of 57 /57
BAB III TINJAUAN ISLAM TERHADAP EFEK ANTIBIOTIK YANG DAPAT MEMICU KEKAMBUHAN MIASTHENIA GRAVIS 3.1 Miasthenia Gravis dilihat dari pandangan Islam Miastenia Gravis (MG) merupakan salah satu penyakit autoimun kronik dari transmisi neuromuskular yang menghasilkan kelemahan otot. Penyakit autoimun itu sendiri adalah suatu jenis penyakit di mana antibodi (sebagai respon terhadap benda asing atau antigen yang masuk ke dalam tubuh) menyerang jaringan-jaringannya sendiri. MG dapat menyerang otot rangka apa saja, tapi yang paling umum terserang adalah otot yang mengontrol gerakan mata, kelopak mata, mengunyah, menelan, dan ekspresi wajah (Kaminski, 2010). Penyebab Miastenia Gravis pada kebanyakan orang masih idiopatik (masih tidak diketahui). Tetapi meskipun penyebab utamanya masih belum jelas. Pada 90% kasus Miastenia Gravis Generalisata, memperlihatkan 1

BAB III (MG)

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mg

Citation preview

BAB IIITINJAUAN ISLAM TERHADAP EFEK ANTIBIOTIK YANG DAPAT MEMICU KEKAMBUHAN MIASTHENIA GRAVIS 3.1 Miasthenia Gravis dilihat dari pandangan IslamMiastenia Gravis (MG) merupakan salah satu penyakit autoimun kronik dari transmisi neuromuskular yang menghasilkan kelemahan otot. Penyakit autoimun itu sendiri adalah suatu jenis penyakit di mana antibodi (sebagai respon terhadap benda asing atau antigen yang masuk ke dalam tubuh) menyerang jaringan-jaringannya sendiri. MG dapat menyerang otot rangka apa saja, tapi yang paling umum terserang adalah otot yang mengontrol gerakan mata, kelopak mata, mengunyah, menelan, dan ekspresi wajah (Kaminski, 2010). Penyebab Miastenia Gravis pada kebanyakan orang masih idiopatik (masih tidak diketahui). Tetapi meskipun penyebab utamanya masih belum jelas. Pada 90% kasus Miastenia Gravis Generalisata, memperlihatkan adanya Imunoglobulin G (IgG) terhadap Reseptor Asetilkolin (AChR) (Shah AK, 2014). Studi genetik telah mengungkapkan suatu korelasi antara awal onset miastenia gravis, yang mempengaruhi wanita usia subur, dan HLA-DR3 dan alel B8. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa beberapa gen non-HLA mempengaruhi kerentanan terhadap gangguan autoimun secara keseluruhan, sehingga meningkatkan risiko MG (Sharon, 2013).Berbagai obat dapat menyebabkan atau memperburuk gejala MG, antara lain Antibiotik (misalnya aminoglikosida, polymyxin, siprofloksasin, eritromisin, dan ampisilin) (Shah AK, 2014). Miastenia Gravis (MG) dapat terjadi pada semua usia. Onset rata-rata usia adalah pada wanita 28 dan pada laki-laki 42 tahun. Secara keseluruhan rasio perempuan dan laki-laki adalah 3: 2, dimana perempuan dewasa muda lebih dominasi (yaitu, pasien berusia 20-30 tahun) dan laki-laki dewasa dominasi pada usia tua (yaitu, pasien yang lebih tua dari 50 tahun). Bahwa pada MG okular lebih dominan pada laki-laki. Perbandingan rasio MG pada anak laki-laki dan perempuan dengan perbandingan rasio sesuai kondisi autoimun adalah 1:5 (Shah A K, 2014). Pasien MG datang ke dokter dengan keluhan kelemahan otot tertentu, bukan kelelahan secara umum. Gangguan motorik okular, ptosis, atau diplopia adalah gejala awal MG pada dua pertiga pasien, dan hampir sama memiliki gejala tersebut dalam waktu 2 tahun. Kelemahan otot orofaringeal, kesulitan mengunyah makanan keras, kenyal atau berserat, menelan atau berbicara adalah gejala awal dari seperenam pasien hanya 10% pasien mengalami kelemahan ekstremitas (Howard JF, 2010).Wajah dapat terlihat tanpa ekspresi. Mulut dapat terbuka dan pasien mungkin harus menyangga rahangnya dengan jari. Ketika pasien berusaha untuk tersenyum, wajah tampak menyeringai. Suara dapat hypophonic karena kelemahan pita suara atau otot ekspirasi. Pasien dapat menunjukkan disartria sebagai akibat kelemahan dari bibir, lidah, dan pipi. Kelemahan dapat tampak lebih jelas dengan aktivitas otot. Miasthenia gravis juga dapat mengenai bagian ektremitas. Kelemahan ekstremitas biasanya lebih parah di daerah proksimal dari pada distal (Thanvi BR, 2004; Amato AA, 2008; Shah AK, 2014).Berdasarkan definisi dan gejala klinis MG diatas, maka MG merupakan salah satu ujian dari Allah SWT. Allah pasti akan menguji setiap hamba-Nya dengan cobaan maupun nikmat-Nya yang berkaitan dengan sisi terlemah pada diri setiap Muslim (Dakwatun, 2015). Sebagaimana Allah SWT berfirman:

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Q.S. Al-Baqarah (2):155).Di sisi lain ketika seseorang diberikan cobaan oleh Allah SWT, sesungguhnya Allah SWT ingin melihat apakah ada peningkatan amal pada orang tersebut, sebagaimana Allah berfirman:

Artinya: Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Q.S. Al-Mulk (67):1-2).

Seorang muslim yang beriman harus senantiasa yakin bahwasanya segala macam bentuk musibah dan cobaan yang terjadi dalam hidupnya merupakan takdir dan ketentuan dari Allah SWT. Dan hendaknya ia yakin pula bahwa segala ketetapan yang Allah SWT berlakukan untuk dirinya maka itu adalah yann terbaik baginya. Apabila seorang hamba mempunyai keyakinan seperti ini maka Allah akan memberikan balasan kebaikan kepada dirinya berupa ketenangan hati, kesabaran dan ketabahan dalam jiwa, bahkan Allah akan memberikan ganti atas musibah tersebut dengan yang lebih baik (Mukhadisin, 2013). Sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya : Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(Q.S: At-Taghabun (64): 11)

Allah SWT akan menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan. Dia menguji manusia berupa kesehatan, agar mereka bersyukur dan mengetahui keutamaan Allah SWT serta kebaikan-Nya kepada mereka. Kemudian Allah SWT juga akan menguji manusia dengan keburukan sakit dan miskin, agar mereka bersabar dan berdoa kepada-Nya (Zuhroni, 2010). Sebagaimana Allah SWT berfirman:

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (Q.S. Al-Baqarah (2):286).

Pada ayat lain Allah berfirman:

Artinya: Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu ber- bantah -bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Q.S. Al-Anfaal (8):46).Allah SWT tidak akan memberikan cobaan pada seseorang di luar kemampuannya. Beriman kepada takdir meliputi kepercayaan bahwa seluruh kejadian tidak lepas atas kehendak Allah SWT, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk-Nya. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaklah selalu bersabar dalam mengahadapi cobaan. Bencana dan musibah yang menimpa manusia semuanya seperti sakit termasuk di dalamnya penyakit MG adalah kehendak Allah SWT. Namun tetap ada faktor penyebab yaitu gangguan autoimun dan kelainan pada kelenjar tymus di mana kelenjar tymus fungsinya sebagai sistem pertahanan tubuh. Dan ada juga hal yang dapat memperburuk gejala MG yaitu obat-obatan (antibiotik), aktivitas, stress, dll. Dimana sesuai dengan Taqdir Muallaq bahwa suatu ketentuan berdasarkan situasi dan kondisi jika kita berikhtiar dan berdoa maka Allah dapat saja merubah takdir-Nya yang lalu kemudian menetapkan takdir-Nya yang baru jika menghendaki. Sebagaimana Firman Allah SWT :

Artinya : Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal (Q.S : At-Tawbah (9):51).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa MG merupakan ujian dari Allah SWT berupa penyakit yang dapat menyerang siapa saja. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya berusaha untuk menjaga kesehatan diri sendiri, tidak selalu menyalahkan segala sesuatu yang diberikan Allah SWT kepadanya, berusaha sebaik mungkin dalam menghadapi cobaan dan mencari solusi dari setiap permasalahan seperti, mencari pengobatan yang sesuai untuk menyembuhkan penyakit MG. 3.2 Anjuran berobat menurut pandangan IslamMiastenia Gravis (MG) ialah gangguan autoimun yang menyebabkan otot skelet menjadi lemah. MG dapat dijumpai pada anak, orang dewasa, dan orang tua. Diagnosis MG pada awalnya didasarkan pada gambaran klinis sebagai berikut: bangun tidur merasa segar atau tidak merasakan gangguan apa-apa, makin siang (penderita melakukan aktivitas tertentu sebagai suatu aktivitas rutin) penderita merasa semakin lemah, pandangan ganda (diplopia), atau suara melemah dan sulit menelan (Harsono, 2009).Dalam Islam berobat termasuk tindakan yang dianjurkan. Dalam berbagai riwayat menunjukkan bahwa Nabi pernah berobat untuk dirinya sendiri, serta menyuruh keluarga dan sahabatnya untuk berobat saat sakit (Zuhroni, 2010). Walaupun yang menyembuhkan penyakit itu Allah SWT, tetapi apabila seseorang dalam keadaan sakit maka ia wajib berusaha menyembuhkannya dengan jalan berobat (Hafidz, 2007). Setiap muslim, apabila sakit dianjurkan untuk berobat dan menyakini bahwah Allah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya, seperti yang diucapkan Nabi dalam hadits berikut: Artinya:Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram (HR. Abu Dawud 387, dan disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif al-Jami 2643)

Pada hadits lain Rasulullah SAW menyatakan apabila sakit hendaklah berobat :

Artinya:Aku pernah berada di samping Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu datanglah serombongan orang Badui (pegunungan). Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat? Beliau menjawab: Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab Allah Subhanahu wa Taala tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit. Mereka bertanya: Penyakit apa itu? Beliau menjawab: Penyakit tua. (HR. Ahmad)

Dari hadits Rasulullah SAW tersebut di atas menganjurkan berobat apabila sakit, karena Allah SWT meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya kecuali penyakit tua. Akan tetapi, perlu diyakini bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit hendaklah adanya kecocokan obat dengan penyakit, kesembuhannya tidak terlepas dari izin Allah SWT, manusia berusaha untuk pengobatan tetapi Allah SWT yang menyembuhkan. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW : Artinya:Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Taala (HR. Muslim)

Sakit bisa dalam bentuk yang paling ringan sampai pada sakit yang paling berat. Bencana dan musibah yang menimpa manusia semuanya adalah kehendak Allah dan sudah ditentukan Allah sebelumnya. Selama manusia hidup tidak pernah luput dari berbagai masalah, sesuai dengan syariat Islam maka masalah yang ada harus dipecahkan, misalnya bila menderita sakit maka solusinya adalah berobat (Ikhsan, 2009). Berdasarkan hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yaitu : Artinya:Tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya (HR. Abu Hurairah) Sebagai muslim meyakini dalam usaha pengobatan untuk penyembuhan adalah Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat-Nya :

Artinya: dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku (QS As-Syuara (26):80)Menurut Muhadi (2009) di dalam upaya pengobatan, Islam memerintahkan agar bertanya kepada ahlinya atau orang yang megetahui. Di bidang kesehatan apabila sakit maka berobat kepada dokter atau yang ahli di bidang pengobatan, agar pengobatan dapat dilakukan dengan tepat. Dalam kedokteran Islam diajarkan bila ada dua obat yang kualitasnya sama maka pertimbangan kedua yang harus diambil adalah yang lebih efektif dan tidak memiliki efek rusak bagi pasien. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berobat pada ahlinya. Dalam Al-Quran menjelaskan agar bertanya kepada ahlinya, sebagaimana dalam firman Allah SWT :

Artinya: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (Q.S An-Nahl (16):43).

Beberapa pendapat tantang hukum berobat masing-masing didukung oleh dalil yang menguatkannya, di antaranya adalah sebagai berikut:1. Hukum berobat adalah mubah, menurut pendapat pendapat mayoritas ilmuwan dari kalangan Ulama Hanafiyah, Malikiyyah, Syafiiyah, dan Hanabilah, namun mereka berbeda pendapat tentang lebih utamanya, berobat atau tidak. 2. Hukum berobat adalah wajib, merupakan pendapat sebagian ulama Hanabilah. Menurut sebagian ulama yang lain, hal tersebut jika diyakini akan kesembuhannya. Pendapat Yusuf al-Qaradhawi secara khusus berpendapat wajib dalam situasi khusus, seperti jika sakitnya parah dan obat penyakit dimaksud telah ditemukan sesuai dengan sunatullah. Dasar pendirian ini adalah hadits yang menganjurkan berobat, paling kurang anjuran tersebut bernilai sunnah (As-Syinqithy, 2012; Zuhroni, 2010).Menurut empat madzhab, hukum berobat bersifat fleksibel dan kondisional. Menurut fatwa yang dikeluarkan oleh Majma al-Fiqh al-Islami, hukum berobat tergantung pada keadaan dan kondisi pasien dapat berupa haram, makruh, mubah, sunnah dan kadang wajib. Hukum berobat wajib jika dengan meninggalkannya akan dapat mengancam keselamatan jiwa atau dapat melumpuhkan/kehilangan salah satu anggota badan atau penyakit yang diderita dapat ditularkan kepada orang sekitar. Hukum berobat adalah sunah jika dengan meninggalkannya akan melemahkan badan dan tidak menimbulkan efek pada kondisi diatas. Hukum berobat adalah mubah jika dengan meninggalkan tidak menimbulkan efek seperti yang tersebut pada dua kondisi diatas tadi. Hukum berobat adalah makruh jika dengan berobat akan menimbulkan efek samping yang lebih berbahaya dari pada penyakit yang akan diobatinya dan mengalami keadaan yang lebih buruk daripada dibiarkan saja (As-Syinqithy, 2012).Dalam ajaran Islam, tidak hanya ditetapkan tentang dianjurkannya berobat, tetapi juga ditegaskan bahwa berobat tidak boleh dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT (Zuhroni, 2010). Berdasarkan hadits yang diriwiyatkan oleh Abu Daud, dinyatakan dalam hadits Nabi agar berobat dengan yang halal, dilarang menggunakan obat yang dilarang, sebagaimana dinyatakan dalam hadits Nabi : ( ) Artinya: Allah yang menurunkan penyakit dan Dia juga yang menjadikan setiap penyakit dan obatnya, berobatlah, dan jangan berobat dengan yang haram (HR Ab Dwd).

Juga disampaikan oleh Ibnu Masud : Artinya:Ibnu Masud berkata: bahwa Allah tidak menjadikan penyembuhan kalian dari sesuatu yang diharamkan (HR. Thabrani)

Hadits serupa juga dinyatakan Nabi: : } ( )Artinya: Ibnu Hibban meriwayatkan dalam shahihnya, dari Nabi saw, beliau berkata: sesungguhnya Allah tidak menjadikan penyembuhan umatku dari bahan yang diharamkan (HR. Ibnu Hibban)

Berdasarkan hadits-Nya tersebut, jenis obat apa pun boleh dipergunakan kecuali ada dalil yang mengharamkannya atau termasuk kelompok yang diharamkan. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka dokter akan dihadapkan pada pilihan dengan membiarkan pasien meninggal atau berupaya mengobatinya dengan barang yang haram. Jika memang yakin memang benar tidak ada obat lain yang bisa menolong nyawa penderita maka menggunakan obat dengan kandungan yang haram sekalipun diperkenankan dan dengan catatan dalam keadaan terpaksa (Zuhroni, 2010). Menurut Muhadi (2009), Rasulullah SAW mengajarkan supaya obat yang dikonsumsi hendaklah halal dan baik, bukan dari yang diharamkan. Allah SWT menurunkan berbagai penyakit untuk manusia, dan Allah SWT juga yang menyembuhkan. Jika seseorang menginginkan kesembuhan dari Allah SWT maka obat yang digunakan juga harus baik dan diridhai Allah SWT, karena Allah SWT melarang memasukkan barang yang haram dan merusak ke dalam tubuh manusia. Dinyatakan dalam hadits Nabi, agar berobat dengan yang halal, dilarang menggunakan cara atau obat yang dilarang sebagaimana dinyatakan dalam hadits Nabi : ( )Artinya:Allah yang menurunkan penyakit dan Dia juga yang menjadikan setiap penyakit dan obatnya, berobatlah, dan jangan berobat dengan yang haram (HR Ab Dwd)

Ketentuan yang membolehkan melakukan pengobatan dengan barang-barang haram dalam keadaan benarbenar terpaksa difirmankan oleh Allah SWT :

Artinya: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS Al-Anam (6):145)Pada ayat lain Allah SWT berfirman : Artinya: Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas (Q.S. Al-Anam (6):119)

Di samping ayat-ayat tersebut yang menjelaskan kebolehan memakan-makanan yang haram dalam keadaan terpaksa, juga terdapat dalam kaidah dlarar fiqhiyyah disebutkan (Zuhroni, 2010) : Artinya:Kemudaratan (bahaya) itu membolehkan hal hal yang dilarangAyat-ayat dan kaidah fiqhiyyah tersebut menyatakan kebolehan yang diharamkan karena suatu keterpaksaan. Allah memberikan kemudahan bagi manusia agar tidak menyulitkan hidup, sebagaimana dalam firman Allah SWT :

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Maidah (5):6)

Berdasarkan uraian di atas MG merupakan salah satu penyakit autoimun kronik dari transmisi neuromuskular yang menyebabkan kelemahan otot. Penyakit autoimun itu sendiri adalah suatu jenis penyakit dimana antibodi (sebagai respon terhadap benda asing atau antigen yang masuk ke dalam tubuh) menyerang jaringan-jaringannya sendiri. Ajaran Islam menyatakan dalam beberapa hadits apabila sakit hendaklah berobat kepada ahlinya dan juga ditegaskan bahwa berobat tidak boleh dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Akan tetapi dalam keadaan terpaksa atau darurat, yang diharamkan dapat dilakukan dengan kebatasan tertentu. Pengobatan dapat digolongkan berupa haram, makruh, mubah, sunnah dan kadang wajib. Miastenia gravis berdasarkan ketetapan hukum berobat dalam Islam dapat dikategorikan pada wajib, karena hukum berobat wajib jika meninggalkannya akan dapat mengancam keselamatan jiwa atau dapat melumpuhkan/kehilangan salah satu anggota badan.Agama Islam mengajarkan konsep maslahah yang secara bahasa berarti manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung manfaat. Imam al-Ghazali mengemukakan definisi maslahah adalah mengambil manfaat dan menolak kemudaratan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syarak. Kemashlahatan yang ingin dituju dan diciptakan dalam syariat Islam meliputi lima pemeliharaan yang paling mendesak (al-Kulliyyat al-Khams), yang disebut al-Dharuriyyat al-Khams (Zuhroni, 2010). Dharuriyyah adalah sesuatu yang harus dibangun/ditegakkan dalam rangka menciptakan kemashlahatan agama dan dunia, jika tidak ada, maka bangunan kemashlahatan dunia tidak tercipta secara stabil, justru akan terjadi kerusakan atau kehancuran atau mengancam kehidupan, di sisi lain ketiadaannya akan menjadikannya kehilangan kenikmatan dan keselamatan serta akan kembali mendapatkan kerugian yang nyata. Imam al-Syathibi menyebutkan lima kemashlahatan tersebut meliputi:1. Hifzh al-Din (memelihara agama)Tercakup dalam larangan melakukan syirik, menyekutukan Allah. Sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(Q.S : Al-Isra (17): 23).

2. Hifzh al-Nafs (memelihara jiwa) Memelihara jiwa merupakan sarana utama dan parameter kemukalafan seseorang. Untuk menjaga jiwa (hifz al-nafs), maka dianjurkan untuk selalu menjaga eksistensinya di antaranya dengan melakukan pengobatan ketika sakit. Bagi seseorang yang sedang sakit, dianjurkan untuk segera berobat. Hal ini untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan pasien tersebut. Selain itu, seseorang yang sedang sakit tentunya akan terganggu aktifitasnya. Dengan berobat, maka kehidupan pasien tersebut akan terjaga. Memelihara kehidupan ini sejalan dengan tujuan kedokteran dan ilmu kesehatan, yaitu untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas hidup insani (Zuhroni, 2010). Mengenai hal ini dapat dijumpai dalam firman Allah SWT:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (Q.S. Al-Anfal (8):27).

3. Hifzh al-Nasl (memelihara keturunan) Islam sangat menekankan keberlangsungan eksistensi kehidupan manusia Untuk menjaga eksistensi kehidupannya maka dianjurkan untuk selalu menjaga keeksistensiannya dan memenuhi hak-haknya. Adapun cara untuk menjaga eksistensi kehidupan manusia, yaitu memiliki keturunan dengan cara yang dibenarkan syarak agar manusia tidak punah. Orang tua dibebani tugas mendidik anak dan menjalin hubungan kasih sayang keluarga, serta menafkahi mereka demi menciptakan generasi yang baik dan sehat. Memelihara keturunan disini, antara lain dengan upaya memprogram lahirnya generasi yang sehat dan baik melalui lembaga pernikahan, menjauhkan diri dari pendirian atau tindakan hidup salibat, mengaharamkan pembunuhan terhadap anak atau aborsi, menjaga kemurnian nasab, menjauhkan perzinahan serta seluruh faktor yang dapat menghantarkan terjadinya perzinahan, serta perilaku seksual yang menyimpang (Zuhroni, 2010).Dalam memelihara keturunan (hifzh al-Nasl), orang tua harus selalu menjaga kesehatan anak dan memenuhi kebutuhannya. Apabila anak sedang sakit, maka dianjurkan untuk membawa anak berobat ke dokter yang ahli. Memelihara kehidupan ini sejalan dengan tujuan kedokteran dan ilmu kesehatan, yaitu untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas hidup insani. Berbagai upaya menjaga kesehatan juga diperlukan, contohnya dengan menjaga nutrisi yang dikonsumsi, mencegah penyakit, menjaga kesehatan, berobat, dan lain-lain (Zuhroni, 2010).Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allh daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan

4. Hifzh Al-Mal (memelihara harta)Tercakup didalamnya agar tidak mendekati harta anak yatim secara zalim serta jujur dalam timbangan dalam bisnis. Termasuk agar memberikan harta kepada yang berhak dan tidak memubazirkannya. Sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S : Al-Isra (17): 26)

Artinya : Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. Q.S : Al-Isra (17): 27)

5. Hifzh al-Aql (memelihara akal) Islam sangat menekankan pemeliharaan akal. Akal diposisikan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan insani. Manusia dimuliakan dari makhluk lain karena eksistensi akalnya (Zuhroni,2010). Oleh sebab itu pula, manusia diberi mandat menjadi khalifah dan memikul amanat, seperti dinyatakan dalam firman Allah SWT:

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia (Q.S. Al-Ahzab (33) : 72).

Akal merupakan hal paling penting dalam pandangan Islam. Oleh karena itu Allah SWT selalu memuji orang yang berakal. Hal ini dapat dilihat pada firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenisp hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (Q.S. Al-Baqarah (2) : 164).

Ayat-ayat di atas telah menjelaskan bahwa dengan hanya memelihara jiwa saja belum cukup. Berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 164 dalam hal ini orang-orang penderita MG tidak hanya diberikan upaya pengobatan dalam hal meningkatkan kualitas hidupnya dengan cara memelihara jiwa tetapi juga pengobatan yang dimaksudkan adalah agar dapat meningkatkan kualitas dalam memelihara akalnya.Al-Ghazali juga menyatakan bahwa maksud Syariat Islam mencakup lima hal, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Semua yang tercakup dalam menjaga lima prinsip tersebut termasuk maslahah, dan semua hal yang menjadikannya kehilangan atau lepasnya lima hal tersebut adalah mafsadah (Zuhroni, 2010).Dalam Al-Quran sangat banyak ayat yang mengharuskan lima hal tersebut, antara lain tercakup dalam ayat Al-Quran:

Artinya: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuhjiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu(sebab) yang benar. Demikia itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim,kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah.Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat ( Q.S. Al-Anam (6): 151-152).

Dilihat dari segi kepentingannya, cara untuk memelihara lima kepentingan tersebut dibagi atas tiga peringkat, yaitu:1. Al-Dlaruriyyah (kebutuhan primer) adalah segala sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan keagamaan dan kehidupan manusia.2. Hajjiyah (kebutuhan sekunder) yaitu sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk menghindari kesempitan dan menolak kesulitan.3. Tahsiniyyah (kebutuhan tertier) adalah kebutuhan yang menunjang peningkatan martabat seorang dalam masyarakat dan di hadapan Tuhan (Zuhroni, 2010).Dalam hal ini kemaslahatan yang sesuai adalah dalam tingkat Al-Dharuriyyah tingkat kebutuhan primer dan tingkat Hajjiyah tingkat kebutuhan sekunder yang termasuk di dalamnya keharusan berobat dan obat yang dikonsumsi hendaklah halal dan baik, bukan dari yang diharamkan. Ilmu kemaslahatan yang sesuai yaitu Syariat pertama, kedua, dan kelima yaitu Hifzh al-Din (Memelihara Agama). Hifdz Nafs (Memelihara Jiwa), Hifdz Aql (Memelihara Akal). Dengan memelihara agama, jiwa dan akal setiap individual wajib menegakkan dan menetapkan hukum agama. Di mana salah satunya diharamkannya berobat kepada dukun, menggunakan atau cara pengobatan dengan metode yang mengandung unsur syirik. 3.3 Efek antibiotiK yang dapat memicu terjadinya kekambuhan Miastenia Gravis menurut pandangan Islam Miastenia Gravis (MG) adalah gangguan sistem saraf perifer yang ditandai dengan pembentukan autoantibodi terhadap reseptor asetilkolin yang terdapat didaerah motor end-palte otot rangka. Autoantibodi IgG secara kompetitif berikatan dengan reseptor asetilkolin, mencegah pengikatan asetilkolin ke reseptor sehingga mencegah kontraksi otot. Sehingga reseptor neuromuskular rusak (Corwin and Elizabeth J, 2009).MG awalnya dapat menyebabkan kelemahan otot yang mengontrol gerakan mata (miestenia gravis okular) atau dapat mempengaruhi seluruh tubuh (miastenia gravis umum). Perkembangan penyakit bervariasi dan dapat berkembang lambat, dengan atau remisi, atau berkembang cepat, yang menyebabkan kematian akibat paralisis pernafasan dan gagal nafas (Corwin dan Elizabeth J, 2009).Ada berbagai macam jenis antibiotik yang sering digunakan di klinik diantaranya:

a. Aminoglikosida Antibiotik ini digunakan untuk mengobati infeksi yang berkaitan dengan kulit, gigi, mata, telinga, saluran pernapasanb. TetrasiklinTetrasiklin adalah antibiotik spektrum luas yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi seperti infeksi telinga tengah, saluran pernafasan, saluran kemihc. FlurokuinolonDigunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih dan saluran pernapasand. Telitromisin dan AzitromisinJenis antibioti ini termasuk jenis makrolida. Obat ini digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran lambung (Mehrizi M et al, 2012).Rasulullah SAW mengajarkan agar obat yang dikonsumsi hendaklah halal dan baik, bukan dari yang diharamkan. Allah SWT menurunkan berbagai penyakit untuk manusia, dan Allah SWT juga yang menyembuhkan. Jika seseorang menginginkan kesembuhan dari Allah SWT maka obat yang digunakan juga harus baik dan diridhain Allah SWT, karena Allah melarang memasukkan barang yang haram dan merusak ke dalam tubuh manusia (Muhadi dan Muadzin, 2009). Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar memilih makanan yang hal dan baik, termasuk obat-obatan hendaklah terdiri dari yang halal dan baik. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

Artinya : Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.(Q.S : Al-Maidah (5): 88) Masalah halal dan haram ini sangat penting bagi umat Islam, karena konsekuensi yang ditanggung oleh seorang muslim apabila memakan makananan atau barang yang haram sangatlah berat. Apabila manusia makan yang haram, maka hati, akal pikiran dan semua anggota tubuhnya akan tolong menolong mengerjakan maksiat, dan nerakalah tempat tinggal yang sesuai dan cocok baginya (Ibrahim, 1996). Dari jenis antibiotik di atas, sebagai contoh antibiotik jenis telitromisin, telitromisin merupakan sebuah antibiotik ketolide baru. Penggunaan telitromisin adalah untuk pengobatan pada pasien dengan infeksi pernapasan yang serius (seperti pneumonia bakteri), ternyata jenis antibiotik tersebut bisa menyebabkan perburukan pada penyakit MG. Jika dokter menentukan bahwa tidak ada alternatif untuk menggunakan terapi lain pada pasien dengan sakit yang serius maka pasien tersebut tetap diberikan antibiotik tersebut tetapi harus diawasi secara ketat agar menghindari peningkatan MG (Mehrizi M et al, 2012). Di mana sesuai dengan kaidah cabang dlarar ketujuh yaitu: Artinya: Apabila ada dua bahaya (risiko) yang berlawanan, maka harus dipelihara yang lebih berat kadar mudaratnya dengan melaksanakan yang lebih ringan kadar mudaratnya

Maksud kaidah ini, jika suatu perbuatan mempunyai dua dampak darurat atau lebih, maka harus dipilih antara dampak darurat tersebut yang kadarnya paling ringan, kendati dalam keadaan biasa atau normal kemudaratan-kemudaratan tersebut harus dihindarkan. Jika kadarnya sama, maka diperkenankan memilih, atau tidak melakukannya sama sekali. Begitu juga obat yang dikonsumsi hendaklah halal dan baik, bukan dari yang diharamkan (Zuhroni, 2003).3.4 Pelaksanaan ibadah sholat pada pasien Miastenia GravisMiastenia gravis (MG) adalah gangguan autoimun yang dapat menyebabkan otot rangka menjadi lemah dan cepat lelah (Harsono, 2009). Pasien dengan penyakit ini biasanya kesulitan untuk menggerakan anggota tubuhnya. Shalat tetap menjadi kewajiban utama kaum muslim. Seorang muslim diperintahkan untuk menunaikan ibadah harian ini dalam waktu-waktu tertentu yang dicontohkan Rasullulah SAW. Selama seorang muslim masih hidup, selama itu pula kewajiban menunaikan shalat fardhu harus tetap dilaksanakan bagaimanapun keadaannya. Bahkan dalam keadaan sulit, sakit, tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat. Oleh karena itu,Islam memberikan kemudahan untuk menunaikan ibadah shalat dalam keadaan sulit, sakit melalui keringanan atau disebut rukshah. Dengan rukhshah inilah, ajaran Islam bersifat mudah dan tidak memberatkan (Zuhroni, 2010). Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Quran :

Artinya : Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Q.S Al-Haj (22):78)

Rukshah dalam usul fikih adalah suatu keringan bagi manusia mukalaf dalam melakukan ketentuan Allah SWT pada keadaan tertentu karena ada kesulitan. Rukhsah tidak disyariatkan karena sudah ada kepastian hukum sebelumnya yang disebut azimah, yaitu melakukan suatu perbuatan seperti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Hukum rukhsah adalah dibolehkan secara mutlak karena keterpaksaan. Beberapa alasan yang membolehkan rukhsah antara lain :1. Bukan bertujuan untuk berlaku zalim, berbuat dosa atau mringan-ringankan sesuatu yang sudah ringan.2. Untuk menghilangkan kesulitan sampai kita menemukan kelapangan. Misalnya, musafir dibolehkan mengashar shalat dan boleh berbuka bagi yang sakit. Seperti dalam firman Allah dalam Al-Quran :

Artinya : Allah menghendaki kemudahan untukmu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..(Q.S Al-Baqarah (2):185)

3. Untuk kepentingan orang banyak dan kebutuhan hidupnya. Misalnya, akad as-salam (menyerahkan suatu benda yang dipesan karena seseorang itu tidak punya uang untuk menyelesaikan pesanan tersebut) (Dahlan A, 1993). Ditinjau dari segi bentuknya rukhshah dibagi menjadi tujuh macam yaitu : 1. Rukhshah dengan menggugurkan kewajiban seperti boleh meninggalkan perbuatan wajib atau sunnah karena berat dalam melaksanakannya atau membahayakan dirinya apabila melakukan perbuatan tersebut, misalnya orang sakit atau dalam perjalanan boleh meninggalkan puasa Ramadhan.2. Rukhshah dalam bentuk mengurangi kadar kewajiban, seperti mengurangi jumlah rakaat shalat yang empat pada waktu qashar atau mengurangi waktunya pada shalat jama karena musafir. 3. Rukhshah dalam bentuk mengganti kewajiban dengan kewajiban lain yang lebih ringan seperti mengganti wudhu dan mandi dengan tayamum karena tidak ada air atau tidak bisa atau tidak boleh menggunakan air karena sakit dan lainnya, mengganti shalat berdiri dengan duduk, berbaring atau isyarat, mengganti puasa wajib dengan memberikan makan kepada fakir miskin bagi orang tua yang tidak bisa berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan sembuhnya.4. Rukhshah dalam bentuk penangguhan pelaksanaannya kewajiban seperti penangguhan shalat Zuhur ke shalat Ashar ketika jama takhir atau menangguhkan pelaksanaan puasa ke luar bulan Ramadhan bagi orang yang sakit atau musafir.5. Rukhshah dalam bentuk mendahulukan pelakasanaan kewajiban seperti membayar zakat fithrah beberapa hari sebelum hari raya padahal wajibnya adalah pada akhir Ramadhan.6. Rukhshah dalam bentuk merubah kewajiban seperti merubah cara melaksanakan shalat ketika sakit atau dalam keadaan perang. 7. Rukhshah dalam bentuk membolehkan melakukan perbuatan yang haram dan meninggalkan perbuatan yang wajib karena adanya uzur syar'i seperti bolehnya memakan memakan bangkai, darah, dan daging babi pada asalnya haram. Salah satu contoh rukhsah yang mengandung istihsan adalah mendirikan shalat bagi seorang muslim yang sedang sakit. Shalat 5 waktu hukumnya adalah wajib. Untuk melaksanakan shalat, seorang hamba harus mengetahui terlebih dahulu syarat dan tatalaksana shalat. Yang termasuk syarat sah shalat adalah :1) Beragama Islam2) Baligh dan berakal3) Bersuci dari hadatsHadats kecil dapat disucikan dengan wudhu dan hadats besar dapat disucikan dengan mandi junub. Syarat ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat basulah mukamu, tangamu hingga sikut, usaplah sebagian kepalamu, dan basulah kedua kakimu sampai mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah (Q.S Al-Maidah (5): 6)

Sedangkan, tata cara bersuci untuk muslim yang sakit adalah sebagai berikut :a. Jika masih bisa bersuci dengan air, maka ia awajib berwudhu untuk hadats kecil dan mandi junub untuk hadats besar.b. Jika tidak memungkinkan bersuci dengan air karena halangan sakitnya, maka ia boleh bertayamum. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran :

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun (Q.S An-Nisa (4) : 43).

Tata cara bertayamum adalah membaca Bismillahirrahmanirrahim, lalu menyentuhkan kedua telapak tangan ke tanah atau debu yang suci dengan niat membersihkan diri dari hadats untuk melakukan shalat karena Allah. Kemudian, sapu atau usap kedua telapak tangan ke wajah dan dilanjutkan dengan menyapu atau mengusap kedua belah tangan sampai pergelangan. c. Jika tidak mampu bersuci sendiri, maka ia bisa diwudhukan atau ditayamumkan oleh orang lain. Caranya adalah hendaknya seseorang memukulkan kedua tangannya ke tanah, lalu mengusapkannya ke wajah dan dua telapak tangan orang yang sakit tersebut. Begitu pula jika diwudhukan orang lain.d. Jika pada sebagian anggota badan yang harus disucikan terluka, maka ia tetap dibasuh dengan air. Jika hal itu membahayakan, maka hanya diusap sekali diatasnya. Jika berwudhu membahayakan, dapat digunakan cara tayamum.e. Jika di tubuhnya terdapat luka balutan atau gips, maka usap balutan tersebut dengan air sebagai ganti membasuhnya.f. Dibolehkan bertayamum dengan dinding, atau segala sesuatu yang suci dan mengandung debu. Jika dindingnya berlapis sesuatu yang bukan berasal dari tanah, misalnya cat, maka ia tidak boleh bertayamum padanya kecuali cat itu mengandung debu.g. Jika tidak mungkin bertayamum di atas tanah atau dinding atau tempat lain yang mengandung debu, maka taruh tanah dalam bejana atau saputangan, lalu bertayamum dari sana.h. Muslim yang sakit tetap harus membersihkan tubuh dan tempat shalatnya dari najis. Namun, jika tidak memungkinkan maka ia dapat shalat apa adanya.Muslim yang sakit tidak boleh mengakhiri shalat dari waktunya karena ketidakmampuannya untuk bersuci. Hendaknya, ia bersuci semampunya kemudian melakukan shalat tepat pada waktunya (Al-Utsaimin, 2002).4) Bersuci dari najis5) Menutup aurat dengan kain yang suci6) Mengetahui telah masuk waktu shalat dengan yakin7) Mengetahui semua yang fardhu dan Sunnah (Nuhuyanan A K, 2002)Rukun shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka shalat pun tidak teranggap secara syari dan juga tidak bisa diganti dengan sujud sahwi. Meninggalkan rukun shalat ada dua bentuk di antaranya (Said, 2008):a. Meninggalkannya dengan sengaja. Dalam kondisi seperti ini shalatnya batal dan tidak sah dengan kesepakatan para ulama.b. Meninggalkannya karena lupa atau tidak tahu. Hal yang dimaksud adalah : Jika mampu untuk mendapati rukun tersebut lagi, maka wajib untuk melakukannya kembali. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Jika tidak mampu mendapatinya lagi, maka shalatnya batal menurut ulama-ulama Hanafiyah. Sedangkan jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa rakaat yang ketinggalan rukun tadi menjadi hilang. Jika yang ditinggalkan adalah takbiratul ihram, maka shalatnya harus diulangi dari awal lagi karena ia tidak memasuki shalat dengan benar.Adapun yang termasuk rukun shalat adalah (Said bin Ali, 2008) :1) Berdiri bagi yang mampuNabi SAW bersabda :

Artinya : Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, kerjakanlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu lagi, maka kerjakanlah dengan tidur menyamping. (HR. Bukhari)2) Rukun kedua: Takbiratul ihramNabi SAW bersabda, Artinya : Pembuka shalat adalah thaharah (bersuci). Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam. (HR. Abu Daud)Yang dimaksud dengan rukun shalat adalah ucapan takbir Allahu Akbar. Ucapan takbir ini tidak bisa digantikan dengan ucapakan selainnya walaupun semakna.3) Rukun ketiga: Membaca Al Fatihah di Setiap RakaatNabi SAW bersabda,

Artinya ; Tidak ada shalat (artinya tidak sah) orang yang tidak membaca Al Fatihah. (HR. Bukhari) 4) Rukun keempat dan kelima: Ruku dan thumaninahNabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengatakan pada orang yang jelek shalatnya (sampai ia disuruh mengulangi shalatnya beberapa kali karena tidak memenuhi rukun)

Artinya : Kemudian rukulah dan thumaninahlah ketika ruku. (HR. Bukhari)Keadaan minimal dalam ruku adalah membungkukkan badan dan tangan berada di lutut. Sedangkan yang dimaksudkan thumaninah adalah keadaan tenang di mana setiap persendian juga ikut tenang. Sebagaimana Nabi SAW pernah mengatakan pada orang yang jelek shalatnya sehingga ia pun disuruh untuk mengulangi shalatnya.

Artinya : Shalat tidaklah sempurna sampai salah seorang di antara kalian menyempurnakan wudhu, kemudian bertakbir, lalu melakukan ruku dengan meletakkan telapak tangan di lutut sampai persendian yang ada dalam keadaan thumaninah dan tenang. (HR. Ad-Darimi)5) Rukun keenam dan ketujuh: Itidal setelah ruku dan thumaninahNabi SAW mengatakan pada orang yang jelek shalatnya,

Artinya : Kemudian tegakkanlah badan (itidal) dan thumaninalah.6) Rukun kedelapan dan kesembilan: Sujud dan thumaninahNabi SAW mengatakan pada orang yang jelek shalatnya

Artinya : Kemudian sujudlah dan thumaninalah ketika sujud. Hendaklah sujud dilakukan pada tujuh bagian anggota badan: Telapak tangan kanan dan kiri, lutut kanan dan kiri, ujung kaki kanan dan kiri, dan dahi sekaligus dengan hidung.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), telapak tangan kanan dan kiri, lutut kanan dan kiri, dan ujung kaki kanan dan kiri. (HR. Bukhari; HR. Abu Daud)7) Rukun kesepuluh dan kesebelas: Duduk di antara dua sujud dan thumaninahNabi SAW bersabda,

Artinya : Kemudian sujudlah dan thumaninalah ketika sujud. Lalu bangkitlah dari sujud dan thumaninalah ketika duduk. Kemudian sujudlah kembali dan thumaninalah ketika sujud.

8) Rukun keduabelas dan ketigabelas: Tasyahud akhir dan duduk tasyahudNabi SAW bersabda,

Artinya : Jika salah seorang antara kalian duduk (tasyahud) dalam shalat, maka ucapkanlah at tahiyatu lillah (HR. Bukhari).Bacaan tasyahud:At tahiyaatu lillah wash sholaatu wath thoyyibaat. Assalaamu alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaamu alaina wa ala ibadillahish sholihiin. Asy-hadu an laa ilaha illallah, wa asy-hadu anna muhammadan abduhu wa rosuluh. Artinya : Segala ucapan penghormatan hanyalah milik Allah, begitu juga segala shalat dan amal shalih. Semoga kesejahteraan tercurah kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat Allah dengan segenap karunia-Nya. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-NyaRukun shalat tetap harus dikerjakan saat sholat meskipun dalam keadaan sakit. Namun, Allah memberikan keringan bagi muslim yang sedang sakit untuk mendirikan sholat. Berikut adalah tata cara shalat bagi muslim yang sedang sakit :a) Muslim yang sakit wajib melakukan shalat dengan berdiri jika masih mampu, baik berdiri tanpa bantuan ataupun dengan bantuan tongkat maupun dengan bersandar di dinding atau orang di sampingnya. Seperti hadits berikut ini:

Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika berusia lanjut dan lemah, maka Beliau memasang tiang di tempat shalatnya untuk menjadi sandaran (HR. Abu Daud). b) Jika tidak mampu shalat berdiri, maka dapat dilakukan dengan posisi duduk. Posisi yang paling afdhal adalah bersila yaitu posisi kaki menyilang di bawah paha sebagai ganti posisi berdiri dan ruku (karena ruku juga dilakukan dengan berdiri).c) Jika masih tidak mampu shalat duduk, maka diperbolehkan shalat dengan posisi berbaring dengan wajah menghadap kiblat. Jika tidak memungkinkan menghadap kiblat, maka dapat menghadap kemana saja. Lebih diutamakan berbaring ke sisi kanan. Seperti diriwayatkan dalam hadits: Artinya : Shalat dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah (HR. Al-Bukhari).

Artinya : Dahulu Rasulullah SAW selalu mendahulukan sebewlah kanan dalam seluruh urusannya, dalam memakai sandal, menyisir, dan bersucinya (HR. Muslim).Jika tidak bisa miring, maka ia dapat shalat terlentang dengan kaki menuju arah kiblat. Yang lebih utama kepalanya agak ditinggikan sedikit agar bisa menghadap kiblat. Jika tidak memungkinkan juga, maka hendaklah ia shalat semampunya. d) Muslim yang sakit wajib melakukan ruku dan sujud dalam shalatnya. Jika tidak mampu dengan posisi sempurna, maka dapat dilakukan dengan anggukan kepala. Anggukan kepala untuk sujud lebih ke bawah dibandingkan anggukan kepala untuk ruku.e) Jika masih dapat melakukan ruku namun tidak bisa sujud, maka ia ruku seperti biasa dan menundukkan kepalanya sebagai pengganti sujud. Begitu pula sebaliknya.f) Jika tidak dapat menggunakan anggukan kepala, dapat dilakukan dengan isyarat mata. Pejamkan mata sedikit untuk ruku dan lebih lama untuk sujud.g) Jika tidak dapat melakukan shalat dalam semua keadaan di atas, maka hendaklah ia shalat di dalam hati. Jadi, ia melakukan semua rukun dengan niat dalam hati.h) Jika muslim yang sakit tertidur hingga lewat waktu shalat ataupun lupa, maka ia tetap wajib menunaikannya ketika bangun dari tidur maupun setelah mengingatnya (Al-Utsaimin, 2002).Muslim yang tidak sakit wajib menunaikan shalat pada waktu yang telah disyaratkan sebatas kemampuan. Jika berat dalam menunaikan semua shalat tepat pada waktunya, maka ia diberi rukhsah dalam bentuk qashar dan jama.Shalat qashar adalah shalat yang diperpendek atau diperingkas bilangan rakaatnya. Shalat yang dapat di qashar adalah shalat yang terdiri dari 4 rakaat. Sesuai dengan firman Allah AWT dalam Al-Quran :

Artinya : Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-oranng kafir itu adalah musuh nyata bagimu (Q.S An-Nisa (4):101).Shalat jama adalah shalat fardhu yang dikumpulkan, yakni dua waktu shalat dikumpulkan atau dikerjakan dalam satu waktu. Shalat jama hanya dapat dilakukan pada waktu Dzuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya. Ada dua pelaksanaan shalat jama:a. Jama Takdim yaitu menjama shalat Dzuhur dengan Ashar di waktu Dzuhur atau Maghrib dengan Isya dikerjakan di waktu Maghrib.b. Jama Takhir yaitu menjama shalat Dzuhur dengan Ashar di waktu Ashar atau Maghrib dengan Isya dikerjakan di waktu Isya.Syarat shalat jama adalah:a. Dikerjakan dengan tertib, yakni dengan shalat yang pertama misalnya Dzuhur dahulu kemudian Ashar, atau Maghrib dahulu kemudian Isya.b. Niat jama dilakukan pada shalat pertama.c. Berurutan antara keduanya, yakni tidak boleh disela dengan shalat sunah atau perbuatan lainnya (Khalilurrahman M, 2008).Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa MG merupakan ujian dari Allah SWT kepada penderita agar lebih memperhatikan kesehatan pada diri sendiri. Kesehatan merupakan rezeki yang Allah diberikan dan harus selalu dijaga, salah satunya dengan melakukan pengobatan yang sesuai dengan syariat Islam. Pengobatan dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi kesehatan dengan berobat sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter dan tidak lupa untuk selalu berdoa, bersabar, serta bertawakal. Pada pasien MG mengalami gangguan autoimun yang menyebabkan otot skelet menjadi lemah. Apabila pasien MG sedang mengalami kelemahan otot menyebabkan sulitnya untuk melaksanakan aktivitas salah satunya adalah ibadah shalat. Meskipun sulit untuk melaksanakan ibadah shalat, Islam memberikan kemudahan untuk menunaikan ibadah shalat dalam keadaan sulit, sakit melalui keringanan atau disebut rukshah. Pelaksanaan shalat pada pasien MG sesuai dengan keparahan yang dialami, jika kelemahan otot yang dirasakan tidak begitu parah maka dianjurkan melakukan shalat dengan cara berdiri. Jika diawal merasa kuat untuk melaksanakan shalat maka disarankan untuk berdiri dan jika dipertengahan shalat mulai merasakan tidak nyaman maka disarankan untuk duduk. Tetapi jika serangan tersebut mengenai otot untuk berbicara yang menyebabkan pengucapan tidak fasih dan terbata-bata maka tetap melakukan shalat dengan sebisanya.

39