Click here to load reader

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi dan Metode Penelitian

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi dan Metode Penelitian

01 COVER fanyxMenurut Bogdan dan Taylor, “Metodologi adalah proses, prinsip dan
prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban”.
Dengan ungkapan lain, metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk
mengkaji penelitian. (Mulyana, 2001 : 145). Adapun pengertian metodologi
lainnya yaitu suatu sistem panduan untuk memecahkan persoalan, dengan
komponen spesifiknya adalah bentuk, tugas, metode, teknik dan alat. Metodologi
sendiri dapat diukur berdasarkan kemanfaatannya, dan tidak bisa dimulai apakah
suatu metode benar atau salah. Untuk menelaah hasil penelitian secara benar, kita
tidak dapat cukup melihat apa yang ditemukan peneliti, tetapi juga bagaimana
peneliti sampai pada temuannya berdasarkan kelebihan dan keterbatasan metode
yang digunakannya.
Sedangkan metode penelitian menurut Deddy Mulyana adalah teknik-
teknik spesifik dalam penelitian. Metode atau teknik penelitian apa pun yang kita
gunakan, misalnya apakah kuantitatif atau kualitatif, haruslah sesuai dengan
kerangka teoritis yang kita asumsikan” (Mulyana, 2001 : 145). Dengan demikian,
repository.unisba.ac.id
60
metode berada di dalam metodologi, atau dengan kata lain, metode lebih
berkenaan dengan teknis saja dari keseluruhan yang dibahas dalam metodologi.
Dalam konteks penelitian, yang termasuk metode adalah teknik penggalian data,
teknik pengolahan data, penentuan populasi serta sampel dan sejenisnya.
3.1.1 Penelitian Kualitatif
selebgram sebagai eksistensi diri melalui media sosial Instagram” menggunakan
metode penelitian kualitatif, hal ini dikarenakan peneliti menganggap bahwa
metode ini dirasa sangat pas untuk menjabarkan segala halnya. Sebagaimana
pengertiannya;
Denzin dan Lincoln (1987) adalah :”penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada”. (Moleong, 2002 : 5).
Dari definisi di atas, dapat kita ketahui bahwa pada penelitian ini berupaya
untuk lebih memahami proses kejadian yang diamati, karena proses yang
membantu perwujudan fenomena itulah yang dianggap penting, bukannya
fenomena itu sendiri dan dalam mengamati suatu fenomena pun dibantu dengan
metode-metode yang mendukung penelitian tersebut.
Hal yang paling mendasar mengapa penulis memilih metode kualitatif
yaitu terletak pada situasi penelitian yang dihadapi. Umumnya, metode kualitatif
mencoba untuk menguak segala hal yang berisfat personal, serta pengalaman-
pengalaman yang dirasakan seseorang, terlebih menjelaskan tentang suatu
repository.unisba.ac.id
61
fenomena yang belum banyak diketahui oleh kebanyakan orang. Seperti yang
dilakukan oleh peneliti yaitu meneliti impression management, komunikasi verbal
dan nonverbal apa saja yang dilakukan seorang selebgram untuk mendapatkan
citra positif dengan pendekatan dramaturgi.
Peneliti menggunakan penelitian kualitatif dalam penelitian ini karena
melihat kondisi dari suatu fenomena. Pendekatan ini bertujuan untuk memperoleh
pemahaman dan menggambarkan realitas yang kompleks seperti telah dijelaskan
di atas. Metode ini dipilih karena selain tidak menggunakan angka-angka statistik,
penulis ingin dalam penelitian ini dapat menjelaskan pengelolaan kesan yang
dilakukan oleh selebgram ketika berada di panggung depan dan panggung
belakangnya dan bagaimana komunikasi verbal dan nonverbal yang ia lakukan.
Dimana hasil yang diperoleh dari penelitian ini akan akurat karena proses yang
dilakukan selama penelitian berlangsung mengandalkan peneliti sebagai
instrument penelitiannya dengan kata lain peneliti mempunyai hak untuk
mengatur jalannya penelitian seperti yang diinginkan.
Lebih jauh, Deddy Mulyana menginterpretasikan bahwa kaum subjektivis
(kualitatif) menjelaskan makna perilaku dengan menafsirkan apa yang orang
lakukan (Mulyana, 2010 : 32). Namun, interpretasi atas perilaku ini tidak bersifat
sebab-akibat, dan juga tidak bisa dijelaskan melalui penemuan hukum yang
mengeneralisasikan segala hal seperti apa yang dilakukan oleh ilmuwan objektif
(kuantitatif). Sehingga, fokus perhatian pendekatan kulitatif akan mengacu kepada
bagaimana seseorang melakukan suatu tindakan (action).
repository.unisba.ac.id
62
Tindakan (action) yang ada di kehidupan kita tentu akan mengacu kepada
realitas yang ada—realitas yang dihadapi, sehingga memicu seseorang untuk
melakukan suatu tindakan (action) yang tentunya dapat dibuktikan secara real
(nyata). Menurut Pace Faules;
Penelitian kuantitatif memandang realitas sebagai suatu proses kreatif yang memungkinkan individu menciptakan keteraturan. Dunia dan semua aspek di dalamnya, pada dasarnya tidak terstruktur. Dan kalau pun struktur dianggap ada, manusialah yang menciptakan struktur tersebut bukan struktur yang menetukan perilaku manusia (Mulyana 2010 : 34).
Alasan ini agaknya menjadi lebih kuat karena adanya prinsip kualitatif
yang menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan tidak persis dengan manusia
lainnya, sehingga perilaku mereka tidak dapat diuraikan secara kausal dan
karenanya tidak dapat diramalkan. Selain itu, penelitian kualtatif juga sering
dikategorikan dalam paradigma Interpretif. Karena paradigma interpretif selalu
memandang kegiatan manusia dalam memaknai kehidupan sosial.
Deacon (1999) mengatakan bahwa, para peneliti paradigma interpretif
kurang tertarik untuk meneliti kekuatan eksternal yang mungkin menentukan
perilaku masyarakat (Daymon & Holloway, 2008 : 5). Perilaku ekternal yang
dimaksud adalah segala hal yang bersifat general seperti peraturan pemerintah,
kode etik, dan sebagainya. Sehingga nantinya peneliti akan memfokuskan perilaku
internal seperti pengalaman subjektif, selera, dan hal yang bersifat pribadi lainnya
di dalam penelitiannya.
dengan penelitian jenis lainnya. Menurut Mulyana (2010: 158), semua penelitian
tersebut bersifat kualitatif berdasarkan ciri-ciri berikut:
repository.unisba.ac.id
63
1. Memiliki minat teoritis pada proses intepretasi manusia. 2. Memfokuskan perhatian pada studi tindakan manusia dan artefak yang
tersituasikan secara sosial. 3. Menggunakan manusia sebagai instrumen penelitian utama. 4. Mengandalkan terutama bentuk-bentuk naratif untuk mengkode data dan
menulis teks untuk disajikan kepada khalayak.
Sehingga, peneliti yang menggunakan hendak menggunakan metode
kualitatif harus mampu memiliki beberapa keterampilan, sebagaimana yang telah
diutarakan oleh Anselm Strauss dan Juliet Corbin (2009), yang menyebutkan
bahwa diperlukannya kepekaan teoritis dan sosial, artinya peneliti dengan metode
kualitatif harus mampu menghubungkan sebuah teori dengan fenomena sosial
yang dihadapinya.
Kemampuan menjaga jarak analisis, sekaligus memanfaatkan untuk
memahami apa yang terlihat oleh peneliti pun menjadi suatu keterampilan yang
harus dimiliki. Pengamatan yang cermat dan kecakapan berinteraksi tidak lupa
harus dimiliki pula oleh seorang peneliti. Keterampilan-keterampilan tersebut
bertujuan agar penelitian yang hendak dilakukan mendapatkan hasil yang
maksimal, mengingat beberapa teknik untuk mendapatkan datanya harus
melakukan sebuah wawancara, yang cenderung harus dilakukan tidak seperti
wawancara pada umumnya.
kualitatif yang diungkapkan oleh Guba & Lincoln serta Bogdan & Biklen, sebagai
berikut:
repository.unisba.ac.id
64
1. Latar Alamiah Peneliti kualitatif melakukan penelitian pada konteks suatu keutuhan (entity)
2. Manusia sebagai alat (instrumen) Dalam penelitian kulitatif hanya manusia yang mampu memahami kaitan kenyataan-kenyataan di lapangan.
3. Metode Kualitatif Metode kualitatif digunakan karena metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak pinjaman pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
4. Analisis Data Induktif Analisis data secara induktif dapat membuat hubungan peneliti-responden menjadi eksplisit dan dapat dikenal.
5. Teori Dasar (grounded theory) Penyusunan teori di sini berasal dari bawah ke atas (grounded theory), yaitu sejumlah banyak data yang dikumpulkan dan saling berhubungan.
6. Deskriptif Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran.
7. Lebih Mementingkan Proses Daripada Hasil Penelitian kualitatif lebih mementingkan segi “proses” daripada “hasil” sebab hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas jika diamati dalam proses.
8. Adanya “Batas” yang Ditentukan oleh “Fokus” Penelitian kualitatif menghendaki ditetapkannya batas dalam penelitiannya atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian.
9. Adanya Kriteria Khusus untuk Keabsahan Data Penelitian kualitatif mendefinisikan validitas, realbilitas dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang digunakan dalam penelitian klasik.
10. Desain yang Bersifat Sementara Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus-menerus disesuaikan dengan keadaan yang terjadi di lapangan.
11. Hasil Penelitian Dirundingkan dan Disepakati Bersama Pada penelitian kualitatif pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh disepakati oleh manusia yang dijadikan sumber data (Moleong, 2009:8- 13).
3.2 Metode Penelitian Dramaturgi
Ervin Goffman. Di mana pendekatan ini termasuk kepada paradigma
repository.unisba.ac.id
65
konstruktivis, yang memandang bahwa realita tidak menunjukan dirinya dalam
bentuk yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara
seseorang melihat sesuatu (Morrisan, 2013 : 107). Dalam pendekatannya ini
Goffman menyebutkan bahwa dalam melakukan interaksi, manusia akan
mengelola segala hal yang menempel pada badannya (impression management),
mulai dari atribut yang dikenakan hingga nada bicara. Pengelolaan tersebut
merupakan sebuah kontrol yang ingin diperkenalkan kepada lawan interaksi
individu yang bersangkutan.
menggunakan konsep “peran sosial” dalam menganalisisi interaksi sosial, yang
dipinjam dari khasanah teater. Peran adalah “ekspetasi yang didefinisikan secara
sosial yang dimainkan seseorang dalam suatu situasi untuk memberikan citra
tertentu kepada khalayak yang hadir” (Mulyana, 2006: 108-109).
Menurut Goffman,
Kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “panggung depan” (front stage) dan “panggung belakang” (back stage). Panggung depan merujuk kepada peristiwa sosial yang memungkinkan individu bergaya atau menampilkan peran formalnya. Mereka seperti sedang memainkan suatu peran di atas panggung sandiwara di hadapan khalayak penonton, sebaliknya, panggung belakang ibarat kamar rias tempat pemain sandiwara tersebut mempersiapkan diri atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan (dalam Mulyana, 2001: 114).
Goffman pun menilai bahwa:
Konsep dramaturgi tidak jauh berbeda dengan pertunjukan teater yang selalu memiliki panggung depan dan panggung belakang. Di mana ada citra yang coba dibangun saat seseorang menampilkan panggung depannya kepada lawan interaksinya, tanpa harus menunjukan hal-hal yang terjadi di belakang panggung (dalam Mulyana, 2010 : 114).
repository.unisba.ac.id
66
melainkan apa yang ingin mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukannya.
Setiap orang yang membuat “pertunjukan” dalam penampilanya di hadapan
khalayak akan berusaha menampilkan suatu kesan yang berbeda. Lewat imajinasi
pula seseorang berusaha mempersepsi pikiran orang lain melalui suatu gambaran
tentang penampilan, perilaku, tujuan, perbuatan, karakter, dan sebagainya saat
berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola kesan yang ia harapkan
tumbuh pada orang lain terhadapnya.
Seseorang biasanya tidak selalu memunculkan karakter dirinya yang
sebenarnya. Karena ia ingin agar orang lain dapat menilai dirinya sesuai dengan
karakter yang diinginkannya, maka ia akan memainkan peran yang dinginkanya.
Karena begitu banyaknya peran yang dimainkan seseorang, tidak semua peran itu
dimainkan dengan intensitas yang sama. Hal ini disebut sebagai jarak peran.
Menurut Goffman, “Jarak peran yang merujuk kepada sejauh mana aktor
memisahkan diri mereka dari peran yang mereka pegang” (Mulyana, 2001 : 118).
Seseorang aktor harus bisa memisahkan peranya antara peran yang satu dengan
peran yang lain.
seseorang dalam melakukan perannya. Seperti halnya pertunjukan teater, sang
aktor pasti akan membutuhkan pakaian yang digunakan, aksesoris, bahkan
kendaraan pribadi dan tak lupa setting untuk mengoptimalkan kinerjanya di depan
khalayak. Contoh, seorang mahasiswa pergi yang hendak pergi ke kampus,
dirinya mengenakan pakaian yang rapi, nyaman, dan bermerk, dan tak lupa
repository.unisba.ac.id
67
membawa kendaraan pribadinya untuk pergi ke kampus. Kampus yang menjadi
setting pada perannya ini mendukung label mahasiswa yang diberikan
masyarakat.
dibandingkan dengan panggung depan. Panggung belakang akan bersifat lebih
vulgar, bisa jadi manner yang seorang aktor jaga dengan sangat baik benar-benar
terlepas dari dirinya. Tidak hanya berperan sendiri, sang aktor pun memerlukan
team yang harus berdampingan untuk menutupi wajah aslinya di belakang
panggung.
Performances are not merely individual phenomena. That is, a performance is generally tied up with other people who are on the actor’s team. Just as in the theater there is usually a cast of two or more performers as well as other personel involved in a presentation, so in real life there are other actors with whom one’s performance is interlocked. Thus, a team is a group of people who cooperate in maintaining particular definition of some situation (Lauer & Handel, 1983 : 134).
Pertunjukan-pertujukan tidak sepenuhnya sebagai fenomena yang bersifat
individual. Bahwa ada pertunjukan yang secara umum terikat dengan orang lain
yang di mana merupakan tim dari aktor tersebut. Seperti halnya dalam teater,
biasanya terdapat dua pemain atau pemain lainnya yang terlibat dalam suatu
presentasi, jadi pada dasarnya dalam kehidupan nyata terdapat beberapa aktor
yang sama-sama bekerja sama. Oleh karena itu, sebuah tim adalah sekumpulan
orang yang kooperatif dalam mengatur beberapa definisi situasi yang bersifat
khusus. Sehingga, fokus dari dramaturgi adalah bukan pada konsep-diri yang
dibawa oleh aktor, melainkan diri yang tersituasikan secara sosial yang
berkembang dan mengatur interaksi-interaksi spesifik (Nurhadi, 2015 : 60).
repository.unisba.ac.id
68
dirinya melalui media sosial Instagram. Panggung depan dari Selebgram disini
adalah akun media sosial Instagram pribadi mereka masing-masing yang aktif
digunakan. Dan panggung belakangnya yaitu, sehingga akan mengacu kepada
beberapa hal diluar aktivitas mereka di media sosial Instagram, artinya hal-hal
tersebut hanya akan diketahui oleh orang-orang terdekat saja.
3.3 Subjek dan Objek Penelitian
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dari hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian (Sugiyono, 2012: 50).
Dengan demikian, objek dari penelitian kualitatif akan menyorot kepada
hal yang lebih luas seperti tempat mengaji seseorang, aktivitas yang dilakukan
seseorang, bahkan pelaku atas suatu kejadian. Lebih jauh dijelaskan bahwa objek
dari penelitian kualitatif adalah keingintahuan tentang sesuatu yang terjadi dalam
suatu situasi sosial.
Sehingga nantinya bukan tidak mungkin akan terjadi suatu pertentangan nilai,
ataupun pertentangan maksud dan tujuan antara informan dengan peneliti. Oleh
karena itu peneliti terlebih dahulu menjelaskan maksud dan tujuan serta pada
repository.unisba.ac.id
69
dilakukan untuk membangun kepercayaan antara peneliti dan juga informan.
Sehingga nantinya informan akan lebih leluasa mengutarakan hal-hal apapun
bahkan sampai kepada tingkat yang pribadi.
Informan dari penelitian ini adalah Selebgram dan kategori Selebgram yang
akan digunakan dalam penelitian ini adalah Selebgram yang memilki lebih dari
10.000 followers di akun Instagram miliknya. Sebenarnya, tidak ada ukuran yang
mutlak dari segi jumlah followers untuk seseorang bisa dikatakan sebagai
Selebgram. Seseorang dapat dikatakan sebagai selebriti di media sosial apabila
orang tersebut mendapatkan komentar baik dan karyanya banyak disebarluaskan.
Berdasarkan dedikasi tersebut banyak Selebgram yang mendapatkan endorsement
atau sponsorship dari sebuah brand. Hal ini berkenaan dengan kepercayaan yang
diberikan oleh pengendors karena kepandaian selebgram dalam mengemas suatu
hal dengan sebaik mungkin sehingga dapat diapresiasi oleh pengguna Instagram
lainya yang juga mendapatkan citra positif baik untuk selebgramnya sendiri
ataupun pihak brand sebagai pengendors.
Penelitian di sini memfokuskan kepada cara Selebgram mengelola kesan
di akun pribadi Instagramnya, yang kemudian akan disangkut pautkan dengan
kehidupan di luar akun Instagram.
Tabel 3.1 Profil Informan
NO Akun Instagram
Usia Banyaknya Followers
1 NT 19 Tahun 182.000 2 EP 26 Tahun 87.900 3 LP 22 Tahun 45.000
repository.unisba.ac.id
70
Terdapat tiga Selebgram yang menjadi informan dalam penelitian ini, yang
berhasil diwawancara oleh peneliti. Masing-masing dari mereka memiliki jumlah
followers yang cukup variatif. Jumlah followers masing-masing Selebgram ini
didapat pada tanggal 4 Febuari 2016 yang lalu dan jumlah followers mereka dapat
berubah-ubah setiap harinya.
Informan pertama wanita berparas cantik bernama LP yang saat ini masih
berkuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Wanita berusia 22 tahun ini
memiliki profesi sebagi model yang namanya sudah melejit di kota kelahirannya.
LP yang memiliki kepribadian yang ramah ini sangat senang berfoto, oleh karena
itu akun di Instagramnya penuh dengan kreasi dalam berfashion.
Informan kedua adalah Seorang wanita yang memiliki profesi sebagai
model dewasa. Ia yang telah menghiasi beberapa majalah dewasa di Indonesia. Ia
pun sering mengupload foto dalam akun Instagramnya dengan pakaian yang mini
sehingga membuat followers di akun Instagramnya mencapai 89k.
Informan ketiga adalah NT, Ia adalah seorang Selebgram Hijabers yang
memiliki followers terbanyak di dalam penelitian ini. Salah satu alasan mengapa
penulis memilih dirinya untuk menjadi salah satu informan dalam penelitian ini
karena foto-foto yang diunggah olehnya memiliki keunikan yang sangat berbeda
dengan selebgram lainya. Sebelum mengunggah foto ke Instagram, Nabila selalu
mengedit foto dengan ilustrasi dengan sangat menarik yang merupakan hasil
karyanya karena dia memiliki hobi menggambar sejak kecil.
repository.unisba.ac.id
71
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum
memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Dalam
hal ini Nasution (1988) dan dikutip oleh Sugiyono dalam Judulnya “Memahami
penelitian Kualitatif” menyatakan bahwa: “Analisis telah mulai sejak
merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan
berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian” (Sugiyono, 2014: 89).
1. Analisis sebelum di lapangan
Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti
memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data hasil studi
pendahuluan, atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan
fokus penelitian. Namun demikian setelah peneliti masuk dan selama di
lapangan.
jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah
dianalisis terasa belum memuaskan, maka penelitia akan melanjutkan
pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap
kredibel. Miles and Huberman (1984), mengemukakan dan dikutip dalam
buku yang berjudul “Memahami Penelitian Kualitatif” karya Prof. Dr.
Sugiyono bahwa Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara
repository.unisba.ac.id
72
datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction,
data display, dan conclusion drawing/ verification.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan suatu proses yang terdiri dari beberapa
aktivitas yang saling berkaitan satu sama lain. Adapun teknik pengumpulan data
yang digunakan peneliti dalam penelitian ini. Untuk itulah penulis menggunakan
teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi langsung adalah keterlibatan peneliti dengan kegiatan sehari-
hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data
penelitiaan (Sugiyono, 2014: 64). Dengan melakukan observasi secara
langsung, penulis akan mampu melihat cara yang dilakukan seorang
Selebgram dalam mempresentasikan dirinya di media sosial Instagram.
2. Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan
terwawancara (interviewee) yang memeberikan jawaban atas pertanyaan
itu (Mulyana, 2009:186). Teknik wawancara ini dimaksudkan untuk
mendapatkan data kualitatif yang bersifat subjektif, untuk itu dalam
melakukan wawancara penulis akan menggunakan interview guide yaitu
sebuah daftar pertanyaan yang bersifat terbuka dan ingin memperoleh
jawaban yang mendalam. Pertanyaan-pertanyaan tersebut nantinya akan
ditanyakan kepada Selebgram dalam mempresentasikan dirinya.
repository.unisba.ac.id
73
panggung belakang, penulis pasti akan memerlukan dokomentasi dari
Selebgram dalam melakukan presentasi dirinya. Dokumen-dokumen
tersebut meliputi foto, video, bahkan berita-berita yang beredar melalui
sosial media secara langsung pada saat penulis melakukan penelitian ke
lapangan.
observasi data dari koran, majalah, internet, literatur, dan media lainnya,
yang berhubungan dengan objek dan subjek penelitian ini.
5. Kepustakaan, Penulis dalam penelitian ini membaca buku-buku panduan
dan sumber lainnya. Referensi buku-buku yang didapatkan dari kepunyaan
sendiri, perpustakaan, dari teman-teman dan searching di internet. Selain
itu juga, penulis melihat hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya
sebagai rujukan, agar penelitian yang dilakukan penulis bisa terlaksana
dengan baik.
129):
1. Perpanjang pengamatan, teknik ini digunakan apabila terdapat data yang kurang di dalam penelitian ini, penulis akan memperpanjang pengamatan. Dengan perpanjang pengamatan, penulis akan kembali ke lapangan untuk melakukan wawancara kembali dengan sumber data yang pernah ditemui. Hal ini dilakukan agar hubungan yang terjalin antara penulis dengan
repository.unisba.ac.id
74
responden akan semakin akrab dan terbuka, sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.
2. Meningkatkan ketekunan, dalam melakukan penelitian, penulis dituntut untuk melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Artinya, peneliti bisa melakukan pengecekan kembali dengan cara membaca berbagai referensi buku, maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti.
3. Triangulasi, diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Triangulasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu, triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data dan triangulasi waktu. Pada triangulasi sumber peneliti akan membandingkan data yang diperoleh peneliti dari informan dengan ahli atau beberapa literatur. Berikut adalah gambar triangulasi teknik.
Wawancara Observasi
Gambar 3.1 Triangulasi Teknik
Pada triangulasi waktu data yang ditemukan di lapangan akan sangat tergantung dari jam penelitian, untuk itu dalam penelitian ini penulis akan mewawancarai narasumber di waktu yang sangat memungkinkan untuk mendapatkan waktu yang valid, seperti pagi hari dan di waktu senggang narasumber. Berikut merupakan gambar triangulasi waktu.
Siang Sore
Gambar 3.2 Triangulasi Waktu
4. Analisis kasus negatif, apabila terdapat contoh dan kasus yang tidak
sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan maka peneliti akan menganalisis dan digunakan sebagai bahan pembanding.
repository.unisba.ac.id
75
5. Menggunakan bahan referensi, yaitu adanya pendukung yang telah ditemukan oleh peneliti. Misalkan data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman wawancara, lalu observasi yang dilakukan didukung dengan adanya joting (hasil observasi).
6. Mengadakan member check, peneliti akan check data ynag telah diperoleh dari sumber informan. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh informan. Apabila data yang ditemukan tersebut disepakati oleh para informan, maka data tersebut dikatakan valid sehingga semakin dipercaya, tetapi jika tidak, maka peneliti harus melakukan diskusi kembali dengan informan dan mengganti kembali data yang telah ditemukan sebelumnya.
3.8. Uji Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, terdapatnya data yang dapat dinyatakan valid
atau berbeda saat ditemukan di lapangan dan dilaporkan oleh peneliti. Data-data
tersebut dapat diukur dengan uji validitas melalui teknik Triangulasi.
Menurut Sugiyono dalam buku “Memahamii Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif”, menyatakan “Triangulasi dlam pengujian kredibilitas ini diartikan
sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cata, dan berbagai
waktu” (Sugiyono, 2009: 273). Dengan demikian terdapat triangulasi sumber,
triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu. Sebagaimana uraiannya di bawah
ini:
mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi Teknik Pengumpulan data
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara
mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
repository.unisba.ac.id
76
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Untuk itu dalam
rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan
wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang
berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda maka dilakukan
secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.
3.9 Wilayah Penelitian
Di dalam tahapan ini, peneliti menghubungi informan serta mendatangi
langsung keberadaan informan tersebut dengan tempat waktu yang dibutuhkan.
Penelitian ini berlangsung dan dilaksanakan oleh peneliti dengan menggunakan
kurun waktu penelitian selama hampir 4 (empat) bulan terhitung bulan Oktober
2015 hingga bulan Januari 2016.
repository.unisba.ac.id