24
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi tekanan darah seseorang berada diatas angka normal yaitu 120/80 mmHg. Maksudnya bila tekanan darah sistoliknya mencapai nilai 120 mmHg atau lebih tinggi dan tekanan darah diastoliknya mencapai nilai 80 mmHg atau lebih tinggi (Susilo, 2011). Berdasarkan The Seventh Report of Joint National Committe on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High blood Pressure (JNC-7) dikatakan bahwa seseorang mengalami hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Yogiantoro, 2007) Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian / mortalitas. Tekanan darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukkan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung (Triyanto, 2014).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

  • Upload
    others

  • View
    13

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

2.1.1 Pengertian Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi tekanan darah

seseorang berada diatas angka normal yaitu 120/80 mmHg. Maksudnya bila

tekanan darah sistoliknya mencapai nilai 120 mmHg atau lebih tinggi dan tekanan

darah diastoliknya mencapai nilai 80 mmHg atau lebih tinggi (Susilo, 2011).

Berdasarkan The Seventh Report of Joint National Committe on

Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High blood Pressure (JNC-7)

dikatakan bahwa seseorang mengalami hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih

dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Yogiantoro,

2007)

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami

peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian / mortalitas.

Tekanan darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase dalam setiap

denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukkan fase darah yang

sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukkan fase darah

yang kembali ke jantung (Triyanto, 2014).

Page 2: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

8

2.1.2 Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi menjadi masalah pada usia lanjut karena sering ditemukan

menjadi faktor utama penyakit koroner. Lebih dari separuh kematian diatas usia

60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrovakuler. Hipertensi pada

usia lanjut dibedakan menjadi dua macam yaitu hipertensi pada tekanan sistolik

sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih

dari 90 mmHg serta hipertensi sistolik terisolasi tekanan sistolik lebih besar dari

160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg (Nugroho, 2008).

Menurut Djunaedi (2013), angka pengukuran tekanan darah hanya

menunjukkan besarnya tekanan darah pada saat dilakukan pengukuran.

Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah pada penderita hipertensi

Kategori Tekanan DarahSistolik

Tekanan DarahDiastolik

Normal 120 mmHg < 80 mmHgPre Hipertensi 120 mmHg-139 mmHg 80 mmHg-90 mmHgHipertensi derajat 1 140 mmHg-159 mmHg 90.99mHgHipertensi derajat 2 > 160 mmHg > 100 mmHg

Sumber: WHO-JNC dalam Triyanto (2014).

2.1.3 Penyebab Hipertensi

Menurut Arita (2011), penyebab hipertensi yaitu:

1. Hipertensi primer (esensial) yaitu : keturunan, umur dan psikis

2. Hipertensi sekunder

a. Penyakit ginjal (glomerulonefritis akut atau kronik)

b. Tumor dalam rongga kepala

c. Penyakit syaraf

d. Toxemia grafidarum

Page 3: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

9

3. Faktor yang menunjang

a. Ada riwayat penyakit sistem kardiovaskuler atau ginjal sebelumnya

b. Obesitas

c. Aktifitas yang terlalu melelahkan (gerak badan)

d. Emosional / ketegangan mental

e. Umur semakin tua semakin bertambah desakan ( 50 – 60 tahun)

2.1.4 Tanda dan gejala Hipertensi

Tanda dan gejala dari hipertensi menurut Pudiastuti (2013), adalah:

1. Penglihatan kabur karena kerusakan retina

2. Nyeri pada kepala

3. Mual dan muntah akibat meningkatnya tekanan intra kranial

4. Edema dependen

5. Adanya pembengkakan karena meningkatnya tekanan kapiler

2.1.5 Patofisiologi Hipertensi

Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui

beberapa cara yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih

banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar kehilangan

kelenturannya dan menjadi kaku sehingga tidak dapat mengembang pada saat

jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Darah pada setiap denyut

jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit dari pada biasanya dan

menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana

dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arterosklerosis (Triyanto,

2014).

Page 4: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

10

Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat

terjadi vasokontriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara

waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.

Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya

tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak

mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume

darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga meningkat

(Triyanto, 2014).

Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri

mengalami pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi, maka tekanan darah

akan menurun. Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan

oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian

dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).

Perubahan fungsi ginjal, ginjal mengendalikan tekanan darah melalui

beberapa cara yaitu jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah

pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya

volume darah dan mengembalikan tekanan darah normal. Jika tekanan darah

menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga

volume darah bertambah dan tekanan darah kembali normal (Triyanto,

2014).

Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan

enzim yang disebut renin, yang memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal

merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena itu

berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal dapat menyebabkan terjadinya

Page 5: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

11

tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah

satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi.

Peradangan dan cidera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa

menyebabkan naiknya tekanan darah (Triyanto, 2014).

Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom yang

untuk sementara waktu akan meningkatkan tekanan darah selama respon

fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar);

meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung dan juga

mempersempit sebagian besar arteriola. Tetapi memperlebar arteriola di

daerah tertentu (misalnya otot rangka yang memerlukan pasokan darah yang

lebih banyak) mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga

akan meningkatkan volume darah dalam tubuh, melepaskan hormon

epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (nor adrenalin) yang merangsang

jantung dan pembuluh darah. Faktor stres merupakan satu faktor pencetus

terjadinya peningkatan tekanan darah dengan proses pelepasan hormon

epinefrin dan norefinefrin (Triyanto, 2014).

Aktivitas kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks

adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan

penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron

akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorbsinya dari

tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan

cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan

meningkatkan volume dan tekanan darah (Anggraini, 2008).

Page 6: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

12

Rekomendasi asupan kalium dan magnesium yaitu kalium 4700 mg dan

magnesium 400 mg. Kalium dan magnesium berperan dalam memperbesar ukuran

sel endotel, menghambat kontraksi otot halus pembuluh darah, menstimulasi

produksi prostasiklin vasodilator dan meningkatkan produksi nitric oxide yang

akan memicu reaksi dilatasi dan reaktivasi vaskuler yang akan menurunkan

tekanan darah. Kedua mikronutrien ini juga berpengaruh dalam sistem renin

angiotensin (RAS) yang merupakan pusat kontrol utama tekanan darah dan fungsi

endokrin terkait kardiovaskuler. Kalium berperan dalam menghambat pelepasan

renin dengan meningkatkan eksresi natrium dan air. Terhambatnya renin akan

mencegah pembentukan angiotensin I dan II sehingga akan menurunkan

sensitivitas vasokontriksi. Magnesium akan mempengaruhi stimulus di pusat saraf

simpatis agar vasokonstriksi tidak melewati batas yang dibutuhkan. Kalium dan

magnesium dapat diperoleh dari sumber alami melalui sayuran dan buah-buahan.

Sayuran yang dapat tumbuh di segala musim, mudah ditemui, dan banyak ditanam

di Indonesia yang mengandung kalium dan magnesium adalah mentimun

(Lebalado, 2011).

2.1.6 Penatalaksanaan

Pengobatan pada hipertensi bertujuan mengurangi morbiditas dan

mortalitas dan mengontrol tekanan darah. Dalam pengobatan hipertensi ada

dua cara yaitu pengobatan non farmakologik (perubahan gaya hidup) dan

pengobatan farmakologik (Pudiastuti, 2013).

Page 7: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

13

1. Pengobatan non farmakologik

a. Terapi herbal

Di dalam Traditional Chinesse Pharmacology, ada lima macam

cita rasa dari tanaman obat yaitu pedas, manis, asam, pahit, dan asin.

Penyajian jenis obat-obatan herbal khususnya dalam terapi hipertensi

disuguhkan dengan beberapa cara, misalnya dengan dimakan langsung,

disajikan dengan dibuat jus untuk diambil sarinya, diolah menjadi obat

ramuan ataupun dimasak sebagai pelengkap menu sehari-hari (Dalimartha,

2008).

Penggunaan obat hipertensi modern dapat menimbulkan efek

samping, oleh karena itu, obat tradisional biasa menjadi pilihan. Obat

tradisional yang ada di Indonesia yang dapat digunakan sebagai alternatif

pengobatan hipertensi adalah mentimun (Cucumis sativus Linn), bawang

putih, seledri, belimbing manis, rosella (Soeryoko, 2010).

1) Mentimun (Cucumis Sativus Linn)

Khasiat mentimun dalam menurunkan tekanan darah pada

penderita hipertensi yaitu dengan cara mengeluarkan cairan tubuh

(melalui air seni) karena mentimun mengandung mineral yaitu

potassium, magnesium, dan fosfor. Selain itu mentimun juga bersifat

diuretik karena mengandung banyak air sehingga menbantu

menurunkan tekanan darah (Mangonting, 2008).

Page 8: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

14

2) Bawang putih

Bawang putih memiliki efek dilatoris terhadap pembuluh darah

yakni, memiliki efek untuk membuat pembuluh darah menjadi lebih

lebar sehingga mengurangi tekanan darah (Jussawalla, 2006).

3) Seledri

Hubungan dengan hipertensi, seledri berkhasiat menurunkan

tekanan darah (hipotensif atau antihipertensi). Sebuah percobaan

perfusi pembuluh darah menunjukkan bahwa epigenin mempunyai

efek sebagai vasodilator perifer yang berhubungan dengan efek

hipotensinya. Percobaan lainnya menunjukkan efek hipotensif herba

seledri berhubungan dengan integritas sistem saraf simpatik (Mun’im,

2011).

4) Belimbing manis

Belimbing memiliki kandungan serat yang baik sehingga dapat

membantu proses pencernaan dan mengandung kadar kalium tinggi

yang dapat merelaksasi pembuluh darah serta natrium yang rendah

sebagai obat anti hipertensi (Toda, 2010).

5) Rosella

Senyawa aktif yang berperan dalam bunga rosella terdiri dari

gossipetin, antosianin, glukosida dan flavonoid yang dapat mencegah

peningkatan tekanan darah, mempunyai efek diuretik dan dapat

meningkatkan kerja usus (Setiawan, 2010).

Page 9: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

15

b. Pengurangan berat badan

Lemak kurang dari 30% dari konsumsi kalori setiap hari.

Mengkonsumsi banyak lemak akan berdampak pada kadar kolestereol

yang tinggi. Kadar kolesterol yang tinggi meningkatkan resiko terkena

penyakit jantung. Kelainan metabolisme lipid (Iemak) yang ditandai

dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL

dan atau penurunan kadar kolesterol HDL dalam darah. Kolesterol

merupakan faktor penting dalam terjadinya aterosklerosis yang

mengakibatkan peninggian tahanan perifer pembuluh darah sehingga

tekanan darah meningkat (Dalimartha, 2008).

c. Melakukan aktifitas fisik

Melalui olah raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik

selama 30-45 menit per hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan

menurunkan tekanan darah (Yundini, 2006).

d. Membatasi asupan garam

Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena

menarik cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan

meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada sekitar 60% kasus

hipertensi primer (esensial) terjadi respons penurunan tekanan darah

dengan mengurangi asupan garam. Pada masyarakat yang mengkonsumsi

garam 3 gram atau kurang, ditemukan tekanan darah rata-rata rendah,

sedangkan pada masyarakat asupan garam sekitar 7-8 gram tekanan darah

rata-rata lebih tinggi (Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular,

2006).

Page 10: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

16

e. Modifikasi gaya hidup

Modifikasi gaya hidup dapat mempunyai pengaruh yang mendasar

terhadap morbiditas dan mortalitas. Diet yang kaya buah-buahan, sayuran

dan rendah lemak serta rendah lemak jenuh (diet DASH). Menghindari

faktor resiko seperti merokok, minum alkohol dan stres. Merokok dapat

meningkatkan tekanan darah, walaupun pada beberapa survei didapat pada

kelompok perokok, tekanan darahnya lebih rendah dari pada kelompok

yang tidak merokok. Alkohol diketahui dapat meningkatkan tekanan

darah, sehingga menghindari alkohol berarti menghindari kemungkinan

hipertensi. Olahraga yang teratur dibuktikan dapat menurunkan tekanan

perifer, sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Dengan olahraga, akan

timbul perasaan santai, dapat menurunkan berat badan, sehingga dapat

menurunkan tekanan darah (Rudianto, 2013).

2. Pengobatan farmakologi

Pengobatan farmakologi pada setiap penderita hipertensi

memerlukan pertimbangan berbagai faktor seperti beratnya hipertensi,

kelainan organ dan faktor resiko lain. Pengobatan hipertensi biasanya

dikombinasi dengan beberapa obat:

a. Diuretik {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), lasix (Furosemide)}.

Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses

pengeluaran cairan tubuh melalui urine. Tetapi karena potasium

berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan

konsumsi potasium harus dilakukan. Obat-obatan jenis ini bekerja

dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (melalui kencing). Dengan

Page 11: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

17

demikian volume cairan dalam tubuh berkurang sehingga daya pompa

jantung lebih ringan (Dalimartha, 2008).

b. Beta-blokers {Atenolol (tenorim), Capoten (captopril)}.

Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui

penurunan daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada

penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernafasan seperti

asma bronkial (Lenny, 2008).

c. Calcium channel Blokers {norvas (amlopidine), angiotensin

convertingenzyme (ACE)}.

Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam

pengontrolan darah tinggi melalui proses relaksasi pembuluh darah yang

juga memperlebar pembuluh darah (Lenny, 2008).

d. Vasodilator

Agen vasodilator bekerja langsung pada pembuluh darah dengan

merelaksasi otot pembuluh darah. Contoh yang termasuk obat jenis

vasodilator adalah prasosin dan hidralasin. Kemungkinan yang akan

terjadi akibat pemberian obat ini adalah sakit kepala dan pusing

(Dalimartha, 2008).

e. Antagonis kalsium

Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara

menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk obat ini

adalah: nifedipin, diltiasem dan verapamil. Efek samping yang mungkin

timbul adalah sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah (Lenny, 2008).

Page 12: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

18

2.1.7 Komplikasi Hipertensi

Hipertensi memang dapat mengakibatkan kejadian dengan konsekwensi

yang serius namun hipertensi dapat didiagnosis dengan mudah dan dikendalikan

atau dikontrol dengan modifikasi pola hidup sehat dan medikasi. Bila hipertensi

dibiarkan tanpa pengobatan maka tekanan darah akan terus meningkat secara

bertahap yang akan mengakibatkan beban kerja jantung yang berlebihan. Beban

jantung yang berlebihan pada suatu saat akan mengakibatkan kerusakan serius

pada pembuluh darah dan organ seperti jantung, ginjal, mata dan otak. Penderita

hipertensi akan mengalami risiko yang meningkat untuk terjadinya:

1. Penyakit jantung (gagal jantung, kematian mendadak, kardiomiopati) dan

aritmia

2. Stroke

3. Penyakit jantung koroner

4. Aneurisma aorta (kelemahan dinding aorta yang mengakibatkan dilatasi

hingga 1,5 kali lebih besar dan berisiko untuk ruptur), sering mengakibatkan

kematian mendadak

5. Gagal ginjal

6. Retinopati (penyakit mata yang menyebabkan kebutaan)

7. Risiko untuk terjadi satu atau lebih dari kondisi diatas, meningkat sebanding

dengan peningkatan tekanan darahnya (Lumbantobing, 2008).

Page 13: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

19

2.2 Konsep Jus Mentimun

2.2.1 Sejarah Mentimun

Timun merupakan tumbuhan asli India. Tumbuhan ini ditemukan pertama

kali 10.000 tahun lalu. Uniknya, dari India timun justru tidak menyebar ke negara

Asia lainnya, tetapi malah ditanam di Yunani dan Italia. Setelah itu barulah bibit

timun di bawa ke China. Pada abad ke- 9 timun ditanam di Prancis. Kemudian

abad ke- 14 ditanam di Inggris, dan dua abad kemudian barulah timun masuk ke

Amerika Utara. Saat itu, tahun 1494 timun sudah ditanam di Haiti. Tahun 1535

tumbuhan ini ditanam petani di Montreal, kemudian tahun 1584 ditanam di

Florida. Tidak jelas benar kapan timun masuk ke Indonesia. Yang jelas kini

tumbuhan ini dapat ditemukan di hampir seluruh dunia (Fikri, 2008).

Para ahli menamai mentimun Cucumis Sativus Linn. Mentimun termasuk

keluarga besar suku labu-labuan atau Cucurbitaceae. Timun biasanya dipanen

sebelum matang benar. Timun berupa herbal menjalar atau setengah merambat. Ia

termasuk tanaman semusim. Artinya setelah berbunga dan berbuah ia akan mati.

Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah namun dalam budidaya biasanya

jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik (Fikri, 2008).

2.2.2 Pengertian Mentimun

Tanaman mentimun di budidayakan dimana mana baik di ladang, halaman

rumah maupun di rumah kaca. Tanaman ini tidak tahan terhadap hujan yang terus

menerus, pertumbuhannya memerlukan kelembapan udara yang tinggi, tanah

subur yang gembur dan mendapatkan sinar matahari penuh dengan drainase yang

baik. Mentimun sebaiknya dirambatkan ke para-para dan tumbuh baik di daratan

rendah sampai 1.300 mdpl. Tanaman ini diduga berasal dari pegunungan

Page 14: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

20

Himalaya di India utara. Mentimun merupakan tanaman semusim, merayap atau

merambat, berambut kasar, berbatang basah, panjang 0,5-2,5 meter. Tanaman ini

mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang keluar disisi tangkai daun. Berdaun

tunggal, letak bersilang, bertangkai panjang, bentuknya bulat telur lebar, bertaju 3-

7, dengan pangkal berbentuk jantung, ujung runcing, tepi bergerigi, panjang 7-18

cm, lebar 7-15 cm, warnanya hijau. Bunganya ada yang jantan berwarna putih

kekuningan, dan bunga betina yang berbentuk seperti terompet. Buah bulat

panjang, tumbuh bergantung, warnanya hijau berlilin putih, setelah tua warnanya

kuning kotor, panjangnya 10-13 cm, bagian pangkal berbintil, banyak

mengandung cairan, berbiji banyak, bentuknya lonjong meruncing pipi, daun dan

tangkai muda bisa dipakai sebagai lalap mentah, direbus, dikukus atau disayur.

Bisa juga dibuat acar atau rujak. Mentimun juga bermanfaat sebagai obat

tradisional yang melawan kanker, membantu menurunkan tekanan darah,

mengurangi kolesterol dan mengurangi diabetes mellitus (Wijoyo, 2008).

2.1.3 Jenis-Jenis Mentimun

1. Mentimun Lokal

Sayuran berbentuk bulat panjang dengan kulit berwarna hijau

berlarik-larik putih kekuningan ini bisa dimakan mentah sebagai lalapan,

campuran keredok dan rujak, serta bisa diolah menjadi acar, dijus, direbus,

atau dikukus. Mentimun lebih disarankan untuk dimakan mentah, karena

proses pemasakan dan pengolahan menjadi acar akan mengurangi kandungan

vitamin dan mineralnya, terutama vitamin C (Nirmala, 2008).

Page 15: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

21

2. Mentimun Jepang (Kyuri)

Timun asal negeri sakura ini memiliki bentuk yang lebih ramping dan

panjang dibanding mentimun lokal. Kulitnya berwarna hijau gelap dengan

bintik-bintik putih timbul yang membuat permukaannya tidak rata. Rasa dan

teksturnya lebih lembut daripada mentimun lokal. Mentimun jenis kyuri

sangat cocok diolah menjadi campuran salad dan acar (Nirmala, 2008).

3. Mentimun Gherkin

Disebut juga mentimun acar atau baby kyuri. Sesuai namanya

mentimun ini lebih sering diolah menjadi acar. Ukurannya lebih kecil dengan

kulit berwarna hijau tua dan ada bintik-bintik yang timbul seperti kyuri.

Rasanya renyah, tidak terlalu berair dan tidak bergetah (Nirmala, 2008).

4. Zucchini

Sayuran yang masih bersaudara dengan mentimun ini sering disebut

sukini atau timun Italia. Memiliki ukuran lebih besar dan tidak terlalu berair

dibanding mentimun. Bentuknya tidak bulat sempurna, tapi bersegi-segi.

Warna kulitnya hijau lumut tua dan mengkilap. Bagian dalamnya berwarna

putih menyerupai oyong (Nirmala, 2008).

2.1.4 Habitat Mentimun

Masyarakat pada umumnya menanam mentimun (Cucumis Sativus Linn)

di sawah atau di ladang sebagai tanaman komersial. Mentimun tumbuh sepanjang

tahun dan tergolong tanaman merambat (Mangonting, 2008) .

Page 16: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

22

2.1.5 Kandungan Mentimun (Cucumis Sativus Linn)

Buah mentimun (Cucumis Sativus Linn) mengandung sejumlah zat kimia

alami diantaranya, vitamin A, B, C, E, saponin, protein, lemak, kalsium, fosfor,

besi, belerang, flavonoid dan polifenol. Secara rinci di dalam 100 gram buah

timun terdapat energi 20 kkal, karbohidrat 3.63 g, gula 1.67 g, serat pangan 0.5 g,

lemak 0.11 g, protein 0.65 g, vitamin B1 0.027 mg, vitamin B2 0.033 mg,

vitamin B3 0.098 mg, vitamin B5 0.259 mg, vitamin B6 0.040 mg, folate 2%,

vitamin C 2.8 mg, kalcium 16 mg, zat besi 0.28 mg, magnesium 13 mg, fospor 24

mg, potassium 147 mg, zinc 0.20 mg (Fikri, 2008).

2.1.6 Khasiat Mentimun (Cucumis Sativus Linn)

Khasiat mentimun dalam menurunkan tekanan darah pada penderita

hipertensi yaitu dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (melalui air seni) karena

mentimun mengandung mineral yaitu potassium, magnesium, dan fosfor. Selain

itu mentimun juga bersifat diuretik karena mengandung banyak air sehingga

membantu menurunkan tekanan darah (Mangonting, 2008).

Mentimun (Cucumis Sativus Linn) mempunyai banyak khasiat. Dalam

berbagai uji coba yang dilakukan, ekstrak mentimun berdampak positif jika

digunakan untuk mengobati penyakit seperti susah buang air besar, menurunkan

kolesterol, meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah hepatitis, sariawan, demam,

darah tinggi dan beberapa gangguan kesehatan lainnya (Mangonting, 2008).

Kandungan serat dalam mentimun dapat menurunkan kadar lemak tubuh

dan kolesterol serta memberi efek mengenyangkan sehingga kita jadi tidak

gampang lapar. Selain itu, mentimun juga mengandung asam malonat yang dapat

Page 17: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

23

mencegah gula darah berubah menjadi lemak, sehingga sangat membantu

menurunkan berat badan (Nirmala, 2008).

2.1.7 Cara Meramu dan Membuat Jus Mentimun (Cucumis Sativus Linn)

Ada 3 cara dalam meramu dan membuat jus mentimun untuk mengurangi

hipertensi:

1. Menurut Khusnul (2012) mentimun sebanyak 100 gram yang diblender

dengan 100 cc air tanpa tambahan bahan apapun, diberikan sekali

sehari selama satu minggu dan diberikan setiap sore hari.

2. Dua buah mentimun ukuran 100 gram segar dicuci bersih lalu diparut.

Hasil parutannya diperas dan disaring, lalu diminum sekaligus. Lakukan 2-

3 kali sehari (Wijoyo, 2008).

3. Cara meramu mentimun (Cucumis Sativus) untuk menurunkan tekanan

darah tinggi yaitu ambil sebanyak 2 buah timun ukuran sedang. Cuci

sampai bersih lalu potong-potong seperlunya. Kemudian rebus dengan 3-4

gelas air sampai tersisa separuhnya. Dinginkan, saring. Bagi ramuan

menjadi dua. Minum pagi dan malam. Lakukan pengobatan sampai

sembuh (Fikri, 2008).

2.3 Konsep Lansia

2.3.1 Pengertian Lansia

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang

kesejahteraan usia lanjut Bab 1 Pasal 1, yang dimaksud dengan Lanjut Usia

adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas (Yeniar,

2012).

Page 18: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

24

Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia

(lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun

merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan

penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Lansia

adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan

keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan

penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara

individual (Efendi, 2009).

Penetapan usia 65 tahun ke atas sebagai awal masa lanjut usia (lansia)

dimulai pada abad ke-19 di negara Jerman. Usia 65 tahun merupakan batas

minimal untuk kategori lansia. Namun, banyak lansia yang masih menganggap

dirinya berada pada masa usia pertengahan. Usia kronologis biasanya tidak

memiliki banyak keterkaitan dengan kenyataan penuaan lansia. Setiap orang

menua dengan cara yang berbeda-beda, berdasarkan waktu dan riwayat hidupnya.

Setiap lansia adalah unik, oleh karena itu perawat harus memberikan pendekatan

yang berbeda antara satu lansia dengan lansia lainnya (Potter & Perry, 2009).

2.3.2 Batasan Umur Lanjut Usia

Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009) batasan-batasan

umur yang mencakup batasan umur lansia adalah sebagai berikut:

1. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1 ayat 2

yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam

puluh) tahun ke atas”.

Page 19: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

25

2. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi

empat kriteria berikut :

a. usia pertengahan (middle age) ialah 45-59 tahun

b. lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun

c. lanjut usia tua (old) ialah 75-90 tahun

d. usia sangat tua (very old) ialah di atas 90 tahun.

3. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :

a. fase inventus ialah 25-40 tahun

b. fase virilities ialah 40-55 tahun

c. fase presenium ialah 55-65 tahun

d. fase senium ialah 65 hingga tutup usia.

4. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro:

a. Masa lanjut usia (geriatric age): > 65 tahun atau 70 tahun.

b. Masa lanjut usia (getiatric age) itu sendiri dibagi menjadi tiga batasan

umur, yaitu:

1) Young old (70-75 tahun)

2) Old (75-80 tahun)

3) Very old ( > 80 tahun)

5. Departemen kesehatan RI membagi lansia sebagai berikut:

a. Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa vibrilitas b. Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium c. Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai senium (Efendi, 2009).

2.3.3 Klasifikasi Lansia

Page 20: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

26

Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia berdasarkan

Depkes RI (2003) dalam Maryam (2009), yang terdiri dari :

1. Pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun

2. Lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih

3. Lansia resiko tinggi ialah seseorang yang berusia 70 tahun atau

lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan

4. Lansia potensial ialah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan

dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa

5. Lansia tidak potensial ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,

sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

2.3.4 Karakteristik Lansia

Lansia memiliki karakteristik sebagai berikut: berusia lebih dari 60 tahun

(sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13 tentang kesehatan), kebutuhan dan

masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan

biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi

maladaptif, lingkungan tempat tinggal bervariasi (Maryam, 2008).

2.3.4 Tipe lansia

Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup,

lingkungan, kodisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho 2000 dalam

Maryam, 2008). Tipe tersebut dijabarkan sebagai berikut.

1. Tipe arif bijaksana. Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri

dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah

hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.

Page 21: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

27

2. Tipe mandiri. Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif

dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.

3. Tipe tidak puas. Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga

menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik

dan banyak menuntut.

4. Tipe pasrah. Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama,

dan melakukan pekerjaan apa saja.

5. Tipe bingung. Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder,

menyesal, pasif, dan acuh tak acuh.

Tipe lain dari lansia menurut Maryam (2008), adalah tipe optimis, tipe

konstruktif, tipe independen (ketergantungan), tipe defensife (bertahan), tipe

militan dan serius, tipe pemarah/frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam

melakukan sesuatu), serta tipe putus asa (benci pada diri sendiri).

2.3.5 Proses Penuaan

Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang

dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia

tahap perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan suatu fenomena yang

kompleks multi dimensional yang dapat diobservasi di dalam satu sel dan

berkembang sampai pada keseluruhan sistem (Stanley, 2006).

Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang

maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya jumlah

sel-sel yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami

penurunan fungsi secara perlahan-lahan. Itulah yang dikatakan proses penuaan

(Maryam, 2008).

Page 22: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

28

Aging process atau proses penuaan merupakan suatu proses biologis yang

tidak dapat dihindari dan akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah suatu

proses menghilangnya secara perlahan-lahan (gradual) kemampuan jaringan

untuk memperbaiki diri atau mengganti serta mempertahankan struktur dan fungsi

secara normal, ketahanan terhadap cedera, termasuk adanya infeksi. Proses

penuaan sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai dewasa, misalnya

dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain

sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batasan yang

tegas, pada usia berapa kondisi kesehatan seseorang mulai menurun. Setiap orang

memiliki fungsi fisiologis alat tubuh yang sangat berbeda, baik dalam hal

pencapaian puncak fungsi tersebut maupun saat menurunnya. Umumnya fungsi

fisiologis tubuh mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun. Setelah mencapai

puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat,

kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai dengan bertambahnya usia

(Mubarak, 2009).

Pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah, baik secara

biologis, mental, maupun ekonomi. Semakin lanjut usia seseorang, maka

kemampuan fisiknya akan semakin menurun, sehingga dapat mengakibatkan

kemunduran pada peran-peran sosialnya (Tamher, 2009).

Menurut Azizah (2011), penyakit yang erat hubungannya dengan proses

menua salah satunya yaitu gangguan sirkulasi darah atau kardiovaskuler.

Komponen-komponen utama pada sistem kardiovaskuler adalah jantung dan

vaskularisasinya. Pada lansia terjadi perubahan-perubahan normal pada jantung

(kekuatan otot jantung berkurang), pembuluh darah (aterosklerosis; elastisitas

Page 23: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

29

dinding pembuluh darah berkurang) dan kemampuan memompa dari jantung

bekerja lebih keras sehingga terjadi hipertensi (Maryam, 2011).

2.4 Peran Perawat Dalam Mencegah Hipertensi

Hasil studi yang telah dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

dan para ahli pendidikan kesehatan, terungkap memang benar bahwa pengetahuan

masyarakat tentang kesehatan sangat kurang, praktik mereka juga masih rendah.

Sebagai tindak lanjutnya jajaran kesehatan dalam konfrensi Nasional Promosi

Kesehatan 2001, antara lain menyepakati menitik beratkan program pendidikan

kesehatan (promosi) melalui pemberdayaan masyarakat, sehingga dapat

meningkatkan derajat kesehatan penduduk Indonesia.

Pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk tindakan mandiri

keperawatan untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun masyarakat

dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang

didalamnya perawat sebagai perawat pendidik. Merubah gaya hidup yang sudah

menjadi kebiasaan seseorang membutuhkan suatu proses yang tidak mudah.

Untuk merubah prilaku biasanya ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi,

salah satunya adalah pengetahuan seseorang tentang objek baru tersebut.

Diharapkan dengan baiknya pengetahuan seseorang terhadap objek baru dalam

kehidupannya maka akan lahir sikap positif yang nantinya kedua komponen ini

menghasilkan tindakan yang baru yang lebih baik. Dengan mendapatkan

informasi yang benar, diharapkan penderita hipertensi mendapat bekal

pengetahuan yang cukup untuk dapat melaksanakan pola hidup sehat dan dapat

Page 24: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian ... II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi

30

menurunkan resiko penyakit degeneratif terutama hipertensi dan penyakit

kardiovaskuler.

Sosialisasi pendidikan kesehatan dan pola hidup sehat bagi masyarakat

merupakan upaya mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan dan

masyarakat Indonesia. Karena itu pendidikan kesehatan akan dapat mendukung

program unggulan kesehatan melalui pranata masyarakat, seperti keluarga,

lembaga pendidikan, tempat kerja umum, lembaga kesehatan seperti puskesmas

dan rumah sakit

Adapun peran perawat dalam mencegah hipertensi ini adalah:

1. Pendidik Kesehatan

Perawat dapat berperan sebagai pendidik untuk merubah perilaku

masyarakat dari perilaku yang tidak sehat menjadi sehat dalam mencegah

penyakit hipertensi serta membantu keluarga untuk mengenali hipertensi,

penyebab hipertensi, gejala hipertensi dan bahaya hipertensi jika tidak

ditangani.

2. Pemberi perawatan pada anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi

Dalam memberikan perawatan pada anggota keluarga yang menderita

penyakit hipertensi, perawat memberikan kesempatan kepada keluarga untuk

mengembangkan kemampuan mereka dalam melaksanakan perawatan dan

memberikan demonstrasi kepada keluarga bagaimana merawat anggota

keluarga yang menderita hipertensi.