of 61 /61
LAPORAN PENDAHULUAN – BAB II Feasibility Study Pengembangan Resort Hotel di Sekitar Kawasan Wisata Ciwidey Pemahaman mengenai pariwisata menjadi sangat penting dalam rangka mengkaji, menetapkan dan mengimplementasikan kegiatan pengembangan Resort Hotel pada suatu daerah atau kawasan pariwisata tertentu. Oleh karena itu uraian bab ini akan menekankan pada pembahasan yang berkaitan dengan landasan teoritis dalam rangka penyusunan Feasibility Study Pengembangan Resort Hotel di sekitar Kawasan Wisata Ciwidey Kabupaten Bandung. 2.1 Pengertian-Pengertian a. Pariwisata Menurut A. Hari Karyono (1997 : 15) Pengertian pariwisata dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu : 1. Pengertian Umum Pariwisata, adalah keseluruhan kegiatan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mengatur, mengurus, dan melayani kebutuhan wisatawan. 2. Pengertian Teknis Pariwisata merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun kelompok 10 B A B II TINJAUAN PUSTAKA

Bab II Pendahuluan FS Cipondoh.doc

  • Author
    onces

  • View
    24

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Bab II Pendahuluan FS Cipondoh.doc

A

Feasibility Study Pengembangan Resort Hotel di Sekitar Kawasan Wisata Ciwidey

Feasibility Study Kawasan Wisata Situ Cipondoh

Pemahaman mengenai pariwisata menjadi sangat penting dalam rangka mengkaji, menetapkan dan mengimplementasikan kegiatan pengembangan Resort Hotel pada suatu daerah atau kawasan pariwisata tertentu. Oleh karena itu uraian bab ini akan menekankan pada pembahasan yang berkaitan dengan landasan teoritis dalam rangka penyusunan Feasibility Study Pengembangan Resort Hotel di sekitar Kawasan Wisata Ciwidey Kabupaten Bandung.

2.1 Pengertian-Pengertian

a. PariwisataMenurut A. Hari Karyono (1997 : 15) Pengertian pariwisata dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu :

1. Pengertian Umum

Pariwisata, adalah keseluruhan kegiatan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mengatur, mengurus, dan melayani kebutuhan wisatawan.

2. Pengertian Teknis

Pariwisata merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun kelompok didalam wilayah negara sendiri atau di negara lain. Kegiatan tersebut dengan menggunakan kemudahan, jasa, dan faktor penunjang lainnya yang diadakan oleh pemerintah dan atau masyarakat, agar dapat mewujudkan keinginan wisatawan. Kemudahan dalam batasan pariwisata maksudnya antara lain berupa fasilitas yang memperlancar arus kunjungan wisatawan. Misalnya dengan memberikan bebas visa, prosedur pelayanan yang cepat dipintu-pintu masuk dan keluar, tersedianya transportasi dan akomodasi yang cukup. Faktor penunjangnya adalah prasarana dan utilitas umum, seperti jalan raya, penyediaan air minum, listrik, tempat penukaran uang, pos dan telekomunikasi, dsb.

b. WisatawanOka A. Yoeti menyatakan bahwa istilah wisatawan harus diartikan sebagai seorang, tanpa membedakan ras, kelamin, bahasa dan agama, yang memasuki wilayah suatu negara yang mengadakan perjanjian yang lain daripada negara dimana orang itu biasanya tinggal dan berada disitu kurang dari 24 jam dan tidak lebih dari 6 bulan, di dalam jangka waktu 12 bulan berturut-turut, untuk tujuan non migran yang legal, seperti perjalanan wisata, rekreasi, olahraga, kesehatan, alasan keluarga, studi, ibadah keagamaan atau urusan usaha (business) (A. Hari Karyono, 1997 : 20).

c. Kawasan PariwisataKawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata (UU RI No. 9, 1990 : 2). Menurut Depparpostel kawasan pariwisata adalah suatu lahan dengan batas tertentu, yang sebagian atau seluruhnya diperuntukkan bagi pengembangan dan atau telah memiliki kelengkapan prasarana dan sarana pariwisata serta sistem pengelolaannya (Depparpostel, 1990 : 1).d. Pengembangan PariwisataPengembangan pariwisata adalah suatu usaha didalam pendayagunaan potensi sumber daya alam yang menjadikan daya tariknya sebagai objek wisata yang diharapkan dapat mendorong pengembangan objek-objek wisata lain yang berada disekitarnya sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah, serta diharapkan dapat memperluas lapangan usaha bagi masyarakat sekitar (Definisi Operasional, Rintakasari, 1996 ; 13). Sedangkan menurut Depparpostel pengembangan pariwisata merupakan suatu kegiatan yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan wilayah yang lebih luas.e. Obyek WisataObyek wisata, adalah perwujudan ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya, sejarah bangsa, keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisatawan (A. Hari Karyono, 1997 : 27).Dilihat dari Sisi penyediaan/supply pariwisata, terdapat empat komponen kegiatan yaitu (Clare A. G, 1979 ; 69) :

1. Informasi dan Promosi, motivasi untuk melakukan kunjungan wisata dapat dimiliki seseorang tetapi mungkin saja ia tidak tahu cara melakukannya. Sehingga pengetahuan terhadap daerah tujuan wisata sangat ditentukan oleh ketersediaan informasinya.2. Fasilitas, ketersediaan fasilitas pelayanan berkaitan dengan daya tarik suatu daerah tujuan wisata, seperti fasilitas transportasi yang akan membawanya dari dan ke daerah tujuan wisata yang ingin dikunjunginya, fasilitas akomodasi yang merupakan tempat tinggal sementara di tempat atau di daerah tujuan yang akan dikunjunginya, fasilitas catering service yang dapat memberikan pelayanan mengenai makanan dan minuman sesuai dengan selera masing-masing, fasilitas perbelanjaan dimana wisatawan dapat membeli barang-barang souvenir khas dari daerah wisata tersebut, dan termasuk juga infrastruktur yang baik.

3. Daya Tarik, suatu obyek wisata akan berkembang apabila mempunyai daya tarik. Faktor daya tarik inilah yang akan mendorong wisatawan untuk mengunjunginya. Daya tarik suatu daerah tujuan wisata dapat dikelompokkan dalam tiga jenis yaitu sifat khas alam, wisata buatan, dan wisata budaya. Daya tarik wisata ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya jenis atraksi wisata. Atraksi wisata menyebabkan wisatawan mengunjungi suatu lokasi.4. Aksesibilitas, jarak antara tempat tinggal dengan daerah tujuan wisata, merupakan faktor yang sangat penting. Pengembangan pariwisata sangat bergantung pada kemudahan pencapaian daerah tujuan wisata.

Untuk lebih jelasnya pendapat para pakar pariwisata mengenai faktor pembentuk daya tarik wisata disajikan pada Tabel II.1.Secara teoritis penentu kunjungan wisata adalah faktor lokasi dan faktor obyek wisata. Pengaruh faktor lokasi terhadap perkembangan pariwisata suatu wilayah dapat diungkapkan melalui penilaian rute perjalanan wisata. Jenis pariwisata yang didasarkan pada obyek wisata dapat dibedakan menjadi (Oka A. Yoeti, 1993);Tabel II.1

Faktor Pembentuk Daya Tarik Wisata Menurut Para Pakar PariwisataNoPakar PariwisataFaktor Daya Tarik

1Douglas G. PearceAktraksi wisata, transportasi, akomodasi, fasilitas dan prasarana

2RobinsonCuaca, pemandangan, fasilitas, sejarah dan budaya, aksesibilitas dan akomodasi

3Robert W. Mc IntoshSumber alam, prasarana, transportasi dan perlengkapannya, sarana dan keramah tamahan

4Charles GearingAlam, sosial budaya, sejarah dan fasilitas rekreasi

Sumber : Rangkuman dari berbagai sumbera.Cultural Tourism

Yaitu jenis pariwisata, dimana motivasi orang-orang untuk melakukan perjalanan disebabkan karena adanya daya tarik dari seni budaya suatu tempat atau daerah. Dalam hal ini, obyek yang daya tariknya bersumber pada kebudayaan, seperti peninggalan sejarah, museum, atraksi kesenian, dan obyek lain yang berkaitan dengan budaya. Jadi, obyek kunjungannya adalah warisan nenek moyang, benda-benda kuno.

b.Recuperriational Tourism

Biasanya disebut sebagai pariwisata kesehatan. Tujuan daripada orang-orang untuk melakukan perjalanan adalah untuk menyembuhkan suatu penyakit dengan kegiatan seperti mandi di sumber air panas, mandi di lumpur atau mandi susu di Eropa, mandi kopi di Jepang yang katanya membuat orang menjadi awet muda.

c.Commercial Tourism Disebut sebagai pariwisata perdagangan, karena perjalanan wisata dikaitkan dengan kegiatan perdagangan baik nasional maupun internasional, dimana sering diadakan kegiatan pameran, seminar, dan lain-lain.d.Sport Tourism

Biasanya disebut dengan istilah pariwisata olahraga. Yang dimaksud dengan jenis pariwisata ini ialah perjalanan orang-orang yang bertujuan untuk melihat atau menyaksikan suatu pesta olahraga di suatu tempat atau negara tertentu. Seperti Olympiade, All England, pertandingan tinju atau sepakbola.

e.Political Tourism

Biasanya disebut sebagai pariwisata politik, yaitu suatu perjalanan yang tujuannya untuk melihat atau menyaksikan suatu peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan suatu negara, apakah ulang tahun atau peringatan tertentu. Seperti, Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Parade 1 Mei di Tiongkok atau 1 Oktober di Rusia.

f.Social Tourism

Pariwisata sosial jangan hendaknya diasosiasikan sebagai suatu peristiwa yang berdiri sendiri. Pengertian ini hanya dilihat dari segi penyelenggaraannya saja yang tidak menekankan untuk mencari keuntungan, seperti misalnya Study Tour, Picnic atau Youth Tourism yang sekarang kita kenal dengan Pariwisata Remaja.g.Religion Tourism

Yaitu jenis pariwisata dimana tujuan perjalanan yang dilakukan adalah untuk melihat atau menyaksikan upacara-upacara keagamaan. Seperti, misalnya ikut naik Haji Umroh bagi orang yang beragama Islam, kunjungan ke Lourdes bagi orang beragama Katolik, ke Muntilan yang merupakan pusat pengembangan agama Kristen di Jawa Tengah, atau agama Hindu-Bali di Sakenan Bali.

Selain keunikan yang bernilai tinggi perlu diperhatikan kelengkapan prasarana dan sarana wisata pada obyek wisata. Prasarana adalah fasilitas yang dapat memungkinkan proses perekonomian berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya sedangkan sarana kepariwisataan adalah sarana-sarana yang memberikan pelayanan kepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan. Untuk lebih jelasnya pendapat para ahli mengenai jenis prasarana dan sarana pariwisata disajikan pada Tabel II.2.Tabel II.2

Jenis Prasarana dan Sarana Menurut Para Ahli NoLothar A. KrackSalah WahabOka A. Yoeti

1Prasarana

a. Prasarana perekonomian

Pengangkutan

Prasarana komunikasi

Utilitas

Sistem perbankan

b. Prasarana sosial

Sistem pendidikan

Pelayanan kesehatan

Faktor keamanan

PetugasPrasarana

a. Prasarana umum

b. Kebutuhan

c. Prasarana kepariwisataan

Receptive tourist plant

Residential tourist plant

Recreative and sportive plant

2Sarana

a. Sarana pokok kepariwisataan

b. Sarana pelengkap kepariwistaan

c. Sarana penunjang kepariwisataan

Sumber : Rangkuman dari berbagai sumber

Berdasarkan tabel tersebut diatas menurut Lothar A Krack (Oka A. Yoeti, 1985:172) dalam bukunya International Tourism membagi prasarana atas dua bagian, yaitu:

1. Prasarana Perekonomian:

a. Pengangkutan

Pengangkutan yang dapat membawa para wisatawan dari negara ia biasanya tinggal, ke tempat atau negara yang merupakan daerah tujuan wisata. Prasarana pengangkutan ini meliputi bus, taksi, kereta api, kapal laut dan kapal udara.

b. Prasarana komunikasi

Dengan tersedianya prasarana komunikasi akan dapat mendorong para wisatawan tidak akan ragu-ragu meninggalkan rumah dan anak-anaknya, karena tersedianya prasarana komunikasi di negara yang dikunjungi. Yang termasuk kelompok ini adalah radio, televisi, telepon, dan surat kabar.

c. Kelompok yang termasuk "Utilities"

Meliputi persediaan air minum, listrik, sumber energi, dan sistem irigasi.

d. Sistem perbankan

Yang termasuk kelompok ini adalah bank dan money changer.

2. Prasarana Sosial

a. Sistem Pendidikan

Adanya lembaga-lembaga pendidikan yang mengkhususkan diri dalam pendidikan kepariwisataan merupakan suatu usaha untuk meningkatkan tidak hanya pelayanan bagi para wisatawan, tetapi juga untuk memelihara dan mengawasi suatu badan usaha yang bergerak dalam kepariwisataan.

b. Pelayanan Kesehatan

Apabila wisatawan yang menginap di suatu hotel, sebaiknya tersedia pelayanan kesehatan untuk pertolongan pertama bila ada yang sakit. Oleh karena itu di daerah tujuan wisata perlu tersedia pelayanan kesehatan.

c. Faktor Keamanan

Perasaan tidak aman dapat terjadi di suatu tempat yang baru saja dikunjungi. Perasaan ini timbul karena :

Seringnya terjadi pencopetan, penjambretan, penodongan selama dalam perjalanan atau di tempat yang dikunjungi

Seringnya terjadi pencurian di hotel dimana ia menginap.

d. Petugas yang melayani wisatawan

Yang termasuk kedalam kelompok ini adalah petugas migrasi, petugas bea dan cukai, petugas kesehatan, polisi dan petugas-petugas lain yang berkaitan dengan pelayanan wisatawan.

Menurut Profesor Salah Wahab dalam bukunya Tourism Management (Oka A. Yoeti, 1985:178) membagi prasarana atas tiga bagian : 1. Prasarana Umum

Yaitu prasarana yang menyangkut kebutuhan orang banyak yang pengadaannya bertujuan untuk membantu kelancaran roda perekonomian. Meliputi pembangkit tenaga listrik, sistem jaringan jalan, telekomunikasi, dan sistem penyediaan air bersih.

2. Kebutuhan masyarakat banyak

Prasarana yang menyangkut kebutuhan orang banyak. Termasuk ke dalam RS, apotik, bank, dan kantor.

3. Prasarana Kepariwisataan

a. Receptive Tourist Plan

Yaitu segala bentuk badan usaha atau organisasi yang kegiatannya khusus untuk mempersiapkan kedatangan wisatawan pada suatu daerah tujuan wisata. Seperti : travel agent, tour operator, dan Tourist Information Centre.

b. Residential Tourist Plant

Yaitu semua fasilitas yang dapat menampung kedatangan para wisatawan untuk menginap dan tinggal untuk sementara waktu. Seperti : hotel, motel, dan rumah makan.

c. Recreative and Sportive Plant

Yaitu semua fasilitas yang dapat digunakan untuk tujuan rekreasi dan olahraga. Seperti : fasilitas main golf, main ski, dan kolam renang.

Sarana kepariwisataan menurut (Oka A. Yoeti dalam Pengantar Ilmu Kepariwisataan Tahun 1985:184) terbagi dalam tiga bagian, yaitu : 1. Sarana pokok kepariwisataan

Sarana pokok kepariwisataan adalah sarana yang hidup dan kehidupannya sangat tergantung kepada arus kedatangan orang yang melakukan perjalanan wisata. termasuk kelompok ini, adalah:

travel agent dan tour operator

perusahaan-perusahaan angkutan wisata

hotel dan jenis akomodasi lainnya

bar dan restoran

2. Sarana pelengkap kepariwisataan

Sarana ini adalah sarana untuk wisata yang fungsinya tidak hanya melengkapi sarana pokok kepariwisataan, tetapi yang terpenting untuk membuat wisatawan lebih lama tinggal. Yang termasuk pada kelompok ini, adalah:

a. Sarana Olahraga

lapangan tenis

lapangan golf

kolam renang

b. Sarana ketangkasan

bilyard

jackpot

3. Sarana penunjang kepariwisataan

Sarana yang disediakan agar wisatawan lebih banyak mengeluarkan atau membelanjakan uangnya ditempat yang dikunjunginya, diantaranya klub malam, dan kasino.

2.2 Dasar-Dasar Pertimbangan Pengembangan Pariwisata

Pengembangan pariwisata harus merupakan pengembangan yang berencana secara menyeluruh, sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, social dan kultural. Perencanaan tersebut harus mengintegrasikan pengembangan pariwisata ke dalam suatu program pembangunan ekonomi, fisik, dan sosial dari suatu negara. Disamping itu, rencana tersebut harus mampu memberikan kerangka kerja kebijaksanaan pemerintah, untuk mendorong dan mengendalikan pengembangan pariwisata.Konsep pengembangan kegiatan pariwisata harus diintegrasikan ke dalam pola dan program pembangunan semesta ekonomi, fisik dan sosial sesuatu Negara, karena pengembangan pariwisata saling berkait dengan sektor lain. Pengembangan pariwisata diarahkan sedemikian rupa, sehingga dapat membawa kesejahteraan ekonomi yang tersebar luas dalam masyarakat. Pengembangan pariwisata harus sadar terhadap lingkungan, sehingga pengembangannya mencerminkan ciri-ciri khas budaya dan lingkungan alam suatu negara, bukan merusak lingkungan alam dan budaya yang khas. Konsep pengembangan pariwisata akan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:a. Posisi daya tarik (Positioning)

b. Sinergi daya tarik wisata

c. Keselarasan antar sektor

d. Keselarasan lingkungan

Pertimbangan utama yang harus mendayagunakan pariwisata sebagai sarana untuk memelihara kekayaan budaya, lingkungan alam dan peninggalan sejarah, sehingga masyarakat sendiri menikmatinya dan merasa bangga akan kekayaannya itu. Pengembangan pariwisata harus diarahkan sedemikian rupa, sehingga pertentangan sosial dapat dicegah seminimal mungkin, sedapat mungkin harus menampakkan perubahan-perubahan sosial yang positif.

Keseimbangan antara ekonomi, kehidupan dan alam diperlukan untuk :

a. Meningkatkan pendapatan (standar hidup)

b. Penggunaan sumberdaya yang efektif (energy saving, recycling, dll)

c. Menjaga dan memperkaya lingkungan

d. Pengarahan amenity (leisure, comfort, contact with nature, dll)

Berdasarkan hal tersebut, beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam perumusan konsep pengembangan kawasan wisata Situ Cipondoh di Kota Tangerang, adalah sebagai berikut :

Perlunya pemisahan zoning antara kawasan wisata dengan kegiatan lainnya. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahan penafsiran dalam pelaksanaan rencana tata ruang di masa datang. Lahan yang saat ini mempunyai ikatan dengan kehidupan dan adat istiadat masyarakat setempat harus dipertahankan keberadaannya. Tujuannya adalah untuk menghindari timbulnya benturan kepentingan antara pihak pelaksana pembangunan dengan masyarakat.

Lahan yang ekologinya diperkirakan tidak stabil dan menimbulkan dampak bagi daerah sekitarnya atau lahan yang memerlukan kelestarian lingkungan dibebaskan dari peruntukan kegiatan pembangunan dan diusulkan sebagai kawasan konservasi dan preservasi. Tujuannya adalah untuk mencegah timbulnya ketidakseimbangan (mempertahankan keseimbangan) ekologi di seluruh kawasan perencanaan.

Dalam pengembangan kawasan wisata sebaiknya digunakan teknik konservasi budaya, artinya melalui pengembangan pariwisata secara langsung dapat membantu pelestarian atau bahkan menghidupkan kembali musik dan tarian misalnya kerajinan tangan, pakaian daerah, upacara adat dan gaya arsitektur daerah yang hampir punah.

Pengembangan kawasan wisata dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan pasar dan keseimbangan masyarakatnya.

Untuk mencapai optimalisasi pemanfaatan ruang sesuai dengan peranan dan fungsi yang diharapkan, batasan serta potensi yang terdapat di kawasan perencanaan, maka konsepsi pengembangannya sebagai kawasan wisata didasarkan pada kriteriakriteria berikut :

Kesesuaian lahan dan kemampuan lahan dalam mendukung pengembangan kawasan wisata

Kebutuhan ruang dan komponen dalam menampung perkembangan kegiatan pariwisata

Tingkat kemudahan hubungan intensitas kegiatan dan kecenderungan perkembangan

2.3 Konsep-Konsep Pengembangan Pariwisata2.3.1 Konsep Zonasi

Konsep zonasi ini memiliki tujuan untuk menjaga kelestarian sumberdaya yang ada di dalamnya dan turut serta memelihara lingkungan agar berkelanjutan. Berkaitan dengan konsep di atas, fasilitas yang merupakan faktor pendukung utarna suatu atraksi memerlukan penempatan yang baik. Dengan menggunakan konsep zonasi yang sesuai dapat menciptakan suatu pengembangan atraksi wisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.Menurut Inskeep (1991:432), zonasi diciptakan/ dibuat dengan maksud untuk membatasi daerahdaerah dengan jenis penggunaan lahan yang berbedabeda sehingga kepentingan masingmasing penggunaan lahan tidak bertabrakan dan lebih dapat dikendalikan serta diawasi.Selain itu juga zonasi diperlukan sebagai suatu usaha peminimalan dampak kerusakan yang mungkin ditimbulkan sebagai akibat adanya kunjungan. Zonasi ini berguna dalam membagi konsentrasi pengunjung, sehingga tidak terjadi konsentrasi di satu tempat yang dapat mengakibatkan kenyamanan pengunjung menjadi berkurang.

1. Zona Inti, merupakan main attraction suatu objek kegiatan wisata ditempatkan dan aktivitas utama harus dilengkapi pula dengan fasilitas utama.2. Zona Penyangga (Buffer Zone), berfungsi memisahkan main attraction dengan aktivitas dan fasilitas pendukung.

3. Zona Pelayanan, suatu area dimana seluruh aktivitas dan fasilitas pendukung dikelompokan seperti jaringan infrastruktur dasar, akses fasilitas, pelayanan pengunjung dan sebagainya.

Lebih jelas mengenai konsep zonasi tersebut diatas disajikan pada Gambar 2.1.

2.3.2 Konsep Aktivitas Wisata

Aktivitas wisata didefinisikan sebagai kegiatankegiatan wisata, baik berupa atraksi atau events yang ditawarkan atau tersedia di suatu obyek wisata maupun berupa kegiatan yang dapat dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung. Jenis aktivitas dapat ditentukan berdasarkan bentuk daya tarik dan potensi yang dimiliki oleh obyek wisata tersebut (Inskeep, 1991).

Salah satu dari beberapa aktivitas standar wisata yang berbasiskan air yang dikemukakan oleh Baudbovy dan Lawson (1977), bukan hanya aktivitas berenang saja yang dapat diterapkan. Selain itu ada juga aktivitasaktivitas lain (Standards for Land-Based Outdoor Recreational Activities) seperti PicknikingParks, playing fields, open space, commonsTrail activities such as: hiking, walking, bicycling, and hore riding. Miscellaneous recreational activities such as; outdoor sports (individualor team games), climbing, hunting, shooting ranges and sport centres Combined with multiple indoor sports.2.3.3 Konsep Fasilitas Wisata

Secara definitif, menurut WittMoutinho (1994:338) fasilitas obyek kegiatan wisata yang kadang juga diterminologikan sebagai amenities adalah "segala unsur-unsur yang terdapat di suatu daerah tujuan wisata, atau yang berhubungan dengannya, yang dimungkinkan digunakan bagi para pengunjung yang tidak hanya untuk sekedar tinggal dan menikmati saja, tapi juga ikut berpartisipasi dalam obyek kegiatan wisata atau atraksi tersebut."

Karakteristik obyek kegiatan wisata yang mass tourism dengan area kepadatan medium dan tinggi, menurut BaudBovy (101:1977) harus dilengkapi dengan fasilitas fasilitas sebagai berikut:

a. Fully equipped picnic sites with car parkIng,

b. Grassed area for rest, sunbathing, family groups,

c. Limited camp sites (day and weekend use and for organised youth dubs, etc),

d. Catering, recreational and cultural facilities, zoological gardens, natural history and local culture museum, etc)

e. Where posssible rivers or reservoir for fishing, swimming and other permitted water based activibiesf. At a later phase the park may include open or enclosed swimmIng pools and spot is flelds for shows and competitions.

Atraksi wisata yang berkualitas harus didukung pula dengan adanya berbagai fasilitas. Fasilitas wisata yang tersedia di suatu kawasan wisata merupakan faktor pendukung terhadap daya tarik wisata yang dimiliki, sehingga keberadaan fasilitas wisata yang fungsional dan berkualitas merupakan kondisi mutlak dalam pengelolaan suatu usaha atraksi wisata. Kemudian standar yang terdapat dalam fasilitas wisata sangat berkaitan dengan fasilitas fisik yang tersedia di kawasan wisata seperti : jumlah, jenis, kondisi atau kualitas dan daya tampung/kapasitas dari fasilitas wisata tersebut.Penyediaan jenis dan jumlah fasilitas wisata di suatu atraksi wisata harus mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut:

Karakteristik atraksl wisata,

Profil pengunjung/wisatawan,

Referensi dan permintaan pasar wisata,

Aktivitas wisata yang akan dilaksanakan oleh para pengunjung/wisatawan,

Tingkat pengembangan pariwisata yang direncanakan,

Dana pengembangan yang tersedia.

Hal ini juga didukung oleh pendapat Inskeep di bawah ini:

The basic approach for plannIng of natural tourist attractions is application of the environmental planning approach which emphasizes conservation of the natural environment as well as designing visitor facilities and organizing svisitor use that fit well into the environment and do not degrade it" (1991.,272).

Menurut Inskeep pula bahwa konservasi ini diterminologikan sebagal "Management Plan, dimana hal tersebut memiliki konsep manajemen yang selalu berkesinambungan sehingga pariwisata yang ada didalamnya dapat mendukung fungsl konservasi dan diantara keduanya bisa saling terlaksana seiring sejalan (1991:272). Mengacu pada prinsip-prinsip perencanaan, khususnya dalam perencanaan zonasi maka perlu dilakukan suatu penetapan perencanaan dan desain berbagai fasilitas yang dibutuhkan atau sesuai dengan natural attraction resources. Fasilitas yang disediakan di dalam suatu kawasan wisata sangat dibutuhkan wisatawan/pengunjung untuk mendukung aktivitas pengunjung selama pengunjung menikmati atraksi wisata yang ada.

2.3.4 Konsep Pengembangan Daya Tarik Utama

Pengembangan daya tarik utama bagi para wisatawan diarahkan dengan menjadikan Danau/Situ sebagai daya tarik utama (focus of interst) dengan didorong oleh jenis-jenis produk lainnya seperti unsur penunjang (enrichment factor). Faktor yang dapat dijadikan unsur penunjang adalah sebagai berikut 1. Wisata Alam2. Wisata Sejarah

3. Wisata Budaya

4. Wisata Pedesaan

5. Wisata Danau/Situ6. Wisata AgroUntuk lebih jelasnya disajikan pada Gambar 2.2

2.3.5 Konsep Diversifikasi Daya Tarik

Di samping penetapan ciri daya tarik utama tersebut, dapat juga dikembangkan suatu ciri daya tarik berbeda yang dimaksudkan sebagai diversifikasi produk. Pengembangan ini dilakukan secara terbatas karena bukan merupakan bagian dari konsentrasi pengembangan yang akan dijalankan.

Melihat kondisi alam yang banyak diantaranya masih asli, dapat diperkenalkan jenis wisata ekowisata. Jenis wisata ini pada umumnya diminati oleh jumlah wisatawan yang terbatas jumlahnya.

Ekowisata adalah jenis kegiatan wisata yang lebih banyak mengandalkan kepada daya tarik alam yang ada dan hanya sesedikit mungkin menampilkan segala sesuatu yang sifatnya buatan manusia, baik untuk daya tariknya maupun fasilitas-fasilitas wisata. Ekowisata dikembangkan menjadi daya tarik minor atau yang jumlahnya hanya sedikit, dan disisi lain tidak perlu dilakukan banyak upaya untuk mengembangkan kegiatan ini.A. Konsep Ekowisata (Wisata Alam)Pergeseran konsep kepariwisataan dunia kepada pariwisata minat khusus atau yang dikenal dengan Ekowisata, dimana saat ini ada kecenderungan semakin banyak wisatawan yang mengunjungi objek berbasis alam dan budaya penduduk lokal (Fandeli, 2002), merupakan peluang besar bagi negara kita dengan potensi alam yang luar biasa ini. Wisatawan cenderung beralih kepada alam dibandingkan pola-pola wisata buatan yang mereka rasakan telah jenuh dan kurang menantang.Menurut The International Ecotourism Society (2002) dalam Subadra (2007) mendifinisikan ekowisata sebagai berikut: Ecotourism is responsible travel to natural areas that conserves the environment and sustains the well-being of local people. Dari definisi ini, disebutkan bahwa ekowisata merupakan perjalanan wisata yang berbasiskan alam yang mana dalam kegiatannya sangat tergantung kepada alam, sehingga lingkungan, ekosistem, dan kerifan-kearifan lokal yang ada di dalamnya harus dilestarikan keberadaanya.Dalam perkembangan kepariwisataa secara umum, muncul pula istilah sustainable tourism atau wisata berkelanjutan. Wisata berkelanjutan dipandang sebagai suatu langkah untuk mengelola semua sumber daya yang secara sosial dan ekonomi dapat dipenuhi dengan memelihara integritas budaya, proses-proses ekologi yang mendasar, keragaman hayati, dan unsur-unsur pendukung kehidupan lainnya (Urquico, 1998 dalam Santoso, 2003). Konsep wisata yang berbasis ekologi atau yang lebih dikenal dengan Ekowisata (Fandeli 1998, Nasikun 1999 dalam Fandeli 2000), dilatarbelakangi dengan perubahan pasar global yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada negara-negara asal wisatawan dan memiliki ekspektasi yang lebih mendalam dan lebih berkualitas dalam melakukan perjalanan wisata. Konsep wisata ini disebut wisata minat khusus (Fandeli, 2000). Wisatawan minat khusus umunya memiliki intelektual yang lebih tinggi dan pemahaman serta kepekaan terhadap etika, moralitas dan nilai-nilai tertentu, sehingga bentuk wisata ini adalah pencarian pengalaman baru (Hall dan Weitler,1992). Secara umum basis pengembangan wisata minat khusus meliputi (Fandeli, 2000 ; 37);

1. Aspek alam seperti flora, fauna, fisik geologi, vulkanologi, hidrologi, hutan alam atau taman nasional.2. Objek dan daya tarik wisata budaya yang meliputi budaya peninggalan sejarah dan budaya kehidupan masyarakat.

Potensi ini selanjutnya dapat dikemas dalam bentuk wisata budaya peninggalan sejarah, wisata pedesaan dan sebagainya dimana wisatawan memiliki minat utuk terlibat langsung dan berinteraksi dengan budaya masyarakat setempat serta belajar berbagai hal dari aspek-aspek budaya yang ada.

Ekowisata merupakan perjalanan wisata ke suatu lingkungan baik alam yang alami maupun buatan serta budaya yang ada yang bersifat informatif dan partisipatif yang bertujuan untuk menjamin kelestarian alam dan sosial-budaya. Ekowisata menitikberatkan pada tiga hal utama yaitu; keberlangsungan alam atau ekologi, memberikan manfaat ekonomi, dan secara psikologi dapat diterima dalam kehidupan sosial masyarakat. Jadi, kegiatan ekowisata secara langsung memberi akses kepada semua orang untuk melihat, mengetahui, dan menikmati pengalaman alam, intelektual dan budaya masyarakat lokal (Khan, 2003).

Konsep ekowisata telah dikembangkan sejak era tahun 80-an, sebagai pencarian jawaban dari upaya meminimalkan dampak negatif bagi kelestarian keanekaragaman hayati, yang diakibatkan oleh kegiatan pariwisata. Konsep ekowisata sebenarnya bermaksud untuk menyatukan dan menyeimbangkan beberapa konflik secara objektif: dengan menetapkan ketentuan dalam berwisata; melindungi sumber daya alam dan budaya; serta menghasilkan keuntungan dalam bidang ekonomi untuk masyarakat lokal.

Dampak positifnya dari kegiatan ekowisata antara lain menambah sumber penghasilan dan devisa negara, menyediakan kesempatan kerja dan usaha, mendorong perkembangan usaha-usaha baru, dan diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat maupun wisatawan tentang konservasi

sumber daya alam, (Dephut, 2008). Selain itu dampak sosial bagi masyarakat sekitar juga berdampak seperti yang dikemukakan Suhanda (2003), bahwa konsep ekowisata yang terdiri dari komponen pelestarian lingkungan (alam dan budaya), peningkatan partisipasi masyarakat, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal, telah diperkenalkan dan dikembangkan dengan sukses di banyak negara berkembang. Pengembangan ini selalu konsisten dengan dua prinsip dasar yaitu memberi keuntungan ekonomi langsung kepada masyarakat lokal serta turut andil dalam pelestarian alam.

Drumm (2002) dalam Suhanda (2003) menyatakan bahwa ada enam keuntungan dalam implementasi kegiatan ekowisata yaitu:

1. Memberikan nilai ekonomi dalam kegiatan ekosistem di dalam lingkungan yang dijadikan sebagai obyek wisata;2. Menghasilkan keuntungan secara langsung untuk pelestarian lingkungan;3. Memberikan keuntungan secara langsung dan tidak langsung bagi para stakeholders;4. Membangun konstituensi untuk konservasi secara lokal, nasional dan internasional;5. Mempromosikan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan; dan6. Mengurangi ancaman terhadap kenekaragaman hayati yang ada di obyek wisata tersebut.

B. Sifat atau Karakter Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) Alam

Menurut Fandeli (1999), dalam Fandeli (2000), sifat dan karakter kepariwisataan alam terkait dengan ODTW Alam antara lain ;

1. In Situ ; ODTW alam hanya dapat dinikmati secara utuh dan sempurna di ekosistemnya. Pemindahan objek ke ex situ akan menyebabkan terjadinya perubahan objek dan atraksinya. Pada umumnya wisatawan kurang puas apabila tidak mendapatkan sesuatu secara utuh dan apa adanya.2. Perishable ; suatu gejala atau proses ekosistem hanya terjadi pada waktu tertentu. Gejala atau proses alam ini berulang dalam burun waktu tertentu, kadang siklusnya beberapa tahun bahkan ada puluhan tahun atau ratusan tahun. ODTW alam yang demikian membutuhkan pengkajian dan pencermatan secara mendalam untuk dipasarkan.3. Non Recoverable ; suatu ekosistem alam mempunyai sifat dan perilaku pemulihan yang tidak sama. Pemulihan secara alami sangat tergantung dari faktor dalam (genotype) dan faktor luar (phenotype). Pemulihan secara alami terjadi dalam waktu panjang, bahkan ada sesuatu objek yang hampir tak terpulihkan, bila ada perubahan. Untuk mempercepat pemulihan biasanya dibutuhkan tenaga dan dana yang sangat besar, apabila upaya ini berhasil tetapi tidak akan sama dengan kondisi semula.4. Non Substitutable ; didalam suatu daerah atau mungkin kawasan terdapat banyak objek alam, jarang sekali yang memiliki kemiripan yang sama.

Pengelolaaan ODTW alam dengan sifat dak karakter In Situ,cenderung memiliki daya tarik tersendiri. ODTW alam ini biasanya mempunyai keterikatan yang kuat dengan habitat (ekosistem asli). Kita dapat melihat Onta di kebun binatang Gembira Loka Yogyakarta, namun kita akan merasa lebih puas jika datang ke habitatnya di benua Afrika. Kita akan merasa lebih puas melihat gadjah seperti di Suaka Marga Satwa Tesso Nilo. Provinsi Riau. Karena selain atraksi juga ekosistem alami juga dapat kita nikmati. Pengelolaan dengan pendekatan ekosistem inilah sebenarnya yang perlu dilakukan dalam rangka pelestarian sifat ODTW alam secara In Situ.

Muntahan lahar dan awan panas dari kawah gunung Merapi di tahun 2006 sampai 2007 merupakan momen yang menarik juga untuk dijadikan ODTW alam. Momen ini jarang terjadi dan dalam kurun waktu yang lama. Terlepas dari fenomena tersebut merupakan suatu bencana alam, namun tantangan bagi kita untuk mengemasnya sehingga memberikan nilai kemanfaatan terhadap sifat ODTW alam yang Perisable ini. Sifat dan karakter ODTW alam yang Non Recoverable membawa konsekwensi bahwa didalam pengelolaan ODTW alam hendaknya diperhatikan betul permasalahan daya dukung ODTW alam tersebut.

Disinlah perlunya pengelolaan yang berimbang antara tujuan ekonomi dan lingkungan alam ODTW tersebut. Jika pengelolaanya melebihi daya dukung baik sarana maupun jumlah pengunjung, maka akan terjadi perubahan ekosistim, akan sulit untuk diperbaiki, bagaimanapun usaha perbaikan itu tidak akan bisa mengembalikan kepada ekosistem yang asli. Upaya yang ideal adalah menjaga keseimbangan ekosistem tersebut agar tidak melebihi daya dukung lingkungan ODTW alam bersangkutan.

C. Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata Alam

Setelah mengetahui dan memahami karakter dan sifat dari ODWT alam, maka barulah dapat disusun suatu kajian pengelolaan wisata alam dengan melibatkan semua pihak terkait. Pemahaman ekowisata juga tidak hanya terfokus pada ODTW, namun juga aspek lain yang memerlukan kajian seperti, daya dukung lingkungan wisata. Semuanya dipadukan dalam suatu rancangan yang disebut RIPPOW (Rencana Induk Pengelolaan dan Pengembangan Objek Wisata). Azas kemanfaatan dari ODTW alam dapat tercapai melalui pengelolaan dan pengusahaan yang benar dan terkoordinasi, baik lintas sektoral maupun swasta yang berkaitan dengan pengembangan kegiatan ekowisata, misalnya kepariwisataan, biro perjalanan, pemerintah daerah, lingkungan hidup, dan lembaga swadaya masyarakat (Dephut,2008).

Kesuksesan pengembangan ekowisata sangat ditentukan oleh peran dari masing-masing pelaku ekowisata yaitu; industri pariwisata, wisatawan, masyarakat lokal, pemerintah dan instansi non pemerintah, dan akademisi. Para pelaku ekowisata mempunyai peran dan karakter tersendiri yaitu(France, 1997 dalam Suhanda, 2003).:

1. Industri pariwisata yang mengoperasikan ekowisata merupakan industri pariwisata yang peduli terhadap pentingnya pelestarian alam dan keberlanjutan pariwisata dan mempromosikan serta menjual program wisata yang berhubungan dengan flora, fauna, dan alam.2. Wisatawannya merupakan wisatawan yang peduli terhadap lingkungan. 3. Masyarakat lokal dilibatkan dalam perencanaan, penerapan dan pengawasan pembangunan, dan pengevaluasian pembangunan. 4. Pemerintah berperan dalam pembuatan peraturan-peraturan yang mengatur tentang pembangunan fasilitas ekowisata agar tidak terjadi eksploitasi terhadap lingkungan yang berlebihan.5. Akademisi bertugas untuk mengkaji tentang pengertian ekowisata dan mengadakan penelitian untuk menguji apakah prinsip-prinsip yang dituangkan dalam pengertian ekowisata sudah diterapkan dalam prakteknya. Pembangunan ekowisata yang berkelanjutan dapat berhasil apabila karakter atau peran yang dimiliki oleh masing-masing pelaku ekowisata dimainkan sesuai dengan perannya, bekerjasama secara holistik di antara para stakeholders, memperdalam pengertian dan kesadaran terhadap pelestarian alam, dan menjamin keberlanjutan kegiatan ekowisata tersebut.

Dalam pengelolaan ODTW alam, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan pengelolaannya diantaranya finansial, pemasaran produk serta aspek koordinasi. Murkana (1997) menyebutkan Faktor utama yang menjadi persoalan dalam pengembangan objek dan daya tarik wisata pada umumnya terkendala pada aspek finansial.

Biasanya investor bersedia menginvestasikan modalnya untuk pengembangan objek dan daya tarik wisata yang mempunyai potensi untuk dikembangkan. Tantangan yang umum dihadapi dalam bidang ekowisata antara lain: pertama, soal pemasaran yang tentunya terkait dengan jejaring atau kemitraan dengan pelaku wisata lain; kedua, kualitas SDM dalam pengelolaan kegiatan ekowisata di tingkat desa atau akar rumput (grassroot); ketiga, yang tak kalah penting adalah menjaga keselarasan antara misi peningkatan taraf sosial-ekonomi masyarakat lokal dengan pelestarian sumber daya hayati, (santoso, 2003). Sementara itu Dephut, (2008) menambahkan bahwa kendala dalam pengembangan ODTW alam berkaitan dengan Instrumen kebijaksanaan dalam pemanfaatan dan pengembangan fungsi kawasan untuk mendukung potensi ODTW alam, Efektifitas fungsi dan peran ODTW alam ditinjau dari aspek koordinasi instansi terkait, kapasitas institusi dan kemampuan SDM dalam pengelolaan ODTW alam di kawasan hutan, serta mekanisme peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata alam.

Strategi pengembangan ODTW alam meliputi pengembangan (Dephut,2008);

1. Aspek Perencanaan Pembangunan ODTW alam yang antara lain mencakup sistem perencanaan kawasan, penataan ruang (tata ruang wilayah), standarisasi, identifikasi potensi, koordinasi lintas sektoral, pendanaan, dan sistem informasi ODTW alam.2. Aspek Kelembagaan meliputi pemanfaatan dan peningkatan kapasitas institusi, sebagai mekanisme yang dapat mengatur berbagai kepentingan, secara operasional merupakan organisasi dengan SDM dan PP yang sesuai dan memiliki efisiensi tinggi.3. Aspek Sarana dan Prasarana yang memiliki dua sisi kepentingan, yaitu (1) alat memenuhi kebutuhan pariwisata alam, (2) sebagai pengendalian dalam rangka memelihara keseimbangan lingkungan, pembangunan sarana dan prasarana dapat meningkatkan daya dukung sehingga upaya pemanfaatan dapat dilakukan secara optimal.4. Aspek Pengelolaan, yaitu dengan mengembangkan profesionalisme dan pola pengelolaan ODTWA yang siap mendukung kegiatan pariwisata alam dan mampu memanfaatkan potensi ODTWA secara lestari.5. Aspek Pengusahaan yang memberi kesempatan dan mengatur pemanfaatan ODTWA untuk tujuan pariwisata yang bersifat komersial kepada pihak ketiga dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.6. Aspek Pemasaran dengan mempergunakan teknologi tinggi dan bekerja sama dengan berbagai pihak baik dalam negeri maupun luar negeri.7. Aspek Peran Serta Masyarakat melalui kesempatan-kesempatan usaha sehingga ikut membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.8. Aspek Penelitian dan Pengembangan yang meliputi aspek fisik lingkungan, dan sosial ekonomi dari ODTWA. Diharapkan nantinya mampu menyediakan informasi bagi pengembangan dan pembangunan kawasan, kebijaksanaan dan arahan pemanfaatan ODTWA.

2.3.6 Konsep Struktur Tata Ruang

Sesuai dengan kaidah perencanaan yang baik, penataan suatu wilayah harus mempertimbangkan unsur-unsur keterpaduan dan menyeluruh (holistik). Berdasarkan hal itu, upaya pengembangan kegiatan pariwisata di Situ Cipondoh harus dilakukan dengan memandang Kota Tangerang sebagai satu wilayah pengembangan. Implikasinya adalah semua komponen penunjang ditata sebagai satu kesatuan yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Penetapan struktur ruang merupakan penjabaran spatial dari strategi pengembangan yang diambil, dan dimaksudkan untuk :

1. Memaksimalkan peluang kedatangan wisatawan melalui penciptaan kemudahan kunjungan.

2. Mengefektifkan upaya pengembangan kegiatan pariwisata melalui aglomerasi-aglomerasi kegiatan dan alokasi fasilitas penunjang secara efisien.

3. Meningkatkan citra daya tarik wisata Situ Cipondoh melalui sediaan produk yang menarik, serta pelayanan yang berkualitas.

4. Memberi kejelasan kepada berbagai pihak terkait dengan industri pariwisata dan menyelaraskan dengan rencana pengembangan sektor-sektor kegiatan lainnya.

Ada 3 unsur strategis yang ditetapkan untuk membentuk struktur ruang kegiatan yaitu:

a.Simpul-simpul Pengembangan, yang merupakan cluster-cluster daya tarik wisata, berfungsi sebagai suatu kesatuan wilayah pengembangan kegiatan wisata dimana di dalamnya:

Terdapat kumpulan berbagai objek/daya tarik wisata.

Sebagai pusat pelayanan kepada wisatawan.

Sebagai tempat pengembangan usaha-usaha pariwisata.

Sebagai pusat pelayanan kepada wisatawan, pada tiap Simpul Pengembangan harus memiliki fasilitas pelayanan yang bersifat menunjang akrtivitas wisata, yaitu:

Akomodasi

Logistik

Transportasi

Informasi dan komunikasi

Rekreasi

Simpul pengembangan dengan demikian merupakan suatu kutub pertumbuhan kegiatan pariwisata dan suatu wilayah. Sebagai kutub pertumbuhan, tidak diberikan suatu batasan wilayah yang tegas, sebaliknya diharapkan kutub tersebut akan terus membesar sejauh hal itu memberi keuntungan kepada wilayah secara keseluruhan. Simpul pengembangan juga bukan merupakan suatu alokasi wilayah yang secara eksklusif hanya diperuntukkan bagi pengembangan kegiatan tertentu.

b. Pintu Gerbang Wilayah, sesuai dengan namanya, akan menjadi tempat keluar-masuknya wisatawan dari dan ke suatu wilayah. Penetapan suatu titik sebagai pintu gerbang adalah bersangkut-paut dengan ketersediaan prasarana perhubungan antar wilayah serta posisi wilayah-wilayah luar yang akan dipandang menjadi sumber wisatawan.

Pintu Gerbang Wilayah juga menjadi titik lokasi yang memberi kesadaran kepada wisatawan mengenai identitas dari suatu wilayah yang akan dimasuki. Dengan demikian pintu gerbang dapat juga berfungsi memberikan citra/impresi mengenai suatu wilayah kepada wisatawan yang datang, sebagai "kesan pertama" yang akan membantu wisatawan dalam mengapresiasi berbagai daya tarik yang ada di dalam wilayah tersebut.

c. Koridor Penghubung, berfungsi menjadi jalur pergerakan wisatawan sejak kedatangan dan pergerakan antar Simpul Pengembangan. Jika pada masing-masing Simpul Pengembangan pergerakan wisatawan adalah merupakan perjalanan jarak pendek yaitu dari tempat akomodasi ke berbagai lokasi objek wisata dan daya tarik lainnya, maka pergerakan wisatawan di Koridor Penghubung merupakan suatu perjalanan jarak jauh. Perbedaan sifat perjalanan ini memerlukan jenis pelayanan yang berbeda.2.4 Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota TangerangA. Struktur Ruang Kota Tangerang

Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Kota Tangerang menunjukkan wilayah kota sekitar lokasi Situ Cipondoh tidak ada yang berfungsi sebagai Wilayah Pengembangan Industri, sehingga tidak terdapat potensi pencemaran air limbah industri yang memasuki perairan situ. Namun Wilayah Pengembangan Terpadu dan wilayah Perumahan Menengah berada di sekitar situ, yaitu di kecamatankecamatan Tangerang, Pinang dan Cipondoh, serta Cilidug dan Larangan. Oleh karena itu air limbah yang berpotensi memasuki perairan Situ Cipondoh berasal dari perumahan dan perdagangan. Selain itu Pengembangan Kawasan Pertanian dan Wisata berada di Kec.Cipondoh dan Kec.Pinang, sehingga limbah kegiatan pertanian dan wisata juga berpotensi memasuki perairan situ.Gambar 2.3

Konsep Struktur Tata Ruang Pariwisata

RDTR Kecamatan Cipondoh tahun 2004-2014 menunjukkan daerah ini memiliki peran yang besar dalam memperbaiki citra kota di kecamatan itu sendiri. Prioritas penataan kawasan pada Wilayah perencanaan Kecamatan Cipondoh dibagi menjadi beberapa kawasan, yaitu :

1. Kawasan Situ Cipondoh

2. Kawasan Perumahan

3. Ruang Terbuka Hijau

4. Kawasan perbatasan antara Kecamatan Cipondoh dan DKI Jakarta

5. Kawasan Home Industri

Kawasan Situ Cipondoh merupakan kawasan intensif, yang secara fisik masih memiliki luas dan karakteristik sebagai situ dan masih berfungsi sebagai reservoir. Kawasan ini ditetapkan sebagai situ dan mempunyai kekuatan hukum secara jelas. Kawasan ini juga merupakan prioritas pengembangan utama dan sangat mendesak untuk segera dilakukan upaya-upaya konservasi.

Perlu pula dicermati dan antisipasi, agar Kawasan Home Industri pada Kecamatan Cipondoh tidak menghasilkan atau membuang limbah menuju Situ Cipondoh.Tabel II.3

Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Kota TangerangNOWILAYAH FUNGSIONALJENIS KEBIJAKAN POKOK PENGEMBANGAN

1Wilayah Pusat Kota Pusat Kota berada di Kecamatan Tangerang

Pusat pelayanan di bagian kota tersebar di setiap kecamatan

2Wilayah Pengembangan Industri Industri utama di Kecamatan Jatiuwung

Industri pendukung di Kecamatan Cibodas dan Periuk

Jasa lainnya pendukung sektor industri di Kec.Karang Tengah dan Karawaci

3Wilayah Pengembangan Terpadu Pengembangan jasa dan perdagangan di Kec.Ciledug dan Larangan

Pengembangan kawasan pertanian dan wisata di Kec.Cipondoh, Pinang dan Karawaci

Penyediaan pelayanan publik dan angkutan dan transportasi di Kec.Karawaci

4Wilayah Perumahan Menengah Pengembangan perumahan menengah di Kec.Cipondoh dan Ciledug

Peremajaan kota di Kec.Tangerang

Rumah susun industri di Kec.Jatiuwung

5Wilayah Pengembangan Terbatas Pengembangan terbatas dan pertanian kota di Kec.Neglasari, Batuceper dan Benda

Hunian khusus terbatas di Kec. Benda

Sumber: RPJM Kota Tangerang Tahun 2004-2008 dan RTRW Kota Tangerang Tahun 2000-2010 dalam Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Tangerang Tahun 2007.

Gambar 2.4 Peta Letak Situ Cipondoh

B.Tinjauan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan CipondohSitu atau Danau adalah salah satu bentuk ekosistem yang menempati daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi dibandingkan dengan habitat laut dan daratan. Bagi manusia kepentingannya jauh lebih berarti dibandingkan dengan luas daerahnya. Keberadaan ekosistem danau memberikan fungsi yang menguntungkan bagi kehidupan manusia. Beberapa fungsi danau secara ekosistem adalah sebagai berikut :

a. Sebagai sumber plasma nutfah yang berpotensi sebagai penyumbang bahan genetik;

b. Sebagai tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora/fauna yang penting,

c. Sebagai sumber air yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat sekitarnya (rumahtangga, industri dan pertanian);

d. Sebagai tempat penyimpanan kelebihan air yang berasal dari air hujan, aliran permukaan, sungai-sungai atau dari sumber-sumber air bawah tanah;

e. Memelihara iklim mikro, di mana keberadaan ekosistem danau dapat mempengaruhi kelembaman dan tingkat curah hujan setempat;

f. Sebagai sarana tranportasi untuk memindahkan hasil-hasil pertanian dari tempat satu ke tempat lainnya;

g. Sebagai sarana rekreasi dan objek pariwisata.

Sebagai sumber air paling praktis, danau sudah menyediakannya melalui terkumpulnya air secara alami melalui aliran permukaan yang masuk ke danau, aliran sungai-sungai yang menuju ke danau dan melalui aliran di bawah tanah yang secara alami mengisi cekungan dimuka bumi ini. Bentuk fisik danaupun memberikan daya tarik sebagai tempat membuang yang praktis.

Jika semua dibiarkan demikian, maka akan mengakibatkan danau tak akan bertahan lama berada di muka bumi. Saat ini terlihat ekosistem danau tidak dikelola sebagaimana mestinya. Sebaliknya, untuk memenuhi kepentingan manusia, lingkungan sekitar danau diubah untuk dicocokkan dengan cara hidup dan cara bermukim manusia, atau bahkan kawasan ini sering dirombak untuk menampung berbagai bentuk kegiatan manusia seperti permukiman, prasarana jalan, saluran limbah rumah tangga, tanah pertanian, rekreasi dan sebagainya. Sehingga seringkali terjadi pemanfaatan danau dan konservasi danau yang tidak berimbang, dimana pemanfaatan danau lebih mendominasi sumberdaya alam danau dan kawasan daerah aliran sungai (watershed). Hal ini mengakibatkan danau berada pada kondisi suksesi, yaitu berubah dari ekosistem perairan ke bentuk ekosistem daratan. Pendangkalan akibat erosi, eutrofikasi merupakan penyebab suksesi suatu perairan danau. Hilangnya ekosistem danau mengakibatkan kekurangan cadangan air tanah pada suatu kawasan/wilayah yang bakal mengancam ketersediaan air bersih bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Akibatnya, keberlanjutan suatu lingkungan hidup yang didalamnya terdapat manusia dan alam terancam tak dapat berlanjut. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian menyeluruh mengenai pola dan struktur pemanfaatan ruang di kawasan danau ini, yang kemudian dimanifestasikan menjadi peraturan daerah ke dalam bentuk Rencana Tata Ruang Kawasan Danau.

1. Konsep Pengembangan Kawasan Situ Cipondoh

Berdasarkan kebijakan pemanfaatan ruang didalam RTRW Kota Tangerang, Situ Cipondoh merupakan kawasan khusus yang memiliki fungsi sebagai pengendali banjir, irigasi, cadangan air baku dan kawasan rekreasi. Mengingat fungsi tersebut maka konsep yang sesuai untuk pengembangan Kawasan Situ Cipondoh diarahkan pada konsep Waterfront City..

Waterfront City artinya kota yang menghadap ke air. Untuk kawasan Situ Cipondoh, konsep Waterfront City berarti konsep pemukiman yang menempatkan Situ Cipondoh sebagai halaman dan menempatkan halaman tersebut untuk kepentingan publik dan dikelola sedemikian rupa sehingga dapat menjadi sumber dana untuk biaya pemeliharaan kebersihan, keteduhan, keindahan dan keberfungsian Situ Cipondoh untuk keberlanjutan.Kegiatan ekonomi masyarakat sebagai salah satu karakter yang melekat pada masyarakat di kawasan ini akan turut membentuk konsep waterfront city ini. Selain itu, kepemilikan lahan dan aktivitas ekonomi masyarakat merupakan prerogatif masyarakat setempat untuk digunakan. Dengan demikian, pengembangan konsep ini juga akan mencoba untuk melibatkan kehidupan masyarakat setempat, dan memberdayakan potensi alami yang dimilikinya. 2. Arahan Pemanfaatan Lahan

Penetapan blok peruntukan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran, ukuran, ungsi dan karakteristik kegiatan masyarakat setempat. Zonasi Kawasan Situ Cipondoh dibagi kedalam 7 blok peruntukan, yaitu :

a. Blok pemukiman, merupakan blok-blok yang terdiri dari kelompok rumah beserta fasilitas umum dan fasilitas sosial yang terdapat didalamnya. Sebagaimana yang diatur dalam RDTR Kecamatan Cipondoh dan RDTR Kecamatan Pinang, maka blok ini adalah blok pemukiman kepadatan rendah.

b. Blok perdagangan dan jasa, merupakan blok yang terdiri dari bangunan-bangunan dengan fungsi utama bagi kegiatan berdagang dan jasa, baik jasa wista maupun jasa perkantoran pelayanan publik. Termasuk dalam blok ini adalah bangunan rumah/pertokoan yang sekaligus berfungsi sebagai usaha, misalnya rumah yang menjadi tempat usaha makan.

c. Blok Akomodasi Wisata, merupakan blok yang terdiri dari bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai fasilitas wisata, terutama hotel, penginapan, losmen, rumah makan, warung dan lain-lain.

d. Blok Pemerintahan, merupakan blok yang dijadikan sebagai kawasan pusat kegiatan pemerintahan pada skala kecamatan.

e. Blok Fasilitas Wisata, merupakan blok yang dijadikan sebagai komponen penunjang pergerakan wisata. Termasuk dalam blok fasilitas wisata ini adalah terminal, fasilitas parkir dan dermaga.f. Blok Ruang Terbuka Hijau, sebagai upaya menyelamatkan kondisi yang masih dapat diselamatkan dan memperbaiki kondisi yang sudah rusak. Pada blok ini nantinya, wisatawan dan masyarakat dapat menikmati pemandangan danau. Pada blok ini dimungkinkan pembangunan permanen, misalnya pembangunan jalan setapak dengan sistem paving block, namun tetap memperhatikan fungsi lindung sempadan danau dan estetika lingkungan. Dimungkinkan pula untuk pengembangan bangunan-bangunan yang sifatnya monumental, yang memiliki ciri khas arsitektural atau fungsi yang khas, misalnya rumah khas daerah setempat. Pengembangan bangunan ini diarahkan sedemikian rupa dengan fokus orientasi danau dan tidak lepas dari konsep Waterfront City.

g. Blok Pertanian, terdiri dari persawahan, perkebunan dan perikanan (keramba/jala apung), dan lain-lain.

C. Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Pinang

1. Strategi Pengembangan Tata Ruang Situ Cipondoh

Berdasarkan kebijakan pemanfaatan ruang dalam RTRW Kota Tangerang maka strategi yang sesuai di Kawasan Situ Cipondoh adalah sebagai kawasan konservasi air sekaligus bagian dari potensi pengembangan wisata air

1. Kawasan rekreasi Situ Cipondoh, diusulkan untuk dikembangkan di sekitar Perumahan Cipondoh Indah atau bagian barat muka Situ Cipondoh. Kegiatan yang akan dikembangkan mencakup resort wisata bernuansa perdesaan, hotel dan restoran serta taman bermain (RTH).

2. Kawasan permukiman dengan kepadatan rendah dan KDB direncanakan untuk dikembangkan di bagian selatan dari Situ Cipondoh, sebagai upaya penjabaran konservasi Situ Cipondoh dengan mengembangkan konsep rumah taman, dimana ruang terbuka hijau lebih dominan dibandingkan kawasan perumahan yang akan dibangun.

3. Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) diarahakan untuk dikembangkan di sepanjang jalur jalan, daerah dibawah jaringan SUTT, kawasan sekitar situ, sungai, bahu jalan

2. Rencana Pemanfaatan Lahan

a. Rencana Pemanfaatan Lahan Untuk Perumahan Sekitar Situ Cipondoh di Kecamatan Pinang

Kecamatan Pinang merupakan kecamatan yang akan dijadikan lokasi pengembangan untuk perluasan 2 perumahan besar yaitu: Perumahan Banjar Wijaya dan Moderland. Oleh karena itu pengembangan perumahan dengan kepadatan rendah direncanakan akan dibangun daerah ini. Sedangkan perumahan kepadatan tinggi direncanakan akan dibangun pada beberapa perkampungan penduduk yang telah ada. Peningkatan aksesibilitas harus dapat meminimalkan dampak kerusakan ekosistem disekitar daerah resapan air Situ Cipondoh

b. Rencana Pengembangan Prasarana Air Limbah

Limbah cair atau waste water merupakan produk definit yang dihasilkan dari kegiatan domestik/ rumah tangga dan juga kegiatan di lingkungan industri. Sehingga jenis limbah dibagi menjadi dua yaitu: limbah domestik (permukiman) dan limbah non domestik (industri, perkantoran, Untuk itu pengelolaan limbah cair harus dilakukan secara tepat agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan masyarakat.

Limbah cair dapat dikelola secara on site maupun off site, tergantung pada jenis besarnya debit limbah cari yang dihasilkan. Sistem terpusat masih dibagi lagi menjadi beberapa jaringan penyaluan limbah yaitu sistem jaringan perpipaan, siste pengaliran (hidraulis) yaitu melalui pemompaan, sistem IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yaitu dengan teknologi proses kimia dan biologi, Sementara Sistem Setempat (On-Site) merupakan sistem pengolahan air limbah dengan pengumpulan dan penyimpanan di tempat yang sama, dan dapat bersifat indiviual seperti jamban keluarga/MCK umum, maupun tanki septik atau cubluk.

Untuk wilayah perencanaan, sistem pembuangan air limbah cair domestik sebagian besar masih mengaplikasikan sistem setempat (on-site) dengan menggunakan tangki septik atau juga dialirkan ke penampungan yang memang sengaja dibuat masyarakat sebagai tempat pembuangan seperti lahan-lahan kosong yang memiliki resapan tinggi seperti bekas sawah maupun tegalan atau jaringan drainase yang ada seperti parit/saluran air.

Tangki septik merupakan salah satu unit pengolahan air limbah sederhana yang dapat dibangun dan patut dimiliki oleh setiap rumah tangga. Dengan adanya individual waste treatment ini maka beban limbah yang diterima oleh jaringan drainase kota akan sangat berkurang dan potensi pencemaran drainase alam seperti sungai atau danau akan terminalisasi. Berikut adalah gambar teknik dari tangki septik konvensional yang dapat dibangun di rumah.

Limbah cair non domestik di wilayah perencanaan dikategorikan sebagai buangan dari industri kecil dan besar, pertokoan, perkantoran serta kawasan komersil lainnya. Bagi industri kecil, limbahnya dialirkan ke parit dan saluran drainase yang melewati kawasan tersebut. Sedangkan limbah cari yang dihasilkan oleh pertokoan dan perkantoran sebagian besar pembuangannya mengikuti pola pembuangan limbah cair domestik dengan mengalirkannya ke tangki septik ataupun jaringan draiinase. Industri besar seperti PT. Tifico dan PT. Surya Toto sudah memiliki unit pengolah limbah cair (Waste Water Treatment Plant) sendiri, sehingga limbah cair yang dihasilkan tidak langsung dialirkan ke saluran drainase namun diolah dahulu untuk menghasilkan buangan yang tidak berbahaya bagi lingkungan.

Jumlah penduduk yang terus meningkat sudah pasti juga mempengaruhi jumlah limbah cair yang dihasilkan. Untuk menentukan proyeksi volume limbah cair yang dihasilkan dapat dihitung berdasarkan standar departemen pekerjaan umum tahun 1987 mengenai pedoman perencanaan lingkungan permukiiman kota. Di dalam standar itu diasumsikan limbah cair yang dihasilkan sebesar 19 liter/orang/hari, sehingga proyeksi volume limbah cair yang dihasilkan di Kecamatan Pinang dapat dilihat pada tabel berikut.

Volume limbah cair domestik berbanding lurus dengan jumlah penduduk, sehingga volume limbah cair terbesar dihasilkan oleh kelurahan dengan jumlah penduduk terbanyak, yaitu Kelurahan Kunciran Indah. Dengan jumlah penduduk sebesar 59.358 jiwa pada tahun 2015, volume limbah cair di Kelurahan Kunciran Indah sebesar 1128 m3/hari atau sekitar 33% dari total limbah cair kecamatan. Sedangkan volume limbah terkecil terdapat di Kelurahan Pakojan sebesar 96 m3/hari atau sekitar 2,8% dari total limbah cair kecamatan.

1. Penangangan air limbah rumah tangga direncanakan akan dilakukan secara individu maupun secara terpadu/komunal.

2. Pengelolaan secara individual dapat dilakukan dengan pembuatan tangki septik, cubluk, dan sebagainya (off site system), kemudian diangkut oleh truk penyedot dan diolah dibangunan tinja sebelum dibuang ke sungai.

3. Pengelolaan secara komunal dilakukan dengan suatu sistem jaringan-jaringan air limbah yang langsung menuju ke instalasi pengolahan air limbah dari rumah-rumah atau bangunan lainnya (on site siystem).

4. Jaringan air limbah harus merupakan saluran tertutup yang dibuat terpisah dengan saluran air hujan.

5. Rencana pengembangan prasarana air limbah di Kecamatan Pinang ke depan lebih menekankan pada sistem pengelolaan komunal (on site system) melalui penambahan IPAL baru.

Tabel II.4 Proyeksi Volume Limbah Cair Wilayah Kecamatan Pinang

No.KelurahanJumlah PendudukVolume Limbah Cair

(m3/hari)

2010201520102015

1Panunggangan Utara15.43714.682293279

2Panunggangan7.5026.523143124

3Panunggangan Timur4.6305.33588101

4Kunciran11.04113.272210252

5Kunciran Indah39.96659.3587591128

6Sudimara Pinang11.10310.363211195

7Pinang22.00332.999418627

8Noroktog13.26814.604252277

9Kunciran Jaya6.2457.276119138

10Pakojan4.8565.0429296

11Cipete8.90210.117169192

Jumlah144.953179.57127543412

Sumber: RDTR Kecamatan Pinang tahun 2005 -2015

c. Penataan Kawasan Konservasi dan Wisata Situ Cipondoh.

Pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Situ Cipondoh sampai saat ini telah mengakibatkan semakin kecilnya luas permukaan air Situ Cipondoh. Keberadaan situ secara fungsional tidak hanya sebagai areal resapan atau fungsi ekologis tetapi juga dapat memberikan peran yang lebih terhadap keindahan sebuah wilayah. Oleh sebab itu keberadaan Situ Cipondoh perlu dipertahankan dan dilestarikan tidak hanya untuk kepentingan wilayah sekitarnya tetapi juga kepentingan wilayah Kota Tangerang dan sekitarnya.

Di dalam RDTR Kecamatan Cipondoh tahun 2004, fungsi dan peran utama Situ Cipondoh adalah sebagai tempat penampungan air (cacthment area). Pada kawasan ini juga akan dikembangkan ruang terbuka dengan penetapan Garis Sempadan Situ (GSS) antara 0 sampai 50 meter yang merupakan green belt layer pertama sebagaimana tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Penetapan Garis Sempadan dalam Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang.

Belum adanya pelayanan air bersih dari PDAM mengakibatkan sebagian penduduk menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih. Dalam hal ini keberadaan Situ Cipondoh sangat berperan sebagai areal tempat penampungan air hujan yang bersumber dari kantung-kantung air disekitarnya. Namun sebagian dari wilayah perairan Situ Cipondoh saat ini telah dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman, sehingga menyebabkan berkurangnya luas permukaan Situ Cipondoh demikia pula luas areal resapan menjadi berkurang. Akibat dari semakin mengecilnya permukaan lahan pada musim hujan permukaan air situ meluap sehingga dapat menggenangi kawasan perumahan disekitarnya.

Beberapa kebijakan yang diberlakukan dalam penanganan Kawasan diantaranya Permen PU Nomor 63/PRT/1993, Perda Nomor 8 Tahun 1994 dan Perda Nomor 19 Tahun 1994, menyebutkan bahwa:

1. Layer pertama green belt layer yaitu menetapkan Garis Sempadan Situ antara 0 sampai 50 meter

2. Layer kedua dikembangkan sebagai sarana rekreasi dengan radius 50 meter sampai 200 meter.

3. Layer ketiga dikembangkan sebagai kawasan permukiman dengan kepadatan rendah dan pembangunan kanal-kanal untuk menjaga resapan air tanah setempat.

Kondisi fisik Situ Cipondoh saat ini sangat menghawatirkan baik secara kualitas maupun kuantitas. Pemanfaatan lahan di Situ Cipondoh sangat menyimpang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Kerusakan lingkungan yang terjadi terutama disebabkan oleh pengurugan dan polusi sampah di areal perairan situ. Apabila proses ini tidak diantisipasi maka keberadaan Situ Cipondoh berangsur-angsur akan punah menjadi daratan.

Kegiatan yang berlangsung di Situ Cipondoh saat ini adalah tempat pemancingan umum, beberapa rumah makan, pedagang keliling, dan kaki lima yang berjualan secara tidak permanen. Yang cukup memprihatinkan pula adalah perairan Situ Cipondoh sudah dipenuhi tumbuhan eceng gondok, meskipun secara berkala tumbuhan tersebut dibersihkan.

Potensi yang dimiliki Kawasan Situ Cipondoh untuk dikembangkan menjadi berbagai fungsi kegiatan sangat besar dan diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap Pendapatan Asli Daerah. Penataan Situ Cipondoh merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Banten sehingga ini merupakan kendala bagi Pemda Kota Tangerang untuk lebih mengoptimalkan pengembangan kawasan Situ Cipondoh.

Beberap fungsi kegiatan utama yang dapat dikembangkan di kawasan Situ Cipondoh adalah ruang terbuka hijau, tempat bermain, areal rekreasi, olah raga air perdagangan (kios souvernir) dan rumah makan.

D. Kebijakan Pemerintah Tentang Pengelolaan Situ-Situ Di Jabotabek

Kebijakan pengelolaan situ di wilayah Jabodetabek diperlukan sebagai landasan untuk mendorong terlaksananya strategi dan rencana aksi yang bertujuan untuk mengurangi dan mengendalikan banjir, mengatasi kekeringan dan krisis air serta menjaga keseimbangan ekosistem untuk menjamin dinamika kehidupan dan kepentingan seluruh masyarakat.

Saat ini, Pemerintah telah melakukan upaya dalam rangka pengelolaan situ di wilayah Jabodetabek antara lain menerbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1998 tentang Pembinaan Situ-situ di Wilayah Jabodetabek dan mengeluarkan Kesepakatan Bersama antara 3 (tiga) Gubernur yaitu DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Banten serta 7 (tujuh) Bupati dan Walikota yaitu Kota/ Kabupaten Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi pada tahun 2004 tentang Kerjasama Dalam Rangka Perlindungan dan Pelestarian Situ Terpadu di Wilayah Jabodetabek.

Kebijakan pengelolaan situ di kawasan Jabodetabek dirumuskan dengan mempertimbangkan berbagai kelemahan pengelolaan situ dan isu-isu permasalahan penting yang mendapat sorotan tajam berbagai pihak saat ini. Beberapa permasalahan penting yang melandasi pengambilan kebijakan pengelolaan situ diantaranya adalah:

1. Belum tersedianya basis data dan informasi situ yang dapat diakses sec ara mudah oleh pihak pemangku kepentingan.

2. Terjadinya penurunan kualitas situ yang diakibatkan karena penyusutan wilayah situ akibat alih fungsi, pendangkalan, eutrofikasi, pencemaran dan kerusakan daerah hulu.

3. Rendahnya komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap pengelolaan situ.

4. Rendahnya kesadaran, pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan situ.

5. Belum terbentuknya kelembagaan pengelolaan situ di tingkat masyarakat (stakeholder utama).

6. Rendahnya pendapatan masyarakat yang terkait langsung dalam pemanfaatan situ.

E. Kebijakan Pembangunan Lingkungan Hidup

Kebijakan pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup Kota Tangerang mengacu kepada peraturan perundang-undangan Pemerintah Pusat, serta berbagai peraturan daerah yang diterbitkan oleh Pemerintah Propinsi Banten dan Pemerintah Kota Tanerang.Pemerintahan Propinsi Banten menuangkan beberapa kebijakan perundang-undangan terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup dan khususnya sumber daya air, yaitu sebagai berikut:

Keputusan Gubernur Banten Nomor 241 tahun 2001 tentang Pedoman Pengelolaan Air Bawah Tanah;Stat Keputusan Gubernur Banten Nomor 672/Kep.71-PU/2001 tentang Pengendalian Air Permukaan.gkungan Hidup Daerah (SLHD Keputusan Gubernur Banten Nomor 660/Kep.103-Birhuk/2001 tentang Komisi Penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Daerah (Komisi Amdal) Provinsi Banten;

Keputusan Gubernur Banten Nomor 23 tahun 2002 tentang Uraian Tugas dan Tata Acara Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Provinsi Banten;

Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 51 Tahun 2002 tentang Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Keputusan Gubernur Banten Nomor 120.1/Kep.19.Huk/2005 tentang Pembentukan Dewan Daerah Pembangunan Berkelanjutan (DDPB) Provinsi Banten

Peraturan Gubernur Banten Nomor 19 tahun 2005 tentang Tata Cara Pengelolaan Pengaduan Kasus Pencemaran dan atau Perusakan Lingkungan Hidup di Provinsi BantenKebijaksanaan pembangunan Kota Tangerang mengacu pada Visi dan Misi Kota Tangerang Tahun 2004-2008, yaitu menjadikan KotaTangerang sebagai Kota Industri, Perdagangan dan Pemukiman yang Ramah Lingkungan dalam Masyarakat yang Berakhlak Mulia. Salah satu penjabarannya dalam bidang lingkungan hidup, antara lain akan melakukan pengembangan pemukiman yang menekankan pada kelestarian lingkungan hidup dan pengendalian pencemaran lingkungan.

Kebijakan Kota Tangerang terkait dengan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan khususnya sumber daya air telah dituangkan dengan berbagai peraturan sebagai berikut:

Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 11 tahun 2002 tentang Pengendalian Pengambilan Air Bawah Tanah;

Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Ijin Pembuangan Limbah Cair.

Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Tangerang No.660.1/SK-395/LH-94 Tentang Peruntukkan air, baku mutu air dan syarat baku mutu air limbah yang dapat dibuang pada badan air di Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang;

Keputusan Walikota Tangerang No. 660.1/Kep.48.ADLH/ 2001 Tentang Komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Daerah Kota Tangerang;

Keputusan Walikota Tangerang No. 658.31/Kep.64DLH/ 2001 Tentang Penunjukan Laboratorium Pengujian Kualitas Lingkungan;F. Rencana Konsep Penataan Youth Center Kawasan Situ Cipondoh Kota Tangerang Youth Center (Pusat Pemuda) adalah One Stop Point Area/Satu kawasan Terpadu yang mewadahi seluruh kegiatan kepemudaan dalam bidang Seni, Budaya, Olah raga dan Enterpreneurship. Maksud dari pengembangan kegiatan ini adalah untuk memfasilitasi Kegiatan Pemuda dalam suatu kawasan terpadu yang meliputi Sarana Seni, Budaya ,Olah raga dan EnterpreneurshipAdapun tujuannya adalah mengarahkan Kegiatan Pemuda pada arah yang positif melalui beragam kegiatan informal khususnya dalam bidang Seni, Budaya, Olah raga dan Enterpreneurship agar selain berprestasi, juga terwujud generasi muda yang handal baik secara fisik ,mental dan financial.Tabel II.5 Jenis Kegiatan Dan Fungsi Utama Pengembangan Youth Centre

Di Kawasa Situ CipondohNOKEGIATANFUNGSI

01. Pengelolaan Manajemen Kawasan Youth Center Gedung Pengelola

02. Apresiasi Seni Pertunjukan Indoor Convention Hall / Music Hall/ Gedung pertunjukan

03. Apresiasi Seni Pertunjukan Outdoor Amphi theater / Plaza

04. Stay / Menginap / Bermalam Grha Pemuda / Youth Hostle

05. Kegiatan workshop dan pameran Art center

06. Kegiatan Olah raga Sport center

07. Jogging Jogging Track

08. Bersepeda Bicycle Line

09. Berkemah Camping Ground

10. Berpetualang / Ketangkasan Outbond Area

11. Water Sport (ski Air, fishing) Area Danau

01. Wisata kuliner (makan dan minum) Kampung Kuliner

02. Berbelanja Handy craft/ Local Products Souvenir Shop & Distro Area

03. Beristirahat Gazebo / Shelter

04. BAK/BAB Toilet Umum

05. Ibadah ( sholat ) Masjid / Musholla

06. Parkir kendaraan Parking Area

07. Penerimaan & Pengamanan Gapura/ Gate & Pos Satpam

II

TINJAUAN PUSTAKA

B A B

Gambar 2.1

Konsep Zonasi

Zona Inti

Zona Penyangga

Zona Pelayanan

Gambar 2.2

Konsep Pengembangan Daya Tarik Utama

Wisata Agro

Wisata Pedesaan

Wisata Budaya

Wisata Sejarah

Wisata Sejarah

Wisata Air Danau/Situ

Wisata Alam

EMBED CorelDRAW.Graphic.10

DAERAH STUDI SITU CIPONDOH

10PAGE 14

_1187512817.unknown