of 15 /15
5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Penjadwalan Pengertian penjadwalan adalah aktivitas perencanaan untuk menentukan kapan dan dimana setiap operasi sebagai bagian dari pekerjaan secara keseluruhan harus dilakukan pada sumber daya yang terbatas, serta pengalokasian sumber daya pada suatu waktu tertentu dengan memperhatikan kapasitas sumber daya yang ada. Ada beberapa pengertian penjadwalan menurut beberapa ahli : Menurut Arifin & Rudyanto (2010), penjadwalan produksi adalah proses alokasi sumber daya dan mesin untuk menyelesaikan semua pekerjaan dengan mempertimbangkan batasan-batasan yang ada. Menurut Baker & Trietsch (2009), penjadwalan merupakan proses alokasi mesin-mesin yang ada untuk menjalankan tugas dalam jangka waktu tertentu. Menurut Pinedo (2016), penjadwalan adalah proses pengambilan keputusan yang digunakan untuk industri manufaktur dan jasa yang berhubungan dengan alokasi sumber daya untuk mengerjakan tugas dengan tujuan mengoptimalkan satu atau lebih tujuan. Penjadwalan dibutuhkan untuk meminimasi distribusi tenaga kerja operator dan mesin agar lebih efektif. Hal ini sangat penting untuk pengambilan keputusan dalam proses produksi. 2.2 Tujuan Penjadwalan Tujuan dari penjadwalan adalah untuk mengurangi keterlambatan suatu pekerjaan agar dapat terselesaikan dalam batas waktu yang telah ditentukan oleh konsumen. Penjadwalan juga dapat meningkatkan produktivitas mesin dan mengurangi waktu menganggur. Semakin tinggi tingkat produktivitas suatu mesin maka akan semakin kecil waktu menunggu. Dengan demikian, perusahaan akan lebih untung dengan menghemat biaya produksi dan strategi perusahaan dalam memuaskan para pelanggan.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Penjadwalan ...eprints.umm.ac.id/43650/3/BAB II.pdf5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Penjadwalan Pengertian penjadwalan adalah aktivitas perencanaan

  • Author
    others

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Penjadwalan ...eprints.umm.ac.id/43650/3/BAB II.pdf5 BAB II...

  • 5

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1 Pengertian Penjadwalan

    Pengertian penjadwalan adalah aktivitas perencanaan untuk menentukan

    kapan dan dimana setiap operasi sebagai bagian dari pekerjaan secara keseluruhan

    harus dilakukan pada sumber daya yang terbatas, serta pengalokasian sumber daya

    pada suatu waktu tertentu dengan memperhatikan kapasitas sumber daya yang ada.

    Ada beberapa pengertian penjadwalan menurut beberapa ahli :

    • Menurut Arifin & Rudyanto (2010), penjadwalan produksi adalah proses

    alokasi sumber daya dan mesin untuk menyelesaikan semua pekerjaan

    dengan mempertimbangkan batasan-batasan yang ada.

    • Menurut Baker & Trietsch (2009), penjadwalan merupakan proses alokasi

    mesin-mesin yang ada untuk menjalankan tugas dalam jangka waktu

    tertentu.

    • Menurut Pinedo (2016), penjadwalan adalah proses pengambilan keputusan

    yang digunakan untuk industri manufaktur dan jasa yang berhubungan

    dengan alokasi sumber daya untuk mengerjakan tugas dengan tujuan

    mengoptimalkan satu atau lebih tujuan.

    Penjadwalan dibutuhkan untuk meminimasi distribusi tenaga kerja operator dan

    mesin agar lebih efektif. Hal ini sangat penting untuk pengambilan keputusan dalam

    proses produksi.

    2.2 Tujuan Penjadwalan

    Tujuan dari penjadwalan adalah untuk mengurangi keterlambatan suatu

    pekerjaan agar dapat terselesaikan dalam batas waktu yang telah ditentukan oleh

    konsumen. Penjadwalan juga dapat meningkatkan produktivitas mesin dan

    mengurangi waktu menganggur. Semakin tinggi tingkat produktivitas suatu mesin

    maka akan semakin kecil waktu menunggu. Dengan demikian, perusahaan akan

    lebih untung dengan menghemat biaya produksi dan strategi perusahaan dalam

    memuaskan para pelanggan.

  • 6

    Menurut Nasution (2003) yang dikutip dalam Arifin dan Rudyanto (2010)

    menyebutkan macam-macam tujuan penjadwalan :

    1. Meningkatkan penggunaan sumber daya untuk meminimalkan waktu

    proses dan meningkatkan produktivitas.

    2. Mengurangi persediaan barang setengah jadi atau mengurangi beberapa

    pekerjaan yang menunggu dalam antrian ketika sumber daya yang tersedia

    sedang dalam proses pengerjaan tugas yang lain.

    3. Mengurangi keterlambatan pekerjaan untuk meminimalkan biaya

    keterlambatan.

    4. Membantu dalam pengambilan keputusan tentang perencanaan tentang

    kapasitas pabrik dan jenis kapasitas yang dibutuhkan.

    Sedangkan beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penjadwalan (Baker

    & Trietsch, 2009) :

    1. Meningkatkan produktivitas mesin dengan meminimasi total waktu mesin

    saat menganggur.

    2. Mengurangi keterlambatan karena pekerjaan yang dijadwalkan telah

    melewati batas waktu yang ditentukan dengan cara meminimasi waktu

    keterlambatan dan meminiamasi jumlah pekerjaan yang terlambat.

    3. Memenuhi batas waktu pengerjaan yang telah ditentukan, karena apabila

    suatu pekerjaan telah melewati batas waktu maka akan dikenakan biaya

    penalti.

    2.3 Klasifikasi Penjadwalan

    Klasifikasi penjadwalan menurut Pinedo (2016) :

    1. Penjadwalan Mesin Tunggal

    2. Penjadwalan Paralel

    Penjadwalan Paralel terbagi jadi 6 :

    a. Penjadwalan n job dengan mesin paralel yang identik.

    b. Penjadwalan n job dengan mesin paralel non identik dimana setiap

    mesin memiliki fungsi yang sama dengan proses yan berbeda.

  • 7

    c. Penjadwalan n job dengan mesin paralel unrelated pengembangan

    dari paralel non identik. Terdapat m mesin paralel, mesin i untuk

    memproses job j sehingga kecepatan mesin menjadi vij.

    d. Penjadwalan Flowshop dan Flexible Flowshop terdapat m mesin

    disusun secara seri dimana setiap job harus diproses pada setiap mesin.

    Setelah job selesai dikerjakan pada mesin pertama maka akan dilanjut

    pada mesin berikutnya dan seterusnya.

    e. Penjadwalan Jobshop dan Flexible Jobshop terdapat m mesin dimana

    setiap job mempunyai alur produksi yang harus diikuti.

    f. Penjadwalan Openshop yang dimana setiap job harus diproses

    kembali untuk setiap mesin.

    2.4 Jenis Aliran Proses Produksi

    Jenis-jenis aliran produksi yang dimiliki oleh perusahaan menurut Baker &

    Trietsch (2009) yaitu :

    1. Aliran Flowshop, merupakan lantai produksi yang memproses suatu produk

    dengan urutan proses yang sama terhadap semua komponen produk mulai

    dari bahan mentah hingga menjadi barang jadi. Sehingga jika suatu produk

    telah selesai diproses pada suatu mesin dan sedang dalam proses pengerjaan

    pada mesin lainnya, produk tersebut tidak dapat diproses kembali pada

    mesin sebelumnya. Aliran flowshop dibagi menjadi beberapa variasi,

    diantaranya :

    a. Simple Flowshop

    Semua pekerjaan mempunyai urutan proses produksi yang sama.

    Gambar 2.1 Pola Aliran Simple Flowshop1

  • 8

    (Sumber : Baker & Trietsch, 2009)

    b. Skip Flowshop

    Aliran pekerjaan ini melalui urutan proses produksi yang sama, tetapi ada

    beberapa pekerjaan yang tidak melalui mesin tertentu.

    c.Reentrant Flowshop

    Aliran proses dimana mesin dapat digunakan beberapa kali untuk

    memproses suatu produk tertentu.

    d.Compound Flowshop

    Aliran proses yang memuat sekumpulan jenis mesin pada setiap tahapan

    proses produksi.

    2. Aliran Jobshop, dimana setiap order dapat melalui urutan proses yang

    berbeda-beda dengan mesin yang berbeda pula. Karena setiap order

    memiliki urutan proses dan mesin yang berbeda maka memungkinkan untuk

    masing-masing stasiun kerja memproses beberapa item yang berbeda juga.

    Dengan artian beberapa pekerjaan dapat diproses beberapa kali di mesin

    yang sama.

  • 9

    Gambar 2.2 Pola Aliran Jobshop2

    (Sumber : Baker & Trietsch, 2009)

    2.5 Kriteria dalam Penjadwalan

    Menurut Baker & Trietsch (2009), terdapat beberapa kriteria dalam

    penjadwalan sebagai berikut :

    1. Kriteria berdasarkan atribut tugas.

    a. Completion Time, merupakan total waktu yang diperlukan untuk

    menyelesaikan suatu pekerjaan mulai dari pekerjaan tersebut siap untuk

    dikerjakan sampai pekerjaan tersebut selesai dikerjakan.

    Cj = Fj – rj

    b. Mean Flow Time, adalah waktu penyelesaian dari pekerjaan j dimana

    F=1𝑛 Σ𝐹𝑖

    c. Flow Time, merupakan total waktu yang diperlukan suatu pekerjaan mulai

    dari pekerjaan tersebut masuk di tahapan proses sampai pekerjaan tersebut

    selesai dikerjakan di tahapan proses tersebut.

    Fi = Ci – ri

    d. Mean Weight Flow Time, mempunyai definisi yang sama dengan flow time

    hanya saja mean weight flow time mempertimbangkan prioritas pengerjaan

    suatu pekerjaan.

  • 10

    e. Maximum Lateness, merupakan selisih antara waktu penyelesaian suatu

    pekerjaan dengan due date atau batas waktu pengerjaan yang telah

    ditentukan.

    f. Mean Tardiness, merupakan waktu rata-rata dari seluruh pekerjaan yang

    terlambat atau melewati batas waktu yang telah ditentukan.

    2. Kriterian berdasarkan atribut pabrik.

    a. Utilitas Mesin, merupakan rasio dari waktu proses yang terbebankan pada

    mesin dengan rentang waktu untuk meyelesaikan seluruh tugas pada seluruh

    mesin.

    b. Minimasi Makespan, jangka waktu penyelesaian seluruh job yang akan

    dijadwalkan yang merupakan jumlah dari seluruh proses.

    c. Pemenuhan Due Date, merupakan waktu penyelesaian seluruh pekerjaan

    sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan, dimana setiap produsen

    harus memenuhinya untuk mempertahankan setiap konsumennya.

    2.6 Penjadwalan Produksi Flowshop

    Penjadwalan Produksi Flowshop merupakan pergerakan dari mesin satu ke

    mesin lainnya yang disusun secara berurutan melewati stasiun kerja sampai mesin

    terakhir sebelum pekerjaan selesai dikerjakan (Baker & Trietsch, 2009). Kriteria

    yang dimiliki penjadwalan floshop antara lain :

    1. Tidak adanya 2 atau lebih operasi pada pekerjaan yang sama yang berjalan

    secara bersamaan.

    2. Setiap operasi pada suatu mesin harus dikerjakan terlebih dahulu hingga

    proses operasi tersebut selesai, sebelum mengerjakan operasi yang lainnya.

    3. tidak ada pembatalan job sehingga setiap job harus diproses hingga selesai

    dikerjakan.

    4. Tidak adanya kerusakan dalam mesin atau mesin selalu siap.

    5. Waktu proses pengerjaan untuk setiap job pada suatu mesin selalu konstan.

  • 11

    6. Setiap mesin hanya dapat memproses satu pekerjaan dalam satu waktu yang

    sama.

    Menurut Hornig (2013), dalam penjadwalan flowshop operasi harus dilakukan

    pada tahapan atau urutan yang sama pada setiap urutan proses produksi dengan

    artian semua pesanan melalui alur produksi yang sama. Konsep flowshop umum

    nya hanya mempertimbangkan satu mesin pada setiap tahapan prosesnya. Model

    penjadwalan flowshop mempertimbangkan satu rangkaian mesin yang diatur secara

    berurutan dan satu perintah produksi n masing-masing operasi m dengan waktu

    proses pengerjaan i = 1, ..., n, dan k = 1, ..., m, dan semua pekerjaan diselesaikan

    pada tanggal yang sama ri = 0 untuk semua ri. Kasus dimana seluruh proses

    produksi harus mengikuti alur yang sama pada mesin m dikenal sebagai permutasi

    flowshop.

    2.7 Penjadwalan Flexible Flowshop

    Pinedo (2016) menjelaskan bahwa flexible flowshop memiliki m mesin

    disusun secara seri dengan beberapa stage, dimana setiap stage terdapat beberapa

    mesin identik disusun secara paralel. Setiap job akan diproses pada stage 1, stage

    2, dan seterusnya hingga selesai. Pada setiap stage, job akan dikerjakan di salah satu

    mesin identik yang sedang tidak dalam proses pengerjaan job lain atau menganggur.

    2.8 Aturan Prioritas (Priority Dispatching Rules)

    Aturan prioritas pada umumnya digunakan sebagai pedoman pengurutan

    sebuah pekerjaan yang akan dikerjakan. Beberapa aturan prioritas yang dimaksud

    adalah sebagai berikut (Heizer & Render, 2005) :

    1. FCFS (First Come First Served)

    Aturan dimana suatu pekerjaan yang datang pertama maka pekerjaan

    tersebut yang akan diproses atau dikerjakan terlebih dahulu.

  • 12

    2. SPT (Shortest Processing Time)

    Aturan dimana suatu pekerjaan yang memiliki waktu proses terpendek maka

    akan diproses atau dikerjakan terlebih dahulu.

    3. LPT (Longest Processing Time)

    Aturan dimana suatu pekerjaan yang memiliki waktu proses terpanjang

    makan akan diproses atau dikerjakan terlebih dahulu.

    4. EDD (Earliest Due Date)

    Aturan dimana suatu pekerjaan yang memiliki batas waktu pengerjaan

    paling awal maka akan diproses atau dikerjakan terlebih dahulu.

    2.9 Aturan Prioritas SPT (Shortest Processing Time)

    Shortest Processing Time merupakan aturan dimana suatu pekerjaan yang

    memiliki waktu proses terpendek maka akan diproses atau dikerjakan terlebih

    dahulu (Heizer & Render, 2005).

    Shortest Processing Time menjelaskan tentang pesanan-pesanan dengan

    jumlah waktu pengerjaan yang dibutuhkan pada pusat kerja terkecil adalah yang

    diprioritaskan untuk dikerjakan terlebih dahulu. Dengan kata lain, pesanan yang

    memiliki waktu pernrosesan terpendek memiliki prioritas lebih tinggi untuk

    dikerjakan terlebih dahulu (Noor dkk, 2002).

    Menurut Yosan & Erwandi, perhitungan penjadwalan dengan aturan

    prioritas Shortest Processing Time berarti mengurutkan pekerjaan mulai dari awal

    waktu proses terkecil. Langkah selanjutnya yaitu mengurutkan hasil SPT pada

    masing-masing mesin secara berurutan. Perhitungan aturan SPT untuk rata-rata

    keterlambatan adalah sebagai berikut :

    𝐽𝑜𝑏 𝐿𝑎𝑡𝑒𝑛𝑒𝑠𝑠 =total 𝑙𝑎𝑡𝑒𝑛𝑒𝑠𝑠

    n 𝑗𝑜𝑏

    Waktu Penyelesaian Rata − Rata =total jumlah waktu aliran

    jumlah pekerjaan

    𝑈𝑡𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 (%) =total jumlah waktu proses

    total jumlah waktu aliran

    Jumlah 𝐽𝑜𝑏 Rata − Rata =total jumlah waktu aliran

    total jumlah waktu proses

  • 13

    Keterlambatan 𝐽𝑜𝑏 Rata − Rata =jumlah hari keterlambatan

    jumlah 𝑗𝑜𝑏

    2.10 Algoritma Hodgson

    Algortima Hodgson merupakan pengembangan dari aturan EDD (Earliest

    Due Date). Algoritma Hodgson merupakan salah satu algoritma yang digunakan

    untuk menyelesaikan permasalahan penjadwalan seperti jumlah job yang terlambat.

    Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencari algpritma Hodgson adalah sebagai

    berikut (Sturm, 1970) :

    1. Mengurutkan job berdasarkan due date yang paling dekat.

    2. Melakukan perhitungan penjadwalan. Bila tidak ada job yang terlambat

    maka penjadwalan itu sudah optimal, tetapi jika masih ada job yang terlambat

    maka lanjutkan ke langkah 3.

    3. Jika joba pertama kali terlambat, maka cari jobb sebelum job a yang

    memiliki waktu proses pengerjaan palinng lama. Kemudian hilangkan job b

    tersebut yang nantinya akan dikerjakan setelah semua job dikerjakan dan

    tidak ada job yang terlambat.

    4. Lakukan kembali langkah 2 dengan tanpa job yang terlambat sebelumnya,

    lakukan langkah 3 dan 4 hingga tidak ada job yang terlambat.

    5. Setelah terbentuk urutan penjadwalan yang baru, letakkan semua job yang

    terlambat tadi di ururtan paling belakang dari urutan penjadwalan baru.

    2.11 Literatur Review Penjadwalan Flowshop untuk Minimasi Jumlah Job

    yang Terlambat

    Salah satu penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Widodo (2018)

    telah mencoba memodifikasi algoritma Hodgson untuk meminimasi jumlah job

    yang terlambat pada penjadwalan flowshop. Penjadwalan dilakukan 10 job pada 2

    mesin dengan data numerik ditunjukkan pada tabel 2.1.

  • 14

    Tabel 2.1 Data Percobaan Numerik1

    Job Mesin 1 Mesin 2 Due Date

    1 5 1 15

    2 4 2 12

    3 5 1 13

    4 3 3 14

    5 6 2 11

    6 7 1 17

    7 3 2 20

    8 2 2 18

    9 5 1 17

    10 4 2 22

    Langkah-langkah penyelesaian meminimasi jumlah job yang terlambat

    pada masalah flow shop adalah sebagai berikut :

    1. Menghitung total waktu proses (Tj) setiap pekerjaan j. Rekapitulasi

    perhitungan total waktu proses dapat dilihat pada tabel 2.2. Contoh perhitungan

    Tj dapat dilihat berikut ini.

    T1 = t11 + t12 = 5 + 1 = 6

  • 15

    Tabel 2.2 Rekapitulasi Perhitungan Total Waktu Proses2

    Job Mesin 1 Mesin 2 Tj

    1 5 1 6

    2 4 2 6

    3 5 1 6

    4 3 3 6

    5 6 2 8

    6 7 1 8

    7 3 2 5

    8 2 2 4

    9 5 1 6

    10 4 2 6

    2. Urutkan Job sesuai dengan due date yang paling kecil. Urutan berdasarkan due

    date terkecil adalah J5, J2, J3, J4, J1, J6, J9, J8, J7, J10.

    3. Melakukan penjadwalan berdasarkan urutan due date terkecil dan menghitung

    lateness berdasarkan persamaan 2 berdasarkan urutan job pada langkah 2.

    Penjadwalan dan perhitungan lateness dapat dilihat pada table 2.3. Contoh

    perhitungan Tj dapat dilihat berikut ini.

    L5 = C5 – d5 = 6 – 11 = -5

  • 16

    Tabel 2.3 Penjadwalan dan Perhitungan Lateness3

    Job 3 merupakan job pertama kali terlambat (saat penyelesaian melewati batas

    akhir (Lj > 0)). Selanjutnya mencari job yang mempunyai waktu total waktu

    pengerjaan paling lama pada job 3 dan urutan sebelum. Berdasarkan lateness

    positif pertama urutan pekerjaan adalah J5, J2 dan J3. Waktu terbesar adalah

    pada job 3. Kemudian hilangkan job 3 tersebut.

    5. Melakukan penjadwalan kembali seperti langkah 3 hingga job tidak ada yang

    terlambat atau hanya menyisakan 1 job yang terlambat diurutan paling

    belakang. Rekapitulasi iterasi dan urutan job dapat dilihat pada table 2.4.

    (tj1) (tj2) Tj dj Lj

    5 4 2 6 11 0 4 4 6 -5

    2 3 2 5 12 4 7 7 9 -3

    3 5 4 9 13 7 12 12 16 3

    4 4 7 11 14 12 16 16 23 9

    1 1 1 2 15 16 23 17 24 9

    6 7 3 10 17 17 24 24 27 10

    9 2 1 3 17 24 27 26 28 11

    8 2 2 4 18 26 28 28 30 12

    7 1 2 3 20 28 30 29 32 12

    10 1 1 2 22 29 32 30 33 11

    Job

    Mulai SelesaiMesin 1 Mesin 2

    M1 M2 M1 M2

  • 17

    Tabel 2.4 Rekapitulasi Iterasi dan Urutan Job4

    6. Letakkan semua job yang dalam urutan paling akhir. Sehingga urutan job

    adalah J5, J2, J1, J9, J8, J7, J10, J3, J4, J6.

    7. Hitung performansi kriteria urutan job adalah J5, J2, J1, J9, J8, J7, J10, J3, J4,

    J6. Rekapitulasi perhitungan performansi improve hodgson dapat dilihat pada

    table 2.5. Contoh perhitungan job yang terlambat sebagai berikut.

    N5 = 0.

    Tabel 2.5 Rekapitulasi Performansi Algoritma Improve Hodgson5

    Perhitungan algoritma improve Hodgson juga dibandingkan dengan aturan prioritas

    Earliest Due date (EDD). Hasil perhitungan penjadwalan aturan prioritas EDD

    dapat dilihat pada tabel 2.6. Hasil tabel 2.6 perhitungan penjadwalan produksi

    aturan prioritas menunjukkan bahwa penjadwalan dengan aturan prioritas EDD

    menghasilkan 8 dari 10 job terlambat. Sedangkan pada penjadwalan improve

    hodgson menghasilkan 3 dari 10 job terlambat. Percobaan ini menunjukkan bahwa

    algoritma improve Hodgson efektif dalam meminimasi jumlah job terlambat pada

    kasus flowshop.

    Job yang

    Dihilangkan

    Iterasi 1 5 2 3 4 1 6 9 8 7 10 -

    Iterasi 2 5 2 4 1 6 9 8 7 10 3

    Iterasi 3 5 2 1 6 9 8 7 10 4

    Iterasi 4 5 2 1 9 8 7 10 6

    Urutan JobIterasi

    Job (tj1) (tj2) Tj dj Lj Nj

    5 4 2 6 11 0 4 4 6 -5 0

    2 3 2 5 12 4 7 7 9 -3 0

    1 1 1 2 13 7 9 8 10 -3 0

    9 2 1 3 14 8 10 10 11 -3 0

    8 2 2 4 15 10 12 12 14 -1 0

    7 1 2 3 17 12 14 13 16 -1 0

    10 1 1 2 17 13 16 14 17 0 0

    3 5 4 9 13 14 19 19 23 10 1

    4 4 7 11 14 19 23 23 30 16 1

    6 7 3 10 17 23 30 30 33 16 1

    3Total Nt

    Mesin 1 Mesin 2

    Mulai Selesai

    M1 M2 M1 M2

  • 18

    Tabel 2.6 Perhitungan Penjadwalan Aturan Prioritas EDD6

    Kami juga melakukan percobaan numerik untuk membuktikan perbandingan

    algoritma usulan dengan aturan prioritas EDD. Percobaan dilakukan pada

    masalah flowshop untuk 2, 5, 10 dan 15 stage / mesin. Setiap stage kami lakukan

    percobaan sebanyak 5. Rekapitulasi percobaan numerik yang telah dilakukan

    dari perbandingan antara hasil algoritma baru ini dengan algoritma Earliest Due

    date (EDD) dapat dilihat pada table 2.7.

    Job (tj1) 2 (tj2) Tj dj Lj Nj

    5 4 2 6 11 0 4 4 6 -5 0

    2 3 2 5 12 4 7 7 9 -3 0

    3 5 4 9 13 7 12 12 16 3 1

    4 4 7 11 14 12 16 16 23 9 1

    1 1 1 2 15 16 23 17 24 9 1

    6 7 3 10 17 17 24 24 27 10 1

    9 2 1 3 17 24 27 26 28 11 1

    8 2 2 4 18 26 28 28 30 12 1

    7 1 2 3 20 28 30 29 32 12 1

    10 1 1 2 22 29 32 30 33 11 1

    8Total Nt

    Mesin 1 Mesin

    Mulai Selesei

    M1 M2 M1 M2

  • 19

    Tabel 2.7 Rekapitulasi Percobaan Numerik7

    Percobaan Jumlah Jumlah

    stage/mesin JobImprove

    Hodgson

    Prioritas

    EDD

    1 2 10 2 8

    2 5 8 3 5

    3 10 8 4 5

    4 15 6 3 4

    5 2 15 6 10

    6 5 13 4 8

    7 10 13 5 10

    8 15 11 6 8

    9 2 20 5 11

    10 5 18 1 8

    11 10 18 2 8

    12 15 16 6 7

    13 2 25 6 13

    14 5 23 7 11

    15 10 23 3 13

    16 15 21 5 11

    17 2 30 4 14

    18 5 28 5 11

    19 10 28 3 11

    20 15 26 2 10

    Jumlah Job yang terlambat