of 15/15
8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Bauran Pemasaran 2.1.1. Pengertian Bauran Pemasaran Bauran pemasaran merupakan strategi pemasaran untuk mencapai tujuan organisasi dan konsumen. Adapun pengertian bauran pemasaran menurut para ahli sebagai berikut: Menurut Kotler & Armstrong dalam (Fachiza & Moeliono, 2016) bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran produk, harga, tempat, promosi yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan dalam target pasar. Menurut Deravi dan Herat dalam (Prasetio & Laturette, 2017) bauran pemasaran adalah kombinasi dari elemen-elemen untuk perencanaan dan implementasi keseluruhan secara operasional pemasaran karena bauran pemasaran bersifat terkendali (controllable) dan saling berkaitan satu dengan yang lain. Dari beberapa pengertian mengenai bauran pemasaran, dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran merupakan sekumpulan variabel-variabel pemasaran yang dapat dikendalikan dan dipergunakan oleh perusahaan dalam pencapaian sasaran dari

BAB II LANDASAN TEORI - repository.bsi.ac.id · 2.1.1. Pengertian Bauran Pemasaran Bauran pemasaran merupakan strategi pemasaran untuk mencapai tujuan organisasi dan konsumen. Adapun

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II LANDASAN TEORI - repository.bsi.ac.id · 2.1.1. Pengertian Bauran Pemasaran Bauran pemasaran...

  • 8

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1. Bauran Pemasaran

    2.1.1. Pengertian Bauran Pemasaran

    Bauran pemasaran merupakan strategi pemasaran untuk mencapai tujuan

    organisasi dan konsumen. Adapun pengertian bauran pemasaran menurut para ahli

    sebagai berikut:

    Menurut Kotler & Armstrong dalam (Fachiza & Moeliono, 2016) bauran

    pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran produk, harga, tempat, promosi – yang

    dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan dalam target

    pasar.

    Menurut Deravi dan Herat dalam (Prasetio & Laturette, 2017) bauran

    pemasaran adalah kombinasi dari elemen-elemen untuk perencanaan dan

    implementasi keseluruhan secara operasional pemasaran karena bauran pemasaran

    bersifat terkendali (controllable) dan saling berkaitan satu dengan yang lain.

    Dari beberapa pengertian mengenai bauran pemasaran, dapat disimpulkan

    bahwa bauran pemasaran merupakan sekumpulan variabel-variabel pemasaran yang

    dapat dikendalikan dan dipergunakan oleh perusahaan dalam pencapaian sasaran dari

  • 9

    tujuan perusahaannya, melalui pemanfaatan kombinasi dari variabel-variabel seperti

    harga, produk, promosi, dan tempat (saluran distribusi), diharapkan agar kinerja

    penjualan dapat meningkat sehingga mampu bersaingdengan para pesaing.

    2.1.2. Perilaku Konsumen

    Pemasar berusaha mempengaruhi konsumen untuk berusaha membeli produk

    perusahaan pada saat mereka membutuhkan. Hal ini sangat penting bagi para

    pemasar untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

    dalam melakukan pembelian. Banyak sekali faktor-faktor lingkungan yang dapat

    mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, menurut Kotler

    dalam (Hermawan, 2015) faktor-faktor tersebut terdiri dari:

    1. Faktor-faktor yang dapat dikendalikan perusahaan yang terdiri dari bauran

    pemasaran. Pada dasarnya faktor-faktor yang dapat dikendalikan perusahaan

    akan menunjukkan kepada pemasar mengenai bagaimana mengembangkan

    produk, harga, promosi dan distribusi (bauran pemasaran) untuk dapat dijadikan

    alat mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian. Manfaat

    menggunakan bauran pemasaran adalah bahwa unsur-unsur dari bauran

    pemasaran memberikan kecocokan yang selalu dipertimbangkan dalam

    melakukan pembelian.

    2. Faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan perusahaan, selain tujuh faktor yang

    dapat dikendalikan oleh perusahaan di atas yaitu bauran pemasaran masih

    terdapat beberapa faktor lain yang tidak dapat dikendalikan perusahaan tetapi

    mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian produk antara lain:

    a. Faktor kebudayaan terdiri dari kebudayaan, sub budaya dan kelas sosial.

    b. Faktor sosial terdiri dari kelompok referensi, keluarga, peran dan status.

  • 10

    c. Faktor perorangan terdiri dari usia, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup,

    kepribadian dan konsep diri.

    d. Faktor psikologis terdiri dari motivasi, persepsi, proses belajar kepercayaan

    dan sikap.

    2.1.3. Dimensi Bauran Pemasaran

    Adapun dimensi bauran pemasaran menurut Stanton dalam (Wangarry,

    Tumbel, & Karuntu, 2018) sebagai berikut:

    1. Produk yaitu terdiri atas kualitas produk, desain produk, merek produk, dan

    keanekaragaman produk.

    2. Harga yaitu terdiri atas tingkat harga, potongan harga, keterjangkauan harga, dan

    harga yang sesuai dengan daya beli.

    3. Lokasi yaitu terdiri atas kemudahan untuk mendapatkan produk, jangkauan

    lokasi, memiliki tempat yang strategis, dan lahan parkir yang nyaman dan luas.

    4. Promosi yaitu terdiri atas promosi melalui media visual, promosi dengan cara

    tatap muka, promosi dengan menggunakan pemberian hadiah, dan promosi

    melalui media social.

    2.2. Keputusan Pembelian

    2.2.1. Pengertian Keputusan Pembelian

    Tujuan pemasaran adalah untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta

    keinginan dari pelanggan sasaran. Adapun pengertian keputusan pembelian menurut

    para ahli sebagai berikut:

    Menurut Cravens, Hills and Woodruff dalam (Heryanto, 2015), memberi

    pengertian bahwa keputusan pembelian adalah suatu keputusan yang dibuat untuk

  • 11

    memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen dengan cara mengevaluasi lebih

    dari satu alternatif yang dipengaruhi oleh alasan utama melakukan pembelian yang

    meliputi cara pembelian, produk, dan situasi.

    Menurut Kotler & Keller dalam (Fachiza & Moeliono, 2016) “Keputusan

    pembelian merupakan tahap konsumen membentuk niat untuk membeli produk yang

    paling disukai, dimana keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau

    menghindar sangat dipengaruhi resiko pembelian yang dirasakan”.

    Menurut Peter & Olson dalam (Fachiza & Moeliono, 2016) mendefinisikan,

    “keputusan konsumen adalah proses integrasi yang digunakan untuk

    mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif

    dan memilih satu diantaranya”.

    Berdasarkan penjelasan para ahli maka dapat disimpulkan bahwa keputusan

    pembelian adalah suatu pilihan terbaik yang dipilih oleh konsumen untuk melakukan

    keputusan pembelian barang/jasa dan indikator yang digunakan dalam penelitian ini

    adalah keputusan membeli dan keputusan tidak membeli.

    2.2.2. Proses Pengambilan Keputusan

    Konsumen memiliki nilai-nilai dalam mengkonsumsi suatu produk baik

    barang maupun jasa. Untuk memahami bagaimana nilai-nilai tersebut dalam

    mencapai kepuasan konsumen, maka terlebih dahulu perlu dipahami proses

    konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Pada Gambar II.1 terdapat lima

    tahap secara berurutan dimana konsumen membuat keputusan (consumer decision

    making).

  • 12

    Gambar II.1

    Tahap-tahap Proses Keputusan Pembelian

    Sumber: Kotler dan Amstrong dalam (Evita Nurul, 2017)

    Dari gambar II.1 menunjukkan sebuah model berdasarkan tahapan secara berurutan

    mengenai proses keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen.

    Menurut Kotler dan Amstrong dalam (Evita Nurul, 2017), tahapan dalam proses

    pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahap, yaitu :

    1. Pengenalan masalah

    Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau kebutuhan.

    Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal.

    Para pemasar perlu mengidentifikasikan keadaan yang memicu kebutuhan

    tertentu. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen, para

    pemasar dapat mengidentifikasikan rangsangan yang paling sering

    membangkitkan minat akan kategori yang mampu memicu minat konsumen.

    2. Pencarian Informasi

    Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari

    informasi yang lebih banyak. Kita dapat membaginya ke dalam dua level

    rangsangan. Situasi pencarian informasi yang lebih ringan dinamakan penguatan

    perhatian. Pada level itu orang hanya sekedar lebih peka terhadap informasi

    Pengenalan

    Masalah

    Pencarian

    Informasi

    Evaluasi

    Alternatif

    Keputusan

    Pembelian

    Perilaku

    Pasca

    Pembelian

  • 13

    produk. Pada level selanjutnya, orang itu mungkin masuk ke pencarian informasi

    secara aktif mencari bahan bacaan, menelepon teman dan mengunjungi toko

    untuk mempelajari produk tertentu. Sumber informasi konsumen digolongkan

    kedalam empat kelompok:

    a. Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga, kenalan.

    b. Sumber komersial: iklan, waraniaga, penyalur, kemasan, pajangan di toko.

    c. Sumber publik: media massa, organisasi penentu peringkat konsumen.

    d. Sumber pengalaman: pengenalan, pengkajian dan pemakaian produk.

    3. Evaluasi Alternatif

    Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan dan model-model yang terbaru

    memandang proses evaluasi konsumen sebagai proses yang berorientasi kognitif,

    yaitu model tersebut menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk

    dengan sangat sadar dan rasional. Beberapa konsep dasar akan membantu kita

    memahami proses evaluasi konsumen: Pertama, konsumen berusaha memenuhi

    kebutuhan. Kedua, konsumen memandang masing-masing produk sebagai

    sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan

    manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan itu. Para konsumen

    memiliki sikap yang berbeda-beda dalam memandang berbagai atribut yang

    dianggap relevan dan penting. Brand akan memberikan perhatian terbesar pada

    atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya.

    4. Keputusan Pembelian

    Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas brand brand

    yang ada didalam kumpulan pilihan. Konsumen tersebut juga dapat membentuk

    niat untuk membeli brand yang paling disukai. Terdapat dua faktor yang

    mempengaruhi keputusan pembelian konsumen yaitu, faktor pertama adalah

  • 14

    sikap orang lain. Sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang

    disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu intensitas sikap negatif

    orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen

    untuk menuruti keinginan orang lain.

    Semakin gencar sikap negatif orang lain dan semakin dekat orang lain tersebut

    dengan konsumen, konsumen akan semakin mengubah niat pembeliannya.

    Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak terantisipasi yang dapat muncul

    dan mengubah niat pembelian, seperti harga yang diharapkan dan manfaat yang

    diharapkan.

    5. Perilaku Pasca Pembelian

    Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami level kepuasan atau

    ketidakpuasan tertentu. Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap produk akan

    mempengaruhi perilakukonsumen selanjutnya. Jika konsumen tersebut puas, ia

    akan menunjukkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli kembali

    produk tersebut.

    Tahap-tahap proses pengambilan keputusan pembelian di atas menunjukkan

    bahwa para konsumen harus melalui seluruh lima urutan tahap ketika membeli

    produk, namun tidak selalu begitu.

    2.2.3. Dimensi Keputusan Pembelian

    Adapun dimensi dari keputusan pembelian menurut Kotler dan Armstrong

    dalam (Wangarry et al., 2018) sebagai berikut:

    1. Mengidentifikasi, yaitu dari adanya kebutuhan suatu produk.

    2. Mengevaluasi, yaitu dari timbulnya keinginan suatu produk.

  • 15

    3. Memilih alternatif, yaitu daya beli yang dimiliki konsumen dan melakukan

    pembelian ulang.

    2.3. Konsep Dasar Operasional dan Perhitungan

    2.3.1. Kisi-kisi Operasional Variabel

    Di dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu :

    1. Variabel Bebas (Independent Variabel).

    Variabel ini sering juga disebut variabel stimulus, predictor variabel bebas/X

    adalah variabel yang menjadi sebab perubahan yang akan menjelaskan atau

    mempengaruhi secara positif maupun negatif variabel tidak bebas di dalam pola

    hubungannya. Yang menjadi variabel bebas dalam penelitian berupa :

    X = Bauran Pemasaran

    2. Variabel Terikat (Dependent Variabel).

    Variabel terkait/Y adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel

    bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah :

    Y = Keputusan Pembelian

    Kisi-kisi operasional variabel yang penulis gunakan untuk menentukan

    dimensi dan indicator variabel bauran pemasaran, bersumber dari:

  • 16

    Tabel II.1

    Kisi-kisi Operasional Bauran Pemasaran

    Variabel Dimensi

    Variabel

    Indikator

    Butir

    Item Skala

    Bauran

    Pemasaran

    Produk

    a. Beragam 1

    Likert

    b. Bermerek 2

    c. Berkualitas 3

    Harga

    a. Harga terjangkau 4

    b. Tingkat harga 5

    c. Harga sesuai dengan

    daya beli 6

    Tempat

    a. Memiliki tempat yang

    strategis 7

    b. Jangkauan lokasi 8

    Promosi

    a. Promosi dengan cara

    tatap muka 9

    b. Promosi dengan

    pemberian hadiah 10

    Sumber : Stanston dalam (Wangarry et al., 2018)

  • 17

    Sedangkan kisi-kisi operasional variabel yang penulis gunakan untuk

    menentukan indikator variabel keputusan pembelian, dikemukakan oleh:

    Tabel II.2

    Kisi-kisi Operasional Keputusan Pembelian

    Variabel Dimensi

    Variabel

    Indikator

    Butir

    Item Skala

    Keputusan

    Pembelian

    Mengidentifikasi

    Adanya

    kebutuhan suatu

    produk

    1,2,3

    Likert

    Mengevaluasi

    Timbulnya

    keinginan suatu

    produk

    4,5

    Memilih

    alternatif

    a. Daya beli yang

    dimiliki

    konsumen

    6

    b. Melakukan

    pembelian ulang

    7,8,9,10

    Sumber : Kotler dan Armstrong dalam (Wangarry et al., 2018)

    2.3.2. Uji Instrumen Penelitian

    Uji instrumen yang digunakan dalam penilaian ini adalah:

    1. Uji Validitas.

    Menurut Sujianto dalam (Yuliantari & Ulfa, 2016), mengemukakan bahwa

    “Validitas bertujuan untuk menguji apakah tiap item atau instrument benar-benar

  • 18

    mampu mengungkapkan faktor yang akan diukur atau konsisten terhadap internal

    tiap item alat ukur dalam mengukur suatu faktor”.

    Metode yang sering digunakan terhadap validitas kuisioner adalah korelasi

    antara skor tiap butir pernyataan dengan skor total, sehingga sering disebut dengan

    inter-item total correlation. Nilai korelasi yang diperoleh lalu dibandingkan dengan

    tabel nilai korelasi (r). Jika hitung > r tabel pada taraf kepercayaan tertentu, berarti

    instrumen tersebut memenuhi kriteria validitas. Pengujian validitas dilakukan dengan

    menggunakan program SPSS versi 24.0.

    Kriteria penilaian uji validitas yang dapat dikatakan valid atau tidaknya, yaitu :

    a. Apabila r hitung > r tabel (pada signifikan 5%) maka dapat dikatakan item

    kuesioner tersebut valid.

    b. Apabila r hitung < r tabel (pada signifikan 5%) maka dapat dikatakan item

    kuesioner tersebut tidak valid.

    2. Uji Reliabilitas.

    Uji reliabilitas instrumen adalah hasil pengukuran yang dapat dipercaya. Uji

    reliabilitas digunakan untuk menguji konsistensi alat ukur, apakah hasilnya tetap

    konsistensi atau tidak jika pengukuran diulang.

    Menurut Sujianto dalam (Yuliantari & Ulfa, 2016), menyatakan bahwa

    “Reliabilitas instrumen diperlukan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan

    tujuan pengukuran”. Instrumen yang reliabel berarti instrumen tersebut bila

    digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data

    yang sama. Untuk mencapai hal tersebut, dilakukan uji reliabilitas dengan

    menggunakan metode Alpha Cronbach’s diukur berdasarkan skala Alpha

    Cronbach’s 0 sampai 1. Berikut ini adalah tabel Skala Alpha Cronbach’s :

  • 19

    Tabel II.3

    Skala Alpha Cronbach’s

    Nilai Alpha Cronbach’s Keterangan

    0,00-0,20 Kurang reliabel

    0,21-0,40 Agak reliabel

    0,41-0,60 Cukup reliabel

    0,61-0,80 Reliabel

    0,81-1,00 Sangat reliabel

    Sumber : Triton dalam (Yuliantari & Ulfa, 2016).

    2.3.3. Konsep Dasar Perhitungan

    Konsep dasar operasional dari perhitungan dalam tugas akhir ini terdapat

    kisi-kisi operasional bauran pemasaran dan keputusan pembelian. Konsep dasar

    perhitungannya terdapat populasi, skala likert, koefisien korelasi, koefisien

    determinasi dan persamaan regersi.

    1. Populasi dan Sampel.

    Menurut Sugiyono dalam (Yuliantari & Ulfa, 2016), menyatakan bahwa

    “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang

    mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk

    dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”

    Menurut (Jakni, 2016), menyatakan bahwa “Sampel adalah contoh yang

    diambil dari sebagian populasi penelitian yang dapat mewakili populasi”. Cara

    pengambilan sampel (teknik sampling) dengan Probability sampling (pengambilan

    sampling) berdasarkan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi

    untuk dipilih menjadi anggota sampel. Dalam Probability Sampling peneliti

    menggunakan sampel Random Sampling yaitu dilakukan secara acak atau random

    tanpa memperhatikan level yang ada dalam populasi.

  • 20

    2. Skala Likert.

    Menurut Sugiyono dalam (Yuliantari & Ulfa, 2016), menyatakan bahwa

    “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang

    atau sekelompok tentang fenomena sosial”.

    Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai

    gradiasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara

    lain :

    Tabel II.4

    Klasifikasi Jawaban dan Besarnya Skor.

    Alternatif Jawaban Kode Nilai

    Sangat Setuju SS 5

    Setuju S 4

    Kurang Setuju KS 3

    Tidak Setuju TS 2

    Sangat Tidak Setuju STS 1

    Sumber: Sugiyono dalam (Yuliantari & Ulfa, 2016).

    3. Uji Koefisien Korelasi

    Menurut Trijono dalam (Nurhidayati & Yuliantari, 2018), mendefinisikan

    bahwa korelasi adalah “Derajat hubungan linear antara dua variable atau lebih dari

    data hasil pengamatan”. Korelasi merupakan pengukur hubungan dua variabel atau

    lebih yang dinyatakan dengan derajat keeratan atau tingkat hubungan antar variabel-

    variabel. Mengukur derajat hubungan dengan metode korelasi yaitu dengan koefisien

    korelasi “r”. Dua variabel dikatakan berkolerasi apabila perubahan dalam satu

    variabel diikuti oleh perubahan variabel lain, baik searah maupun tidak. Berikut ini

    adalah rumus yang digunakan untuk mencari koefisien korelasi menurut Sugiyono

    dalam (Harumi, 2018), yaitu:

  • 21

    Dimana :

    = Koefisien korelasi.

    x = Jumlah variabel bebas, yaitu bauran pemasaran.

    y = Jumlah variabel terikat, yaitu keputusa pembelian.

    Menurut Setiawan dalam (Nurhidayati & Yuliantari, 2018), pedoman untuk

    memberikan interprestasi koefisien korelasi sebagai berikut:

    Tabel II.5

    Pedoman Interprestasi Koefisien Korelasi

    Nilai Reliabilitas Interpretasi

    0,01 – 0,20 Sangat Lemah

    0,21 – 0,40 Lemah

    0,41 – 0,60 Sedang

    0,61 – 0,80 Kuat

    0,81 – 0,99 Sangat Kuat Sumber: Setiawan dalam (Nurhidayati & Yuliantari, 2018)

    4. Uji Koefisien Determinasi.

    Menurut Siregar dalam (Nurhidayati & Yuliantari, 2018), mengemukakan

    bahwa “Koefisien determinasi (KD) adalah angka yang menyatakan atau digunakan

    untuk mengetahui kontribusi atau sumbangan yang diberikan oleh sebuah variabel

    atau lebih X (bebas) terhadap variabel Y (terikat)”. Nilai koefisien determinasi

    adalah antara nol atau satu.

    Besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y dapat diketahui dengan

    menggunakan analisis koefisien determinasi atau disingkat KD, yang diperoleh

    dengan mengkuadratkan koefisien korelasinya, yaitu:

  • 22

    Dimana :

    KD = Koefisien determinasi.

    r² = Koefisien korelasi.

    100% = Pengali yang menyatakan dalam persentase

    5. Persamaan Regresi

    Menurut Sugiyono dalam (Yuliantari & Ulfa, 2016), mengemukakan bahwa

    “Regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional atau pun kausal satu

    variabel independen dengan satu variable dependen. Secara umum persamaan regresi

    sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:

    Dimana untuk melihat hubungan antara variabel dengan menggunakan

    persamaan regresi tersebut, maka nilai a dan b harus dicari terlebih dahulu dengan

    rumus sebagai berikut :

    Keterangan :

    Y :Variabel terikat yang diproyeksikan, yaitu Keputusan Pembelian

    a : Nilai harga konstan Y jika X = 0

    b : Koefisien regresi atau nilai arah sebagai penentu prediksi yang

    menunjukkan nilai peningkatan atau penurunan variabel terikat

    X : Variabel babas, yaitu Bauran Pemasaran