of 16 /16
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pendapatan 2.1.1. Pengertian Pendapatan Secara umum pendapatan dapat diartikan sebagai peningkatan penghasilan yang diperoleh perusahaan dalam melakukan kegiatan atau aktivitas perusahaannya dan digunakan untuk membiayai seluruh aktivitas dari perusahaan itu.Pendapatan juga merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan karena besar kecilnya pendapatan yang diperoleh akan berpengaruh pada kelangsungan hidup perusahaan .pendapatan sebagai salah satu elemen penentu laba rugi suatu perusahaan. konsep dasar pendapatan pada dasarnya adalah suatu proses mengenai arus penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan dalam jangka waktu tertentu.berbagai definisi muncul mengenai pendapatan. Menurut Akbar (2009:563) “Pendapatan merupakan arus masuk atau peningkatan aktiva lainnya sebuah entitas atau pembentukan utang (atau sebuah kombinasi keduanya) dari pengantaran barang atau penghasilan barang, memberikan pelayanan atau melakukan aktivitas lain yang membentuk operasi pokok atau bentuk entitas yang terus berlangsung” Menurut Munandar (2006:18) “Pendapatan adalah suatu pertumbunhan asets yang mengakibatkan bertambahnya owners equity, tetapi bukan karena pertambahan modal baru dari pemiliknya dan bukan pula merupakan pertumbuhan assets yang disebabkan bertambahnya liabilities”

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pendapatan 2.1.1. Pengertian ...BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pendapatan 2.1.1. Pengertian Pendapatan Secara umum pendapatan dapat diartikan sebagai peningkatan

  • Author
    others

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pendapatan 2.1.1. Pengertian ...BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pendapatan...

  • BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1. Pendapatan

    2.1.1. Pengertian Pendapatan

    Secara umum pendapatan dapat diartikan sebagai peningkatan penghasilan yang

    diperoleh perusahaan dalam melakukan kegiatan atau aktivitas perusahaannya dan digunakan

    untuk membiayai seluruh aktivitas dari perusahaan itu.Pendapatan juga merupakan hal yang

    sangat penting bagi perusahaan karena besar kecilnya pendapatan yang diperoleh akan

    berpengaruh pada kelangsungan hidup perusahaan .pendapatan sebagai salah satu elemen

    penentu laba rugi suatu perusahaan. konsep dasar pendapatan pada dasarnya adalah suatu proses

    mengenai arus penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan dalam jangka waktu

    tertentu.berbagai definisi muncul mengenai pendapatan.

    Menurut Akbar (2009:563) “Pendapatan merupakan arus masuk atau peningkatan aktiva

    lainnya sebuah entitas atau pembentukan utang (atau sebuah kombinasi keduanya) dari

    pengantaran barang atau penghasilan barang, memberikan pelayanan atau melakukan aktivitas

    lain yang membentuk operasi pokok atau bentuk entitas yang terus berlangsung”

    Menurut Munandar (2006:18) “Pendapatan adalah suatu pertumbunhan asets yang

    mengakibatkan bertambahnya owners equity, tetapi bukan karena pertambahan modal baru dari

    pemiliknya dan bukan pula merupakan pertumbuhan assets yang disebabkan bertambahnya

    liabilities”

  • Menurut Theodurus M.Tuanakotta (2011:35)

    “Pendapatan (Revenue) dapat didefinisikan secara umum sebagi hasil dari suatu

    perusahaan. Pendapatan adalah darah kehidupan dari suatu perusahaan. Mengingat

    pentingnya sangat sulit mendefinisikan pendapatan sebagai unsur akuntansi pada dirinya

    sendiri. Seperti laba pendapatan adalah proses arus penciptaan barang atau jasa oleh suatu

    perusahaan selama suatu kurun waktu tertentu. Umumnya, pendapatan dinyatakan dalam

    satuan moneter (uang).”

    Pendapatan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan, semakin besar

    pendapatan yang diperoleh maka semakin besar kemampuan perusahaan untuk membiayai segala

    pengeluaran dan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh perusahaan. Selain itu, pendapatan

    juga berpengaruh terhadap laba rugi perushaan yang tersaji dalam laporan laba rugi, dan perlu di

    ingat lagi adalah bahwa pendapatan merupakan kehidupan bagi perusahaan. Hal ini tentu tidak

    mungkin terlepas dari pengaruh pendaptan dari hasil operasi perusahaan.

    2.1.2. Konsep Pendapatan

    Menurut Sukirno (2000:28) konsep dasar pendapatan adalah bahwa pendapatan

    merupakan proses arus, yaitu penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan selama jarak waktu

    tertentu. Proses arus tersebut yaitu:

    a. Pada waktu penyelesaian kegiatan utama

    Pelaporan diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat dalam rangla

    pengambilan usaha dan dapat dipahami oleh orang-orang yang dapat dipercaya mengenai

    aktivitas perusahaan dan aktivitas ekonomi serta bersedia mempelajari informasi.

    b. Pada saat dijadikan kejadian teoritis

  • Pelaporan keuangan harus dapat memberikan informasi tentang sumber ekonomi sautu

    perusahaan dan keadaan yang merubah sumber tersebut serta sesuai dengan kegunaannya yang

    diharapkan yaitu laporan keuangan harus layak atau sesuai dengan yang dibutuhkan oleh

    pamakai yang potensial. Dengan kata lain laporan keuangan harus diusahakan dapat memenuhi

    kebutuhan informasi pemakainya.

    c. Setelah pertukaran terjadi

    Pada saat terjadi pembebanan beban didapat mungkin dihubungkan dengan pendapatan

    namun untuk beban tertentu meskipun tidak dapat dihubungkan dengan pendapatan pelaporan

    dapat dilakukan dalam periode terjadinya beban memberikan suatu manfaat.

    2.1.3. Pengukuran Pendapatan

    Pengukuran pendapatan merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam laporan

    keuangan, karena dalam melakukan aktivitas usaha dan manajemen perusahaan tentu ingin

    mengetahui nilai atau jumlah pendapatan yang diperoleh dalam suatu periode akuntansi yang

    diakui sesuai dengan prinsip umum.

    Menurut Akbar (2009:584) “ pengakuan pendapatan adalah proses perekaman formal

    suatu item dalam catatan akuntansi yang akhirnya dilaporkan dalam laporan keuangan, termasuk

    pelaporan awal sebuah item maupun perubahan berikutnya berhubungan dengan item itu”.

    Menurut Belkoui (2006:281) ada dua metode pengakuan pendapatan dalam periode

    akuntansi, yaitu:

    1. Dasar kejadian penting (Cash Basis)

  • Kriteria ini telah mengarah kepada kejadian penting mengenai pendapatan pada suatu

    titik tertentu dalam proses laba, yaitu pada saat harta terjual atau jasa diserahkan. Ini

    berarti, dengan penggunaan dasar tunai atau cash basis yang murni, pendapatan dari

    penjualan barang atau jasa hanya diperhitungkan pada saat tagihan langganan diterima

    2. Dasar Akrual (Accrual Basis)

    Menurut dasar akrual pendapatan diakui apabila penjualan barang atau jasa telah

    dilakukan pada saat terjadinya tanpa memandang saat periode penerimaan. Dengan

    demikian metode dasar akrual memperhitungkan pendapatan pada saat terjadinya

    penjualan. Dasar akrual untuk pengakuan pendapatan yang menyatakan bahwa

    pendapatan harus dilaporkan selama produksi, maka dalam hal ini apabila keuntungan

    dapat dihitung secara sebanding dalam tugas yang dikejakan atau jasa yang dilaksanakan

    pada akhir produksi, maka pendapatan diakui pada barang atau pada pengumpulan hasil

    penjualan.

    2.1.4Klasifikasi Pendapatan

    Menurut Kusnadi (2000:30) menyatakan bahwa pendapatan dapat diklasifikasikan

    menjadi dua bagian,yaitu:

    1. Pendapatan Operasional

    Pendapatan operasional adalah pendapatan yang timbul dari penjualan barang dagangan,produk

    atau jasa dalam periode tertentu dalam rangka kegiatan utama atau yang menjadi tujaun utama

    perusahaan yang berhubungan langsung dengan usaha (operasi) pokok perusahaan yang

  • bersangkutan.Pendapatan ini sifatnya normal sesuai dengan tujuan dan usaha perusahaan dan

    terjadinya berulang-ulang selama perusahaan melangsungkan kegiatannya.

    2. Pendapatan Non Operasional

    Pendapatan Non Operasional merupakan pendapatan yang diperoleh dari kegiatan sampingan

    atau bukan kegiatan utama perusahaan yang bersifat tidak secara tetap atau rutin. Pemisahan atau

    pembagian pendapatan yang mengalir dari berbagi sumber sangat perlu dilakukan sehingga dapat

    diperoleh ketepatan dalam mengambil keputusan bagi pihak ekstern terutama para pemakai

    laporan keuangan

    2.2 Laba Bersih

    Untuk memperoleh laba perusahaan harus melakukan kegiatan operasionalnya.Laba yang

    dimaksud dalam penelitian ini adalah laba bersih.Laba Bersih atau

    Menurut Halim dan Supomo (2005:139) “laba merupakan pusat pertanggung jawaban yang

    masukan dan keluarannya di ukur dengan menghitung selisih antara pendapatan dan biaya”.

    Menurut Hanafi (2010:32) “laba merupakan ukuran keseluruhan prestasi perusahaan, yang

    didefinisikan sebagai berikut laba = penjualan-biaya”.

    Menurut Harnanto (2003:444) berpendapat bahwa:“Laba secara umum adalah selisih

    pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu (periode) tertentu. Laba sering digunakan

    sebagai suatu dasar untuk pengenaannnn pajak,kebijakan deviden, pedoman investasi, serta

    pengambilan keputusan dan unsur prediksi”.

    Pada dasarnya, perusahaan beroperasi adalah dengan harapan agar memperoleh laba pada

    tingkat tertentu yang sudah ditetapkan sebagai tujuan yang harus dicapai.Pertumbuhan laba

    perusahaan yang baik mencerminkan bahwa kinerja perusahaan juga baik.Semakin tinggi laba

  • yang dicapai perusahaan, mengindikasi semakin baik kinerja perusahaan.Dengan demikian

    apabila rasio keuangan perusahaan baik,maka pertumbuhan laba perusahaan juga baik.

    menurut Abdullah (1993:289) :

    Laba bersih adalah kelebihan seluruh pendapatan atas seluruh biaya untuk suatu periode

    tertentu setelah dikurangi pajak penghasilan yang disajikan dalam laporan laba rugi. Para

    akuntan menggunakan istilah “net income” untuk menyatakan kelebihan pendapatan atas

    biaya dan istilah “net loss” untuk menyatakan kelebihan biaya atas pendapatan.

    Menurut Soemarso (2006:227) mendefinisikan laba bersih adalah sebagai berikut “Angka

    terakhir dalam laporan laba rugi adalah laba bersih (net profit). Jumlah ini merupakan kenaikan

    bersih terhadap modal. Sebaliknya, apabila

    perusahaan menderita rugi, angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah laba bersih (net losss)”

    Menurut Kasmir (2008:309) manfaat yang dapat diperoleh dari analisis laba :

    1. Untuk mengetahui penyebab turunnya harga jual.

    2. Untuk mengetahui penyebab naiknya harga jual.

    3. Untuk mengetahui penyebab turunnya harga pokok penjualan.

    4. Sebagai bentuk pertanggungjawaban bagian penjualan akibat naik turunnya haga jual.

    5. Sebagai bentuk pertanggungjawaban bagian penjualan akibat naik turunnya harga pokok

    penjualan.

    6. Sebagai salah satu alat ukur untuk menilai kinerja manajemen dalam suatu periode.

    7. Sebagai bahan untuk menentukan kebijakan manajemen ke depan.

    Menurut Jumingan (2014:164), faktor-faktor yang mempengaruhi Laba Bersih :

    1. Naik turunnnya jumlah unit dan harga jual per unit.

    2. Naik turunnya harga pokok penjualan. Perubahan harga pokok penjualan ini dipengaruhi

    oleh jumlah unit yang dibeli atau diproduksi atau dijual dan harga pembelian per unit atau

    harga pokok per unit.

  • 3. Naik turunnya biaya usaha yang dipengaruhi oleh jumlah unit yang dijual,variasi jumlah

    unit yang dijual, variasi dalam tingkat harga dan efisiensi operasi perusahaan.

    4. Naik turunnya pos penghasilan atau biaya operasional yang dipengaruhi oleh variasi

    jumlah unit yang dijual, variasi dalam tingkat harga dan perubahaan kebijakan dalam

    pemberian atau penerimaan discount.

    5. Naik turunnya pajak perseroanyang dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang diperoleh

    atau tinggi rendahnya tarif pajak.

    6. Adanya perubahaan dalam metode akuntansi.

    2.2.1. Klasifikasi laba

    Menurut Rahmat (2006:9) Laba dapat diklasifikasikan berdasarkan dua dimensi utama yaitu:

    1. Komponen operasi dan nonoperasi

    Klasifikasi operasi dan non operasi terutama bergantung pada sumber pendapatan dan beban,

    yaitu apakah pos tersebut berasal dari operasi-operasi perusahaan yang masih berlangsung

    atau dari aktivitas investasi (pendanaan),laba bersih (opearting income),merupakan suatu

    pengukuran laba perusahaan yang berasal dari aktivitas operasi yang masih berlangsung laba

    nonoperasi (nonoperating income),mencakup seluruh komponen laba yang tercakup dalam

    laba operasi.

    2. Komponen berulang dan tidak berulang

    Klasifikasi berulang dan tidak berulang terutama bergantung pada apakah pos tersebut akan

    terus terjadi atau hanya satu kali.

  • 2.3. Konsep Dasar Perhitungan

    Penulis menggunakan softwareIBM SPSS Statistics 21 dalam mengolah data guna

    membuktikan hipotesis-hipotesis yang tertera dalam penulisan tugas akhir ini. Menurut Pratisto

    dalam bukunya Statistik Menjadi Mudah dengan SPSS, menerangkan bahwa:

    Statistical Product and Service Solution atau biasa dikenal dengan SPSS merupakan

    program pengolah data statistik mulai dari model aplikasi statistik deskriptif (mean,

    median, modus, kuartil,persentil, range, distribusi, varians, standar deviasi, standar error,

    nilai kemiringan, dan lain-lain), statistik parametrik (uji t, korelasi, regresi, anova, dan lain-

    lain), serta statistik non-parametrik (uji crosstab, binomial, chi square, Kolmogorov

    Smirnov, dan lain-lain.

    2.3.1. Uji KoefisienKorelasi

    Menurut Supranto (2008:161) “hubungan dua variabel ada yang positif dan negatif X dan

    Y dikatakan positif apabila kenaikan (penurunan) X pada umumnya diikuti oleh kenaikan

    (penurunan) Y, sebaliknya dikatakan negatif bila kenaikan (penurunan) X pada umumnya diikuti

    penurunan(kenaikan) Y.

    Dua variabel dikatakan berkorelasi apabila perubahan dalam satu variabel diikuti oleh

    perubahan dalam satu variabel diikuti oleh perubahan variabel lainnya, baik yang searah maupun

    tidak. Hubungan anatar variabel dapat dikelompokan menjadi tiga jenis :

    1. Korelasi positif

    Terjadinya korelasi positif apabila perubahan antara variabel yang satu

    diikuti oleh variabel lainnya dengan arah yang sama (berbanding lurus). Artinya apabila

    variabel yang satu meningkat, maka akan diikuti peningkatan variabel lainnya.

  • Gambar II.1 Korelasi Positif

    2. Korelasi Negatif

    Terjadinya korelasi negatif apabila perubahan antara variabel yang satu diikuti oleh

    vaiabel lainnya dengan arah berlawanan (berbanding terbalik). Artinya apabila variabel yang

    satu meningkat, maka akan diikuti penurunan variabel lainnya.

    Gambar II.2 Korelasi Negatif

    3. Korelasi Nihil

    Terjadinya korelasi nihil apabila perubahan antara variabel yang satu diikuti oleh

    variabel lainnya dengan arah yang tidak teratur (acak). Artinya apabila variabel yang satu

    meningkat, kadang dengan peningkatan pada variabel lain dan kadang diikuti penurunan pada

    variabel lain.

  • Gambar II.3 korelasi nihil

    Menurut Supranto (2008:189) “Koefisien korelasi adalah niali yang menunjukan kuat

    atau tidaknya hubungan dua variabel”. Berdasarkan hubungan antar variabel yang satu dengan

    variabel lainnya dinyatakan dengan koefisien korelasi yang disimbolkan dengan “r”.

    Besarnya korelasi berkisar antara -1≤ r ≤ 1, Apabila korelasi mendekati +1 atau -1 berarti

    terdapat hubungan yang kuat, sebaliknya korelasi yang mendekati 0 maka bernilai lemah.

    Apabila korelasi sama dengan 0, antara kedua variabel berarti tidak terdapat hubungan sama

    sekali. Pada korelasi +1 atau -1 terdapat hubungan yang sempurna antara kedua variabel.

    Notasi positif (+) atau negatif (-) menunjukkan arah hubungan antara kedua variabel.

    Pada notasi positif (+), hubungan antara kedua variabel searah, jadi jika satu variabel naik maka

    variabel yang lain juga naik. Pada notasi negatif (-), kedua variabel berhubungan terbalik, artinya

    jika satu variabel naik maka variabel yang lain justru turun.

    Menurut Supranto (2008:161) “mengenai analisis korelasi yaitu merupakan suatu cara

    untuk mengetahui kuat atau tidaknya hubungan antara x dan y apabila dapat dinyatakan dengan

    fungsi linier (paling tidak mendekati) dan diukur dengan suatu nilai yang disebut koefisien

    korelasi”.

  • Rumus yang dipergunakan untuk menghitung koefisien korelasi sederhana adalah sebagai

    berikut (Rumus ini disebut juga dengan Pearson Product Moment):

    2222 yynxxn

    yxxynr

    keterangan:

    n = Banyaknya Pasangan data X dan Y

    Σx = Total Jumlah dari Variabel X

    Σy = Total Jumlah dari Variabel Y

    Σx2= Kuadrat dari Total Jumlah Variabel X

    Σy2= Kuadrat dari Total Jumlah Variabel Y

    Σxy= Hasil Perkalian dari Total Jumlah Variabel X dan Variabel Y

    Untuk dapat memberi interprestasi seberapa kuat hubungan itu, maka dapat digunakan

    pedoman seperti yang tertera pada tabel berikut:

    Tabel II.1

    Tingkat keeratan antara variabel bebas dengan variabel terikat

    Nilai korelasi Interprestasi

    Kurang dari 0,20

    0,20 – 0,40

    0,40 – 0,70

    Hubungan rendah sekali/ lemah sekali

    Hubungan rendah tetapi pasti

    Hubungan cukup berarti

  • 0,70 – 0,90

    lebih dari 0,90

    Hubungan tinggi dan kuat

    Hubungan tinggi dan kuat sekali

    3.3.2 Uji Koefisien Determinasi

    Menurut Supranto (2008:5) menyatakan bahwa “koefisien determinasi adalah bagian dari

    keragaman total variabel Y (terikat) yang dapat diterangkan atau diperhitungkan oleh keragaman

    variabel X (bebas), yaitu koefisien yang mengukur besarnya persentase kontribusi variasi X

    terhadap Y.”

    nilai koefisien determinasi, maka dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

    Dimana:

    KD = Koefisien Determinasi

    r2 = kuadrat koefisien korelasi

    Koefisien determinasi dinyatakan dengan R² untuk pengujian regresi linear sederhana.

    Koefisien determinasi adalah untuk mengetahui proporsi keragaman total dalam variabel tak

    bebas Y yang dapat dijelaskan atau diterangkan .

    Maka R² akan ditentukan dengan rumus :

    R² = r²

    KD = r2 ×100%

  • Dengan :

    r = regresi

    Harga R yang diperoleh sesuai dengan variasi yang dijelaskan masing-masing variabel

    yang tinggal dalam regresi. Hal ini mengakibatkan variansi yang dijelaskan penduga yang

    disebabkan oleh variabel yang berpengaruh saja (yang bersifat nyata).

    Berdasarkan rumus di atas maka hasil perhitungan dapat dikategorikan dalamkriteria

    besarnya pengaruh berdasarkan tabel sebagai berikut sebagai berikut:

    Tabel II.2

    Pengaruh tingkat Determinasi

    Interval Tingkat Pengaruh

    0% - 19,9% Sangat rendah

    20% - 39,9% Rendah

    40% - 59,9% Sedang

    60% - 79,9% Kuat

    80% - 100% Sangat kuat

    2.3.3. Analisa Regresi Linear sederhana

    Menurut Sugiyono (2009:260)Analisis regresi adalah analisis yang digunakan untuk

    memprediksikan seberapa jauh perubahan nilai variabel dependent apabila nilai variabel

  • independent dimanipulasi (dirubah-rubah) atau dinaik-turunkan. Manfaat dari hasil analisis

    regresi adalah untuk membuat keputusan apakah naik dan menurunnya variabel dependent dapat

    dilakukan melalui peningkatan melalui variabel independent atau tidak.

    Menurut Supranto ( 2001: 178). Beberapa pengertian analisis regresi sederhana anatara

    lain :

    1. Analisis regresi sederhana adalah memperkirakan hubungan antara dua variabel tanpa

    membuat asumsi terlebih dahulu mengenai bentuk hubungan yang dinyatakan dalam fungsi

    tertentu

    2. Analisis regresi sederhana adalah tidak mungkin untuk memperkirakan hubungan antara dua

    variabel tanpa membuat asumsi terlebih dahulu mengenai bentuk hubungan yang dinyatakan

    dalam fungsi tertentu.

    Menurut Samsubar Saleh (2008:118) “ Analisis regresi sederhana adalah analisis yang

    ingin mengetahui sampai seberapa jauh perubahan satu variabel terhadap variabel lainnya”.

    Menurut (Jonathan Sarwono, 2010:66) ”Analisis regresi sederhana adalah megestimasi

    besarnya koefisien-koefisien yang dihasilkan dari persamaan yang bersifat linier yang

    melibatkan satu variabel bebas untuk digunakan sebagai alat prediksi besarnya nilai variabel”

    Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa analisis regresi sederhana

    adalah cara kita memperkirakan hubungan antara dua variabel mengenai bentuk hubunngan yang

    dinyatakan dalam fungsi tertentu yang digunakan sebagai alat prediksi besarnya nilai variabel

    tergantung.

    Menurut Jonathan Sarwono (2006:66) “Analisis regresi sederhana ini dapat digunakan

    untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergentung dan

    memprediksi variabel tergantung dengan menggunakan variabel bebas”.

  • Menurut Abdul Muhid (2010:106) “analisis regresi sederhana terdapat rumus yang dapat

    digunakan untuk menghitung analisis regresi sederhana yakni” :

    Y’ = a + bX

    Dimana :

    a = konstanta

    b = koefisien regresi (kemiringan)

    Y = Variabel dependen ( variabel tak bebas )

    X = Variabel independen ( variabel bebas )

    Harga b merupakan fungsi dari koefisien korelasi. Bila koefisien korelasi tinggi maka harga b

    jugabesar, sebaliknya bila koefisien korelasi rendah maka harga b juga rendah atau kecil. Selain

    itu, bila koefisien korelasi negatif maka harga b juga negatif, sebaliknya bila koefisienkorelasi

    positif maka harga b juga positif.

    Menurut Sugiyono (2005:206) nilai a dan b dapat dicari menggunakan rumus:

    http://2.bp.blogspot.com/-UKUkhIuZHKs/UMJzbJg73oI/AAAAAAAAAh0/Q9GNL5qr12s/s1600/op.jpg