Click here to load reader

BAB III DASAR TEORI 3.1. Wireline Logdigilib.itb.ac.id/files/disk1/679/jbptitbpp-gdl...22 BAB III DASAR TEORI Dalam bab ini, penulis akan memaparkan secara singkat teori-teori dasar

  • View
    215

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB III DASAR TEORI 3.1. Wireline Logdigilib.itb.ac.id/files/disk1/679/jbptitbpp-gdl...22 BAB III...

  • 22

    BAB III

    DASAR TEORI

    Dalam bab ini, penulis akan memaparkan secara singkat teori-teori dasar yang

    digunakan didalam penelitian. Dasar Teori terdiri dari konsep wireline log, konsep

    dasar seismik, konsep sesar, dan konsep analisis sekatan sesar.

    3.1. Wireline Log

    Wireline log adalah suatu metode logging yang dilaksanakan setelah

    pemboran selesai. Logging harus segera dilaksanakan setelah pemboran selesai karena

    filtrat lumpur yang masih tertinggal pada lubang pemboran dapat mempengaruhi

    kondisi formasi. Hasil logging berupa rekaman data bawah permukaan yang disajikan

    dalam bentuk kurva log.

    Dalam penelitian ini digunakan log Gamma Ray, log Resistivity, dan log

    Sonic. Dari ketiga jenis log tersebut maka log Gamma Ray merupakan jenis log

    terbaik untuk interpretasi litologi sedimen klastik.

    Log Gamma Ray adalah log yang menunjukkan intensitas sinar radioaktif

    yang dipancarkan oleh suatu lapisan batuan. Kandungan radioaktif terbesar terdapat di

    lapisan serpih dan yang paling sedikit terdapat di lapisan batupasir, sehingga dari

    kurva log Gamma Ray ini dapat dibedakan antara lapisan batupasir dan serpih.

    Persamaan untuk menghitung Vsh dari log GR (Alberty, 1993) sebagai berikut :

    Secara kualitatif kandungan radioaktif besar akan ditunjukkan oleh defleksi

    kurva ke kanan sedangkan untuk kandungan radioaktif kecil akan ditunjukkan oleh

    defleksi kurva ke kiri.

    Log Resistivity merupakan salah satu jenis log listrik yang mengukur sifat

    resistivitas/tahanan jenis dari lapisan. Prinsip dasarnya adalah kemampuan batuan

    dalam menghantarkan arus listrik. Lapisan yang mengandung minyak, air tawar dan

    gas biasanya bersifat isolator, sedangkan lapisan batuan yang mengandung air asin

    akan bersifat konduktor. Log Resistivity lebih tepat digunakan untuk mengetahui

    kandungan fluida pada suatu lapisan batuan.

    ............................... (1)

  • 23

    Sedangkan log sonic adalah log yang mengukur waktu tempuh gelombang

    bunyi pada suatu jarak tertentu di dalam lapisan batuan. Keadaan ini tergantung dari

    jenis dan besarnya porositas batuan beserta kandungan fluidanya. Makin besar waktu

    tempuh gelombang maka harga porositas batuan akan bertambah besar. Log sonic

    digunakan untuk membedakan antara lapisan batuan yang porous dan permeabel.

    3.2. Seismik

    Metode seismik merupakan metode yang biasa dilakukan oleh setiap

    perusahan minyak baik dalam kegiatan eksplorasi maupun pengembangan produksi.

    Prinsip dasar metode seismik adalah perambatan energi gelombang seismik yang

    ditimbulkan oleh sumber getaran dari permukaan bumi ke dalam bumi, kemudian

    dipantulkan oleh bidang ke permukaan oleh bidang pantul yang merupakan bidang

    batas antara dua lapisan yang mempunyai kontras impedansi akustik ke permukaan.

    Salah satu sifat akustik yang khas pada batuan adalah impedansi akustik (IA)

    yang merupakan hasil perkalian antara densitas () dan kecepatan (V), dengan

    persamaan:

    Nilai-nilai impedansi akustik yang dimaksudkan adalah kecepatan dan massa

    jenis batuan penyusun lapisan bumi, dimana hubungan antar keduanya dapat

    dinyatakan sebagai berikut:

    dimana, R = koefisien refleksi

    = massa jenis batuan (kg/m3)

    V = kecepatan rambat (m/detik2)

    V = impedansi akustik (kg.m/detik2)

    T = koefisien transmisi

    Waktu merambatnya gelombang dari sumber ledakan kemudian dipantulkan

    kembali oleh bidang reflektor disebut Two Way Time (TWT). Sebagian energi yang

    dipantulkan tesebut akan diterima oleh serangkaian detektor (geofon), yang kemudian

    akan direkam dalam suatu magnetic tape. Parameter yang direkam adalah waktu

    penjalaran gelombang seismik dari sumber menuju detektor.

    V IA = ............................... (2)

    11221122 / VVVVR += RT = 1 ............................... (3) dan

  • 24

    3.2.1 Pengikatan Data Seismik dan Sumur (Well Seismic Tie) Untuk meletakan horison seismik (skala waktu) pada posisi kedalaman

    sebenarnya dan agar data seismik dapat dikorelasikan dengan data geologi lainnya

    yang umumnya diplot dalam skala kedalaman, maka perlu dilakukan well seismic tie.

    Teknik yang dapat dilakukan dalam pengikatan ini yaitu dengan pembuatan

    seismogram sintetik dari hasil survei kecepatan yang disebut velocity seismic profile

    atau check shot survey (Sukmono, 1999). Dalam penelitian kali ini data check shot

    survey digunakan untuk mendapatkan persamaan matematika dari kurva kedalaman-

    waktu, yang digunakan untuk mengkonversi data waktu menjadi kedalaman.

    3.2.2 Picking Horizon dan Sesar

    Identifikasi pantulan (picking) biasanya disebut sebagai kemampuan untuk

    mengidentifikasi lapisan batuan pada penampang seismik yang biasa disebut top

    formasi. Secara definisi horison adalah suatu slice sepanjang permukaan suatu bidang.

    Apabila pada saat menelusuri suatu horison kemudian tiba-tiba kenampakan horison

    tersebut tidak jelas, maka untuk meneruskannya dengan mengikuti horison lain yang

    berdekatan dan sejajar dengan horison tersebut.

    Analisa dan interpretasi struktur dengan menggunakan data seismik pada

    dasarnya adalah menginterpretasikan keberadaan struktur patahan pada penampang

    seismik. Penentuan indikasi sesar dicirikan oleh kriteria sebagai berikut:

    Diskontinuitas horizon atau meloncatnya (dislokasi) kemenerusan

    refleksi horizontal secara tiba-tiba.

    Perubahan sudut horizon secara mendadak.

    Terjadinya penebalan atau penipisan lapisan antara dua horizon.

    Fault Shadow, yaitu rusaknya data di daerah (zona) tersesarkan.

    Kuat atau lemahnya refleksi karena perbedaan densitas pada blok

    patahan.

    3.2.3. Pemetaan Bawah Permukaan

    Peta bawah permukaan adalah peta yang menggambarkan bentuk maupun

    kondisi geologi bawah permukaan dan menjadi dasar dalam suatu kegiatan eksplorasi

    hidrokarbon, mulai dari awal hingga pengembangan lapangannya. Peta bawah

    permukaan mempunyai sifat yang kuantitatif dan dinamis. Kuantitatif artinya peta

    menggambarkan suatu garis yang menghubungkan titik-titik yang nilainya sama,

  • 25

    sedangkan dinamis artinya kebenaran peta tidak dapat dinilai atas kebenaran metode,

    tetapi dinilai berdasarkan data yang ada. Semakin banyak data akan semakin baik,

    sehingga peta akan berubah menurut waktu dan tempat (Tearpock dan Bischke,

    1991).

    Perlu disadari bahwa peta bawah permukaan merupakan hasil interpretasi

    geologi dan geofisika yang bergantung pada keterbatasan data, teknik pelaksanaan,

    imajinasi yang kreatif, kemampuan visual tiga dimensi, dan pengalaman. Data-data

    yang dipakai untuk interpretasi tersebut antara lain wireline log, core dan seismik.

    3.3. Sesar

    Sesar adalah rekahan pada batuan yang telah mengalami pergesran pada

    bidang rekahnya. Sesar merupakan patahan/rekahan tunggal atau suatu zona pecahan

    pada kerak bumi bersamaan dengan terjadinya pergerakan yang cukup besar, parallel

    terhadap zona rekahan atau zona pecahan tersebut. Selain itu sesar juga berarti

    bergesernya struktur batuan yang slip satu sama lain di sepanjang bidang atau zona

    rekahan.

    (a) (b) Gambar 3.1. Sesar(a) dan kekar (b) (modifikasi dari Sapiie dan Harsolumakso, 2002)

    Istilah kekar memiliki arti yang berbeda dengan sesar, walaupun merupakan

    patahan atau rekahan, namun dari mekanisme pembentukannya berbeda dengan sesar.

    Walaupun kekar ini dapat memperlihatkan pergerakan yang cukup besar namun tidak

    memperlihatkan kesejajaran, atau kekar ini tidak menghasilkan pergerakan pada

    strukturnya.

    Sistem patahan dapat menghasilkan pergerakan mendatar, tegak dan berputar

    dalam kerak bumi. Pada umumnya patahan mengalami beberapa kali peristiwa

    deformasi yang teraktifkan kembali dalam model tektonik berbeda. Dibawah ini

    adalah beberapa aspek sistem patahan, yaitu:

  • 26

    Patahan adalah struktur dinamik yang berkembang dalam sisi ruang dan

    waktu.

    Pada umumnya patahan terjadi dalam sistem yang berhubungan. Hubungan ini

    biasanya diikuti aturan geometri dan mekanika yang memperbolehkansistem

    patahan untuk membentuk pola karakteristikyang dapat dikenali.

    Deformasi dapat terjadi apabila keseimbangan patahan yang rapuh (brittle

    faulting) dipermukaan kerak bumi dengan deformasi plastik dibawah kerak

    plastik dibawah kerak bumi. Kejadian keterkaitan antara atas dan bawah kerak

    tergantung atas rezim tektonik. Konsep keseimbangan belahan ini merupakan

    aspek penting dalam menganalisa terrane yang terpatahkan.

    Kebanyakan patahan permukaannya tidak bidang datar yang sederhana tetapi

    memperlihatkan bentuk yang komplek dilihat dalam tiga dimensi. Perubahaan

    dalam bentuk patahan mesti menyebabkan perlunya pandangan secara

    geometri untuk mengakomodasi struktur dalam bagian hangingwall yang telah

    bergerak sepanjang variabel permukaan patahan

    3.3.1. Unsur-Unsur Pada Struktur Sesar

    Untuk mengetahui klasifikasi patahan, maka sebelumnya kita harus mengenal

    unsur-unsur patahan. Unsur-unsur dan istilah penting struktur patahan yang dapat

    dikenali pada penampang seismik dapat dibagi menjadi (Gambar 3.2):

    Bidang sesar: bidang rekahan tempat terjadinya pergeseran, yang kedudukannya

    dinyatakan dengan jurus dan kemiringan.

    Hangingwall: bagian terpatahkan yang berada diatas bidang sesar.

    Footwall: bagian terpatahkan yang berada dibawah bidang sesar.

    Throw: komponen vertikal dari slip/separation diukur pada bidang vertikal yang

    tegaklurus bidang patahan

    Heave: Komponen horizontal dari slip/separation diukur pada bidang vertikal yang

    tegak lurus jurus patahan.

    Slip: pergeseran relatif sebenarnya.

    Separation: pergeseran relatif semu.

  • 27

    Gambar 3.2. Komponen geometri pada bidang sesar (Twiss dan Moore, 1992)

    3.3.2. Tipe dan Klasifikasi Sesar

    Sesar atau patahan adalah rekahan pada batuan yang telah mengalami

    pergeseran melalui bidang rekahnya. Sifat pergeserannya dapat bermacam macam:

    mendatar, miring (oblique), naik dan turun. Didalam mempelajari struktur sesar,

    disamping geometrinya yaitu bentuk, ukuran, arah dan polanya, yang penting juga

    untuk diketahui adalah mekanisme pergerakannya. Salah satu klasifikasi sesar yang

    umum digunakan adalah klasifikasi Anderson (1951) yang membagi sesar mengikuti

    prinsip tegasan utama (1, 2, 3) (Gambar3.3).

  • 28

    Gambar 3.3. Klasifikasi sesar menurut Anderson, 1951 (Davis dan Reynolds, 1996)

    Sesar normal (normal fault) ialah sesar dimana pegeseran kearah kemiringan

    bidang adalah dominan dan bagian hangingwall bergerak relatif turun dibandingkan

    bagian footwall. Sesar ini terbentuk saat tegasan utama yang terbesar berada pada

    posisi vertikal, sedangkan tegasan utama yang terkecil berada pada posisi horizontal.

    Sesar normal merupakan jenis sesar yang paling sering dijumpai pada kebanyakan

    cekungan. Dilihat dari mekanisme pembentukannya kemungkinan sesar ini tidak

    bertindak sebagai penyekat, melainkan sebagai jalur mengalirnya fluida, karena

    mekanismenya yang meregang (ekstensional).

    Sesar naik (reverse fault) mempunyai pergeseran dominan searah kemiringan

    dimana blok hangingwall relatif bergeser kearah atas dibandingkan dengan blok

    footwall. Sesar terbentuk berkebalikan dengan sesar normal, dimana tegasan utama

  • 29

    terbesarnya berada pada posisi horizontal, sedangkan tegasan utama terkecilnya

    berada pada arah vertikal. Dilihat dari mekanisme pembentukannya, maka sesar ini

    kemungkinan bertindak sebagai penyekat karena mekanisme pembentukannya yang

    relatif menekan (compressional). Sesar naik sudut rendah sering disebut sebagai sesar

    anjak untuk membedakan dengan sesar naik sudut tinggi.

    Sedangkan sesar mendatar (strike-slip fault) mempunyai pergeseran dominan

    searah jurus bidang sesar. Pembentukan sesar ini akibat dari tegasan utama

    terbesarnya yang berada pada posisi horizontal begitu pun dengan tegasan utama

    terkecilnya. Struktur yang terbentuk akibat dari sesar mendatar ini lebih bervariasi

    dibandingkan dengan struktur yang dibentuk oleh sesar lain. Sering terjadi lipatan,

    sesar normal, naik dan anjak berasosiasi dengan sesar mendatar ini. Namun secara

    umum sesar ini dapat membentuk cekungan (pull-apart basin) dan tinggian (pop-up).

    (a) (b) Gambar 3.4. Sesar mendatar, pull-apart basin (a), pop-up (b) (modifikasi dari Sapiie dan

    Harsolumakso, 2002)

    Seperti halnya struktur bidang yang lain, klasifikasi sesar pun bisa dilihat dari

    sudut yang dibentuk bidang sesar tersebut dengan bidang horizontal. Sesar yang

    memiliki kemiringan lebih besar dari 45o maka disebut sebagai high-angle fault,

    sedangkan sesar yang memiliki kemiringan kurang dari 45o maka disebut low-angle

    fault.

  • 30

    Gambar 3.5. Klasifikasi sesar berdasarkan kemiringannya (modifikasi dari Sapiie dan Harsolumakso,

    2002)

    3.3.3. Tegangan dan Regangan

    Tegangan (stress) dan regangan (strain) merupakan konsep fundamental dalam

    struktur geologi. Menurut Peacock dan Marrett (1999), regangan merupakan

    perpindahan relatif yang berhubungan dengan pembentukan struktur dan dapat

    diterangkan secara spesifik oleh penggambaran geometri tanpa harus melihat

    dinamika prosesnya. Sedangkan tegangan adalah gaya yang bekerja selama

    pembentukan dan tidak dapat dipahami tanpa mengacu kepada analisis kinematik dan

    observasi geometrinya.

    Tegangan (stress) secara matematis dapat didefenisikan sebagai satuan

    gaya/luas area (F/A) sedangkan regangan (strain) sebagai pertambahan panjang suatu

    benda dibandingkan keadaan awal (L/L). Menurut Peacock dan Marrett, tegangan

    dan regangan tidak memiliki hubungan sebab akibat langsung, analisa struktur pada

    fase geometri/kinematik lebih bersifat deskriptif dan analisa fase dinamik lebih

    bersifat genetik.

    3.4. Sekatan Sesar (Fault Seal)

    Struktur dan komposisi dari zona sesar sangat bervariasi. Sifat dasar dari zona

    sesar sangat bervariasi sepanjang dari permukaan sesar, tergantung pada tipe dan

    jumlah litologi yang muncul. Torehan (smear) mungkin signifikan pada beberapa

    permukaan sesar tapi cataclasis gouge bisa berkembang dimana lapisan serpih absen.

    Sekatan (seal) adalah kandungan lempung yang menjadi kontrol utama dalam

    perilaku sekatan sesar dalam sekuen klastik campuran (Gambar 3.6). Sekatan bisa

    dikatakan sebagai sekatan membran atau sebagai sekatan hidrolik, tergantung dari

    model kegagalan sekatannya (Watts,1987). Kontrol dominan pada kegagalan sekatan

    membran adalah tekanan masukan kapiler dari batuan sekatan, yang mana tekanan

    tersebut merupakan tekanan yang dibutuhkan oleh hidrokarbon untuk memasuki

  • 31

    interkoneksi saluran pori (pore throat) yang terbesar dari sekatan (seal). Saat tekanan

    masukan telah melewati kekuatan batuan dalam cara untuk menerobos sekatan,

    sekatan bisa dikatakan sebagai sekatan hidrolik.

    Gambar 3.6. Zona sesar di bawah permukaan bumi (Dee, 2005)

    3.4.1. Mekanisme Sekatan (Sealing) Sesar

    Terdapat beberapa mekanisme yang bisa menunjukan bahwa sebuah sesar

    dapat bersifat sebagai penyekat (seal), yaitu :

    Posisi Kesehadapan (Juxtaposition), dimana lapisan reservoar berhadapan dengan

    lapisan dengan permeabilitas rendah, serta tekanan masukan yang tinggi. Posisi

    kesehadapan dari setiap litologi ini bisa dilihat dengan menggambarkan setiap

    unit litologi pada bidang sesar baik itu pada bidang hangingwall maupun pada

    bidang footwall (Gambar 3.7).

    f

    Gambar 3.7. Posisi kesehadapan dari unit litologi pada bidang sesar (Knipe, 1997)

  • 32

    Torehan Lempung (clay smears), yaitu masuknya hancuran lempung atau serpih

    ke dalam zona sesar, sehingga menyebabkan sesar tersebut memiliki tekanan

    masukan yang tinggi.

    Kataklastik, yaitu hancuran butiran pasir yang menghasilkan material sesar (fault

    gouge) dengan ukuran yang lebih halus, masuk ke dalam zona sesar, sehingga

    menyebabkan sesar tersebut memiliki tekanan masukan yang tinggi (mengurangi

    geometri dari saluran pori).

    Diagenesis/Mineralisasi/Alterasi, dimana sementasi pada bidang sesar yang

    awalnya memiliki permebilitas yang baik akhirnya akan menghilangkan porositas

    pada bidang sesar tersebut, baik sebagian atau seluruhnya. Akhirnya membentuk

    penyekat hidraulik. Bidang sesar yang dilalui fluida sangat mungkin terjadi

    pembentukan mineral autigenik yang akan mengurangi porositas dari bidang

    sesar tersebut, selain itu seiring berjalannya fluida itu akan bernteraksi dengan

    batuan sampingnya dan akan menghasilkan presipitasi dari mineral sekunder dan

    akhirnya membuat bidang sesar tersebut memiliki tekanan masukan yang tinggi.

    Kemungkinan sifat sesar juga dapat dilihat dari kondisi ataupun posisi dari

    sesar, litologi, dan kontak fluida yang dihasilkan (Gambar 3.8). Selain keempat hal di

    atas ada juga beberapa hal yang mempengaruhi sifat sekat dari suatu sesar,

    diantaranya :

    Orientasi dari sesar, contohnya sesar naik akan bersifat relatif sebagai penyekat

    dibandingkan dengan sesar normal.

    Litologi dari daerah sekitar zona sesar, jika litologi dominannya adalah lempung,

    maka sesar tersebut akan lebih sekat disbanding daerah yang berlitologi dominan

    pasir.

    Kedalaman pembebanan (burial depth), akan mempengaruhi tipe dari mekanisme

    pensesaran.

    Waktu atau umur dari proses pensesaran tersebut, hal ini akan mempengaruhi

    perkembangan dari torehan lempung (clay smears) di dalam bidang sesar itu

    sendiri.

  • 33

    Gambar 3.8. Hipotesis hubungan antara sesar litologi kontak fluida (Smith, 1980)

    3.4.2. Algoritma Sekatan Sesar

    Menurut Knipe (1997) batuan yang kaya akan lempung cenderung membentuk

    sekatan yang lebih baik, karena memiliki ukuan butir yang lebih halus sehingga

    memiliki lubang pori yang lebih kecil. Menurut Yielding et al. (1997), bahwa

    pembentukan material dalam zona sesar itu berkaitan erat dengan gesekan jenis

    litologi yang berbeda.

  • 34

    Ada beberapa metoda yang digunakan untuk melakukan pendekatan sifat

    sekatan material di dalam zona sesar, diantaranya :

    Clay Smear Potential (CSP)

    Clay Smear Potential ditetapkan untuk mewakili jumlah relatif dari lempung

    yang ada pada bidang sesar (Bouvier et al., 1989 op. cit. Yielding et al., 1997). Nilai

    dari CSP ini akan bertambah seiring dengan makin tebalnya lapisan batulempung dan

    semakin banyaknya lapisan batulempung yang melewati titik tempat dilakukannya

    perhitungan CSP pada bidang sesar. Sedangkan nilai CSP ini akan berkurang seiring

    dengan semakin besarnya pergeseran (throw) dari sesar tersebut (Gambar 20).

    Smear Factor (SF)

    Yielding et al. berpendapat bahwa Clay Smear Potential itu tidak dapat

    digunakan apabila jarak yang dimaksud memiliki dimensi yang luas. Sehingga

    Yielding at al. (1997) mengusulkan bahwa CSP ini adalah salah satu contoh

    perhitungan Smear Factor yang umum, dimana dengan menambahkan komponen n

    pada ketebalan lapisan dan komponen m pada jarak, sebagai variabel tambahan

    yang dapat diambil dari percobaan dan studi pengamatan (Gambar 3.10).

    Gambar 3.9. Clay Smear Potential (Yielding et al., 1997)

    Gambar 3.10. Smear Factor (Yielding et al., 1997)

    ..... (4)

    ..... (5)

  • 35

    Shale Smear Factor (SSF)

    Lindsay et al. (1993 op. cit. Yielding et al., 1997) mengusulkan metoda ini

    untuk menentukan kemenerusan dari Shale Smear pada bidang sesar (Gambar 3.11).

    Shale Gouge Ratio (SGR)

    SGR adalah perkiraan perbandingan masuknya material halus yang bersifat

    impermeabel dari batuan samping ke dalam bidang patahan terhadap kandungan

    lempung dari batuan samping tersebut. Yielding et al. (1997) membuat dua persamaan

    untuk menghitung SGR ini, persamaan pertama hanya melibatkan lapisan

    impermeabel di sepanjang interval pergeseran, sedangkan persamaan yang kedua

    melibatkan seluruh lapisan di sepanjang interval pergeseran, dengan

    mempertimbangkan kandungan lempung dari setiap lapisan tersebut (Gambar 3.12).

    Gambar 3.12. Shale Gouge Ratio (Yielding et al., 1997)

    Gambar 3.11. Shale Smear Factor (Yielding et al., 1997)

    ..... (6)

    ... (7) ... (8)

  • 36

    Dari penjabaran metoda di atas maka untuk CSP, SF, dan SSF hanya

    mempertimbangkan faktor ketebalan lapisan impermeabel dan besarnya pergeseran,

    tanpa mempertimbangkan hadirnya lapisan semi-impermeabel. Dari beberapa studi

    yang dilakukan, menunjukan bahwa SGR ini lebih baik jika dibandingkan dengan

    CSP, SF, dan SSF. Data yang dibutuhkan dalam SGR ini lebih flexibel dibandingkan

    dengan metoda yang lain, dimana SGR ini bisa menggunakan kandungan lempung

    dari suatu lapisan atau kandungan lempung rata-rata dari suatu zona.

    Prosentase dari SGR dapat digunakan untuk memperkirakan sifat dari sesar.

    Nilai SGR yang kecil menunjukkan kandungan lempung yang relatif sedikit, sehingga

    kemungkinan sesar tersebut bersifat bocor (leaking). Sedangkan nilai SGR yang tinggi

    menunjukkan kandungan lempung yang relatif banyak, maka kemungkinan sesar

    tersebut bersifat sebagai penyekat (sealing). Yielding et al. (1997) memberikan batas

    untuk nilai SGR berkaitan dengan sifat sesar, batas prosentase nilai SGR ini berkisar

    antara 15%-20%. Nilai prosentase SGR yang kurang dari 15% kemungkinan sesar

    tersebut bersifat bocor (leaking), sedangkan nilai prosentase SGR yang lebih dari 20%

    kemungkinan sesar tersebut bersifat sebagai penyekat (sealing). Namun batas dari

    prosentase SGR ini bisa berubah tergantung dari kondisi geologi suatu daerah. Pada

    Gambar 3.13 dibawah ini memperlihatkan prediksi komposisi zona sesar dengan

    algoritma perhitungan SGR dan analoginya dengan singkapan dilapangan dan data

    core.

    Gambar 3.13. Prediksi komposisi zona sesar dengan algoritma perhitungan SGR dan analoginya

    dengan singkapan dilapangan dan data core (Dee, 2005)

    2009 TA PP MARANU RICARDO 1-BAB 3

    2013-08-15T11:44:39+0700ITB Digital Library