BAB I.docx

  • View
    217

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB I.docx

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangAngka kematian bayi dan balita di Indonesia masih sangat tinggi. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian bayi (AKB) di Indonesia yaitu 35 bayi per 1000 kelahiran, sedangkan angka kematian balita (AKABA), yaitu 46 dari 1000 balita meninggal setiap tahunnya (Candra Syafei, 2008). Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, diperkirakan 1,7 juta kematian anak di Indonesia atau 5% balita di Indonesia adalah akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.Dalam lingkup pelayanan kesehatan, bidang preventif merupakan prioritas utama. Dalam melaksanakan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita.Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi status imunisasi pada bayi seperti faktor karakteristik ibu yang mempengaruhi pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu akan pentingnya program imunisasi, faktor jarak rumah ke tempat pelayanan imunisasi, atau faktor keterlambatan dropping vaksin. Kendala utama untuk keberhasilan program imunisasi bayi yaitu rendahnya kesadaran ibu bayi yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan, dan peran ibu dalam menyukseskan program imunisasi dinilai masih kurang. Masih banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat dan tidak sedikit orang tua dan kalangan praktisi tertentu khawatir terhadap risiko dari beberapa vaksin. Dalam hal ini peran orang tua, khususnya ibu menjadi sangat penting, karena orang terdekat dengan bayi dan yang terutama mengurus bayi adalah ibu. Dengan pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu yang baik akan mempengaruhi kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada bayi, sehingga dapat mempengaruhi status imunisasinya.Imunisasi yang dilakukan dengan memberikan vaksin tertentu akan melindungi anak terhadap penyakit-penyakit tertentu. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap. Upaya imunisasi di Indonesia yang telah dilakukan sejak tahun 70-an pada bayi atau anak, merupakan program untuk memenuhi Konvensi Hak Anak yang diberlakukan sejak 2 september 1990 oleh PBB. Konvensi Hak Anak meliputi hak atas kelangsungan hidup (survival), hak untuk berkembang (development), hak atas perlindungan (protection) dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat (participation). Maka sebagai upaya nyata, pemerintah bersama orangtua mempunyai kewajiban memberikan upaya kesehatan terbaik demi tumbuh kembang anak, dan imunisasi merupakan upaya pencegahan yang efektif terhadap penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan.Survei Kesehatan dan Demografi Indonesia (SKDI) diketahui bahwa pada dua tahun terakhir cakupan imunisasi dan kualitas vaksinasi tampak menurun. Penurunan cakupan imunisasi sangat dirasakan dengan ditemukannya kembali kasus polio dan difteria di Negara kita. Tiga ratus enam orang anak menderita poliomyelitis pada periode Mei 2005 sampai dengan Februari 2006 sebagai akibat cakupan vaksinasi polio yang menurun di daerah Cidahu Sukabumi. Angka kejadian difteria yang masih tinggi pada tahun 2000 ditemukan 1036 kasus dan 174 kasus pada tahun 2007 merupakan bukti bahwa vaksinasi DPT tidak merata.Menurunkan Angka Kesakitan dan Kematian Bayi dan Balita di Indonesia maka perlu ditingkatkan peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), serta penempatan bidan-bidan desa di Pos Persalinan Desa (Polindes), mengingat beban wilayah Indonesia yang sangat luas. Untuk itu, program pemerintah dalam memperbanyak bidan desa merupakan hal yang sangat urgent untuk memantau dan membantu kesehatan bayi dan balita yang jauh dari fasilitas kesehatan. Hal ini karena membawa bayi/balita yang sakit kerumah sakit bukanlah pemecahan yang baik, tetapi juga harus diaktifkan pusat-pusat pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan, termasuk bidan ditingkat desa yang dapat menjangkau masyarakat luas.Departemen kesehatan dalam upaya menurunkan angka morbiditas ibu dan anak ini menekankan pada penyediaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Dalam usaha penurunan angka morbiditas serta pemantauan kesehatan ibu dan anak, maka Balai Kesehatan Ibu Anak (BKIA) merupakan suatu wadah yang diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan masyarakat. Pada BKIA terdapat program-program yang menunjang dalam pencapaian kesehatan ibu dan anak, salah satunya adalah program imunisasi.Imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah kepada semua bayi ( usia 0-11 bulan ) adalah imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit yaitu adalah BCG untuk mencegah penyakit Tuberculosis, DPT untuk mencegah penyakit Difteri, Pertusis dan Tetanus, imunisasi Campak untuk mencegah penyakit Campak, imunisasi Polio untuk mencegah penyakit Polio, dan Hepatitis B untuk mencegah penyakit Hepatitis B.Berdasarkan hasil survei awal yang telah dilakukan oleh peneliti di lingkungan puskesmas Limba B terhadap 6 dari 10 orang pengasuh yang mempunyai bayi dan balita yang kurang mengetahui tentang Imunisasi Dasar pada Bayi dan balita. Dengan data tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Pengetahuan, sikap dan perilaku pengasuh terhadaap pemberian imunisasi dasar lengkap pada anak di wilayah kerja puskesmas Limba B.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah berdasarkan latar belakang diatas adalah masih kurangnya mendapatkan informasi, serta rasa keingintahuan dan kepedulian ibu untuk mengetahui tentang imunisasi dasar pada bayi. Maka untuk itu, peneliti ingin mengetahui Bagaimana pengetahuan, sikap dan perilaku pengasuh terhadaap pemberian imunisasi dasar lengkap pada anak di wilayah kerja puskesmas Limba B..

1.3 Tujuan Umum Mengetahui gambaran program imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Limba B. Khusus Untuk mengetahui tingkat pengetahuan pengasuh anak terhadap program imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja puskesmas Limba B. Untuk mengetahui tingkat sikap pengasuh anak terhadap program imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja puskesmas Limba B Untuk mengetahui tingkat perilaku pengasuh anak terhadap program imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja puskesmas Limba B.

1.4 Manfaat PenelitianDengan dilaksanakannya penelitian ini, maka diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :1. Bagi Responden Sebagai sumber informasi bahwa imunisasi dasar pada bayi lengkap maka dapat mencegah penyakit dan sumber imunitas bagi tubuh si bayi.2. Bagi Tempat PenelitianSebagai masukan, tambahan ilmu dan informasi bagi petugas kesehatan dalam melaksanakan penyuluhan tentang imunisasi dasar pada bayi.3. Bagi MasyarakatSebagai tambahan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran ibu bayi dan masyarakat akan pentingnya imunisasi dasar.4. Bagi PenelitiSebagai bahan masukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta sebagai penerapan ilmu yang sudah diperoleh selama perkuliahan khususnya tentang imunisasi dasar pada bayi.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Pengetahuan 2.1.1. Pengertian PengetahuanPengetahuan merupakan hasil tahu dan ini adalah setelah orang melakukan pengindraan obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba yang sebagian besar pengetahuan manusia melalui mata dan telinga.Pada bagian lain pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior), karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku akan lebih langgeng dari perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.Benyamin Bloom (1980) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku manusia ke dalam 3 (tiga) domain, ranah atau kawasan yakni a) kognitif (cognitive), b) afektif (affective) dan c) psikomotor (psychomotor).

2.1.2. Tingkat PengetahuanSetelah ada beberapa definisi pengetahuan yang telah diuraikan di atas, pengetahuan yang dicakup kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni : Tahu (know)Tahu diartikan sebagai pengikat suatu materi yang sah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengikat kembali (recal) terhadap suatu spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh suatu sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Memahami (Comprehension)Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara besar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar, menyebarkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan obyek yang dipelajari tersebut. Aplikasi (Aplication)Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat diartikan sebagai penggunaan hukum, rumus, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau sisi lain. Analisis (Analysis)Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Sintesis (syntesis)Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. Evaluasi (evaluation)Berkenaan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membantu penilaian terhadap sesuatu berdasarkan maksud atau kriteria tertentu.

2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Seseorang Menurut Notoadmojo (2003 : 18-169) faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan yaitu : KecerdasanIntelegensi (kecerdasan) merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Orang berpikir menggunakan inteleknya atau pikirannya, cepat atau tidaknya dan terpecahkan tidaknya suatu masalah tergantung kemampuan intelegensinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan pesan dalam suatu komunikasi adalah taraf intelegensi seseorang. Secara Common sense dapat dikatakan bahwa orang-orang yang lebih intelegen akan lebih mudah menerima suatu pesan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang mempunyai taraf intelegensi tinggi akan mempunyai pengetahuan yang baik dan sebaliknya. PendidikanTugas dari pendidikan adalah memberikan atau meningkatkan pengetahuan, menimbulkan sifat positif serta memberkan atau meningkatkan ketrampilan masyarakat atau individu tentang aspek-aspek yang bersangkutan, sehingga dicapai suatu masyarakat yang berkembang. Pendidikan dapat berupa pendidikan formal dan non-formal. Sistem pendidikan yang berjenjang diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan melalui pola tertentu. Jadi tingkat pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek sangat ditentukan oleh tingkat pendidikannya. PengalamanMenurut teori determinan perilaku yang disampaikan WHO (World Health Organitation), menganalisa bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu salah satunya disebabkan karena adanya pemikiran dan perasaan dalam diri seseorang yang terbentuk dalam pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan dan penilaian-penilaian seseorang terhadap obyek tersebut, dimana seseorang dapat mendapatkan pengetahuan baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. InformasiTeori depensi mengenai efek komunikasi massa, disebutkan bahwa media massa dianggap sebagai informasi yang memiliki peranan penting dalam proses pemeliharaan, perubahan dan konflik dalam tatanan masyarakat, kelompok atau individu dalam aktivitas sosial dimana media massa ini nantinya akan mempengaruhi fungsi cognitive, afektif dan behavior. Pada fungsi kognitif diantaranya adalah berfungsi untuk menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, perluasan sistem, keyakinan ambiguitas, pembentukan sikap, perluasan sistem, keyakinan masyarakat dan penegasan atau penjelasan nilai-nilai tertentu.Media ini menjadi tiga yaitu media cetak yang meliputi booklet, leaflet, rubik yang terdapat pada surat kabar atau majalah dan poster. Kemudian media elektronik yang meliputi televisi, radio, video, slide dan film serta papan (bilboard). KepercayaanKomponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai arah yang berlagu bagi obyek sikap, sekali kepercayaan itu telah terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu.

2.2. PerilakuPerilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Sesuai dengan batasan ini, perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan, dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan.Keberhasilan upaya pencegahan dan pengobatan penyakit tergantung pada kesediaan orang yang bersangkutan untuk melaksanakan dan menjaga perilaku sehat. Banyak dokumentasi penelitian yang memperlihatkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemeriksaan kesehatan, imunisasi, serta berbagai upaya pencegahan penyakit dan banyak pula yang tidak memanfaatkan pengobatan modern. Karena itu tidaklah mengherankan bila banyak ahli ilmu perilaku yang mencoba menyampaikan konsep serta mengajukan bukti-bukti penelitian untuk menggambarkan, menerangkan, dan meramalkan keputusan-keputusan orang yang berkaitan dengan kesehatan.Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respon ini berbentuk dua macam, yakni: Bentuk pasif adalah respon internal, yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berfikir, tanggapan atau sikap batin, dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu, meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain adalah seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut keluarga berencana. Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya imunisasi, dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana, meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behavior). Bentuk aktif, yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh tersebut, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi, dan orang pada kasus kedua sudah ikut keluarga berencana dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata, maka disebut overt behavior.

2.3. SikapSikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Dari berbagai batasan tentang sikap dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.Dalam bagian lain Allport, menurut Notoatmodjo, menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yakni: Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek. Kecendrungan untuk bertindak.

Sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni: Menerima (Receiving) Subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek. Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya serta mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Lepas jawaban dan pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut. Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan terhadap suatu masalah. Bertangguang jawab (Responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya merupakan tingkat sikap yang paling tinggi.2.4.Konsep Dasar Imunisasi 2.4.1.Pengertian ImunisasiImunisasi merupakan suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu.

2.4.2.Kekebalan pada Tubuh 1) Kekebalan Aktif Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Kekebalan aktif dibagi dalam 2 kategori : Kekebalan aktif alamiah Merupakan kekebalan yang dibuat oleh tubuh anak dengan sendiri setelah mengalami atau sembuh dari suatu penyakit. Kekebalan aktif buatan Merupakan kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi).2) Kekebalan PasifKekebalan pasif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh anak tetapi tidak membuat zat anti bodi sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat pendek, sehingga proses cepat tetapi tidak bertahan lama. Kekebalan pasif dibagi dalam dua jenis : Kekebalan pasif alamiah Merupakan kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya. Kekebalan pasif buatan Merupakan kekebalan yang diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak.

2.4.3.Tujuan Pemberian Imunisasi Untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu Mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.

2.4.4.Jenis-jenis Imunisasi Vaksin BCG Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacilus Calmette Guerin) yang masih hidup.Pemberian imunisasi BCG sebenarnya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai berumur 12 bulan, tetapi sebaiknya pada umur 0 2 bulan. Imunisasi yang diberikan pada usia di atas 2 bulan harus dilakukan tes dengan mauntok terlebih dahulu, untuk mengetahui apakah anak sudah terjangkit penyakit TBC atau tidak. Apabila hasilnya positif (+) tidak perlu diberikan imunisasi. Biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam, bila ia demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan keadaan lain. Kekebalan yang diperoleh tindakan mutlak 100%. Efek samping pada dasarnya tidak ada, tetapi reaksi secara normal akan timbul selama 1 minggu, seperti pembengkakan kecil, merah pada tempat penyuntikan yang kemudian akan menjadi pus kecil dengan garis tengah 10 mm. Luka ini akan sembuh sendiri dan meninggalkan jaringan perut (scar) bergaris 3- 7 mm. Tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang berpenyakit TBC atau menunjukkan uji mantoux positif. Cara pemberian imunisasi adalah dengan tempat penyuntikan 1/3 bagian lengan kanan atas (inertio musculus deltoideus) dilakukan dengna suntikan di dalam kulit (intra cutan) dengan dosis 0,05 cc. Vaksin DPT (Difteria, Pertitis, Tetanus)Manfaat pemberian informasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus.Difteria adalah suatu penyakit yang bersifat toxin mediated disease dan disebabkan oleh kuman corynebacterivm dipteriae. Termasuk suatu hasil gram positif. Pada dasarnya semua komplikasi difteria, beratnya penyakit dan komplikasi biasanya tergantung dari luasnya kelainan lokal angka kematian difteria masih sangat tinggi dan kelompok usia di bawah lima tahun merupakan kelompok terbesar yang mengalami kematian. Pertusis atau batuk rejan atau batuk seratus hari adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri bordetella pertuses. Pertusis juga merupakan penyakit yang bersifat toxin-medicated dan toksin yang dihasilkan kuman (melekat pada bulu getar saluran nafas atas) akan melumpuhkan bulu getar tersebut sehingga menyebabkan gangguan aliran secret saluran pernafasan, dan berpotensi menyebabkan pneumonia. Tetanus adalah suatu penyakit akut yang besifat fatal yang disebabkan oleh oksitosin produksi kuman Clostridium tetanus, kuman tersebut berbentuk batang dan bersifat anaerobik, gram positif yang mampu menghasilkan spora dengan berbentuk drumstick, tetanus selain dapat ditemukan pada anak-anak juga dijumpai kasus tetanus neonatal yang cukup fatal. Komplikasi tetanus yang sering terjadi antara lain : laringospasme, infeksi nosokomial dan preumonia ortotastik. Pada anak besar sering terjadi hiperpireksi yang juga merupakan tanda tetanus berat. Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali, sejak bayi berumur 2 11 bulan dengan selang waktu antara dua penyuntikan minimal 4 minggu. Imunisasi ulang lainnya diberkan setelah umur 11/2 2 tahun. Diulang kembali dengan vaksin DT pada usia 5-6 tahun dan diulang lagi pada umur 10 tahun. Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri ditempat suntikan selama 1 2 hari. Kekebalan yang diperoleh dari vaksin DPT yaitu : vaksin dipteri 80 95%, pertusis 50 60%, dan tetanus 90 95%. Kadang-kadang terdapat akibat efek samping yang lebih berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh vaksin pertusisnya. Imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah dan anak-anak yang menderita penyakit kejang, demam kompleks, juga tidak boleh diberikan kepada anak batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunisasi). Juga tidak boleh diberikan bila sakit batuk, pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan bukan merupakan indikasi kontra yang mutlak. Pemberian tiga kali dengan dosis 0,5 cc dengan interval 4 minggu secara IM. Vaksin PoliomyelitisImunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis. Vaksin polio mempunyai 2 kemasan yaitu vaksin yang mengandung virus polio yang sudah dilemahkan (vaksin salk) dan vaksin yang mengandung virus polio masih hidup yang telah dilemahkan (virus sabin). Imunisasi diberikan sejak anak baru lahir atau beberapa hari dengan interval 4 minggu, pemberian ulangan pada umur 1 - 2 tahun. Biasanya tidak ada reaksi, namun dapat terjadi berak-berak ringan kekebalan yang akan diperoleh sebesar 95 100%. Pada imunisasi polio hampir tidak terdapat efek samping bila ada mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak pada penyakit polio sebenarnya. Pemberian vaksin polio tidak boleh diberikan pada anak dengan diare berat, anak sakit parah dan anak penderita kekebalan. Diberikan dengan cara diteteskan banyak 2 tetes 3 kali pemberian dengan selama 4 minggu. Vaksin Campak Imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Diberikan pada bayi umur 9 11 bulan dengan satu kali pemberian. Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi mungkin terjadi demam ringan dan tampak sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga. Pada hari ke 7 8 setelah penyuntikan mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan, pada tempat suntikan kekebalan yang memperoleh yaitu 96 99%. Sangat jarang mungkin dapat terjadi kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10 12 setelah penyuntikan. Selain itu dapat terjadi radang otak berupa ensefalitis atau ensepalopati dalam waktu 30 hari setelah imunisasi. Anak yang sakit parah, penderita TBC tanpa pengobatan, difisiensi gizi dalam derajat berat, difisiensi kekebalan, demam yang lebih 38 derajat celcius dan riwayat kejang. Di suntikkan 1/3 bagian lengan atas lengan kiri dengan dosis 0,5 cc.

Vaksin hepatitis B Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitisB.Vaksinasi awal, diberkan 3 kali, jarak antara suntikan 1 ke II 1 2 bulan, sedangkan suntikan ke III diberikan 6 bulan dari suntikan I, imunisasi ulang diberikan 5 tahun setelah imunisasi dasar. Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan, yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas atau pembengkakan, reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari. Reaksi lain yang mungkin terjadi ialah demam ringan. Kekebalan yang diperoleh cukup tinggi, berkisar antara 94 96%. Selama pemakaian 10 tahun ini tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti, berbagai suara di masyarakat tentang kemungkinan terjangkit oleh penyakit AIDS akibat pemberian vaksin hepatitis B yang berasal dari plasma.Imunisasi tidak dapat diberkan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis B dapat diberikan kepada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membayangkan janin. Bahkan akan memberkan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan terakhir lahir. Penyuntikan diberikan intra muscular, dilakukan di daerah deltoid atau paha antrolateral dengan dosis Hevac B dewasa 5mg, anak 2,5 mg, hepaccine deweasa 3 mg, anak 1,5 mg, anak 1,5 mg, B hepavac II dewasa 10 mg dan engerix-B dewasa 20 mg, anak 10 mg dan engerix-B dewasa 20 mg, anak 10 mg.

2.4.5. Jadwal Pemberian Imunisasi

2.5.Tujuan Program Imunisasi Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada saat ini penyakit-penyakit tersebut adalah difteri, tetanus, batuk rejan (pertusius), campak (measles), polio dan tuberkulose.

BAB IIIMETODE PENELITIAN

3.1. Desain PenelitianDesain penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional longitudinal mengenai Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pengasuh terhadap pembrian imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Limba B.

3.2. Lokasi dan WaktuPenelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas kecamatan limba B pada bulan Januari 2015.

3.3. Sumber DataDalam penelitian ini proses pengumpulan data dilakukan dengan cara pemberian kuesioner oleh peneliti kepada responden yang dijadikan sampel penelitian sesuai kriteria inklusi dan eksklusif. Sebelum melakukan pengumpulan data, penelitian meminta surat persetujuan penelitian kepada responden untuk dijadikan sampel penelitian, apabila responden setuju maka peneliti memberikan kuisioner.

3.4. Populasi Adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan di teliti.Berdasarkan pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa populasi adalah semua objek yang di amati dalam penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang mempunyai bayi dan balita. Dalam penelitian ini populasinya adalah 110 orang.

3.5. Kriteria Inklusi dan EksklusiKriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : Ibu yang mempunyai bayi dan balita berdomisili di wilayah puskesmas Limba B Ibu yang bersedia dilakukan penelitian Ibu yang bisa membaca dan menulis

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : Ibu yang tidak mau mengisi kuesioner Ibu yang tidak kooperatif dalam proses pengambilan data

3.6.SampelAdalah sebagian dari keseluruhan objek yang di teliti dan di anggap mewakili seluruh populasi (Arikunto,2006). Besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 110 orang. Metode pengambilan sampel adalah dengan cara non probability sampling yaitu consecutive sampling yang dilakukan bulan januari 2015 februari 2015.3.6.1. Besar SampelPerhitungan besar sampel berdasarkan rumus :

Keterangan : n1:Besar sampel P:Proporsi variabel yang ingin diteliti, yaitu prevalensi pasien Puskesmas Kelurahan Wijaya Kusuma. Karena proporsi sampel tidak diketahui, maka diambil proporsi terbesar yaitu 0,5.Q:1-PZ():Tingkat batas kepercayaan, dengan = 5 %Didapat Z() pada kurva normal = 1,96d2:Kesalahan yang dapat ditolerir (10%)n2:Jumlah sampel ditambah substitusi 10% (substitusi adalah persen responden yang mungkin drop out)

Maka didapatkan hasil perhitungan, Berdasarkan rumus di atas didapatkan angka sebagai berikut :

n2=n1 + (10% . n1)=96.04 + ( 10% . 96.04 )=96.04 + 9.604=105.644 Dibulatkan 106

3.5. Kriteria Inklusi dan EksklusiKriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : Ibu yang mempunyai bayi dan balita berdomisili di wilayah puskesmas Limba B Ibu yang bersedia dilakukan penelitian Ibu yang bisa membaca dan menulis Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : Ibu yang tidak mau mengisi kuesioner Ibu yang tidak kooperatif dalam proses pengambilan data

3.6. Identifikasi VariabelVariabel Dependent:Imunisasi dasar lengkapVariabel Independent:Pengetahuan sikap dan Perilaku

3.7. Definisi Operasional3.7.1. Penilaian tingkat pengetahuanPengetahuan didefinisikan sebagai kemampuan responden untuk menjawab secara benar 15 dari pertanyaaan terkait dengan informasi tentang imunisasi dasar. Untuk setiap pertanyaan benar, responden akan diberikan nilai 5, sedangkan bilah salah responden akan diberikan nilai 0. Pengetahuan Baik: Skor>80%, (100 x 80% > 80) Pengetahuan Sedang : Skor 60% - 80% (100 x (60% - 80%) = 60 80) Pengetahuan Kurang: Skor80

2Sedang60 79

3Kurang< 60

3.7.2. Penilaian SikapSikap didefinisikan sebagai kondisi perasaan dan pendirian, serta keyakinan responden terhadap imunisasi dasar. Untuk setiap pertanyaan yang benar diberikan nilai 20 dan yang salah diberikan nilai 0. Pengetahuan Baik: Skor>80%, (100 x 80% > 80) Pengetahuan Sedang : Skor 60% - 80% (100 x (60% - 80%) = 60 80) Pengetahuan Kurang: Skor80

2Sedang60 79

3Kurang< 60

3.7.3. Penilaian PerilakuPenilaian didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan responden atau pengalaman responden terhadap imunisasi dasar. Untuk setiap pertanyaan yang benar akan diberikan nilai 20 sedangkan jawaban yang salah akan diberikan nilai 0. Pengetahuan Baik: Skor>80%, (100 x 80% > 80) Pengetahuan Sedang : Skor 60% - 80% (100 x (60% - 80%) = 60 80) Pengetahuan Kurang: Skor80

2Sedang60 79

3Kurang< 60

BAB IVHASIL

4.1. Profil Komunitas UmumPuskesmas limba B diresmikan pada tanggal 15 Desember 1983, saat kota Gorontalo masi termasuk dalam wilayah provinsi Sulawesi utara. Setelah terjadi pemekaran wilayah, akhirnya Puskesmas Limba B menjadi salah satu dari 7 Puskesmas yang ada di kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.Puskesmas limba terletak di Kecamatan kota selatan, tepatnya di kelurahan Limba B. puskesmas Limba B melayani masyarakat khususnya diwilayah kecamatan kota selatan yang terdiri dari 10 kelurahan yaitu leurahan Limba U1, Limba U2, Limba B, Biawao, Biawu, Siendeng, Donggala, Tenda, Pohe, dan Tanjung Kramat. Pada bulan maret 2011 wilayah kerja Puskesmas Limba B dibagi menjadi kecamatan yaitu kecamatan kota selatan, dan kecamatan Hulontalangi. Setelah januari 2014, diresmikan sebuah puskesmas baru dikecamatan Hulontalangi untuk secara khusus melayani masyarakat yang berdomisili di kecamatan Hulontalangi.Visi puskesmas kecamatan limba B yaitu mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri, sedangkan misi puskesmas kecamatan Limba B: Meningkatkan pelayanan yang merata dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif. Meningkatkan pemberdayaan peran serta masyarakat melalui optimalisasi kelurahan siaga aktif. Meningkatkan pembiayaan kesehatan oleh masyarakat untuk mewujudkan jaminan kesehatan mandiri (JAMKESMAS).

4.2. Data geografis Luas wilayah yang dilayani oleh Puskesmas Limba B 14,93 km2, wilayah puskesmas Limba B berbatasan dengan: Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan kota Utara. Sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Tomini. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kota Barat dan kecamatan Dungingi. Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan kota Timur.

4.3. Hasil Penelitian4.3.1 Data Umum4.3.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Tabel : Distribusi responden berdasarkan umur Pengasuh di Puskesmas Limba B Kota Gorontalo. NoUmurFrekuensiPresentase

1< 20 tahun 1715,5 %

220-35 tahun 6256,4 %

3>35 tahun 3128,1 %

Jumlah 110100 %

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur 20 35 tahun ( 56,4% ) , sebagian kecil responden berumur 35 (28,1%).

Gambar 1. Diagram karakteristik usia responden4.3.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel : Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Pengasuh di Puskesmas Limba B Kota Gorontalo.No Pendidikan Frekuensi Presentase

1SD98,2%

2SMP3229%

3SMA5751,8%

4Diploma/Sarjana1211%

Jumlah110100%

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan menengah (51,8%), SMP (29%) Diploma/Sarjana (11%), SD (8,2%).

Gambar 2. Diagram karakteristik pendidikan responden.

4.3.1.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan Tabel : Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Pengasuh di Puskesmas Limba B Kota Gorontalo.NoPekerjaanFrekuensiPresentase

1Tidak Bekerja/IRT5751,9 %

2Pengemudi Bentor87,2%

3Wiraswasta /Swasta3027,2%

4PNS1513,7 %

Jumlah110100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan sebagian besar responden bekerja sebagai IRT (51,9%), sebagian lainnya bekerja sebagai Wiraswasta/Swasta (27,2%), PNS (13,7%), dan Pengemudi bentor (7,2%).

Gambar 3. Diagram karakteristik pekerjaan responden.

4.3.1.4. Karakteristik Responden berdasarkan jumlah anakTabel : Distribusi karakteristik responden berdasarkan jumlah anak di di Puskesmas Limba B Kota Gorontalo.NoJumlah anakJumlah PengasuhPresentase

111917,2 %

224238,1 %

333733,7%

4498,2%

5532,8 %

Jumlah110100 %

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki jumlah anak 2 (38,1%), sebagian responden lainnya memiliki jumlah anak 3 (33,7%), jumlah anak 1 (17,2%), jumlah anak 4 (8,2%), dan jumlah anak 5 (2,8%).

Gambar 4. Diagram karakteristik jumlah anak responden.

4.3.1.5. Karakteristik Responden yang pernah memperoleh informasi mengenai imunisasi dasarTabel :Distribusi responden yang memperoleh informasi mengenai imunisasi sebelumnya di Puskesmas Limba B Kota Gorontalo.NoMemperoleh InformasiFrekuensiPresentase

1Ya9788.1 %

2Tidak1311,9 %

Jumlah110100 %

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa responden yang pernah memperoleh informasi mengenai imunisasi sekitar 88,1% dan yang tidak pernah memperoleh informasi sekitar 11,9%.

Gambar 5. Diagram karakteristik responden yang memperoleh informasi.

4.3.2. Data Khusus4.3.2.1. Tabel PengetahuanTabel : Distribusi Tingkat Pengetahuan responden mengenai imunisasi dasar di Wilayah Puskesmas Limba B Kota Gorontalo.NoTingkat Pengetahuan Pengasuh tentang ImunisasiFrekuensiProsentase

1Kurang7164,5%

2Sedang2724,5%

3Baik1211%

Jumlah110100 %

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan: kurang 64,5%, Sedang 24,5%, Baik 11%.

Gambar 6. Diagram karakteristik pengetahuaan responden.

4.3.2.2. Tabel SikapTabel : Distribusi Sikap responden mengenai imunisasi dasar di Wilayah Puskesmas Limba B Kota Gorontalo.

NoSikap Pengasuh tentang ImunisasiFrekuensiPresentase

1Kurang00%

2Sedang00%

3Baik110100%

Jumlah110100 %

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa seluruh responden memiliki Sikap yang baik mengenai imunisasi dasar (100%)

Gambar 7. Diagram karakteristik sikap responden.

4.3.2.2. Tabel SikapTabel : Distribusi Perilaku responden mengenai imunisasi dasar di Wilayah Puskesmas Limba B Kota Gorontalo.

NoSikap Pengasuh tentang ImunisasiFrekuensiPresentase

1Kurang00%

2Sedang00%

3Baik110100%

Jumlah110100 %

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa seluruh responden memiliki Perilaku yang baik mengenai imunisasi dasar (100%).

Gambar 7. Diagram karakteristik perilaku responden.

BAB VPEMBAHASAN

Seperti yang telah dijabarkan dalam bab tinjauan pustaka bahwa angka kematian bayi dan balita di Indonesia masih sangat tinggi. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian bayi (AKB) di Indonesia yaitu 35 bayi per 1000 kelahiran, sedangkan angka kematian balita (AKABA), yaitu 46 dari 1000 balita meninggal setiap tahunnya (Candra Syafei, 2008). Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, diperkirakan 1,7 juta kematian anak di Indonesia atau 5% balita di Indonesia adalah akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Departemen Kesehatan RI, 2007).Dalam lingkup pelayanan kesehatan, bidang preventif merupakan prioritas utama. Dalam melaksanakan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita (I.G.N.Ranuh, 2008).Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi status imunisasi pada bayi seperti faktor karakteristik ibu yang mempengaruhi pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu akan pentingnya program imunisasi, faktor jarak rumah ke tempat pelayanan imunisasi, atau faktor keterlambatan dropping vaksin. Kendala utama untuk keberhasilan program imunisasi bayi yaitu rendahnya kesadaran ibu bayi yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan, dan peran ibu dalam menyukseskan program imunisasi dinilai masih kurang. Masih banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat dan tidak sedikit orang tua dan kalangan praktisi tertentu khawatir terhadap risiko dari beberapa vaksin. Dalam hal ini peran orang tua, khususnya ibu menjadi sangat penting, karena orang terdekat dengan bayi dan yang terutama mengurus bayi adalah ibu. Dengan pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu yang baik akan mempengaruhi kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada bayi, sehingga dapat mempengaruhi status imunisasinya (Muhammad Ali, 2008).Pada penelitian ini didapatkan hasil yaitu: bahwa umur sebagian besar responden (pengasuh) berumur 20 35 tahun ( 56,4% ) , sebagian kecil responden berumur 35 (28,1%). Pendidikan: SMA (51,8%), SMP (29%) Diploma/Sarjana (11%), SD (8,2%). Pekerjaan: IRT (51,9%), sebagian lainnya bekerja sebagai Wiraswasta/Swasta (27,2%), PNS (13,7%), dan Pengemudi bentor (7,2%). Jumlah anak: 2 (38,1%), sebagian responden lainnya memiliki jumlah anak 3 (33,7%), jumlah anak 1 (17,2%), jumlah anak 4 (8,2%), dan jumlah anak 5 (2,8%). Yang pernah memperoleh informasi mengenai imunisasi sekitar 88,1% dan yang tidak pernah memperoleh informasi sekitar 11,9%. Tingkat pengetahuan: kurang 64,5%, Sedang 24,5%, Baik 11%. Responden memiliki Sikap yang baik mengenai imunisasi dasar (100%) Responden memiliki Prilaku yang baik mengenai imunisasi dasar (100%)

Imunisasi yang dilakukan dengan memberikan vaksin tertentu akan melindungi anak terhadap penyakit-penyakit tertentu. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap. (Maulana, 2009).Upaya imunisasi di Indonesia yang telah dilakukan sejak tahun 70-an pada bayi atau anak, merupakan program untuk memenuhi Konvensi Hak Anak yang diberlakukan sejak 2 september 1990 oleh PBB. Konvensi Hak Anak meliputi hak atas kelangsungan hidup (survival), hak untuk berkembang (development), hak atas perlindungan (protection) dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat (participation). Maka sebagai upaya nyata, pemerintah bersama orangtua mempunyai kewajiban memberikan upaya kesehatan terbaik demi tumbuh kembang anak, dan imunisasi merupakan upaya pencegahan yang efektif terhadap penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan (Ranuh dkk, 2011).Pada penelitian didapatkan masi rendahnya pengetahuan pengasuh mengenai imunisasi dasar dikarenakan banyaknya pengasuh yang belum memahami akan informasi tentang imunisasi dasar lengkap yang telah diberikan oleh petugas kesehatan puskesmas. Pemicu dari kurangnya pemahaman masyarakat mengenai imunisasi dasar lengkap dikarenakan pendidikan pengasuh yang rata-rata adalah lulusan SMA dan hanya sebagian yang melanjutkan sampai ke perguruan tinggi. Dari segi pekerjaan juga bisa mempengaruhi kurangnya pemahama informasi mengenai imunisasi dasar lengkap, rata-rata pekerjaan pengasuh adalah sebbagai Ibu Rumah Tangga (Tidak Bekerja). Akibat dari beberapa faktor tersebut mengakibatkan kurangnya pemahaman pengetahuan pengasuh mengenai imunisasi dasar lengkap.Mengenai sikap dari responden terhadap imunisasi dasar, didapatkan bahwa 100% responden memiliki sikap yang baik terhadap pemberian imunisasi dasar lengkap pada anak. Dalam kuesioner penelitian ini sikap diartikan sebagai pandangan dan langkah yang akan diambil oleh responden mengenai imunisasi dasar lengkap. Disimpulkan bahwa responden memiliki pandangan yang baik terkait imunisasi dasar ini, mereka setuju dengan adanya program imunisasi dasar ini dan yakin bahwa imunisasi dasar dapat mencegah terjadinya penyakit seperti TBC, Hepatitis B, Difteri, Polio dan Campak. Sikap dari para respnden juga tidak merasa takut jika anak diimunisasi dan mereka juga merasa perlu di adakan imunisasi untuk anak dan juga para responden siap membawa anak untuk dilakukan imunisasi walaupun dengan jarak yang jauh.Mengenai perilaku respoden terhadap pemberian imunisasi dasar lengkap juga didapatkan angka 100%. Dalam poin perilaku ini diartikan atau menitik beratkan pada pengalaman atau tindakan yang bisa dilakukan oleh responden. Disimpulkan bahwa responden memiliki perilaku yang baik terhadap pemberian imunsasi pada anak dikarenakan semua anak dari pengasuh telah dilakukan imunisasi, responden juga ingin menambah pengetahuan mengenai imunisasi dasar, responden rutin membawah anak untuk imunisasi sesuai dengan jadwal dan responde juga tidak segan mengingatkan pengasuh yang lain untuk melakukan imunisasi dasar lengkap.

BAB VIKESIMPULAN6.1 KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku Pengasuh bayi terhadap imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Limba B, Kota Gorontalo, didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Tingkat pengetahuan pengasuh terhadap imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Limba B tergolong kurang. 2. Tingkat sikap pengasuh terhadap imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Limba B tergolong baik. 3. Tingkat perilaku pengasuh terhadap imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Limba B tergolong baik.

6.2 SaranWalaupun sikap, dan perilaku pengasuh terhadap imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Limba B, Kota Gorontalo tergolong baik yang mencapai angka 100%, akan tetapi dari segi pengetahuan pengasuh terhadap imunisasi dasar lengkap masih kurang dikarenakan presentase pengasuh mencapai 64,5%, sedang/cukup 24,5% sedangkan yang mempunyai pengetahuan baik hanya mencapai angka 11%. Saran yang dapat penulis berikan adalah: Mempersering kegiatan penyuluhan tentang program imunisasi dasar lengkap. Meningkatkan peran kader kesehatan dalam melakukan penyuluhan program imunisasi dasar lengkap dan mengajak pengasuh untuk ikut serta dalam program imunisasi dasar lengkap sehingga dapat dicapai cakupan imunisasi hingga 100%. Memberikan penyuluhan dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga pngasuh menyadari pentingnya anak untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Mengadakan program imunisasi dasar lengkap di tempat yang mudah dijangkau oleh pengasuh yang akan mengikuti program imunisasi dasar lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sri Rezeki S Hadinegoro. 2008. Vaksin kombinasi. Dalam I.G.N. Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, Cissy B. Kartasasmita, Ismoedijanto, Soedjatmiko: Pedoman imunisasi di indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.2. Boerhan Hidayat, Purnamawati S Pujiarto. 2008. Hepatitis B. Dalam I.G.N. Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, Cissy B. Kartasasmita, Ismoedijanto, Soedjatmiko: Pedoman imunisasi di indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.3. Corry S Matondang, Sjawitri P Siregar. 2008. Aspek imunologi imunisasi. Dalam I.G.N. Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, Cissy B. Kartasasmita, Ismoedijanto, Soedjatmiko: Pedoman imunisasi di indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.4. Hariyono Suyitno. 2008. Poliomielitis. Dalam I.G.N. Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, Cissy B. Kartasasmita, Ismoedijanto, Soedjatmiko: Pedoman imunisasi di indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.5. Soekidjo Notoatmodjo. 2007. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. 133-149.6. Soekidjo Notoatmodjo. 2007. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. 133-149.7. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Pertemuan Kepala Puskesmas Kota Surabaya. Htm8. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2008. Jadwal imunisasi untuk bayi di puskesmas dan posyandu. http://www.idai.or.id/imunisasi.asp. 8 Maret 2009.9. Muhammad Ali. 2008. Pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu bekerja dan ibu tidak bekerja tentang imunisasi. http://library.usu.ac.id/download/fk/anakmuhammad.pdf. 11 Desember 2008.10. Sri Rezeki S Hadinegoro. 2008. Jadwal Imunisasi. Dalam I.G.N. Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, Cissy B. Kartasasmita, Ismoedijanto, Soedjatmiko: Pedoman imunisasi di indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia

LAMPIRAN

LEMBAR PERNYATAAN DAN PERSETUJUAN

Saya yang bertandatangan dibawah ini:Nama :Alamat :Dengan ini menyatakan persetujuan saya untuk berpartisipasi dalam penelitian yang berjudul Pengetahuan, Sikap dan Perilaku pengasuh terhadap pemberian imunisasi dasar lengkap pada anak di wilayah kerja Puskesmas Limba B Kota Gorontaloini. Data data yang saya berikan adalah data yang sebenar bensarnya dan sejujur jujurnya dan pihak yang bersangkutan di Puskesmas Kecematan Limba B sebagai penyelenggara penelitian dapat menggunakan data yang saya berikan untuk kepentingan penelitian ini.

Gorontalo, Januari 2015

(..)

KUESIONER PENELITIANPENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENGASUH TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBA B KOTA GORONTALO---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------A. IDENTITAS RESPONDENPetunjuk pengisian: berikut merupakan identitas pribadi responden. Isilah kolom yang tersedia dengan data-data yang sebenar-benarnya.1. Nama:2. Umur:3. Alamat:4. Pendidikan terakhir: Tidak sekolah SD SMP SMA Perguruan tinggi (Diploma / S1, S2, S3)5. Pekerjaan:6. Penghasilan perbulan:7. Pekerjaan suami: 8. Jumlah anak dalam keluarga:9. Pernah mendapatkan informasi tentang imunisasi dasar Ya Tidak10. Jika Ya. Dimana mendapatkan sumber informasi tersebut TV Majalah / Koran Keluarga / Kerabat / Teman Petugas kesehatan.

B. DAFTAR PERTANYAANPetunjuk pengisian: berikut merupakan pertanyaan seputar pengetahuan, sikap dan perilaku responden. Berikanlah tanda silang (X) pada pilihan jawaban yang menurut anda paling benar.

A. ASPEK PENGETAHUAN TERHADAP IMUNISASI DASAR. 1. Menurut ibu apakah pengertian imnisasi itu?a. Suatu upaya untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit.b. Suatu upaya untuk menyembuhkan penyakit.c. Upaya untuk bebas dari kuman.d. Pemberian makanan tambahan.2. Menurut ibu penyakit apa saja yang dapat dicegah dengan imunisasi?a. Polio, campak, hepatitis B, TBC, dift eri, tetanus, dan pertusisb. DBD, malaria, dan tipusc. Imunoglobulind. Malnutrisi3. Menurut ibu apakah manfaat dari imunisasi?a. Sebagai pencegahan terhadap penyakitb. Sebagai pengobatan penyakit degeneratifc. Supaya menambah nafsu makan pada anakd. Tidak tahu4. Menurut ibu sejak umur berapa bayi boleh diimunisasi?a. Sejak umur 0 bulanb. Sejak umur > 1 tahunc. 2 tahund. 5 tahun5. Apakah ibu, mengetahui jenis imunisasi apa yang harus diberikan kepadabayi baru lahir?a. DPTb. HB 0c. Campakd. Polio6. Menurut ibu, berapa kali imunisasi Hepatitis B diberikan?a. 1 kalib. 2 kalic. 3 kalid. 4 kali7. Menurut ibu, imunisasi apa yang digunakan untuk mencegah penyakit Hepatitis B?a. Hepatitis Bb. BCGc. Campakd. Polio8. Bagaimana cara pmberian imunisasi Hepatitis B?a. Suntikb. Tetesc. Diminumd. Tidak tahu9. Menurut ibu, berapa kali bayi harus diberi imunisasi campak?a. 1 kalib. 2 kalic. 3 kalid. 4 kali10. Menurut ibu imunisasi campak untuk mencegah penyakit apa?a. DPTb. BCGc. Campakd. Polio11. Apakah ibu mengetahui, bagaimana cara pemberian imunisasi campak?a. Ditetesb. Disuntikc. Diminumd. Tidak tahu12. Apakah ibu mengetahui, umur berapa bayi harus diberi imunisasi campak?a. 07 harib. 2 bulanc. 5 buland. 911 bulan13. Apakah ibu mengetahui, berapa kali bayi diberi imunisasi BCG?a. 1 kalib. 2 kalic. 3 kalid. 4 kali14. Menurut ibu imunisasi BCG untuk mencegah penyakit apa?a. TBCb. Tipusc. Campakd. Polio15. Apakah ibu mengetahui, berapa kali bayi diberi imunisasi DPT?a. 1 kalib. 2 kalic. 3 kalid. 4 kali16. Menurut ibu imunisasi DPT untuk mencegah penyakit apa?a. TBCb. Tipusc. Dift eri, tetanus, pertusisd. Polio17. Apakah ibu mengetahui, berapa kali bayi diberi imunisasi polio?a. 1 kalib. 2 kalic. 3 kalid. 4 kali18. Menurut ibu imunisasi polio untuk mencegah penyakit apa?a. TBCb. Tipusc. campakd. Polio19. Menurut ibu, bagaimana cara pemberian imunisasi Polio?a. Disuntikb. Ditetesc. Diminumd. Tidak tahu20. Menurut ibu, imunisasi apa yang diberikan terakhir kali?a. DPTb. BCGc. campakd. Polio

B. SIKAP RESPONDEN TERHADAP IMUNISASI DASAR1. Apakah pengasuh setuju dengan adanya program imunisasi dasa rlengkap?a. Setujub. Tidaksetuju2. Apakah pengasuh yakin bahwa imunisasi dasar lengkap dapat mecegah penyakit TBC, Hepatitis B, Difteri, Polio, dan Campak?a. Yakinb. Tidak yakin3. Apakah pengasuh takut bila anak ibu diimunisasi?a. Takutb. Tidak takutBila takut mengapa?c. Takut anaknya menjadi demamd. Takut anaknya menjadi kejange. Takut anaknya menjadi lumpuh

4. Menurut pengasuh perlukah imunisasi dasar lengkap diberikan?a. Perlub. Tidakperlu

5. Apakah pengasuh akan tetap turut serta mengikuti program imunisasi dasar lengkap walaupun jarak ke Puskesmas/Posyandu jauh?a. Yab. Tidak

C. PERILAKU RESPONDEN TERHADAP IMUNISASI DASAR.1. Sudahkah anak diimunisasi dasar?a. Sudahb. Belum selesaiBila belum, mengapa?c. Tidak ada biayad. Karena merasa anak tidak perlu diimunisasie. Takut anak menjadi sakit2. Apakah pengasuh mau menambah pengetahuan tentang imunisasi dasa rlengkap?a. Yab. Tidak3. Seberapa rutin pengasuhan membawa anak untuk di beri imunisasi dasar lengkap?a. Sesuai anjuranb. Tidak sesuai anjuran4. Pernahkah anak dibawa untuk imunisasi ketika sedang sakit?a. Pernahb. Tidak5. Bagaimana tindakan pengasuh pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap?a. Mengajak orang tuanya agar anak tersebut diimunisasib. Menyarankan tidak perlu imunisasi bila tidak sakitc. Tidak berbuat apa-apa

1

Keterangan : BCG diberikan pada umur 0 1 bulanHepatitis B diberikan pada umur 0-6 bulan DPT diberikan pada umur 2 6 bulanPolio diberikan pada umur 0 6 bulanCampak diberikan pada umur 9 bulan