Click here to load reader

BAB I.docx

  • View
    32

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB I.docx

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangPerkembangan zaman dan era globalisasi berjalan sangat cepat baik di bidang industri ataupun konstruksi. Kemajuan ini membawa dampak positif terhadap perkembangan perokonomian dan kemakmuran bangsa akan tetapi juga memiliki dampak negatif berupa potensi bahaya yang mengancam pekerja atau lingkungan akibat aktifitas produksi. Potensi bahaya tersebut muncul oleh penggunaan bahan kimia, proses dengan suhu tinggi dan penggunaan alat-alat modern lainnya (mesin mekanik atau mesin listrik) tanpa diimbangi dengan kesiapan sumber daya dan sistem untuk mengendalikannya.Potensi bahaya yang muncul harus dapat diminimalisir bahkan dieliminasi keberadaanya untuk menjamin tidak terjadi kecelakaan kerja pada setiap proses produksi. Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktifitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia atau harta benda (UU No. 1 tahun 1970). Indonesia sebagai negara berkembang memiliki angka kecelakaan yang termasuk paling tinggi di ASEAN dengan penyumbang terbesar sebanyak 32% disebabkan akibat kegiatan konstruksi yang meliputi semua jenis pekerjaan proyek, gedung jalan, jembatan, terowongan, irigasi bendungan dan sejenisnya (Jamsostek, 2010). Oleh karena itu, aktifitas di bidang konstruksi memerlukan pengawasan yang lebih untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja.PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk. sebagai perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi terus berupaya meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja di berbagai sektor usahanya baik di pembangunan gedung, jalan, jembatan, terowongan, dll. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi aspek perundangan terkait keselamatan kerja, lingkungan dan perundangan atau aturan lainnya yang mengikat demi mewujudkan Zero Accident (tidak terjadi kecelakaan). Terwujudnya Zero Accident akan berdampak pada besarnya pendapatan perusahaan karena tidak terjadi kecelakaan yang dapat merugikan baik berupa korban jiwa ataupun material.Salah satu upaya yang dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan di PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk. adalah dengan membuat prosedur Sistem Ijin Kerja. Sistem ijin kerja pada prinsipnya adalah suatu dokumen tertulis sebagai persyaratan untuk melaksanakan pekerjaan berbahaya dengan memperhatikan potensi bahaya serta langkah pencegahan yang harus dilakukan (Sahab, 1997). Ijin kerja terdiri dari ijin kerja panas, ijin kerja dingin, ijin kerja ketinggian, ijin kerja ruang terbatas, ijin kerja galian, ijin kerja radio aktif, ijin kerja listrik, dll sesuai dengan jenis pekerjaannya. Ijin kerja diberikan setelah dilakukan Job Safety Analysis dan semua persyaratan yang tertera di formulir terpenuhi. Formulir Ijin Kerja dibedakan berdasarkan jenis pekerjaannya mengingat setiap pekerjaan memiliki jenis dan tingkat potensi bahaya yang berbeda. Formulir ijin kerja yang dibuat di PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk. masih bersifat general (umum) dan belum dikategorikan berdasarkan jenis pekerjaannya khususnya untuk penerapan di Departemen Bangunan Gedung. B. Rumusan MasalahBedasarkan Latar Belakang diatas maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah Bagaimana desain formulir ijin kerja yang sesuai untuk diterapkan di Departemen Bangunan Gedung PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk. berdasarkan jenis pekerjaannya.C. Tujuan1. Membuat desain form checklist Ijin Kerja Panas di Departemen Bangunan Gedung PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk.2. Membuat desain form checklist Ijin Kerja Ketinggian di Departemen Bangunan Gedung PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk.3. Membuat desain form checklist Ijin Kerja Listrik di Departemen Bangunan Gedung PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk.D. Manfaat1. Penulisa. Memenuhi persyaratan untuk pengangkatan sebagai pegawai organic PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk.b. Dapat mengetahui dan mengkaji Sistem Ijin Kerja yang diterapkan di Departemen Bangunan Gedung PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk.c. Dapat mengimplementasikan ilmu yang dimiliki untuk berkontribusi di Departemen Bangunan Gedung PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk.

2. PerusahaanMendapat masukan mengenai formulir Ijin Kerja yang diterapkan sehingga dapat melakukan tindakan perbaikan atau menindaklanjuti hasil makalah yang disampaikan.

BAB IILANDASAN TEORIA. Tinjauan Pustaka1. Definisi Tempat KerjaMenurut Undang - Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja mendefinisikan tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dimana terdapat sumber atau sumber sumber bahaya, termasuk semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. Tempat kerja di bidang konstruksi biasa dikenal dengan proyek dikarenakan sifatnya yang komplek, tidak rutin, usahanya dibatasi oleh waktu, sumber daya dan spesifikasi kinerja yang direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.2. BahayaBahaya merupakan sesuatu yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cidera, sakit, kecelakaan atau bahkan dapat mengakibatkan kematian yang berhubungan dengan proses dan sistem kerja (Tarwaka, 2008). Sumber bahaya merupakan sesuatu yang merupakan inti atau pusat dari proses kegiatan yang mengakibatkan timbulnya resiko, bisa berupa equipment, lokasi/area, sistem, peraturan, produk, unit kegiatan, sumber daya manusia dan lain-lain (Soeripto, 2008). Pada umumnya semua tempat kerja selalu terdapat sumber bahaya yang dapat mengancam keselamatan maupun kesehatan tenaga kerja (Sahab, 1997). Sumber bahaya yang ada pada tempat kerja Departemen Bangunan Gedung PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk. antara lain berasal dari :a. BahanBahaya dari bahan meliputi berbagai resiko sesuai dengan sifat dan karakteristik bahan yang digunakan seperti solar yang mudah terbakar, semen yang berbentuk serbuk sehingga sangat mudah ikut masuk dalam pernafasan yang dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan dan lain-lain. b. ProsesBahaya dari proses sangat bervariasi tergantung teknologi dan cara kerja yang digunakan. Proses menggunakan teknologi modern seperti barbender dan barcutter untuk mempermudah pekerjaan pembesian menimbulkan berbagai macam potensi bahaya seperti terjepit, terpotong, terkena aliran listrik dan lain-lain. Proses dengan cara kerja yang sesuai prosedur juga masih menimbulkan resiko dan potensi bahaya seperti bekerja di ketinggian yang dapat dikategorikan sebagai pekerjaan dengan potensi bahaya tinggi (High Risk).Cara kerja lain yang berpotensi terhadap terjadinya bahaya atau kecelakaan berupa tindakan yang tidak aman (Unsafe Act) antara lain :1) Cara mengangkat dan mengangkut (Manual Handling) yang salah dan dipaksakan melebihi batas maksimal beban (40 kg).2) Posisi tubuh yang tidak benar sehingga dapat memicu timbulnya kelainan akibat kelelahan otot seperti Muscoskeletal Disorders.3) Menggunakan alat atau mesin yang tidak sesuai dengan peruntukkannya dan lain sebagainya.c. Lingkungan KerjaLingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugs yang diembannya. Bahaya dari lingkungan kerja dapat digolongkan atas berbagai jenis bahaya yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan dan penyakit akibat kerja serta penurunan produktifitas dan efisiensi kerja. Bahaya faktor lingkungan antara lain sebagai berikut :1) Lingkungan FisikBahaya lingkungan fisik adalah bahaya yang dapat dengan mudah diidentifikasi keberadaan dan dampaknya. Bahaya lingkungan fisik antara lain terlalu bising, kurang penerangan, getaran dan suhu tempat kerja terlalu panas. Lingkungan fisik dapat diukur dan dimonitor perubahannya dengan alat seperti Soundlevel meter untuk mengukur tingkat kebisingan, Lux meter untuk mengukur tingkat pencahayaan dan lain-lain.2) Lingkungan KimiaBahaya yang bersifat kimia yang berasal dari bahan-]bahan yang digunakan maupun bahan yang dihasilkan selama proses produksi.

3) Lingkungan BiologikBahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari serangga maupun dari binatang lainnya yang ada di tempat kerja. 4) Faal kerja atau ErgonomiGangguan yang bersifat faal karena beban kerja yang diberikan terlalu berat atau dikarenakan adanya ketidaksesuaian antara tenaga kerja dengan alat yang digunakan.5) Sosial PsikologisGangguan jiwa dapat terjadi karena keadaan lingkungan social tempat kerja yang tidak sesuai dan menimbulkan ketegangan jiwa pada karyawan seperti hubungan antara atasan bawahan yang tidak serasi. 3. Kecelakaan KerjaKecelakaan menurut Sumamur (1981) adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tidak terduga oleh karena di belakang peristiwa itu tidak terdapat unsure kesengajaan, terlebih dalam bentuk perencanaan. Tidak diharapkan karena kecelakaan disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Kecelakaan kerja terjadi karena terdapat potensi bahaya yang beresiko akan tetapi tidak ditanggulangi keberadaannya. Pada dasarnya penyebab kecelakaan kerja terdiri dari dua penyebab, yaitu :

a. Unsafe ConditionUnsafe Condition atau kondisi yang tidak aman adalah kondisi yang mengandung bahaya yang potensial, misalnya pekerjaan dilakukan di tepi bangunan, instalasi listrik berserakan, jalan kerja terhalang material dan lain-lain.b. Unsafe ActUnsafe Act atau tindakan yang tidak aman adalah setiap tindakan yang tidak sesuai dengan aturan yang dibuat untuk menjamin keselamatan di tempat kerja, dan hal tersebut jelas dilarang keras seperti tidak mengenakan APD sesuai dengan jenis pekerjaannya, melompati lubang dan lain-lain.4. Ijin KerjaSetiap proyek pasti memiliki tempat-tempat atau lokasi dimana potensi bahayanya tinggi seperti bekerja di tepi bangunan, bekerja di ruang terbatas, dan lain sebagainya sehingga memerlukan perhatian khusus dalam pengerjaannya. Menanggapi adanya lokasi-lokasi kerja

Search related