BAB II SEMINAR SEJARAH ARSITEKTUR KENDAL

  • Published on
    17-Jan-2016

  • View
    11

  • Download
    0

DESCRIPTION

SEMINAR SEJARAH ARSITEKTUR KENDAL

Transcript

<p>BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1. Ruang Terbuka Pulik2.1.1. Pengertian Ruang Terbuka PublikRuang terbuka publik saat ini menjadi sebuah kebutuhan publik yang cukup mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pengertian ruang terbuka sendiri bermacam-macam dikemukakan oleh beberapa ahli perencanaan kota. Beberapa pengertian ruang terbuka publik tersebut adalah sebagai berikut: Ruang terbuka merupakan elemen vital dalam sebuah kota karena keberadaannya dikawasan berintensitas kegiatan tinggi. Sebagai lahan tidak terbangun, ruang terbuka biasanya berada di lokasi strategis dan banyak dilalui orang (Nazarudin, 1994). Ruang Terbuka adalah lahan tidak terbangun didalam kota dengan penggunaan tertentu. Pertama : ruang terbuka didefinisikan secara umum sebagai bagian dari lahan kota yang tidak ditempati oleh bangunan dan hanya dapat dirasakan keberadaannya jika sebagian atau seluruh lahannyadikelilingi pagar. Kedua: ruang terbuka kota didefinisikan sebagai lahan dengan pengguna spesifik yang fungsi atau kualitasya terlihat dalam komposisinya (Rapuano, 1964). Ruang Terbuka merupakan aktivitas sosial yang melayani dan juga mempengaruhi kehidupan masyarakat kota. Ruang terbuka merupakan wadah kegiatan fungsional maupun aktivitas ritual normal kehidupan sehari-hari maupaun dalam kegiatan-kegiatan periodik. Fungsi ruang terbuka dapat berubah sejalan dengan berubahnya kebutuhan penngguna. Ruang terbuka menyediakan kerangka kerja sebaik mungkin untuk mengantisipasi perkembangan dan perubahan dalam masyarakat. Sebaliknya ruang terbuka umum merupakan ungkapan drama kehidupan manusia yang juga memberikan pengaruh pada perubahan kehidupan manusia (Carr, 1992). Ruang umum adalah ruang yang timbul karena adanya kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan bersama. Dengan adanya pertemuan bersama dan relasi antara orang banyak kemungkinan akan timbul bermacam-macam kegiatan di ruang umum terbuka atau dapat dikatakan pula bahwa ruang terbuka ini pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari warga tersebut baik secara individu atau secara kelompok. Sehingga dapat dirangkaikan pengertian dan batasan pola ruang umum terbuka adalah bentuk dasar ruang terbuka di luar bangunan, yang dapat digunakan oleh publik (setiap orang), dan memberikan kesempatan bagi timbulnya bermacam-macam kegiatan (Hakim, 1993). Berdasarkan beberapa pengertian ruang terbuka diatas, maka dalam studi ini istilah ruang terbuka publik adalah sebuah ruang atau lahan tidak terbangun didalam kota yang dapat digunakan oleh publik (setiap orang), dan memberikan kesempatan bagi timbulnya bermacam-macam kegiatan. Contoh ruang terbuka publik, seperti : alun-alun, taman, lapangan olah raga, plaza, jalur pedestrian, pemakaman, lapangan terbang, dan jalan. </p> <p>2.1.2. Klasifikasi Ruang Terbuka PublikSebagaimana keragaman definisinya, jenis ruang terbuka bermacam-macam sesuai karakteristiknya. Pengkategorian jenis ruang terbuka dapat dilihat sebagai berikut:1. Ruang Terbuka skala lingkungan dengan luas dan lingkup pelayanan kecil, seperti: Ruang sekitar tempat tinggal (home-oriented space), disebut sebagai ruang privat (Gold, 1980). Ruang dalam perumahan, merupakan bagian luas penggunaan lahan dalam suatu unit lingkungan yang terdiri dari jalan, fasilitas rekreasi serta area lain seperti taman dan penyangga (Rapuano, 1964). Ruang terbuka lingkungan (neighbourhood space), biasanya didekat sekolah dasar dan berorientasi pada kegiatan aktif dan pasif (Gold, 1964).2. Ruang Terbuka skala bagian kota yang melayani beberapa unit lingkungan, seperti: Taman, yang mencakup sarana bermain dan olahraga serta tempat interaksi masyarakat. Taman (park) adalah area yang disediakan untuk penggunaan estetika, pendidikan, rekreasi, atau budaya. Sistem taman kota pada prinsipnya terkait dengan kebutuhan rekreasi aktif, termasuk taman kecil yang indah dan taman kota yang lebih besar yang umumnya berkarakter alami (Rapuano, 1964). Taman Umum ( Public Park), yang dikembangkan dan dikelola sebagai bagian dari sistem ruang terbuka ruang kota, seringkali berlokasi dekat pusat kota dan lebih besar dari taman lingkungan. Termasuk jenis ini adalah central park, downtown park, commons, neighbourhood park, dan mini/vest-pocket park (Carr, 1992). Ruang Terbuka untuk masyarakat luas (community space), melayani 20.000 penduduk (3 sampai 6 lingkungan) dan berorientasi pada pejalan kaki dan pengguna kendaraan. Ruang terbuka ini berlokasi didekat sekolah menengah dan pusat keramaian / perbelanjaan (Gold, 1980).3. Ruang Terbuka skala kota yang lingkup pelayanannya sampai keseluruh bagian kota ruang terbuka skala kota (citywide space), melayani seluruh masyarakat (1.000 penduduk atau lebih) (Gold, 1980).4. Ruang Terbuka skala wilayah dengan lingkup pelayanan untuk beberapa kota dalam wilayah tertentu. ruang terbuka skala wilayah (regional space), melayani kebutuhan kota dan umumnya merupakan area yang berorientasi pada sumber daya. Akses untuk menjangkaunya menggunakan kendaraan pribadi atau umum (Gold, 1980). Ruang Terbuka di Indonesia sering disebut denagn Alun-alun. Bentuk dari ruang terbuka ini biasanya berbentuk segi-empat. Arah 4 mata angin ini dipegang orang Jawa dalam hubungannya dengan 4 unsur pembentuk keberadaan bhuwana yaitu : air, bumi, udara, dan api. Pada waktu itu alun-alun dihunakan sebagai tempat upacara kerajaan. Bisa dikatakan ada kesan bahwa alun-alun mempunyai makna spiritual. Tetapi perubahan konsep Alun-alun sebagai tempat upacara negara menjadi taman umum kota berlangsung di Bandung sejak tahun 1967 pada masa pemerintahan Hindia-Belanda (Wiryomartono, 1995).5. Ruang Terbuka ditinjau dari kegiatannya, dapat dikelompokan menjadi 2, yaitu (Hakim, 1993) : Ruang Terbuaka Aktif, adalah ruang terbuka yang mengundang unsur-unsur kegiatan didalamnya, antara lain : bermain, olahraga, upacara, berkomunikasi, berjalan-jalan, tempat bermain, penghijauan ditepi sungai sebagai tempat rekreasi, dll. Ruang Terbuka Pasif, adalah ruang terbuka yang didalamnya tidak mengandung kegiatan manusia antara lain berupa penghijauan/ taman sebagai sumber pengudaraan lingkungan, penghijauan sebagai jarak terhadap rel kereta api, dll.1.2.3. Fungsi Ruang Terbuka PublikRuang terbuka memiliki fungsi sosial dan ekologi (Hakim, 1993).Fungsi Sosial ruang terbuka :1) Tempat bermain, berolahraga2) Tempat bersantai3) Tempat komunikasi sosial4) Tempat peralihan, tempat menunggu5) Tempat mendapatkan udara segar dari lingkungan6) Pembatas atau jarak antar massa bangunanFungsi Ekologi ruang terbuka :1) Penyegaran udara2) Menyerap air hujan3) Pengendalian banjir4) Pemeliharaan ekosistem5) Pelembut arsitektur bangunan1.2.4. Manfaat Ruang Terbuka PublikManfaat ruang terbuka dapat dirasakan dalam berbagai fungsi dan lingkup pelayanannya. Sebuah ruang terbuka selalu menjadi kebutuhan, baik dalam fungsinya sebagai ruang terbuka umum maupun sebagai sarana rekreasi. Dalam lingkup pelayanan kecil maupun yang lebih luas, ruang terbuka selalu dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas. Beberapa manfaat yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: Ruang terbuka melayani kebutuhan sosial masyarakat kota dan memberikan pengetahuan kepada pengunjungnya. Ruang terbuka umum dimanfaatkan untuk melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupan masyarakat. Pemanfaatannya biasanya untuk aktivitas kerja maupun aktivitas di waktu senggang (Carr, 1992). Ruang terbuka dapat memperkenalkan hal-hal dan pengalaman baru melalui interaksi, memberi makna, serta kekuatan dalam kehidupan masyarakat, menjadi penawar setelah sibuk bekerja, memberikan kesempatan bersantai, hiburan dan kontak sosial lain yang menjadi program dari fungsi ruang terbuka tersebut (Carr, 1992). Masyarakat dapat memanfaatkan ruang terbuka untuk aneka keperluan, sebagai tempat bersantai, berjalan-jalan, dan membaca (Nazaruddin, 1994). Ruang terbuka merupakan pengikat sosial untuk menciptakan interaksi antara kelompok masyarakat, sebagai tempat berkumpul sehari-hari dan pada kesempatan khusus (Carr, 1992). Semua ruang terbuka didalam kota menyampaikan pesan secara fungsional, sebagai simbolis mengkomunikasikan arti ruang tersebut (Trancik, 1986). Peran yang dimiliki sebuah ruang terbuka umum dapat mengungkapkan nilai/arti ruang terbuka tersebut bagi masyarakat, diantaranya menyampaikan nilai-nilai budaya (Carr, 1992). Ruang terbuka yang lebih mengkomunikasikan nilai budaya memberikan lebih banyak manfaat kepada masyarakat (Trancik, 1986).2.2. Alun-Alun2.2.1. Pengertian Alun-AlunKata halun-halun berasal dari bahasa Jawa kuno (Kawi) bukan Sansekerta. Dapat dikatakan bahwa alun-alun merupakan lapangan terbuka orisinil Jawa (Wiryomartono, 1995). Lapangan terbuka yang berfungsi sebagai tempat pertemuan masyarakat selain dalam upacara besar, ialah alun-alun yang biasanya terdapat dalam keraton (Tjandrasasmita, 2000). Van Romondt (Haryoto, 1986:386) menjelaskan pada dasarnya alun-alun itu merupakan halaman depan rumah, namun dalam ukuran yang lebih besar. Penguasa bisa berarti raja,bupati, wedana dan camat bahkan kepala desa yang memiliki halaman paling luas di depan Istana atau pendopo tempat kediamannya, yang dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan.Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun. Tetapi kalau adanya lahan terbuka yang dibiarkan tersisa dan berupa alun-alun, hal demikian bukan merupakan alun-alun yang sebenarnya. Jadi alun-alun bisa di desa, kecamatan, kota maupun pusat kabupaten.Bentuk fisik alun-alun antara lain berupa keberadaan pohon beringin, jaringan jalan, yaitu keberadaan alun-alun selalu dekat dengan adanya dua beringin kurung pada sumbu yang ditarik dari kabupaten atau kadipatennya (Wiryomartono, 1995) dan biasanya merupakan titik pertemuan dari jalan-jalan utama yang menghubungkan keraton dengan bagian barat, utara dan timur dari kota (Handinoto, 1992).Handitono (1992) mengatakan adanya alun-alun tidak bisa dilepaskan dari bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Di sebelah selatan alun-alun terletak keraton raja yang ada atau penguasa setempat. Di sebelah barat terdapat Masjid Agung, sedangkan sejumlah bangunan resmi lainnya didirikan di sisi barat atau timur. Daerah sebelah selatan Keraton merupakan daerah tempat tinggal keluarga raja dan pengikut pengikutnya.Setiap wajah kawasan bersejarah kota tidak bisa lepas dari pemahaman bangunan spasialnya. Bangunan di kawasan itu mempunyai satu keterkaitan, yakni Alun-alun Kraton - Masjid Agung - Pasar. Alun-alun terdapat di sebelah utara Kraton, dan Masjid Agung berada di sebelah barat, sedangkan pasar berada di sebelah utara alun-alun. Bangunan tersebut menyebabkan danya fungsi kawasan sebagai kegiatan perdagangan, pusat pemerintahan dan peribadatan, sehingga menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kota.Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa alun-alun merupakan sebuah ruang terbuka publik yang memiliki keterkaitan dengan lingkungan sekitarnya, serta memiliki nilai historis yang patut dilestarikan.1.2.2. Peran dan Fungsi Alun-alunJo Santoso dalam Arsitektur Kota Jawa: Kosmos, Kultur &amp; Kuasa (2008), menjelaskan betapa pentingnya alun-alun karena menyangkut beberapa aspek. Pertama, alun-alun melambangkan ditegakkannya suatu sistem kekuasaan atas suatu wilayah tertentu, sekaligus menggambarkan tujuan dari harmonisasi antara dunia nyata (mikrokosmos) dan universum (makrokosmos). Kedua, berfungsi sebagai tempat perayaan ritual atau keagamaan. Ketiga, tempat mempertunjukkan kekuasaan militer yang bersifat profan dan merupakan instrumen kekuasaan dalam mempraktekkan kekuasaan sakral dari sang penguasa.Penjelasan di atas tentu saja masih harus ditambahkan bahwa keberadaan alun-alun berfungsi pula sebagai ruang publik terbuka dimana rakyat saling bertemu dan fungsi pengaduan rakyat pada raja.Sebagai ruang publik, alun-alun adalah tempat pertemuan rakyat untuk bercakap-cakap, berdiskusi, melakukan pesta rakyat dll. Bahkan istilah Plaza yang saat ini menjadi ikon modernitas di setiap kota, disinyalir oleh Romo Mudji Sutrisno dalam bukunya, Ruang Publik: Melacak Partisipasi Demokratis dari Polis sampai Cyberspace (2010) sebagai bentuk ruang publik yang telah mengalami pergeseran makna yang dahulunya adalah alun-alun. B. Herry Priyono dalam bukunya Republik Tanpa Ruang Publik (2005) memberi peringatan akan dampak pergeseran makna Plaza yang semula adalah Alun-alun sebagai aktivitas ruang publik yang dinamis sbb: ketika ruang publik telah menjelma menjadi komoditas komersial suatu masyarakat, maka pemaknaan kewarganegaraan sebagai makhluk sosial, telah berganti menjadi pemaknaan bahwa masyarakat itu adalah konsumen belaka.</p> <p>1.2.3. Perkembangan Alun-Alun Kehadiran alun-alun sudah ada sejak jaman prakolonial. Meskipun dari dulu sampai sekarang bentuk phisik alun-alunnya sendiri tidak banyak mengalami perubahan, tapi konsep yang mendasari bentuk phisiknya sejak jaman prakolonial sampai sekarang telah mengalami banyak perubahan. Konsep inilah yang sebetulnya menentukan peran dan fungsi alun-alun dalam suatu kota di Jawa. Uraian dibawah ini mencoba untuk menlusuri konsep yang mendasari kehadiran alun-alun di masa lampau, sebagai pertimbangan untuk menghidukan kembali alun-alun yang sekarang masih banyak terdapat pada kota-kota di Jawa, tapi keadannya seperti hidup segan matipun enggan.Alun-Alun Pada Zaman Pra KolonialisHandinoto, Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra, menguraikan bahwa keberadaan Alun-alun telah ada pada zaman Majapahit (Hindu-Budha) dan zaman Mataram (Islam). Menurut Kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca, disebutkan bahwa pada zaman Majapahit, alun-alun memiliki fungsi sakral dan fungsi profan. Yang dimaksudkan fungsi sakral adalah upacara-upacara religius dan penetapan jabatan pemerintahan. Sementara fungsi profan adalah untuk kegiatan pesta rakyat dan perayaan-perayaan tahunan. Ada dua alun-alun yang menjalankan kedua fungsi di atas yaitu Alun-alun Bubat (menjalankan fungsi profan) dan Alun-alun Wiguntur (menjalankan fungsi sakral).</p> <p>Gambar 2.1 Sketsa rekonstruksi Kota Majapahit oleh Maclaine Pont (1924)berdasarkan Nagarakretagama dan hasil penggalian.Sumber : http://carasejarah.blogspot.com/2011_07_01_archive.html (2011)Pola ini dilanjutkan baik dalam pemerintahan Mataram baik Yogyakarta maupun Surakarta yang memiliki dua alun-alun yaitu Alun-alun Lor dan Alun-alun Kidul. Di alun-alun Yogyakarta ditempatkan pohon beringin kembar yang dinamai Kyai Dewa Ndharu dan Kiai Jana Ndharu. Di zaman Mataram Islam ditambahkan keberadaan Masjid sebagai pengganti candi.</p> <p>Alun-Alun Pada Zaman KolonialisPada zaman kolonial, alun-alun tidak hanya menjadi bagian dari sebuah keraton yang dikepalai oleh...</p>