendapat dan bekerja sama

dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Tetapi ada beberapa siswa pula yang kelihatan

pasif.

Siswa pun belum berani mengutarakan pendapatnya yang berbeda dengan teman

lainnya karena takut salah, mereka masih cenderung menggunakan cara penyelesian yang

sama dengan temannya.

c. Paparan hasil belajar

Dalam tindakan ini peneliti menggunakan angket untuk mengukur kreativitas dan

prestasi belajar siswa dalam pemecahan masalah matematika melalui pembelajaran

kooperatif model cooperative script pada siklus I pada pertemuan I. Angket di analisis setiap

pertemuan oleh peneliti berdasarkan hasil jawaban siswa. Angket kreativitas dan prestasi

belajar siswa dalam pemecahan masalah matematika bertujuan untuk mengetahui

perkembangan kreativitas dan prestasi belajar siswa dalam pemecahan masalah matematika

selama tindakan berlangsung. Hasil analisis angket kreativitas dan prestasi belajar siswa

da