BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengamatan Selintas ... ... HASIL DAN PEMBAHASAN . 4.1. Pengamatan

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengamatan Selintas ... ... HASIL DAN PEMBAHASAN . 4.1. Pengamatan

  • 18

    BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1. Pengamatan Selintas

    Lokasi percobaan, terletak pada ketinggian 900 meter dpl. Menurut

    Kessler (1998), tanaman petunia dapat ditanam di dataran dengan ketinggian

    minimal 800 meter dpl. Berdasarkan referensi ini, dapat disimpulkan bahwa lokasi

    percobaan termasuk cukup ideal dilihat dari elevasinya. Selain elevasi, dilakukan

    pengamatan selintas kondisi lingkungan percobaan, meliputi suhu udara,

    kelembaban udara dan intensitas cahaya disajikan dalam Grafik 4.1.

    Grafik 4.1. Rata-rata suhu harian dan kelembaban udara

    Pada Grafik 4.1, dapat dilihat bahwa suhu rata-rata harian selama

    percobaan dari hari 0 hst hingga hari ke 56 hst. Suhu harian selama penelitian

    tertinggi pada 34 hst sebesar 29,5 o C dan terendah pada 4 hst sebesar 21,5

    o C.

    Rentang kelembaban udara di lingkungan percobaan tertinggi dicapai pada 18 hst

    sebesar 72,3% dan terendah pada 56 hst sebesar 33%. Menurut Kessler (1998),

    kondisi suhu rata-rata harian yang dikehendaki tanaman petunia antara 10 o C

    hingga 25 o C. Dari referensi tersebut dapat disimpulkan bahwa dari aspek suhu

    harian udara tanaman petunia kurang begitu cocok dengan suhu diatas 25 o C dan

    menyebabkan kelembaban lingkungan pada hari itu menjadi rendah, rata-rata suhu

    selama penelitian didapat sebesar 25 o C dimana suhu tersebut masih dalam batas

    ideal.

    0.0

    10.0

    20.0

    30.0

    40.0

    50.0

    60.0

    70.0

    80.0

    0.0

    5.0

    10.0

    15.0

    20.0

    25.0

    30.0

    35.0

    0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55

    R H

    ( %

    )

    Su h

    u h

    ar ia

    n

    Hari ke-

    Rata suhu harian RH

  • 19

    Grafik 4.2. Rata-rata suhu max dan min

    Pada Grafik 4.2, dapat dilihat suhu maximum dan minimum selama 0 hst

    hingga 56 hst. Dimana pada hari ke-50 suhu maximum mencapai puncak atau

    ekstrim sebesar 36,8 o C dan pada hari ke-5 suhu minimum mencapai puncak atau

    ekstrim sebesar 7,6 o C. Dari pengukuran intensitas cahaya matahari pada siang hari

    (pukul 12.00 WIB), rentang intensitas cahaya yang diterima selama peneltian di

    lingkungan percobaan adalah 21.931 – 27.003 lux dengan tingkat naungan 25%.

    Pada penelitian Ratri dkk (2018), bahwa tanaman petunia sebagai tanaman full

    sun tentu akan tumbuh optima jika tanpa naungan.

    Tabel 4.1. pH larutan nutrisi dan EC

    Bulan pH larutan nutrisi EC (mS)

    Agustus’18 6,5 1,2

    September’18 6,5 1,2

    Oktober’18 6,5 1,2

    Sumber: Data primer

    Pada Tabel 4.1, terlihat bahwa kisaran pH larutan adalah 6,5. Nilai pH yang

    dianjurkan dalam budidaya hidroponik berkisar antara 5,5-6,5 (Sutiyoso, 2006),

    dapat dikatakan pH larutan masih diambang batas normal. Kadar EC yang cocok

    untuk tanaman petunia berkisar antara 0,8-1,2 mS (Anonim, 2009). Dalam

    percobaan ini, nilai EC adalah 1,2 mS, dapat dikatakan bahwa nilai EC larutan

    termasuk cukup ideal untuk tanaman petunia.

    0

    5

    10

    15

    20

    25

    30

    35

    40

    0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55

    Su h

    u (

    C )

    Hari ke-

    suhu min suhu max

  • 20

    Tabel 4.2. Kandungan klorofil daun dan Jumlah stomata daun tanaman petunia

    yang ditanam pada berbagai media tanam selain tanah

    Jenis media Kandungan klorofil

    (SU)

    Jumlah stomata (1μm 2 )

    Rockwool 45,22 ± 9,93 6.63 ± 0.95

    Sekam mentah 41,55 ± 12,71 6.38 ± 0.95

    Arang sekam 44,85 ± 9,84 6.63 ± 1.49

    Batu-bata 56,17 ± 7,80 6.75 ± 0.50

    Cocopeat 39,86 ± 7,47 6.13 ± 1.25

    Zeolit 49,34 ± 6,33 6.88 ± 0.25

    Keterangan: Nilai klorofil diukur menggunakan alat klorofil meter (SPAD), ± : standar deviasi

    Klorofil adalah zat warna yang memberikan warna hijau pada daun dan

    berperan dalam proses fotosintesis pada tumbuhan untuk menghasilkan asimilat.

    Pada Tabel 4.2, terlihat bahwa kandungan klorofil tertinggi terdapat pada daun

    tanaman petunia yang ditaman menggunakan media pecahan batu-bata, sedangkan

    terendah terdapat pada daun tanaman petunia yang ditanam menggunakan media

    cocopeat. Sintesis klorofil dalam daun tanaman, memerlukan unsur-unsur hara

    seperti N, Mg, Fe, Mn, Cu, Zn, S dan O (Hendriyani dan Setiari, 2009). Tingginya

    kandungan klorofil dalam daun tanaman petunia yang ditanam menggunakan

    pecahan batu-bata dibandingkan yang menggunakan jenis media yang lain,

    menunjukkan bahwa proses sintesis klorofil berlangsung lebih baik. Diduga hal

    ini disebabkan oleh tercukupinya kebutuhan unsur hara N pada tanaman yang

    ditanam dalam media pecahan batu-bata. Sumber unsur hara tersebut terutama

    berasal dari pupuk AB mix yang larut dalam air dan terserap oleh perakaran

    tanaman melalui bantuan sumbu kain flanel.

    Rendahnya kandungan klorofil daun dari tanaman petunia yang ditanam

    dalam cocopeat menunjukkan proses sintesis klorofil terganggu. Hal itu diduga

    adanya zat tanin pada media tersebut. Jika proses penyerapan hara dari akar

  • 21

    terganggu maka proses sintesis klorofil juga ikut terganggu. Kandungan tanin

    pada cocopeat yang berakibat menghambat pertumbuhan tanaman terutama

    perkembangan akar. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Fahmi (2015),

    bahwa zat tanin diketahui sebagai zat yang menghambat perumbuhan tanaman

    termasuk pertumbuhan akar pada media cocopeat.

    Gambar 7. Stomata pada daun petunia dengan perbesaran 400 kali

    Stomata merupakan lubang mikroskopis yang terdapat pada epidermis yang

    dibatasi oleh sel penutup. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap jumlah stomata

    yang disajikan dalam Tabel 4.2, terlihat bahwa jumlah stomata persatuan luas

    1μm 2 pada semua jenis media tanam yang digunakan relatif sama. Hal ini

    menunjukkan bahwa perbedaan sifat media tanam tidak sampai mempengaruhi

    jumlah stomata. Diduga jumlah stomata persatuan luas tersebut bersifat genetis

    dan tidak terpengaruh oleh faktor lingkungan. Hal tersebut diperkuat oleh

    pernyataan Widya (2015), bahwa jumlah stomata dipengaruhi oleh faktor-faktor

    internal mencakup gen, hormon, serta struktur morfologi dan anatomi organ

    tumbuhan tersebut.

  • 22

    Tabel 4.3. pH media, Suhu media dan water holding capacity media

    Jenis media pH media Suhu media

    ( C o )

    Kelembaban

    media (%)

    Persentase air

    (WHC) (%)

    Rockwool 7,6 ± 0,06 27,4 74 37,37

    Sekam mentah 6,3 ± 0,06 31,6 57 7,58

    Arang sekam 7 ± 0,1 27,1 70 11,63

    Batu-bata 6,8 ± 0,6 26,9 82 18,37

    Cocopeat 6,6 ± 0,15 24,5 88 71

    Zeolit 6,6 ± 0,11 29,3 80 14,99

    Sumber: Data primer, ± : standar deviasi

    Hasil pengamatan pH, suhu, kelembaban dan WHC media, disajikan

    dalam Tabel 4.3, terlihat bahwa setiap jenis media tanam memiliki nilai pH yang

    berbeda. Media tanam rockwool memilki nilai pH yang cukup tinggi sebesar 7,6.

    Menurut Sutiyoso (2006), pH media yang tinggi menyebabkan tanaman tidak

    tumbuh secara optimal dan menyebabkan tanaman mudah mati. Untuk

    menurunkan pH media rockwool harus dilakukan perendaman dengan air atau

    aquades akan tetapi pada saat pelaksanaan perendaman kurang lama berakibat pH

    media masih tinggi.

    Rata – rata suhu media tertinggi pada media sekam mentah sebesar 31,6 o C

    dan terendah pada media cocopeat sebesar 24,5 o C. Suhu pada media

    mempengaruhi kelembaban media. Kelembaban media tertinggi pada media

    cocopeat 88% dan terendah pada sekam mentah 57%. Semakin tinggi suhu udara,

    kelembaban akan semakin rendah dan sebaliknya. Water holding capacity media

    adalah kemampuan menyimpan air suatu media tanam. Dalam hal ini persentase

    air terbesar pada media cocopeat sebesar 71% sedangkan persentase terendah

    pada media sekam mentah sebesar 7,58%. Menurut Lingga (2005), Kemampuan

    mengikat air suatu media tergantung dari ukuran partikel, bentuk dan

    porositasnya.

  • 23

    4.2. Pengamatan Utama

    4.2.1. Komponen Pertumbuhan

    Hasil pengamatan terhadap beberapa variabel pertumbuhan tanaman

    petunia, disajikan pada Tabel 4.4 dan Tabel 4.5. Pada tabel tersebut terlihat bahwa

    jenis media tanam berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah

    cabang, luas daun, panjang akar, diameter tajuk, namun tidak berpengaruh

    terhadap diameter batang.

    Tabel 4.4. Variabel komponen tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang dan

    luas daun

    Jenis media Tinggi tanaman Jumlah daun Jumlah cabang Luas daun

    Rockwool 12,24 ab 53.48 bc 3,27 bc 8,03 b

    Sekam

    mentah

    9,65 b 21,48 d 1,75 c 2,64 c

    Arang

    Sekam

    12,57 ab 63,98 b 3,84 abc 7,54 b

    Batu-bata 15,21 a 96,73 a 7,40 a 12,32 a

    Cocopeat 8,68 b 41,00 c 4,13 abc 5,45 bc

    Zeolit 16,09 a 96,53 a 6,46 ab 12,61 a

    Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak beda nyata antar

    perlakuan sedangkan angka diikuti huruf