of 22/22
12 BAB II Tradisi Budaya dalam merawat Kemajemukan Pada bab kedua ini akan membahas teori-teori yang digunakan dalam penulisan ini. Teori-teori tersebut dibagi kedalam beberapa bagian. Bagian pertama tentang masyarakat majemuk dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemajemukan serta jenis dan karakteristik dari masyarakat majemuk. Bagian yang kedua mengenai masyarakat budaya yang didalamnya terdapat pembahasan mengenai ritual dan tradisi. 2.1 Masyarakat Majemuk Hal yang tak dapat dipungkiri dari realitas keindonesiaan adalah keberagaman dan kepelbagaian setiap etnis yang ada. Berbagai macam agama, suku dan budaya terikat dalam keindonesiaan yang direkatkan oleh Pancasila sebagai dasar negara. Kemajemukan yang Indonesia miliki menjadikan Indonesia sebagai suatu bangsa yang unik. Berbicara mengenai kemajemukan sekarang ini sama halnya dengan membicarakan konsep Pluralisme. Pluralisme telah menjadi salah satu wacana kontemporer yang sering dibicarakan dengan tujuan ingin menjembatani hubungan antar beragam perbedaan yang seringkali terjadi disharmonis, diantaranya kekerasan sesama umat beragama, maupun kekerasan antarumat beragama. Pada prinsipnya konsep pluralism ini timbul setelah adanya konsep toleransi, dimana ketika setiap individu mengaplikasikan konsep toleransi terhadap individu yang lain maka lahirlah pluralism itu. Pluralisme berasal dari kata plural dan isme, plural yang berarti banyak (jamak), sedangkan isme berarti paham. Jadi pluralism adalah suatu paham atau teori yang menganggap bahwa realitas itu terdiri dari banyak substansi. 1 John Titaley mengartikan pluralisme sebagai suatu kenyataan bahwa dalam suatu kehidupan bersama manusia terdapat 1 Pius A. P, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Popular, (Surabaya: Arkola, 1994), 604

BAB II Tradisi Budaya dalam merawat Kemajemukan€¦ · Tradisi Budaya dalam merawat Kemajemukan . Pada. bab. kedua ini akan membahas teori-teori yang digunakan dalam penulisan ini

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II Tradisi Budaya dalam merawat Kemajemukan€¦ · Tradisi Budaya dalam merawat Kemajemukan ....

  • 12

    BAB II

    Tradisi Budaya dalam merawat Kemajemukan

    Pada bab kedua ini akan membahas teori-teori yang digunakan dalam penulisan ini.

    Teori-teori tersebut dibagi kedalam beberapa bagian. Bagian pertama tentang masyarakat

    majemuk dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemajemukan serta jenis dan

    karakteristik dari masyarakat majemuk. Bagian yang kedua mengenai masyarakat budaya

    yang didalamnya terdapat pembahasan mengenai ritual dan tradisi.

    2.1 Masyarakat Majemuk

    Hal yang tak dapat dipungkiri dari realitas keindonesiaan adalah keberagaman

    dan kepelbagaian setiap etnis yang ada. Berbagai macam agama, suku dan budaya terikat

    dalam keindonesiaan yang direkatkan oleh Pancasila sebagai dasar negara. Kemajemukan

    yang Indonesia miliki menjadikan Indonesia sebagai suatu bangsa yang unik. Berbicara

    mengenai kemajemukan sekarang ini sama halnya dengan membicarakan konsep Pluralisme.

    Pluralisme telah menjadi salah satu wacana kontemporer yang sering dibicarakan dengan

    tujuan ingin menjembatani hubungan antar beragam perbedaan yang seringkali terjadi

    disharmonis, diantaranya kekerasan sesama umat beragama, maupun kekerasan antarumat

    beragama.

    Pada prinsipnya konsep pluralism ini timbul setelah adanya konsep toleransi, dimana

    ketika setiap individu mengaplikasikan konsep toleransi terhadap individu yang lain maka

    lahirlah pluralism itu. Pluralisme berasal dari kata plural dan isme, plural yang berarti banyak

    (jamak), sedangkan isme berarti paham. Jadi pluralism adalah suatu paham atau teori yang

    menganggap bahwa realitas itu terdiri dari banyak substansi.1 John Titaley mengartikan

    pluralisme sebagai suatu kenyataan bahwa dalam suatu kehidupan bersama manusia terdapat

    1 Pius A. P, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Popular, (Surabaya: Arkola, 1994), 604

  • 13

    keragaman suku, ras, budaya, dan agama.2 sedangkan dalam ilmu sosial pluralism adalah

    sebuah kerangka dimana ada beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling

    menghormati dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta

    membuahkan hasil tanpa konflik. Dalam penjelasan ini dimaksudkan bahwa pluralism yang

    meniscayakan adanya diversitas dalam masyarakat memiliki dua “wajah”, konsesus dan

    konflik. Konsensus mengandaikan bahwa masyarakat yang memiliki latar belakang yang

    berbeda-beda itu akan survive (bertahan hidup) karena para anggotanya menyepakati hal-hal

    tertentu sebagai aturan bersama yang harus ditaati. Dengan demikian seperti yang dikatakan

    oleh Djohan Effendi bahwa “pluralisme merupakan cara pandang untuk saling menghargai

    (apresiatif) dalam masyarakat yang heterogen yakni berbagai etnis, ras, agama dan sosial

    untuk saling menerima, mendorong partisipasi dan pengembangan budaya tradisional serta

    kepentingan yang spesifik di dalam lingkungan kehidupan bersama.”3

    Berdasarkan hasil analisis Tim Pengkajian Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama,

    faktor-faktor yang memberi peluang untuk hidup rukun tanpa konflik adalah: (1) adanya pola

    hidup kekerabatan; (2) adanya kelompok umat akar rumput/ paguyuban (3) adanya lembaga-

    lembaga swadaya masyarakat; (4) adanya nilai-nilai luhur yang dihayati oleh masyarakat; (5)

    adanya kerukunan hidup antar umat beragama; dan (6) adanya tokoh agama dan tokoh

    masyarakat yang berpengaruh.4

    Secara sosiologis, manusia terdiri dari berbagai macam etnis dan budaya yang saling

    berbeda dan mengikatkan dirinya antara satu dengan yang lainnya. Suatu bangsa terdiri dari

    suku-suku yang beraneka ragam, masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga yang berlainan,

    keluarga itu sendiri adalah individu-individu yang tidak sama, semuanya menunjukkan

    2 John Titaley, Religiositas di Alinea Tiga, 169.

    3 Djohan Effendi, Pluralisme dan kebebasan Beragama, (Yogyakarta: Interfidei, 2010), 5.

    4 Marwan Shalahuddin, Konservasi Budaya Lokal dalam Pembentukan Harmoni Sosial (Studi Kasus di

    Desa Klepu Sooko Ponorogo), Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. IX No. 34, 65.

  • 14

    adanya perbedaan, keragaman, dan keunikan, namun tetap dalam satu persatuan. Perbedaan-

    perbedaan individu melebur menjadi satu kesatuan keluarga, keragaman keluarga melebur ke

    dalam satu ikatan sosial, keanekaan suku-suku terangkum dalam satu bangsa dan masyarakat.

    Keseluruhan parsialitas itu adalah bagian dari pluralitas, pluralitas itu adalah wujud terbesar

    dari bagian-bagian parsialitas tersebut.5 Oleh karena itu, perlunya pembahasan tentang

    kemajemukan sebagai bentuk ideologi yang mengarah pada kesetaraan sosio-kultural

    berangkat dari persoalan dalam masyarakat majemuk.

    Menurut John Sydenham Furnivall Masyarakat Majemuk (plural society) adalah suatu

    masyarakat di mana sistem nilai yang dianut berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagian-

    bagiannya membuat mereka kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai

    keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan atau bahkan kurang memiliki dasar-

    dasar untuk saling memahami satu sama lain.6 Pemikiran lain dipaparkan oleh Ibrahim Saad

    menurutnya masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri atas kelompok-kelompok,

    yang tinggal bersama dalam suatu wilayah, tetapi terpisah menurut garis budaya masing-

    masing. Kemajemukan suatu masyarakat patut dilihat dari dua variabel yaitu kemajemukan

    budaya dan kemajemukan sosial. Kemajemukan budaya ditentukan oleh indikator-indikator

    genetik-sosial (ras, etnis, suku), budaya (kultur, nilai, kebiasaan), bahasa, agama, kasta,

    ataupun wilayah. Kemajemukan sosial ditentukan indikator-indikator seperti kelas, status,

    lembaga, ataupun power.7

    5 Sasmita, Damayanti Anggiresta, Pluralisme Agama Dalam Perspektif Mukti Ali dan Abdurahman

    Wahid Undergraduate thesis, (UIN Sunan Ampel Surabaya), 2015, 17. 6 Tafsiran Furnivall oleh Nasikun dalam Nasikun, Sistem Sosial Indonesia (Jakarta: Rajawali Press,

    2006) 39-40. 7 Ibrahim Saad, Competing Identities in a Plural Society (Singapore: Institute of Southeast Asian

    Studies, 1981), 8.

  • 15

    2.1.1 Faktor-faktor yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia

    Salah satu hal penting yang perlu di ingat ketika membahas tentang masyarakat

    majemuk adalah faktor-faktor yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia. Apa

    yang melatarbelakangi terjadinya kemajemukan dan keberagaman di Indonesia. Dalam

    pemaparan ini ada tiga faktor yang mempengaruhinya diantaranya adalah :

    a. Keadaan geografi Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan terdiri dari lima

    pulau besar dan lebih dari 13.000 pulau kecil sehingga hal tersebut menyebabkan

    penduduk yang menempati satu pulau atau sebagian dari satu pulau tumbuh

    menjadi kesatuan suku bangsa, dimana setiap suku bangsa memandang dirinya

    sebagai suku jenis tersendiri.

    b. Letak Indonesia diantara Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik serta diantara

    Benua Asia dan Australia, maka Indonesia berada ditengah-tengah lalu lintas

    perdagangan. Hal ini mempengaruhi terciptanya pluralitas atau kemajemukan.

    c. Iklim yang berbeda serta struktur tanah diberbagai daerah kepulauan Nusantara ini

    merupakan faktor yang menciptakan kemajemukan regional.8

    2.1.2. Jenis-jenis dan Karakteristik Masarakat Majemuk

    Adapun jenis-jenis masyarakat majemuk yang menurut konfigurasi dari komunitas

    etnisnya dapat dibedakan menjadi empat kategori. Pertama, Masyarakat majemuk dengan

    kompetisi seimbang, yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komunitas atau

    kelompok etnis yang memiliki kekuatan kompetitif seimbang. Kedua, masyarakat majemuk

    dengan mayoritas dominan, yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komunitas

    atau kelompok etnis yang kekuatan kompetitif tidak seimbang. Ketiga, masyarakat majemuk

    8 http://www.academia.edu/12013193/Masyarakat_Majemuk, 5. Diunduh pada tanggal, 08 November

    2017, pukul 21.10 WIB.

    http://www.academia.edu/12013193/Masyarakat_Majemuk

  • 16

    dengan minoritas dominan, yaitu masyarakat yang antara komunitas atau kelompok etnisnya

    terdapat kelompok minoritas, tetapi mempunyai kekuatan kompetitif diatas yang lain,

    sehingga mendominasi politik dan ekonomi. Keempat, masyarakat majemuk dengan

    fragmentasi, yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah besar komunitas atau kelompok

    etnis, dan tidak ada satu kelompok pun yang mempunyai posisi politik atau ekonomi yang

    dominan.9

    Selain jenis-jenisnya, masyarakat majemuk juga memiliki karakteristiknya sendiri dan

    hal ini dipaparkan dalam tulisan Nasikun yang mengacu kepada Pierre L. Van den Berghe

    terdapat enam karakteristik masyarakat majemuk. Pertama, terjadi segmentasi ke dalam

    bentuk-bentuk kelompok sub kebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain. Kedua,

    memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi kedalam lembaga-lembaga yang bersifat non-

    komplomenter. Ketiga, kurang mengembangkan konsensus diantar para anggota-anggotanya

    terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar. Keempat, secara relatif seringkali mengalami konflik

    diantara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Kelima, secara relatif, integrasi

    sosial tumbuh diatas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi.

    Keenam, adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok lain.10

    2.2. Masyarakat Budaya

    Dalam pemahaman kemajemukan yang telah dipaparkan diatas, masyarakat majemuk

    terdiri dari berbagai macam perbedaan mulai dari kemajemukan budaya dan kemajemukan

    sosial. Hal ini berkaitan dengan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tidak

    bisa hidup seorang diri sekaligus manusia adalah merupakan masyarakat yang berbudaya.

    Manusia sebagai mahluk berbudaya karena akal dan kebebasannya yang membedakannya

    dari mahluk hidup lainnya. Dengan demikian, kebudayaan adalah dari manusia.

    9 http://www.academia.edu/12013193/Masyarakat_Majemuk, 4. Diunduh pada tanggal, 08 November

    2017, pukul 21.45 WIB. 10

    Nasikun, Sistem Sosial Indonesia (Jakarta: Rajawali Press, 2009), 40.

    http://www.academia.edu/12013193/Masyarakat_Majemuk

  • 17

    Kebudayaan di definisikan untuk pertama kali oleh E.B Tyler pada tahun 1871, dalam

    bukunya yang berjudul Primitive Culture. Kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang

    mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan

    kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.11

    Dalam pendekatan

    sosiologi, konsep kebudayaan dikaitkan dengan masyarakat, hal ini dapat dirumuskan sebagai

    cara hidup suatu masyarakat. Kebudayaan sebagai cara hidup yang dianut oleh warga

    masyarakat itu pada umumnya cara hidup yang dianut bersama dalam masyarakat inilah

    kebudayaan. Jadi subyek kebudayaan bukan manusia individu, melainkan masyarakat.12

    Dalam tulisannya Chris Jenks yang mengacu pada Kroeber dan Kluckholn menyatakan

    kebudayaan bukanlah perilaku dan bukan pula penelitian tentang perilaku dan semua

    kelengkapannya yang konkret. Kebudayaan sebagian terkandung didalam norma-norma yang

    mengatur atau standar-standar perilaku. Sebagian lainnya terdiri dari ideologi-ideologi yang

    menjustifikasi atau memberi alasan bagi cara-cara tertentu dalam berperilaku. Kebudayaan

    mencakup prinsip-prinsip umum yang luas tentang pemilihan dan penataan (faktor-faktor

    umum tertinggi) dalam pengertian mana pola-pola tentang perilaku dan untuk perilaku dalam

    area-area isi kebudayaan yang amat sangat beragam dapat direduksi menjadi generalisasi

    yang sempit.13

    Sutrisno dan Pratanto dalam tulisannya yang mengacu pada Durkheim menjelaskan

    bahwa pada dasarnya terdapat empat pilar utama yang menjadi pendukung mayarakat

    budaya. Diantaranya adalah the sacred (yang keramat), klasifikasi, ritus, dan solidaritas.

    Dalam tulisan Sutrisno dan Pratanto dijelaskan bagaimana Durkheim mempersepsi

    masyarakat sebagai satu kesatuan yang dirangkai secara internal.

    11 Tri Widiarto, Psikologi Lintas Budaya Indonesia, (Salatiga : Widya Sari Press Salatiga), 2004, 3-4. 12

    Pamerdi Giri Wikoso dkk, Ilmu Sosial dan Budaya dasar, (Salatiga: Fiskom Press, 1990), 14-15 13

    Chris Jenk, Culture Studi Kebudayaan, 50.

  • 18

    2.2.1 The Scared

    The Sacred adalah proses utama yang mencakup seluruh dinamika

    masyarakat. Dalam masyarakat selalu ada nilai-nilai yang disakralkan atau

    disucikan. „Yang sakral‟ itu dapat berupa simbol utama, nilai-nilai, dan

    kepercayaan (beliefs) yang menjadi inti sebuah masyarakat. Maka, the

    scared dapat diterjemahkan menjadi moralitas atau agama dalam

    pengertian luas. The scared juga bisa menjelma menjad ideologi atau yang

    lain menjadi utopia masyarakat. Nilai-nilai yang disepakati, atau the

    scared itu, berperan untuk menjaga keutuhan dan ikatan sosial sebuah

    masyarakat serta secara normatif mengendalikan gerak dinamika sebuah

    masyarakat.14

    Menjadi titik pijak prinsipal adalah sentralitas peran the scared

    dalam masyarkat. The sacred merupakan paradigma kolektif yang koersif

    (berkat sifat normatifnya) untuk menafsirkan fenomena dan tindakan para

    anggotannya serta untuk menentukan tindakannya sendiri. Singkatnya

    dalam sebuah masyarakat dapat dipastikan terdapat nilai-nilai atau ideologi

    yang dikeramatkan dan disakralkan atau menjadi inti sebuah unit yang

    disebut masyarakat. „Yang keramat‟ mengkondisikan anggota masyarakat

    untuk tunduk. Dengan demikian, keselarasan dengan kehendak masyarakat

    berperan memberikan identitas diri.

    Durkheim menuturkan, konsentrasi utama agama terletak pada

    “yang sakral”, karena memiliki pengaruh luas, menentukan kesejahteraan

    dan kepentingan seluruh anggota masyarakat dan hal inilah yang

    14

    Mudji Sutrisno & Hendra Ptranto, Teori-teori Kebudayaan, (Yogyakarta : Kanisius, 2005), 89.

  • 19

    melatarbelakangi kesadaran bersama dalam masyarakat (collective

    consciousness) dalam sebuah ritual.15

    2.2.2. Klasifikasi

    Klasifikasi masyarakat yang paling primordial didasarkan pada dimensi

    normatif dan religius. Dimensi normatif dan religius itu menjadi design umum

    yang terdapat dalam kesadaran kolektif masyarakat. Sistem klasifikasi bekerja

    dalam kesadaran moral dan emosional masyarakat dengan menunjuk apakah

    seorang bermoral atau kurang bermoral masuk kelompok “benar” atau “sesat”

    karena tidak mengemban nilai-nilai kolektif-normatif.16

    Klasifikiasi memuat didalamnya sesuatu yang dapat diterima dan tidak

    dapat diterima oleh masyarakat. Kai Erikson (dalam Wayward Puritan)

    memunculkan istilah “boundary maintenance” atau penjagaan batas; yang

    dimaksudkan adalah bahwa masyarakat secara bersama-sama menjaga batasan

    yang dapat diterima dan tidak dapat diterima menurut nilai-nilai yang secara

    kolektif mereka hayati.17

    2.2.3. Ritus

    Kesatuan yang dibangun atas dasar kepentingan bersama akan yang suci

    ini melahirkan ritus sosial. Masyarakat menghidupi dirinya dengan bergerak

    dari dan ke the sacred. Perayaan-perayaan, Festival, dan acara-acara budaya

    dalam masyarakat itu dapat disebut sebagai bentuk –bentuk ritus. Ritus

    diadakan secara kolektif dan dikembalikan akan pengetahuan dan makna-

    15

    Emile Durkheim, The Elementary Forms of Religious Life, (New York: Free Press, 1955), 218. 16

    Mudji Sutrisno & Hendra Ptranto, Teori-teori Kebudayaan, 92. 17

    Ibid., hlm 94.

  • 20

    makna kolektif. Ritus menjadi mediasi bagi anggota masyarakat untuk tetap

    berakar pada the scared.

    Dalam ritus dihadirkan kembali makna realitas dalam masyarakat

    (makna sosial). Dengan demikian, ritus berperan memperkokoh keberakaraan

    (rootedness) rasa kolektivitas karena menggiring anggota masyarakat

    “meminum” dari sumber kekeramatan yang sama. Oleh karena itu, masyarakat

    melalui ritus mendapatkan legitimasi berkat bersentuhan kembali dengan

    makna-makna fundamental yang mengonstruksi masyarakat.18

    Dhavamony

    yang mengacu pada pemikiran Goody mendefinisikan ritual sebagai suatu

    kategori adat perilaku yang dibakukan, di mana hubungan antara sarana-sarana

    dengan tujuan tidak bersifat „intrinsik‟, namun bersifat entah irasional maupun

    non-rasional.19

    Ritual itu sendiri merupakan suatu kegiatan yang berkaitan

    dengan mitos yang bertujuan untuk mensakralkan diri dan dilakukan secara

    rutin, tetap, berkala yang dapat dilakukan secara perorangan maupun kolektif

    menurut ruang dan waktu berdasarkan konvensi setempat.20

    Dari adanya keharusan mematuhi aturan dalam ritual upacara dalam

    masyarakat pada akhirnya membentuk pranata sosial yang tidak tertulis. Akan

    tetapi harus dikenal dan dipatuhi oleh seluruh warga masyarakat secara turun

    temurun. Suatu ritus atau religi terdiri dari suatu kombinasi yang

    merangkaikan beberapa tindakan. Ritus dan upacara bukan peristiwa biasa,

    tetapi peristiwa dilaksanakan dengan emosi keagamaan dan biasanya

    mempunyai sifat keramat .21

    18

    Ibid., hlm. 96-98. 19

    Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 175. 20

    Zeffry, Manusia Mitos dan Mitologi, (Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1998), 98. 21

    Koentjaningrat, Ritus Peralihan di Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1993), 44.

  • 21

    Ritus-ritus membangkitkan pengalaman emosional yang intens, yang

    berguna merumuskan kembali ikatan sosial komunitas dan mendapatkan

    energi sosial untuk menghidupi makna-makna kolektif masyarakat. Dengan

    demikian, ritus bukan sekedar dinamika pengulangan yang berulang-ulang,

    melainkan gerakan yang terus mengulang dengan menyerap pembaruan-

    pembaruan.22

    Dalam tulisan Lorraine dijelaskan bahwa ritual/ritus memiliki suatu

    lingkaran dan kalender tersendiri,23

    yang kemudian ditambahkan oleh

    Dhavamony bahwa lingkaran ritus (ritual cyrcle) mengandung di dalamnya

    tindakan manusia, dan bagaimana tindakan tersebut kemudian mengarah dan

    menunjuk kepada mahluk Ilahi yang disembah, dan menjadi alasan yang

    mendasar dari suatu perbuatan ritual. Lingkaran tersebut adalah lingkaran

    kosmis yang secara langsung membawa manusia (pelaku ritual) masuk dalam

    suatu pola hubungan kosmis dengan dunia transenden dimana mahluk Ilahi itu

    berada.24

    Adapun tujuan dari ritual-ritual (upacara-upacara) adalah untuk

    penerimaan, perlindungan, perlindungan pemurnian, pemulihan, kesuburan

    (produktifitas), penjamin, melestarikan kehendak leluhur (penghormatan),

    mengontrol perilaku komunitas menurut situasi kehidupan sosial yang

    diarahkan pada transformasi keadaan dalam manusia atau alam. Sedangkan

    fungsi dari tradisi ritual bagi keberlangsungan hidup diantaranya : Pertama,

    ritual akan mampu mengintegrasikan dan menyatukan rakyat dengan

    memperkuat kunci dan nilai utama kebudayaan melampaui dan di atas

    22

    Mudji Sutrisno & Hendra Ptranto, Teori-teori Kebudayaan, 100-101. 23

    Lorraine V. Aragon, Fields of The Lord: Animism, Christian minorities, and State Development in

    Indonesian, (Honolulu: Hawaii University Press, 2000), 202. 24

    Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, 125.

  • 22

    individu dan kelompok, berarti ritual menjadi alat pemersatu atau interaksi.

    Kedua, ritual menjadi sarana pendukung untuk mengungkapkan emosi

    khususnya nafsu. Ketiga, ritual akan mampu melepaskan tekanan-tekanan

    sosial.25

    2.2.4. Solidaritas

    Pemahaman solidaritas dalam pemikiran budaya Durkheimian hanya mungkin

    ditempatkan dalam pembacaan the sacred . “Yang Keramat” merupakan ikatan

    primordial masyarakat yang mempersatukan. The sacred dan ritual-ritual

    disekitarnya jauh lebih luas daripada agama. Yang suci ini melekat pada

    multidimensi hidup sipil, politis dan popular masyarakat. Dalam tulisan Sutrisno

    dan Pratanto yang mengacu pada pemikiran Edaward Shil mencoba menjawab

    pertanyaan ini: Bagaimana orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda

    dapat hidup bersama dalam masyarakat? Jawabannya karena scared center

    merupakan unsur yang menyatukan. Scared center adalah fokus identitas kolektif

    masyarakat sekaligus regula prima masyarakat tersebut. The sacred center adalah

    sumber solidaritas masyarakat. The sacred dapat dilembagakan dalam agama,26

    merupakan dimensi yang menjangkau secara luas pengalaman manusia. Dimensi

    religious masyarakat berinteraksi dalam kehidupan sosial masyarakat dalam porsi

    yang cukup besar.

    Dari pemikiran Durkheim diatas dapat diartkan bahwa kebudayaan

    merupakan realitas yang terstruktur dan berlaku komunal. Sekaligus yang struktur

    itu menjadi acuan pandangan hidup, identitas dan tindakan yang berada diluar

    eksistensi individu serta bersifat koersif. Struktur kebudayaan yang tersusun oleh

    25

    Siti Hajar, Jurnal Academica Fisip Untad VOL.05 No. 02 Oktober 2013 , ISSN 1411- 3341 1307. 26

    Yang secara sosiologis disebut agama tidak hanya merujuk pada agama wahyu atau agama-agama

    mondial. Agama disini dapat saja berupa keyakinan yang dihasikan oleh masyarakat dan menjadi acuan

    fundamental masyarakat tersebut.

  • 23

    the sacred, klasifikasi, ritus, dan solidaritas menetukan pilihan-pilihan individu

    dalam sebuah masyarakat.

    Namun hal yang berbeda dijelaskan oleh Steven Lukes dalam tulisan

    Sutrisno dan Pratanto. Dalam tulisan ini dijelaskan bagaimana cara pandang

    Lukes sekaligus kritikannya terhadap pemikiran dari Durkheim berkaitan dengan

    the sacred. Menurut Lukes, kalau the sacred merupakan pusat pengendalian

    tindakan-tindakan individu dalam masyarakat, individu adalah sekedar wayang

    tanpa memiliki kehendak sendiri. Menurutnya, ritual mempersatukan masyarakat

    bukan karena the scared yang menarik seluruh jiwa masyarakat, melainkan karena

    tindakan itu bersama-sama dilakukan oleh anggota masyarakat. Ritual harus

    dijelaskan sebagai tindakan kelompok partikular dengan kepentingan mereka

    sendiri dan bukan tindakan keseluruhan masyarakat yang spontan. Ritual diadakan

    untuk kepentingan politis tertentu. Dengan itu Lukes berusaha menggeser the

    sacred sebagai asal solidaritas (kesatuan masyarakat). Lukes lebih melihat peran-

    peranan individu dalam ritual dan bukan the sacred.27

    Paham serupa juga

    dipaparkan oleh David Kertzer dalam tulisan Sutrisno dan Pratanto, yang

    menurutnya solidaritas terbentuk karena orang melakukan suatu hal secara

    brsama-sama dan bukan karena individu-individu itu menganut nilai atau

    kepercayaan yang sama. Pengalaman fisik dan tindakan bersama (lewat

    keterlibatan) sebagai pengalaman koeksistensial dapat menciptakan solidaritas.

    Tindakan bersama ini memungkinkan solidaritas kendati tidak ada nilai yang sama

    yang dihayati.28

    27

    Mudji Sutrisno & Hendra Ptranto, Teori-teori Kebudayaan, 108. 28

    Ibid., hlm. 108.

  • 24

    2.3. Tradisi

    Salah satu sarana yang mampu merekatkan solidaritas ditengah-tengah kehidupan

    bermasyarakat adalah tradisi kebudayaan dikarenakan kebudayaan merupakan satu

    bentuk warisan sosial yang dimiliki oleh warga masyarakat pendukungnya sebagai

    suatu warisan kebudayaan. Agar supaya di dalam perkembangannya, nilai-nilai luhur

    yang terkandung dalam kebudayaan tidak tenggelam, sehingga perlu diupayakan

    penanaman nilai-nilai tersebut lewat tradisi yang ada.

    Tradisi juga dapat dikategorikan sebagai ritual atau aktivitas keagamaan yang

    berkaitan dengan tata cara berkomunikasi dengan yang sakral. Dan dalam tiap-tiap

    agama atau kepercayaan maupun tradisi yang berkaitan dengan yang leluhur,

    memiliki tata cara (ritual/upacara) tersendiri untuk menyampaikan permohonannya

    kepada yang Ilahi (sakral).

    Tradisi dalam bahasa latin traditio, memiliki arti “diteruskan atau kebiasaan”,

    dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang dilakukan sejak lama

    dan menjadi bagian dari suatu kelompok masyarakat. Hal yang paling mendasar dari

    tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis

    maupun lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

    Tradisi merupakan warisan atau norma-norma adat istiadat, kaidah-kaidah,

    harta-harta. Tetapi tradisi bukan suatu yang tidak dapat diubah. Tradisi justru

    dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia dan diangkat dalam

    keseluruhannya. Manusia yang membuatkan ia yang menerima, ia pula yang

    menolaknya atau mengubahnya. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan

    cerita perubahan-perubahan manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-

    pola kebudayaan yang sudah ada. Tradisi merupakan roh dari sebuah kebudayaan.

    Tanpa tradisi tidak mungkin suatu kebudayaan akan hidup dan langgeng. Dengan

  • 25

    tradisi hubungan antara individu dengan masyarakat bisa harmonis. Dengan tradisi

    sistem kebudayaan akan menjadi kokoh. Bila tradisi dihilangkan maka ada harapan

    suatu kebudayaan akan berakhir disaat itu juga.

    Menurut Bastomi tradisi adalah pertama, kegiatan yang melibatkan warga

    masyarakat dalam usaha bersama-sama untuk mencapai tujuan keselamatan bersama.

    Upacara tradisi bertujuan untuk menciptakan suasana yang tenang serta

    menghindarkan dari bahaya yang akan mengancam di kemudian hari. Kedua, upacara

    tradisi merupakan suatu kegiatan yang di dalamnya mengandung makna bahwa

    upacara tersebut harus diikuti dan dilaksanakan seluruh warga masyarakat tanpa ada

    rasa terpaksa. Ketiga, tradisi upacara tumbuh dan menyebar melalui berbagai sikap

    perbuatan manusia terhadap peristiwa tertentu.29

    Sedangkan menurut pemaparan

    Supanto dalam Sunyata tradisi merupakan kegiatan sosial yang melibatkan para warga

    dalam mencapai tujuan keselamatan bersama. Upacara atau tradisi merupakan bagian

    integral dari kebudayaan masyarakat. Keberadaan upacara atau tradisi tidak lepas dari

    keberadaan masyarakat pendukungnya, artinya apakah suatu upacara atau tradisi

    masih dipertahankan atau tidak tergantung dari masyarakat pendukungnya. Hal ini

    tidak terlepas dari keyakinan terhadap kesakralan pelaksanaan upacara atau tradisi.30

    2.3.1. Unsur-unsur ritual tradisi upacara31

    Dalam tulisan Koentjaningrat ada 11 unsur ritual tradisi upacara yang dijelaskan,

    namun dalam bagian ini penulis hanya menjelaskan 4 unsur diantaranya Bersesaji,

    Berkurban/Persembahan, berdoa dan makan bersama. Keempat hal ini dikhuskan

    dikarenakan berkaitan dengan pembahasan yang diangkat oleh penulis.

    29

    Suwaji Bastomi, Kebudayaan Apresiasi Pendidikan Seni, (Semarang: IKIP, 1986), 1. 30

    Sunyata, dkk, Fungsi, kedudukan, dan Strukyur Cerita Rakyat Jawa Barat, (Jakarta: Depdikbud,

    1996), 2. 31

    Koentjaningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, (Jakarta: Dian Rakyat, 1977), 251-253.

  • 26

    1. Bersesaji

    Bersesaji merupakan perbuatan untuk menyajikan makanan. Benda-benda dan

    sebagainya kepada roh-roh nenek moyang atau mahluk halus lain, dengan tujuan

    supaya acara tersebut bisa berjalan dengan lancer. Sesaji ini merupakan sarana dan

    prasarana yang penting dalam upacara tradisi yang erat hubungannya dengan

    keyakinan masyarakat tentang adanya roh-roh halus. Bersesaji merupakan perbuatan

    upacara yang diterangkan sebagai perbuatan-perbuatan untuk menyajikan makanan,

    benda-benda dan sebagainya kepada roh nenek moyang atau mahluk halus lainnya.

    2. Berkurban/Persembahan

    Kata Persembahan berasal dari kata benda Ibrani yaitu “korban” yang berkaitan

    dengan kata kerja memiliki yang artinya menghampiri. Oleh karena itu, suatu

    persembahan merupakan pemberian orang Israel yang dibawa untuk menghampiri Allah

    dan untuk menikmati persekutuan dan berkat-Nya. Orang Israel membawa persembahan

    untuk mengungkapkan syukur, menyatakan iman, serta memperbaharui persekutuan dan

    memperdalam penyerahan mereka kepada Tuhan. Ada dua istilah yang sangat dekat

    pengunaanya dalam PL. Istilah-istilah itu adalah „Korban‟ dan „Persembahan‟. Apabila

    istilah „korban‟ digunakan, maka hal itu pasti menyangkut sesuatu yang disembelih. Ada

    darah disana. Sementara kalau istilah „persembahan‟ digunakan, maka tidak harus ada

    yang disembelih. Persembahan dapat diartikan sebagai ungkapan syukur, tanda kasih dan

    rasa hormat kepada Allah.

    a. Persembahan dalam PL

    Ritual pemberian persembahan sendiri dalam Alkitab diawali ketika Kain dan Habel

    mempersembahkan hasil pekerjaannya kepada Allah. Kain mempersembahkan sebagaian

    hasil pertaniannya dan Habel mempersembhkan anak sulung hasil peternakannya. Alkitab

  • 27

    menjelaskan, persembahan Habel diterima dan Allah mengindahkannya, sementara

    persembahan Kain tidak berkenan kepada Allah (Kej. 4:5-8)32. Hal ini menunjukkan bahwa

    ternyata persembahan diterima berdasarkan kualitasnya. Artinya melalui kualitas

    persembahan seseorang maka dapat dilihat sikap hati orang yang memberikan persembahan

    tersebut. Orang yang tulus memberikan yang terbaik untuk dipersembahkan,

    „menyisihkannya‟ sejak awal untuk dipersembahkan.

    b. Persembahan dalam PB

    Persembahan dalam Perjanjian Baru menjadi berbeda, tidak lagi sebagai korban,

    melainkan sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah keselamatan yang telah diberikan

    Tuhan atas penebusan dosa tersebut. Artinya, pemberian tersebut adalah sebagai ungkapan

    syukur karena anugerah keselamatan yang diberikan Allah. Dalam PB ditekankankan oleh

    Rasul Paulus bahwa menghayati persembahan bukan hanya uang atau benda, tetapi seluruh

    hidup atau tubuhmu (Roma 12:1). Istilah “tubuh” = seluruh hidup artinya menghayati dan

    mempraktekan hidup memusatkan perhatian kepada orang lain, bukan lagi untuk dirinya

    sendiri.33

    Ada beberapa konsep pengorbanan berdasarkan disiplin ilmu antropologi, sosiologi,

    psikologi dan teologi. Secara antropologi, Nancy Jay mengatakan bahwa „ritual pengorbanan

    merupakan symbol kebersamaan dalam sebuah masyarakat. Bagi individu yang memakan

    kurban ritual pengorbanan tersebut, dinyatakan sebagai bagian dari masyarakat tersebut.34

    Secara sosiologis ritual pengorbanan adalah sebuah tindakan dalam masyarakat yang

    dipenuhi dengan simbol-simbol. Viktor Turner mengartikan simbol sebagai sesuatu yang

    32

    H.H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984), 86. 33

    Th. Van den End, Tafsiran Alkitab Surat Roma, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 652-656. 34

    Jeffrey Carter, Understanding Religious Sacrifice: A Reader, (London and New York: Continuum. 2003), 370-371.

  • 28

    memiliki banyak makna, baik itu makna sosial (ideologi, moral, normative) maupun

    individual (emosi, panca indra, dan keinginan).35

    Secara psikologi ritual pengurbanan di dalam sebuah komunitas berawal dari

    keinginan dan kerinduan jiwa masing-masing individu untuk memberikan kurban

    persembahan kepada dewa demi tercapainya sebuah keharmonisan sosial dalam komunitas,

    secara khusus bagi setiap individu. Pengorbanan merupakan sebuah proses simbolik dalam

    sebuah masyarakat yang di dalamnya terdapat kepentingan pribadi dan kepentingan

    kelompok untuk mencapai sesuatu yang ideal didalam hidup ini. Secara teologi, ritual

    pengorbanan merupakan hal yang penting bagi sebuah agama. Dalam setiap ritual

    pengorbanan, terjadi proses pembunuhan terhadap hewan yang akan dikurbankan. Hewan

    yang terbaik dari alam itulah yang dipilih. Menurut Robert J Daly, “pengorbanan dalam

    tradisi Kristen-Yahudi kuno memilik dua trend, yakni sebuah proses spiritualisasi antara

    manusia dengan pencipta (Tuhan) yang memiliki status tertinggi dari manusia, dan trend

    institusional yang menciptakan hubungan sosial di antara masyarakat (gereja) yang

    dikendalikan oleh seorang imam. Robert J Daly mengemukakan bahwa di kalangan Kristen-

    Yahudi kuno terdapat perbedaan makna dari setiap pengorbanan yang diberikan. Meskipun

    demikian, ritual pengorbanan yang dilakukan adalah sebuah bentuk penyerahan diri dan tanda

    ketaatan cinta.”36

    Segi persembahan dari korban itu penting sebagai kewajiban dari tingkah laku sosial.

    Persembahan dilakukan dengan pengharaan yang jelas, bahwa ganjaran balasan akan

    diberikan lewat suatu cara. Karena itu persembahan dalam upacara korban meliputi suatu

    perjanjian do ut des (saya memberi supaya engkapun memberi). Dalam tulisan Schefold yang

    mengacu kepada Gerardus van der Leeuw, hakekat dari suatu pemberian adalah memberikan

    35

    Ibid., hlm. 292-294. 36

    Ibid., hlm. 343.

  • 29

    sesuatu kepada seseorang berarti memberikan bagian dari dirinya sendiri; demikian pula,

    menerima sesuatu dari seseorang berarti mengambil alih (menerima) sesuatu dari esensi

    dirinya sendiri. Orang yang memberi dan orang yang menerima saling bertalian satu sama

    lain, karena hakekatnya sama-sama memberikan. Sedangkan J. van Baal, membedakan

    antara “pertukaran (trade) dan “pemberian” (gifts). Dalam pertukaran (trade), pembalasan

    merupakan perimbangan dan hubungan diakhiri dengan pertukaran barang-barang (balasan

    yang setimpal). Sedang dalam hal pemberian (gifts), pembalasan merupakan konsolidasi

    hubungan mendasar, dimana nilai pemberian dan balasan atas pemberian itu bergantung pada

    kedekatan status sosial. Dalam hal para partner memilik status yang setara tetapi tidak ada

    kedekatan hubungan, maka nilai dari pemberian yang dipertukarkan harus berimbang, dan

    pertukaran barang dimaknai sebagai eksresi yang mendekatkan hubungan, sehingga tidak

    berakhir dengan pertukaran seperti yang terjadi dalam trade. Sebaliknya dalam hal status

    sosial tidak setara atau dalam hal pemberian terjadi diantara orang yang memiliki kedekatan

    hubungan, maka perhatian bukan pada kesetaraan (equivalence), tetapi masing-masing

    partner selalu memberi dan mengkontribusi sebanyak yang dia mampu.37

    3. Berdoa

    Berdoa adalah suatu unsur yang banyak terdapat dalam berbagai upacara keagamaan

    di dunia. Doa menggambarkan sebuah relasi yang terjalin antara manusia dengan

    „Yang Ilahi‟ dan lewat doa manusia menaikkan ucapan syukur dan berbagai

    permintaan kepada sosok „Yang Ilahi‟ tersebut. Sehingga berdoa merupakan sarana

    yang digunakan oleh manusia, yang menghubungkan dirinya dengan „Yang Ilahi‟.

    37

    R. Schefold, J W Schoorl & J Tennekes (ed), Man, Meaning and History (The Hague-Martinus

    Nijhoff, 1980), 82.

  • 30

    4. Makan bersama

    Dalam Tulisan Ebenhaizer Nuban Timo yang mengacu pada D.J Baarslag

    menjelaskan makna tradisi makan bersama yang dipraktekan secara luas oleh setiap

    komunitas masyarakat mengandung pesan yang sangat dalam dan kuat karena makan

    dan minum bersama menghadirkan suasana dunia ilahi dan persekutuan dengan

    Allah.38

    Beberapa imam dalam agama pribumi menjelaskan makan bersama yang

    terjadi dalam setiap ritus tradisional mengandung pesan kesediaan dari tiap peserta

    ritus untuk membuat pesan dan nilai-nilai yang dijalani dalam ritus itu menjadi darah

    dan daging dalam hidup mereka. Melalui hal ini bisa disimpulkan bahwa melalui

    ritual makan dan minum bersama terdapat pesan perdamaian dan keselamatan yang

    tampil secara nyata.

    Dalam Tulisannya juga Nuban Timo menjelaskan secara jelas bahwa terdapat tiga

    cara makan yang baru ini berkorespondensi dengan tiga isi karya perdamaian:

    pembenaran, pengudusan, dan penugasan. Pertama, makan bersama-sama berhubungan

    dengan pembenaran (justification), hal ini berkaitan dengan pembenaran manusia oleh

    Yesus Kristus diimplementasikan ke dalam manusia oleh Roh Kudus dengan menyatukan

    manusia di sekeliling meja keselamatan untuk makan bersama-sama, dengan adanya

    kebersamaan ini mampu menciptakan harmoni diantara persekutuan. Akan berbeda

    dengan makan sendiri-sendiri karena mendatangkan disharmoni dalam persekutuan,

    sehingga mampu memecah belah persekutuan dan merusak persaudaraan.Makan

    bersama-sama bukan hanya meniadakan curiga dan sikap saling mempersalahkan

    melainkan juga sebagai tanda adanya hubungan baik diantara saudara-saudara. Pada acara

    makan bersama tidak ada lagi kebenaranmu dan kebenaranku yang ada ialah kebenaran

    38

    Ebenhaizer Nuban Timo, Allah Menahan Diri Tapi Pantang Berdiam Diri, (Jakarta: BPK Gunung

    Mulia, 2016), 318.

  • 31

    kita. Kebenaran yang ada dalam acara makan bersama bersifat merekatkan persekutuan

    dan memulihkan persaudaraan. Makanan bukan hanya memberi kekuatan. Ia juga

    menciptakan perdamaian.

    Makanan adalah simbol kehidupan kekal. Bagi orang primitive, ritus makan

    bersama mempunyai sifat keagamaan. Barang siapa makan, ia mendapat bagian kekuatan

    Ilahi dan oleh kekuatan ilahi itu ia juga memperoleh bagian dari mereka yang bersama-

    sama dengan dia. Dengan makan bersama tercipta habitus baru, yakni keberanian untuk

    berbagi sehingga semua orang bisa menikmati dan kenyang bersama. Egoisme berubah

    menjadi altruism saat saudara-saudara berkumpul untuk makan bersama. Nuban Timo

    yang mengacu pada Park Jae Soon menuliskan bahwa Gerakan persekutuan di meja

    makan adalah gerakan yang membebaskan manusia dari egoism kepada persekutuan

    sejati yang telah diperdamaikan. 39

    Oleh karena itu, Makan bersama merupakan inti

    terdalam dari persekutuan keselamatan karena di sana dipentaskan drama egalitarianisasi.

    Hal yang kedua adalah makan bersama secara terbuka dengan pengudusan

    (santification). Kata pengudusan merupakan bentuk partisipum. Dan kata dasar kudus.

    Kudus menunjuk kepada kehidupan ditengah-tengah masyarakat dan terus menerus

    berinteraksi dengan masyarakat dimana ia berada dengan memperlihatkan kualitas hidup

    yang lain. Makan bersama-sama ditempat terbuka jelas memiliki nilai yang berbeda

    dengan makan sendiri-sendiri dan sembunyi-sembunyi. Orang yang makan ditempat

    terbuka biasanya mengambil secukupnya sesuai dengan kebutuhannya sebab ia ikut

    mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan orang lain. Makan bersama selalu

    menjadi kesempatan dimana ada kesediaan untuk membagi hasil keringat sendiri dengan

    orang lain. Tidak ada lagi makan seberapa banyak yang anda mampu tetapi berbagi rezeki

    bersama kawan dan sahabat. Makan secara terang-terangan dan ditempat terbuka

    39

    Ebenhaizer Nuban Timo, Allah Menahan Diri Tapi Pantang Berdiam Diri, 320-323.

  • 32

    mengandaikan bahwa makanan harus dibagi-bagikan, terutama dengan mereka yang lapar

    dan berkekurangan.40

    Nuban Timo yang mengacu pada Fransiskus Borgias menuliskan

    Dalam pandangan Yesus, makanan adalah simbol sentral Kerajaan, yaitu suatu keadaan

    dalam mana semua diterima pada meja perjamuan dan semua bisa memiliki

    secukupnya.41

    Ketiga, makan di hadapan Tuhan berhubungan dengan penugasan (vocation). Hal

    ini berkaitan dengan makan untuk pergi ke dalam dunia menjadi saksi, memperlihatkan

    pembenaran dan pengudusan yang dikerjakan Kristus kepada dunia. Makan bersama

    merupakan momen dimana semua partisipan dalam ritus memperkokoh tekad untuk

    membuat pesan dan nilai-nilai yang dilakoni dalam ritus menjadi darah dan daging dalam

    hidup setiap hari.

    2.4. Kesimpulan

    Dari teori-teori yang telah dipaparkan, penulis dapat menyimpulkan bahwa

    Masyarakat Majemuk adalah masyarakat yang terdiri atas kelompok-kelompok, yang

    tinggal bersama dalam suatu wilayah, tetapi terpisah menurut garis budaya masing-masing.

    Hal ini menyebabkan adanya perbedaan dan keberagamaan atau yang lebih dikenal dengan

    istilah kemajemukan baik dalam sosial ataupun budaya. Indonesia sendiri termasuk dalam

    kategori masyarakat majemuk dikarenakan keberagaman dan kepelbagian yang dimiliki

    oleh bangsa Indonesia, yang terdiri dari ratusan suku bangsa dan memiliki lokus sosial dan

    budaya masing-masing. Komunitas etnik menjalin hubungan dalam perdamaian, persaingan

    bahkan pertentangan. Relasi sosial yang demikian ini melahirkan pranata dan lembaga yang

    mengikat masing-masing kelompok atau semua kelompok untuk hidup secara damai dan

    harmonis. Pengetahuan akan kebudayaan (local knowledge) berupa ritual kepercayaan dan

    40

    Ibid., hlm. 324. 41

    Ibid., hlm. 323.

  • 33

    tradisi mampu dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehingga Kemajemukan

    kebudayaan tersebut menjadi kekayaan dan modal bagi tumbuh kembangnya demokrasi di

    Indonesia.