of 32 /32
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Model Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar (Rusman, 2011:131). Dimana, perilaku mengajar dan belajar tersebut berhubungan dengan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai kesusilaan, dan ketrampilan. Banyak kegiatan guru dan siswa dalam kaitannya dengan bahan pembelajaran adalah model pembelajaran. Model pembelajaran perlu dipahami guru agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dalam meningkatkan hasil belajar. Dalam penerapannya, model pembelajaran harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan siswa karena masing- masing model pembelajaran memiliki tujuan dan prinsip yang berbeda-beda. Model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu (Mills dalam Suprijono, 2011:45). Pemilihan model yang tepat perlu memperhatikan tujuan pengajaran. Model pembelajaran dapat dikatakan baik jika memenuhi prinsip-prinsip yaitu (1) semakin kecil upaya yang dilakukan guru dan semakin besar aktivitas belajar siswa, maka hal itu semakin baik. (2) Semakin sedikit waktu yang diperlukan 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Model ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/871/3/T1_292008119_BAB II.pdf · 9 2.1.2 Pembelajaran Kooperatif 2.1.2.1 Pengertian Pembelajaran

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Model...

117

78

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Model Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan

siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar (Rusman,

2011:131). Dimana, perilaku mengajar dan belajar tersebut berhubungan dengan

bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai

kesusilaan, dan ketrampilan. Banyak kegiatan guru dan siswa dalam kaitannya

dengan bahan pembelajaran adalah model pembelajaran.

Model pembelajaran perlu dipahami guru agar dapat melaksanakan

pembelajaran secara efektif dalam meningkatkan hasil belajar. Dalam penerapannya,

model pembelajaran harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan siswa karena masing-

masing model pembelajaran memiliki tujuan dan prinsip yang berbeda-beda.

Model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang

memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan

model itu (Mills dalam Suprijono, 2011:45). Pemilihan model yang tepat perlu

memperhatikan tujuan pengajaran.

Model pembelajaran dapat dikatakan baik jika memenuhi prinsip-prinsip

yaitu (1) semakin kecil upaya yang dilakukan guru dan semakin besar aktivitas

belajar siswa, maka hal itu semakin baik. (2) Semakin sedikit waktu yang diperlukan

7

8

guru untuk mengaktifkan siswa belajar juga semakin baik. (3) Sesuai dengan cara

belajar siswa yang dilakukan. (4) Dapat dilakukan dengan baik oleh guru. (5) Tidak

ada satupun metode yang paling sesuai untuk segala tujuan, jenis materi, dan proses

belajar yang ada (Hasan dalam Isjoni, 2011:50).

Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil

penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan

analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional

di kelas (Suprijono, 2011:46). Fungsi model pembelajaran yaitu guru dapat

membantu siswa mendapat informasi, ide keterampilan, cara berpikir dan

mengekspresikan ide. Sehinga model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu

rencana atau pola yang digunakan dalam mangatur materi pelajaran dan memberi

petunjuk kepada pengajar di kelas.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada

hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dan siswa, baik interaksi

secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu

dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran adalah pola

yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar

(KBM) secara sistematis untuk mencapai tujuan belajar yang maksimal.

9

2.1.2 Pembelajaran Kooperatif

2.1.2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Menurut Lie (2002) cooperative learning disebut juga dengan pembelajaran

gotong royong yaitu sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada

siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur.

Istilah cooperative learning dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama

pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa

sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda (Isjoni,

2011:12). Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam

kelompok. Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan

anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka

belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar.

Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat

melakukannya seorang diri.

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa

belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang

anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang

bersifat heterogen (Rusman, 2011: 202). Pembelajaran kooperatif juga disebut

dengan pembelajaran teman sebaya dimana siswa bekerjasama dalam kelompok-

kelompok kecil yang mempunyai tanggung jawab bagi individu maupun kelompok

terhadap tugas-tugas. Dalam pembelajaran kooperatif ini siswa dapat lebih

10

menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit melalui diskusi dan bila

dibandingkan dengan pembelajaran individual, pembelajaran kooperatif lebih dapat

mencapai kesuksesan akademik, tanggung jawab individu, kelompok, dan sosial

siswa.

Pengelompokan heterogenitas merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam

model pembelajaran kooperatif (Lie, 2002:40). Kelompok heterogenitas dapat

dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender dan kemampuan akademis.

Kelompok ini biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua

orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan

akademis kurang.

Pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan

positif dalam kelompok (Slavin dalam Rusman, 2011:201). Dalam pembelajaran

kooperatif ini, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai

jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa

sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa, tetapi juga harus

membangun pengetahuan dalam pikirannya. Siswa mempunyai kesempatan untuk

mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide-ide mereka, ini

merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide

mereka sendiri. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling

membantu, saling mendiskusikan, dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan

yang mereka kuasai saat itu dan dan menuntup kesenjangan dalam pemahaman

masing-masing.

11

Belajar dengan model kooperatif dapat diterapkan untuk memotivasi siswa

berani mengemukakan pendapatnya, menghargai pendapat teman dan saling

memberikan pendapat (sharing ideas). Selain itu dalam belajar biasanya siswa

dihadapkan pada latihan soal-soal atau pemecahan masalah. Oleh sebab itu,

pembelajaran kooperatif sangat baik untuk dilaksanakan karena siswa dapat bekerja

sama dan saling tolong menolong mengatasi tugas yang dihadapinya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

kooperatif merupakan salah satu pembelajaran dengan teman sebaya dengan cara

siswa belajar dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif

dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Dimana para siswa diharapkan

dapat saling membantu, saling mendiskusikan, dan berargumentasi untuk mengatasi

suatu masalah, menyelesaikan sebuah tugas, untuk mencapai satu tujuan bersama

dalam belajar.

2.1.2.2 Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai

setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al

dalam Isjoni (2011:26), yaitu:

a. Hasil belajar akademik

Model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa

pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan norma yang

berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan

12

dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan, baik

pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama

menyelesaikan tugas-tugas akademik.

b. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar

belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas

akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan menghargai satu sama

lain.

c. Pengembangan ketrampilan sosial

Ketrampilan-ketrampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak

anak muda masih kurang dalam ketrampilan sosial.

2.1.2.3 Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Jika seseorang ingin melaksanakan model pembelajaran kooperatif di dalam

kelasnya atau mata pelajaran yang diampunya, maka guru harus memperhatikan dan

merencanakan dengan matang agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Karakteristik

atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut (Rusman,

2011:207).

a. Pembelajaran secara tim

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. Tim

merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu

13

membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk

mencapai tujuan pembelajaran.

b. Didasarkan pada manajemen kooperatif

Manajemen mempunyai tiga fungsi, yaitu: (a) Fungsi manajemen sebagai

perencanaan pelaksanaan menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan

sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah

ditentukan. (b) Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukan bahwa

pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses

pembelajaran berjalan dengan efektif. (c) Fungsi manajemen sebagai kontrol,

menunjukan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria

keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun non tes.

c. Kemauan untuk bekerja sama

Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara

kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan

dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerjasama yang baik, pembelajaran kooperatif

tidak akan mencapai hasil yang optimal.

d. Ketrampilan bekerja sama

Kemauan bekerja sama itu dipraktikan melalui aktifitas dalam kegiatan

pembelajaran secara kelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau

dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka

mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

14

Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang

menggunakan pembelajaran kooperatif (Rusman, 2011:211). Secara rinci keenam

fase pembelajaran kooperatif dirangkum dalam tabel 2.1 berikut ini.

Tabel 2.1 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru Fase-1 Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa

Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pelajaran dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar.

Fase-2 Menyampaikan Informasi

Guru menyajikan informasi atau materi kepada siswa dengan demontrasi atau melalui bahan bacaan.

Fase-3 Mengorganisasi Siswa ke dalam Kelompok-Kelompok Belajar.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membimbing setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif dan efisien.

Fase-4 Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase-5 Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase-6 Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Sumber: Rusman, 2011

2.1.2.4 Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar

belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan

pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson dalam

15

Lie (2002:30), mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap

Pembelajaran kooperatif, untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model

pembelajaran kooperatif yaitu :

a. Saling ketergantungan positif

Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.

Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas

sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya

sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

b. Tanggung jawab perseorangan

Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran

kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang

terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran kooperatif membuat

persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota

kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya

dalam kelompok bisa dilaksanakan.

c. Tatap muka

Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan

berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk

membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah

menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.

16

d. Komunikasi antar anggota

Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai

keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung

pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka

untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam

kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses

yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar

dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.

e. Evaluasi proses kelompok

Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk

mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya

bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan

setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu

setelah beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif.

2.1.2.5 Prosedur Pembelajaran Kooperatif

Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kooperatif pada prinsipnya

terdiri atas empat tahap, sebagai berikut (Rusman, 2011: 212).

a. Penjelasan materi, tahap ini merupakan tahapan penyampaian pokok-pokok

materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. tujuan utama

tahapan ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.

17

b. Belajar kelompok, tahapan ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan

materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.

c. Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes

atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok.

d. Pengakuan tim, adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau

tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah,

dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terusberprestasi lebih baik.

2.1.2.6 Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif

Jerolimek dan Parker dalam Isjoni (2007:24) berpendapat bahwa

pembelajaran kooperatif memiliki beberapa kelebihan yaitu (1) saling

ketergantungan yang positif; (2) adanya pengakuan dalam merespon perbedaan

individu; (3) siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas; (3) suasana

kelas rileks dan menyenangkan; (4) terjalinnya hubungan yang hangat dan

bersahabat antara siswa dengan guru; (5) memiliki banyak kesempatan untuk

mengekpresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.

Model pembelajaran kooperatif, tidak hanya unggul dalam membantu siswa

memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan

kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan membantu teman. Dalam

pembelajaran kooperatif, siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga

memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang

berkualitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

18

Kelebihan dalam pembelajaran kooperatif, tidak memungkin juga adanya

kelemahan dalam pembelajaran kooperatif, misalnya kekhawatiran guru akan

terjadinya kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar di dalam kelompok jika

menetapkan model pembelajaran seperti ini. Menurut Isjoni (2007:25) kelemahan

pembelajaran kooperatif bersumber pada beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut

antara lain: (1) Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, di samping

itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu. (2) Agar proses

pembelajaran di kelas berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas,

alat dan biaya yang cukup memadai. (3) Selama kegiatan diskusi kelompok

berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas

sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. (4) Saat

diskusi kelas terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain

menjadi pasif.

Cara mengatasi kelemahan dalam pembelajaran kooperatif, sebaiknya

sebelum pembelajaran berlangsung guru mempersiapkan pembelajaran secara

matang seperti alat peraga atau yang lainnya, agar pada saat proses belajar mengajar

berlangsung tidak ada hambatan. Pada waktu pembelajaran kooperatif berlangsung

guru sebaiknya membatasi masalah yang dibahas, agar waktu yang telah ditentukan

tidak melebihi batas. Selain itu guru harus berusaha menanamkan dan membina

sikap berdemokrasi diantara para siswa. Maksudnya suasana kelas harus diwujudkan

sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan kepribadian siswa yang demokratis

19

dan diharapkan suasana yang terbuka dengan kebiasaan-kebiasaan kerjasama,

terutama dalam memecahkan kesulitan-kesulitan.

Seorang siswa haruslah dapat menerima pendapat siswa lainnya, seperti siswa

satu mengemukakan pendapatnya lalu siswa yang lainnya mendengarkan dimana

letak kesalahan, kekurangan atau kelebihan, kalau ada kekurangannya maka perlu

ditambah. Penambahan ini harus disetujui oleh semua anggota dan harus saling

menghormati pendapat orang lain.

Berdasarkan pendapat yang telah dijabarkan, maka dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran kooperatif dapat membuat kemajuan besar para siswa kearah

pengembangan sikap, nilai, dan tingkah laku yang memungkinkan mereka dapat

berpartisipasi dalam komunitas mereka dengan cara-cara yang sesuai dengan tujuan

pendidikan. Hal ini dapat tercapai karena tujuan utama pembelajaran kooperatif

adalah untuk memperoleh pengetahuan dari sesama temannya. Pengetahuan itu tidak

lagi diperoleh dari gurunya. Seorang teman haruslah memberikan kesempatan

kepada teman yang lain untuk mengemukakan pendapatnya dengan cara menghargai

pendapat orang lain, saling mengoreksi kesalahan, dan saling membetulkan lainnya.

2.1.3 Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali didesain oleh Elliot

Aronson dan teman-temannya 1978 di Universitas Texas (Slavin, 2010:236), yang

berpendapat bahwa:

20

Essensi dari jigsaw adalah suatu model pembelajaran kooperatif di mana tiap siswa dalam kelompok memiliki satu potongan gambaran informasi khusus yang masing-masing berbeda, kemudian ia bertanggung jawab untuk mengajarkannya pada teman satu kelompoknya. Ketika seluruh gambaran informasi ini bergabung, siswa telah memiliki suatu puzzle (dinamakan jigsaw). Arti jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang

menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan

gambar. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini mengambil pola cara bekerja

sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara

bekerjasama dengan siswa lainnya untuk mencapai tujuan bersama.

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran

kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai

materi pelajaran untuk mencapai materi yang maksimal (Isjoni, 2011:54). Teknik ini

dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun

berbicara.

Isjoni (2011) menyatakan bahwa dalam model pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya. Tahap pertama siswa

dikelompokkan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Pembentukan kelompok ini

dapat dilakukan guru berdasarkan pertimbangan tertentu. Tahap kedua setiap anggota

kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu. Kemudian siswa atau

perwakilan dari kelompok masing-masing bertemu dengan anggota-anggota dari

kelompok lain yang mempelajari materi yang sama. Selanjutnya materi tersebut

didiskusikan sehingga setiap perwakilan kelompok tersebut memahami setiap

21

masalah yang dijumpai sehingga perwakilan tersebut dapat memahami dan

menguasai materi tersebut. Pada tahap ketiga, setelah masing-masing perwakilan

tersebut dapat menguasai materi yang ditugaskan, kemudian masing-masing

perwakilan tersebut kembali ke kelompok masing-masing atau kelompok asal.

Selanjutnya masing-masing anggota tersebut saling menjelaskan pada teman satu

kelompoknya sehingga teman satu kelompoknya dapat memahami materi yang di

tugaskankan guru. Pada tahap selanjutnya siswa diberi tes/kuis, hal tersebut

dilakukan untuk mengetahui apakah siswa sudah memahami suatu materi. Dengan

demikian, secara umum penyelenggaraan model belajar jigsaw dalam proses belajar

mengajar dapat menumbuhkan tanggung jawab siswa sehingga terlibat langsung

secara aktif dalam memahami suatu persoalan dan menyelesaikannya secara

kelompok. Tahap terakhir, siswa yang memperoleh skor tertinggi diberikan

penghargaan.

Adapun rencana pembelajaran kooperatif tipe jigsaw secara rinci sebagai

berikut: (1) siswa dibagi menjadi 5 kelompok, setiap anggota kelompok diberi

subtopik bacaan yang berbeda yang terdiri dari subtopik bagian 1, 2, 3, 4, dan 5. (2)

siswa dengan subtopik bacaan yang sama untuk membentuk kelompok ahli. (3) siswa

di kelompok ahli mempelajari materi yang sama serta berdiskusi agar dapat

memahami dan menguasai materi. (4) siswa kembali ke kelompok asal memberikan

informasi yang telah diperoleh atau dipelajari di kelompok ahli. (5) siswa

mempresentasikan hasil diskusi kelompok asal. (6) siswa diberikan evaluasi/kuis

pada akhir pembelajaran. (7) siswa diberikan penghargaan pada kelompok yang

22

mempunyai skor tertinggi. Untuk lebih jelas lagi tentang pembelajaran yang

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dapat dilihat pada gambar

2.1 sebagai berikut.

Sumber : Modifikasi dari Lie, 2002

Gambar 2.1 Ilustrasi Kelompok Jigsaw

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki beberapa

kelebihaan yaitu (1) secara umum siswa pada model kooperatif tipe jigsaw lebih aktif

dan saling memberikan pendapat (sharing ideals). Karena suasana belajar lebih

Kelompok 1: Anggota

A1, B1, C1, D1

Kelompok 3: Anggota

A3, B3, C3, D3

Kelompok 2: Anggota

A2, B2, C2, D2

Kelompok 4: Anggota

A4, B4, C4, D4

Kelompok 6: Anggota

A6, B6, C6, D6

Kelompok 5: Anggota

A5, B5, C5, D5

Kelompok Ahli 1:

A1, A2, A3, A4, A5, A6

Kelompok Ahli 3:

C1, C2, C3, C4, C5, C6

Kelompok Ahli 4:

D1, D2, D3, D4, D5, D6

Kelompok Ahli 2:

B1, B2, B3, B4, B5, B6

23

kondusif, baru dan adanya penghargaan yang diberikan kelompok. Maka masing-

masing kelompok berkompetisi untuk mencapai prestasi yang baik. (2) Siswa lebih

memiliki kesempatan berinteraksi sosial dengan temannya. (3) Siswa lebih aktif dan

kreatif serta lebih memiliki tanggung jawab secara individual.

Lie dalam Rusman (2011:218) menyatakan bahwa kelebihan pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw, yaitu (1) siswa yang terlibat di dalam pembelajaran model

kooperatif tipe jigsaw ini memperoleh prestasi yang baik; (2) mempunyai sikap yang

lebih baik dan lebih positif terhadap pembelajaran; (3) siswa saling menghargai

perbedaan dan pendapat orang lain.

Jhonson and Jhonson dalam Teti Sobari (Rusman, 2011: 219) menunjukan

bahwa interaksi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki berbagai keunggulan

terhadap perkembangan anak, meliputi: (1) meningkatkan hasil belajar; (2)

meningkatkan daya ingat; (3) digunakan untuk untuk mencapai tarap penalaran

tingkat tinggi; (4) mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (kesadaran individu); (5)

meningkatkan hubungan antarmanusia yang heterogen; (6) meningkatkan sikap anak

yang positif terhadap sekolah; (7) meningkatkan sikap positif terhadap guru; (8)

meningkatkan harga diri anak; (9) meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang

positif; dan (10) meningkatkan ketrampilan hidup bergotong royong.

Beberapa kelebihan tersebut menyiratkan bahwa model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw memiliki kelebihan yaitu, dapat merangsang siswa

memberdayakan segala kemampuan dan potensinya dalam setiap pembelajaran.

Siswa diajarkan untuk belajar bagaimana cara belajar, belajar bagaimana membuat

24

sesuatu, belajar bagaimana hidup bersama-sama, dan belajar bagaimana cara siswa

berkomunikasi dengan baik untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan

mengkomunikasikannya kepada teman-temannya yang lain. Kemampuan

berkomunikasi siswa dilatih melalui diskusi kelompok ahli dan kelompok asal. Di

kelompok ahli siswa berkumpul saling berbagi pemahaman terhadap suatu

permasalahan, kemudian di kelompok asal siswa saling memberikan pemahaman dan

penjelasan hasil diskusi yang telah mereka peroleh di kelompok ahli kepada anggota

kelompok lainnya dikelompok asal. Selain itu, siswa dituntut untuk mempertanggung

jawabkan hasil diskusinya di depan kelas melalui presentasi kelompok.

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw juga memiliki beberapa

kelemahan yaitu: (1) Terdapat kelompok yang siswanya kurang berani untuk

mengemukakan pendapat atau bertanya sehingga kelompok tersebut dalam diskusi

menjadi kurang hidup. (2) Memerlukan waktu yang relatif cukup lama dan persiapan

yang matang antara lain dalam pembuatan bahan ajar dan LKS benar-benar

memerlukan kecermatan dan ketepatan. (3) Siswa tidak terbiasa dengan model

pembelajaran tipe jigsaw, sehingga proses pembelajarannya menjadi kurang

maksimal. (4) Masih ada siswa yang kurang bertanggung jawab, sehinggga

pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menjadi kurang efektif. (5)

Kebiasaan adanya pembicaraan yang didominasi oleh seseorang.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang

mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran di

25

mana tiap siswa dalam kelompok memiliki satu potongan gambaran informasi

khusus yang masing-masing berbeda, kemudian ia bertanggung jawab

mengajarkannya pada teman satu kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama.

2.1.4 Hasil Belajar

Hasil belajar yang sering disebut dengan istilah "scholastic achievement" atau

"academic achievement" adalah seluruh efisiensi dan hasil yang dicapai melalui

proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-

nilai berdasarkan tes hasil belajar (Briggs dalam Sumarno, 2010). Menurut Gagne

dan Driscoll dalam Sumarno (2010) Hasil belajar yaitu kemampuan-kemampuan

yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui

penampilan siswa (learner 's performance).

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia

menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2011:22). Dalam hal ini, seorang guru

harus benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat dan mempunyai

konsep yang jelas sehingga akan berpengaruh positif terhadap diri siswa sebagai

bekal dalam kehidupannya.

Hasil belajar merupakan tolok ukur yang utama untuk mengukur tingkat

pencapaian kompetensi siswa dan keberhasilan siswa dalam belajar. Seseorang yang

hasil belajarnya tinggi dapat dikatakan, bahwa dia telah berhasil dalam belajar.

Demikian pula sebaliknya. Sedangkan dalam usaha untuk mencapai suatu hasil

belajar dari proses belajar mengajar, seorang siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor

26

baik dalam maupun luar diri siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Slameto

(2010) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

digolongkan menjadi dua sebagai berikut: (1) Faktor-faktor intern adalah faktor yang

berasal dari diri siswa. Faktor intern ini terbagi menjadi tiga faktor yaitu : faktor

jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. (2) Faktor-faktor ekstern adalah

faktor yang berasal dari luar siswa. Faktor ini meliputi: faktor keluarga, faktor

sekolah, dan faktor masyarakat.

Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditunjukan untuk

mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran

yang telah dilakukan (Rusman, 2011:78). Pada tahap ini seorang guru dituntut

memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi,

penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan dan penggunaan hasil belajar.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, penulis menyimpulkan bahwa Hasil

belajar adalah hasil akhir atau tolok ukur untuk mengetahui keberhasilan seseorang

yang dicapai setelah mengalami proses belajar yang dapat dibuktikan melalui hasil

tes. Tes sebagai alat ukur banyak macamnya dan luas penggunaannya. Dalam

penelitian ini menggunakan dua cara yaitu (1) Tes pilihan ganda merupakan prosedur

tes dengan soal yang harus dijawab oleh siswa dengan memilih jawaban yang

tersedia. Tes pilihan ganda digunakan saat uji validitas intrumen tes, pretest, dan

posttest. (2) Tes Tertulis merupakan prosedur tes di mana soal dan jawaban yang

diberikan kepada siswa dalam bentuk tulisan. Tes tertulis digunakan untuk

memberikan penilaian setelah akhir pembelajaran (tes sumantif) berbentuk isay.

27

2.1.5 Pembelajaran PKn di SD

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata

pelajaran yang dapat membentuk diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural,

bahasa, usia, untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang

dilandasi oleh UUD 1945. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah wahana untuk

mengembangkan kemampuan, watak, dan karakter wargananegara yang demokratis

dan bertanggungjawab. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Permendiknas

No.22 tahun 2006 bahwa :

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap dan ketrampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggungjawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pembelajaran PKn merupakan salah satu pembelajaran yang bertujuan untuk

membentuk warga negara yang baik. Mata pelajaran PKn dapat dipergunakan untuk

menanamkan pendidikan nilai, moral dan norma secara terus menerus. Terlebih lagi

jika mengingat kenyataan bahwa bangsa Indonesia sekarang sedang mengalami krisis

jati diri, sehingga nilai moral dan norma menjadi hal yang penting untuk

membentengi kekrisisan jati diri bangsa ini sehingga warga negara yang baik lekas

terwujud dan tujuan pendidikan nasional dapat tercapai.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka

nation and character building (1) PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan

yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang relevan, yaitu : ilmu politik, hukum,

28

sosiologi, antropologi, psikologi, dan disipin ilmu lainnya yang digunakan sebagai

sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan

konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara. (2) PKn mengembangkan daya

nalar (state of mind) bagi siswa. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses

pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan

perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warganegara (civic intelegence)

sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. (3) PKn sebagai suatu

proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang

lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan

penalaran. Pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang

interaktif dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak, terakam,

tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari lingkungan masyarakat sebagai

pengalaman langsung (hand of experince). (4) PKn sebagai laboratorium demokratis.

Melalui PKn, pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembnagkan bukan

semata-mata melalui mengajar demokrasi (teaching democracy), tetapi melalui

model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi

(doing democracy).

Tujuan dari pelajaran Pendidikan kewarganegaraan adalah agar siswa

memiliki kemampuan sebagai berikut (Permendiknas No.22 tahun 2006 ) : (1)

Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan;

(2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas

dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi; (3)

29

Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan

karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-

bangsa lainnya; (4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia

secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan

komunikasi.

Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi

beberapa aspek-aspek (Permendiknas No.22 tahun 2006). Ruang lingkup tersebut

yaitu persatuan dan kesatuan bangsa, norma, hak asasi manusia, kebutuhan warga

negara, konstitusi negara, kekuasan dan politik, pancasila, dan globalisasi.

Mata pelajaran PKn memiliki tiga dimensi yaitu: (1) dimensi pengetahuan

kewarganegaraan (Civics Knowledge) yang mencakup bidang politik, hukum dan

moral. (2) Dimensi ketrampilan kewarganegaraan (Civics Skills) meliputi

ketrampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (3) Dimensi nilai-

nilai kewarganegaraan (Civics Values) mencakup antara lain percaya diri,

penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur. (Depdinas 2003:4).

Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan dapat diisimpulkan bahwa PKn

merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik

dan mengembangkan potensi siswa, sehingga memiliki wawasan, sikap dan

ketrampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkinkan untuk

berpartisipasi secara cerdas dan bertanggungjawab dalam berbagai kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mata pelajaran PKn dapat dipergunakan

untuk menanamkan pendidikan nilai, moral dan norma secara terus menerus.

30

2.2 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) telah dilakukan oleh

peneliti lain dapat berbentuk tesis, skripsi, ataupun jurnal. Berbagai penelitian

tersebut telah membuktikan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Sehingga peneliti memilih beberapa kajian hasil penelitian yang relevan sesuai

penelitian yang penulis lakukan.

Pertama, Cicik Asti Tahaphari (Skripsi, 2010). Peningkatan hasil belajar

siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi tentang pengaruh

globalisasi melalui pembelajaran kooperatif tipe jigsaw bagi siswa kelas IV SD

Negeri Wulung 4 Randublatung Kabupatan Blora tahun ajaran 2009/2010.

Peningkatan ketuntasan prestasi belajar siswa terjadi secara bertahap, dimana pada

kondisi awal siswa tuntas sebanyak 8 anak (40%), pada siklus I ketuntasan siswa

meningkat menjadi 15 siswa (75%), dan pada siklus II ketuntasan belajar siswa

meningkat menjadi 20 siswa (100%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa,

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan prestasi

belajar siswa terhadap peningkatan standar kompetensi menunjukan sikap terhadap

pengaruh globalisasi di lingkungan sekitar. Implikasinya dengan penelitian yang

diadakan penulis yaitu terbukti bahwa ada pengaruh penggunaan model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar PKn dari siklus I dan II

yang mengalami peningkatan.

31

Peneliti kedua, Idha Yusani (Skipsi, 2009). Penerapan pembelajaran jigsaw

untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SD Negeri Karangrejo 05

Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Hasil penelitian diketahui bahwa prestasi

belajar siswa cukup baik. Pada siklus I ada 23 siswa (65,71%) yang tuntas dalam

belajar sedangkan 12 siswa (34,29%) belum tuntas dengan nilai rata-rata 77,18. Nilai

tertinggi 85 dan nilai terendah 50. Pada siklus II 32 siswa (91,43%) tuntas dalam

belajar dan 3 siswa (8,57%) belum tuntas dalam belajarnya dengan nilai rata-rata

82,88 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60. Sehingga dapat disimpulkan

bahwa, praktik pembelajaran dan aktifitas belajar siswa mengalami peningkatan

setelah menerapkan pembelajaran jigsaw. Implikasinya dengan penelitian yang

diadakan penulis yaitu terbukti bahwa ada pengaruh penggunaan model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar PKn dari siklus I dan II

yang mengalami peningkatan secara bertahap, selain itu praktik pembelajaran dan

aktifitas belajar siswa juga meningkat.

Peneliti ketiga, Tri Astatik (Skripsi, 2007). Penerapan model pembelajaran

jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada bidang studi PKn kelas 5A SD

Negeri Sukoharjo I Malang pada pokok bahasan tenggang rasa. Pada waktu sebelum

mengadakan model pembelajaran jigsaw nilai siswa di bawah 75, dengan nilai rata-

rata adalah 57,8 %. Akan tetapi setelah adanya hasil penelitian yang menerapkan

model pembelajaran jigsaw, hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini

dapat dibuktikan dengan meningkatnya persentase ketuntasan belajar dari 68,42 %

pada siklus I menjadi 84,2 % pada siklus II. Pendapat siswa terhadap model

32

pembelajaran jigsaw sangat positif, sebab dengan model pembelajaran ini siswa lebih

aktif mengemukakan pendapat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, model

pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa.

Implikasinya terhadap penelitian yang diadakan penulis yaitu terbukti ada pengaruh

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar PKn

dari siklus I dan II mengalami perubahan secara bertahap. Apalagi, berdampak

positif pula terhadap siswa yang menjadi aktif dalam mengemukakan pendapatnya.

Peneliti keempat, Sein Canggah Faudilah Santi (Skripsi, 2011). Penerapan

model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan pemahaman konsep

tentang susunan pemerintahan pusat mata pelajaran PKn pada siswa kelas IV SD

Negeri 02 Jati Jaten Karanganyar tahun pelajaran 2010/2011. Peningkatan

pemahaman konsep tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai

pemahaman konsep siswa pada setiap tindakan. Rata rata nilai pemahaman konsep

siswa sebelum tindakan yaitu 59,9. Pada siklus I nilai rata rata pemahaman konsep

siswa menjadi 70,5, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 75,2. Sebelum

dilaksanakan tindakan, siswa yang memperoleh nilai diatas KKM ( 60) hanya

sebanyak 14 siswa (45%), pada siklus I meningkat menjadi 26 siswa (84%), dan pada

siklus II meningkat lagi menjadi 30 siswa (97%). Sehingga dapat disimpulkan

bahwa, dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat

meningkatkan pemahaman konsep susunan pemerinahan pusat pada siswa kelas IV

SD Negeri 02 Jati Jaten Karanganyar tahun pelajaran 2010/ 2011. Implikasinya yaitu

terbukti ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

33

terhadap hasil belajar PKn, sehingga meningkatkan pemahaman konsep dari setiap

tindakan.

Peneliti kelima, Heti Marheni (Tesis, 2010). Pengaruh model pembelajaran

cooperative learning terhadap penguasaan kompetensi belajar PKn ditinjau dari

minat belajar siswa SMP Negeri 4 Surakarta. Disimpulkan bahwa (1) Terdapat

perbedaan rata-rata antara pendekatan kooperatif tipe jigsaw dengan tipe STAD

dengan hasil uji kompetensi belajar PKn siswa yang diajar dengan pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada tipe STAD. (2) Terdapat perbedaan

kompetensi belajar PKn antara siswa yang mempunyai minat belajar tinggi dan

rendah dengan hasil siswa dengan minat belajar tinggi lebih baik kompetensi belajar

PKn-nya dibandingkan siswa dengan minat belajar normatif rendah. Hal ini

dibuktikan dari harga Fhitung = 83.778 > = 0,05 = 3,11. F-tabel. Hal ini berarti

hipotesis statistik (Ho) pertama ditolak dan H1 diterima. (3) Terdapat perbedaan rata-

rata antara minat belajar tinggi dan rendah dengan skor kompetensi belajar PKn

siswa yang memiliki minat belajar tinggi lebih baik dari pada siswa yang memiliki

minat belajar rendah; (4) Terdapat pengaruh interaksi antara pendekatan

pembelajaran dengan minat belajar terhadap kompetensi belajar PKn terbukti dari

hasil pengujian diperoleh F-hitung 18,475. Adapun F tabel diketahui sebesar 3,11.

Karena F hitung lebih besar dari F tabel, maka Ho ditolak. Hal ini berarti terdapat

interaksi antara pengaruh penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif dan minat

belajar terhadap pencapaian kompetensi belajar PKn. Implikasinya dengan penelitian

yang diadakan penulis yaitu terbukti ada pengaruh penggunaan model pembelajaran

34

kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar PKn dengan adanya perbedaan hasil uji

kompetensi belajar PKn siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw lebih baik dari pada tipe STAD. Kemudian berpengaruh juga dengan minat

belajar siswa yang tinggi.

Peneliti keenam, Mawardi dan Puspasari Nur Indah Prihatini (Jurnal, 2010).

Perbedaan efektivitas pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pembelajaran

konvensional pada mata pelajaran PKn kelas IV SD Negeri I Badran Kecamatan

Kranggan Kabupaten Temanggung. Menyimpulkan bahwa, ada perbedaan yang

signifikan antara hasil belajar PKn siswa kelas IV yang menggunakan pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw dengan pembelajaran konvensional. Hasil belajar siswa yang

menggunakan kooperatif tipe jigsaw, menunjukan ketuntasan belajar sebesar 96 %

(24 siswa) dari 25 siswa. Sedangkan pembelajaran konvensional menunjukan

ketuntasan belajar sebesar 60 % (15 siswa). Temuan penelitian ini menunjukan

bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih efektif daripada pembelajaran

konvensional. Implikasinya dengan penelitian yang diadakan penulis yaitu terbukti

ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil

belajar PKn dengan perbedaaan hasil belajar kelas yang menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik daripada kelas yang menggunakan

model pembelajaran konvensional.

Peneliti ketujuh, Supriono (Jurnal, 2005). Penggunaan metode pembelajaran

kooperatif model jigsaw dalam pembelajaran PKn kelas III-4 SMP Nasional

Balikpapan tahun 2005/2006. Hasil penelitian dalam bentuk paper and pensil test

35

dilakukan sebanyak dua kali Pertemuan pertama 82.67%, sedangkan pertemuan

kedua 87.48% dengan rata-rata kelas diperoleh 85.08% dari jumlah siswa sebanyak

31 siswa orang dengan nilai terendah 77.44 dan tertinggi 92.28 sehingga kelulusan

mencapai 100%. Disimpulkan bahwa, (1) terjadi perubahan dalam proses

pembelajaran yang meliputi peningkatan ketrampilan sosial, interaksi dan kerjasama

antar siswa, keberanian mengenukakan pendapat, (2) suasana pembelajaran lebih

rileks dan siswa selalu terdorong untuk bertanya baik kepada teman-temannya

maupun kepada guru. selain itu, guru memotivasi siswa-siswa yang belum aktif,

sehingga proses pembelajaran sesuai dengan desain pembelajaran yang telah

direncanakan. (3) adanya peningkatan hasil belajar PKn yang dapat dilakukan

dengan menerapkan salah satu model pembelajaran yaitu model jigsaw. Implikasinya

dengan penelitian yang diadakan penulis yaitu terbukti ada pengaruh penggunaan

model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar PKn dengan

peningkatan hasil belajar dari pertemuan pertama dan kedua.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dijabarkan, maka dapat

disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat

meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu model pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw dapat diterapkan pada pelajaran PKn terutama pada materi-materi untuk

membina dan mengembangkan sikap kerjasama dan demokratis. Selanjutnya

diharapkan pengalaman belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

akan menciptakan suasana belajar yang kondusif, pembelajaran menjadi lebih efektif.

36

Dalam proses pembelajaran akan tampak lebih interaktif karena terjadi interaksi

antara guru dengan siswa maupun antar kelompok siswa.

2.3 Kerangka Berpikir

Keberhasilan pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam

pelaksanaan pendidikan. Agar pembelajaran berhasil guru harus membimbing siswa,

sehingga mereka dapat mengembangkan pengetahuannya sesuai dengan struktur

pengetahuan bidang studi yang dipelajarinya khususya pada bidang studi PKn pada

kompetensi dasar mengenal bentuk-bentuk keputusan bersama. Langkah-langkah

yang dapat ditempuh antara lain memperbaiki kegiatan pembelajaran dengan

menciptakan kegiatan belajar mengajar yang lebih interaktif, artinya ada komunikasi

dua arah antara guru dan siswa. Guru tidak hanya melakukan transfer ilmu

pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa juga harus aktif. Salah satu bentuk usaha

guru dalam mengadakan pendekatan dengan siswanya adalah melalui model

pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu tipe

pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam

menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Pada dasarnya,

dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-

komponen yang lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok

belajar kooperatif yang terdiri dari empat sampai enam orang siswa sehingga setiap

anggota bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap subtopik yang ditugaskan

37

guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggung

jawab subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari dua atau tiga

orang. Model pembelajaran ini sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar

sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran

PKn

Adapun kerangka berfikirnya dapat digambarkan dalam skema berikut.

Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berfikir

Pretest

Posttest

Belum menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw

Hasil belajar

Hasil belajar

Sudah menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw

Subyek Uji t

38

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah dipaparkan, maka

penulis merumuskan hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

Ho : tidak ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

terhadap hasil belajar PKn bagi siswa kelas V SD Negeri I Genengsari

Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan semester II tahun pelajaran

2011/2012.

Ha : ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap

hasil belajar PKn bagi siswa kelas V SD Negeri I Genengsari Kecamatan

Toroh Kabupaten Grobogan semester II tahun pelajaran 2011/2012.