Click here to load reader

BAB I.docx

  • View
    239

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of BAB I.docx

12

BAB IPROSEDUR KERJA

Tempat: Wawan Dental LaboratoriumWaktu: 08 Juni 2015Alat :1. Lempeng kaca2. Kompor3. Alat tuang sentrifugal dan crucible4. Casting5. Penjepit bumbung tuang6. Pinset kecil7. Pisau model8. Pisau malam9. Kaliper10. Master dieBahan :1. Logam campur Cu Alloy (Orden)Proses casting melalui tahap sebagai berikut:a. Tahap 1 Waxing adalah pembuatan pola malamb. Tahap 2Spruing, adalah pembuatan sprue pin atau sprue tormer dan casting wax (malam cor). c. Tahap 3Investing, adalah penanaman pola malam dalam adonan bahan invesmen (yang ada di dalam casting ring). d. Tahap 4Tahap pre heating, wax elamination, heating Pengertian pre heatingPre heating adalah pemanasan permulaan pada casting ring agar adonan bahan tanam lebih kering Pengertian wax elamiinationwax elimination adalah penghilangan malam dart pola malam yang tertanam dalam adonan bahan invesmen (yang ada di dalam casting ring Pengertian heatingHeating adalah pemanasan casting ring (yang berisi adonan bahan invesmen) sampai suhu tertentu

e. Tahap 5Melting dan casting Pengertian meltingMelting adalah pelelehan logam yang dtlakukan pada sprue - hold atau fire clay Pengertian castingCasting adalah pengecoran lelehan logarn ke dalam ruang cetak (mould space)

f. Tahap 7Finishing dan polishing

g. Tahap 8Hasil akhirBAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian LogamLogam merupakan substansi kimia opak mengkilap yang merupakan penghantar (konduktor) panas atau listrik yang baik serta bila dipoles, merupakan pemantul atau reflektor sinar yang baik. Semua logam dan logam campur yang digunakan dalam kedokteran gigi adalah bahan padat seperti kristal, kecuali gallium dan merkuri yang berwujud cairan pada temperatur tubuh. Kebanyakan logam yang digunakan untuk restorasi gigi, gigi tiruan sebagian rangka logam, dan kawat ortodonti adalah logam campur, dengan perkecualian lempeng emas murni, titanium murni komersial, dan silver point endodontik (Harty, 2012)2.2Sifat LogamLogam merupakan elektropositif yakni memberi ion positif dalam larutan. Dari lebih 100 elemen dalam tabel periodic sebanyak 68 adalah logam, 8 menyerupai logam (metalloid) dalam berbagai aspek (misal silikon, arsenik, dan boron) dan sisa lainnya berupa non logam. Logam murni sangat jarang dipergunakan di kedokteran gigi.pada umumnya logam murni terlalu lunak dan terlalu liat untuk dipergunakan dalam pemakaian di kedokteran gigi. Logam-logam tersebut mempunyai sifat-sifat yang pada umumnya adalah :a. Kerasb. Berkilatc. Berat ini berkaitan dengan berat atom elemen dan tipe struktur kisi yang menentukan bagaimana eratnya atom-atom tersebut tersussun.d. Penghantar panas dan penghantar listrik yang baik disebabkan sifat ikatan logam.e. Opaque karena electron-elektron bebas mengabsorbsi energi elektromagnetik cahaya.f. Liat dan dapat dibentuk (Combe,1992)2.3 Pengertian CastingMenurut Jablowsy, S., 1982, yang dimaksud dengan casting adalah suatu proses untuk membuat / membentuk restorasi atau rehabflitasi gigi dengan bahan logam. Casting juga merupakan suatu teknik yang sering dilakukan di kedokteran gigi dalam pembuatan tempatan gigi, mahkota gigi tiruan, jembatan rangka gigi tiruan dan lain-lain dengan bahan logam. Proses casting ini menggunakan metode yang disebut lost wax process. Pada prinsipnya pola malam dan bentuk restorasi atau rehabilitasi gigi ditanam dalam adonan bahan investmen gigi (dental invesment) yang ada di dalam casting ring. Kemudian poia malam ini dihilangkan dengan jalan dipanaskan pada suhu tertentu, sampai pola malam hilang sama sekali, sehingga meninggalkan ruang cetak (mould space) di dalam aclonan invesmen. Selanjutnya logam dilelehkan / dicairkan dengan pemanasan dan lelehan logam tersebut dituangkan kedalam ruang cetak dengan tekanan sentri fugal / tekanan udara, sehingga ruang cetak tersebut terisi oleh lelehan dengan bentuk sesuai dengan pola malamnya. Kegunaan dan tujuan casting dibidang kedokteran gigi dan tujuannya : a) Kegunaan casting dibidang kedokteran gigi adalah untuk pembuatan restorasi, rehabilitasi atau rekonstruksi pada gigi dengan bahan logam yang dilakukan dengan proses casting. Misalnya untuk pembuatan inlay crown and bridge atau gigi tiruan rangka logam, dll. b) Tujuannya adalah untuk mengganti bahan restorasi atau rehabilitasi yang tidak mungkin dilakukan dengan bahan selain logam dan untuk mendapatkan kekuatan / daya tahan yang lebih besar dan bahan yang lain. Misalnya acrylic resin atau amalgam (William, 2002)2.4 Macam-macam komponen yang menunjang proses casting dan pengertiannya a) Die adalah model cetakan dari gigi pilar (abutment) yang terbuat dan gips keras (stone gyps) dan berguna untuk pembuatan pola malam. b) Wax pattern adalah pola / model yang dibuat dan malam, yang akan diganti dengan logam, sehingga terbentuk suatu restorasi atau rehabilitasi gigi yang dikehendaki. c) Srue pin adalah pin / pasak yang terbuat dan bahan tertentu yang berguna untuk pegangan pola malam pada waktu investing dan pembentuk sprue. d) Sprue adalah rongga / saluran yang terjadi setelah dilakukan wax elimination terhadap pola malam, yang menghubuhgkan crucible dengan mould space. e) Crucible Jormer / sprue base adalah bangunan yang terbentuk dan malam atau kayu atau karet sebagai pembentuk cruscible. f) Crucible adalah bangunan seperti corong / kawah dari adonan invesmen, yang terdapat disalah satu ujung casting ring berguna untuk tempat melelehkan logam. g) Mould space / mold space adalah ruang cetak bekas pola malam setelah dilakukan wax elimination dan pola malam (wax pattern). 2.5 Kegagalan- kegagalan pada proses castingMacam-macam kegagalan dan penyebabnya :a. Distrsion (distorsi atau pengoletan) Distorsi ini dapat terjadi pada waktu pembuatan pola malam atau pada waktu pengambilan hasil casting dan dalam invesmen. penyebab terjadinya distorsi adalah sebagai berikut :1) terjadinya perubahan temperatur yang besar. 2) manipulasi bahan tidak benar. 3) teknik pembuatan malam tidak benar. Penyebab ini terjadi pada pembuatan pola malam. Adapun penyebab terjadinya distorsi pada hasil cor, karena pengambilan hasil casting dan dalam invesmen. Misalnya masih dalam keadaan panas Iangsung diambil, sehingga pada waktu logam dingin akan mengkerut dan pengkerutan ini tidak ada yang menahan, akibatnya terjadi distorsi

b. Surface roughness (permukaan kasar) 1) Air bubbler gelembung - gelembung udara). Hal ini terjadi akibat pada waktu investing masih terdapat gelembung-gelembung udara yang terperangkap di dalam adonan invesmen dan menempel pada permukaan pola malam. Pada waktu casting, maka bekas-bekas gelembung udara ini akan diisi oleh lelehan logam. 2) Too rapid heating (pemasanan yang terlalu cepat) 3) W / p ratio (perbandingan antara air dan bahan invesmen) W / p ratio ini adalah sangat penting. Apabila w/p ratio tidak tepat misalnya terlalu kecil atau terlalu besar dapat menimbulkan permukaan kasar dan flash casting. 1) Prolonged healing (pemanasan yang terlalu lama)

2) Casting pressure (tekanan pada waktu casting yang kurang benar) 3) Composition of the invesment (komposisi bahan invesmen) Misalnya bahan invesmen yang sudah lama atau sudah kadaluwarsa, sehingga terjadi kerusakan dan salah satu komponen bahan invesmennya. 4) Foreign body (benda-benda asing) Adanya benda- benda asing yang masuk ke dalam mould space, misalnya pasir atau debu, dapat menimbulkan surface roughness pada permukaan hasil casting.

c. Porosity (poros) Penyebab porositas pada hasil casting, karena adanya pengaruh dari faktor faktor teknis. Ada 3 macam porositas, yaitu : 1) Localized shrinkage porosity Porositas ini akibat adanya pengerutan setempat / lokal. 2) Sub surface porosity Porositas yang terjadi pada permukaan dalam dari hasil casting. 3) Micro-porosity. Penyebabnya antara lain : a. besar kecilnya seprueb. panjang pendeknya sepruec. temperatur melting yang terlalu besar

d. Incomplete casting (hasil casting yang tidak lengkap) Penyebabnya antara lain : 1) Wax elimination yang tidak sempurna sehingga masih terdapat sisa malam di dalam mould space. Hal ini terjadi apabila waktu wax elimination tergesa-gesa atau terlalu cepat. 2) Benda asing yang menyumbat sprue, misalnya sprue kemasukkan debu atau pasir atau terjadi kerontokan dan bahan invesmen yang membatasi mould space. 3) Pemutaran casting machine yang lambat, sehingga gaya centri fugal kecil, lelehan logam tidak dapat memasuki seluruh permukaan mould space (Hatrick, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

William J. O Brien. 2002. Dental Material and Their Selection 3rd ed. Quintessence Publishing Co, Inc.Harty, F.J dan R. Ogston. 1995. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: EGCAnnusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta: EGCCombe, EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah : Slamat Tarigan. Jakarta : Balai PustakaHatrick, Carol Dixon. 2003. Dental Material : clinical application for dental assistants and dental hygienist. Philadelphia : Saunders

1