of 14/14
7 BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing ( apendiks ). Usus buntu sebenarnya adalah sekum ( cecum ). Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya (Wim de Jong et al, 2005). Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki - laki maupun perempuan tetapi lebih sering menyerang laki - laki berusia antara 10 sampai 30 tahun ( Mansjoer,Arief,dkk, 2007 ). Apendisitis adalah inflamsi apendiks. Penyebabnya biasanya tidak diketahui, tetapi sering mengikuti sumbatan lumen ( Gibson, john, 2003 ). Jadi, Apenditis adalah peradangan atau inflamasi pada apendiks yang dapat terjadi tanpa sebab yang jelas dan merupakan penyebab paling umum untuk dilakukannnya bedah abdomen. Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/2334/3/DITA SYAEFUL ARIFIN BAB II.pdf · appendiks Sumbatan fungsional appendiks Apendiks terlipat dan

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/2334/3/DITA SYAEFUL...

7

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau

umbai cacing ( apendiks ). Usus buntu sebenarnya adalah sekum ( cecum ).

Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan

tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya

(Wim de Jong et al, 2005).

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan

merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat

mengenai semua umur baik laki - laki maupun perempuan tetapi lebih sering

menyerang laki - laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (

Mansjoer,Arief,dkk, 2007 ).

Apendisitis adalah inflamsi apendiks. Penyebabnya biasanya tidak

diketahui, tetapi sering mengikuti sumbatan lumen ( Gibson, john, 2003 ).

Jadi, Apenditis adalah peradangan atau inflamasi pada apendiks yang

dapat terjadi tanpa sebab yang jelas dan merupakan penyebab paling umum

untuk dilakukannnya bedah abdomen.

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

8

B. Anatomi dan Fisiologi

Anatomi

Gambar II.1 Anatomi Apendiks

Sumber : Syamsuhidajat & Jong (2004)

Fisiologi Apendiks Vermiformis

Apendiks ( umbai cacing ) merupakan perluasan sekum yang rata -

rata panjangnya ada 10 cm. Ujung apendiks dapat terletak di berbagai lokasi,

terutama belakang sekum. Arteri apendialis mengalirkan darah ke apendiks

dan merupakan cabang dari ateri elikolika Schwartz dalam Gruendemann (

2006 ).

Secara fisiologis, apendiks menghasilkan lendir 1 - 2 ml per hari.

Lendir normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalirkan

ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan

pada patogenesis apendiks Imnunoglobulin sekreatoar yang dihasilkan oleh

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

9

GALT (Gut Associated Lympoid Tissue ) yang terdapat di sepanjang saluran

cerna termasuk apendiks ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai

pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak

mempengaruhi sistem imun tubuh , karena jumlah jaringan limfa kecil sekali

jika dibandingkan dengan jumlanya di saluran cerna dan diseluruh tubuh (

Sjamsuhidayat, 2004 ).

C. Etiologi

Menurut Nuzulul ( 2009 ) Apendisitis belum ada penyebab yang pasti

atau spesifik tetapi ada faktor presdisposisi yaitu :

1. Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi

ini terjadi di :

a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.

b. Adanya fekolit dalam lumen apendiks.

c. Adanya benda asing seperti biji bijan.

d. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.

2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E.coli &

Streptococcus.

3. Laki laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 30

tahun ( remaja dewasa ). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan

limfoid pada masa tersebut.

4. Tergantung pada bentuk apendiks :

a. Apendiks yang terlalu panjang.

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

10

b. Masa apendiks yang pendek.

c. Penonjolan jaringan limfoid pada lumen apendiks.

d. Kelainan katup di pangkal apendiks.

D. Patofisiologi

Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks

oleh hyperplasia folikel limfoid , fekolit , benda asing , struktur karena fikosis

akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut

menyebabkan mucus diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama

mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks

mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan

intralumen, tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe

yang mengakibatkan edema. Diaforesis bakteri dan ulserasi mukosa pada saat

inilah terjadi apendisitis akut fokal yang di tandai nyeri epigastrum.

Sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat hal

tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri

akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul meluas dan

mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di abdomen

kanan bawah, keadaan ini disebut dengan apendisitis sakuratif akut. Aliran

arteri terganggu akan terjadi infrak dinding apendiks yang di ikuti dengan

gangrene stadium ini disebut dengan apediksitis gangrenosa. Bila dinding

yang telah rapuh ini pecah akan terjadi apendisitis perforasi.

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

11

Semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang

berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu masa lokal

yang disebut infiltrate appendikularis, peradangan apendiks tersebut dapat

menjadi abses atau menghilang.

Anak - anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih

panjang, dinding apendiks lebih tipis, keadaan tersebut ditambah dengan daya

tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan

pada orangtua perforasi mudah terjadi karena telah terjadi kelainan pada

pembuluh darah ( Mansjoer, 2003 ).

E. Tanda dan Gejala

Menurut Wijaya.A.N dan Yessie ( 2013 ) tanda dan gejala apendisitis

adalah :

1. Nyeri pindah ke kanan bawah ( yang akan menetap dan di perberat bila

berjalan atau batuk ) dan menunjukan tanda rangsangan peritoneum lokal

di titik Mc.Burney : nyeri tekan,nyeri lepas, defans muskuler.

2. Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung.

3. Nyeri pada kuadran kanan bawah saat kuadran kiri bawah ditekan (

Rovsing sign ).

4. Nyeri kanan bawah bila tekanan disebelah kiri dilepas ( Blumberg ).

5. Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti nafas dalam,

berjalan, batuk, mengedan.

6. Napsu makan menurun.

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

12

7. Demam yang tidak terlalu tinggi.

8. Biasanya terdapat konstipasi, tapi kadang - kadang terjadi diare.

Gejala - gejala permulaan pada apendisitis yaitu nyeri atau perasaan tidak

enak sekitar umbilicus diikuti oleh anoreksia, nausea dan muntah, gejala ini

umumnya berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri

bergeser ke kuadran kanan bawah dan mungkin terdapat nyeri tekan sekitar

Mc.Burney, kemudian dapat timbul spasme otot dan nyeri lepas. Biasanya

ditemukan demam ringan dan leukosit meningkat bila rupture apendiks

terjadi nyeri sering sekali hilang secara dramatis untuk sementara.

F. Klasifikasi

Klasifikasi apendisitis menurut Nurarif.H.A dan Hardi Kusuma (2013)

terbagi menjadi 3 yakni :

A. Apendisitis akut radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda

setempat, disertai maupun tidak disertai maupun tidak disertai

rangsangan peritoneum local.

B. Apendisitis rekrens yaitu jika ada riwayat nyeri berulang diperut kanan

bawah yang mendorong dilakukannya apendictomy. Kelainan ini terjadi

bila serangan apendisitis alut pertama kali sembuh spontan. Namun

apendistis tidak pernah kembali kebentuk aslinya karena terjadi fibrosis

dan jaringan parut.

C. Apendisitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri perut kanan

bawah lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

13

makroskopik dan mikroskopik ( fibrosis menyeluruh di dinding apendiks,

sumbatan parsial atau lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus

lama dimukosa dan infiltasi sel inflamasi kronik ), dan keluhan

menghilang setelah apendictomy.

G. Penatalaksanaan Umum

1. Sebelum Operasi

a. Observasi

Dalam 8 - 12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala

apendiksitis seringkali belum jelas, dalam keadaan ini observasi ketat

perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan

dipuasakan. Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya

apendiksitis ataupun peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen dan

rectal serta pemeriksaan darah ( leukosit dan hitung jenis ) diulang

secara periodik, foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk

mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus,

diagnosa ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah

dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.

b. Antibiotik

Apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan antibiotik,

kecuali apendisitis ganggrenosa atau apendisitis perforasi. Penundaan

tindak bedah sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan

abses atau perforasi.

2. Operasi

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

14

a. Apendictomy

b. Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka

abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika

c. Abses apendiks diobati dengan antibiotika melalui jalur IV , massanya

mungkin mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam

jangka waktu beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses

dilakukan operasi efektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.

d. Pasca operasi

Dilakukan observasi tanda - tanda vital untuk mengetahui terjadinya

perdarahan di dalam,syok, hiperternia atau gangguan pernafasan,

angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan

lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien

dikatakan baik apabila dalam 12 jam tidak ada gangguan. Selama itu

pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar misalnya pada

perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus

kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml / jam selama

4 - 5 jam lalu naikan menjadi 30 ml / jam. Keesokan harinya

diberikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan

lunak.

Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat

tidur selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan

duduk di luar kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien

boleh pulang ( Mansjoer, arif dkk, 2009 )

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

15

Hiperplasia Fekolit (massa

dari feses) Cacing ascaris (benda asing) Makanan rendah serat Tumor apendiks

Konstipasi

Tek. Interasekol meningkat

Pertumbuhan kuman flora

normal meningkat

Tukak pada mukosa

appendiks

Sumbatan fungsional appendiks

Apendiks terlipat dan tersumbat

Pengosongan appendiks terhambat

Proses inflamasi pada appendiks Mucus terperangkap di lumen appendiks

Peningkatan tek.intraluminal

Peregangan dinding apendiks

Iskemik apendiks

Penurunan aliran darah apendikuler

Inflamasi lumen

appendiks

infeksi

Suhu tubuh meingkat MK; Hipertermia

Ulserasi pada apendiks

Entamoeba hystolitica

Erosi mukosa apendiks

APPENDSITIS APPENDIKTOMI

H.Pathway

Ansietas

ss

Gambar II. 2 Pathway

15

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

16

Pertahanan tubuh membatasi proses peradangan

Apendiks tertutup omentum usus halus

Pembentukan masa perrapendikuler/

infitrat apendiks

Efek anastesi umum

Pasien tirah baring

Penurunan ekspansi paru

MK:perubahan frekuensi pernafasan

Massa menguraikan diri secara lambat

Ulserasi sembuh tidak sempurna

Nekrosis dan

peristalsis menurun Perlengketan dengan jar.sekitar

Eksaserbasi akut

MK: Infeksi berulang

Pembentukan jaringan parut

Absorpsi toksin dan

bakteri dalam darah

Perangsangan termoregulator

di hipotalamus

MK : Hipertermia

Sesak nafas

Demam

Peregangan usus yang terus menerus

Iskemia dan peningkatan

permebilitas pemb darah

Cairan dan elektrolit

pindah ke lumen usus

Dehidrasi

Syok hipovolemik

Obstruksi usus

Retensi cairan usus

Distensi usus meningkat

Tek.Intraluminal meningkat

Penurunan tek kapiler vena arteriola

Edema kongesti dan nekrosis pd usus

Ruptur/perforasi

dinding usus

MK; Infeksi

Absorpsi cairan usus menurun

Sekresi lambung meningkat

Muntah refleks

Kehilangan ion H,

kalium dari lambung

Penurunan Cl_, K

+ dalam darah

Alkalosis metabolik

Asidosis respirasi

MK : Perubahan pola nafas

Luika insisi

16

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

17

Kerusakan jaringan Pintu masuk kuman

Resiko infeksi Ujung saraf terputus

Kerusakan integritas

jaringan

Sumber : ( Wijaya , A N & Yessie , 2013 dan Nurarif ,H A & Hardi Kusuma.2013

17

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

18

I. Fokus Intervensi Keperawatan

Menurut NANDA 2012 :

1. Nyeri akut berhubungan dengan insisi pembedahan

Tujuan : Nyeri hilang dan terkontrol

Kriteria hasil :

a. Espresi wajah rileks

b. Mampu istirahat dengan tepat

c. Skala nyeri menjadi 3 (0 - 10)

Intervensi :

a. Kaji nyeri secara komprehensif

b. Ajarkan penggunaan teknik nofarmakologi

c. Kolaborasi pemberian analgetik

d. Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan

e. Berikan informasi tentang nyeri

2. Resiko infeksi berhubungan dengan post operasi insisi pembedahan

Tujuan : Tidak terjadi infeksi

Kriteria hassil :

a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi

Intervensi :

a. Lakukan perawatan luka insisi

b. Cegah dan deteksi dini infeksi pada pasien yang beresiko

c. Kolaborasi pemberian antibiotik

d. Batasi jumlah pengunjung

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

19

e. Pantau adanya tanda - tanda infeksi

3. Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi

Tujuan : Termogulasi yan adekuat

Kriteria hasil :

a. Keseimbangan antara produksi panas, peningkatan panas dan

kehilangan panas

b. Nilai suhu , denyut nadi , frekuensi pernafasan dan tekanan darah

dalam rentang normal

Intervensi :

a. Pantau suhu tubuh sesering mungkin

b. Pantau warna kulit

c. Pantau hidrasi

d. Pantau aktivitas kejang

e. Kolaborasi pemberian antipiretik

4. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi

paru

Tujuan : Pola pernafasan dalam rentang normal

Kriteria hasil :

a. Menunjukan pernafasan optimal

b. Jalur nafas trakeobronkhial bersih dan terbuka untuk pertukaran gas

a. Intervensi :

c. Memfasilitasi kepatenan jalan nafas

d. Pantau adanya pucat dan sianosis

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014

20

e. Pantau tanda tanda vital

f. Kaji kebutuhan insersi jalan nafas

5. Ansietas berhubungan dengan prosedur operasi

Tujuan : Kemampuan untuk fokus pada stimulus tertentu

Kriteria hasil :

a. Ansietas berkurang

b. Pengendalian diri terhadap ansietas

b. Intervensi :

b. Memberikan penenangan

c. Meminimalkan kekhawatiran

d. Mempersiapkan pasien menghadapi kemungkinan krisis

e. Membantu pasien untuk beradaptasi dengan persepsi stressor

6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan factor mekanik

Tujuan : Integritas jaringan kulit dan membrane mukosa baik

Kriteria hasil :

a. Penyatuan kembali kulit

b. Pembentukan jaringan parut

Intervensi :

a. Perawatan area insisi

b. Membersihkan, memantau area insisi

c. Mencegah komplikasi luka

d. Meminimalkan penekanan pada bagian tubuh

Asuhan Keperawatan Pada..., DITA SYAEFUL ARIFIN, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014