of 50 /50
60 BAB. II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori dan Konsep Ekonomi. Aceng (2011), menjelaskan pendapat (Palmquist, 2000) tentang analisis yakni merupakan bentuk kegiatan logika yang mencari kebenaran konkret suatu proposisi, dan memusatkan perhatian mula-mula dan terutama pada forma lugasnya (yang pada dasarnya matematis), yaitu nilai kebenarannya. Jika analisis dikategorikan sebagai metode berpikir dalam mengungkapkan pengetahuan dan kebijaksanaan, maka tentu di dalamnya terdapat serangkaian fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang digunakan untuk menguraikan ataupun menyederhanakan ungkapan atau hasil pemikiran. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya menjelaskan setiap entitas yang dikandung dalam ungkapan pemikiran dan perasaan manusia. Aceng (2011) menjelaskan teori adalah sesuatu dasar logis mengandung kebenaran serta memiliki kesesuaian arti rasional kepada fakta-fakta yang sudah ada dan juga telah senada dengan keputusan lainnya, sehingga telah dapat diakui bersama kebenarannya tetapi semua itu tergantung kepada berfaedah atau tidaknya teori tersebut bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu teori justru membantu dalam me-reproduksi hipotesis yang baru kepada lahirnya suatu konsep yang memiliki nilai dan unsur kebenaran lebih sempurna didalam realitas kehidupan umat manusia. Beberapa teori ekonomi dan konsep ekonomi yang dipergunakan pada studi ini adalah sebagai berikut. 2.1.1. Teori Fungsi Produksi. Salvatore (1992), menjelaskan fungsi produksi Cobb Douglas menyatakan produksi adalah suatu kegiatan dalam mengubah input menjadi output. Fungsi produksi adalah hubungan diantara faktor produksi yang digunakan sebagai input dalam proses

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori dan Konsep

  • Author
    vanlien

  • View
    231

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of BAB. II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori dan Konsep

  • 60

    BAB. II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Landasan Teori dan Konsep Ekonomi.

    Aceng (2011), menjelaskan pendapat (Palmquist, 2000) tentang analisis yakni

    merupakan bentuk kegiatan logika yang mencari kebenaran konkret suatu proposisi,

    dan memusatkan perhatian mula-mula dan terutama pada forma lugasnya (yang pada

    dasarnya matematis), yaitu nilai kebenarannya. Jika analisis dikategorikan sebagai

    metode berpikir dalam mengungkapkan pengetahuan dan kebijaksanaan, maka tentu di

    dalamnya terdapat serangkaian fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang digunakan

    untuk menguraikan ataupun menyederhanakan ungkapan atau hasil pemikiran. Hal ini

    dimaksudkan sebagai upaya menjelaskan setiap entitas yang dikandung dalam ungkapan

    pemikiran dan perasaan manusia. Aceng (2011) menjelaskan teori adalah sesuatu dasar

    logis mengandung kebenaran serta memiliki kesesuaian arti rasional kepada fakta-fakta

    yang sudah ada dan juga telah senada dengan keputusan lainnya, sehingga telah dapat

    diakui bersama kebenarannya tetapi semua itu tergantung kepada berfaedah atau

    tidaknya teori tersebut bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu teori justru

    membantu dalam me-reproduksi hipotesis yang baru kepada lahirnya suatu konsep

    yang memiliki nilai dan unsur kebenaran lebih sempurna didalam realitas kehidupan

    umat manusia. Beberapa teori ekonomi dan konsep ekonomi yang dipergunakan pada

    studi ini adalah sebagai berikut.

    2.1.1. Teori Fungsi Produksi.

    Salvatore (1992), menjelaskan fungsi produksi Cobb Douglas menyatakan

    produksi adalah suatu kegiatan dalam mengubah input menjadi output. Fungsi produksi

    adalah hubungan diantara faktor produksi yang digunakan sebagai input dalam proses

  • 61

    produksi dengan jumlah output yang dihasilkan pada suatu waktu dan dengan tingkat

    teknologi tertentu atau menunjukkan sifat perkaitan antara faktor produksi dan tingkat

    produksi yang diciptakan. Faktor produksi adalah variabel sebagai input yang

    jumlahnya akan berubah jika output produksi berubah seperti bahan baku, pajak dan

    lainnya. Variabel yang umumnya dinyatakan mempengaruhi dari faktor produksi

    diantaranya adalah ;

    1. Tingkat upah. (W).

    2. Harga bahan baku (S).

    3. Kemajuan teknologi (T).

    4. Tingkat suku bunga (R).

    Sehingga secara matematis prilaku produsen pada model Cob Douglas adalah ;

    Qs = f ( W + S + T + R ) . (1)

    Dimana Qs = Output produksi, atau dalam persamaan regresi dituliskan sebagai ;

    Qs = 0 + 1 W + 2 S + 3 T + 4 R + (2)

    Persamaan ini memberi arti setiap pertambahan input menambah output yang sama,

    dimana 0 4 adalah konstanta elastisitas. Untuk persamaan fungsi produksi non

    linear pada model Cob Douglas adalah :

    Qs = + W 1 + S 2 + T 3 + R 4 + ... (3)

    Persamaan ini memberi arti setiap pertambahan input, akan menambah output

    yang berkelipatan sesuai dengan kelipatan dari fungsi tersebut. Biaya produksi

    dicerminkan oleh jumlah biaya yang dikeluarkan untuk mendapat sejumlah input

    tertentu. Biaya produksi total (total cost) merupakan jumlah biaya tetap total (total fixed

    cost) dan biaya variabel total (total variable cost), dalam persamaan matematika

    dituliskan ; ( total cost = total fixed cost + total variable cost ).

  • 62

    Jangka waktu produksi dapat dibedakan menjadi ; jangka waktu pendek, dimana

    perusahaan tidak dapat menambah jumlah faktor produksi yang dianggap tetap seperti ;

    mesin, bangunan dan lainnya yang dapat mengalami perubahan adalah waktu kerja,

    jumlah buruh, bahan bakar dan sebagainya. Untuk jangka waktu panjang semua input

    atau faktor produksi variabel dapat diubah dimana faktor produksi dalam jangka

    panjang tidak terdapat input yang tetap. Baik pada jangka pendek maupun jangka

    panjang, laba operasional perusahaan ditentukan oleh dua item, yaitu penerimaan (total

    revenue) dan biaya (total cost), dimana selisihnya dikatakan sebagai laba bagi

    perusahaan. Jadi berdasarkan pemikiran ini laba maksimum perusahaan ditentukan oleh

    perubahan penerimaan dan perubahan biaya dengan syarat perubahan laba sama dengan

    nol atau turun pertama dari persamaan laba sama dengan nol. sehingga dalam model

    matematis dinyatakan sebagai ;

    / Y= TR/Y TC/Y = 0

    MR = TR/Y maka MC = TC/Y

    Jika 0 = MR MC maka M R = MC.

    Fungsi produksi Constant Elasticity of Substitution (CES) adalah fungsi

    produksi neoklasik yang sifatnya konstan dan menampilkan elastisitas substitusi hal ini

    menjelaskan properti dari beberapa fungsi produksi dan fungsi utilitas. Dengan kata

    lain, teknologi produksi memiliki persentase perubahan konstan dalam faktor secara

    proporsi (misalnya luas lahan, harga barang lain) yang disebabkan oleh perubahan

    persentase pada tingkat marjinal substitusi teknis dua atau lebih, jenis masukan

    produktif menjadi kuantitas agregat, hal ini telah menunjukkan Fungsi agregator

    Constant Elasticity of Substitution, Hall R, (1992). Fungsi produksi Constant Elasticity

    of Substitution diperkenalkan oleh Solow dan kemudian dipopulerkan oleh Arrow,

  • 63

    Chenery, Minhas. Model Constant Elasticity of Substitution, yakni sebagai berikut ;

    Q = F.{ a . K r + (1 - a) . L r } 1/r

    Dimana Q = Output , F = Faktor produktivitas,

    a = Share parameter, 1/r = elastitas.

    Bentuk umum dari fungsi produksi Constant Elasticity of Substitution ( CES ) adalah ;

    N (s-1)/1 s/(s-1) Q = F . ai 1/s X i i=1

    Menurut Hal R. (1992) Fungsi produksi CES menjelaskan perubahan diantara

    kombinasi modal dan tenaga kerja. Fungsi produksi Leontief, linear dan Cobb-Douglas

    adalah kasus khusus dari fungsi produksi CES. Artinya, dalam batas sebagai

    pendekatan s = 1, didapatkan fungsi Cobb-Douglas; dimana s, pendekatan positif

    sampai tak terhingga didapatkan (substitusi sempurna) fungsi linear, dan untuk s,

    mendekati 0, disini didapatkan fungsi Leontief (sempurna melengkapi fungsi).

    2.1.2. Fungsi Penawaran.

    Menurut Andindita (2008), Hubungan diantara harga produk dengan jumlah

    komoditas yang ditawarkan disebut sebagai fungsi penawaran, secara matematis di -

    formulasi sebagai ; Qsx = f ( Px )

    dimana ; Qsx = Jumlah barang x yang ditawarkan dipasar.

    Px = harga produk atau komoditas x dan f adalah fungsi dari.

    Asumsinya adalah faktor lain dalam keadaan ceteris paribus maka hubungan dalam

    persamaan fungsional tersebut dapat dianalisis menggunakan metode kuadrat terkecil.

    Dalam teori ekonomi penyusunan fungsi penawaran dapat diperoleh melalui dua

    pendekatan yakni statis dan dinamis, dimana pendekatan statis dapat diperoleh dengan

    dua cara yakni ; Hubungan teknis produksi dan hubungan tingkah laku atau pendekatan

  • 64

    biaya. Sebagai ilustrasi untuk hubungan teknis produksi ; misalnya diketahui fungsi

    produksi Q = f ( X ) dimana Q = a + bx + cx2 maka dapat dicari nilai dari produk fisik-

    marginal sebagai ; MPPx = Q = bx* + 2 cx = Px x Pq

    tentukan nilai x..,

    maka fungsi penawaran diperoleh dari nilai Q* yaitu S= Q* = a + bx* + 2 cx*2 Fungsi ini menyatakan penawaran perusahaan terjadi pada saat memaksimumkan profit karena nilai x* yang terjadi pada saat keuntungan maksimum. Andindita (2008). Beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi pergeseran fungsi

    penawaran statis ( supply shifters) adalah ;

    1. Perubahan harga input. 6.Kuantitas barang tersebut.

    2. Perubahan teknologi. 7.Cuaca / iklim.

    3. Harga komoditi lain yang berhubungan ( substitute product ).

    4. Perubahan harga produk gabungan ( joint product ).

    5. Ramalan penjual pada harga dimasa yang akan datang.

    Menurut Andindita (2008) beberapa faktor menentukan perubahan respons

    penawaran dalam bidang pertanian melalui pendekatan dinamis diantaranya adalah ;

    1. faktor ekonomi ; seperti harga , jumlah investasi dan faktor input.

    2. faktor ekologi ; yaitu, produktivitas. Luas lahan, iklim

    3. faktor teknologi ; economics scale, mesin-mesin, bibit (varities)

    4. faktor institutional : peraturan dan program pemerintah, serta institusi.

    5. ketidak pastian : misalnya resiko dan ekspektasi.

    Andindita (2008) menyampaikan dalam penyusunan model fungsi penawaran

    yang terjadi dalam berbagai hubungan adalah munculnya selang waktu (time lag)

    dimana hubungan antara variabel yang terjadi akibat adanya respons yang tidak

    sempurna dari suatu variabel sehingga menimbulkan ekspektasi tersendiri atas variabel

  • 65

    tersebut. Pendugaan dengan variabel demikian dikatakan sebagai model penawaran

    dinamis. Beberapa model studi untuk penawaran dinamis yakni ;

    1. Naive Model, Nerlove (1958), mengembangkan model bahwa para petani

    mempunyai ekspektasi didalam jangka panjang dimana secara sederhana dalam

    fungsi penawaran, ekspektasi tersebut adalah : E (Q) = Q* sebagai ekspektasi

    jumlah ditawarkan dan E(P)=P* sebagai ekspektasi harga, misal fungsi penawaran :

    Qt*=bo +b1 Pt* + b2 Zt + Ut . (1)

    Notasi, Qt* = ekspektasi jumlah yang ditawarkan Pt* = ekspektasi harga

    mendatang Z = variabel lainnya. Ut = kesalahan regresi dan bi = koefisien regresi.

    Dimana ekspektasi harga komoditi pertanian diasumsikan sama dengan harga

    priode sebelumnya atau ,E(P) = Pt*=P t-1. (2)

    Substitusikan persamaan (2) kepada (1) Sehingga fungsi penawaran menjadi ;

    E(Qt) = bo +b1 p t-1 + b2 Zt +U . (3)

    2. Distributed Lag Model, model ini merupakan aplikasi dari model cobweb, dimana

    efek dari variabel ekonomi adalah efek yang terjadi karena adanya (lagged).

    Dengan memasukan variabel time lag persamaan (2), maka ekspektasi harga pada

    model ini diperoleh dari priode t-1 hingga t-n yang dituliskan sebagai berikut ;

    Pt*= Pt +(1 ) P* t-1 atau Pt* = bo Pt + b1 Pt* t-1 .. (4)

    Dimana nilai pengaruh dari variabel sebelumnya menjadi lebih kecil sehingga nilai

    menjadi bo > b1. > bn (5)

    Jika disubstitusikan persamaan (5) kepada (4) diperoleh,

    Pt* = Pt + (1 ) P t-1 + (1 )2 P t-2 + .. (6)

    Sehingga diperoleh persamaan ; Pt* = ( 1- )n P t-1; 0 < < 1 .. (7) n-1

  • 66

    Pt* diperoleh dari persamaan (7) dapat disubstitusi kepersamaan (3) sehingga ;

    Qt =bo+ b1 [ pt + (1- ) P t-1 + (1- ) 2 P t-2] (8)

    3. Polynomial distributed lag, dimana bobot dari lag dapat diaproksimasi melalui

    fungsi yang panjang dan fungsi tersebut dapat diaproksimasi melalui Polynomial

    Misalnya dari persamaan (4) dimana dimana nilai b1 adalah fungsi Polynomial,

    sehingga dapat dituliskan sebagai ;

    b1 = F9i) = ao +a1c+ a2c2 .. + ancn untuk c = 1,2k .. (9)

    dengan asumsi bahwa derajat Polynomial (n) dan maksimum panjang lag (k) maka

    dapat dituliskan Polynomial distributed lag (n,k) maka nilai b1 pada derajat

    Polynomial n=2 menjadi bo = ao, b1= ao + a1 +a2, b2 = ao+ 2a1 +4a2, b3 = ao

    +3a1 +9a2, b4 =a0 +4a1 +16a2 distribusikan persamaan (4) maka diperoleh ;

    Pt* = a0 pt-1+ (a0 + a1+ a2 ) Pt-2 + (ao+ 2a1 + 4a2) pt-3 + (a0 +3a1 +9a2) pt-4 +

    (a0+4a1 +16 a2) Pt-4.. (10)

    2.1.3 Konsep Permintaan Turunan ( derivative demand concept ).

    Menurut Pappas dan Hirschey (1995) terdapat dua model dasar untuk

    permintaan yaitu permintaan langsung dikenal sebagai teori perilaku konsumen terkait

    dengan permintaan langsung untuk produk barang dan jasa sebagai konsumsi pribadi.

    Kemudian permintaan turunan yaitu permintaan atas bahan baku sebagai input didalam

    pembuatan barang dan jasa diminta atau distribusi dari produk lainnya. Sedangkan

    fungsi permintaan adalah hubungan diantara jumlah barang diminta (Q) dan variabel

    yang mempengaruhinya dimana kurva permintaan adalah hubungan yang

    menunjukkan diantara jumlah barang dan harga barang diminta hal ini dalam model

    matematis : Qx = f (Px) atau, Qx = a Px

  • 67

    Dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (ceteris paribus ) maka permintaan

    terhadap suatu barang hanya dipengaruhi oleh harga barang tersebut. Variabel-variabel

    yang berpengaruh terhadap permintaan suatu barang, diantaranya adalah :

    1. Harga barang yang diminta ( the price of goods. X = Px ). Permintaan merupakan

    fungsi dari harga suatu barang ditawarkan. Dimana jika harga dari barang tersebut

    naik, maka permintaan terhadap barang tersebut menjadi turun.

    2. Harga barang lain ( the price of related goods or services = Pr ), dengan kondisi ;

    a. Hubungan barang substitusi, yaitu pengaruh harga substitusi terhadap barang

    tersebut. Dimana jika terjadi kenaikan harga barang pokok maka permintaan

    terhadap barang substitusi akan naik, disebabkan harga barang substitusi lebih

    mahal dari barang pokok.

    b. Hubungan barang komplementer. Apabila harga barang komplementer turun

    maka jumlah permintaan terhadap barang komplementer akan naik sehingga

    berakibat permintaan terhadap barang pokok juga naik.

    3. Faktor lain, yang terkait dengan permintaan terhadap suatu barang antara lain,

    kebijakan Pemerintah, iklim / cuaca, tingkat pendapatan, selera dan lainnya.

    Faktor disebutkan diatas dijadikan dasar, oleh Pappas dan Hirschey (1995) maka

    permintaan suatu barang dan jasa dalam model permintaan linier sebagai berikut :

    Qdx = f ( Px - Pr + O )

    notasinya adalah ,

    Qdx = Kuantitas permintaan atas suatu barang.

    Px = Harga barang tersebut.

    Pr = Harga barang produk turunan.

    O = Faktor spesifik lainnya.

  • 68

    Selanjutnya permintaan terhadap suatu barang dipengaruhi oleh banyak variabel. Setiap

    variabel memberi pengaruh berbeda terhadap permintaan suatu barang atau jasa.

    Variabel harga produk turunan memiliki pengaruh negatif terhadap permintaan

    konsumen sedangkan harga barang lainnya (substitusi) berpengaruh positif.

    2.1.4 Fungsi Permintaan.

    Menurut Hartono (2002), Bahwa konsumen dalam menentukan pilihan komoditi

    yang akan dikonsumsi serta dalam upaya memaksimumkan, kepuasan yang disebut

    preference set, berupa fungsi utility dan dalam memaksimumkan kepuasan yang

    disebut preference set berupa fungsi utility dan masih dalam rangka memaksimumkan

    kepuasan tersebut untuk menentukan pilihan (choice) konsumen dihadapkan kepada

    kendala (constraint set) yang berupa kendala tingkat pendapatan. Hal ini dimaksud

    dapat ditunjukkan oleh gambar 2.1 sebagai berikut ;

    Gambar : 2.1 Proses Perilaku Konsumen. Sumber : Hartono (2002).

    Hartono (2002) menjelaskan pilihan konsumen akan permintaan barang

    menunjukkan perilaku konsumen, jika konsumen dapat menjadi rasional dalam

    memilih, maka dapat dibentuk suatu fungsi permintaan untuk itu perlu diberikan asumsi

    a. Setiap konsumen memiliki utility yaitu U = f (X1 , Y1,..Yn )

    Set Pilihan Disukai

    Set Batasan Pilihan

    Keputusan Pilihan

    Prilaku Konsumen

  • 69

    b. Komoditi adalah stricly non negatif, dan berada dikuadran pertama sebab tidak ada

    konsumsi negatif.

    c. Komoditi tidak dapat dibagi (non lumpy) misal X = (X..)

    d. Setiap konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan melalui fungsi utility

    dengan kendala tingkat pendapatan I = P 1 X 1 +P 2 X 2 ., P n X n

    e. Utility untuk mengukur kepuasan konsumen adalah preference ordering, yaitu

    harus memenuhi kriteria aksioma ;

    1 Reflexivity menyatakan bahwa suatu kelompok komoditi lebih dipilih dari kelompok

    komoditi yang lain Xo > Xo

    2. Transitivity menyatakan bahwa pilihan komoditi konsisten, dimana dari sekumpulan

    komoditi maka pilihan jatuh kepada yang lebih baik dari pada yang lain, jika Xo >

    X1 dan, X1 > X2 maka, Xo > X2

    3. Completeness menyatakan bahwa konsumen mampu membandingkan dua

    kumpulan komoditi dalam suatu ruang komoditi.

    4. Continuity menyatakan bahwa preferens dari konsumen dapat diwakili oleh suatu

    fungsi utiliti yang kontinu.

    5. Non satisfaction adalah menjadi perilaku konsumen secara umum.

    6. Convexity menyatakan bahwa fungsi utility merupakan fungsi Convexity terhadap

    titik asal yang menyatakan apabila Xo > X1 maka, X0 + ( 1 ) X1 X1

    untuk semua 0 1. Convexity juga menyatakan apabila turunan kedua dari

    fungsi utility lebih kecil dari nol { u (x) x.x

    0 } karena konsumen mencapai tingkat

    kepuasan maksimum disuatu fungsi utility.

    Aksioma reflexivity , transivity, dan completeness menyatakan bahwa fungsi

    utiliti memiliki preference ordering atau kepuasan yang bertingkat. Sedangkan

  • 70

    continuity menyatakan bahwa preference ordering dapat dinyatakan dalam fungsi

    utility dan bersifat non satisfaction serta convexity menyatakan bahwa konseumen yang

    tidak pernah puas tetap mampu memaksimumkan kepuasan dengan keterbatasan -

    pendapatan. Sehingga terdapat dua pilihan penyelesaian anggaran konsumen yakni

    memaksimalkan utility ( primal problem ) atau konsumen meminimalkan anggaran

    (dual problem).

    Pilihan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan melalui fungsi utilitas U=

    f(x1, xn) dengan keterbatasan pendapatan { P 1 X 1 + (Pn Xn) = 1 } maka

    penyelesaian untuk mendapatkan fungsi permintaan dapat dilakukan dengan methode

    Langrangian atau Khun thucker, yakni ;

    L = f (x1 .xn) + (1 P 1 X 1) dimana = marginal utility of income

    Syarat turunan pertama mencapai maksimum adalah ;

    L = u _ P1 = C maka, L X X1

    = 1 P 1 X 1 = 0

    Untuk mendapatkan fungsi permintaan x1 = f ( P1.Pn, I ) adalah melalui Marshallian

    demand function. Selanjutnya untuk meminimumkan biaya anggaran misalnya untuk

    membeli komoditi C = P1 X 1 + .. Pn Xn dengan kendala terhadap fungsi utility

    yaitu, U = f (X1, ..Xn) maka penyelesaian untuk mendapatkan fungsi permintaan

    dapat dilakukan dengan methode Langrangian atau Khun thucker, yaitu ;

    L = ( P 1 X 1) + (X1.Xn) syarat turunan pertama untuk minimum adalah,

    L = P1 _ u X1 X 1

    = 0

    L

    = f ( X1, X2 ) = 0

    Untuk mendapatkan fungsi permintaan h1 = f(P1..Pn, U ) dapat dilakukan dengan

    menggunakan Hicksian demand function.

  • 71

    2.1.5 Teori Keseimbangan (Ekuilibrium) Harga Pasar.

    Dolan and Simon (2000) menyebutkan harga adalah sebagai sejumlah uang atau

    jasa atau barang yang ditukarkan oleh pembeli untuk beraneka produk atau jasa yang

    disediakan oleh penjual, Dolan and Simon (2000) juga menyatakan, harga merupakan

    pengorbanan ekonomis yang dilakukan oleh pelanggan untuk memperoleh produk atau

    jasa. Selain itu, harga adalah salah satu faktor penting bagi konsumen didalam

    mengambil keputusan untuk melakukan transaksi atau tidak, karenanya, penilaian

    terhadap harga atau produk bersifat relatif, semua tergantung dari persepsi individu

    yang dilatar belakangi oleh lingkungan kehidupan dan daya beli individu. Dalam

    menilai harga suatu produk, seorang konsumen sangat tergantung bukan hanya pada

    nilai nominal (absolute), melainkan lebih kepada persepsi yang dibentuk terhadap harga

    produk atau jasa tersebut.

    Menurut Chiang (2006), ekuilibrium adalah sesuatu kumpulan dari variabel-

    variabel terpilih yang saling berhubungan dan disesuaikan satu dengan yang lainnya

    dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak ada kecenderungan untuk melekat,

    ( inherent ) dalam model tersebut untuk berubah. Dalam model ekuilibrium statis

    permasalahannya adalah pencapaian himpunan atas nilai-nilai variabel endogen yang

    memenuhi kondisi ekuilibrium dari suatu model, sedangkan pada pasar parsial

    ekuilibrium, terciptanya harga didalam pasar yang terisolasi. Misalkan untuk transaksi

    satu barang ditentukan oleh tiga variabel yakni, kuantitas barang diminta (Qd),

    kuantitas barang ditawarkan (Qs) dan harga barang (Pr). Asumsi yang diberikan adalah

    ; ( Qd Qs = 0 ) dimana Qd adalah fungsi linear menurun dari Pr dan Qs adalah fungsi

    linear menaik dari Pr kemudian asumsi selanjutnya tidak ada kuantitas ditawarkan,

    kecuali harga melebihi tingkat positif tertentu. Empat parameter yakni ; a,b,c,d berada

  • 72

    dalam fungsi linear, hal ini terlihat didalam Gambar 2.2, berikut ;

    Gambar : 2.2 Ekuilibirum Harga Pasar. Sumber : Chiang (2006).

    Gambar 2.2 memperlihatkan, fungsi permintaan memotong sumbu vertikal

    dititik a dan kemiringan fungsi permintaan adalah, b yakni berslope negatif. Fungsi

    penawaran memiliki kemiringan sebesar, d yakni positif. Kemudian perpotongan dari

    dua sumbu tersebut adalah keseimbangan harga, namun yang menarik mengapa

    perpotongan dengan sumbu negatif, sebab sebagaimana asumsi telah disampaikan,

    tidak ada kuantitas ditawarkan, kecuali harga melebihi tingkat positif tertentu. maka

    dalam model matematis dituliskan sebagai ;

    Qd = Qs maka ;

    Qd = a b Pr ( a , b > 0 ) dan untuk,

    Qs = c + d Pr ( c , d > 0 ).

    Untuk kasus keseimbangan dengan model dua barang yang berhubungan satu dengan

    yang lainnya dimana fungsi permintaan dan penawaran dari kedua barang tersebut

    diasumsikan linear maka dalam istilah parameter model dapat dituliskan ;

    Qd1 = Qs1 = 0 maka ;

    Qd1 = a0 + a1 Pr1 + a2 Pr2 dan untuk,

    ( Qd = Qs ) a (Qd = a-bPr ) kurva permintaan (Qs = - c + dPr) kurva penawaran (Pr*, Q*)

    Q*=Qd* Ekuilibrium Q*=Qs*

    0 Pr1 P* Pr

  • 73

    Qs1 = b0 + b1 Pr1 + b2 Pr2 kemudian model untuk barang dua,

    Qd2 Qs2 = 0 maka ;

    Qd2 = 0 + 1 Pr1 + 2 Pr2 kemudian untuk,

    Qs2 = 0 + 1 Pr1 + 2 Pr2

    Simbol a dan b, adalah koefisien dari fungsi permintaan dan penawaran atas barang

    pertama sedangkan dan , adalah koefisien dari barang kedua. Dalam model pasar

    tertutup kondisi ekuilibrium hanya terdiri dari satu persamaan yakni Qd = Qs atau E =

    Qd Qs = 0 dimana E adalah excess demand, namun untuk kasus beberapa barang

    ditinjau bersama-sama maka ekuilibrium tidak dapat terjadi atas kelebihan permintaan

    dari setiap barang yang disertakan kedalam model, karena sifatnya yang saling

    mempengaruhi tersebut.

    2.1.6 Teori Elastisitas Harga.

    Menurut Pappas dan Hirschey (1995) elastisitas harga permintaan adalah

    tingkat perubahan permintaan terhadap barang/jasa, yang diakibatkan oleh

    perubahan harga barang / jasa tersebut. Besar atau kecil tingkat perubahan dapat

    diukur dengan angka yang disebut koefisien elastisitas permintaan, dalam model

    matematika dituliskan sebagai,

    = Persentase perubahan jumlah Q = Q / Q = Persentase perubahan harga Pr Pr / Pr Pr / Q

    Q / Pr

    Dimana Q dan Pr adalah perubahan marjinal dalam jumlah mengikuti perubahan

    harga, serta Pr dan Q adalah harga dan jumlah dititik tertentu tertentu dalam kurva

    permintaan. Berdasarkan nilainya, elastisitas permintaan dapat dibedakan menjadi lima,

    yaitu permintaan inelastis sempurna, inelastis, elastis uniter, elastis, dan elastis

    sempurna. Elastisitas silang (Cross Elasticity) menunjukkan hubungan antara jumlah

    barang yang diminta terhadap perubahan harga barang lain yang mempunyai

  • 74

    hubungan dengan barang tersebut. Hubungan tersebut dapat bersifat pengganti, dapat

    pula bersifat pelengkap. Terdapat tiga macam respons perubahan permintaan suatu

    barang (misal barang A) karena perubahan harga barang lain (barang B), yaitu:

    bernilai positif, negatif, dan nol.

    Pappas dan Hirschey (1995) menyebutkan dalam pengukuran elastisitas ada dua

    cara yakni konsep elastisitas titik, yaitu dipergunakan dalam mengukur pengaruh dari

    variabel bebas atas perubahannya yang sangat kecil atau marginal terhadap variabel

    terikat sebab elastisitas titik spesifik dalam mengukur variasi titik-titik yang berbeda

    sepanjang suatu fungsi. Dalam model matematik ditulis, titik = x = y

    Menurut Andindita (2008), beberapa faktor mempengaruhi elastisitas permintaan yaitu

    . x x y

    1. Kegunaan komoditas (utilitas) dimana produk dengan utilitas yang banyak akan

    memiliki nilai elastisitas lebih tinggi.

    2. Karakteristik produk disini hubungannya dengan elastisitas diikuti oleh ;

    a. Adanya substitusi, dimana semakin banyak substitusi dari suatu produk maka

    akan bersifat semakin elastis, dimana inelastis terjadi jika produk tidak memiliki

    barang substitusi sebagai barang kebutuhan (necessity).

    b. Lamanya waktu pemasaran, dimana produk baru dipasarkan bersifat lebih

    elastis terhadap produk yang lebih lama dipasarkan.

    c. Kualitas produk, dimana barang berkualitas lebih elastis sebab barang tidak

    berkualitas bersifat sebagai komoditi substitusi

    d. Kebutuhan utama hidup, dimana produk yang masuk kedalam kategori ini

    bersifat inelastic.

  • 75

    e. Harga produk, jika harga suatu produk lebih mahal dari tingkat pendapatan

    maka bersifat inelastis namun bersifat elastis jika lebih rendah dari tingkat

    pendapatan

    3. Elastisitas Konsumen, terdapat dua karakteristik konsumen terkait elastisitas

    a. Pendapatan konsumen, dimana konsumen kaya bersifat lebih elastis.

    b. Umur konsumen, dimana konsumen berusia lebih muda relative lebih elastis

    dari pada konsumen berusia lebih tua.

    4. Karakteristik sistem pemasaran. Sistem pemasaran dapat mengubah elastisitas

    produk terutama barang pertanian dalam kaitan peningkatan kepercayaan konsumen.

    Kepentingan atau manfaat dari elastisitas dapat dilihat berdasarkan kelompok

    atau pihak yang berada didalam atau diluar pasar sehingga dijabarkan sebagai berikut,

    1. Elastisitas harga dari permintaan menunjukkan respons konsumen terhadap

    perubahan harga sehingga mempengaruhi pendapatan dari produsen tersebut.

    2. Elastisitas bagi produsen bermanfaat untuk melihat perlakuan fungsi pemasaran

    produk terutama untuk melihat prospek pemasaran dari produk tersebut, dalam

    dimana,semakin elastis suatu produk maka produsen semakin diuntungkan dari

    konsumen sebab dengan proporsi perubahan harga yang relatif sedikit proporsi

    jumlah yang diminta meningkat lebih besar.

    3. Elastisitas bagi pemerintah sangat diperlukan terutama dalam memutuskan

    kebijakan perdagangan dalam kaitan ketersediaan pangan dimana sifat barang

    pertanian adalah in elastis ( < 1 ) sehingga campur tangan dari pemerintah

    diperlukan meski keterlibatan secara tidak langsung adalah lebih baik. Sehingga

    elastisitas merupakan suatu cara untuk mengetahui besar pendapatan petani atas

    perubahan harga produk.

  • 76

    4. Elastisitas pendapatan diperlukan dalam mengevaluasi dampak perubahan

    pendapatan konsumen terhadap harga produk terutama perubahan harga bahan

    pokok sehingga elastisitas disini lebih ditujukan kepada upaya mempertahankan dan

    meningkatkan kesahjateraan masyarakat.

    5. Elastisitas harga ekspor/impor diperlukan oleh berbagai pihak terutama dalam

    mengendalikan perdagangan internasional hal ini berkaitan dengan

    penerimaan/pengeluaran devisa serta pengendalian produk barang dimaksudkan.

    2.1.7 Teori Perdagangan Internasional.

    Krugman dan Obstfield (1999), menjelaskan terjadinya hubungan ekonomi dari

    suatu daerah kedaerah lain (regional) atau diantara bangsa kepada bangsa lain

    (Internasional) disebabkan adanya perbedaan diantara permintaan dan penawaran atas

    suatu barang atau jasa pada daerah / bangsa yang berdagang. Sebagai ilustrasi

    perbedaan penawaran suatu barang disebabkan perbedaan dari ketersediaan faktor

    produksi dalam menciptakan barang tersebut sehingga menjadikan perbedaan atas

    harga barang, kualitas barang, didalam waktu, serta modal produksi yang sama.

    Jika ditinjau dari segi permintaan atas barang tersebut, maka yang muncul masalah

    jumlah barang yang di inginkan, harga barang saat dibeli, tingkat pendapatan, selera

    pembeli serta harga barang lain.

    Krugman dan Obstfield (1999) juga menyatakan sebab-musabab dari terjadinya

    hubungan ekonomi antar daerah / bangsa, sebenarnya hanyalah mencakup persoalan :

    1. Perbedaan tingkat kejarangan ( scarcity ). Dimana keinginan manusia tidak terbatas,

    namun ketersediaan atas barang dan jasa tidak demikian halnya dan realitas didalam

    masyarakat senantiasa terjadi adalah, kekurangan bersifat relatif (relative scarcity).

  • 77

    2. Perbedaan komparatif dari harga barang. Dimana perbedaan harga barang dari suatu

    daerah / bangsa akan menciptakan arus perdagangan diantara mereka.

    3. Perbedaan faktor produksi. disebabkan perbedaan iklim geografis daerah tersebut

    menyebabkan perbedaan jenis kekayaan alam flora maupun fauna serta kandungan

    bumi yang kesemuanya diperlukan manusia untuk mempertahankan kelangsungan

    hidupnya. Selain itu perbedaan jumlah penduduk serta perbedaan sosial dari daerah /

    bangsa berdagang menciptakan perbedaan keberadaan suatu barang /jasa.

    4. Perbedaan pangsa pasar atas barang dan jasa tersebut.

    Hechsher dan Ohlin (1999) menyampaikan mengenai faktor-faktor

    ketersediaan, dimana terjadinya opportunity cost disebabkan oleh perbedaan dari

    ketersediaan faktor-faktor produksi sehingga akibat dari perbedaan faktor endowment

    tersebut harga atas suatu barang yang sama berasal dari kedua negara/wilayah tersebut

    dapat berbeda sesuai dengan intensitas pemakaian dan ketersediaan faktor produksi.

    Secara teoritis, suatu negara (misal negara A) akan mengekspor suatu komoditi

    (misal CPO) ke negara lain (misal negara B) karena harga domestik di negara A lebih

    rendah jika dibandingkan dengan harga domestik di negara B. Struktur harga yang

    relatif rendah di negara A tersebut disebabkan adanya kelebihan penawaran (excess

    supply) yaitu produksi domestik yang melebihi konsumsi domestik. Dalam hal ini

    faktor produksi di negara A relatif berlimpah. Dengan demikian negara A mempunyai

    kesempatan menjual kelebihan produksi ke negara lain. Di pihak lain, negara B terjadi

    kekurangan penawaran karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestik

    (excess demand) sehingga harga menjadi tinggi. Dalam hal ini negara B berkeinginan

    untuk membeli komoditi negara lain yang harganya relatif lebih murah. Jika kemudian

    terjadi komunikasi antara negara A dan negara B, maka dapat terjadi perdagangan

  • 78

    antara kedua negara tersebut dimana negara A akan mengekspor komoditi CPO kepada

    negara B (Salvatore, 1992) hal ini ditunjukkan Gambar 2.3.

    Pr Grafik Pasar negara A, Pr Grafik Hubungan Pasar, Pr Grafik Pasar negara B Sb Ekspor Sx Sw P3 Eb p2 a b p2=pw Ew P2 A B p1 Ea p1 Dw Impor Db Dx 0 Qa2 Qa1 Qa3 Qty 0 Qw Qty 0 Qb2 Qb1 Qb3 Qty Gambar 2.3. Terjadinya Perdagangan Internasional. Sumber : Salvatore, (1992).

    Secara grafis terjadinya perdagangan antara negara A dan negara B dapat

    dilihat pada Gambar 2.3. Sebelum terjadi perdagangan internasional, keseimbangan di

    negara A terjadi pada titik Ea dengan jumlah produksi sebesar Qa1 dan harga yang

    terjadi adalah P1. Di negara B keseimbangan terjadi pada titik Eb dengan dengan jumlah

    produksi sebesar Qb1 dan harga yang terjadi adalah sebesar P3. Harga di negara A (P1)

    lebih rendah daripada harga di negara B (P3). Produsen di negara A akan memproduksi

    lebih banyak dari tingkat konsumsi domestik untuk harga di atas P1. Hal tersebut akan

    menyebabkan terjadinya excess supply di negara A. Sementara untuk harga di bawah

    P3, negara B akan meminta lebih banyak dari tingkat produksi domestiknya. Hal

    tersebut akan menyebabkan terjadinya excess demand di negara B. Kemudian terjadilah

    perdagangan antara negara A dan negara B. Penawaran ekspor pada pasar internasional

    digambarkan oleh kurva Sw yang merupakan excess supply dari negara A. Permintaan

    impor digambarkan oleh kurva Dw yang merupakan excess demand dari negara B.

  • 79

    Keseimbangan di pasar dunia terjadi pada titik Ew yang menghasilkan harga dunia

    sebesar P2 dimana negara A mengekspor sebesar (Qa2 - Qa3 ) yang sama jumlahnya

    dengan yang diimpor negara B (Qb2 - Qb3 ) jumlah ekspor dan impor tersebut

    ditunjukkan oleh volume perdagangan sebesar Qw pada pasar dunia.

    2.1.8 Teori Pendapatan Perkapita, Gross Domestic Product.

    Dalam ukuran makro ekonomi, tingkat kesejahteraan penduduk suatu negara

    umumnya diukur menggunakan GDP perkapita. Kenaikan GDP perkapita mengindikasi

    peningkatan tingkat kesejahteraan penduduk suatu negara. Sekalipun ukuran tersebut

    memiliki banyak kekurangan, namun dalam prakteknya ukuran tersebut memiliki arti

    penting dalam mengukur tingkat kesejahteraan. GDP atau gross domestic product

    (produk domestik bruto) didefinisikan sebagai jumlah barang dan jasa yang diproduksi

    dalam suatu negara dalam jangka waktu satu tahun dan dalam nilai mata uang

    domestik atau internasional. Besarnya nilai GDP nominal adalah perkalian dari unit

    barang dan jasa yang diproduksi dengan harga barang tersebut. Karena harga barang

    terus meningkat, maka biasanya digunakan GDP riil atau GDP menggunakan harga

    pada tahun tertentu (tahun dasar). Sedangkan GDP perkapita adalah besarnya GDP riil

    dibagi jumlah penduduk. Dari penjelasan ini diketahui bahwa GDP perkapita mengukur

    berapa rata-rata barang dan jasa yang dapat dikonsumsi penduduk suatu negara. Untuk

    membandingkan GDP perkapita antar negara GDP nominal tiap negara diubah kedalam

    US Dollar (USD) menggunakan rata-rata nilai pasar exchange rate dalam satu tahun.

    Lalu nilai tersebut dibagi total populasi. (Hubbard et al. 2012) menyatakan beberapa

    tantangan dalam penggunaan GDP perkapita dalam mengukur kesejahteraan. Karena

    ukuran GDP perkapita adalah ukuran rata-rata dalam nilai barang dan jasa yang bisa

    dikonsumsi setiap warga negara maka ukuran tersebut tidak memperhitungkan dari

  • 80

    distribusi pendapatan, nilai waktu luang, kegembiraan (happiness), dan harapan hidup

    yang utama adalah ukuran kesejahteraan. Karena GDP perkapita tidak menjelaskan

    ukuran tersebut apakah berarti tidak dapat digunakan mengukur kesejahteraan. Hubbard

    et al. (2012) menyatakan bahwa saat perekonomian tumbuh maka pendapatan baik

    orang kaya dan miskin sama-sama akan meningkat. Sedangkan hubungan antara waktu

    luang dan pendapatan perkapita ditunjukkan oleh Hubbard et al. (2012) menggunakan

    data Amerika Serikat dan negara maju. Waktu luang yang dimiliki oleh penduduk

    negara-negara ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara berpenghasilan

    rendah. Berdasarkan data diketahui bahwa jam kerja rata-rata di negara maju lebih

    rendah dibanding negara berkembang. Begitu juga ditemukan hubungan searah antara

    kegembiraan dan pendapatan perkapita oleh studi yang dilakukan Stevenson dan

    Wolfer (2008) dalam Hubbard et al. (2012). Data yang mereka gunakan berasal dari

    131 negara. Sedangkan harapan hidup akan meningkat dengan meningkatnya

    pendapatan per kapita. Hubbard et al. (2012) mendapatkan adanya hubungan positif

    antara pendapatan perkapita dan harapan hidup. Dengan pendapatan yang lebih tinggi

    tentu penduduk mendapatkan kebutuhan primer dan pelayanan kesehatan yang lebih

    baik. Berdasarkan pemaparan diatas, dapat dilihat sekalipun GDP perkapita tidak

    sempurna dalam mengukur tingkat kesejahteraan namun ukuran ini merupakan

    indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Sedangkan hubungan diantara

    GDP perkapita dan Purchasing power parity adalah; Purchasing power parity adalah

    teori yang menjelaskan kesamaan daya beli dimana dalam jangka panjang nominal

    exchange rate akan menyamakan purchasing power dari negara yang berbeda-beda.

    Untuk mendalami poin ini, (Hubbard et al. 2012) menuliskan persamaan berikut : Jika

    harga barang dan jasa yang sama ditiap negara berbeda maka dengan membandingkan

  • 81

    pendapatan perkapita antar negara menggunakan GDP perkapita akan menghasilkan

    kesimpulan yang keliru. Untuk menutupi kelemahan GDP perkapita tersebut digunakan

    GDP purchasing powerparity perkapita (GDP-PPP perkapita). GDP perkapita antar

    negara disesuikan dengan suatu metode yang mengukur GDP memakai harga yang

    sama. Ditentukan nilai konversi internasional untuk tujuan tersebut. Dengan

    menggunakan GDP-PPP perkapita saat membandingkan pendapatan maka benar-benar

    dibandingkan jumlah barang dan jasa yang bisa dikonsumsi oleh rata-rata penduduk

    suatu negara.Terdapat korelasi positif diantara PDB dengan permintaan produk impor.

    Peningkatan PDB akan meningkatkan permintaan terhadap produk impor, demikian

    pula sebaliknya. Peningkatan impor sebagai akibat meningkatnya PDB negara importir

    dapat terlihat dari dua mekanisme sebagai berikut : Kenaikan PDB negara importir

    menyebabkan meningkatnya investasi.Peningkatan investasi menyebabkan

    meningkatnya kebutuhan akan barang impor antara lain barang-barang modal dan

    bahan baku sebagai input dalam proses produksi. Kebutuhan akan barang modal dan

    bahan baku yang ditawarkan (supply) oleh negara lain.Kenaikan PDB negara importir

    menyebabkan meningkatnya kebutuhan produk final (final product) karena tidak semua

    dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

    2.1.9 Teori Nilai Tukar Uang ( Kurs ).

    Nopirin (1992), menyampaikan kurs adalah harga relatif dari suatu mata uang

    kepada mata uang lainnya kurs digunakan untuk dapat menterjemahkan harga-harga

    dari mata uang asing kedalam nilai satuan mata uang domestik. dimana nilai tukar

    atas dua mata uang adalah keseimbangan harga atas mata uang tersebut, nilai tukar

    yang berdasarkan pada kekuatan pasar akan selalu berubah disetiap kali nilai-nilai salah

    satu dari dua komponen mata uang berubah. Sebuah mata uang akan cenderung

  • 82

    menjadi lebih berharga bila permintaan menjadi lebih besar dari pasokan yang tersedia.

    Nilai tukar akan menjadi berkurang bila permintaan kurang dari suplai yang tersedia.

    Nopirin (1992), juga menyebutkan ada beberapa sistem nilai tukar/kurs valuta asing,

    yaitu : a). Nilai tukar tetap (fixed exchange rate system).

    b). Nilai tukar mengambang ( floating exchange rate system ).

    Untuk sistem yang pertama, nilai tukar dipatok menurut mata uang dalam jangka

    waktu yang relatif lama. bank sentral berperan aktif melakukan intervensi dalam pasar

    valuta asing untuk mempertahankan pergerakan nilai tukar suatu mata uang agar berada

    pada suatu acuan nilai tukar tertentu. Sebaliknya, pada sistem yang kedua, kurs nilai

    tukar valuta asing dari suatu negara sepenuhnya ditentukan oleh pasar (penawaran dan

    permintaan), tanpa intervensi oleh bank sentral. Mankiw, (2003) membedakan kurs

    menjadi dua, bagian yaitu kurs nominal dan kurs rill dimana kurs nominal adalah harga

    relatif dari mata uang dua negara. Sedangkan kurs riil adalah harga relatif dari barang-

    barang di antara dua negara. Kurs riil bermakna pula tingkat dimana barang-barang dari

    suatu negara dapat diperdagangkan (ditukar) dengan barang-barang dari negara lain,

    atau sering disebut terms of trade. Menurut Sawaldjo (2004) Semenjak periode 1970

    hingga penulisan, sistem nilai tukar berlaku di Indonesia telah mengalami perubahan

    sebanyak tiga kali, yaitu sistem nilai tukar tetap, sistem nilai tukar mengambang bebas,

    dan terakhir sistem nilai tukar mengambang terkendali. Definisi masing-masing dari

    sistem kurs tersebut adalah;

    1. Sistem nilai tukar tetap ( fixed exchange rate ) dimana lembaga otoritas moneter

    menetapkan tingkat nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang negara lain

    pada tingkat tertentu, tanpa memperhatikan penawaran ataupun permintaan terhadap

  • 83

    valuta asing yang terjadi. Bila terjadi kekurangan atau kelebihan penawaran atau

    permintaan lebih tinggi dari yang ditetapkan pemerintah, maka dalam hal ini akan

    mengambil tindakan untuk membawa tingkat nilai tukar kearah yang ditetapkan.

    2. Sistem kurs mengambang bebas (freely floating exchange rate system), yaitu sistem

    penentuan kurs valuta asing dipasar valas, terjadi tanpa campur tangan pemerintah.

    3. Sistem kurs mengambang terkendali (managed floating exchange rate system), yaitu

    penentuan kurs dipasar valas terjadi dengan adanya campur tangan pemerintah yang

    mempengaruhi permintaan dan penawaran valas melalui berbagai kebijakan fiskal,

    moneter, dan perdagangan luar negeri.

    Selanjutnya Sarwedi (2001), menyatakan bahwa hubungan diantara nilai tukar

    uang misalkan US$ terhadap Rupiah kepada volume ekspor didalam jangka pendek

    bersifat positif namun didalam jangka panjang kurs bersifat negatif. Perubahan yang

    terjadi didalam jangka pendek pada nilai tukar berdampak kepada daya saing dari harga

    produk ekspor. Apabila kurs diantara Rupiah kepada US$ cenderung melemah dengan

    asumsi tingkat efisiensi tetap maka secara relatif harga produk ekspor akan keluar

    dalam jumlah lebih banyak. Hal ini cenderung memberikan peluang lebih kepada

    eksportir untuk menerima Rupiah dalam jumlah lebih besar namun harus diingat

    keadaan itu tidak akan berlangsung lama. Suatu hal yang penting bahwa mekanisme ini

    akan memberi dampak positif kepada eksportir akhirnya kepada produsen yang

    kemudian diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya secara keseluruhan.

    Sarwedi (2001), menyatakan dampak positif tersebut hanya berimbas didalam

    jangka pendek sebab pasar akan terus berubah menuju suatu keseimbangan baru

    dimana input domestik baik bahan baku maupun tenaga kerja akan segera

    menyesuaikan diri atas perubahan harga yang telah terjadi didalam nilai kurs sehingga

  • 84

    didalam jangka panjang kurs akan memberi dampak negatif kepada kegiatan volume

    ekspor. Beberapa faktor sifatnya dapat mempengaruhi perubahan valuta asing adalah;

    1. Supply Foreign Currency Valas atau forex 2. Posisi Balance of Payment (BOP)

    3. Tingkat suku bunga. 4. Ekspektasi dan Spekulasi.

    Pada Gambar 2.4 misalnya pada posisi awal permintaan valuta asing (US$)

    diwakili oleh kurva DVA1 dan penawaran valuta asing (US$) diwakili oleh kurva

    SVA1, sehingga kurs adalah Rp 3000/U$ pada titik E1. Kemudian permintaan valas

    mengalami peningkatan menjadi DVA2, sedangkan penawarannya tetap pada SVA1,

    sehingga dolar mengalami apresiasi nilai terhadap rupiah menjadi Rp 6000/US$ atau

    rupiah mengalami depresiasi nilainya terhadap dollar, pada titik E2. Dalam sistem

    mengambang terkendali, penentuan nilai tukar pada bursa valas dapat dipengaruhi oleh

    pemerintah. Jika pemerintah ingin mempertahankan nilai kurs ditingkat Rp 3000/US$,

    maka untuk mengembalikan nilai kurs ditingkat tersebut, pemerintah dapat secara

    langsung atau tidak langsung mempengaruhi kurs tersebut melalui kebijakan moneter

    dan fiskal, untuk kasus seperti dalam Gambar 2.4 tersebut,

    Gambar 2.4 Penentuan Nilai Tukar Pada Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali

    Sumber Manurung Jonni, 2009.

    DVA2

    DVA1

    SVA1Rp/$

    $100 150

    Rp 3000/$

    Rp 6000/$

    E1

    E2

    E3

    SVA2

    3000

  • 85

    Maka untuk mengembalikan kurs pada tingkat Rp 3000/US$, pemerintah dapat

    melakukan kebijakan menambah penawaran valas, dengan cara menjual cadangan

    valasnya ke bursa valas. Sehingga jumlah valas yang tersedia di bursa valas akan

    bertambah, yang diperlihatkan oleh pergeseran kurva SVA1 menjadi SVA2, dan

    keseimbangan sekarang berada pada titik E3, kurs kembali pada tingkat Rp 3000/US$

    dengan jumlah US$ yang lebih besar. Indonesia mulai menerapkan sistem nilai tukar

    mengambang bebas pada periode 1997 hingga sekarang. Sejak pertengahan Juli 1997,

    Rupiah mengalami tekanan yang mengakibatkan semakin melemahnya nilai Rupiah

    terhadap USS. Tekanan tersebut diakibatkan oleh adanya currency turn oil yang

    melanda Thailand dan menyebar ke negara-negara ASEAN lainnya termasuk

    Indonesia. Untuk mengatasi tekanan tersebut, Bank Indonesia melakukan intervensi

    baik melalui spot exchange rate (kurs langsung) maupun forward exchange rate (kurs

    berjangka) dan untuk sementara dapat menstabilkan nilai tukar Rupiah. Namun untuk

    selanjutnya tekanan terhadap depresiasi Rupiah akan semakin meningkat.

    2.1.10 Teori inflasi.

    Salvatore (1992) menjelaskan pendapat J.M Keynes mengenai keadaan demand

    pull inflation merupakan tekanan inflasi akibat adanya excess demand terhadap barang

    dan jasa. Oleh karena adanya kenaikan pemintaan masyarakat, yang tercermin dari

    bergesernya kurva permintaan (Demand Curve) dari D1 ke D2 mengakibatkan harga

    naik dari P1 ke P2. Harga disini maksudnya adalah harga-harga barang dan jasa umum

    atau yang disebut sebagai inflasi. Bertambahnya permintaan dapat disebabkan oleh

    naiknya permintaan barang, pengeluaran pemerintah, dan permintaan barang suatu oleh

    penduduk luar negeri. Menurut kaum monetaris, demand pull inflation dijelaskan

    melalui Quantity Theory of Money. Jika supply uang melebihi jumlah permintaannya,

  • 86

    maka individu ekonomi akan menggunakan kelebihan uangnya itu untuk meningkatkan

    konsumsi dibanding kepada tabungan dalam kaitan pertumbuhan ekonomi maka akan

    terjadi inflasi. Perbedaan dari demand pull inflation dengan cost push inflation adalah :

    a. Pada demand pull inflation terjadi kenaikkan output sedangkan pada cost push

    inflation yang terjadi penurunan output.

    b. Pada demand pull inflation, kenaikkan harga barang mendahului kenaikkan harga

    bahan-bahan input (material) sedang pada cost push inflation, kenaikan harga

    barang input yang justru mendahului kenaikan harga barang output.

    Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau tidaknya

    inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti

    dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional

    dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi.

    Penggolongan inflasi lainnya adalah sumbernya inflasi yang berasal dari dalam

    negeri disebut (domestic inflation) adalah jenis inflasi yang berasal dari dalam negeri

    itu sendiri seperti defisit keuangan negara yang dibiayai dengan penambahan uang

    baru, atau juga akibat pengenaan dan peningkatan pajak dikutip oleh pemerintah.

    Sedangkan inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation) adalah inflasi yang

    terjadi akibat pengaruh kenaikan harga barang-barang dari luar negeri. atau akibat

    perubahan nilai tukar mata uang ( kurs ) yang mengakibatkan harga barang-barang dari

    luar negeri menjadi mahal, dan sebab lainnya dari perdagangan internasional. Kenaikan

    harga barang didalam negeri oleh sebab peningkatan dagang dari luar negeri juga bisa

    terjadi, misalnya akibat naiknya nilai dan jumlah ekspor, yakni akibat naiknya

    permintaan dari luar negeri. Maka dengan naiknya nilai dan jumlah ekspor telah

    mengakibatkan harga dan jumlah barang di dalam negeri menjadi mahal dan berkurang.

  • 87

    Inflasi berikutnya adalah cost-push theory Inflation yakni diasumsikan bahwa

    produk dan jasa pada dasarnya ditentukan oleh biaya produksi sehingga spiral harga upah

    bertanggung jawab atas terjadinya peningkatan harga yakni berawal dari adanya

    permintaan upah lebih tinggi yang kemudian menyebabkan biaya produksi lebih tinggi

    dan akhirnya mendorong lagi tuntutan kenaikan upah, semua berdampak pada naiknya

    tingkat harga umum yang diakibatkan oleh biaya input yang meningkat. Secara umum,

    ada tiga faktor yang berkontribusi terhadap cost push inflate yakni kenaikan upah,

    peningkatan pajak perusahaan, dan inflasi impor (saat impor barang mentah atau

    setengah jadi menjadi lebih mahal, sering sebagai akibat dari depresiasi mata uang).

    Teori inflasi struktural versi dari teori ini berfokus di negara sedang berkembang.

    dimana, inflasi disebabkan oleh kesenjangan antara impor dan ekspor. Perubahan harga

    impor terjadi lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan warga negara untuk membayarnya .

    Selain itu, barang-barang import mengalahkan barang lokal. Hal ini menyebabkan

    peningkatan tekanan pada mata uang lokal dan tekanan terhadap harga, yang berujung inflasi.

    Teori inflasi struktural adalah teori inflasi yang didasarkan atas pengalaman di

    negara-negara Amerika Latin. Teori ini menekankan pada ketegaran (infleksibilitas)

    dari struktur perekonomian negara-negara sedang berkembang. Karena inflasi dikaitkan

    dengan faktor-faktor struktural dari perekonomian yang, menurut definisi faktor ini

    hanya bisa berubah secara gradual dan dalam jangka panjang) , maka teori ini disebut

    teori inflasi jangka panjang. yang dimaksud dengan faktor-faktor struktural di sini

    adalah faktor yang hanya bisa berubah secara gradual dan dalam jangka yang panjang.

    Teori ini memberi tekanan pada ketegaran dari struktur perekonomian negara-negara

    sedang berkembang. Ada dua ketegaran yang menyebabkan inflasi, yaitu

    ketegaran berupa ketidak elastisan dari penerimaan ekspor dan ketegaran berupa

  • 88

    ketidak elastisan dari penawaran bahan makanan dalam negeri. Kedua proses di atas

    pada umumnya berkaitan dan memperkuat satu sama lain dalam menyebabkan inflasi.

    Ketegaran merupakan ketidakelastisan dari penerimaan ekspor dimana nilai

    dari ekspor tumbuh secara lamban dibanding dengan pertumbuhan sektor-sektor lain.

    Dasar penukaran yang makin memburuk dan supply barang ekspor yang tidak elastis

    akan menyebabkan terjadinya kelambanan pertumbuhan penerimaan ekspor berarti

    kelambanan kemampuan untuk mengimpor barang-barang yang dibutuhkan. Sedangkan

    bagi suatu negara untuk mencapai target pertumbuhannya mengambil kebijaksanaan

    pembangunan import substitution strategy. Inflasi terjadi jika proses substitusi impor

    ini makin meluas, sehingga menaikkan biaya produksi berbagai barang, sehingga

    makin banyak harga-harga yang naik. Dampak negatif yang muncul akibat terjadinya

    inflasi bagi suatu negara berkembang adalah, memburuknya distribusi pendapatan,

    bertambahnya jumlah masyarakat miskin dan lainnya.

    2.1.11 Konsep Pajak Internasional.

    Suranovich (2000), menyatakan, jikalau ada dua negara yang melakukan

    perdagangan dimana satu negara meng-impor dan satu negara lagi meng-ekspor suatu

    komoditi, maka kurva permintaan dan penawaran mereka seperti gambar 2.5, berikut ,

    P Negara import P Negara eksport S S PtIm PtIm Pst A B C D Pst a b c d E F G H e f g h PtEx PtEx D D 0 StIm DtIm Q 0 DtEx StEx Q

  • 89

    Gambar 2.5 Kurva Permintaan Dan Penawaran atas Pajak Ekspor. Sumber ; Suranovich (2000).

    Kuantitas impor dan ekspor ditunjukan oleh dua garis tebal horizontal Pst.

    Ketika negara peng-ekspor mengimplementasikan pajak atas ekspor barang mereka

    maka akan menyebabkan berkurangnya harga barang didalam negeri sekaligus akan

    menambah harga barang tersebut diluar negeri sedangkan pengaruhnya bagi harga

    barang tersebut dipasar dunia adalah sebanding atas seberapa besar jumlah barang

    tersebut dalam total produksi dunia. Seandainya setelah dikenakan pajak harga barang

    dinegara pengimpor bertambah sebesar PtIm maka harga barang dinegara pengimpor

    turun sebesar PtEx. Namun jikalau ditetapkan kekhususan atas pajak ekspor maka nilai

    pajak menjadi T = PtIm PtEx adalah sama besar sebagaimana ditunjukan kedua garis

    tebal vertikal. Tetapi jikalau dikenakan pajak berdasarkan Ad-vallorem maka nilai pajak

    menjadi persamaan T=(Pt Im / Pt Ex) - 1.

    Suranovich (2000) memberikan gambaran atas dampak ditimbulkan dari

    penetapan pajak ekspor adalah sebagaimana tersaji dalam Tabel 2.1, sebagai berikut,

    Tabel 2.1, Dampak atas Penetapan Pajak Ekspor.

    Dampak Penetapan Pajak Ekspor

    Negara peng-impor

    Negara peng-ekspor

    Surplus konsumen - ( A + B + C + D ) + e Surplus produsen + A - ( e + f + g + h ) Pendapatan Pemerintah 0 (nihil) + ( c + g ) Kesahjateraan nasional - ( B + C + D ) + c ( f + h ) Kesahjateraan Dunia - ( B + D ) - ( f + h )

    Sumber, Suranovich (2000).

    Pajak ekspor memberi dampak positif kepada negara peng-ekspor yaitu dilihat dari sisi

    konsumen dan Pemerintah, sehingga secara keseluruhan memberi keuntungan kepada

    kesahjateraan nasional meskipun hal ini masih memberi dampak negatif kepada

    produsen. Sedangkan dampak pajak ekspor bagi negara peng-impor yaitu kepada

  • 90

    konsumen dan akibatnya bagi kesahjateraan nasional adalah negatif dimana mereka

    harus membayar lebih pada sejumlah barang yang sama sedangkan bagi produsen

    adalah positif sebab memperoleh selisih harga. (Suranovich, 2000).

    Selanjutnya dampak pajak ekspor tersebut bagi kesahjateraan penduduk dunia

    kepada permintaan konsumen dunia adalah negatif, jika jumlah barang yang dikenai

    pajak ekspor adalah sebagian besar dari produksi dunia. Kesimpulan yang diperoleh

    Suranovich (2000), terhadap kebijakan pajak ekspor adalah ;

    a. Ketika negara penghasil komoditi terbesar didunia mengimplementasikan pajak

    ekspor (dalam batas optimum ) maka itu akan menambah kesahjateraan nasional.

    b. Jikalau pajak ekspor tersebut ditetapkan dalam nilai tinggi (diatas optimum )

    maka kesahjateraan nasional akan jatuh ( negatif ).

    c. Pajak ekspor lebih baik ditetapkan dalam nilai minimal terhadap jumlah volume

    ekspor sehingga akan menyebabkan maksimumisasi dalam kesahjateraan nasional.

    2.1.12 Teori Tingkat Suku bunga.

    Kidwell, D.S, Petterson, dan Blackwell (1993) disadur oleh Sawaldjo (2002),

    menyatakan bahwa, bunga uang adalah sejumlah dana yang dinilai dalam uang dan

    diterima sipemilik uang ( kreditur ) sedangkan suku bunga adalah rasio dari bunga

    terhadap jumlah pinjaman serta waktu dari peminjaman uang. Kemudian tingkat suku

    bunga uang dalam satuan persentase adalah biaya peminjaman atau harga yang harus

    dibayar untuk meminjam sejumlah dana. Tingkat suku bunga adalah variabel terpenting

    dalam semua aspek bisnis karena sebagai asas tolok ukur atas kemampuan berbisnis.

    Nopirin, (1992) menyatakan, tingkat suku bunga uang (The stage Interest rate)

    memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan seluruh aktifitas ekonomi dimasyarakat,

    hal ini dapat ditunjukkan melalui semua yang terjadi di pasar uang atau pasar modal,

  • 91

    jadi tingkat suku bunga uang, memiliki fungsi alokatif bagi perekonomian khususnya

    didalam bentuk penggunaannya. Tingkat suku bunga merupakan salah satu variabel

    bersifat dominan dalam perekonomian yang selalu diamati dengan ekstra kehati-hatian

    sebab dapat memberi dampak langsung kepada perubahan konsumsi rumah tangga atau

    dalam mengambil keputusan di perusahaan sehingga perubahan tingkat suku bunga

    dapat merubah arah perekonomian dari suatu negara.

    Edmister R.O 1986 : disadur oleh Sawaldjo (2002) menyatakan ada tiga istilah

    yang berkaitan dengan tingkat suku bunga uang yaitu :

    1. State rate Tingkat suku bunga pada satu priode dikalikan jumlah pokok pinjaman

    untuk menghitung beban bunga perwaktu.

    2. Annual percentage rate Tingkat suku bunga dihitung pertahun disesuaikan dengan

    State rate untuk jumlah priode waktu dan jumlah pokok yang dipinjam agar

    diperoleh tingkat bunga ekuivalen.

    3. Yield Adalah tingkat bunga ekuivalen dengan satu kontrak keuangan yang

    memenuhi 3 syarat yakni : a). Jumlah seluruhnya yang benar-benar dipinjamkan.

    b). Dihitung pada awal tahun. c) Kemudian dibayar pada akhir tahun berikut bunga.

    Persamaan tingkat suku bunga sederhana merupakan dasar untuk menghitung

    suku bunga, rumusnya adalah : i = C / P = r dengan notasi :

    P = jumlah pokok hutang. i = suku bunga.

    C = jumlah yang dibayar pada setiap akhir priode. r = yield.

    Pembayaran sebesar C indentik dengan pembayaran bunga obligasi yang kemudian

    disebut sebagai Coupon ( C ). Besarnya suku bunga sederhana sama dengan kupon

    bunga dibagi pokok pinjaman. Maka dalam hal ini suku bunga sama dengan yield ( r ).

  • 92

    Sawaldjo (2002) menyebutkan, tingkat suku bunga memiliki beberapa fungsi

    didalam perekonomian yaitu :

    1. Mendukung kelangsungan pengaliran sumber-sumber dana tabungan kearah

    investasi dan hasil akhirnya kepada tingkat pertumbuhan ekonomi.

    2. Mendistribusi kredit yang tersedia atau yang diminta umumnya kepada investasi

    dengan menjanjikan hasil tertinggi.

    3. Menjaga keseimbangan jumlah uang beredar diantara permintaan dan penawaran

    uang pada suatu negara.

    4. Alat utama bagi suatu pemerintahan dalam mengatur kebijakan jumlah tabungan dan

    investasi dimana kebijakan bersifat mempengaruhi pasar.

    Tingkat suku bunga tidak bersifat seragam, hal ini disebabkan berbedanya jumlah

    waktu dan tingkat keperluan dana pada bidang sektor ekonomi, sehingga menciptakan

    permintaan dan penawaran yang berbeda-beda bahkan suatu perusahaan yang

    menerbitkan sekuritas dengan tingkat suku bunga yang sama namun akhirnya dalam

    realitas pasar akan berbeda juga tingkat suku bunganya. Namun meskipun demikian

    dalam analisis perlu diasumsikan adanya satu tingkat suku bunga fundamental atau

    disebut juga tingkat suku bunga murni atau tingkat suku bunga bebas risiko.

    2.1.13 Teori Luas Lahan Kelapa Sawit Menghasilkan.

    Pahan (2011), menyatakan lahan optimum untuk kelapa sawit adalah mengacu

    kepada 3 kriteria yakni ; faktor lingkungan, sifat fisik lahan dan sifat kesuburan tanah,

    Dimana mengacu kepada tiga kriteria tersebut semakin tinggi nilai kesesuaiannya maka

    biaya diperlukan untuk tanaman kelapa sawit semakin rendah dan juga sebaliknya.

    Persyaratan tumbuh dari tanaman kelapa sawit yakni daerah tropis, didataran rendah

    sampai sedang, curah hujan > 2200 mm/tahun merata sepanjang tahun dengan priode

  • 93

    kemarau (< 100 mm) tidak lebih dari 3 bulan. Temperatur udara siang 290 340

    Celcius dan malam hari 220-250 Celcius. Ketinggian dari permukaan laut < 500 meter.

    Sinar matahari minimal 5 jam perhari dan bersinar sepanjang tahun.

    Pahan (2011) menyampaikan peta dunia tanaman kelapa sawit yang dilansir

    oleh Food of Agriculture Organization berdasarkan temperatur dan priode

    pertumbuhan, variabel temperatur mencakup 14 iklim utama yang digolongkan kepada-

    3 kelompok yaitu tropis, sub tropis dan temperate (tundra), maka untuk tanaman kelapa

    sawit kondisi iklim tropis diberikan penilaian iklim utama dengan perbedaan isoline

    (sub tropis dan temperate) menunjukkan perbedaan pada setiap priode pertumbuhan

    tanaman. Maka berdasarkan kriteria tersebut zona khatulistiwa yang membelah dunia

    adalah zona yang paling sesuai untuk kelapa sawit dan negara yang dilintasi oleh garis

    khatulistiwa tersebut memiliki keunggulan komparatif sumber daya alam yang

    mempengaruhi daya saing produk perkebunan. Selain dari itu faktor penting lainnya

    yaitu sifat kesuburan tanah dimana daerah katulistiwa yang proporsi dengan lahan

    gurun ternyata juga tidak sesuai untuk kelapa sawit seperti didaerah gurun pada benua

    Afrika dan daerah gurun di Republik Rakyat China.

    Di Indonesia penyebaran tanaman kelapa sawit mencakup 19 propinsi dengan

    luas lahan menghasilkan terbesar berada di pulau Sumatera. Data luas tanaman kelapa

    sawit nasional lihat pada Tabel 1.4. Sebelum tahun 1979, perkebunan kelapa sawit

    masih diusahakan oleh perusahaan perkebunan besar milik negara dan swasta asing.

    Sejak dekade 1980, sejalan dengan kebijaksanaan pengembangan perekonomian rakyat,

    telah terjadi perkembangan yang sangat pesat dari usaha perkebunan kelapa sawit

    rakyat yang bermitra dengan perkebunan besar.

  • 94

    2.1.14 Konsep Hubungan diantara Harga Pangan, Tingkat Pendapatan

    dan Kebijakan Pemerintah.

    Dengan menggunakan pendekatan garis anggaran dan kurva indeferens

    Deaton dan Muellbauer (1980), menjelaskan keterkaitan diantara kebijakan harga

    pangan dengan tingkat pendapatan serta jumlah konsumsi pangan yang mana

    keseimbangannya mengindikasikan ketahanan pangan. Asumsi yang digunakan untuk

    penjelasan adalah :

    (1) hanya ada dua komoditas dikonsumsi yaitu kelompok pangan dan nonpangan,

    (2) semakin ke kanan kurva indeferens menunjukkan keadaan semakin sejahtera,

    (3) pangan merupakan barang normal.

    (4) harga barang non pangan diasumsikan tetap.

    (5) konsumen dibatasi oleh pendapatan (m) dan dapat memilih bundel komoditas

    pangan (X) dan komoditas non pangan (Y) sehingga persamaan garis anggarannya

    adalah: m = Px * X 1 Py * Y 1 (1)

    Dampak kebijakan harga pangan bagi produsen (nett consumer) dapat melalui

    dua jalur. Pertama, melalui jalur produksi yaitu subsidi input menyebabkan

    penggunaan teknologi meningkat sehingga produksi meningkat. Peningkatan produksi

    dengan biaya yang disubsidi dan harga output yang stabil menyebabkan pendapatan

    petani meningkat sebesar k. Peningkatan pendapatan ini menggeser garis anggaran

    ke kanan dari BL1 ke BL2 (Gambar 2.6). Akibat perubahan pendapatan dari m

    menjadi m + k, maka persamaan (1) menjadi :

    m - k = Px * X2 + Py * Y2 . (2)

    Kedua, melalui jalur konsumsi, karena sebagian besar produsen pangan adalah nett

    consumer, maka petani dan masyarakat umumnya akan menerima dampak adanya

  • 95

    kebijakan harga output yang menyebabkan harga pangan murah. Adanya subsidi

    pangan (quantity subsidy) sebesar s menyebabkan harga pangan Px menjadi lebih

    murah, efek totalnya efek substitusi dan efek pendapatan menyebabkan garis anggaran

    BL2 berotasi menjadi BL3.

    Secara matematika persamaan (2) berubah menjadi: m + k = ( Px s ) * X3 - Py * Y3 . (3) Sehinga garis anggaran BL2 dengan koefisien kemiringan Px

    Py berubah lebih kecil

    yaitu Px s Py

    dari persamaan BL3 setelah ada subsidi, sebagai berikut ;

    Y = m + k - Px s

    Py Py X .. (4)

    Dari Gambar 2.6 bergesernya garis anggaran ke kanan sekaligus juga menggeser kurva indeferens ke kanan dari KI1 ke KI2 ke KI3. Pergeseran ini mengindikasikan makin meningkatnya kesejahteraan dan konsumsi pangan yang berimplikasi pada meningkatnya ketahanan pangan.

    Gambar 2.6. Dampak Peningkatan Pendapatan dan Penurunan Harga Pangan

    terhadap Kesejahteraan dan Konsumsi Pangan Sumber : Deaton dan Muellbauer (1980).

  • 96

    2.2 Penelitian Sebelumnya.

    Beberapa hasil penelitian dan studi terdahulu sebagai pembanding model atas

    hasil yang diperoleh didalam studi ini adalah sebagai berikut ;

    Donald F. Larson (1996) dalam penelitiannya yang berjudul Indonesias Palm

    Oil Sub Sector. Sebagai Working Paper Commodity Policy and Analysis Unit no.1654

    pada The World Bank International Economics Department, September 1996.

    Variabel yang sama-sama digunakan antar penelitian adalah ; Luas lahan kebun sawit,

    namun Larson menelitinya lebih jauh kedalam aspek jangka panjang dan jangka pendek

    kemudian variabel harga CPO, harga minyak goreng Bulog dalam hal ini maksudnya

    adalah harga minyak goreng. kemudian variabel GDP perkapita, volume produksi CPO

    dan sebagai variabel terikat Larson menetapkan Pajak ekspor CPO. Ringkasan

    mengenai penelitian Larson, dapat dilihat pada Tabel 2.2 nomor 1.

    Purba Jan Horas V (2001). Meneliti dengan judul Model Ekonometrika

    Kelapa Sawit Indonesia. Analisis Simulasi Kebijakan Internal dan Eksternal. Dimuat

    pada Jurnal Kopertis wilayah 4, tahun 2001. Variabel serupa digunakan antar

    penelitian Purba dengan studi ini adalah, variabel luas lahan kebun sawit dimana Purba

    meneliti lebih spesifik kedalam pengelompokan yaitu kebun rakyat, kebun swasta dan

    kebun negara. Variabel lainnya yang serupa adalah volume produksi CPO, volume

    ekspor CPO, nilai tukar kurs, tingkat suku bunga dan kebijakan pemerintah pajak

    ekspor CPO sedangkan variabel terikat Purba memilih, harga CPO Internasional dan

    harga CPO domestik. Persamaan lainnya adalah dalam permasalahan penelitian dimana

    Purba mencari hubungan dan pola pembentukan dari harga CPO lokal dan harga CPO

    Internasional. Hal dimaksudkan yakni sebagaimana tersebut dalam ringkasan dari

    penelitian Purba terlihat pada Tabel 2.2 nomor 2.

  • 97

    Mohamad F. Hasan et al. (2001). Melakukan penelitian berjudul Effects of an

    Export Tax on Competitiveness The Case of the Indonesian Palm Oil Industry dimuat

    pada Journal of Economic Development Volume 26, Number 2, December 2001.

    Persamaan variabel antar penelitian adalah, volume ekspor CPO, pajak ekspor CPO,

    harga CPO Internasional, harga minyak goreng domestik, Resume dari penelitian

    Hasan dapat dilihat pada Tabel 2.2 nomor 3.

    Basri A.Talib dan Zaimah Darawi (2002). Melakukan penelitian berjudul An

    Economic Analysis of the Malaysian Palm Oil Market, penelitian ini dimuat pada

    Oilpalm Industry Economic Journal (Vol. 2(1)/2002) Beberapa variabel yang serupa

    digunakan antar penelitian adalah, nilai tukar kurs, volume ekspor CPO, harga CPO

    internasional, harga minyak kedelai Internasional, dimana volume produksi CPO adalah

    salah satu dari variabel terikat, dari penelitian tersebut sebagaimana Tabel 2.3 nomor 4.

    Bonar M. Sinaga dan Ketut Ardana (2003). Melakukan penelitian berjudul

    Struktur Produksi dan Kesahjateraan Pelaku Industri Minyak Goreng Indonesia dimuat

    di jurnal SOCA: 263-274, ISSN 1411-7177, Volume 2. nomor 1 2003, Bogor. Variabel

    yang serupa digunakan dalam penelitian adalah luas lahan sawit, kebijakan pajak

    ekspor, harga minyak goreng, harga CPO internasional, volume produksi minyak

    goreng, volume permintaan minyak goreng, kurs, sehingga penelitian Sinaga lebih

    memfokuskan kepada produksi dan konsumsi minyak goreng didalam negeri, model

    teridentifikasi berlebih maka pendugaan model dilakukan dengan metode 2SLS. Untuk

    menguji apakah masing-masing peubah penjelas secara individual berpengaruh nyata

    atau tidak terhadap peubah endogen pada masing-masing persamaan,hal dimaksudkan

    sebagaimana ditunjukkan ringkasan dari penelitian Sinaga, pada Tabel 2.3 nomor 5.

  • 98

    Karl Meilke et al. (2003). Meneliti dengan judul The Impact of Trade

    Liberalization on the International Oilseed Complex. Tulisan ini dimuat pada Review of

    Agricultural EconomicsVolume 23, Number 1halaman 217. Persamaan variabel

    antar penelitian adalah, kebijakan perdagangan pangan Internasional (pajak ekspor) dan

    harga minyak nabati pada pasar lokal dan pasar internasional, yang menarik dari

    tulisan ini adalah kesamaan dalam meneliti pengaruh pajak ekspor pangan terhadap

    harga pangan tersebut didalam negeri serta implikasi piagam putaran Uruguay pada

    perdagangan pangan dunia, Ringkasan penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.3 nomor 6.

    Akbar Siregar (2003). Melakukan studi berjudul analisis permintaan negara

    terpilih terhadap minyak sawit kasar Indonesia, sebagai tesis magister ekonomi

    pembangunan. Universitas Sumatera Utara tahun 2003. Beberapa variabel yang sama

    dengan studi ini adalah ; harga CPO internasional, harga minyak kedelai, pendapatan

    per kapita, pajak ekspor CPO, dan variabel kurs. Studi ini adalah tulisan terdahulu dari

    peneliti didalam kajian ekspor CPO Indonesia untuk lebih jelas resume dari penelitian

    ini dapat dilihat pada Tabel 2.4 nomor 7.

    Adang Agustian dan Prajogo U.Hadi (2004). Melakukan studi berjudul Analisa

    dinamika ekspor dan keunggulan komparatif minyak kelapa sawit (CPO), dan tulisan

    ini dimuat pada jurnal Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian IPB- Bogor, SOCA:

    Volume 4. nomor 3 Tahun 2004. Beberapa variabel yang sama-sama menjadi objek

    penelitian adalah variabel, pajak ekspor CPO, harga CPO Internasional, volume

    produksi CPO dan harga minyak kedelai internasional. Penyebab tulisan ini dipilih

    sebagai pembanding studi adalah tujuan dari penulisan, dimana Adang ingin mencari

    tahu keunggulan CPO dipasar Internasional sehingga dianggap penting untuk

    dibandingkan. Resume studi Adang Agustian dapat dilihat pada Tabel 2.4 nomor 8.

  • 99

    Wayan R.Susila (2004). Melakukan penelitian berjudul, Impacts of CPO Export

    Tax on Several Aspects of Indonesian CPO Industry dimuat pada Oil Palm Industry

    Economic Journal (VOL. 4(2)/2004). Variabel yang serupa digunakan dalam penelitian

    adalah, pajak ekspor CPO. volume produksi CPO, harga minyak goreng. Dimana

    dampak pajak ekspor CPO menjadi tujuan penelitian sekaligus menjadi tujuan yang

    akan dibandingkan. Penelitian Wayan dapat dilihat pada Tabel 2.4 nomor 9.

    Mohd. Nasir et al. (2005). Meneliti dengan judul Market Potential and

    Challenges for the Malaysian Palm Oil Industry in Facing Competition from Other

    Vegetable Oils dan tulisan telah dimuat pada, Oil Palm Industry Economic Journal

    (VOL. 5(1)/2005). Beberapa variabel yang serupa menjadi objek penelitian adalah,

    Pajak ekspor. Harga CPO Internasional. Ringkasan dari penelitian Amiruddin terlihat

    pada Tabel 2.5 nomor 10.

    Dida Heryadi Salya (2006). Melakukan studi berjudul Rekayasa Model Sistem

    Deteksi Dini Perniagaan Minyak Goreng Kelapa Sawit, sebagai Disertasi pada Program

    Studi Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor. variabel diamati yang

    serupa antar penelitian adalah, Kurs, harga CPO Internasional, volume ekspor CPO,

    pajak ekspor CPO, pendapatan perkapita, Inflasi, Harga minyak goreng. Rekayasa Sub-

    Model Penentuan Krisis dibangun menggunakan pendekatan teknik heuristik. ditujukan

    untuk menentukan rentang batas ambang harga minyak goreng kelapa sawit yang bisa

    diterima masyarakat dan dunia industri. Batas ambang atas (maksimum) ditentukan atas

    dasar pertimbangan kemampuan daya beli konsumen. Sedangkan batas ambang bawah

    (minimum) dibangun atas daya tahan industri untuk mampu berproduksi yaitu keuntungan

    marjinal industri Ringkasan studi dari Dida dapat dilihat pada Tabel 2.5 nomor 11.

    Ernawati Munadi (2007). Melakukan penelitian berjudul Penurunan Pajak

    Ekspor dan Dampaknya Terhadap Ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia. Tulisan ini

  • 100

    dimuat pada Jurnal Informatika Pertanian Vol 16 No.2, 2007. Beberapa variabel yang

    serupa menjadi objek penelitian adalah variabel pajak ekspor, harga CPO

    internasional,volume produksi CPO, volume ekspor CPO dan kurs, yang menarik dari

    tulisan ini Ernawati meneliti masalah pengaruh pajak ekspor terhadap harga CPO

    internasional, selanjutnya penelitian Ernawati dapat dilihat pada Tabel 2.5 nomor 12.

    Syaad Afifuddin (2007). Melakukan Penelitian berjudul Analisis determinan

    Produksi Industri Minyak Goreng Kelapa Sawit Propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini

    dimuat pada jurnal Wawasan Juni 2007,Volume 13 no.1. Beberapa variabel serupa

    menjadi objek Penelitian adalah volume produksi CPO. Volume produksi minyak

    goreng. Ringkasan dari Penelitian Syaad dapat dilihat pada Tabel 2.6 nomor 13.

    Zainal Abidin (2008). Meneliti dengan judul Analisis Ekspor Minyak Kelapa

    Sawit Indonesia. Penelitian dimuat pada jurnal Aplikasi Manajemen, Volume 6

    no.1April 2008. Beberapa variabel memiliki kesamaan Penelitian adalah pajak ekspor,

    harga CPO internasional, harga minyak kedelai, volume produksi CPO, volume ekspor

    CPO, nilai ekspor CPO, kurs. Resume tulisan Abidin terlihat pada Tabel 2.6 nomor 14.

    Nugroho Joko Prastowo et al. (2008) . Melakukan Penelitian berjudul Pengaruh

    Distribusi Dalam Pembentukan Harga Komoditas dan Implikasinya Terhadap Inflasi

    dimuat pada Buletin Ekonomi Keuangan Bank Indonesia pada Juni 2008, nomor

    Klasifikasi JEL: L81, Q11. Variabel yang hampir serupa digunakan dalam Penelitian

    adalah,harga sembako produsen dan harga sembako konsumen, disini harga minyak

    goreng masuk didalam salah satu kategori utama Penelitian kemudian variabel serupa

    adalah indeks harga konsumen. Tujuan dari Penelitian Nugroho mencari tahu kadar

    inflasi atas sembilan bahan pangan pokok juga merupakan kesamaan atas tujuan dari

    Penelitian ini yaitu harga minyak goreng. Resume Penelitian pada Tabel 2.6 nomor 15.

  • 101

    Diana Chalil (2008). Melakukan Penelitian berjudul Market power and

    subsidies in the Indonesian palm oil industry. Kertas kerja Penelitian disampaikan pada

    AARES 52nd Annual conference, February 2008, Canberra ACT Beberapa variabel

    yang sama digunakan dalam peneltian adalah ; nilai kurs, konsumsi CPO, harga CPO

    lokal, harga minyak goreng sawit. Penelitian Chalil terlihat pada Tabel 2.6 nomor 16.

    Rustam Effendi dan Sawitriyadi (2009). Meneliti berjudul faktor-faktor penentu

    ekspor minyak kelapa sawit CPO Indonesia, dimuat pada Jurnal Ekonomi dan Bisnis

    Vol. 8, No. 3, Desember 2009 : 247 257 Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala.

    Beberapa variabel yang serupa menjadi objek Penelitian adalah variabel harga CPO

    internasional, harga minyak kedelai, volume produksi CPO,volume ekspor CPO, nilai

    ekspor CPO, luas lahan kelapa sawit,kurs Rupiah/US$. Ringkasan Penelitian Effendi

    dapat dilihat pada Tabel 2.7 nomor 17.

    Joseph Obado et al. (2009). Meneliti dengan judul The Impacts Of Exports Tax

    Policy On The Indonesia Crude Palm Oil Industry. Penelitian ini dimuat oleh Jounal

    ISSAAS Vol. 15, No. 2:107 -119 (2009)). Beberapa variabel Penelitian adal ah, harga

    CPO internasional, harga minyak kedelai. volume produksi CPO, volume ekspor CPO,

    pajak ekspor CPO. Resume Penelitian Obado terlihat pada Tabel 2.7 nomor 18.

    Arifin Indra S. dan Roberto Akyuwen (2011). Meneliti dengan judul Factors

    Affecting the Performance of Indonesias Crude Palm Oil Export dan hasil Penelitian

    dipublikasikan pada International Conference on Economics and Finance Research

    IPEDR vol.4 (2011) IACSIT Press, Singapore.Variabel didalam objek Penelitian adalah

    Pajak ekspor CPO, Harga CPO Internasional, Volume produksi CPO, Volume ekspor

    CPO,Harga minyak kedelai,Kurs, PDB per kapita. Ringkasan pada Tabel 2.7 nomor 19.

  • 102

    Noor Zahirah Mohd. Sidek et al. (2011). Malaysias palm oil exports: Does

    exchange rate overvaluation and undervaluation matter? African Journal of Business

    Management Vol. 5(27), pp. 11219-11230, 09 November, 2011 Available online at

    http://www.academicjournals.org/AJBM DOI: 10.5897/AJBM11.2109 ISSN 1993-8233

    2011 Academic Journals. Beberapa variabel memiliki kesamaan penelitian adalah

    nilai kurs, harga CPO Internasional, volume ekspor CPO, selanjutnya resume dari

    Penelitian Noor Zahirah dapat dilihat pada Tabel 2.8 nomor 20.

    Rifin Amzu (2011). Menulis disertasi berjudul, The Role of Palm Oil Industry in

    Indonesian Economy And its Export Competitiveness, Dissertation Department of

    Agricultural and Resource Economics, University of Tokyo, February 2011. variabel

    yang serupa menjadi objek Penelitian adalah harga CPO Internasional, volume produksi

    CPO, volume ekspor CPO, harga minyak kedelai, harga minyak goreng lokal, tingkat

    suku bunga kredit. Kurs, PDB per kapita, pajak ekspor CPO, luas lahan kelapa sawit.

    sehingga semua variabel Penelitian ini terkecuali volume produksi minyak goreng ada

    didalam Penelitian Amzu, ringkasan studi dari Amzu dilihat pada Tabel 2.8 nomor 21.

    Akbar Siregar (2012). Meneliti dengan judul, Analisis Struktural Harga Minyak

    Goreng dan volume ekspor CPO Indonesia Pengaruhnya Terhadap Harga CPO Pasar

    Internasional Universitas Sumatera Utara, Medan, Disertasi , 2013. Variabel yang

    digunakan dalam Studi adalah ; Harga minyak goreng, Harga CPO internasional,

    Volume produksi minyak goreng, Gross DomesticProduct, Indeks HargaKonsumen,

    Pajak Ekspor CPO, Nilai Kurs Rp/US$, Luas Lahan Kelapa Sawit, Harga Minyak

    Kedelai, Tingkat Suku Bunga.Volume Produksi CPO. Ringkasan dari studi Siregar,

    terlihat di Tabel 2.8 nomor 22.

  • 103

    Tabel : 2.2 Pemetaan Dari Studi Sebelumnya, no.1 sampai dengan no.3.

    No

    Nama Peneliti Judul Studi Nama Jurnal Tahun Studi

    Permasalahan dan Model Studi.

    Variabel Pengamatan dan Hipotesis

    Methode Analisis dan Kesimpulan

    1

    Donald F. Larson. Indonesias Palm Oil SubSector Working Paper Commodity Policy and Analysis Unit no.1654 The World Bank International Economics Dept, September 1996.

    1.Intervensi atas harga pasar lokal dan dampak pada pasar global. 2.Struktrur dari produksi sawit dan minyak sawit. Model Studi : CS = (D no tax Pno tax D tax P tax) / ( 1 + d )

    Luas Lahan Kebun Sawit jangka pendek (+) jangka panjang (-) Biaya Produksi (+) Harga Substitusi

    Minyak Kelapa (+) Harga CPO (+) InvestasiPMA/PMDN

    Jangka pendek (+) jangka panjang (-) Harga Minyak Goreng

    Bulog (-) GDP / kapita (-)

    Variabel terikat Pajak ekspor CPO

    Methode analisa kuantitatif Dengan aplikasi matematika. Kesimpulan : 1.Harga pasar minyak goreng domestik pengaruhi harga pasar CPO global. 2.Rekomendasi menghapus Pajak ekspor CPO. 3. Pemerintah perlu untuk memperhatikan infra struktur pembangunan sektor perkebunan.

    2

    Purba Jan Horas Model Ekonometrika Kelapa Sawit Indonesia, Analisis Simulasi Kebijakan Internal dan Eksternal. Jurnal Kopertis wilayah 4, tahun 2001.

    1.Luas lahan kelapa sawit terhadap harga CPO lokal dan internasional Dalam hal kapasitas produksi kebun sawit rakyat, swasta, Negara. 2 Volume produksi CPO terhadap harga lokal , Internasional. 3. Simulasi kebijakan terhadap produksi, ekspor, dan harga minyak sawit. Model Studi : PVRUt = jo + j1 HCDNt + j2 SBUHt + j3 UTKUt + j4 HPUKt + j5 JCHUt + j6 Trend + j7 PVRUt-1 + U10

    Luas kebun Rakyat (+) Luas kebun Swasta (+) Luas kebun Negara (-) Volume Produksi CPO (+) Volume Ekspor CPO

    Indonesia (+) Nilai Tukar Kurs (+) Tingkat suku bunga (+) Tingkat Upah Kebun (+) Harga Pupuk (+) Kebijakan pemerintah (-)

    Terhadap variabel terikat Harga CPO Internasional. Harga CPO domestik.

    Berbagai model estimasi linear terhadap permintaaan dan penawaran Kelapa Sawit. Kesimpulan : 1. Luas kebun sawit di Sumatera mendekati jenuh. 2.Suku bunga pengaruhi nyata produksi CPO. 3.Harga pupuk, tingkat upah merespon harga CPO. 4 Orentasi produksi kebun swasta untuk ekspor, kebun rakyat dan Negara tidak. 5.Harga CPO domestik me- respons harga CPO intrnsnl. 6.Kurs & kebijakan pajak dominan Pengaruhi volume ekspor CPO Indonesia. 7. Kebijakan Pajak ekspor CPO tetap diperlukan.

    3

    Mohd.F.Hasan et al. Effects of an Export Tax on Competitive- ness The Case of the Indonesian Palm Oil Industry. Journal of Economic Development Volume 26, Number 2 December 2001.

    Dampak dinamis jangka pendek dan jangka panjang dari pajak ekspor minyak sawit terhadap kinerja ekspor dan daya saing minyak sawit Indonesia dipasar Internasional. Model Studi :

    - Nett Exports Indonesia. - Volume Ekspor CPO. - Relative Ekspor CPO. - Pajak Ekspor CPO. - Harga minyak goreng domestik Menggunakan data series

    tahun 1994-1997. - Terhadap kinerja ekspor industri minyak sawit Indonesia.

    Model ekonometrika vektor auto regressive (VAR) Kesimpulan : Mendapatkan : pajak ekspor memiliki dampak negatif bertahan dalam jangka waktu yg cukup lama pada daya saing industri kelapa sawit Indonesia namun pajak ekspor relevan untuk menurunkan daya saing yang dapat merugikan semua pihak.

    Sumber : Diolah dari sumber disebutkan.

  • 104

    Tabel : 2.3 Pemetaan Dari Studi Sebelumnya, no.4 sampai dengan no.6.

    No

    Nama Peneliti Judul Studi Nama Jurnal Tahun Studi

    Permasalahan dan Model Studi.

    Variabel Pengamatan dan Hipotesis

    Methode Analisis dan Kesimpulan

    4.

    Basri A.Talib dan Zaimah Darawi, An Economic Analysis of the Malaysian Palm Oil Market Oil palm Industry Economic Journal (Vol. 2(1)/2002.)

    - Identifikasi faktor penting mempengaruhi industri kelapa sawit Malaysia. - Membangun model

    pasar minyak sawit Malaysia

    Model Studi : YLDt=c0+(1) YLDt1+c1RMPPOt + c2RMPPOt1+ c3TIMEt+u3t

    Variabel bebas. Kurs (+) Volume Ekspor CPO (+) Harga CPO Internasionl(+) Teknologi Produksi (+) Harga minyak kedelai (+) Daya Beli Konsumen (+) Pertambahan Penduduk (+) Terhadap ; Volume Produksi CPO Harga Saham Sawit.

    Estimasi model 2SLS. -Daya beli konsumen naik Sampai titik tertentu saja. -Jumlah penduduk lebih signifikan & elastis dalam respon volume konsumsi. - Harga minyak kedelai, signifikan & elastis. - Harga CPO internasional signifikan &elastis. - Teknologi Produksi signifikan dan elastis. - Perlu program kebijakan agar pihak swasta lebih maksimal membangun.

    5.

    Bonar M. Sinaga dan Ketut Ardana. Struktur Produksi dan Kesahjateraan Pelaku Industri Minyak Goreng Indonesia jurnal SOCA: 263-274, ISSN 1411-7177, Volume 2. No.1 2003, Bogor.

    - Faktor mempengaruhi struktur produksi minyak goreng.

    - Dampak perubahan sosial ekonomi pada kesejahteraan masyarakat.

    Model Studi : HDPO=s0+s1HXPO+ s2SDPO + s3DDPO + s4ER + s5TW + U19

    - Luas lahan sawit. - Jumlah hasil panen sawit. - Jumlah kelapa kopra. - Lapangan kerja sektoral. - Tingkat upah sektoral. - Kebijakan pajak ekspor - Harga minyak goreng. (+) - Harga CPO Internas. - Vol.permintaan migor - Vol.prod.migor - Nilai kurs.

    -Methode regresi 2 SLS. - Pajak CPO dominan pada Perubahan harga minyak sawit dan minyak goreng. - Sektoral perkebunan sawit menyerap pekerja dan tingkat upah memadai. - Produksi minyak goreng syarat dengan berbagai kepentingan ekonomi. - Volume produksi m.goreng ditentukan harga didalam negeri dan harga CPO Intrn.

    6

    Karl Meilke,Mitch Wensley, and Merritt Cluff, The Impact of Trade Liberalization on the International Oilseed Complex. Review of Agricultural Economics, Volume 23 Number 1,2003.

    Perdagangan dan reformasi kebijakan domestik pangan, usulan nol untuk nol Dampak liberalisasi perdagangan kepada Produksi dan Konsumsi minyak bijian (goreng). Model Studi : D2O = 40 41P2O S2 O = KOD2SS1O + S2O = D1O+D2O S1M+S2M=D1M+D2M

    - Kebijakan perdagangan (pajak) Internasional. - Harga minyak nabati

    pasar lokal & pasar internasional.

    - Harga pangan utama dunia.

    - Simulasi pajak ekspor dan impor nol persen (konvensi pangan Uruguay) usulan

    nol untuk nol.

    Methode analisis : the OECDs AGLINK. - Pajak ekspor dan impor merugikan petani dan konsumen minyak nabati. -Harga pangan dunia ikut terpengaruh sesuai kondisi disetiap negara tidak sama. - Usulan nol untuk nol juga tidak efektif menjaga harga pada keseimbangannya. -Variabel lain seperti, cuaca, Tingkat pendapatan, jumlah penduduk lebih berpengaruh terhadap jumlah permintaan dan kepada hargakomoditas.

    Sumber : Diolah dari sumber disebutkan.

  • 105

    Tabel : 2.4 Pemetaan Dari Studi Sebelumnya, no.7 sampai dengan no. 9.

    No

    Nama Peneliti Judul Studi Nama Jurnal Tahun Studi

    Permasalahan dan Model Studi.

    Variabel Pengamatan