Click here to load reader

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan ... II.pdf · PDF file Sementara Tingkat pengangguran berpengaruh positif dansignifikan terhadap kemiskinan, artinya meningkatnya

  • View
    7

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan ... II.pdf · PDF file Sementara Tingkat...

  • 9

    BAB II

    TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

    A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

    Penelitian terdahulu mengenai analisis pengaruh pengeluaran pemerintah di

    sektor pendidikan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Produk Domestik

    Regional Bruto (PDRB) terhadap tingkat kemiskinan yang telah dilakukan oleh

    beberapa peneliti. Disini akan dicantumkan beberapa hasil penelitian sebagai bahan

    acuan dan perbandingan penelitian ini, diantaranya yaitu:

    1. Widodo, dkk. (2011). Dengan judul penelitian “Analisis Pengaruh Pengeluaran

    Pemerintah di Sektor Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Pengentasan

    Kemiskinan Melalui Peningkatan Pembangunan Manusia di Provinsi Jawa

    Tengah”. Penelitian tersebut menggunakan dua kali regresi yaitu regresi linier

    sederhana dan regresi linier berganda sebagai alat analisisnya. Pada Penelitian

    ini menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan pengeluaran pemerintah

    sektor publik tidak secara langsung mempengaruhi IPM ataupun kemiskinan,

    namun secara bersama-sama (simultan) pengeluaran sektor publik dan IPM dapat

    mempengaruhi kemiskinan. Hal tersebut berarti bahwa pengeluaran pemerintah

    di sektor pendidikan dan kesehatan tidak bisa berdiri sendiri sebagai variabel

    independen dalam mempengaruhi kemiskinan, namun harus berhubungan

    dengan variabel IPM. Hal ini juga diperkuat dengan hasil penelitian yang

  • 10

    menunjukkan bahwa selain berperan sebagai variabel pure moderator, IPM juga

    berperan sebagai variabel intervening , dalam kaitannya dengan hubungan antara

    pengeluaran di sektor pendidikan dan kesehatan dengan pengentasan

    kemiskinan. Sehingga implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

    pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan akan dapat

    mempengaruhi kemiskinan jika pengeluaran tersebut dilakukan dalam rangka

    peningkatan kualitas pembangunan manusia.

    2. Fithri dan Kaluge (2017) dengan judul penelitian “Analisis Pengaruh

    Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan dan Kesehatan Terhadap

    Kemiskinan di Jawa Timur”. Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi

    linier berganda, penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa Untuk variabel

    pengeluaran pemerintah disektor pendidikan memiliki dampak negatif dan tidak

    signifikan terhadap kemiskinan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran

    pemerintah disektor pendidikan tidak tepat sasaran dalam membantu masyarakat

    miskin dalam memperoleh pendidikan yang layak. Selanjutnya variabel

    pengeluaran pemerintah disektor kesehatan memiliki dampak positif dan tidak

    signifikan terhadap angka kemiskinan yang berarti bahwa setiap penambahan

    pengeluaran pemerintah disektor kesehatan sudah tepat sasaran dan tidak akan

    mengurangi kemiskinan di Jawa Timur.

    3. Permana dan Arianti (2012) dengan judul penelitian “Analisis Pengaruh PDRB,

    Pengangguran, Pendidikan, dan Kesehatan Terhadap Kemiskinan di Jawa

    Tengah Tahun 2004-2009”. Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi

  • 11

    linier berganda dan hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa Laju

    pertumbuhan PDRB, pendidikan, dan kesehatan berpengaruh negatif dan

    signifikan terhadap kemiskinan, artinya peningkatan laju pertumbuhan PDRB,

    pendidikan, dan kesehatan akan mengurangi kemiskinan Provinsi Jawa Tengah.

    Sementara Tingkat pengangguran berpengaruh positif dansignifikan terhadap

    kemiskinan, artinya meningkatnya tingkat pengangguran akan berpengaruh

    meningkatkan tingkat kemiskinan di Jawa Tengah.

    4. Alhudori (2017) dengan judul penelitian “Pengaruh IPM, PDRB dan Jumlah

    Pengangguran Terhadap Penduduk Miskin di Provinsi Jambi”. Penelitian ini

    menggunakan alat analisis regresi linier berganda, berdasarkan analisis regresi

    linear berganda IPM mempunyai hubungan positif dan signifikan terhadap

    jumlah penduduk miskin dimana jika IPM naik 1 persen maka jumlah penduduk

    miskin akan naik sebesar 0,358, PDRB mempunyai hubungan negatif dan

    signifikan terhadap jumlah penduduk miskin, dimana jika PDRB naik 1 persen

    maka jumlah penduduk miskin akan turun sebesar -0,006, dan jumlah

    pengangguran mempunyai hubungan positif dan signifikan terhadap jumlah

    penduduk miskin dimana jika jumlah pengangguran naik 1 persen maka jumlah

    penduduk miskin akan naik sebesar 0,010.

    5. Saputra (2011) dengan judul penelitian “Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk,

    PDRB, IPM, Pengangguran Terhadap Tingkat Kemiskinan di Kabupaten/Kota

    Jawa Tengah”. Pada penelitian ini peneliti menggunakan alat analisis regresi

    linier berganda dimana hasil peneliiannya mennunjukkan bahwa variabel jumlah

  • 12

    penduduk mempunyai hubungan positif dan signifikan terhadap tingkat

    kemiskinan, variabel PDRB mempunyai hubungan negatif dan signifikan

    terhadap tingkat kemiskinan, variable IPM mempunyai hubungan negatif dan

    signifikan terhadap tingkat kemiskinan, dan variabel pengangguran mempunyai

    hubungan positif dan tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan hal tersebut

    terjadi karena pada pengangguran terbuka ada empat macam kategori dan

    sebagian diantaranya masuk dalam pihak yang mempunyai pekerjaan akan tetapi

    jam kerja tersebut kurang dari 35 jam dalam seminggu sehingga golongan

    tersebut masuk dalam kategori pengangguran terbuka.

    6. Dama, dkk. (2016) dengan judul penelitian “Pengaruh Produk Domestik

    Regional Bruto (PDRB) Terhadap Tingkat Kemiskinan di Kota Manado”. Pada

    penelitian ini menggunakan metode alat analisis regresi sederhana dan hasil dari

    penelitian ini adalah PDRB perpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat

    kemiskinan. Karena PDRB dapat memacu pertumbuhan ekonomi di Kota

    Manado.

    B. Teori dan Tinjauan Pustaka

    1. Definisi dan Teori Kemiskinan

    Kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh Negara di

    dunia, terutama di negara sedang berkembang seperti Negara Indonesia.

    Kemiskinan adalah keterbatasan yang disandang individu, keluarga, komunitas

    atau bahkan negara yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan,

    terancamnya penegakan hukum dan keadilan serta hilangnya generasi penerus

  • 13

    dan suramnya masa depan bangsa dan negara. Pengertian itu merupakan

    pengertian secara luas, telah dikatakan kemiskinan terkait dengan

    ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

    Kemiskinan (poverty) merupakan masalah yang kritis yang harus ditangani

    dalam pembangunan suatu negara. Salah satu indikator keberhasilan

    pembangunan adalah sejauhmana masalah kemiskinan dapat dikendalikan dan

    diupayakan untuk dikurangi secara nyata dari waktu ke waktu. Tujuan akhirnya

    jelas, yaitu untuk terciptanya keadilan dan kemakmuran bersama. Dalam

    kehidupan sehari-hari, kemiskinan dipersepsikan dalam konteks ketidakcukupan

    pendapatan dan kepemilikan uang serta aset dalam dimensi ekonomi

    (Yudhoyono & Harniati, 2004).

    Kemiskinan menurut Mudrajad Kuncoro (2000) adalah ketidakmampuan

    untuk memenuhi standar hidup minimum. Permasalahan standar hidup yang

    rendah berkaitan pula dengan jumlah pendapatan yang sedikit (kemiskinan),

    perumahan yang kurang layak, kesehatan dan pelayanan kesehatan yang buruk,

    tingkat pendidikan masyarakat yang rendah sehingga berakibat pada rendahnya

    Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan banyaknya pengangguran.

    Tingkat standar hidup dalam suatu negara bisa diukur dari beberapa indikator

    antara lain Gross National Product (GNP) per capita, pertumbuhan relatif

    nasional dan pendapatan per kapita, distribusi pendapatan nasional, tingkat

    kemiskinan, dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

  • 14

    Menurut Todaro (2011:261), besarnya kemiskinan dapat diukur dengan

    atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan (poverty line). Konsep yang

    mengacu kepada garis kemiskinan biasa disebut sebagai kemiskinan absolut,

    sedangkan konsep yang pengukurannya tidak berdasarkan pada garis kemiskinan

    disebut kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut adalah derajat kemiskinan di

    bawah, di mana kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak

    dapat terpenuhi. Kemiskinan absolut adalah situasi dimana ketidakmampuan atau

    nyaris tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar berupa makanan, pakaian,

    dan tempat tinggal. Sedangkan kemiskinan relatif adalah suatu ukuran mengenai

    kesenjangan di dalam distribusi pendapatan, biasanya dapat didefinisikan di

    dalam kaitannya dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang dimaksud.

    2. Penyebab Kemiskinan

    Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang

    untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makanan, pakaian, tempat

    berlindung, pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh

    kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar seperti pendapatan yang masih

    rendah, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan (Alhudori,

    2017). Oleh karena itu, agar penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan secara

    tepat, maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah menjelaskan pengertian

    dan penyebab kemiskinan secara len