BAB II Sirosis Hati 2003

  • View
    78

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of BAB II Sirosis Hati 2003

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hepar Hati atau hepar atau liver merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh. Letaknya sebagian besar di region hipokondrika dekstra, epigastrika, dan sebagian kecil di hipokondrika sinistra. Bentuknya menyerupai pahat yang menghadap ke kiri. Beratnya pada pria dewasa antara 1,4-1,6 kg dan pada wanita dewasa antara 1,2-1,4 kg. Ukuran normal pada dewasa : panjang kanan kiri : 15 cm, tinggi bagian tekanan (ukuran superior-inferior) :15-17 cm, tebal (ukuran anteroposterior) setinggi ren dekstra: 12-15 cm. Warna permukaan : coklat kemerahan. Konsistensi : padat kenyal, Mempunyai 5 permukaan antara lain fasies superior, fasies dekstra, fasies anterior, fasies posterior, dan fasies inferior. Hati merupakan organ plastis yang lunak. Terletak di sebelah kanan di bagian atas rongga abdomen di bawah diafragma. Bagian bawah hati berbentuk cekung dan berbatasan dengan ginjal kanan, lambung, pankreas dan usus (Sofwanhadi, 2007). Organ hepar terbungkus oleh kapsul fibrosa yang kuat dan dilapisi oleh lapisan visceral peritonium. Hepar terdiri atas 2 lobus. Pada permukaan anterior, batasan antara lobus kanan dan lobus kiri ditandai dengan falciform ligament. Penebalan pada bagian posterior margin dan falciform ligament disebut round ligament (Martini,2001). Pada bagian permukaan posterior dari hepar terdapat vena cava inferior. Quadrat lobe diapit oleh lobus kiri dan kantung empedu. Pembuluh darah aferen mencapai bagian hepar melalui jaringan ikat dari lesser omentum. Kumpulan lesser omentum pada suatu titik disebut dengan hillus atau porta hepatis (Martini, 2001). Setiap lobus dari liver dibagi oleh jaringan ikat menjadi 100.000 lobul hepar. Lobul hepar merupakan unit fungsional dari hepar. Lobul yang berdekatan dipisahkan satu sama lain oleh interlobular septum. Hepatosit dalam lobul liver membentuk sebuah plate yang mirip dengan jari-jari roda. Di dalam

2.1.1 Anatomi

8

9

lobul, sinusoid berada antara plate yang berdekatan kemudian bermuara pada vena sentral. Sinusoid dilapisi oleh sel endotel dan sel Kupffer dalam jumlah yang besar. Sel Kupffer juga disebut dengan sel stelat retikuloendotelial. Sel Kuppfer merupakan sel fagosit yang berfungsi untuk menfagosit kuman patogen, sel debris, dan sel darah yang rusak. Sel Kuppfer juga berfungsi dalam menyimpan besi, lemak, dan logam berat (Martini, 2001).

Gambar 2.1 Penampang Sruktur Hepar yang Menunjukkan Hubungan Antara Lobul (Martini,2001) Hati merupakan organ tubuh yang kompleks dan tersusun atas beberapa bagian, antara lain: a) Sel Hepatosit Sel hepatosit berbentuk kubus dan memiliki inti serta mempunyai permukaan apikal yang berfungsi dalam transport dan ekskresi empedu dan permukaan basolateral yang berfungsi dalam intake dan sekresi terhadap aliran darah. Kedua fungsi ini dipertahankan oleh tight junction antar hepatosit. Pembagian zona fungsi hepatosit didasarkan pada urutan hepatosit yang dilalui arteri hepatica dan vena porta. Hepatosit pada zona perifer mendapatkan jumlah oksigen lebih tinggi daripada yang berada dekat vena sentral (McPhee 2006). b) Lobus dan lobulus Dibawah mikroskop, struktur hati akan tampak sebagai lobus. Setiap lobus hati terbagi menjadi struktur-struktur yang dinamakan lobulus, yaitu unit

10

mikroskopis dan fungsional organ. Setiap lobulus mempunyai bentuk heksagonal (segi enam) yang terdiri atas lempeng-lempeng sel hati berbentuk kubus dengan berpusat pada vena sentral dimana tiap sudutnya terdapat portal triad yang terdiri atas cabang cabang kecil vena portal, arteri hepatik, dan duktus limfatit (McPhee, 2006).

Gambar 2.2 Lobus Hepar (Sease et al, 2008) c) Sinusoida Diantara lempeng sel hepatosit yang satu dengan yang lain terdapat sinusoid yang menghubungkan cabang utama hepatik arteri dan vena porta menuju vena sentral, dan merupakan tempat terjadinya pencampuran darah dari arteri hepatik dan vena porta. Dindingnya dibentuk oleh sel endotel yang ditempeli oleh makrofag jaringan lemak yang disebut sel Kupffer yang merupakan sistem monosit makrofag. Pada dinding sel endotel terdapat celah (penetrasi), sehingga memungkinkan hepar untuk dapat mengambil dan mensekresi zat zat tertentu dari dan menuju aliran darah serta menbantu fungsi hepar sebagai penyaring darah portal (McPhee, 2006). d) Portal Triad Terletak pada sudut dari septipa lobus hati. Terdiri dari 3 pembuluh darah, yaitu arteri hepatica, vena porta dan saluran empedu. Cabang vena porta, arteri hepatica dan saluran empedu dibungkus bersama oleh sebuah balutan dari jaringan ikat yang disebut Kapsula Glisson (McPhee, 2006).

11

e)

Sel Kupffer Sel Kupffer merupakan sistem monosit makrofag dengan fungsi utama

menelan bakteri dan benda asing lainnya dalam darah, sehingga dikatakan bahwa hati merupakan salah satu organ pertahanan terhadap invasi bakteri dan agen toksik (McPhee, 2006). f) Empedu Saluran empedu interlobular membentuk kapiler empedu yang sangat kecil dinamakan kanalikuli, berjalan jalan di tengah tengah lempeng sel hati. Empedu yang dibentuk dalam hepatosit diekskresi ke dalam kanalikuli yang bersatu membentuk saluran empedu yang makin lama makin besar (duktus koledokus). Empedu dibentuk di dalam sela sela kecil di dalam sel hepar, dan dikeluarkan melalui kapiler empedu yang halus atau kanalikuli empedu, yaitu saluran halus yang dimulai diantara sel hati dan terletak antara dua sel. Tetapi kanalikuli itu terpisah dari kapiler darah sehingga darah dan empedu tidak pernah bercampur. Kemudian kapiler empedu berjalan di pinggir lobula dan berujung pada saluran interlobular empedu dan saluran saluran ini bergabung membentuk saluran hepatica. Saluran empedu sebagian besar dilapisi epithelium, silinder dan mempunyai dinding luar yang terdiri atas jaringan fibrous dan otot. Empedu akan dihasilkan keluar ketika dinding otot berkontraksi.(McPhee, 2006). 2.1.2 Sirkulasi Hepatik Lobul hepar berbentuk heksagonal dan di setiap sudut dari lobul hepar terdapat area portal. Area portal merupakan nama lain dari triad hepatik dan triad portal. Triad hepatik terdiri atas vena portal, arteri hepatik, dan saluran empedu (Martini, 2001). Hati atau hepar menerima sekitar 25% aliran darah dari cardiac output. Hati memiliki dua sumber suplai darah dari saluran cerna dan limfa melalui vena porta yang berfungsi untuk kebutuhan fungsional hati dan dari aorta melalui arteri hepatika yang berfungsi untuk oksigenasi dan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada sistem bilier. Volume total darah yeng melewati hati setiap menit adalah 1500 mL dan dialirkan melalui vena hepatika kanan dan kiri, yang selanjutnya bermuara pada vena cava inferior (McPhee, 2006).

12

Gambar 2.3 Aliran Darah Sinusoid dari Vena Sentral dan Aliran Empedu Dalam Kanakuli Empedu ke Saluran Empedu (Ganong,2010) Unit fungsional dari hepar adalah acinus. Setiap acinus terletak pada akhir vascular stalk yang terdiri atas cabang terminal dari vena portal, arteri hepatik, dan saluran empedu. Darah mengalir dari pusat acinus ke cabang terminal dari vena hepatikum pada perifer. Daerah sentral acinus disebut dengan zona 1 yang merupakan daerah yang teroksigenasi paling tinggi. Zona 2 disebut dengan zona intermediat yang merupakan daerah yang teroksigenasi dalam jumlah sedang. Zona 3 disebut dengan zona perifer yang merupakan daerah yang teroksigenasi paling rendah. Darah dari vena hepatikum kemudian menuju ke vena cava inferior (Sease et al,2008).

Gambar 2.4 Acinus Sebagai Unit Fungsional Hati (Ganong,2010)

13

2.1.3 Fungsi Hepar 2.1.3.1 Fungsi Metabolisme Energi dan Konversi Substrat Hepar mempunyai peran penting dalam metabolisme karbohidrat, penyimpanan glikogen, konversi galaktosa dan fruktosa menjadi glukosa, dan glukoneogenesis dan membentuk banyak senyawa kimia penting dari hasil perantara metabolisme karbohidrat. Substrat dari reaksi ini berasal dari hasil pencernaan karbohidrat dari saluran pencernaan yang dibasorbsi kemudian ditransportasikan menuju ke hepar (Ganong, 2010). Hepar terutama penting untuk mempertahankan konsentrasi glukosa darah normal. Hepar mengambil kelebihan glukosa dalam darah kemudian menyimpannya dan mengembalikannya kembali ke darah apabila konsentrasi glukosa dalam darah mulai turun menjadi terlalu rendah. Fungsi ini disebut fungsi penyangga glukosa dari hati (Guyton & Hall, 2000). Glukoneogenesis dalam hati juga berfungsi mempertahankan konsentrasi normal glukosa darah karena glukoneogenesis terjadi apabila konsentrasi glukosa darah mulai menurun di bawah harga normal. Pada keadaaan demikian, sejumlah besar asam amino dan gliserol dari trigliserida akan diubah menjadi glukosa, mekanisme ini merupakan fungsi lain hati untuk mempertahankan konsentrasi glukosa darah yang relatif normal (Guyton & Hall, 2000). a) Metabolisme Lemak Hepar juga berfungsi dalam metabolisme lemak. Fungsi spesifik hati dalam metabolisme lemak antara lain adalah kecepatan oksidasi beta asam lemak yang sangat tinggi untuk mensuplai energi bagi tubuh, pembentukan sebagian besar lipoprotein, pembentukan sejumlah besar kolesterol dan fosfolipid, dan pengubahan sejumlah besar karbohidrat dan protein menjadi lemak. (Guyton & Hall, 2000). Secara garis besar untuk memperoleh energi dari lemak netral, lemak dipecah menjadi gliserol dan asam lemak kemudian asam lemak dipecah menjadi asetilkoenzim A (asetil-KoA) dalam proses oksidasi beta. Oksidasi beta terjadi sangat cepat di dalam sel hepar. Asetil-KoA tidak semuanya dapat digunakan oleh hepar. Asetil-koA diubah menjadi asam asetoasetat. Asam asetoasetat dari sel hepar masuk ke cairan ekstraseluler kemudian ditranspor ke

14

seluruh tubuh dan diabsorbsi oleh jaringan lain. Setelah sampai pada jaringan, asam asetoasetat akan diubah menjadi asetil-KoA dan kemudian dioksidasi serta membebaskan sejumlah energi (Guyton & Hall, 2000). Kurang lebih 80% kolesterol yang disintesis dalam hati diubah menjadi garam empedu