of 47 /47
10 10 BAB II KAJIAN TEORITIK A. Konsep Penelitian Tindakan 1. Defini Penelitian Tindakan Di Indonesia penelitian tindakan kelas masih termasuk baru meski telah berkembang lama di Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Penelitian tindakan berkaitan erat dengan penelitian kualitatif, karena memang dalam pengumpulan datanya menggunakan pendekatan kualitatif. Mengutip dalam buku Nana Saodah “penelitian tindakan merupakan suatu pencarian sistematik yang dilaksanakan oleh para pelaksana program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan oleh guru, dosen, kepala sekolah, konselor), dalam mengumpulkan data tentang pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang dihadapi, untuk kemudian menyusun rencana dan melakukan kegiatan- kegiatan penyempurna”. 1 Gagasan yang dimaksud penelitian tindakan adalah penelitian yang dilaksanakan oleh pelaksana pendidikan yang mengalami kendala yang kemudian dicari solusinya dengan kegiatan penyempurna untuk memecahkan masalah yang dihadapi. 1 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan,(Jakarta: PT Remaja Rosdakarya, 2010),h.140

BAB II KAJIAN TEORITIK A. Konsep Penelitian Tindakan 1 ... · KAJIAN TEORITIK A. Konsep Penelitian Tindakan 1. Defini Penelitian Tindakan Di Indonesia penelitian tindakan kelas masih

  • Author
    others

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN TEORITIK A. Konsep Penelitian Tindakan 1 ... · KAJIAN TEORITIK A. Konsep Penelitian...

  • 10

    10

    BAB II

    KAJIAN TEORITIK

    A. Konsep Penelitian Tindakan

    1. Defini Penelitian Tindakan

    Di Indonesia penelitian tindakan kelas masih termasuk baru meski telah

    berkembang lama di Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Penelitian

    tindakan berkaitan erat dengan penelitian kualitatif, karena memang dalam

    pengumpulan datanya menggunakan pendekatan kualitatif. Mengutip dalam

    buku Nana Saodah “penelitian tindakan merupakan suatu pencarian

    sistematik yang dilaksanakan oleh para pelaksana program dalam

    kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan oleh guru, dosen, kepala

    sekolah, konselor), dalam mengumpulkan data tentang pelaksanaan

    kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang dihadapi, untuk kemudian

    menyusun rencana dan melakukan kegiatan- kegiatan penyempurna”.1

    Gagasan yang dimaksud penelitian tindakan adalah penelitian yang

    dilaksanakan oleh pelaksana pendidikan yang mengalami kendala yang

    kemudian dicari solusinya dengan kegiatan penyempurna untuk

    memecahkan masalah yang dihadapi.

    1 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan,(Jakarta: PT Remaja

    Rosdakarya, 2010),h.140

  • 11

    Walaupun telah berkembang lama di Amerika Serikat, Inggris dan

    Australia, di Indonesia penelitian tindakan masih termasuk baru. Penelitian

    tindakan berkaitan erat dengan penelitian kualitatif, karena memang dalam

    pengumpulan datanya menggunakan pendekatan kualitatif.

    Glenda Mac Naghton mengatakan action research is about researching

    with people to create and study change in and through the research prosess.

    In early childhood settings it can produce changed ways of doing things and

    changed ways of understanding why we do what we do.2

    Dalam hal ini action research adalah penelitian yang ditujukan untuk

    meneliti orang dengan mempelajari perubahan yang dilakukan melalui proses

    penelitian, dengan cara mengetahui apa yang akan dirubah dan mengapa

    kita melakukan penelitian tersebut.

    Dalam Nana Syaodih menyatakan bahwa “penelitian tindakan

    merupakan suatu pencarian sistematik yang dilaksanakan oleh para

    pelaksana program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan

    oleh guru, dosen, kepala sekolah, konselor), dalam pengumpulan data

    tentang pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang dihadapi,

    untuk kemudian menyusun rencana dan lakukan kegiatan- kegiatan

    2 Glenda Mac Noughton, Doing Early Childhood Research Internasional Perspectives On

    Theory and Practice, (Australia: Nasional Library Of Australia, 2001), h.208

  • 12

    penyempurnaan”.3 Ada beberapa perbedaan utama dari penelitian tindakan

    dengan penelitian kelas biasa.

    Tabel 1 .1 Perbedaan antara Penelitian Biasa dengan Penelitian

    Tindakan4

    Apa Penelitian Biasa Penelitian Tindakan

    Siapa

    Dilakukan oleh para

    professor, ahli,peneliti

    khusus, mahasiswa terhadap

    kelompok eksperimental dan

    kontrol.

    Dilakukan oleh para

    pelaksana kegiatan dalam

    kegiatan yang menjadi

    tugasnya.

    Dimana Dalam lingkungan di mana

    variable dapat dikontrol

    Di dalam lingkungan kerja

    atau lingkungan tugasnya

    sendiri.

    Bagaimana

    Menggunakan pendekatan

    kuantitatif,menguji signifikansi

    statistic, hubungan sebab-

    akibat antar variable

    Menggunakan pendekatan

    kualitatif menggambarkan

    apa yang sedang berjalan

    dan ditujukan untuk

    mengetahui dampak dari

    3 Nana Syaodih Sukmadinata, loc. cit. 4 Nana Syaodih Sukmadinata, loc. cit.

  • 13

    kegiatan yang dilakukan.

    Mengapa Menemukan kesimpulan

    yang dapat digeneralisasikan

    Melakukan tindakan dan

    mendapatkan hasil positif

    dari perubahan yang

    dilakukan dalam lingkungan

    kerja atau tugasnya.

    Gagasan penelitian tindakan diatas adalah penelitian yang dilaksanakan

    oleh pelaksana kegiatan, di tempat dia bertugas atau lingkungan sendiri,

    dengan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan hasil positif yang

    dilakukan dalam lingkungan kerjanya. Dalam Craig A.Mertler tertulis bahwa:

    “Action research models begin with a central problem or topic. They

    involve some observation or monitoring of current practice, followed by the

    collection and synthesis of information and data. Finally, some sort of action is

    taken, which then serves as the basis for the next stage of action research

    (Mills,2007).5

    Dalam hal ini model penelitian adalah model penelitian yang dimulai

    dengan topik, yang kemudian dipantau, diamati saat praktek, pengumpulan

    5 Craig A.Mertler,Action Research teacher as researchers in the classroom,(Los

    angeles:Sage,2009),h.13

  • 14

    informasi dan data yang kemudian disintesis. Pada akhirnya tindakan

    dilakukan berdasarkan data untuk penelitian tindakan, H.M Sukardi

    dinyatakan bahwa:

    “ Penelitian tindakan tidak lain adalah suatu metode penelitian, dimana

    suatu kelompok orang yang juga penelitian dalam mengorganisasikan suatu

    kondisi, mereka dapat mempelajari secara intensif pengalaman dan membuat

    pengalaman mereka dapat diakses orang lain”.6

    Gagasan dalam pendapat ini bahwa penelitian tindakan adalah metode

    penelitian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang melakukan penelitian

    secara intensif dimana hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk

    dipelajari oleh orang lain.

    Menurut Kemmis dan Mc Taggart (1982 ),” action research is, the way

    groups of people can organize the conditions under which they can learn form

    their own experience and make their experience accessible to the others”.

    Gagasan di atas menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah cara suatu

    kelompok atau seseorang dalam mengorganisasi sebuah kondisi dimana

    mereka dapat mempelajari pengalaman mereka dan membuat pengalaman

    mereka dapat diakses oleh orang lain). Sedangkan kelas adalah tempat

    bekerja para guru melakukan penelitian, sedang dimungkinkan mereka

    bekerja sebagai guru di tempat kerjanya.

    6 H.M. Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan Kelas Implementasi dan Pengembangannya,

    (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), h. 210

  • 15

    Dalam Emzir mengatakan bahwa “Penelitian tindakan adalah bentuk

    penelitian refleksi diri (self-reflective) yang dilakukan oleh para partisipan

    dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) dalam rangka meningkatkan (a)`

    keadilan dan rasionalitas praktik sosial dan pendidikan mereka sendiri; b)

    pemahaman mereka tentang praktik tersebut; (c) situasi tempat praktik

    tersebut dilakukan. Hal ini sangat rasional jika dilakukan oleh partisipan”.7

    Berdasarkan konsep atau teori dari beberapa ahli diatas dapat

    disimpulkan bahwa penelitian tindakan merupakan suatu proses penelitian

    yang dilakukan oleh seorang peneliti baik secara perorangan maupun

    kelompok. Melalui penelitian tersebut peneliti menghendaki adanya sebuah

    perubahan, peningkatan, ataupun pemecahan suatu masalah terhadap

    subyek penelitian yang diteliti. Penelitian tindakan dapat dilakukan oleh guru

    atau profesi lainnya. Tujuannya adalah untuk mengubah dan memecahkan

    masalah, sehingga menjadi perbaikan pada kegiatan selanjutnya.

    2. Landasan Teoritis Penelitian Tindakan

    Teori yang mendasari penelitian sejalan dengan akar sejarah

    perkembangan dari metode penelitian ini. Perkembangan penelitian tindakan

    diawali oleh karya Kurt Lewin. Setelah serangkaian kegiatan pengalaman

    praktiknya pada awal tahun 1940, ia menyimpulkan bahwa penelitian

    7 Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan, Kuantitatif & Kualitatif (Jakarta: Raja Grafindo

    Persada,2013),h.234

  • 16

    tindakan merupakan suatu proses yang memberikan kepercayaan pada

    pengembangan kekuatan berfikir rekreatif, diskusi, penentuan keputusan dan

    tindakan orang-orang biasa, berpartisipasi dalam penelitian kolektif dalam

    mengatasi kesulitan – kesulitan yang mereka hadapi dalam kegiatannya

    (Adelman 1993). 8

    3. Prinsip – Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

    Hopkins (1993) menyebutkan ada 6 (enam) prinsip dasar yang

    melandasi penelitian tindakan kelas9.

    Prinsip pertama, bahwa tugas guru yang utama adalah

    menyenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas, untuk itu, guru

    memiliki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas

    pembelajaran secara terus menerus. Dalam menerapkan suatu tindakan

    untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ada kemungkinan tindakan yang

    dipilih tidak/ kurang berhasil, maka ia harus tetap berusaha mencari

    alternative lain.

    Prinsip kedua, bahwa meneliti merupakan bagian integral dari

    pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode

    pengumpulan data. Tahapan-tahapan penelitian tindakan selaras dengan

    8 Ibid.,h.142 9 H. Ahmad Qurtubi, Metodologi Penelitian Pendidikan, Pengantar Teori dan Panduan Logika

    dan Prosedur Penelitian Bagi Mahasiswa dan Peneliti Pemula, (Tangerang: PT . Bintang Harapan sejahtera ,2008),h.124

  • 17

    pelaksanaan pembelajaran, yaitu persiapan (planning), pelaksanaan

    pembelajaran (action), observasi kegiatan pembelajaran (observation),

    evaluasi proses dan hasil pembelajaran (evaluation), dan refleksi dari proses

    dan hasil pembelajaran (reflection). Prinsip kedua ini menginsyaratkan agar

    proses dan hasil pembelajaran direkam dan dilaporkan secara sistematik dan

    terkendali menurut kaidah ilmiah.

    Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian integral

    dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur

    dan kaidah ilmiah. Alur pikir yang digunakan dimulai dari pendiagnosisan

    masalah dan faktor penyebab timbulnya masalah, pemilihan tindakan yang

    sesuai dengan permasalahan dan penyebabnya, merumuskan hipotesis

    tindakan tepat, penetapan skenario tindakan, penetapan prosedur

    pengumpulan data dan analisi data.

    Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalah-

    masalah pembelajaran yang riil dan merisaukan tanggungjawab professional

    dan komitmen terhadap pemelorehan mutu pembelajaran.

    Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam

    memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan. Hal

    ini penting karena upaya peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat

    dilakukan sambil lalu, tetapi menuntut perencanaan dan pelaksanaan yang

    sungguh – sungguh.

  • 18

    Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak

    seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas, tetapi dapat

    diperluas pada tataran di luar ruang kelas, misalnya tatanan system lembaga.

    4. Komponen Penting dalam Siklus Penelitian Kelas

    Secara garis besar, para peneliti perlu mengenal adanya empat

    komponen penting yang selalu ada pada setiap siklus, dan menjadi ciri khas

    penelitian tindakan, yaitu plan, act, observe dan reflect atau disingakat PAOR.

    Semuanya ini dilakukan sehari- harinya 10. 1). Plan (rencana) merupakan

    serangkaian rancangan tindakan sistematis untuk meningkatkan apa yang

    hendak terjadi.

    Dalam penelitian tindakan, rencana tindakan tersebut harus berorientasi

    ke depan. Di samping itu, perencanaan harus menyadari sejak awal bahwa

    tindakan sosial pada kondisi tertentu dapat diprediksi dan mempunyai resiko.

    Oleh karena itu perencanaan yang dikembangkan harus fleksibel, untuk

    mengadopsi pengaruh yang tidak dapat diprediksi dan mempunyai resiko.

    Dan Oleh karena itu, perencanaan yang dikembangkan harus fleksibel, untuk

    mengadopsi pengaruh yang tidak dapat dilihat dan rintangan tersembunyi

    yang mungkin timbul; 2) Act (Tindakan), yang perlu diperhatikan oleh

    seorang peneliti adalah act ( tindakan) yang terkontrol dan termonitor secara

    10 H. Ahmad Qurtubi, Metodologi Penelitian Pendidikan, Pengantar Teori dan Panduan

    Logika dan Prosedur Penelitian Bagi Mahasiswa dan Peneliti Pemula Op. cit

  • 19

    seksama. Tindakan dalam penelitian harus dilakukan dengan hati – hati, dan

    merupakan kegiatan praktis yang terencana; 3) Observe (Observasi), pada

    penelitian tindakan kelas mempunyai arti pengamatan terhadap treatment

    yang diberikan pada kegiatan tindakan. Observasi mempunyai fungsi penting,

    yaitu melihat dan mendokumentasi implikasi tindakan yang diberikan kepada

    subyek yang diteliti; 4) Reflect (Reflektif), merupakan langkah dimana tim

    peneliti menilai kembali situasi, setelah subyek/objek yang diteliti treatment

    secara sistematis. Komponen ini merupakan sarana untuk melakukan

    pengkajian kembali tindakan yang telah dilakukan terhadap subjek penelitian,

    dan telah dicatat dalam observasi.

    5. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

    Mc Niff (1992) menegaskan bahwa dasar utama dilaksanakan

    penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan, kata perbaikan disini harus

    dimaknai dalam konteks pembelajaran khususnya dan implementasi program

    pada umumnya.11

    Dengan demikian akibat logis dari uraian di atas maka banyak manfaat

    yang dapat dipetik, diantaranya yaitu (1) Guru semakin diberdayakan

    (empowered) untuk mengambil berbagai prakarsa professional secara

    mandiri, dengan kata lain prakarsa untuk melakukan ‘revolusi inivasi’ dalam

    pendidikan hanya akan berhasil jika dimulai dari ‘ujung tombak’ pelaksana

    11 Ibid., h.129

  • 20

    dilapangan. (2) Guru memiliki keberanian mencobakan hal- hal baru yang

    diduga dapat membawa perbaikan dalam kegiatan pembelajarannya di dalam

    kelas, keberanian ini berdampak pada munculnya rasa percaya diri dan

    kemandirian guru dalam memecahkan pembelajarannya di dalam kelas. (3)

    Guru tidak lagi puas dengan rutinitas monoton (complecent), melainkan

    terpacu untuk selalu berbuat lebih baik dari sekarang yang telah diraihnya

    sehingga terbuka peluang untuk peningkatan kinerja secara

    berkesinambungan ( continue).

    Secara ringkas, inovasi pembelajaran yang bersifat bottom up (tumbuh

    dari bawah) dengan sendirinya akan jauh lebih efektif jika dibandingkan

    dengan yang dilakukan dari atas (top down). Hal ini karena pendekatan

    inovasi pembelajaran yang bersifat top down tidak jarang berangkat dari teori

    yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual bagi

    pemecahan permasalan pembelajaran yang tengah dihadapinya di dalam

    kelas.

    6. Langkah- langkah Penelitian Tindakan

    Walaupun secara garis besar memiliki kesamaan, tetapi ada beberapa

    variasi langkah- langkah pelaksanaan penelitian tindakan dari beberapa

    ahli:12 (1) Kurt Lewin (1952), menggambarkan penelitian tindakan sebagai

    12 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta, Anggota Ikapi:

    2011), h.145

  • 21

    suatu proses siklus spiral, yang meliputi : perencanaan, pelaksanaan dan

    pengamatan; (2) Stephen Kemmis (1990) ,mengembangkan bagan spiral

    penelitian tindakan yang juga memasukkan modelnya Lewin. Model Kemmis

    meliputi : pengamatan, perencanaan, tindakan pertama, monitoring, refleksi,

    berfikir ulang, evaluasi; (3) Richard Sagor (1992), menggambarkannya dalam

    lima langkah berurutan, yaitu perumusan masalah, pengumpulan data,

    analisis data, pelaporan hasil, dan perencanaan tindakan; (4) Emily Calhoun

    (1994), lingkaran penelitian tindakan dalam langkah : pemilihan daerah atau

    masalah yang menarik tim, pengumpulan data, penyusunan data, analisis

    dan interpretasi data, dan pelaksanaan tindakan; (5) Gordon Wells (1994),

    menyebutkan langkah- langkah penelitian tindakan tersebut sebagai model

    ideal dari penelitian tindakan, yang mencangkup langkah: pengamatan,

    interpretasi, perubahan rencana, tindakan, dan teori personal praktisi yang

    menjelaskan dan dijelaskan dari lingkaran penelitian tindakan;(6) Ernest

    Stinger (1996), menggambarkannya sebagai spiral interaktif penelitian

    tindakan, yang meliputi: mengamati, berfikir, dan bertindak sebagai lingkaran

    kegiatan yang berkelanjutan; (7) Deborah South (2000), menyebut langkah-

    langkah penelitiannya sebagai penelitian tindakan dialektik (dialectic action

    reaserch) yang terdiri dari empat langkah yaitu ; identifikasi suatu daerah

    fokus masalah, pengumpulan data, analisis dan interprestasi data,

    perencanaan tindakan.

  • 22

    B. Konsep Model Tindakan yang diteliti

    1. Model Stringer (2007)

    Dalam penelitian tindakannya yang berwujud spiral interaktif,

    melukiskan penelitian tindakan sebagai ‘kerangka kerja sederhana namun

    ampuh” yang terdiri dari tiga langkah teratur:”melihat, berfikir, dan bertindak”.

    Sepanjang masing-masing tahap, partisipan mengamati, merefleksi dan

    kemudian mengambil tindakan tertentu. Tindakan ini mengantarnya menuju

    tahapan berikutnya.

    Gambar 2.1 Penelitian Tindakan Striner yang berwujud spiral Interaktif

    Sumber : Diolah dari Action Research (hlm.9), oleh Ernes T.

    Stringer,2007,Thousand Oaks,CA:Sage.Hak cipta 2007 oleh Sage. Dicetak

    ulang dengan izin penerbit. Hak cipta dilindungi undang-undang

  • 23

    2. Model Kurt Lewin

    Kurt Lewin dikenal sebagai bapak penelitian tindakan karena dianggap

    orang pertama kali menyebut istilah penelitian tindakan (action research)

    melalui suatu artikel yang berjudul Action research and Minority Problems

    pada tahun 1946. Beliau juga menggambarkan sebuah spiral penelitian

    tindakan, yang mencangkup penemuan fakta, perencanaan, pengambilan

    tindakan, evaluasi dan perbaikan rencana, sebelum bergerak menuju aksi

    kedua.

    Gambar 2.2 Model Penelitian Kurt Lewin

    3. Model Kemmis dan McTaggart

    Hampir sama dengan Lewin, Kemmis and Taggart mencurahkan

    perhatiannya pada perubahan yang bersifat sosial dan edukatif yang

  • 24

    diarahkan pada tiga aspek utama, mengkaji (studying), membingkai,

    membentuk (reframing), dan melakukan rekonstruksi (reconstructing) praktik-

    praktik sosial. Oleh karena itu, jika hendak mengubah praktik-praktik sosial,

    seharusnya dilakukan secara kolaboratif, partisipatorik, dan reflektif melalui

    siklus-siklus reflektif berbentuk spiral, yang mencakup: (a) merencanakan

    perubahan; (b) mengubah dan mengobservasi, proses dan konsekuensi dari

    perubahan; (c) merefleksi proses dan konsekuensi; (d) merencanakan

    kembali; (e) memberi tindakan dan mengobservasi kembali; (f) merefleksi

    kembali, dan seterusnya. Adapun siklus-siklus di atas dapat digambarkan

    dalam bentuk spiral seperti di bawah ini:

    Gambar 2.3 Model Kemmis dan Taggart

    Model spiral penelitian tindakan yang diusulkan oleh Kemmis dan

    Taggart tersebut bersifat reflektif diri (self-reflective) dan dapat digunakan

  • 25

    dalam penelitian tindakan partipatori, meskipun bagi orang lain dapat

    menggunakannya bukan dengan struktur yang kaku. Artinya penggunaan

    model tersebut dapat dimodifikasi dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan

    yang ada. Siklus tersebut mencakup perencanaan, tindakan dan refleksi.

    Model spiral seperti ini karena menawarkan kesempatan untuk mengkaji

    fenomena yang terdapat pada beberapa tingkat yang dilakukan beberapa kali

    tergantung dari kebutuhan yang diinginkan.

    4. Model John Elliot

    Dalam mengembangkan penelitian tindakan, Elliot melakukan revisi

    terhadap model Lewin dengan mempertimbangkan objek kajian yang

    berbeda. Fokus revisinya terletak pada tiga kategori yaitu: (a) ide utama

    seharusnya diubah menjadi mengidentifikasi ide awal; (b) menyelidiki atau

    tinjauan seharusnya melibatkan analisis dan temuan fakta secara terus

    menerus berulang dalam aktivitas berbentuk spiral daripada terjadi pada

    bagian awal saja; (c) implementasi dari langkah tindakan tidak selalu mudah,

    seharusnya tidak langsung berlanjut pada mengevaluasi dampak dari suatu

    tindakan sebelum dimonitori (diawasi) tingkat atau luasnya dampak tindakan

    yang diimplementasikan.

    Oleh karena itu, perlu adanya suatu tahapan mengawasi implementasi

    dan dampak. Pertama, mengidentifikasi dan mengklasifikasi ide umum

    merujuk pada pernyataan yang menghubungkan suatu ide dengan tindakan.

  • 26

    Dengan kata lain, bahwa ide umum itu merupakan pernyataan tentang suatu

    kondisi atau situasi dari suatu objek yang hendak diubah atau diperbaiki

    melalui tahapan tindakan. Kedua, penyelidikan atau tinjuan (reconnaissance)

    dapat dibagi ke dalam dua langkah, yakni: (1) mendeskripsikan fakta dari

    suatu situasi termasuk berbagai persoalan yang sungguh-sungguh dihadapi

    baik guru maupun peserta didik; (2) menjelaskan fakta atau kondisi objektif

    dari situasi. Ketiga, mengawasi implementasi dan dampak merupakan bagian

    yang harus dilakukan lebih dahulu sebelum untuk menjelaskan implementasi

    dan dampak.

    Gambar bagan 2.4 Model Spiral Lewin yang direvisi

  • 27

    Dapat kita lihat bahwa Elliott menambahkan satu langkah seperti

    mengawasi implementasi dan dampak dari suatu tindakan sebelum sampai

    pada tahap evaluasi. Tetapi dengan memasukkan penyelidikan atau tinjauan

    dengan maksud untuk menjelaskan kegagalan, dan dampaknya kemudian

    menghilangkan tahap evaluasi merupakan sesuatu yang perlu direvisi

    kembali. Hal ini dilakukan mengingat tahapan evaluasi bukan hanya untuk

    menjelaskan kegagalan dan dampaknya, melainkan juga menjelaskan sejauh

    mana tindakan itu memberi kontribusi pada perbaikan hasil yang dicapai.

    Model dari Bachman juga masih bersiklus spiral yang mengarah ke

    bawah para partisipan mengumpulkan informasi, merencanakan aksi,

    mengamati, dan mengevaluasi aksi-aksi yang telah dilakukan. Setelah

    proses evaluasi, peneliti kemudian merancang siklus spiral yang baru

    berdasarkan pandangan yang diperoleh dari siklus sebelumnya.

    Gambar. 2.5 Model Penelitian Tindakan Bachman

    .

  • 28

    5. Piggot-Irvine

    Model dari Piggot-Irvine masih berupa siklus yang terdiri dari tiga

    tahapan, yaitu perencanaan, pengambilan tindakan, dan refleksi.

    Gambar. 2.6 Model Penelitian Tindakan Piggot Irvine

    Berdasarkan model-model penelitian tindakan di atas peneliti melihat

    bahwa banyak terdapat persamaan daripada perbedaanya, hal ini terlihat

    pada penelitian Lewin, dimana model penelitian ini, menggambarkan bahwa,

    tahapan-tahapan dalam penelitian membentuk spiral, yang meliputi

    perencanaan (planning), tindakan (action) dan temuan fakta (fact-finding)

    tentang hasil tindakan. Namun dalam penelitian ini berbeda dengan Kemmis

    Taggart, mengapa karena tidak di munculkan secara langsung tentang

    adanya refleksi dari tindakan yang diberikan. Kemudian pada model Lewin,

  • 29

    tidak melibatkan partisapasi teman sejawat atau kolaborator, hal ini tentu

    sangat berbeda dengan model tindakan Kemmis and Taggart. Model Kemmis

    and Taggart yang menegaskan bahwa di awali dengan perencanaan

    (planning), pengamatan (observation) dan tindakan (action) jadi satu,

    kemudian adanya refleksi (reflection), setelah itu diadakan kembali tindakan

    yang baru.

    Elliot hanya merevisi model Lewin, dengan cara memberikan tiga

    kategori, yaitu: ide awal, adanya pengulangan pada analisis dan temuan

    fakta, dan adanya monitor (pengawasan) implementasi dan dampak sebelum

    masuk ke evaluasi. Kemudian model Stringer terdiri dari 3 kata, look (melihat

    atau memandang) dalam kegiatan ini Stringer mengumpulkan informasi yang

    relevan dan menggambarkan situasi, think (berpikir) kegiatan ini

    mengeksplorasi dan menganalisis dan menginterpretasi dan menjelaskan

    teori berdasarkan yang ditemukan, dan act (bertindak) pada kegiatan ini

    Stringer merencanakan (melaporkan), mengimplementasikan, dan

    mengevaluasi. Selanjutnya model Bachman, dimana hampir sama masih

    dalam bentuk siklus juga, dimana partisipan mengumpulkan informasi,

    merencanakan aksi, mengamati, dan mengevaluasi aksi-aksi yang telah

    dilakukan baru merancang siklus spiral.

    Dari uraian di atas tentang jenis dan model penelitian tindakan, peneliti

    memilih menggunakan model penelitian Kemmis dan Taggart. Model ini dipilih

  • 30

    karena tahap-tahapnya fokus pada kegiatan tertentu sehingga memudahkan

    peneliti untuk melaksanakan penelitian tindakan ini.

    C. Penelitian yang Relevan

    Penelitian meningkatkan kemandirian perinial hygiene ini pernah di teliti

    sebelumnya dengan judul ‘’ Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap

    Perilaku Orangtua dalam Toilet Training Toddler” penelitian ini dilakukan oleh

    Arie Kusumaningrum, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.

    Dimana dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa individu harus mampu

    melakukan perawatan diri (self care) untuk memenuhi kebutuhannya.

    Orangtua berperan penting dalam aktifitas self care, terutama terhadap

    pemberian pendidikan kesehatan dalam menerapkan kemandirian toilet

    training pada anak usia toddler.

    Selain itu pula pernah diteliti oleh Made Widan yaitu salah satu

    stimulasi yang penting dilakukan orangtua adalah stimulasi terhadap

    kemandirian anak dalam melakukan BAB (buang air besar) dan BAK (buang

    air kecil). BAB dan BAK akan efektif apabila dilakukan sejak dini. Salah satu

    cara yang dapat dilakukan orangtua dalam mengajarkan BAB dan BAK yaitu

    dengan toilet training. Hal ini diungkapkan Made Widan dalam penelitiannya

    di RSUD Wangaya, Denpasar pada tahun 2011 mengenai pola asuh orangtua

    dengan kegiatan toilet training.

  • 31

    Penelitian Mary ” keterampilan toilet training merupakan bagian penting

    dari perkembangan anak dan keterampilan yang diperlukan untuk

    meningkatkan kemandirian dan hubungan social (yaitu lingkungan

    masyarakat seperti di sekolah)” . Biasanya anak- anak belajar

    mengembangkan kotrol buang air besar yang pertama, diikuti oleh kontrol

    kandung kemih, dan akhirnya mampu kontrol kandung kemih malam hari.

    Prosedur toilet training agar menjadi efektif jika diikuti dengan penjadwalan

    yang rutin. Demikian Mary dalam tesisnya mengenai toilet training.

    Penelitian dengan judul Toilet Training The Reluctant Child mengatakan

    bahwa ada beberapa tahapan dalam melakukan kegiatan toilet training antara

    lain : 1) first pull down our pants; 2) Then sit on the toilet until pee or poop ; 3)

    Then Wipe (girls wipe front to back); 4) Then pull up our pants; 5) Then flush;

    6) Then wash and dry our hands .

    Dan penelitian tindakan kelas yang diteliti oleh Titi Muhani mengatakan

    bahwa kegiatan toilet training bagi anak dapat meningkatkan kemandirian

    anak dalam melakukan kegiatan toilet training sendiri dan untuk guru

    manfaatnya adalah dapat menunjang pembelajaran agar dapat berjalan

    dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai karena anak sudah

    terbiasa dengan kegiatan toilet training sendiri.

  • 32

    D. Kerangka Teoritik

    1. Kemandirian Perineal Hygiene

    a. Defenisi kemandirian

    Martinis mengemukakan bahwa mandiri adalah suatu cara

    bagaimana anak belajar untuk mencuci tangan, makan, memakai

    pakaian, mandi, atau buang air kecil/ besar sendiri.13 Menurut pendapat

    di atas kemandirian adalah suatu kemampuan anak pada kecakapan

    hidup (life skill), dimana untuk kebutuhan yang berkenaan dengan diri

    sendiri anak harus dapat melakukannya.

    Menurut Parker “kemandirian adalah suatu kemampuan untuk

    mengelola semua milik kita, tahu bagaimana mengelola waktu anda,

    berjalan dan berfikir secara mandiri, disertai kemampuan untuk

    mengambil resiko dan memecahkan masalah.14 Menurut pendapat di

    atas kemandirian adalah kemampuan kita dalam memanage waktu dan

    memutuskan sesuatu dalam memecahkan masalah. Hal ini diperkuat

    dengan pendapat Subroto yang mengartikan kemandirian sebagai

    “kemampuan anak untuk melakukan aktivitas sendiri atau kemampuan

    13 Martinis Yamin, Panduan Pendidikan Anak Usia Dini,(Jakarta, Gaung Persada,

    2010),hal.81

    14 Martinis Yamin,loc.cit.

  • 33

    anak untuk melakukan aktivitas sendiri atau mampu mandiri sendiri

    dalam berbagai hal”.15

    Menurut Lovinger “kemandirian adalah keadaan dapat berdiri

    sendiri tanpa bergantung orang lain, mampu bersosialisasi, dapat

    melakukan aktivitas sendiri, dapat membuat keputusan sendiri dalam

    tindakannya,dapat berempati, dengan orang lain”.16 Menurut pendapat di

    atas kemandirian adalah kemampuan anak untuk berdiri sendiri dan

    melakukan segala sesuatu sendiri.

    Sejalan dengan pendapat di atas Astuti juga mengartikan

    “kemandirian merupakan suatu kemampuan atau keterampilan yang

    dimiliki anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, baik yang

    terkait dengan aktivitas bantu diri maupun aktivitas dalam kesehariannya

    tanpa tergantung pada orang lain”.17 Dalam hal ini kemandirian berarti

    suatu kemampuan untuk dapat terampil dalam melakukan suatu

    kegiatan yang dilakukan oleh diri sendiri. Hal ini juga diperkuat oleh

    pendapat Bachrudin Mustafa mengartikan “kemandirian dengan suatu

    kemampuan untuk mengambil pilihan dan menerima konsekuensi yang

    15 Novan Ardy Wiyani, Novan Ardy wiyani, Mengelola &Mengembangkan Kecerdasan Sosial

    & Emosi Anak Usia Dini ,(Jakarta:Ruzz Media, 2014),hal.117

    16 Martinis Yamin, op.cit,hal.84

    17 Novan Ardy Wiyani,loc.cit.

  • 34

    menyertainya”.18 Artinya gagasan utama kemandirian adalah

    kemampuan memutuskan sesuatu dan menjalankannya.

    Menurut Brewer kemandirian “adalah suatu cara pembiasaan yang

    terdiri dari kemampuan fisik, percaya diri, bertanggungjawab, disiplin,

    pandai bergaul, mau berbagi, mengendalikan emosi (Brewer,2007).19

    Menurut pendapat di atas bahwa kemandirian itu merupakan suatu usaha

    pembiasaan yang harus diberikan kepada anak setiap harinya dalam hal

    kemampuan social ataupun kemampuan kecakapan diri. Salah satu

    menanamkan kemandirian melalui pendidikan, menurut Mahdi Al

    Istambudi menyatakan bahwa pendidikan kemandirian adalah

    “pendidikan yang memberikan anak kebebasan penuh untuk beraktivitas

    dengan mengetahui insting dan kecendrungan”. Pendidikan adalah salah

    satu model terbaik, keunggulan dari pendidikan-pendidikan ini dapat

    mempersiapkan manusia-manusia yang merdeka dan mandiri, mampu

    membuat keputusan sendiri, mampu melaksanakannya dengan baik dan

    mampu bertanggung jawab atas segala konsekwensinya dengan rela.20

    Dalam hal ini gagasan kemandirian sangat diwarnai oleh pemberian

    pendidikan pada anak sehingga anak memiliki kemampuan,

    18 Novan Ardy Wiyani,loc.cit

    19 Martinis Yamin, op.cit, hal.81

    20 Novan Ardy Wiyani, hal.117

  • 35

    pengetahuan, gagasan dan ide yang dapat diaplikasikan dalam

    kehidupan sehari-hari dengan diri sendiri.

    Menurut Kartini dan Dani “kemandirian adalah suatu hasrat untuk

    mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”.21 Menurut pendapat di

    atas kemandirian itu adalah suatu keinginan dari dalam diri yang kuat

    untuk melakukan segala sesuatu sendiri bagi dirinya sendiri.

    Menurut Dirjen Pendidikan Anak Usia dini dalam seri panduan

    praktis bagi pendidik dan orangtua, terdapat beberapa prinsip umum

    dalam melatih kemandirian anak antara lain a) Kecepatan anak dalam

    berkembang berbeda- beda , oleh karena itu usahakan untuk tidak

    membandingkan anak dengan anak yang lainnya, b) Anak melakukan

    kesalahan dalam proses belajar adalah hal yang wajar sehingga ada

    baiknya untuk tidak membesar-besarkan kesalahan atau kekurangan

    anak, tekankan pada bentuk perilakunya, c) Selalu memberi contoh yang

    dapat dilihat anak dalam kehidupan sehari-hari, karena anak selalu

    belajar dengan meniru perilaku oranglain, d) Konsisten dalam

    menentukan cara dan melakukan pengawasan, e) Mengenali

    kemampuan anak sesuai tingkat usianya, f) Memberikan kesempatan

    kepada anak untuk melatih kemampuannya karena tidak bisa dicapai

    secara cepat, g) Buatlah kegiatan kemandirian anak dengan cara yang

    21 Martinis Yamin, op.cit, hal.90

  • 36

    menyenangkan, seperti bernyanyi atau membacakan buku cerita yang

    berhubungan dengan kegiatan buang air besar dan buang air kecil, h)

    Hargai setiap proses kemajuan yang telah dicapai anak, meskipun kecil,

    dengan memberikan pujian dan dukungan sehingga kelak anak akan

    dapat memotivasi dirinya sendiri dan melakukannya tanpa diminta, i)

    berusaha agar tetap tenang ketika menghadapi reaksi penolakan anak

    atau ketika anak terlihat frustasi karena merasa apa yang dilakukannya

    tidak berjalan dengan semestinya, j) Memperlihatkan kenyamanan dan

    keamanan anak dalam melatih kemandirian anak.22

    Dari uraian para ahli diatas dapat disintesiskan bahwa

    kemandirian adalah kemampuan seseorang dalam mengerjakan

    berbagai aktifitas sendiri yang tercermin dalam prilaku, seperti

    memanange waktu, mengatasi masalah dan mengurus diri, disiplin,

    percaya diri,dan bertanggungjawab

    22 Direktorat Jenderal Paud,Non Formal,dan Informal, Kementrian dan Kebudayaan, Manfaat

    Anak Bisa Buang Air Kecil dan Buang Air Besar Sendiri (2012,Kementrian dan

    Kebudayaan), hal.14

  • 37

    b. Perineal Hygiene

    Perilaku hidup sehat merupakan pola hidup yang perlu

    dikembangkan dan ditanamkan sejak dini. Soekidjo (1996) dalam

    bukunya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perilaku kesehatan

    pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap

    stimulus yang berkaitan dengan sakit atau penyakit,system pelayanan

    kesehatan, makanan, serta lingkungan.23 Artinya prilaku kesehatan lebih

    ditekankan pada prilaku seseorang untuk melakukan pola hidup sehat

    dengan menjaga kesehatan, kebersihan, dan asupan makanan sehat.

    Menjaga kebersihan merupakan tanggungjawab individu yang

    perlu diberikan melalui pembiasan kepada anak dalam Tarwoto dan

    Wartonah (2004) personal hygiene berasal dari bahasa yunani yang

    berarti personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat.

    Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk

    memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahtaraan

    fisik dan psikis.24 Artinya menjaga kesehatan diri merupakan tanggung

    jawab perorangan agar membuatnya bahagia.

    Dalam menjaga kebersihan diri diperlukan pengetahuan yang

    berkenaan dengan cara bagaimana menjaga tubuh agar sehat, Aziz 23 Asmar Yetty Zein,op.cit.,h.32

    24 Anna nurjanah,Personal hygiene Siswa Sekolah Dasar Negeri Jatinangor,

    http://download.portalgaruda.org/article.php?article=103529&val=1378, (diakses Minggu 6

    September 2015, pukul 01.320

    http://download.portalgaruda.org/article.php?article=103529&val=1378

  • 38

    Alimul H (2006) mengemukakan personal hygiene suatu cara merawat

    diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan baik secara

    fisik maupun psikologis.25 Dalam gagasan ini berarti merupakan

    kesehatan yang dilakukan oleh diri sendiri baik sehat secara fisik (tubuh)

    ataupun psikis (jiwa).

    Menjaga kebersihan diri salah satunya adalah menjaga kebersihan

    organ genital (alat genital), dimulai dari daerah perineum yaitu daerah di

    mana terdapatnya anus, uretra dan vagina, skrotum dan penis pada pria

    (Khumar, 2008) Perineum ini adalah daerah yang paling berbahaya,

    terutama pada wanita, karena semua bagian perineumnya terletak secara

    berdekatan dan ada ancaman infeksi ke saluran kemih dari organisme

    bakteri coli dari feses yang menyerang saluran kemih melalui uretra yang

    terbuka. Oleh karena itu jika kebersihan dipertahankan setelah buang air

    besar maka infeksi dari anus ke saluran kencing dapat dicegah karena

    sebagian besar infeksi saluran kemih disebabkan oleh organisme hadir

    dalam kotoran.26 Gagasan ini berisi bahwa daerah perineum itu sangat

    penting untuk dijaga kebersihannya agar tidak terjadi inveksi terutama

    untuk wanita dengan kondisi perineum yang berdekatan dan terbuka

    dibandingkan dengan pria. Membersihkan bagian anus dengan benar

    25 Jtptunimus-gdl-faradisayu-5538-3,loc.cit.

    26 http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/116/jtptunimus-gdl-muhammadha-5770-2-babii.pdf

  • 39

    setelah buang air besar dapat mencegah penyebaran bakteri dari anus

    ke vagina pada wanita.

    Kebersihan organ genital (perineal hygiene) menurut Kozier adalah

    suatu cara untuk membersihkan sekret dan menghilangkan bau yang

    tidak sedap dari perineum, untuk mencegah terjadinya infeksi dan

    meningkatkan kenyamanan”.27 Dalam hal ini gagasan menjaga

    kebersihan organ genital dengan mencuci bersih organ genital sehingga

    hilang bekas kotoran dan baunya.

    Seodoko,2008 mengemukakan bahwa perawatan perineal adalah

    mencuci daerah genital dan anus. Perawatan perineal dapat dilakukan

    setidaknya satu kali selama sehari bisa melalui kegiatan pada saat

    mandi. Hal ini dilakukan lebih sering bila anak masih mengompol.

    Perawatan perineal ini dapat mencegah infeksi, bau dan iritasi.

    Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak kecil, dimulai dari cara cebok yang

    benar yaitu dari arah depan ke belakang. Hal ini dilakukan untuk

    mencegah berpindahnya kuman-kuman dari anus ke vagina. Selain itu

    area vagina harus selalu dijaga dalam keadaan kering, karena

    27 Cholosor Umairoh, Analis Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Perineal Hygiene Pada

    Remaja Putri Berbasis Precede Proceed Model Di SMPN 45,Jurnal Internasional,

    Surabaya,2013, h.1, journal.unair.ac.id/filerPDF/pmnj87b6d858dafull.docx ,(diakses Minggu,

    September 2015 pukul 01.17)

  • 40

    kelembaban dapat menyebabkan kuman, bakteri, dan jamur tumbuh

    subur sehingga sering kali berlanjut menyebabkan keluhan keputihan .28

    Maksud gagasan diatas adalah menjaga kebersihan organ genital

    harus diberikan sejak dini,terutama bagi anak yang masih mengompol

    harus dilakukan sesering mungkin, dengan mengajarkan cara

    membersihkannya dimulai dari bagian depan ke bagian belakang serta

    mengingatkan agar daerah perineum dalam keadaan kering, agar anak

    terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh kuman, bakteri dan jamur.

    Begitu pun yang disarankan Dr Miriam Stoppard dalam child health

    saat mengajarkan menjaga kebersihan organ genital untuk anak laki-laki

    adalah “by the time your son is about three or four, the foreskin will be

    loose will retract easily. Before that age, you should never try to pull it

    back for cleaning; jush wash the penis carefully. Try to encourage your

    son to wash the genital area gently from front to back”, sedangkan untuk

    mengjarkan menjaga kebersihan organ genital untuk anak perempuan

    yaitu “careful hygiene can prevent many genital problems. Teach your

    little girl to wipe her bottom from front to back so that bacteria from the

    28 Nurfitriyana Hidayati, Hubungan Personal Hygiene Perineal pada Pasangan Usia Subur

    Terhadap Kejadian Keputihan di Wilayah Kerja Puskesmas Kebumen I Kabupaten

    Kebumen, (Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, volume 6, diakses 3 Oktober 2015.

  • 41

    rectum does not infect the vagina. Srented soap or buble bath can cause

    irritation of the genital area, so it is best to use mild, unscented product”.29

    Maksud gagasan Dr Miriam Stoppard untuk menjaga kebersihan

    organ genital anak laki-laki tidak perlu menarik bagian kulup yang

    menutupi penis, cukup di bersihkan dengan mengusapnya sedangkan

    untuk anak perempuan ajarkan mengusap vagina dari depan ke belakang

    juga bagian pantatnya dari depan ke belakang sehingga bakteri dari

    dubur tidak menginfeksi ke vagina.

    Dari uraian di atas dapat disintesiskan perineal hygiene

    merupakan suatu cara berperilaku sehat secara fisik dalam menjaga

    kebersihan organ genital yaitu penis untuk pria , vagina untuk wanita

    dengan cara membasuh bagian permukaan organ genital dari depan ke

    belakang, sehabis buang air kecil kemudian menyeka (melap) bagian

    pantat dengan arah dari depan ke belakang dan menjaga agar bagian

    organ genital senantiasa dalam keadaan keringBerdasarkan paparan

    teori yang telah dikemukakan diatas maka penulis mensintesiskan

    kemandirian perineal hygiene adalah kemampuan seseorang dalam

    menjaga kebersihan organ genital yang tercermin dalam prilaku seperti 1)

    mengelola waktu, 2) Disiplin, 3) percaya diri, 4) mengurus diri sendiri,

    29 Dr Miriam Stoppard,Child health,(London,2001),h.120

  • 42

    5) bertanggung jawab ,dan 6) mengatasi masalah menjaga kebersihan

    pada organ genital.

    2. Hakekat Toilet training

    a. Defenisi Toilet Training

    Menurut Wantah (2007: 47) defenisi toilet training adalah suatu

    latihan yang diajarkan pada anak agar mereka merasa bersih 30.

    Menurut pendapat di atas bahwa toilet training adalah suatu kegiatan

    pembelajaran pada anak untuk melatih menjaga kebersihan organ

    tubuhnya. Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Alison dalam Potty

    Training mengatakan anak-anak perlu belajar keterampilan ke kamar

    mandi sampai pada tahap tertentu, mulai dari mandi hingga gosok

    gigi,kebiasaan toilet yang baik dan higienis seperti cebok, menyiram

    toilet, dan mencuci tangan seharusnya diajarkan pada anak sebagai

    bagian dari latihannya31.

    30 Renny AA, Panjaitan,Meningkatkan Kemampuan Toilet Training Melalui Analisis Tugas

    Pada Anak Tuna Grahita sedang,jurnal internasional,h ttp://download.portalgaruda.org/

    article.php? article=100974&val=1496 (diakses diakses pada tanggal 5 Agustus 2015

    pukul 23.00)

    31 Alison Mackonochie,Latihan Toilet,(Tangerang:Karisma Publishing grup,2009),h.68

  • 43

    Menurut Dr. Darcie Kiddoo definisi Toilet training is felt to be

    natural process that occurs with development, yet very little scientific

    information is available for physician who care for children.32 Menurut

    pendapat di atas bahwa toilet training itu adalah suatu kegiatan ke wc

    yang merupakan proses alami sesuai dengan tahap

    perkembangannya , dan diperlukan ilmu dan pengetahuan mengenai

    kegiatan ke toilet sesuai dengan kebutuhan anak . Toilet training

    secara umum dapat dilaksanakan pada setiap anak yang sudah mulai

    memasuki fase kemandirian pada anak (Keen,2007; Wald, 2009).

    Fase ini biasanya pada anak usia 18 – 24 bulan. Dalam melakukan

    toilet training, anak membutuhkan persiapan fisik, psikologis maupun

    intelektualnya. Dari persiapan tersebut anak dapat mengontrol buang

    air besar dan buang air kecil secara mandiri.33

    Dalam jurnal internasional yang ditulis Mc Cormick mengatakan

    bahwa Toilet training is the process of training a child to control their

    bladder and bowel and to utilise the toilet. It is an essential milestone in

    a child's development.34 Menurut pendapat diatas Toilet training

    adalah suatu proses pelatihan anak untuk mengontrol kandung kemih

    32 Toilet training (potty training) Children,http://www.myvmc.com/lifestyles/toilet-training-potty-

    training/ di akses selasa ,9 September 2015, pukul 23.40

    33 http://journal.unnes.ac.id,loc.cit

    34 McCormick, The Art of Toilet Training, http://www.nature.com/pr/journal/v70/n5s/abs/

    pr2011805a.html ,diakses 8 September 2015 pukul 24.00

  • 44

    dan usus mereka dan memanfaatkan toilet dalam aktifitas buang air

    kecil dan besar.

    Terry P Klassen dalam Jurnal yang berjudul The effectiveness

    Of Different Methods Of Toilet Training For Bowel and baldder Control

    mengatakan Toilet training is the mastery of skills necessary for

    urinating and defecating in a socially acceptable time and manner.35

    Menurut pendapat diatas toilet training adalah suatu cara penguasaan

    keterampilan yang diperlukan untuk buang air kecil dan buang air

    besar dalam waktu yang tepat. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat

    Suzie yang mengungkapkan bahwa anak dapat terbiasa untuk belajar

    buang air kecil sendiri dengan cara bertahap, yakni melepas popok

    atau diapers-nya dan meminta anak tersebut mengatakan setiap kali

    ia merasa hendak buang air kecil.36 Dalam hal ini berarti kebiasaan

    anak untuk dapat melatihnya buang air kecil yakni dengan cara

    membimbingnya agar dapat melepas popoknya kemudian anak

    dibiasakan untuk mengungkapkan perasaannya setiap hendak akan

    buang air kecil. Selain itu pula Anne dalam parenting guide

    mengatakan bahwa when we use toilet training we are not referring to

    35 Terry P.Klassen, The Effectiveness Of Different Methods Of Toilet Training For Bowel and

    Baldder Control,(University Of Alberta Evidence-based Practice Center, Canada), hal.9,

    (diakses 8 September 2015)

    36 Suzia The Trainer, Panduan Praktis Pendidikan Anak Usia Dini,(Jakarta:PT Elex Media

    Komputindo, 2012),h.65

  • 45

    some sort of boot camp but to a gentle process by which parent and

    child work together to achive potty training (ketika kita mengajarkan

    latihan ke toilet, kita tidak mengacu pada peraturan tetapi lebih

    kepada proses lembut dimana orang tua dan anak bekerja bersama-

    sama untuk mencapai latihan toilet).37

    Menurut pendapat di atas dalam latihan ke toilet diperlukan

    kerja sama antara orangtua dan anak secara bertahap dan diajarkan

    dengan penuh kasih sayang.

    Novan dalam Mengelola dan mengembangkan Kecerdasan

    Sosial dan Emosional Anak Usia Dini, mengatakan bahwa toilet

    training adalah suatu program pelatihan bantu diri bagi anak usia dini

    dalam melakukan buang air kecil (bak) atau buang air besar (bab).38

    Menurut pendapat diatas toilet training adalah suatu program kegiatan

    yang dirancang agar anak dapat terampil dan mandiri dalam menjaga

    kebersihan saat kegiatan buang air kecil dan buang air besar.

    Berdasarkan paparan teori dari para ahli di atas penulis

    mensintesiskan defenisi toilet training Adalah suatu program yang

    dirancang dalam bentuk kegiatan yang bertujuan agar anak terampil

    dalam mengontrol kandung kemih dan usus besar sehingga anak

    37 Anne Krueger,Parenting Guide To Toilet Trainig,(Canada:Parenting Magazine,2001),h.4

    38 Novan Ardy wiyani, Mengelola &Mengembangkan Kecerdasan Sosial & Emosi Anak Usia

    Dini , ar-Jakarta:Ruzz Media, 2014), hal.140

  • 46

    dapat melakukan kegiatan buang air besar dan buang air kecil di

    dalam toilet serta menjaga kebersihan organ tubuh dalam hal ini organ

    genital ketika anak buang air kecil ataupun buang air besar

    b. Karakteristik Toilet Training Anak Usia 0-3 Tahun

    Sebagai acuan untuk melatih kegiatan toilet training berikut

    kutipan dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini,”

    Manfaat Anak Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK)”,

    mengenai karakteristik umum yang sudah dimiliki oleh anak yang

    berada dalam kelompok umur 18 s/d 36 bulan, untuk mengembangkan

    kemandirian dalam melatih anak membiasakan BAB dan BAK sendiri .

    Tabel. 2 .1

    Karakteristik Anak Usia 0-3 tahun dalam

    Kemandirian Toilet Training 39

    Karakteristik

    18 s/d

    24 bulan

    Anak peka dengan keadaan celananya yang basah

    sehingga bisa memberitahu kepada orangtua apabila

    sudah terlanjur BAB dan BAK.

    Anak sudah bisa bicara sehingga bisa mengatakan

    kepada orangtua apabila ingin BAB dan BAK.

    39 Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal, Manfaat Anak

    Bisa Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK), (Jakarta:Kementerian Pendidikan

    dan Kebudayaan,2012), h.12

  • 47

    Anak mulai dapat mengontrol dubur dan kandung

    kemihnya sehingga bisa menahan sebentar untuk

    memberitahu orangtua, membuka celana, dan ke

    toilet/jamban pada saat ingin BAB dan BAK. Pada usia

    ini anak masih sering BAB dan BAK di celana,

    30 s/d

    36 bulan

    Anak sudah dapat dengan sengaja mengkontrol dubur

    dan kandung kemihnya dengan baik sehingga BAB

    dan BAK di celana sudah jarang

    Dengan kemampuan bahasa yang lebih baik, anak

    dapat memberi tahu orangtua pada saat ingin BAB

    dan BAK

    Mulai melatih anak untuk BAK sendiri di malam hari,

    yang berarti anak harus bangun dari tidurnya. Apabila

    anak masih takut, anak dapat membangunkan

    orangtuanya.

    Melatih anak untuk membersihkan dirinya setelah

    BAB dan BAK. Hal itu dapat di mulai dengan mengajak

    anak untuk membersihkan bersama- sama orangtua.

    Menurut Permendikbud no 146, indicator pencapaian

    perkembangan anak usia 3-4 tahun dalam hal mempu menolong diri

  • 48

    sendiri untuk hidup sehat adalah mampu menggunakan toilet dengan

    bantuan; sementara untuk anak usia 4-5 tahun adalah anak dapat

    menggunakan toilet tanpa bantuan.40

    c. Langkah yang dilakukan dalam Program Toilet Training

    Pelatihan toilet membantu anak-anak belajar untuk benar-benar

    mengosongkan kandung kemih mereka agar resiko ISK ( Infeksi

    Saluran Kemih) tidak meningkat.41 Tindakan ini bertujuan untuk melatih

    anak buang air besar dan buang air kecil yang baik, bersih dan benar

    seperti cara membersihkan kemaluan yakni secara luas dari depan ke

    belakang sehingga untuk mencegah terjadinya resiko ISK berulang

    harus memulai latihan awal dari toilet training.

    1. Langkah yang dilakukan oleh pendidik dan orangtua

    Novan di dalam, Mengelola & Mengembangkan Kecerdasan

    Sosial & Emosi Anak Usia Dini, menjelaskan langkah-langkah yang

    dilakukan dalam program toilet training antara lain :a) menjelaskan

    mengapa manusia melakukan bab dan bak dengan bantuan media

    pembelajaran; b) menjelaskan apa dampaknya jika sering menunda-

    nunda ataupun menahan bak dan bab dengan bantuan media

    pembelajaran; c) mengajak anak secara berkelompok dan bergiliran

    40 Lampiran I Permendikbud No.146

    41 Arie Kusumaningrum,Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Orang Tua Dalam Toilet

    Training Todder,PSIK Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Jurnal Internasional)

  • 49

    (berdasarkan jenis kelaminnya) mengunjungi toilet; d) menjelaskan

    fungsi toilet pada anak; e) mengenalkan kepada anak berbagai

    peralatan yang ada di toilet beserta masing-masing fungsinya; f)

    mendemonstrasikan penggunaan bermacam-macam peralatan

    yang ada di kamar mandi; g) mengajarkan doa sebelum dan

    sesudah masuk kamar mandi; h) menjelaskan konsep kunci

    (thoharoh) kepada anak dengan bantuan media pembelajaran; i)

    menjelaskan cara-cara bersuci kepada anak secara berkelompok

    (berdasarkan jenis kelaminnya); j) meminta kepada anak secara

    berkelompok (berdasarkan jenis kelaminnya) untuk memainkan

    drama (roleplay) dengan tema “bersuci”; k) memberikan refleksi

    terhadap drama yang telah dimainkan anak, l) meminta kepada

    anak untuk menyebutkan langkah-langkah apa yang harus

    dilakukan ketika hendak, sedang, dan sesudah bak dan bab; m)

    memotivasi anak untuk bak dan bab sesuai dengan ajaran islam.42

    Dengan demikian berdasarkan paparan diatas maka

    pembelajaran melalui pembiasaan toilet training dapat dilakukan

    dengan proses berkelanjutan dan berkesinambungan sesuai

    dengan tahapan dan kebutuhan anak.

    42 Novan Ardy wiyani, op.cit.,h. 141

  • 50

    Menurut Alison melatih anak ke toilet ada sedikit perbedaan,

    anak laki-laki lebih lambat dari anak perempuan, anak laki-laki

    sering kali lebih berantakan sehingga kita harus lebih banyak

    membersihkan lebih banyak urine mereka di lantai toilet, berikut

    adalah pendekatan yang dilakukan dalam mengajarkan ke toilet

    untuk anak laki-laki yaitu : 1) Latihan untuk berdiri atau duduk,

    tawarkan anak untuk melakukan buang air kecil dengan cara berdiri

    atau dengan carqa duduk atau jongkok.biarkan anak memilih sesuai

    dengan kenyamanannya, 2) Belajar untuk berdiri, ajarkan anak

    untuk berdiri dan mengarahkan penisnya pada cekungan toilet

    sebelum buang air kecil, 3) Menyempurnakan tembakannya,

    ajarkan anak untuk untuk mengarahkan penisnya ke lubang

    toilet/pispot sebelum dia mulai buang air kecil, 4) Target toilet ,

    berikan mainan target toilet yang mengapung di air agar anak dapat

    dengan mudah menemak urine dan masuk ke dalam cekungan

    toilet. Sedangkan latihan toilet untuk anak perempuan adalah

    sebagai berikut : 1) Taktik Toilet, biarkan anak memilih buang air

    kecil di toilet atau di pispot, 2) Mengambil posisi yang benar, 2)

    Mengambil posisi yang benar, ajarkan posisi duduk anak agar tidak

    terlalu maju sehingga dapat membasahi celananya, dengan

    menunjukkan posisi duduk yang tepat , 3) mempelajari

    keterbatasannya, terkadang anak mencontoh ayahnya sehingga

  • 51

    pipis sambil berdiri, untuk itu pendidik membenarkana anak agar

    menyadarinya, 4) Cebok yang benar ,yaitu dari depan kea rah

    anus.43

    Sementara itu ada beberapa saran dari pelatih kepada

    orangtua atau pengasuh ketika akan mengajarkan toilet training

    pada anak menurut Edward R. Christophersen, PhD adalah

    sebagai berikut : 1) During preventive care visits, provider should

    attempt to educate parents about normal stooling habits, the role of

    exercise and diet, and avoiding constipation in an attempt to avoid

    toileting problems including but not limited to, constipation, 2)

    Providers should include enough discussion about an infant or

    toddler’s toileting habits to identify clear patterns that may well serve

    the parent who is considering initiating toilet training. For example a

    parent who recognizes that her child reliably has a bowel movement

    around 15 minutes after eating breakfast may be able to use such

    information for training, 3) Providers should be aware that the only

    evidence-based approach to toilet training the child with special

    needs is the behavioral approach.44

    43 Alison Mackonochie, Latihan Toilet,(Ciputat,Karisma Publishing Grup,2009)h.47

    44 Edward R Christophersen, Toilet training and Toileting Problem: How Do We Advise

    Parents?, (Jurnal Internasional Toilet Training diakses 5 Okteber 2015, pukul 11.26)

  • 52

    Maksud pendapat diatas adalah Orangtua perlu memiliki

    pengetahuan mengajarkan toilet training yang benar, diantaranya

    adalah pengetahuan tentang system pencernaan anak yang

    normalnya atau kebiasaan anak, pengetahuan tentang melatih anak

    untuk mengatur kebiasaan anak untuk buang air kecil dan besar

    dengan pendekatan sesuai dengan kebutuhan anak.

    Adapun langkah-langkah melatih kemandirian dalam buang

    air besar dan buang air kecil menurut buku seri panduan praktis

    bagi pendidik dan orangtua adalah : a) Pada saat anak bab dan

    bak, cepat ganti popok/kainnya dengan yang bersih setelahnya, b)

    Perhatikan perilaku anak saat ingin BAB dan BAK, c) Pada saat

    anak mulai menampilkan perilaku ingin BAB dan BAK, lepaskan

    popok/kainnya dan letakkan plastic/perlak di bawah pantat, d)

    Kemudian setelah dibersihkan dengan kapas yang dibahasi,

    pakaikan kembali popok/kainnya, e) Perkenalkan tempat yang tepat

    untuk BAB dan BAK seperti dudukan WC kecil, jamban, f)

    Sampaikan pada anak apabila orangtua atau pendidik ingin BAB

    dan BAK, g) Perhatikan perubahan mimic wajah atau gerak tubuh

    saat ingin BAB atau BAK seperti muka memerah atau tiba-tiba diam,

    h) Apabila anak sudah memperhatikan mimic wajah atau gerak

    tubuh tersebut, tanyakan pada anak apakah ingin BAB atau BAK, i)

    Kemudian ajak anak ke wc, j) apabila anak belum bisa membuka

  • 53

    celananya sendiri orangtua bisa membantunya, k) Bantu anak saat

    mengalami kesulitan seperti mendudukkan anak di atas wc, l) Pada

    saat anak BAB atau BAK sebaiknya anak ditemani, m) Setelah

    selesai, orantua membersihkan pantat atau alat kelamin anak, n)

    Perlihatkan kepada anak bahwa setelah membersihkan pantat atau

    alat kelamin, orangtua dan anak harus mencuci tangan, o) Berikan

    pujianatau pelukan kepada anak saat ia mau BAB atau BAK di

    wc/jamban. Menurut pendapat diatas dalam mengajarkan kegiatan

    toilet trainng ada beberapa tahapan yang dilalui dimulai dari yang

    termudah terlebih dahulu kemudian baru yang tersulit agar anak

    tidak merasa terbebani, peranan orangtua dan pendamping sangat

    mempengaruhi keberhasilan proses kegiatan toilet training.

    2. Langkah yang diberikan oleh pelatih kepada pendidik dan

    orangtua

    Sementara itu ada beberapa saran dari pelatih kepada

    orangtua atau pengasuh ketika akan mengajarkan toilet training

    pada anak menurut Edward R. Christophersen, PhD adalah

    sebagai berikut : 1) During preventive care visits, provider should

    attempt to educate parents about normal stooling habits, the role of

    exercise and diet, and avoiding constipation in an attempt to avoid

    toileting problems including but not limited to, constipation, 2)

  • 54

    Providers should include enough discussion about an infant or

    toddler’s toileting habits to identify clear patterns that may well serve

    the parent who is considering initiating toilet training. For example a

    parent who recognizes that her child reliably has a bowel movement

    around 15 minutes after eating breakfast may be able to use such

    information for training, 3) Providers should be aware that the only

    evidence-based approach to toilet training the child with special

    needs is the behavioral approach.45

    Maksud pendapat diatas adalah Orangtua perlu memiliki

    pengetahuan mengajarkan toilet training yang benar, diantaranya

    adalah pengetahuan tentang system pencernaan anak yang

    normalnya atau kebiasaan anak, pengetahuan tentang melatih anak

    untuk mengatur kebiasaan anak untuk buang air kecil dan besar

    dengan pendekatan sesuai dengan kebutuhan anak.

    Menurut Edward dalam Jurnal Internasional mengatakan

    recommendation are based upon the published research on toilet

    training and are offered for consideration when talking to parens

    about toilet training : 1) During preventive care visits, providers

    should attempt to educate parents about normal stooling habits, the

    45 Edward R Christophersen, Toilet training and Toileting Problem: How Do We Advise

    Parents?, (Jurnal Internasional Toilet Training diakses 5 Okteber 2015, pukul 11.26)

  • 55

    role of exercise and diet, and avoiding constipation in an attempt to

    avoid toileting problems including, but not limited to, constipations,

    2) Providers should include enough discussion about an infant or

    toddler’s toileting habits to identify clear patterns that may well

    serve the parent who is considering initiating toilet training for

    example, a parents who recognizes that her child readably has a

    bowel movement around 15 minutes after eating breakfast may be

    able to use such information for training, 3) providers should be

    aware that the only evidence- based approachto toilet training the

    child with special needs is the behavioral approach, 4) The

    interested reader is referred to the agency for Healthcare Research

    and Quality’s 2006 Report on The Effectiveness of Different

    Methods of Toilet Training For Bowel and Bladder Control. It

    includes discussions about infant and child temperament, and the

    need to match a toilet training procedure to the needs of the child

    and the family.46 Maksud tulisan diatas adalah pembelajaran

    kegiatan ke toilet adalah suatu yang sangat penting yang

    menentukan di masa depan anak agar anak dapat mandiri,orangtua

    46 Edward R C hristophersen, and Susan VanScoyoc, Toilet Training and Toileting Problem

    s: How Do We Advise Parents? (Jurnal Internasional, diakses 5 September 2015, pukul

    03.05)

  • 56

    dan pendamping harus sabar dalam proses bimbingan anak ketika

    belajar mengontrol buang air kecil dan buang air besar.