BAB III 14012014.Docx (Ririn)

  • View
    54

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jklzvnkjdf vsdkljf bsdfjonb klazs dvkzjsdvn ikjz sdfvbkjdvbd fbzjk

Text of BAB III 14012014.Docx (Ririn)

BAB IIIMETODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatori (explanatory research) dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian eksplanatori (explanatory research) adalah penelitian yang menyoroti hubungan antara variable-variabel penelitian dan menguji hipotesis yang telah dikemukakan sebelumnya (Singarimbun,1995).

3.2 Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan metode penelitian survey. Penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok ( Singarimbun,1995). Tujuannya untuk memperoleh informasi tentang sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu (Kriyantono, 2007,h.59). Dalam survey proses pengumpulan dan analisis data social bersifat sangat terstruktur dan mendetail melalui kuesioner sebagai instrument utama untuk mendapatkan informasi dari sejumlah responden yang diasumsikan mewakili populasi secara spesifik..metode survei yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei eksplanatif. Kriyantono (2007) mengemukakan bahwa Jenis survei ini digunakan bila periset ingin mengetahui mengapa situasi atau kondisi tertentu terjadi atau apa yang mempengaruhi mengapa kondisi tertentu terjadi atau apa yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. Kriyantono (2007) mengemukakan bahwa dalam metode survei periset tidak sekadar menggambarkan terjadinya fenomena tetapi telah mencoba menjelaskan mengapa fenomena itu terjadi dan apa pengaruhnya, atau dengan kata lain, periset ingin menjelaskan hubungan antara dua atau lebih variable. Dalam penelitian ini peneliti membuat hipotesis sebagai asumsi awal untuk menjelaskan hubungan antar varabel yang diteliti.

3.3. Definisi OperasionalKriyantono (2007) menyatakan bahwa definisi operasional merupakan proses operasionalisasi konsep. Hasilnya berupa konstruk dan variabel beserta indikator-indikator pengukurannya. Kriyantono (2007) juga menyatakan bahwa Pada dasarnya, mengoperasionalkan konsep sama dengan menjelaskan konsep berdasarkan parameter atau indikator-indikatornya. Dengan kata lain, hasil dari mengoperasionalkan konsep adalah variabel. Dinamakan variabel karena mempunyai variasi nilai yang dapat diukur.Nilai-nilai inilah yang biasa disebut indicator.Skala pengukuran adalah upaya memberikan skor pada indicator. Berikut adalah definisi operasionalisasi pengaruh self esteem, self efficacy, dan locus of control terhadap kinerja:

a. Variable X1 (self esteem)Self-esteem adalah penilaian seseorang secara umum terhadap dirinya sendiri, baik berupa penilaian negatif maupun penilaian positif yang akhirnya menghasilkan perasaan keberhargaan atau kebergunaan diri dalam menjalani kehidupan (Coopesmith,1967). Sedangkan menurut Kreitner dan Kinicky (2003,h.165) Self esteem adalah suatu keyakinan nilai diri sendiri berdasarkan evaluasi diri secara keseluruhan. Keyakinan terhadap nilai pada diri tersebut terbentuk oleh keadaan kita dan bagaimana orang lain memperlakukan kita.Bandura (1997) mengemukakan ciri-ciri orang yang memiliki self esteem yang kuat yang kemudian peneliti jadikan sebagai indikator strong self esteem (x1). Indikator strong self esteem (x1) adalah sebagai berikut:1. Self Confidence(percaya diri) yaitu menghadapi segala sesuatu dengan penuh percaya diri dan tidak mudah putus asa, menyadari sepenuhnya kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Rasa percaya diri dimanfaatkan untuk bisa mengatasi segala permasalahan yang muncul sehingga tidak mudah putus asa dan bila berhasil juga tidak besar kepala.2. Goal Oriented( mengacu hasil akhir) yaitu ketika ingin melaksanakan sesuatu selalu memikirkan langkah yang akan dilakukan untuk mencapai tujuannya dengan memikirkan segala konsekuensi yang diperkirakan akan muncul serta memiliki alternatif lain untuk mencapai tujuan tersebut.3. Appreciative(menghargai)yaitu merasa cukup dan selalu bisa menghargai yang ada disekelilingnya serta dapat membagi kesenangannya dengan orang lain.4. Contented(puas/senang)yaitu bisa menerima dirinya apa adanya dengan segala kelebihan dan kelemahannya serta mempunyai toleransi yang tinggi atas kelemahan orang lain dan mau belajar dari orang lain. Dia melihat masa depan dengan apa yang ada pada dirinya dan yang bisa dilakukannya dan bukannya masa depan yang sekedar meniru orang lain.Disamping itu peneliti juga menggunakan Rosenberg self-esteem scale sebagai panduan untuk menentukan indikator strongself esteem. Berikut adalah Rosenberg self esteem scale yang peneliti jadikan indicator untuk mengukur strong self esteem (Rosenberg,1965:1. On the whole, I am satisfied with my self 2. I feel that I have a number of good qualities 3. I am able to do things as well as must other people I feel im a person of worth, at least on an equal plane with others 4. I take a attitude toward myself

Bandura (1997) mengemukakan ciri-ciri orang yang memiliki self esteem yang lemah yang kemudian peneliti jadikan sebagai indikator weak self esteem (x1). Indikator weak self esteem (x1) adalah sebagai berikut:1. Critical(selalu mencela) yaitu selalu mencela orang lain, banyak keinginannya dan sering kali tidak terpenuhi, senang memperbesar masalah-masalah kecil dan seringkali tidak mengakui kelemahannya.2. Self-centred(mementingkan dirinya sendiri) yaitu egois, tidak peduli dengan kebutuhan atau perasaan orang lain, segala sesuatunya berpusat pada diri sendiri, tidak ada tenggang rasa dengan lainnya yang akhirnya berakibat bisa menjadi frustasi.3. Cynical(sinis/suka mengolok-olok) yaitu senang meledek orang lain dengan omongan yang sinis, sering mensalahartikan pemikiran, kegiatan, kebaikan serta niat baik orang lain sehingga orang lain tidak senang pada dirinya.4. Diffident(malu-malu)yaitu menyangkal atas semua kelemahannya, tidak pernah bisa membuktikan kelebihannya dan sering kali gagal dalam melakukan sesuatu.Disamping itu peneliti juga menggunakan Rosenberg self-esteem scale sebagai panduan untuk menentukan indikator weak self esteem. Berikut adalah Rosenberg self esteem scale yang peneliti jadikan indicator untuk mengukur weak self esteem (Rosenberg,1965): 1. At times, I think I am no good at all 2. I feel I do not have much to be proud of 3. I certainly feel useless at times 4. I wish I could have more respect for myself 5. All in all, I am inclined to feel that I am a failure

b. Variable X2 (Self-efficacy)Self-efficacy mengacu pada persepsi tentang kemampuan individu untuk mengorganisasi dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu (Bandura,1986). Sedangkan Baron dan Byrne (2000) mengemukakan bahwa self-efficacy merupakan penilaian individu terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, dan menghasilkan sesuatu. Di samping itu, Schultz (1994) mendefinisikan self-efficacy sebagai perasaan individu terhadap kecukupan, efisiensi, dan kemampuan kita dalam mengatasi kehidupan.Berdasarkan persamaan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa self-efficacy merupakan keyakinan atau kepercayaan individu mengenai kemampuan dirinya untuk untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu.Bandura (1997) mengemukakan ciri-ciri orang yang memiliki self efficacy yang tinggiyang kemudian peneliti jadikan sebagai indikator high self efficacy. Indikator high self efficacy adalah sebagai berikut:1. Menetapkan target yang tinggi 2. Menunjukan komitmen yang tinggi 3. Mengerahkan banyak usaha 4. Tidak mudah menyerah ketika menemukan hambatan5. Membayangkan skenario keberhasilan yang optimis6. Menerima tugas-tugas yang sulit 7. Bersedia mencoba hal-hal baru 8. Selalu mengembangkan diri 9. Melihat kemampuan diri merupakan hal yang dapat ditingkatkan10. Mengatribusikan kegagalan sebagai kurangnya keterampilan atau usaha11. Menekankan pada pengembangan diri dan penyelesaian tugas12. Tahan saat menemui kesulitan 13. Merasa mampu mengatasi masalah lebih baik dari orang lain14. Memikirkan kelebihan yang dimiliki 15. Tidak mudah mengalami gangguan emosional, stres, depresi, dan cemasBandura (1997) mengemukakan ciri-ciri orang yang memiliki self efficacy yang rendah yang kemudian peneliti jadikan sebagai indikator low self efficacy (x4). Indikator low self efficacy (x4) adalah sebagai berikut:1. Menetapkan target yang rendah2. Menunjukan komitmen yang rendah3. Mengerahkan sedikit usaha4. Mudah menyerah ketika menemukan hambatan5. Membayangkan skenario kegagalan yang pesimis6. Menghindari tugas-tugas yang sulit7. Tidak mau mencoba hal-hal baru8. Selalu membatasi kemampuan diri9. Melihat kemampuan diri merupakan hal yang sudah menetap10. Melihat kegagalan sebagai ketidakmampuan11. Menekankan pada perbandingan dengan orang lain12. Tidak dapat mengatasi ancaman13. Merasa tidak mampu mengatasi masalah lebih baik dari orang lain14. Mengeluhkan kekurangan yang dimiliki15. Lebih rentan terhadap stres, kecemasan dan depresi

c. Variable X3 (Locus of control)Konsep tentang Locus of control (pusat kendali) pertama kali dikemukakan oleh Rotter (1966), seorang ahli teori pembelajaran sosial.Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian (personality), yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya individu dalam mengontrol nasib (destiny) sendiri (Kreitner dan Kinicki, 2005).Individu dengan internal locus of control adalah individu yang yakin bahwa mereka merupakan pemegang kendali atas apapun yang terjadi pada diri mereka (Robbins dan Judge,2007).Peneliti kemudian merangkum definisi-definisi internal locus of control yang dikemukakan oleh Robbins&Judge(2007) dan Kreitner&Kinichi(2005) yang kemudian peneliti jadikan indicator untuk variable internal locus of control:1. Individu yakin bahwa mereka pemegang kendali atas apapun yang terjadi pada diri mereka2. Individu yakin bahwa nasib dan peristiwa dalam kehidupannya berada di bawah control d