of 31 /31
BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi, serta membuat baik keputusan rutin maupun keputusan stategi. Dalam hal ini, pengumpulan, penyajian dan analisis informasi dalam kaita nnya dengan biaya dan manfaat sangat membantu manajemen dalam penyelesaikan tugas-tugasnya. 2.2.1 Pengertian Akuntansi Biaya Menurut Mulyadi (2009:7) mendefinisikan akuntansi biaya sebagai berikut: Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Sedangkan menurut Drs. Mursyidi, S.E., M.Si (2008:11) bahwa akuntansi biaya sebagai berikut: Akuntansi biaya merupakan proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan pelaporan biaya pabrikasi, dan penjualan produk dan jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadap hasil- hasilnya.

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

  • Upload
    letuyen

  • View
    238

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

BAB II

BAHAN RUJUKAN

2.2 Akuntansi Biaya

Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk

kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi, serta

membuat baik keputusan rutin maupun keputusan stategi. Dalam hal ini,

pengumpulan, penyajian dan analisis informasi dalam kaitannya dengan biaya dan

manfaat sangat membantu manajemen dalam penyelesaikan tugas-tugasnya.

2.2.1 Pengertian Akuntansi Biaya

Menurut Mulyadi (2009:7) mendefinisikan akuntansi biaya sebagai berikut:

Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan,

peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk

atau jasa, dengan cara

cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya.

Sedangkan menurut Drs. Mursyidi, S.E., M.Si (2008:11) bahwa akuntansi

biaya sebagai berikut:

Akuntansi biaya merupakan proses pencatatan, penggolongan,

peringkasan dan pelaporan biaya pabrikasi, dan penjualan produk dan

jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadap hasil-

hasilnya.

Page 2: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi biaya merupakan

suatu proses cabang akuntansi yang mencatat, menggolongkan, memeriksa, dan

melaporkan kepada manajemen mengenai informasi biaya dan produksi laporan

biaya ini disajikan untuk membantu pengambilan keputusan.

2.2.2 Tujuan Akuntansi Biaya

Tujuan akuntansi biaya dikemukakan oleh Mulyadi (2009:7) adalah sebagai

berikut:

Akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok: penentuan kos

produk, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan khusus.

Menurut Drs. Mursyidi, S.E., M.Si (2008:11) mendefinisikan tujuan

akuntansi biaya sebagai berikut:

Akuntansi biaya merupakan suatu sistem dalam rangka mencapai

tujuan utama, yaitu: menentukan harga pokok produksi,

mengendalikan biaya, memberikan informasi sebagai dasar

pengambilan keputusan tertentu.

Maka dari definisi diatas bahwa tujuan akuntansi biaya adalah untuk

menentukan harga pokok produksi, mengendalian biaya, serta memberikan

informasi sebagai dasar pengambilan keputusan tertentu.

2.3 Biaya

2.1.2 Pengertian Biaya

Biaya merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan harga pokok

produksi dan harga jual produk. Dalam akuntansi dikenalkan dua istilah, yaitu

Page 3: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

cost dan expense. Kedua istilah ini sering disamakan walaupun sebenarnya kedua

istilah tersebut berbeda.

Menurut Drs. Mursyidi, S.E., M.Si (2008:14) mendefinisikan biaya

sebagai berikut:

Biaya merupakan suatu pengorbanan yang dapat mengurangi kas

atau harta lainnya untuk mencapai tujuan, baik yang dapat

dibebankan pada saat ini maupun pada saat yang akan datang.

Sedangkan definisi biaya (cost) menurut Mulyadi (2009:8) adalah:

Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam

satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi

untuk tujuan tertentu.

Jadi biaya (cost) adalah suatu pengorbanan sumber ekonomi yang dapat

mengurangi kas atau harta lainnya, baik yang dapat dibebankan pada saat ini

maupun pada saat yang akan datang untuk tujuan tertentu.

Ada 4 unsur pokok dalam definisi biaya tersebut di atas:

1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.

2. Diukur dalam satuan uang.

3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi.

4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan perusahaan.

Menurut Drs. Mursyidi, S.E., M.Si (2008:14) bahwa beban (expense)

didefinisikan sebagai berikut:

Beban (expense) adalah biaya yang telah terjadi (expried cost) yang

dikurangkan dari penghasilan atau dibebankan pada periode yang

bersangkutan, dimana pengorbanan terjadi.

Page 4: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Jadi beban (expense) adalah penggunaan sumber-sumber ekonomi didalam

proses pencarian pendapatan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa biaya (cost) dapat

memberikan manfaat untuk kegiatan masa yang akan datang. Sedangkan beban

(expense) tidak dapat memberikan manfaat pada masa yang akan datang.

2.2.2 Klasifikasi Biaya

Tujuan akhir akuntansi biaya dalam menyediakan informasi tentang biaya

untuk manajemen guna membantu mereka didalam mengelola perusahaan atau

departemennya. Manajemen didalam mengelola perusahaan atau departemennya

memerlukan data biaya yang akurat. Biaya yang akurat memungkinkan dapat

ditentukan harga pokok produk secara teliti dan tepat untuk menentukan harga

pokok secara teliti maka biaya perlu diklasifikasikan atau digolongkan, sehingga

dapat dipisahkan antara biaya produksi dan bukan biaya produksi. Klasifikasi

biaya menurut Mulyadi (2009:13) adalah: Dalam akuntansi biaya, biaya

digolongkan dengan berbagai macam cara. Umumnya penggolongan biaya ini

ditentukan atas dasar tujuan hendak dicapai dengan penggolongan tersebut, karena

dalam akuntansi biaya dikenal konsep: different costs for different purposes.

Biaya dapat digolongkan menurut:

1. Objek pengeluaran.

2. Fungsi pokok dalam perusahaan.

3. Hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.

4. Perilaku biaya dalam hubungan dengan perubahan volume kegiatan.

5. Jangka waktu manfaatnya.

Page 5: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

A. Penggolongan Biaya Menurut Objek Pengeluaran

Dalam cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar

penggolongan biaya. Misalnya nama objek pengeluaran adalah bahan bakar, maka

semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut biaya bahan

bakar .

Contoh penggolongan biaya atas dasar objek pengeluaran dalam perusahaan

kain adalah sebagai berikut: biaya pemintalan, biaya zat warna, biaya depresiasi

mesin, biaya listrik, biaya gaji dan upah, biaya asuransi.

B. Penggolongan Biaya Menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan

Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi,

fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. Oleh karena itu, dalam

perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:

1. Biaya produksi.

Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi

produk jadi yang siap untuk dijual.

Contoh: biaya depresiasi mesin dan ekuipmen, biaya bahan baku, biaya

bahan penolong, biaya gaji karyawan yang bekerja dalam bagian-bagian,

baik yang langsung maupun yang tidak langsung berhubungan dengan

proses produksi.

2. Biaya pemasaran.

Page 6: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan

pemasaran produk. Contohnya adalah biaya iklan, biaya angkutan dari

gudang perusahaan ke gudang pembelian, gaji karyawan bagian-bagian

yang melaksanakan kegiatan pemasaran, biaya contoh (sample).

3. Biaya administrasi dan umum.

Merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan

pemasaran produk. Contohnya adalah biaya gaji karyawan Bagian

Keuangan, Akuntansi, Personalia, dan biaya fotocopy.

C. Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang

Dibiayai

Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam

hubungannya dengan suatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi

dua golongan:

1. Biaya Langsung (Direct Cost).

Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya

adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai

tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Dengan

demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasi dengan sesuatu yang

dibiayai. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya

tenaga kerja langsung. Biaya langsung departemen adalah semua biaya yang

terjadi di dalam departemen tertentu.

Contohnya adalah biaya tenaga kerja yang bekerja dalam departemen

pemeliharaan merupakan biaya langsung departemen bagi departemen

Page 7: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

pemeliharaan dan biaya depresiasi mesin yang dipakai dalam departemen

tersebut, merupakan biaya langsung bagi departemen tersebut.

2. Biaya Tidak Langsung (Undirect Cost).

Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan

oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya

dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau

biaya overhead pabrik (factory overhead cost). Dalam hubungannya dengan

departemen, biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi di suatu

departemen, tetapi manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen.

Contohnya adalah biaya yang terjadi di departemen pembangkit tenaga

listrik. Biaya ini dinikmati oleh departemen departemen lain dalam

perusahaan, baik untuk penerangan maupun untuk menggerakkan mesin dan

ekuipmen yang mengkonsumsi listrik, biaya listrik yang diterima dari

alokasi biaya departemen pembangkit tenaga listrik merupakan biaya tidak

langsung departemen.

D. Penggolongan Biaya Menurut Perilaku Biaya dalam Hubungan dengan

Perubahan Volume Kegiatan

Dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas, biaya dapat

digolongkan menjadi:

1. Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan

perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan

Page 8: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan bakar, biaya lembur dan

sebagainya.

2. Biaya Semivariabel

Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan

perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsur biaya

tetap dan unsur biaya variabel. Contohnya adalah biaya inspeksi, biaya

pemeliharaan dan perbaikan mesin-mesin pabrik, biaya departemen

penggajian, dan sebagainya.

3. Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume

kegiatan tertentu. Contohnya adalah biaya depresiasi, biaya gaji supervisor,

biaya gaji satpam, biaya asuransi properti, biaya pemeliharaan dan

perbaikan gedung, gaji direktur produksi dan sebagainya.

E. Penggolongan Biaya Atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya

Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua:

1. Pengeluaran Modal (Capital Expenditures)

Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu

periode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun kalender).

Pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan sebagai cost, dan

dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara

didepresiasi, diamortisasi atau dideplasi. Contoh: biaya perbaikan gedung

yang relatif besar yang masa manfaatnya lebih dari 1 tahun.

Page 9: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

2. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditures)

Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat

dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Pada saat

terjadinya, pengeluaran pendapatan ini dibebankan sebagai biaya dan

dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya

tersebut. Contoh: biaya servis kendaraan rutin, biaya gaji, biaya

pemeliharaan mesin fotocopy, dan sebagainya.

2.4 Biaya Bahan

Barang yang dikonsumsi perusahaan dapat digolongkan ke dalam bahan

(material) dan barang bukan barang.

Bahan adalah barang yang akan diproses menjadi produk selesai atau barang yang

akan menjadi produk jadi merupakan bagian dari produk selesai.

Bahan dapat digolongkan kedalam bahan baku (direct material) dan bahan

penolong (indirect material).

1. Bahan baku (direct material)

Menurut Mulyadi (2009:275) mendefinisikan bahan baku, sebagai berikut:

Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh

produk jadi.

Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari

pembelian lokal, impor, atau dari pengolahan sendiri. Contoh bahan baku:

kayu jati untuk pembuatan meja, kain untuk pembuatan baju, dan lain-lain.

2. Bahan penolong (indirect material)

Page 10: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Bahan penolong adalah bahan yang akan diolah menjadi bagian produk

selesai dan pemakaiannya tidak dapat diikuti jejaknya atau manfaatnya pada

produk selesai tertentu. Contoh: untuk pembuatan meja (plitur, paku, skrup),

untuk pembuatan baju (kancing, benang, manik-manik).

2.4 Biaya Bahan Baku

2.4.1 Karakteristik Bahan Baku

Bahan baku adalah bahan dasar yang dikelolah menjadi produk selesai.

Bahan baku dapat dibagi menjadi bahan baku langsung dan bahan baku tidak

langsung.

Ciri bahan baku langsung:

1. Mudah ditelusuri ke produk selesai.

2. Merupakan bahan utama produk selesai.

3. Dapat diidentifikasi langsung ke proses produksi setiap produk.

Bahan baku tidak langsung adalah selain bahan baku langsung yang

digunakan dalam proses produksi dan biaya ini di pandang sebagai biaya

overhead.

2.4.2 Pembelian Bahan Baku

Dalam pembelian bahan baku terdapat lima prosedur yang perlu

diperhatikan, yaitu:

1. Permintaan pembelian

Merupakan pesanan tertulis yang ditujukan ke departemen pembelian

sebagai permintaan kebutuhan bahan, formulir ini dibuat rangkap tiga, yaitu:

a. Rangkap pertama ditujukan ke departemen pembelian,

Page 11: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

b. Rangkap kedua dikirimkan ke bagian yang mengajukan permintaan,

c. Terakhir sebagai arsip.

2. Pesanan pembelian

Merupakan permintaan tertulis ke supplier bahan, yang dikirim oleh

departemen pembelian. Dalam pesanan pembelian memuat : jumlah bahan

yang diminta, harga dan syarat-syarat pembelian.

Formulir dibuat rangkap empat,yaitu:

a. Rangkap pertama dikirim ke supplier,

b. Rangkap kedua dikirim ke departemen akuntansi,

c. Rangkap ketiga dikirim ke departemen permintaan,

d. Terakhir ditahan pada departemen pembelian.

3. Penerimaan Bahan

Merupakan laporan tertulis yang dibuat oleh departemen penerimaan bahan.

Formulir ini dibuat rangkap empat, yaitu:

a. Rangkap pertama dikirim ke departemen pembelian,

b. Rangkap kedua dikirim ke departemen akuntansi,

c. Rangkap ketiga dikirim ke departemen pergudangan,

d. Rangkap keempat untuk departemen penerimaan bahan.

4. Pencatatan Penerimaan Bahan Baku di Bagian Gudang

Bagian penerimaan menyerahkan bahan baku yang diterima dari pemasok

kepada bagian gudang. Bagian gudang menyimpan bahan baku tersebut dan

mencatat jumlah bahan baku yang diterima dalam kartu gudang (stock card)

Page 12: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

pada kolom masuk . Kartu gudang ini gunakan oleh bagian gudang untuk

mencatat mutasi tiap-tiap jenis barang gudang. Kartu gudang hanya berisi

informasi kuantitas tiap-tiap jenis barang yang disimpan di gudang dan tidak

berisi informasi mengenai harganya. Catatan dalam kartu gudang ini

diawasi dengan catatan yang diselenggarakan oleh bagian akuntansi yang

berupa kartu persediaan (sebagai rekening pembantu persediaan). Bagian

gudang di samping mencatat mutasi barang gudang dalam kartu gudang,

juga mencatat barang dalam kartu barang (inventory tag), yang ditempelkan

atau digantungkan pada tempat penyimpanan masing-masing jenis barang.

5. Pencatatan Utang yang Timbul dari Pembelian Bahan Baku

Bagian pembelian menerima faktur pembelian dari pemasok. Bagian

pembelian memberikan tanda tangan di atas faktur pembelian, sebagai

persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok telah memenuhi

syarat-syarat pembelian yang ditentukan oleh perusahaan. Faktur pembelian

yang telah ditandatangani oleh bagian pembelian tersebut diserahkan kepada

bagian akuntansi. Dalam transaksi pembelian bahan baku, bagian akuntansi

memeriksa ketelitian perhitungan dalam faktur pembelian dan

mencocokannya dengan informasi dalam tembusan surat order pembelian

yang diterima dari bagian pembelian dan laporan penerimaan barang yang

diterima dari bagian penerimaan. Faktur pembelian, yang dilampiri dengan

tembusan surat order pembelian dan laporan penerimaan barang dicatat oleh

bagian akuntansi dalam jurnal pembelian. Setelah dicatat dalam jurnal

pembelian, faktur pembelian beserta dokumen pendukungnya tersebut

Page 13: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

dicatat dalam kartu persediaan (sebagai rekening pembantu persediaan

bahan baku).

2.4.3 Panentuan Biaya Bahan Baku

2.4.3.1 Metode Penentuan Harga Pokok Bahan Baku

Dalam satu periode akuntansi sering kali terjadi fluktuasi harga, maka

harga beli bahan baku juga berbeda dari pembelian yang satu dengan pembelian

yang lain. Oleh karena itu, persediaan bahan baku yang ada di gudang mempunyai

harga pokok per satuan yang berbeda-beda, meskipun harganya sama. Hal ini

menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai

dalam produksi.

Untuk mengatasi masalah ini diperlukan berbagai macam metode

penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi (material

costing methods), di antaranya adalah:

a. Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification Method)

Setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberikan tanda pada

harga pokok per satuan. Setiap pembelian bahan baku yang harga per

satuannya berbeda dengan harga per satuan bahan baku yang sudah ada di

gudang, harus dipisahkan penyimpanannya dan diberi tanda pada harga

berapa bahan tersebut dibeli. Tiap-tiap jenis bahan baku yang ada di gudang

jelas identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan baku dapat

diketahui harga pokok per satuannya secara tepat.

Page 14: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Kesulitan yang timbul terletak dalam penyimpanan bahan baku di gudang.

Meskipun bahan bakunya sama, namun jika harga pokok persatuannya

berbeda, bahan baku tersebut harus disimpan secara terpisah, agar mudah

diidentifikasi pada saat pemakaian. Metode ini yang paling teliti dalam

penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi, tetapi

sering kali tidak praktis. Metode ini sangat efektif dipakai apabila bahan

baku yang dibeli bukan merupakan barang standar dan dibeli untuk

memenuhi pesanan tertentu.

b. Metode Masuk Pertama, Keluar Pertama (First-in, First-out Method)

Metode masuk pertama, keluar pertama menentukan biaya bahan baku

dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang pertama

masuk dalam gudang, digunakan untuk menentukan harga bahan baku,

anggapan aliran biaya tidak harus sesuai dengan aliran fisik bahan baku

dalam produksi.

Mutasi persediaan bahan baku yang terjadi karena transaksi pembelian

dicatat dalam jurnal pembelian, yaitu:

Persediaan Bahan Baku xxx

Utang Dagang xxx

Mutasi persediaan bahan baku yang terjadi karena transaksi pemakaian

bahan baku dicatat dalam jurnal umum atau jurnal pemakaian bahan baku

dengan jurnal sebagai berikut:

Barang Dalam Proses

Biaya Bahan Baku xxx

Persediaan Bahan Baku xxx

Page 15: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Pemakaian bahan baku ini dicatat pula dalam kartu persediaan pada kolom

persediaan .

c. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last-in, First-out Method)

Metode ini menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam

produksi dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang

terakhir masuk dalam persediaan gudang, dipakai untuk menentukan harga

pokok bahan baku yang pertama yang dipakai dalam produksi.

d. Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Avarage Method)

Dalam metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung

harga pokok rata-ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan

jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembelian yang harga pokok per

satuannya berbeda dengan harga pokok rata-rata persediaan yang ada

digudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan

yang baru.

e. Metode Biaya Standar (Standard Cost Method)

Dalam metode ini, bahan baku yang dibeli dicatat dalm kartu persediaan

sebesar harga standar (standard price) yaitu harga taksiran yang

mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan

datang. Harga standar merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun

anggaran tertentu. Pada saat dipakai, bahan baku dibebankan kepada produk

pada harga standar tersebut. Jurnal yang dibuat pada saat pembelian bahan

baku adalah sebagai berikut:

Persediaan Bahan Baku

(Kuantitas X Harga Standar) xxx

Page 16: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Selisih Harga xxx

Untuk mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga standar

Selisih Harga xxx

Utang Dagang xxx

Untuk mencatat harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli.

Pemakaian bahan baku dalam produksi dicatat sebesar hasil kali kuantitas

bahan baku sesumgguhnya yang dipakai dengan harga standarnya dan

dijurnal sebagai berikut:

Barang Dalam Proses

Biaya Bahan Baku xxx

Persediaan Bahan Baku xxx

Jurnal yang dibuat pada saat pemakaian bahan baku adalah sebagai barikut:

Barang Dalam Proses

Biaya Bahan Baku xxx

Persediaan Bahan Baku xxx

Untuk mencatat pemakaian bahan baku sebesar kuantitas x harga standar.

f. Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku pada Akhir Bulan

Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan perhitungan harga pokok

rata-rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang.

Harga pokok rata-rata per satuan ini kemudian digunakan untuk menghitung

harga pokok bahan baku dipakai dalam produksi dalam bulan berikutnya.

2.4.1.2 Metode Pencatatan Biaya Bahan Baku

Ada dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai dalam

produksi:

1. Metode mutasi persediaan (Perpetual inventory method)

Page 17: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Dalam metode ini, setiap mutasi bahan baku dicatat dalam kartu persediaan.

Metode mutasi persediaan digunakan dalam perusahaan yang harga pokok

produksinya dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.

2. Metode persediaan fisik (Physical inventory method)

Dalam metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan bahan baku dari

pembelian yang dicatat. Metode ini digunakan dalam penentuan biaya bahan

baku dalam perusahaaan yang harga pokok produksinya dikumpulkan dengan

metode harga pokok proses.

Untuk mengetahui berapa biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi,

harus dilakukan dengan cara menghitung sisa persediaan bahan baku yang masih

ada di gudang pada akhir periode akuntansi. Harga pokok persediaan awal bahan

baku ditambah dengan harga pokok bahan baku yang dibeli selama periode

dikurangi dengan harga pokok bahan baku yang masih ada pada akhir periode

merupakan biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi selama periode yang

bersangkutan.

2.5 Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik merupakan elemen biaya produksi selain biaya bahan

baku dan biaya tenaga kerja langsung, dan memiliki banyak macam macam

biayanya.

Page 18: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Dikaitkan dengan produk atau kegiatan pengadaan jasa sebagai upaya untuk

merealisasikan pendapatan, biaya overhead memiliki karakteristik yang berbeda

dibandingkan dengan biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung, yaitu:

a. Biaya overhead merupakan biaya produksi tidak langsung

Disebut biaya tidak langsung karena tidak dapat atau sulit ditelusuri kepada

unit-unit produksi atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

b. Biaya overhead merupakan biaya bergabung

Disebut biaya bergabung biaya produk yang dihasilkan perusahaan lebih dari

satu jenis produk, sehingga biaya tersebut manfaatnya dinikmati semua

produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan.

2.5.1 Metode Pembebanan Biaya Overhead Pabrik

Ada dua pendekatan yang dapat dipakai untuk membebankan biaya

overhead pabrik kepada seluruh produk yang dihasilkan secara adil, yaitu:

a. Berdasarkan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi

Bila perusahaan menggunakan sistem biaya historis (historical cost system)

maka overhead pabrik dapat dibebankan kepada produk berdasarkan biaya

sesungguhnya terjadi yaitu setelah proses produksi selesai atau pada akhir

periode. Tetapi hal dapat menyebabkan fluktuasi pada biaya per unit untuk

produk yang dibuat pada periode berbeda, sehubung dengan perubahan unit

yang diproduksi.

b. Berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka

Page 19: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Bila perusahaan menggunakan sistem biaya ditentukan dimuka atau sistem

biaya normal, perusahaan harus menentukan tarif overhead pabrik sebelum

proses produksi berlangsung, sehingga untuk menentukan biaya overhead

yang dibebankan kepada produk caranya mengalikan suatu tarif overhead

pabrik dengan kapasitas produksi sesungguhnya.

2.5.2 Faktor Faktor yang Dipertimbangkan dalam Memilih Tarif Overhead

Pabrik

Sebelum menentukan tarif biaya overhead pabrik dilakukan, faktor faktor

yang dipertimbangkan dalam memilih tarif overhead pabrik yaitu

menaksir/membuat anggaran biaya overhead pabrik, memilih basis kegiatan dan

memilih tingkat kegiatan pabrik.

a. Menaksir biaya overhead pabrik

Biaya overhead pabrik ditaksir dengan menyusun anggaran semua unsur

biaya yang diperkirakan akan dikeluarkan untuk memenuhi kapasitas

produksi tersebut. Biaya overhead pabrik tersebut dapat berupa biaya tetap

dan biaya variabel dan terdapat biaya overhead pabrik tidak langsung yang

harus didistribusikan terlebih dahulu.

b. Memilih basis kegiatan

Dasar penetapan tarif overhead yang ditentukan dimuka dapat berupa

ukuran volume berbasis aktivitas. Pertimbangan penting dalam menentukan

dasar penetapan adalah hubungan yang erat dengan perilaku biaya overhead

Page 20: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

pabrik total. Jika tidak, maka dapat timbul ketidaksesuaian antara overhead

yang dibebankan dengan overhead pabrik yang terjadi.

Berbasis kegiatan yang biasa digunakan dapat dipilih salah satu dari

beberapa basis berikut ini:

1. Unit yang diproduksi

Membagi anggaran atau estimasi overhead pabrik dengan estimasi yang

di produksi. Faktur ini digunakan dalam membebankan biaya overhead

pabrik kepada produk. Apabila produk yang dihasilkan hanya terdiri

dari satu jenis maka faktor ini dapat digunakan secara memuaskan.

2. Biaya bahan langsung

Biaya bahan langsung adalah membagi anggaran atau estimasi

overhead pabrik dengan estimasi bahan langsung. Penggunaan tarif

overhead pabrik yang didasarkan pada biaya bahan langsung berbeda

dengan penentuan tarif berdasarkan unit, jam kerja langsung maupun

jam mesin, dimana pada metode ini tarif overhead pabrik didasarkan

pada prosentase per bahan langsung yang sama dengan metode

berdasarkan jam tenaga kerja langsung.

3. Biaya Tenaga Kerja Langsung

Biaya tenaga kerja langsung adalah membagi anggaran atau estimasi

overhead pabrik dengan estimasi biaya tenaga kerja langsung. Metode

ini lebih banyak digunakan untuk membebankan biaya overhead pabrik

kepada suatu produk atau pekerjaan.

4. Jam Tenaga Kerja Langsung

Page 21: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Jam tenaga kerja langsung adalah membagi anggaran biaya overhead

pabrik dengan jumlah jam kerja langsung. Metode ini digunakan untuk

menyempurnakan metode berdasarkan tenaga kerja langsung.

5. Jam Mesin

Jam mesin adalah membagi anggaran biaya overhead pabrik dengan

anggaran jam mesin. Metode jam mesin ini dapat digunakan

membebankan biaya overhead pabrik ke pekerjaan atau produk apabila

suatu perusahaan dalam operasi produksi lebih banyak menggunakan

mesin, maka dasar yang paling tepat digunakan dalam menetapkan tarif

kepada produk ataupun pekerjaan adalah menggunakan jam mesin.

c. Memilih tingkat kegiatan

Tingkat kegiatan produksi dapat diperkitakan atau dirancang dengan baik

bila perusahaan mempunyai data yang cukup akurat mengenai kemampuan

pabrik dimasa yang akan datang.

Secara umum terdapat empat macam kapasitas yang dapat digunakan

sebagai dasar penentuan kapasitas atau tingkatan produksi dalam periode

yang akan datang, yaitu:

1. Kapasitas teoritis (Ideal)

Kapasitas maksimum yang dapat dicapai oleh perusahaan tanpa

mempertimbangkan hambatan

hambatan.

2. Kapasitas praktis (Realistis)

Kapasitas ini menghitung tingkat kapasitas yang dapat dicapai dengan

mempertimbangkan hambatan

hambatan intern.

3. Kapasitas normal

Page 22: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Kapasitas ini menghitung tingkat kapasitas yang dapat dicapai dengan

mempertimbangkan hambatan

hambatan intern dan ekstern.

4. Kapasitas harapan

Kapasitas ini didasarkan kepada taksiran produksi pada suatu periode

kapasitas harapan hanya digunakan kapasitas normal sulit dihitung.

2.6 Biaya Standar

Dengan demikian berkembangnya perusahaan maka diperlukan adanya alat

pengendalian biaya yang efektif dan efisien. Pengendalian biaya akan membantu

manajemen untuk melaksanakan perbaikan atas penyimpangan-penyimpangan

antara biaya sesungguhnya dengan biaya yang telah ditetapkan sebelumnya. Salah

satu alat pengendalian yang sering digunakan adalah biaya standar.

2.6.1 Pengertian Biaya Standar

Pedoman yang dapat diandalkan untuk menukar dan mengendalikan biaya

didasarkan atas penelitian dan analisis yang seksama mengenai berapa biaya yang

seharusnya untuk melaksanakan operasi dengan metode yang sebaik-baiknya

disebut dengan standar. Pengertian biaya standar menurut Mulyadi (2009:387),

yaitu:

Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yang

merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk

membuat satu-satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu,

Page 23: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain

tertentu.

Sedangkan biaya standar menurut Armanto Witjaksono (2006:115) sebagai

berikut:

Biaya standar adalah patok duga yang secara efektif dan efisien

ditetapkan dimuka untuk biaya-biaya yang seharusnya dikonsumsi

oleh suatu produksi.

Jadi biaya standar merupakan biaya yang ditetapkan dimuka sebagai target

yang dituju sekaligus dapat digunakan untuk mengukur biaya yang sesungguhnya

terjadi.

2.6.2 Manfaat dan Kelemahan Biaya Standar

Sistem biaya standar dirancang untuk mengendalikan biaya. Biaya standar

merupakan alat yang penting di dalam menilai pelaksanaan kebijakan yang telah

ditetapkan sebelumnya. Sistem ini memberikan pedoman kepada manajemen

berapa biaya yang seharusnya untuk melaksanakan kegiatan tertentu sehingga

memungkinkan mereka melakukan pengurangan biaya dengan cara perbaikan

metode produksi, pemilihan tenaga kerja, dan kegiatan yang lain.

Manfaat biaya standar bagi perusahaan untuk:

a. Pengawasan biaya

b. Penetapan harga pokok

c. Perencanaan budget

d. Pemeliharaan catatan

Page 24: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Sebagai alat pengendalian biaya. Biaya standar memberikan suatu tolak

ukur untuk menilai aktivitas perusahaan dengan cara membandingkan hasil

pelaksanaan standar yang telah ditetapkan, sehingga dapat diketahui besarnya

penyimpangan yang terjadi untuk analisis dan diambil tindakan koreksi

secepatnya. Dengan tolak ukur ini manajemen dapat meningkatkan efisiensi

operasi melalui pengarahan aktivitas perusahaan yang sesuai dengan standar yang

ditetapkan.

Walaupun banyak manfaat yang diperoleh menurut Mulyadi (2009:389),

biaya standar ini tetap memiliki kelemahan-kelemahan, yaitu:

a. Tingkat keketatan atau kelonggaran standar tidak dapat dihitung dengan

tepat. Meskipun telah ditetapkan dengan jelas standar apa yang dibutuhkan

oleh perusahaan, tetapi tidak ada jaminan bahwa standar telah ditetapkan

dalam perusahaan secara keseluruhan dengan keketatan atau kelonggaran

efektif sama.

b. Seringkali standar cenderung untuk menjadi kaku atau tidak fleksibel,

meskipun dalam jangka waktu pendek. Keadaan produksi selalu mengalami

perubahan, sedangkan perbaikan standar jarang sekali dilakukan. Perubahan

standar menimbulkan masalah persediaan. Jika standar sering diperbaiki, hal

ini kurang efisiensinya standar tersebut sebagai alat pengukur pelaksanaan.

Tetapi jika tidak diadakan perbaikan standar, padahal telah terjadi

perubahan yang berarti dalam produksi, maka akan terjadi pengukuran

pelaksanaan yang tidak tepat dan tidak realitis.

2.6.3 Penetapan Biaya Standar

Page 25: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Biaya standar umumnya menyangkut biaya produksi, karena hubungan

input dan output yang lebih jelas, sehingga biaya standar produksi meliputi:

1. Biaya Standar Bahan Baku

Biaya standar bahan baku adalah bahan baku yang seharusnya terjadi dalam

pengelolaan satu unit produk. Dalam menentukan biaya standar bahan baku

untuk mengolah satu unit tertentu dua faktor, yaitu:

1) Standar harga bahan baku, yaitu harga bahan baku per unit yang

seharusnya terjadi didalam pembelian bahan baku.

2) Standar kuantitas bahan baku, yaitu kuantitas bahan baku yang

seharusnya dipakai dalam pengelolaan satu - satuan produk tertentu.

Dengan rumus:

Biaya Standar Bahan Baku = Kuantitas Standar x Harga

Standar

2. Biaya Standar Tenaga Kerja Langsung

Biaya standar tenaga kerja langsung adalah biaya yang seharusnya terjadi

dalam pengelolaan satu unit produk dalam menentukan biaya standar TKL

untuk mengolah satu unit produk tertentu terdapat dua faktor, yaitu:

1) Standar tarif upah langsung adalah tarif upah yang seharusnya terjadi

untuk setiap perubahan dalam pengelolaan produk tertentu.

2) Standar waktu (Jam Kerja Langsung) adalah jam/waktu yang

seharusnya dipakai dalam pengelolaan satu satuan produk.

Dengan rumus:

Biaya Standar TKL = Jam TKL Standar x Tarif Upah Standar

Page 26: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

3. Biaya Standar Overhead Pabrik

Manfaat utama kapasitas normal yaitu tarif biaya-biaya standar overhead,

meliputi unsur biaya overhead pabrik variabel tetap adalah untuk penentuan

harga pokok produk dan perencanaan agar tarif biaya standar overhead

dapat bermanfaat untuk mengendalikan biaya, maka tarif ini harus

dipisahkan kedalam biaya tetap dan biaya variabel.

Untuk pengendalian biaya overhead pabrik dalam sistem biaya standar,

perlu dibuat anggaran fleksibel, yaitu anggaran biaya untuk berapa taksiran

kapasitas. Ada perbedaan pokok antara tarif biaya standar overhead pabrik

untuk membuat anggaran fleksibel. Tarif biaya standar overhead pabrik

untuk biaya tetap dan biaya variabel dalam satuan yang didasarkan pada

tingkat kegiatan tertentu. Sebagai akibatnya dalam tarif biaya overhead

pabrik semua biaya overhead pabrik diperlukan sebagai biaya variabel.

Dilain pihak anggaran fleksibel memisahkan faktor-faktor biaya tetap dan

biaya variabel, serta memperlakukan biaya overhead tetap sebagai yang

jumlah totalnya tetap dalam volume tertentu.

Dengan rumus:

Biaya Standar Overhead Pabrik = Taksiran Biaya Overhead

Pabrik Per Bulan

Jumlah Produk yang akan

Dihasilkan Per Bulan

2.7 Biaya Sesungguhnya (Aktual)

Page 27: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Setiap produk (barang atau jasa) yang akan dijual harus mempunyai harga

jual. Harga jual produk harus lebih besar dari harga pokok produk. Harga pokok

dapat dihitung/ditentukan dimuka sebelum produksi dimulai atau dapat juga

ditentukan ketika produksi telah selesai. Karena itu, suatu sistem akumulasi biaya

(baik itu sistem biaya pesanan maupun sistem biaya proses) dapat dipakai untuk

penetapan harga pokok dimuka. Biaya sesungguhnya atau biaya historis adalah

biaya yang diakumulasikan selama proses-proses produksi dengan

mempergunakan metode harga pokok historis yang lazim sebagai biaya-biaya

yang ditentukan dimuka sebelum proses produksi.

2.8 Analisis Penyimpangan Biaya Sesungguhnya dari Biaya Standar

Penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar disebut dengan

selisih (variance). Selisih biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis,

dan dari analisis ini diselidiki penyebab terjadinya penyimpangan, kemudian

dicari jalan untuk mengatasi terjadinya selisih yang merugikan.

Analisis selisih biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung berbeda

dengan analisis selisih biaya overhead pabrik. Dalam analisis selisih biaya bahan

baku dan biaya tenaga kerja langsung hanya dikenal dua macam kapasitas:

kapasitas sesungguhnya dan kapasitas standar, sedangkan dalam analisis selisih

biaya overhead pabrik dikenal tiga macam kapasitas: kapasitas sesungguhnya,

kapasitas standar, dan kapasitas normal (kapasitas yang terakhir ini digunakan

untuk menghitung tarif biaya overhead pabrik).

Analisis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

A. Analisis selisih biaya

Page 28: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Analisa selisih biaya adalah suatu cara untuk mengetahui adanya

penyimpangan antara biaya standar dengan realisasinya, dan dengan adanya

analisa selisih biaya ini, perusahaan dapat mengetahui sebab-sebab

penyimpangan yang terjadi, sehingga manajer perusahaan dapat mengambil

suatu kebijakan dan tindakan untuk mengetahui penyimpanga-penyimpangan

yang terjadi. Penyimpangan biaya produksi meliputi:

1. Selisih Biaya Bahan Baku

Ada dua macam selisih biaya bahan baku, yaitu :

a. Selisih harga bahan baku.

Penyebab terjadinya selisih harga bahan baku adalah

1) Kontrak atau syarat pembelian yang menguntungkan atau tidak

menguntungkan.

2) Perubahan-perubahan harga pasar yang tidak diperkirakan

sebelumnya.

3) Biaya angkutan yang diperkirakan terlalu rendah atau terlalu

tinggi.

4) Kekeliruan dalam memperkirakan jumlah potongan pembelian

(purchase discount).

5) Tepat atau tidak tepatnya saat pembelian.

b. Selisih kuantitas bahan baku (materials quantity variance)

Selisih kuantitas bahan baku disebabkan karena:

1) Penggunaan kualitas bahan yang berbeda atau pemakaian bahan

substitusi.

2) Adanya pengawasan atau tidak adanya pengawasan terhadap

Page 29: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

pemborosan pemakaian bahan.

3) Operasi pabrik yang efisien atau tidak efisien sebagai akibat

tidak adanya pengawasan penggunaan peralatan pabrik.

4) Penyimpangan hasil bahan baku yang diolah.

2. Selisih Biaya Tenaga Kerja

Ada dua macam selisih biaya tenaga kerja, yaitu:

a. Selisih tarif upah langsung

Selisih tarif upah langsung disebabkan oleh:

1) Telah digunakan tenaga kerja langsung dengan golongan tarif

upah yang berbeda dengan standar untuk pekerja tertentu.

2) Karyawan yang baru diterima tidak dibayar sesuai dengan tarif

standar.

3) Adanya kenaikan pangkat atau penurunan pangkat yang

menyebabkan penurunan tarif upah.

b. Selisih efisiensi upah langsung

Selisih efisiensi upah langsung terjadi karena:

1) Departemen produksi telah bekerja dengan efisiensi atau tidak

efisiensi yang bisa disebabkan karena pengawasan terhadap

tenaga kerja.

2) Kurangnya koordinasi dengan departemen produksi lain.

3. Selisih Biaya Overhead Pabrik

a. Selisih anggaran

Page 30: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

Selisih anggaran disebabkan karena biaya overhead pabrik

sesungguhnya terlalu besar atau lebih kecil dari biaya overhead

pabrik yang dibudgetkan.

Timbulnya selisih anggaran, disebabkan:

1) Penggunaan mutu bahan baku yang keliru.

2) Penggunaan mutu tenaga kerja yang keliru.

3) Kegagalan dalam memperoleh syarat pembelian bahan yang

menguntungkan.

b. Selisih kapasitas

Selisih kapasitas dapat dihitung dengan cara biaya overhead

pabrik yang dibudgetkan pada kapasitas sesungguhnya dikurangi jam

kerja standar dikalikan tarif biaya overhead pabrik standar. Selisih ini

disebabkan oleh :

1) Kerusakan mesin yang tidak bisa dihindari.

2) Kekurangan alat.

3) Fluktuasi hari dalam kalender.

4) Kelebihan kapasitas produksi.

c. Selisih Efisiensi

Selisih efisiensi adalah perbedaan antara jam kerja sesungguhnya

dengan jam kerja standar dikalikan dengan tarif BOP standar.

Penyebab selisih ini adalah:

1) Pemborosan pemakaian bahan baku.

2) Pekerjaan tenaga kerja yang tidak efsiensi.

3) Kegagalan dalam mengurangi penggunaan bahan baku dan jasa,

Page 31: BAB II BAHAN RUJUKAN 2.2 Akuntansi Biaya Akuntansi biaya

dalam hubungannya dengan tingkat output yang dihasilkan.

B. Analisis Selisih Biaya Overhead Pabrik

Selisih biaya overhead pabrik timbul karena perbedaan antara biaya

overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dengan biaya overhead pabrik

standar atau yang seharusnya terjadi di dalam mengolah produk atau pesanan.

Dalam analisis selisih biaya overhead pabrik digunakan beberapa metode

sebagai berikut:

a. Metode analisis satu selisih yaitu selisih antara biaya overhead pabrik

standar dengan biaya overhead pabrik sesungguhnya.

b. Metode analisis dua selisih, yang meliputi: selisih terkendali dan selisih

volume.

c. Metode analisis tiga selisih, yang meliputi: selisih anggaran, selisih

kapasitas, dan selisih efisiensi.

d. Metode analisis empat selisih, yang meliputi: selisih anggaran, selisih

kapasitas, selisih efisiensi tetap, dan selisih efisiensi variabel.