Click here to load reader

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyesuaian Diri 1 ... berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Menurut Gerungan (2004), terdapat dua jenis penyesuaian diri, yaitu: a. Penyesuaian

  • View
    220

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyesuaian Diri 1 ... berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya....

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyesuaian Diri

1. Pengertian Penyesuaian Diri

Schneider (1964) mengemukakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu

proses yang mencakup respon-respon mental dan tingkah laku individu untuk

mampu mengatasi kebutuhan, ketegangan, konflik dan frustrasi. Usaha tersebut

bertujuan untuk memperoleh keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam

diri dan tuntutan lingkungan. Menurut Agustiani (2009) penyesuaian diri

merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh individu untuk menyelaraskan

kebutuhan, harapan, dan tuntutan dirinya terhadap lingkungannya. Menurut

Atwater (1983) terdapat tiga elemen yang saling terkait dalam penyesuaian diri,

yaitu diri sendiri, orang lain dan perubahan. Secara sederhana, penyesuaian diri

mencakup perubahan dalam diri sendiri dan lingkungan yang diperlukan untuk

mencapai hubungan yang memuaskan dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

Kartono (2000) mengemukakan bahwa penyesuaian diri merupakan usaha

seseorang untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan lingkungannya, sehingga

rasa permusuhan, depresi dan emosi negatif yang muncul sebagai akibat dari respon

yang tidak sesuai dan kurang efisien dapat diatasi. Pada dasarnya manusia

senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Menurut Gerungan

(2004), terdapat dua jenis penyesuaian diri, yaitu:

a. Penyesuaian diri secara autoplastis

Kemampuan individu dalam mengubah beberapa aspek dari dirinya agar sesuai

dengan keadaan lingkungan. Penyesuaian diri ini bersifat pasif karena aktivitas

yang dilakukan individu ditentukan oleh lingkungan.

b. Penyesuaian diri secara alloplastis

Kemampuan individu dalam mengubah lingkungannya agar sesuai dengan

keadaan atau keinginan diri sendiri. Penyesuaian ini bersifat aktif karena

aktivitas individu mempengaruhi lingkungannya.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri

adalah proses yang melibatkan kemampuan individu untuk dapat mengatasi

kebutuhan baik yang berasal dari dalam diri individu maupun dari lingkungan

sekitar, mengatasi ketegangan, frustrasi, serta konflik yang dihadapinya untuk

mencapai hubungan yang baik dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

2. Aspek-aspek Penyesuaian Diri

Menurut Haber & Runyon (1984), terdapat lima aspek penyesuaian diri,

yaitu:

a. Persepsi terhadap realitas

Individu mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan

menginterpretasikannya, sehingga mampu menentukan tujuan yang realistis

sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali konsekuensi dan

tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku yang sesuai.

b. Kemampuan mengatasi stres dan kecemasan

Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti individu

mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hidup dan mampu

menerima kegagalan yang dialami.

c. Gambaran diri yang positif

Gambaran diri yang positif berkaitan dengan penilaian individu tentang dirinya

sendiri. Individu mempunyai gambaran diri yang positif baik melalui penilaian

pribadi maupun melalui penilaian orang lain, sehingga individu dapat

merasakan kenyamanan psikologis.

d. Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik

Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik berarti individu memiliki

ekspresi emosi dan kontrol emosi yang baik.

e. Memiliki hubungan interpersonal yang baik

Memiliki hubungan interpersonal yang baik berkaitan dengan hakekat individu

sebagai makhluk sosial, yang sejak lahir tergantung pada orang lain. Individu

yang memiliki penyesuaian diri yang baik mampu membentuk hubungan

dengan cara yang berkualitas dan bermanfaat

Pemaparan lain yang diungkapkan oleh Schneider (1964), bahwa terdapat

tujuh aspek penyesuaian diri yang baik, yaitu :

a. Mengontrol emosi yang berlebihan

Penyesuaian diri yang normal ditandai dengan tidak adanya emosi yang relatif

berlebihan. Adanya kontrol dan ketenangan emosi pada individu akan

memungkinkannya untuk menghadapi permasalahan secara cermat dan dapat

menentukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah ketika menemui

hambatan.

b. Meminimalkan mekanisme pertahanan diri

Penyesuaian normal ditandai dengan tidak ditemukannya mekanisme

psikologis. Individu dengan penyesuaian diri yang normal bersedia mengakui

kegagalan yang dialami dan berusaha kembali untuk mencapai tujuan yang

ditetapkan. Sebaliknya, individu dikatakan mengalami gangguan penyesuaian

jika individu mengalami kegagalan, ia cenderung melakukan mekanisme seperti

rasionalisasi, proyeksi, atau kompensasi.

c. Mengurangi rasa frustrasi

Individu yang mengalami frustrasi ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan

tanpa harapan, maka akan sulit bagi individu untuk mengorganisir kemampuan

berpikir, perasaan, motivasi dan tingkah laku dalam menghadapi situasi yang

menuntut penyelesaian. Individu harus mampu menghadapi masalah secara

wajar, tidak menjadi cemas dan frustasi.

d. Berpikir rasional dan mampu mengarahkan diri

Penyesuaian normal ditandai dengan adanya kemampuan individu dalam

menghadapi masalah, konflik, dan frustrasi dengan menggunakan kemampuan

berpikir secara rasional dan mampu mengarahkan tingkah laku yang sesuai.

e. Kemampuan untuk belajar

Penyesuaian normal yang ditunjukkan individu diperoleh dari proses belajar

yang dilakukan secara berkesinambungan sehingga dari proses belajar tersebut

individu memperoleh berbagai cara yang dapat digunakan untuk mengatasi

permasalahan yang dihadapi.

f. Memanfaatkan pengalaman masa lalu

Kemampuan individu untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman merupakan

hal yang penting bagi penyesuaian diri yang normal. Dalam menghadapi

masalah, individu dapat membandingkan pengalaman diri sendiri dengan

pengalaman orang lain sehingga pengalaman-pengalaman yang diperoleh dapat

digunakan sebagai acuan yang baik dalam mengatasi permasalahan yang

dihadapi.

g. Sikap realistis dan objektif

Penyesuaian yang normal berkaitan dengan sikap yang realistis dan objektif.

Sikap realistis dan objektif berkenaan dengan orientasi individu terhadap

kenyataaan, mampu menerima kenyataan yang dialami tanpa konflik dan

melihatnya secara objektif. Sikap realistik dan objektif berdasarkan pada proses

belajar, pengalaman masa lalu, pertimbangan rasional, dan dapat menghargai

situasi dan masalah.

Selanjutnya, Atwater (1983) menjabarkan dua aspek penyesuaian diri, yaitu

penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Kedua aspek tersebut dapat dijelaskan

sebagai berikut:

a. Penyesuaian pribadi

Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima diri sendiri

sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dan lingkungan sekitar.

Individu sepenuhnya sadar akan diri, menyadari kekurangan dan kelebihan,

serta mampu berperilaku sesuai dengan kondisi diri.

b. Penyesuaian sosial

Penyesuaian sosial yaitu penyesuaian yang terjadi dalam lingkup hubungan

sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan individu lain. Hubungan

sosial mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggal,

keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas. Agar individu dapat melakukan

penyesuaian sosial, individu harus mematuhi norma-norma dan peraturan sosial

di masyarakat.

Berdasarkan penjelasan diatas, aspek penyesuaian diri yang digunakan

dalam penelitian ini adalah aspek-aspek penyesuaian diri dari Schneider (1964)

yang terdiri dari mengontrol emosi yang berlebihan, meminimalkan mekanisme

pertahanan diri, mengurangi rasa frustrasi, berpikir rasional dan mampu

mengarahkan diri, kemampuan untuk belajar, memanfaatkan pengalaman masa

lalu, dan sikap realistis dan objektif.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

Menurut Schneiders (1964) faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian

diri adalah:

a. Keadaan Fisik

Kondisi fisik individu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

penyesuaian diri, sebab keadaan sistem-sistem tubuh yang baik merupakan

syarat bagi terciptanya penyesuaian diri yang baik. Apabila terdapat kondisi

cacat fisik dan penyakit kronis akan menghambat individu dalam menyesuaikan

diri.

b. Perkembangan dan kematangan

Perbedaan bentuk penyesuaian diri antar individu dipengaruhi oleh perbedaan

tahap perkembangan yang dilalui oleh masing-masing individu. Sejalan dengan

perkembangannya, individu akan semakin matang dalam merespon lingkungan.

Kematangan individu dalam segi intelektual, sosial, moral, dan emosi akan

mempengaruhi bagaimana individu melakukan penyesuaian diri.

c. Keadaan Psikologis

Keadaan mental yang sehat merupakan syarat bagi terciptanya penyesuaian diri

yang baik, sehingga dapat dikatakan bahwa adanya frustasi, kecemasan dan

cacat mental akan menghambat individu dalam melakukan penyesuaian diri.

Selain itu, keadaan mental yang baik akan mendorong individu untuk

memberikan respon yang selaras dengan dorongan internal maupun tuntutan

lingkungann