Click here to load reader

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kosmetika 2.1.1 Pengertian ... II.pdf · PDF file 2.1.1 Pengertian Kosmetik Pemakaian kosmetika merupakan hal yang sangat diperlukan oleh seseorang sejak

  • View
    15

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kosmetika 2.1.1 Pengertian ... II.pdf · PDF file 2.1.1...

  • 5

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Kosmetika

    2.1.1 Pengertian Kosmetik

    Pemakaian kosmetika merupakan hal yang sangat diperlukan oleh seseorang

    sejak usia bayi sampai usia lanjut, tidak terkecuali pria maupun wanita dengan

    tujuan untuk mendapatkan kulit yang sehat, wajah yang cantik, penampilan

    pribadi yang baik dan kepercayaan pada diri sendiri. Kosmetik dikenal oleh

    manusia sejak berabad-abad yang lalu, sehingga seiring dengan berkembangnya

    ilmu tentang kosmetologi banyak ilmuan yang menggembangkan tentang ilmu

    dermatologi agar dapat mengetahui efek dari suatu bahan terhadap kulit, karena

    saat ini banyak kasus penyakit baru yang muncul akibat dari pemilihan bahan

    kosmetik yang ternyata dapat mengiritasi kulit seperti bercak merah, rasa panas

    dan terbakar jika terkena paparan sinar matahari langsung (Tranggono dan Fatma,

    2007).

    Pada tahun 1995 Lubowe menciptakan istilah "cosmedik" yang merupakan

    gabungan dari kosmetik dan obat yang sifatnya dapat mempengaruhi kulit secara

    positif, namun bukan obat. Ilmu yang mempelajari kosmetika disebut

    "kosmetologi" yaitu ilmu yang berhubungan dengan pembuatan, penyimpanan,

    aplikasi penggunaan, dan efek samping kosmetika (Wasitaatmadja, 1997).

    2.1.2 Fungsi Kosmetik

    Apabila dasar kecantikan adalah kesehatan, maka penampilan kulit yang

    sehat adalah bagian yang langsung dapat kita lihat, karena kulit merupakan organ

    tubuh yang berada paling luar dan berfungsi sebagai pembungkus tubuh. Dengan

    demikian pemakaian kosmetik yang tepat untuk perawatan kulit, rias atau

    dekoratif akan bermanfaat bagi kesehatan tubuh (Wasitaatmadja, 1997).

    Penggolongan kosmetika menurut penggunaannya bagi kulit:

    1. Kosmetik perawatan kulit (Scin care cosmetic)

    Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk

    didalamnya:

  • 6

    a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (Cleanser): sabun, cleansing cream,

    cleansing milk, dan penyegar kulit (freshener).

    b. Kosmetik untuk melembabkan kulit (Mosturizer), misalnya: mosturizer

    cream, night cream, anti wrinkel cream.

    c. Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen

    foundation, sun block cream/lotion.

    d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (Peeling), misalnya

    scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai

    pengampelas (abrasiver).

    2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make up)

    Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga

    menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek

    psikologis yang baik, seperti percaya diri. Dalam kosmetik riasan, peran zat

    warna dan pewangi sangat besar. Kosmetik dekoratif terbagi menjadi dua

    golongan:

    a. Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan

    pemakaian sebentar, misalnya lipstik, bedak, pemerah pipi, eye shadow, dan

    lain-lain.

    b. Kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya luntur dalam

    waktu yang lama, misalnya pemutih kulit, cat rambut, pengeriting rambut,

    dan preparat penghilang rambut (Tranggono dan Fatma, 2007).

    2.2 Antioksidan

    2.2.1 Radikal Bebas

    Radikal bebas merupakan suatu molekul yang mempunyai kumpulan

    elektron yang tidak berpasangan pada suatu lingkaran luarnya. Radikal bebas

    adalah molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada

    orbital terluarnya, radikal bebas sangat reaktif dan tidak stabil, sebagai usaha

    untuk mencapai kestabilannya radikal bebas akan bereaksi dengan atom atau

    molekul di sekitarnya untuk memperoleh pasangan elektron. Reaksi ini dalam

    tubuh dapat menimbulkan reaksi berantai yang mampu merusak struktur sel, bila

    tidak dihentikan akan menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, jantung,

    katarak, penuaan dini, serta penyakit degeneratif lainnya (Maria dan Herry, 2014).

  • 7

    Radikal bebas bertanggung jawab terhadap kerusakan tingkat sel dan

    jaringan terkait usia. Pada kondisi normal, terjadi keseimbangan antara oksidan,

    antioksidan, dan biomolekul. Radikal bebas yang berlebih menyebabkan

    antioksidan seluler natural kewalahan, memicu oksidasi, dan berkontribusi

    terhadap kerusakan fungsional seluler. Radikal bebas merupakan penyebab utama

    terkait proses penuaan, dianggap sebagai satu-satunya proses utama, dimodifikasi

    oleh genetik dan faktor lingkungan; oksigen radikal bebas bertanggungjawab

    (reaktivitasnya tinggi) terhadap kerusakan tingkat sel dan jaringan terkait usia.

    Akumulasi radikal oksigen pada sel dan modifikasi oksidatif molekul biologi

    (lipid, protein, dan asam nukleat) berperan pada penuaan dan kematian sel.

    2.2.2 Antioksidan

    Antioksidan adalah substansi yang dalam konsentrasi rendah jika

    dibandingkan dengan substrat yang akan teroksidasi dapat memperlambat atau

    menghambat oksidasi substrat (Sen et al., 2010), berperan penting dalam

    melindungi sel dari kerusakan dengan kemampuan memblok proses kerusakan

    oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas (Hartanto, 2012). Antioksidan

    merupakan suatu zat yang mampu menetralisir atau meredam dampak negatif dari

    adanya radikal bebas.

    Manfaat dari antioksidan sendiri yaitu untuk menangkal radikal bebas yang

    menjadikan antioksidan sangat banyak diteliti oleh para peneliti. Berbagai hasil

    penelitian menunjukkan bahwa antioksidan seperti tokoferol, askorbat, flavonoid,

    dan likopen dilaporkan dapat memperlambat proses yang diakibatkan oleh radikal

    bebas (Andriani et al., 2007).

    Antioksidan dapat berperan untuk menurunkan laju perubahan akibat

    penuaan yang mampu menstabilkan atau menonaktifkan radikal bebas sebelum

    menyerang sel, juga dapat menghambat ataupun menunda oksidasi. Antioksidan

    memiliki fungsi preventif dan proteksi terhadap penyakit terkait usia. Manusia

    memiliki sistem antioksidan kompleks baik enzimatik maupun non-enzimatik

    yang bekerja sinergis untuk melindungi sel dan sistem organ dari kerusakan akibat

    radikal bebas. Antioksidan endogen berperan penting menjaga fungsi seluler yang

    optimal dan kesehatan sistemik secara umum.

  • 8

    Senyawa fenolik atau polifenolik merupakan kandungan yang terdapat

    dalam antioksidan golongan flavonoid yang mana terbukti mampu menangkal

    radikal bebas. Antioksidan dapat dihasilkan tanaman berupa senyawa fenolik

    (flavonoid, asam fenolik, tannin, dan lignan) mempunyai berbagai efek biologis

    seperti aktivitas antioksidan melalui mekanisme sebagai pereduksi, penangkap

    radikal bebas, pengkhelat logam, peredam terbentuknya singlet oksigen serta

    pendonor elektron (Karadeniz et al., 2005). Flavonoid merupakan salah satu

    antioksidan dari kelompok senyawa fenolik yang ditemukan dalam buah dan

    sayuran (Farkas et al., 2004). Beberapa tahun belakangan ini, telah dibuktikan

    bahwa flavonoid memiliki potensi yang besar melawan penyakit yang disebabkan

    oleh penangkap radikal bebas (Middleton et al., 2000 cit Amic et al., 2003).

    Struktur kimia flavonoid memiliki inti flavon terdiri dari 15 atom C dengan 3

    cincin C6-C3-C6 yang disebut dengan A, B, C. Adapun struktur kimia dari

    flavonoid dapat kita lihat pada Gambar 2.1 (Astawan, 2009).

    Gambar 2. 1 Struktur Flavonoid

    (Astawan, 2009)

    2.2.3 Mekanisme Antioksidan

    Antioksidan berfungsi sebagai senyawa yang dapat menghambat reaksi

    radikal bebas penyebab penyakit karsinogenis, kardiovaskuler dan penuaan dalam

    tubuh manusia. Antioksidan diperlukan karena tubuh manusia tidak memiliki

    sistem pertahanan antioksidan yang cukup, sehingga apabila terjadi paparan

  • 9

    radikal bebas yang berlebihan maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen

    (berasal dari luar) (Muchtadi, 2013).

    Gambar 2. 2 Proses masuknya radikal bebas ke dalam tubuh

    (Krisnadi, 2015)

    Reaksi berantai pada radikal bebas (tanpa ada antioksidan) terdiri dari tiga

    tahap, yaitu:

    Tahap inisiasi : RH  R* + H*

    Tahap propagasi : R* + O2  ROO*

    ROO* + RH  ROOH +R*

    Tahap terminasi : R* + R*  R – R

    ROO* + R*  ROOR

    ROO* + ROO*  ROOR + O2

    Pada tahap inisiasi terjadi pembentukan radikal bebas (R*) yang sangat

    reaktif, karena (RH) melepaskan satu atom hidrogen, hal ini dapat disebabkan

    adanya cahaya, oksigen atau panas. Pada tahap propagasi, radikal (R*) akan

    bereaksi dengan oksigen membentuk radikal peroksi (ROO*). Radikal peroksi

    selanjutnya akan menyerang RH (misalnya pada asam lemak) menghasilkan

    hidroperoksida dan radikal baru. Hidrogen peroksida yang terbentuk bersifat tidak

    stabil dan akan terdegradasi menghasilkan senyawa-senyawa karbonil rantai

    pendek seperti aldehida dan keton (Nugroho, 2007).

  • 10

    Tanpa adanya antioksidan, reaksi oksidasi lemak akan berlanjut sampai

    tahap terminasi, sehingga antar radikal bebas dapat saling bereaksi membentuk

    senyawa yang kompleks.

    Dengan adanya antioksidan maka akan memberikan atom hidrogen atau

    elektron pada radikal