Click here to load reader

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. …eprints.umm.ac.id/46527/3/BAB II.pdfBAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu ini menjadi

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. …eprints.umm.ac.id/46527/3/BAB II.pdfBAB II TEORI DAN...

  • 10

    BAB II

    TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

    A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

    Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan

    penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam

    mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, penulis tidak

    menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian penulis.

    Namun penulis mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam

    memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis. Berikut merupakan penelitian

    terdahulu berupa beberapa jurnal terkait dengan penelitian yang dilakukan

    penulis.

  • 11

    Tabel 2.1

    Tinjauan Penelitian Terdahulu

    Nama

    Peneliti Variabel

    Judul

    Penelitian Hasil Penelitian

    Augustini

    (2016)

    Konservatisme

    Akuntansi, nilai

    perusahaan,

    Good

    Coorporote

    Governance

    Pengaruh

    Konservatisme

    Akuntansi

    Terhadap Nilai

    Perusahaan

    dan Good

    Coorporote

    Governance

    Sebagai

    Variabel

    Moderating

    1. Hasil pengujian dengan menggunakan analisis

    regresi linear berganda

    diperoleh hasil bahwa

    variabel konservatisme

    akuntansi berpengaruh

    negatif terhadap nilai

    perusahaan.

    2. Konservatisme juga akan membatasi kerugian yang

    mungkin muncul dari

    keputusan investasi yang

    berkinerja buruk.

    Berdasarkan hasil dari uji

    statistik t yang dilakukan,

    menunjukkan bahwa

    konservatisme akuntansi

    memiliki nilai koefisien β

    sebesar -5.208 dan nilai

    sebesar 0.020

  • 12

    tax avoidance dan nilai

    perusahaan. Hal ini

    disebabkan karena

    investor institusi tidak

    ikut campur dalam

    kebijakan perpajakan

    yang diambil oleh

    perusahaan dan

    kurangnya pengawasan

    yang dilakukan oleh

    investor institusi

    kebijakan perpajakan

    yang dilaksanakan oleh

    perusahaan. Cash_ETR

    tidak mempunyai

    pengaruh yang

    signifikan terhadap

    biaya agensi.

    Aristiani,

    n.d (2017)

    Prudence,

    Asimetri

    Informasi,

    Kualitas Laba

    Pengaruh

    Prudence

    Terhadap

    Asimetri

    Informasi

    Dengan

    Kualitas Laba

    Sebagai

    Variabel

    Moderasi

    1. Prudence tidak berpengaruh secara

    signifikan terhadap

    asimetri informasi

    2. Variabel kualitas laba merupakan variabel

    pemoderasi hubungan

    antara prudence

    terhadap asimetri

    informasi. Dimana

    variabel kualitas laba

    mampu memperkuat

    hubungan prudence

    terhadap asimetri

    informasi. Penelitian ini

    menunjukkan bahwa

    prudence atau prinsip

    kehati-hatian memiliki

    hubungan yang negatif

    namun tidak secara

    signifikan memberikan

    hasil yang berbeda

    dengan penilitian dari

    Lafond dan Watts

    (2006) yang

    menjelaskan bahwa

    konservatisme

    mengurangi asimetri

  • 13

    informasi dengan cara

    memberikan batasan

    kepada manajemen

    dalam menggunakan

    informasi yang mereka

    miliki.

    Abdullah

    dan

    Fitriah,

    n.d.

    (2016)

    Konservatisme

    Akuntansi,

    Relevansi Nilai

    Laporan

    Keuangan,

    Kualitas Laba

    Pengaruh

    Akuntansi

    Konservatisme

    Terhadap

    Relevansi Nilai

    Laporan

    Keuangan

    Dengan

    Kualitas Laba

    Sebagai

    Variabel

    Moderasi

    1. Akuntansi konservatisme

    berpengaruh terhadap

    variabel dependen

    yakni relevansi nilai

    laporan keuangan

    dengan arah yang

    negatif. Sedangkan

    berdasarkan hasil uji

    selisih mutlak

    menunjukkan bahwa

    kualitas laba mampu

    memperkuat interaksi

    akuntansi

    konservatisme terhadap

    relevansi nilai laporan

    keuangan.

    2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat

    menggunakan model

    perhitungan dan

    pengukuran lain yang

    lebih terbaru agar hasil

    penelitian lebih

    menunjukkan

    penerapan dan dampak

    terbaru mengenai

    akuntansi

    konservatisme

    terhadap relevansi nilai

    laporan dengan

    kualitas laba sebagai

    variabel moderasi.

    Sriyani

    (2017)

    Konservatisme

    Akuntansi,

    nilai

    perusahaan,

    komite audit

    dan

    Pengaruh

    Konservatisme

    Akuntansi

    terhadap nilai

    perusahaan

    dengan komite

    Hasil Penelitian

    menunjukkan :

    1. Konservatisme berpengaruh positif

    terhadap nilai

    perusahaan.

  • 14

    B. Teori dan Kajian Pustaka

    Teori Sinyal

    Teori sinyal (signaling theory) dikembangkan oleh (Ross, 1977),

    menyatakan bahwa pihak eksekutif perusahaan memiliki informasi lebih baik

    mengenai perusahaannya akan terdorong untuk menyampaikan informasi

    tersebut kepada calon investor mengenai harga saham. Menurut Wolk et al.,

    (2001) teori sinyal menjelaskan alasan perusahaan menyajikan informasi untuk

    pasar modal.

    Menurut Ratnasari et al. (2017) Signaling theory mengemukakan tentang

    bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna

    laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah

    kepemilikan

    institusional

    audit dan

    kepemilikan

    institusional

    sebagai

    Variabel

    moderating

    2. Komite audit berpengaruh positif

    terhadap hubungan

    konservatisme dan nilai

    perusahaan. Atau

    dengan kata lain komite

    audit memoderasi

    hubungan

    konservatisme dan nilai

    perusahaan.

    3. Kepemilikan Institusional

    berpengaruh negatif

    terhadap hubungan

    konservatisme dan nilai

    perusahaan.

    Perbedaan dari hasil penelitian terdahulu, peneliti menambahkan variabel

    independen yaitu Tax Avoidance dan mengganti variable moderating yaitu

    Dewan komisaris independen, selain itu peneliti lebih mengarah ke

    penelitian yang diteliti oleh Sriyani (2017) yaitu Pengaruh Konservatisme

    Akuntansi terhadap nilai perusahaan dengan komite audit dan kepemilikan

    institusional sebagai variable moderating, dengan menggunakan data

    sekunder dan teknik analisis data menggunakan data statistik deskriptif, uji

    asumsi klasik, uji hipotesis menggunakan analisis linier berganda sedangkan

    objek yang digunakan adalah perusahaan yang terdaftar di BEI.

  • 15

    dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal

    mengemukakan tentang bagaimana seharusnya perusahaan memberikan sinyal-

    sinyal pada pengguna laporan keuangan dalam hal ini investor dan kreditur serta

    pengguna lainnya. Teori sinyal menjelaskan bahwa pemberian sinyal dilakukan

    oleh manajer untuk mengurangi asimetri informasi. Salah satu cara untuk

    mengurangi asimetri informasi dengan memberikan sinyal kepada pihak luar.

    Pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima,

    pelaku pasar akan menganalisis informasi tersebut apabila informasi baik maka

    akan terjadi perubahan dalam volume perdagangan saham dimana permintaan

    saham akan meningkat dan nilai saham akan naik kemudian nilai perusahaan

    juga akan meningkat.

    Manajer memberikan informasi melalui laporan keuangan bahwa mereka

    menerapkan kebijakan akuntansi konservatisme yang menghasilkan laba yang

    lebih berkualitas karena prinsip ini mencegah perusahaan melakukan tindakan

    membesar-besarkan laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan

    menyajikan laba dan aktiva yang tidak overstate.

    Teori sinyal juga dapat membantu pihak perusahaan (agent), pemilik

    (prinsipal), dan pihak luar perusahaan mengurangi asimetri informasi dengan

    menghasilkan kualitas atau integritas informasi laporan keuangan. Untuk

    memastikan pihak-pihak yang berkepentingan meyakini keandalan informasi

    keuangan yang disampaikan pihak perusahaan (agent), perlu mendapat opini

    dari pihak lain yang bebas memberikan pendapat tentang laporan keuangan

    (Jama’an, 2008).

  • 16

    Prudence

    Badan usaha yang melaksanakan berbagai operasi untuk meraih laba, lebih

    banyak mempertimbangkan faktor resiko di dalam menjalankan usahanya.

    Sebagaimana dikatakan oleh (Suaryana and Agung, 2008) bahwa konservatisme

    adalah suatu prinsip yang menjelaskan untuk mengakui dan mengukur aset dan

    laba dengan penuh kehati-hatian karena adanya ketidakpastiannya aktivitas

    ekonomi dan bisnis. Pengertian tersebut disimpulkan karena berkaitan dengan

    prinsip penilaian aset perusahaan yang cukup rendah. Dan (Watts, 2003)

    mendefinisikan konservatisme sebagai prinsip kehati-hatian dalam pelaporan

    keuangan dimana perusahaan tidak terburu-buru dalam mengakui dan mengukur

    aktiva dan laba serta segera mengakui kerugian dan hutang yang mempunyai

    kemungkinan akan terjadi. Pertimbangan yang dilakukan oleh manajemen

    dalam rangka memperhitungkan kekayaan perusahaan, merupakan

    tanggungjawab berbagai pihak yang terlibat di dalam sebuah organisasi.

    Menurut (Hellman, 2008) dalam Accounting conservatism under IFRS. IFRS

    tidak lagi mengakui prinsip konservatif namun diganti dengan prinsip kehati-

    hatian (prudence).

    Prudence merupakan suatu tindakan kehati-hatian dalam mengakui aktiva

    atau pendapatan (good news) dan mengakui bad news seperti beban, cadangan

    kerugian piutang tak tertagih secara lebih cepat untuk menghindari atau

    mengurangi resiko yang mungkin terjadi karena adanya ketidakpastian dalam

    berbisnis. Prudence merupakan konfergensi dari konservatisme akuntansi atau

    yang berarti prinsip kehatihatian dalam mengakui pendapatan atau aktiva dan

  • 17

    beban yang dapat berakibat mengecilkan laba yang dihasilkan suatu perusahaan

    guna mengurangi resiko dari ketidakpastian dimasa depan.

    Nilai Perusahaan

    Mardiyanto (2009) menjelaskan nilai perusahaan adalah nilai sekarang

    dari serangkaian arus kas masuk yang akan dihasilkan perusahaan pada masa

    mendatang. Margaretha (2005) menjelaskan juga bahwa : “Nilai perusahaan

    yang sudah go public tercermin dalam harga pasar saham perusahaan.

    Sedangkan nilai perusahaan yang belum go public nilainya terealisasi apabila

    perusahaan akan dijual (total aktiva dan prospek perusahaan, risiko usaha,

    lingkungan usaha, dan lain-lain)”. Dari beberapa definisi di atas dapat

    disimpulkan bahwa nilai perusahaan adalah suatu kondisi tertentu yang telah

    dicapai oleh suatu perusahaan yang tercermin dalam harga pasar saham

    perusahaan tersebut.

    Menurut Sujoko dan Soebiontoro (2007) nilai perusahaan adalah

    merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang

    terkait erat dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai

    perusahaan juga tinggi, dan meningkatkan kepercayaan pasar tidak hanya

    terhadap kinerja perusahaan saaat ini, namun juga pada prospek perusahaan

    dimasa mendatang.

    Beberapa indikator yang digunakan untuk nilai perusahaan diantaranya adalah :

    1. Price Earning Ratio (PER)

    Price earning ratio menunjukkan berapa banyak jumlah uang yang rela

    dikeluarkan oleh para investor untuk membayar setiap dolar laba yang

  • 18

    dilaporkan (Brigham dan Houston, 2006:110). Kegunaan price earning ratio

    adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja perusahaan yang

    dicerminkan oleh earning per sharenya. Price earning ratio menunjukkan

    hubungan antara pasar saham biasa dengan earning per share.

    2. Tobin’s Q

    Tobin’s Q ditemukan oleh seorang pemenang hadiah nobel dari Amerika

    Serikat yaitu James Tobin. Tobin’s Q adalah nilai pasar dari aset perusahaan

    dengan biaya penggantinya. Menurut konsepnya, rasio Q lebih unggul daripada

    rasio nilai pasar terhadap nilai buku karena rasio ini fokus pada berapa nilai

    perusahaan saat ini secara relatif terhadap berapa biaya yang dibutuhkan untuk

    menggantinya saat ini. Dalam praktiknya, rasio Q sulit untuk dihitung dengan

    akurat karena memperkirakan biaya penggantian atas aset sebuah perusahaan

    bukanlah suatu pekerjaan yang mudah (Margaretha, 2014:20).

    3. Price to Book Value (PBV)

    Komponen penting lain yang harus diperhatikan dalam analisis kondisi

    perusahaan adalah Price to Book Value (PBV) yang merupakan salah satu

    variabel yang dipertimbangkan seorang investor dalam menentukan saham mana

    yang akan dibeli. Untuk perusahaan-perusahaan yang berjalan dengan baik,

    umumnya rasio ini mencapai diatas satu, yang menunjukkan bahwa nilai pasar

    saham lebih besar dari nilai bukunya. Semakin besar rasio PBV semakin tinggi

    perusahaan dinilai oleh para pemodal relatif dibandingkan dengan dana yang

    telah ditanamkan di perusahaan.

  • 19

    Tax Avoidance

    Tax avoidance adalah upaya yang dilakukan manajemen dalam

    menghindari pajak dengan menggunakan metode tertentu. Pengukuran Tax

    Avoidance dapat menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan book tax

    difference dan effective tax rate (ETR) yang mana book tax difference

    merupakan perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal yang muncul akibat

    berbedanya penghitungan laba menurut akuntansi yang berpedoman pada

    Standar akuntansi keuangan dan perpajakan yang berpedoman pada perundang-

    undangan perpajakan. Sedangkan ETR merupakan suatu score yang dihitung

    dengan membagi total pajak dengan penghasilan kena pajak tahun yang

    bersangkutan, ETR yang tinggi menunjukkan bahwa semakin rendah

    perusahaan melakukan penghindaran pajak yaitu jika nilai ETR > 25% maka

    perusahaan tidak melakukan penghindaran pajak dan jika ETR < 25% maka

    perusahaan melakukan penghindaran pajak.

    Dewan Komisaris Independen

    Dewan Komisaris Independen merupakan bagian dewan komisaris yang

    independen, tidak mempunyai hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan

    pemegang saham pengendali, anggota direksi dan dewan komisaris lain, serta

    dengan perusahaan itu sendiri (Sari, 2015). Menurut Egon Zehnder dalam

    Wulandini (2012) menyebutkan dewan komisaris independen merupakan inti

    dari Corporate Governance yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan

    strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta

    mewajibkan terlaksananya akuntabilitas.

  • 20

    Dewan komisaris independen yang merupakan salah satu mekanisme good

    corporate governance memiliki tugas untuk menjalankan fungsi monitoring

    yang bersifat independen terhadap kinerja manajemen perusahaan. Keberadaan

    komisaris dapat menyeimbangkan kekuatan pihak manajemen (terutama CEO)

    dalam pengelolaan perusahaan melalui fungsi pengawasnya (Wardhani, 2015).

    Pengaruh Prudence Terhadap Nilai Perusahaan

    Prudence merupakan akuntansi konservatif yang pada umumnya

    menyatakan bahwa akuntan harus melaporkan informasi akuntansi yang

    terendah di beberapa kemungkinan nilai untuk aset dan pendapatan, serta yang

    tertinggi dari beberapa kemungkinan nilai kewajiban dan beban (Sulistyanto dan

    Wibisono (2003) konservatisme akuntansi membutuhkan tingkat verifikasi yang

    lebih tinggi untuk mengakui good news sebagai keuntungan daripada untuk

    mengakui bad news sebagai kerugian.

    Konservatisme akuntansi mengurangi insentif manajer dan kemampuan

    untuk memanipulasi angka akuntansi dan meningkatkan nilai perusahaan.

    Konservatisme memiliki peran penting dalam menyediakan informasi

    berkualitas tinggi bagi investor. Jika perusahaan konsisten melaporkan angka

    akuntansi yang konservatif, maka akan mensinyalkan pada investor bahwa

    kualitas informasinya lebih tinggi (Francis dkk, 2013). Konservatisme akuntansi

    memiliki perannya sebagai fungsi monitoring terhadap kebijakan investasi

    perusahaan. Dengan mensyaratkan pengakuan yang lebih cepat atas ekspektasi

    kerugian, konservatisme membantu manajer untuk mengidentifikasikan proyek

    yang memiliki investasi dengan kinerja buruk.

  • 21

    Pengaruh Tax Avoidance Terhadap Nilai Perusahaan

    Penghindaran pajak atau Tax Avoidance adalah suatu skema transaksi

    yang di tujukan untuk meminimalisir beban pajak pada perusahaan. Tax

    avoidance (penghindaran pajak) merupakan aktifitas penghindaran pajak yang

    dilakukan dengan cara tidak melanggar undang - undang yang berlaku di suatu

    negara dengan kata lain merupakan suatu aktifitas yang legal dan aman bagi

    wajib pajak karena aktifitas ini dilakukan dengan cara memanfaatkan

    kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam undang-undang serta peraturan

    pajak, aktivitas ini dilakukan untuk memperkecil jumlah pajak perusahaan

    sehingga nantinya akan menaikkan laba perusahaan dan akan berdampak

    terhadap nilai perusahaan tersebut yang dilihat dari harga pasar saham.

    Setiap investor perusahaan menginginkan supaya perusahaan memiliki

    nilai perusahaan yang optimal. Investor akan memilih menanamkan modalnya

    dengan melihat terlebih dahulu laba perusahaan, karena laba perusahaan akan

    mengambarkan nilai perusahaan itu sendiri. Secara tidak langsung manajer

    perusahaan dituntut untuk sebisa mungkin mengoptimalkan nilai perusahaan,

    yang salah satu caranya dengan melakukan aktifitas penghindaran pajak (Desai

    & Dharmapala 2009). Perusahaan yang transparansinya bagus akan berpengaruh

    terhadap tindakan dari tax avoidance yang dilakukan perusahaan

    Berdasarkan teori sinyal reaksi pasar atas tindakan tax avoidance yang

    dilakukan perusahaan bahwa tindakan tax avoidance dapat meningkatkan atau

    menurunkan nilai saham suatu perusahaan. Jika tax avoidance dipandang

    sebagai upaya untuk melakukan tax planning dan efesiensi pajak maka akan

  • 22

    berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Namun jika dipandang sebagai

    tindakan yang meningkatkan resiko sehingga akan mengurangi nilai perusahaan.

    Pengaruh Dewan Komisaris Independen dengan Prudence Terhadap Nilai

    Perusahaan

    Dewan Komisaris independen merupakan sebuah badan dalam

    perusahaan yang biasanya beranggotakan dewan komisaris yang independen

    yang berasal dari luar perusahaan yang berfungsi untuk menilai kinerja

    perusahaan secara luas dan keseluruhan.

    Dewan komisaris independen memegang peranan penting dalam

    perusahaan terutama dalam pelaksanaan good corporate gonvernace. Dewan

    komisaris bertanggung jawab dan mempunyai kewenangan untuk mengawasi

    kebijakan dan kegiatan yang dilakukan direksi dan manajemen atas

    pengelolaan sumber daya perusahaan agar dapat berjalan secara efektif, efisien

    dan ekonomis dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dewan komisaris

    independen merupakan salah satu mekanisme corporate gonvernance yang

    mampu meningkatkan nilai perusahaan.

    Pengaruh Dewan Komisaris Independen dengan Tax avoidance Terhadap

    Nilai Perusahaan

    Perusahaan sebagai wajib pajak juga melaksanakan corporate governance,

    sehingga mempengaruhi perusahaan dalam melaksanakan kewajiban pajaknya,

    selain itu perencanaan yang dilakukan perusahaan juga akan terpengaruh oleh

    sistem corporate governance khususnya dewan komisaris independen yang

    dijalankan perusahaan. Dengan demikian perencanaan pajak untuk

  • 23

    menghindari pajak yang tercermin dari effective tax rate perusahaan akan

    terpengaruh oleh corporate governance (Friese, A., S. Link and S. Mayer.,

    2006). Manajemen pajak, tax avoidance juga akan dipengaruhi oleh pelaksana

    corporate governance perusahaan. Perusahaan yang memiliki corporate

    governance yang baik tentunya tidak akan melaksanakan tax avoidance yang

    dapat merugikan pemegang kepentingan dalam perusahaan.

    C. Perumusan Hipotesis

    Pengaruh Prudence Terhadap Nilai Perusahaan

    Berdasarkan teori sinyal konservatisme akuntansi memiliki perannya

    sebagai fungsi monitoring terhadap kebijakan investasi perusahaan. Dengan

    mensyaratkan pengakuan yang lebih cepat atas ekspektasi kerugian,

    konservatisme membantu manajer untuk mengidentifikasikan proyek yang

    memiliki investasi dengan kinerja buruk. Konservatisme juga akan membatasi

    kerugian yang mungkin muncul dari keputusan investasi yang berkinerja buruk.

    Jika perusahaan secara konsisten melaporkan angka akuntansi konservatif,

    ini mensinyalkan investor luar bahwa perusahaan memiliki informasi yang dapat

    dipercaya dan berkualitas tinggi. Konservatisme dapat juga mempengaruhi nilai

    perusahaan melalui pengaruhnya pada pembiayaan, investasi, dan aktivitas riil

    lainnya.

    Penelitian yang dilakukan oleh Hartono (2014), Sriyani (2017) menyatakan

    penerapan konservatisme berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan,

    menunjukkan setelah memasukkan unsur konservatisme dalam pelaporan

    keuangan perusahaan terbukti menghasilkan laba yang lebih berkualitas dengan

  • 24

    meminimalisir tindakan membesarkan laba sehingga mampu meningkatkan nilai

    perusahaan. Hubungan antar keduanya signifikan dan positif. Hal ini berarti

    bahwa peningkatan penerapan prinsip konservatisme dalam perusahaan diiringi

    dengan peningkatan nilai perusahaan. Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti

    menyusun hipotesis sebagai berikut:

    H1: Prudence Berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan

    Pengaruh Tax avoidance terhadap Nilai Perusahaan

    Tax avoidance (penghindaran pajak) merupakan aktifitas penghindaran

    pajak yang dilakukan dengan cara tidak melanggar undang – undang yang

    berlaku di suatu negara dengan kata lain merupakan suatu aktifitas yang legal

    dan aman bagi wajib pajak karena aktifitas ini dilakukan dengan cara

    memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam undang-undang serta

    peraturan pajak, aktivitas ini dilakukan untuk memperkecil jumlah pajak

    perusahaan sehingga nantinya akan menaikkan laba perusahaan dan akan

    berdampak terhadap nilai perusahaan tersebut yang dilihat dari harga pasar

    saham. (Desai, M.A and Dharmapala, 2006) menyatakan bahwa book tax

    difference yang besar mengindikasikan perusahaan melakukan agresivitas pajak

    Selain itu, ETR yang tinggi menunjukkan bahwa semakin rendah perusahaan

    melakukan penghindaran pajak yaitu jika nilai ETR > 25% maka perusahaan

    tidak melakukan penghindaran pajak dan jika ETR < 25% maka perusahaan

    melakukan penghindaran.

    Berdasarkan teori sinyal, kewajiban pajak adalah penyebab manajemen

    melakukan tindakan dalam memilih metode akuntansi, kewajiban pajak

  • 25

    merupakan beban bagi perusahaan, semakin besar kewajiban pajak perusahaan

    maka beban pajak akan semakin besar yang dapat berakibat pada rendahnya

    laba, hal tersebut dapat membuat manajemen melakukan penghindaran pajak

    dengan menggunakan metode tertentu, memanfaatkan berbagai celah untuk

    menurunkan beban pajak yang dibayarkan oleh perusahaan yang dapat

    menurunkan atau menaikkan nilai perusahaan.

    Reaksi pasar atas tindakan tax avoidance yang dilakukan perusahaan

    bahwa tindakan tax avoidance dapat meningkatkan atau menurunkan nilai

    saham suatu perusahaan. Jika tax avoidance dipandang sebagai upaya untuk

    melakukan tax planning dan efesiensi pajak maka akan berpengaruh positif

    terhadap nilai perusahaan. Namun jika dipandang sebagai tindakan yang

    meningkatkan resiko sehingga akan mengurangi nilai perusahaan.

    (Dedy Ghozim Herdiyanto, 2015) melaksanakan penelitian untuk

    menguji bagaimana pengaruh tax avoidance terhadap nilai perusahaan, dari hasil

    penelitian menunjukan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa Cash_ETR

    berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Tobin’s Q. Berdasarkan penjelasan

    di atas peneliti menyusun hipotesis sebagai berikut:

    H2: Tax Avoidance Berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan

    Dewan Komisaris Independen memoderasi hubungan pengaruh Prudence

    terhadap nilai perusahaan.

    Teori sinyal menjelaskan prudence akan menghasilkan kualitas laba yang

    baik karena prudence tidak memasukan laba atau pendapatan yang belum

    terealisasi dalam sebuah periode. Jadi penggunaan prudence akan menambah

  • 26

    nilai perusahaan. Laba merupakan sumber utama informasi spesifik perusahaan

    bagi investor untuk mengambil keputusan.Kualitas laba yang buruk dapat

    disebabkan karena kepentingan manajemen yang memberikan informasi tidak

    sesuai dengan kepentingan investor yang membutuhkan informasi. Jika kualitas

    informasi memburuk akan berpengaruh terhadap keputusan harga investor dan

    terjadi risiko informasi. Meningkatnya risiko informasilah yang menyebabkan

    investor melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Sebaliknya, jika

    kualitas laba memiliki nilai yang baik, maka investor cenderung lebih baik

    dalam menilai perusahaan, misalnya dikarenakan tingkat prediktabilitas laba

    yang tinggi, akan menurunkan risiko yang ditanggung investor.

    Dewan komisaris independen ini akan memastikan bahwa perusahaan

    akan menerapkan prinsip-prinsip akuntansi yang akan menghasilkan informasi

    keuangan yang perusahaan yang berkualitas dan akurat melalui penggunaan

    prinsip prudence, hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ramadhan dan Raharja

    (2014). Berdasarkan penjelasan tersebut peneliti menyusun hipotesis sebagai

    berikut:

    H3: Mekanisme Ukuran Dewan Komisaris Memoderasi Hubungan

    Prudence terhadap Nilai Perusahaan.

    Dewan Komisaris Independen memoderasi hubungan pengaruh Tax

    avoidance terhadap Nilai Perusahaan

    Perusahaan sebagai wajib pajak juga melaksanakan corporate governance

    salah satunya ukuran dewan komisaris independen, sehingga mempengaruhi

    perusahaan dalam melaksanakan kewajiban pajaknya, selain itu perencanaan

  • 27

    yang dilakukan perusahaan juga akan terpengaruh oleh sistem corporate

    governance yang dijalankan perusahaan. Dengan demikian perencanaan pajak

    untuk menghindari pajak yang tercermin dari effective tax rate perusahaan akan

    terpengaruh oleh corporate governance (Friese, A., S. Link and S. Mayer.,

    2006). Manajemen pajak, tax avoidance juga akan dipengaruhi oleh pelaksana

    corporate governance perusahaan. Perusahaan yang memiliki corporate

    governance yang baik tentunya tidak akan melaksanakan prudence yang dapat

    merugikan pemegang kepentingan dalam perusahaan. Berdasarkan penjelasan

    tersebut peneliti menyusun hipotesis sebagai berikut:

    H4: Mekanisme Ukuran Dewan Komisaris Memoderasi Hubungan Tax

    Avoidance terhadap nilai perusahaan

    D. Kerangka Berfikir

    Gambar 2.1 Kerangka Pikir

    Prudence

    (X1)

    Tax Avoidence

    (X2)

    Ukuran Dewan Komisaris

    (Variable Moderating)

    Nilai Perusahaan

    (Y)