BAB I-V upkp

Embed Size (px)

Citation preview

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Bagi kebanyakan siswa Indonesia, baik yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai B1 maupun yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai B2, belajar menulis merupakan sesuatu yang sulit selama ini. Sedangkan dalam dunia pendidikan, kita sering melihat bahwa tidak semua siswa pandai untuk menulis, baik itu karangan fiksi maupun nonfiksi. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan. Ini dimungkinkan karena mereka menganggap bahwa kemampuan menulis tidak begitu berharga dalam kehidupan nyata. Atau arti kasarnya, mereka tidak bisa dapat uang dari menulis. Sehingga dengan seperti itu tuntutan untuk memperdalam kemampuan itu hanya sebatas memenuhi nilai akademis saja (I Made Sutama, 1998: 1). Pada dasarnya, apabila kita melihat lebih jauh, kemahiran dalam menulis sangat diperlukan dalam kehidupan nyata. Misalnya untuk menulis surat, menulis iklan, mengekspresikan diri dalam bentuk puisi, lirik lagu, atau menulis surat lamaran kerja. Selain masih banyak aktivitas dalam kehidupan nyata yang mengharuskan kita untuk menguasai kemampuan menulis. Adapun kesulitan-kesulitan yang menjadi kendala bagi seorang siswa dalam menulis sebuah karangan, antara lain: pertama, penjelasan teoritis guru. Sementara ini, guru pada umumnya mengawali pembelajaran menulis dengan

1

penjelasan teoritis tentang tulisan yang baik. Penjelasan itu biasanya penuh dengan istilah-istilah teknis, baik yang berkaitan dengan jenis-jenis wacana, seperti naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif, maupun yang berkaitan dengan organisasi wacana, seperti ide pokok, ide penunjang, kesatuan, kepaduan. Cara ini ternyata tidak mampu memberikan pemahaman yang memadai kepada siswa tentang tulisan yang baik. Disamping itu, cara ini juga menciptakan ketakutan tersendiri pada diri siswa ketika mereka menulis. Mereka takut kalau tulisan yang mereka hasilkan tidak sesuai dengan yang diidealkan dalam penjelasan guru. Akibatnya, mereka menjadi sangat hati-hati dalam menulis, sehingga produktivitas berbahasanya menjadi rendah. Kedua, cara guru memberikan topik tulisan. Guru biasanya menempuh salah satu dari cara-cara berikut ini dalam memberikan topik tulisan kepada siswa, yaitu: (a) menetapkan satu topik untuk ditulis oleh semua siswa, (b) menetapkan beberapa topik untuk dipilih salah satu untuk dikembangkan oleh siswa, dan (c) membebaskan siswa memilih topik apa saja untuk dikembangkan. Cara (a), terutama, dan cara (b) memiliki resiko sebagian kecil atau sebagian besar, bahkan semua siswa tidak mempuanyai pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan topik yang disediakan. Cara (c) terkesan memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan topik yang paling mereka kuasai. Akan tetapi, karena dalam penerapannya tidak disertai waktu dan strategi khusus untuk menggali pengetahuan yang berkaitan dengan topik itu dari dalam pikiran siswa, dengan cara (c) itu pun ada resikonya, yakni siswa tidak dapat secara optimal menuangkan sesuatu yang sesungguhnya telah ada dalam benaknya (I Made

Sutama, 1998: 1). Agar mereka tidak frustasi dalam belajar menulis, perlu dipikirkan cara yang dapat memudahkan mereka menghasilkan tulisan. Untuk dapat

menghasilkan sebuah tulisan, tiga hal utama diperlukan, yaitu: penguasaan topik yang akan ditulis, penguasaan struktur tulisan, dan penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, cerpen, makalah, dan sebagainya. Oleh karena itu, ketiganya perlu ditumbuhkan dalam pikiran siswa sebelum mereka mulai menulis (pramenulis). Penumbuhannya dapat dilakukan melalui pemetaan konsep/topik (model jaring laba-

laba/webbed). Seorang siswa/siswi tidak akan mungkin terampil menulis sebuah karangan hanya menguasai satu atau dua komponen saja di antara ketiga komponen tersebut. Betapa banyak siswa yang pandai berbahasa Indonesia secara tertulis tidak dapat menghasilkan tulisan/karangan karena tidak tahu apa yang akan ditulis dan bagaimana menuliskannya. Betapa banyak pula siswa yang mengetahui banyak hal untuk ditulis dan tahu pula menggunakan bahasa tulis tetapi tidak dapat menulis karena tidak tahu caranya. Menulis bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seorang terampil dalam bidang tulis-menulis sebuah karangan

3

Tidak ada waktu yang tidak tepat untuk memulai menulis. Artinya, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi yang bagaimana pun seorang siswa yang belajar bahasa Indonesia pun dapat melakukannya. Ketakutan akan kegagalan bukanlah penyebab yang harus dipertahankan. Itulah salah satu kiat, teknik, dan strategi yang ditawarkan oleh David Nunan (1991: 8690) dalam bukunya Language Teaching Methodology. Dia menawarkan suatu konsep pengembangan keterampilan menulis yang meliputi: (1) perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan, (2) menulis sebagai suatu proses dan menulis sebagai suatu produk, (3) struktur generik wacana tulis, (4) perbedaan antara penulis terampil dan penulis yang tidak terampil, dan (5) penerapan keterampilan menulis dalam proses pembelajaran. Pertama, perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan tampak pada fungsi dan karakteristik yang dimiliki oleh keduanya. Namun demikian, yang patut diperhatikan adalah keduanya harus memiliki fungsi komunikasi. Dari sudut pandang inilah dapat diketahui sejauh mana hubungan antara bahasa lisan dan bahasa tulis, sehingga dapat diaplikasikan dalam kegiatan komunikasi. Dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa tadi, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh dan lebih mendalam. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa Indonesia, orang Indonesia kadang-kadang tidak terampil menggunakan bahasanya sendiri terutama dalam bidang tulis-menulis. Hal ini merupakan suatu kelemahan yang

tidak kita sadari. Kedua, pandangan bahwa keterampilan menulis sebagai suatu proses dan menulis sebagai suatu produk. Pendekatan yang berorientasi pada proses lebih memfokuskan pada aktivitas belajar (proses menulis); sedangkan pendekatan yang berorientasi pada produk lebih memfokuskan pada hasil belajar menulis yaitu wujud tulisan. Ketiga, struktur generik wacana dari masing-masing jenis karangan (tulisan) tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Hanya saja pada jenis karangan narasi menunjukkan struktur yang lengkap, meliputi orientasi, komplikasi, dan resolusi. Hal ini menjadi ciri khas jenis karangan/tulisan ini. Keempat, untuk menambah wawasan tentang keterampilan menulis, setiap penulis perlu mengetahui penulis yang terampil dan penulis yang tidak terampil. Tujuannya adalah agar dapat mengikuti jalan pikiran (penalaran) dari keduanya. Kita dapat mengetahui kesulitan yang dialami penulis yang tidak terampil (baca: pemula, awal). Salah satu kesulitan yang dihadapinya adalah ia kurang mampu mengantisipasi masalah yang ada pada pembaca. Adapun penulis terampil, ia mampu mengatakan masalah tersebut atau masalah lainnya, yaitu masalah yang berkenaan dengan proses menulis itu sendiri. Kelima, sekurang-kurangnya ada tiga proses menulis yang ditawarkan oleh David Nunan, yakni: (1) tahap prapenulisan, (2) tahap penulisan, dan (3) tahap perbaikan. Untuk menerapkan ketiga tahap menulis tersebut diperlukan keterampilan memadukan antara proses dan produk menulis. Menulis pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang produktif dan

5

ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan,

menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para siswa yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan kata, dan struktur kalimat (McCrimmon, 1967: 122). Sehubungan dengan hal itu, penelitian ini berupaya untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru dengan menggunakan model jaring laba-laba (webbed). Adapun alasan yang melatarbelakangi penentuannya. Pertama, seperti yang telah diungkapkan di depan bahwa kegiatan menulis sangat diperlukan di dalam kehidupan nyata. Kedua, kemampuan menulis di dalam KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) bahasa dan sastra Indonesia mendapat kapling yang cukup banyak dibandingkan dengan kompeternsi yang lain. Ketiga, dalam kegiatan pembelajaran menulis kebanyakan guru hanya memberikan pemahaman secara teknis dan teoritis. Keempat, kurangnya kepaduan isi dalam menulis karangan. Hal lain yang perlu mendapat perhatian serius dari pembelajaran keterampilan menulis karangan ini adalah pengukuran kemampuan menulis yang pada saat ini di sekolah dasar mulai dikembangkan. Hal ini terbukti dengan dilaksanakannya tes menulis berbagai macam karangan dalam bahasa dan sastra

Indonesia sebagai salah satu output dari kegiatan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Lebih lanjut menurut guru MI. Assasul Muttaqin

Pakondang Kecamatan Rubaru pengukuran kemampuan menulis, terlebih menulis karangan yang terpadu jarang dilakukan. Berdasarkan hal itu, perlulah dikembangkan proses pembelajaran yang mengacu kepada pembelajaran keterampilan menulis karangan, di samping itu tentu saja kemampuan menulis karangan secara terpadu pada siswa. Dalam penelitian ini implikasinya dilakukan di kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru dengan menggunakan model jaring laba-laba (webbed). Pokok bahasan masalah yang dijadikan sebagai bahan penelitian ini

adalah aktivitas menulis yang diawali dengan tahap pramenulis yakni proses tanya jawab. Pemetaan konsep/topik dengan menggunakan model jaring labalaba dari hasil tanya jawab/interaksi antara guru dengan siswa, keseriusan siswa dalam menulis karangan dan hasil akhir (output) yang ditulis oleh siswa. Prosedur kerja dari masalah keterampilan menulis ini tidak terlepas dari alur kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan pada setiap siklus sebagai reaksi dari refleksi dan tindakan. Untuk itu, upaya yang harus dilakukan dalam peningkatan keterampilan menulis karangan pada siswa adalah dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

B. Tugas Pokok dan Fungsi Satuan Kerja 1. Tugas Pokok Guru

7

Sesuai dengan UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 35 ayat 1 bahwa beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,

membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Tugas tambahan yang dimaksud pada ayat 1 tersebut adalah tugas yang dilaksanakan oleh seorang guru yang telah lulus sertifikasi di luar beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika. Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri. Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh

bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN. Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal. Peran Guru WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah

9

laku sosial anak. Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Tugas pokok guru kelas pada MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru adalah sebagai tenaga pendidik yang mampu untuk menyampaikan/mentransformasikan segala keilmuannya kepada para peserta didik. Selain itu, guru bertugas untuk melaksanakan pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, guru harus selalu membuat sebuah rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran serta silabus yang sesuai dengan

kurikulum yang berlaku. Tugas berikutnya yang tidak boleh dilupakan oleh setiap guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas adalah menguasai materi/bahan yang akan diajarkan, menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa Berdasarkan latar belakang masalah di atas, guru di MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru pada umumnya dan pada khususnya guru bidang studi bahasa Indonesia perlu memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik perkembangan anak didik, seperti dalam karya tulis ini yang menerapkan metode pembelajaran terpadu/tematik dengan model jaring laba-laba yang sangat menarik untuk diterapkan dalam meningkatkan kualitas menulis karangan pada siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia.

2. Fungsi Satuan Kerja/Sekolah Sekolah/Madrasah merupakan sebuah lembaga yang didirikan oleh pemerintah maupun yayasan yang dapat digunakan sesuai dengan tujuan dan fungsi tertentu yang telah ditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku. Adapun fungsi dari sekolah/madrasah antara lain: a. Sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran antara guru dengan siswa. b. Sebagai tempat untuk menampung siswa yang ingin memperoleh pendidikan yang layak dan diakui oleh pemerintah maupun masyarakat.

11

c. Tempat belajar siswa, sarana berkomunikasi/interaksi dengan orang lain (guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa). d. Sebagai tempat pendidikan yang kedua setelah pendidikan di rumah tangga. e. Tempat untuk mengembangkan segala kreatifitas dan kompetensi yang dimiliki oleh guru dan siswa.

C. Rumusan/Pokok Permasalahan Karena maksud utama penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru yang realisasinya melalui siswa, masalah umum penelitian ini mengenai peningkatan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru melalui model jaring laba-laba (webbed). Berkaitan dengan hal itu, masalah khusus penelitian ini sebagai berikut. 1) Bagaimanakah aktivitas (sikap dan perilaku) siswa dalam mengikuti proses kegiatan pembelajaran keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru melalui model jaring laba-laba? 2) Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru dalam pembelajaran menulis karangan melalui model jaring laba-laba? D. Sistematika Penulisan a. Definisi Operasional

Penelitian ini menetapkan judul Upaya Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Pada Siswa Kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Melalui Model Jaring Laba-laba (Webbed). Dalam hal ini, terdapat istilah kunci dalam judul penelitian tersebut yang perlu didefinisikan secara operasional. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya penafsiran yang berlainan sebagaimana yang diharapkan dalam penelitian ini. Adapun istilah kunci yang dimaksudkan sebagaimana terungkap dalam pembahasan berikut ini. 1. Peningkatan Istilah ini mengacu kepada upaya melakukan perubahan sikap, sifat, dan tingkah laku dalam pembelajaran, terutama pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990:951) disebutkan istilah peningkatan adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan (usaha, kegiatan). 2. Keterampilan Menulis Istilah keterampilan mengacu kepada kecakapan untuk menyelesaikan tugas (Depdikbud, 1987:935). Dalam hal ini keterampilan menulis menurut Rusyana (1988:191) menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-pola bahasa secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan. Menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca (Tarigan, 1986:21). Dalam hal ini The Liang Gie (2002: 3) mengemukakan bahwa: 1) Mengarang adalah segenap perwujudan kegiatan seseorang

13

mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami. 2) Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca. 3) Pengarang adalah seseorang yang karena kegemarannya atau berdasarkan mengarang. 4) Karang-mengarang mengarang. 3. Model Jaring Laba-laba (Webbed) Model jaring laba-laba (webbed) merupakan salah satu model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu, kemudian mengembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidang-bidang studi. Dan sub-sub tema tersebut dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa (Tim BP3GSD, 1996: 14). adalah kegiatan atau pekerjaan bidang kerjanya melakukan kegiatan

BAB II FAKTA DAN MASALAH

A. Keadaan Sekarang Sesuai dengan latar belakang yang ada, kondisi/keadaan MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru yang sekarang masih terdapat beberapa kekurangan, baik dalam hal sarana pembelajaran, kondisi fisik sekolah dan guru. Dalam hal pembelajaran di dalam kelas masih banyak dijumpai tentang penerapan metode pembelajaran yang tidak disesuaikan dengan situasi dan kondisi/karakteristik perkembangan anak didik. Hal ini terbukti dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada khususnya, yakni dalam aspek

menulis/mengarang yang masih banyak mengalami kesulitan, ini diakibatkan karena adanya kesalahan dalam penerapan metode pembelajaran bahasa Indonesia oleh guru yang bersangkutan. Selain itu, pendidikan yang dimiliki oleh beberapa guru yang mengajar di MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep masih rendah, sehingga hal ini mengakibatkan terjadinya penerapan-penerapan metode yang tidak sesuai, terutama dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang menulis karangan. Umumnya siswa-siswi di MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru memiliki karakteristik yang sama terhadap perlakuan dan pemberdayaan proses pembelajara bahasa Indonesia. Sedangkan kemampuan dalam bidang bahasa Indonesia masing-masing siswa tidak sama, hal ini dapat diketahui dari

15

hasil belajar siswa pada waktu masih duduk di kelas V. Ditinjau dari status sosial ekonomi dan kondisi geografis sekolah adalah sebagai berikut. Pertama, penghidupan orang tua siswa adalah petani dan pedagang dengan penghasilan yang masih sangat minim. Kondisi sosial dalam kehidupan mereka stabil, terjalin hubungan yang harmonis. Kedua, kondisi sekolah yang berada di lokasi perbukitan dan sangat terpencil, serta sangat jauh dari pusat kota sehingga masyarakat di desa Pakondang sangat kurang sekali dalam hal memperoleh informasi yang terkini. Hal ini dapat mempengaruhi dalam proses belajar mengajar yang tercipta di MI.Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep. Sebagai bagian dari kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas berpikir. Keduanya saling melengkapi. Sehubungan dengan itu, Costa (1985:103) mengemukakan bahwa menulis dan berpikir merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara bersamaan dan berulang-ulang. Tulisan adalah wadah yang sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya. Dan, melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis. Mengemukakan gagasan secara tertulis tidaklah mudah. Di samping dituntut kemampuan berpikir yang memadai, juga dituntut berbagai aspek terkait lainnya. Misalnya penguasaan materi tulisan, pengetahuan bahasa tulis, motivasi yang kuat, dan lain-lain. Sehubungan dengan hal itu, paling tidak menurut Harris (1977:68) seorang penulis harus menguasai lima komponen tulisan, yaitu: isi (materi) tulisan, organisasi tulisan, kebahasaan (kaidah bahasa tulis), gaya

penulisan, dan mekanisme tulisan. Kegagalan dalam salah satu komponen dapat mengakibatkan gangguan dalam menuangkan ide secara tertulis. Mengacu kepada pemikiran di atas, jelaslah bahwa menulis bukan hanya sekedar menuliskan apa yang diucapkan (membahasatuliskan bahasa lisan), tetapi merupakan suatu kegiatan yang terorganisir sedemikian rupa sehingga terjadi suatu tindak komunikasi (antara penulis dengan pembaca). Bila apa yang dimaksudkan oleh penulis sama dengan yang dimaksudkan oleh pembaca, maka seseorang dapat dikatakan telah terampil menulis.

B. Keadaan yang diinginkan Setelah mengetahui secara rinci dan jelas tentang keadaan/kondisi lembaga MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep, baik dari segi geografis maupun dari segi tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di lembaga tersebut, maka ada beberapa keinginan yang menjadi harapan agar kondisi lembaga MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep menjadi lebih baik, antara lain: 1. Peningkatan kualitas/kualifikasi pendidikan yang dimiliki tenaga pendidik dan kependidikan serta tenaga administrasi pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini menjadi tumpuan dan harapan yang sangat penting demi terwujudnya kualitas pendidikan di MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep. 2. Peningkatan kesejahteraan guru dengan pemberian honor yang layak. 3. Penyediaan sarana dan prasarana (pengadaan buku pelajaran, media/alat peraga)

17

di lembaga MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep yang memadai demi terciptanya kegiatan pembelajaran yang kondusif. 4. Meningkatnya kualitas siswa dengan banyaknya prestasi yang diraih mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional. 5. Peningkatan dalam tertibnya administrasi sekolah. 6. Kondisi ruang kelas yang sangat nyaman dan menyenangkan bagi guru dan siswa dalam kegiatan belajarmengajar. 7. Kondisi lingkungan yang bersih, asri, nyaman, sejuk, tenang, aman, dan nyaman. 8. Dukungan dan peran serta masyarakat yang sangat antusias dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

BAB IV

ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

A. Analisis Masalah Penelitian ini mengkaji tentang upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep. Pembelajaran menulis yang telah dilakukan sebelumnya diamsusikan tidak menunjukkan tingginya tingkat keterampilan menulis. Oleh karena itu, melalui model jaring laba-laba diharapkan keterampilan menulis pada siswa kelas VI akan meningkat. Model jaring laba-laba (webbed) digunakan oleh peneliti yang merupakan salah satu bagian dari model pembelajaran terpadu yang berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak "DAP" (Developmentally Appropriate Practice), keterlibatan anak dalam belajar. Model jaring laba-laba merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan "tematik". Paparan data disajikan berdasarkan siklus-siklus tindakan. Setiap siklus berisi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi sehingga data yang dipaparkan dimulai dari data perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, hasil pengamatan tindakan, refleksi, dan temuan hasil penelitian. Dari aktivitas siswa dalam proses menulis karangan yang utuh dan terpadu, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan, yaitu (a) tahap persiapan (prapenulisan), (b) tahap penulisan, dan (c) tahap perbaikan (editing). Ketiga aspek tersebut menjadi sasaran guru dalam melakukan observasi, sehingga

19

dengan melakukan observasi akan diketahui aktivitas siswa dalam menulis sebuah karangan.

Sikap dan Perilaku dalam Proses Menulis Karangan Siswa Kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep Kabupaten Sumenep Melalui Jaring Laba-laba. Pada proses pembelajaran ini, siswa diajak untuk menulis karangan bebas secara individual dan kelompok/klasikal. Pada tahap ini siswa secara sengaja diberi kesempatan untuk menentukan/mengambil tema yang akan dikembangkan secara bebas pula. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui aktivitas siswa dalam menulis karangan dari tahap awal hingga akhir. Pada tahap akhir proses menulis karangan secara terpadu, siswa dipilih secara acak untuk membacakan hasil karangannya di depan kelas. Hal ini dilakukan untuk memberikan evaluasi, feed back (umpan balik), saran terhadap hasil karangan dan aktivitas siswa dalam menulis karanagan. Aktivitas yang dilakukan siswa pada proses menulis karangan meliputi beberapa aspek, yaitu sikap antusiasme siswa dalam menulis karangan, adanya interaksi komunikasi/kerjasama antar anggota kelompok,

pembacaan/pengungkapan hasil dari menulis karangan. Sejalan dengan aktivitas siswa, guru melakukan kegiatan pemantauan yang hasilnya dimasukkan ke dalam tabel/format. Berdasarkan Rencana Pembelajaran (RP), alur kegiatan pembelajaran menulis karangan yang telah dilangsungkan secara individual, siswa diminta

untuk membacakan kembali isi karangan yang telah dibuatnya. Pembelajaran ini diakhiri dengan pemberian umpan balik dari pembahasan materi pembelajaran yang telah dilaksanakan. Gambaran hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran menulis karangan secara umum tergolong cukup menunjukkan aktivitas, dapat mengubah sikap dan perilaku menulis karangan. Selanjutnya, disamping hasil tersebut dapat dijadikan sebagai umpan balik dan dapat dijadikan bahan untuk menetapkan tindakan pada siklus berikutnya. Oleh karena itu, pembelajaran keterampilan menulis karangan siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep melalui model jaring-laba perlu untuk ditindaklanjuti. Pada siklus 1 ini, terdapat bentuk tindakan pembelajaran yang dilakukan guru, dimana siswa secara individu diminta untuk selalu beraktivitas untuk membuat sebuah tulisan terutama sebuah karangan. Walaupun demikian, aktivitas guru di dalam memandu kegiatan belajar mengajar (KBM) cukup berperan. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas guru dalam menyajikan pembelajaran, mengamati, dan melakukan evaluasi. Dengan demikian, dari hasil yang diperoleh itu, setiap kemampuan siswa dijadikan tolak ukur penerapan model pembelajaran melalui jaring laba-laba ini dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Setelah mendapatkan balikan pada siklus pertama (berupa refleksi) sedikit banyak siswa mulai memahami hambatan-hambatan yang dihadapi ketika melakukan proses menulis karangan. Dengan menggunakan refleksi pada siklus

21

sebelumnya sebagai dasar untuk memperbaiki proses penulisan karangan dengan mengunakan jaring laba-laba, siswa secara berkelompok dicoba untuk mengikuti proses pembelajaran menulis karangan secara terpadu pada siklus II. Pada siklus ini, siswa mulai memperhatikan alat bantu yang ditampilkan dalam bentuk skema/gambar. Dalam waktu yang telah ditetapkan, siswa secara berkelompok diminta untuk mendiskusikan dan mengidentifikasikan subsubtema yang selanjutnya akan dikembangkan menjadi sebuah karangan. Penekanan refleksi pembelajaran pada siklus II ini dalam bentuk kelompok. Pemantauan dan pembimbingan siswa secara berkelompok tetap dilakukan guru, dan hasilnya dimasukkan ke dalam lembar observasi. Dalam hal ini siswa dibagi dalam lima kelompok (masing-masing kelompok terdiri dari 5 6 anggota) sesuai dengan tema yang telah teridentifikasi. Berdasarkan hal tersebut, data dan temuan hasil penelitian ini dapat dideskripsikan secara berkelompok. Tiap kelompok beraktivitas sesuai dengan indikator kerja pengamatan dan hasilnya dapat dicermati pada format hasil pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam proses menulis karangan pada siklus I. Bertumpu pada proses penulisan karangan sebagaimana disajikan pada siklus 1, akan memberikan pengaruh yang sangat positif terhadap proses penulisan karangan. Dalam proses penulisan dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana akan terjadi perubahan sikap dan tingkah laku siswa dalam melakukan proses menulis karangan. Berdasarkan format hasil pengamatan terhadap aktivitas proses menulis

karangan pada siklus 2 menggambarkan adanya keseriusan dan kerjasama yang sangat kompak antar anggota kelompok. Dari gambaran hasil pengamatan ketika semua kelompok melakukan proses menulis karangan, secara umum dapat digambarkan bahwa aktivitas yang baik dan cukup baik, yakni kelompok III, IV, dan V tergolong baik, dan kelompok I dan II tergolong cukup baik. Dari hal tersebut, proses pembelajaran perlu diadakan adanya perbaikan/teraputik dengan menyelenggarakan suatu tindakan pembelajaran sebagaimana pada tindakan dan refleksi pada siklus 3.

Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Pada Siswa Kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep Melalui Model Jaring Laba-laba Adanya tingkat aktifitas menulis karangan dan sikap serta perilaku menulis karangan pada siswa yang tinggi akan memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap adanya suatu upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan pada siswa melalui penerapan model jaring laba-laba. Hal ini terlihat pada temuan data siklus 1 bahwa proses menulis karangan akan berdampak terhadap upaya peningkatan pembelajaran keterampilan menulis karangan siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep pada siklus 2. indikator ini memberikan gambaran yang jelas karena berkaitan dengan proses dan hasil belajar menulis karangan. Sasaran pemberian tindakan dan refleksi pada pengungkapan hasil dari menulis karangan menandakan adanya suatu upaya untuk meningkatkan proses

23

dan hasil pembelajaran. Semakin baik aktifitas dan perubahan sikap dan tingkah laku, maka akan bertambah baik pula tingkat penguasaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam membuat suatu tulisan/karangan yang sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Berdasarkan hal itu, secara tidak langsung akan memberikan pengaruh terhadap aktifitas siswa secara kelompok dalam mengembangkan dan menyampaikan hasil karangannya. Pada pengungkapan isi karangan ini dilakukan oleh wakil kelompok atas dasar kesepakatan kelompoknya. Dalam hal ini, hasil penyampaian isi karangan sebelumnya telah diselesaikan oleh kelompok masing-masing dan pengukuran tingkat aktifitasnya telah dilakukan oleh guru. Oleh karena itu, penilaian terhadap penyampaian isi karangan ini diambil secara perwakilan kelompok dan pengukuran tingkat kualifikasi datanya juga berdasarkan kelompok. Pada saat pembelajaran akan diakhiri, guru melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran. Hasil refleksi digunakan sebagai pedoman untuk melakukan tindakan pada siklus berikutnya. Dalam kaitan itu, siklus 3 mulai dilaksanakan. Berdasarkan prosedur kerja penelitian tindakan kelas sebagaimana diungkapkan dalam prosedur penelitian ini, aktifitas pembelajaran dilangsungkan. Rencana pembelajaran siklus 3 dijadikan referensi guru untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

B. Pemecahan Masalah Masalah rendahnya keterampilan menulis karangan siswa kelas VI MI.

Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru akan diatasi dengan melakukan pembelajaran Bahasa Indonesia. Adapun cara untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru tersebut dilakukan dengan model jaring laba-laba (webbed). Untuk mengetahui hasil yang dicapai dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, dilakukan suatu tindakan dengan menempuh beberapa siklus. Masingmasing siklus menempuh prosedur (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan/observasi, (4) interpretasi, (5) analisis, dan (6) refleksi. Dalam hal ini, ada tiga siklus yang harus dilalui, sehingga sebagai penentuan akhir tingkat keberhasilan peningkatan keterampilan menulis siswa diukur pada siklus ketiga. 1) Perencanaan Sebagai langkah awal pembelajaran, guru menetapkan rancangan pembelajaran sebagaimana yang terhimpun dalam rencana pembelajaran (RP). Perencanaan ini dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 40 menit. Tahap ini menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan pembelajaran dan hasilnya. Rencana tindakan ini dibuat sesuai dengan proses pembelajaran yang dilakukan guru mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup. Penekanan rencana tindakan pada kegiatan inti yang akan mendeskripsikan penelitian yang dilakukan yaitu pelaksanaan menulis karangan melalui jaring laba-laba (webbed). Persiapan awal yang harus dilakukan peneliti antara lain: 1. Penyusunan rencana pembelajaran (RP).

25

2. Penentuan bahan menulis karangan sebagai alat ukur keberhasilan membuat karangan 3. Penyusunan instrumen, meliputi: a. Lembar pengamatan pembelajaran menulis karangan melalui jaring laba-laba. b. Lembar pengamatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. c. Data frekuensi aktivitas siswa dalam setiap siklus. d. Penentuan jadwal tindakan Persiapan tersebut berdaur ulang pada siklus I, siklus II, dan siklus III. 2) Pelaksanaan Implementasi tindakan ini mengacu pada perencanaan yang telah dijabarkan dalam rencana pembelajaran. Pelaksanaannya disesuaikan dengan karakteristik tujuan pelajaran, metode, indikator yang diharapkan. Pelaksanaan pembelajaran berorientasi pada penerapan pendekatan tematik/terpadu. 3) Observasi Kegiatan selanjutnya adalah mengamati aktivitas belajar mengajar. Aktivitas belajar siswa secara individu, berkelompok diamati dan dilihat tingkat ketercapaian menulis karangan dalam pembelajaran terpadu dengan model jaring laba-laba. Di samping itu, aktivitas guru dalam membimbing siswa belajar dan mekanisme pembelajaran terpadu melalui jaring laba-laba diamati, kegiatan ini dilakukan peneliti dan dibantu oleh seorang teman sejawat. 4) Interpretasi Selanjutnya, peneliti melakukan interpretasi terhadap pelaksanaan

pembelajaran menulis karangan melalui penerapan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba. Interpretasi diarahkan pada efektifitas belajar siswa, baik melalui proses belajar maupun terhadap hasil belajar. Hal ini dimaksudkan untuk merencanakan tindakan berikutnya. 5) Analisis Setelah melakukan interpretasi, kemudian peneliti melakukan analisis terhadap kendala-kendala/hambatan yang dijumpai pada saat pembelajaran menulis karangan secara terpadu, baik menyangkut masalah aktivitas siswa maupun masalah hasil belajarnya. Hal ini dapat digunakan dalam rangka menetapkan tindakan pada sikus berikutnya. 6) Refleksi Refleksi dimaksudkan untuk membahas hasil pelaksanaan pembelajaran terpadu yang berorientasi pada pendekatan tematik. Bagian-bagian yang masih dianggap perlu mendapat perbaikan ditindaklanjuti pada siklus berikutnya, sedangkan pada bagian yang sudah dianggap dikuasai dipertahankan, bahkan lebih ditingkatkan. Oleh karena itu, dalam pengamatan proses belajar mengajar dibantu teman sejawat, maka saran dan masukan dari teman sejawat dijadikan landasan untuk melakukan perencanaan dan implementasi pada siklus selanjutnya. Dalam proses belajar mengajar menulis karangan melalui model jaring laba-laba sama dengan siklus yang sebelumnya, pada siklus ini isswa tetap mengikuti alur pembelajaran menulis. Berdasarkan rencana pembelajaran keterampilan menulis karangan melalui model jaring laba-laba, setiap siswa

27

ditugasi untuk memperhatikan alat peraga yang selanjutnya mengidentifikasi sub-subtema. Dalam hal ini guru menjadi fasilitator dalam mengidentifikasikan sub-subtema. Kemudian guru menyuruh setiap siswa untuk mengembangkan tiap-tiap subtema yang telah diidentifikasi menjadi sebuah karangan yang utuh dan terpadu. Atas dasar data dan hasil temuan penelitian pada siklus 3 ini, tergambar perubahan sikap dan tingkah laku menulis siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep. Gambaran perubahan sikap dan tingkah laku menulis diperoleh dari beberapa kegiatan yang berproses (sikap antusias, komunikasi, dan hubungan yang saling interaktif). Ada perubahan yang sangat mendasar dari proses menulis karangan pada siklus 3 ini dengan ditandainya peningkatan yang sangat signifikan pada setiap aspek prsoses menulis. Hal ini akan memberikan dampak pula terhadap penyampaian isi/hasil menulis karangan sebagai wujud dari adanya suatu upaya untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan menulis pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep melalui model jaring laba-laba. Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Pada Siswa Kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep Melalui Model Jaring Laba-laba Tingginya aktifitas menulis karanga dan sikap serta perilaku menulis pada siswa akan mempengaruhi terhadap suatu upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan pada siswa melalui model jaring laba-laba. Hal

ini terlihat pada temuan dan data siklus 1 dan siklus 2, bahwa proses menulis karangan yang terpadu akan berdampak terhadap upaya peningkatan

pembelajaran keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep pada siklus 3. Indikator ini memberikan gambaran yang jelas, karena berkaitan erat dengan proses dan hasil belajar menulis. Berdasarkan rencana pembelajaran, alur kegiatan pembelajaran menulis dan tindakan pada siklus 3 dilangsungkan. Sasaran pemberian tindakan dan refleksi pada penyampaian dan pengembangan isi karangan. Semakin baik aktifitas dan perubahan sikap dan tingkah laku, maka akan bertambah baik pula tingkat penguasaan berbahasa dalam penyampaian dan pengembangan isi karangan. Berdasarkan hal itu, secara tidak langsung akan memberikan pengaruh terhadap aktifitas siswa secara kelompok dalam mengembangkan dan menyampaikan hasil karangan. Pada pengembangan dan penyampaian isi karangan ini dilakukan oleh masing-masing siswa. Dalam hal ini, hasil pengembangan dan penyampaian isi karangan sebelumnya telah diselesaikan oleh kelompok masing-masing dan pengukuran tingkat aktifitasnya telah dilakukan oleh guru pada proses pembelajaran menulis karangan. Berdasarkan temuan hasil penelitian, terlihat aktifitas siswa dalam pembelajaran ini, mulai siklus 1 sampai dengan siklus 3 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Walaupun masih terdapat sebagian kecil siswa baik secara individu maupun kelompok yang masih belum menunjukkan perubahan dan hasil yang maksimal. Namun, secara umum dengan menggunakan

29

model jaring laba-laba dalam pembelajaran menulis secara terpadu terlihat peningkatan hasil belajar. Jika dilihat dari perubahan sikap dan tingkah laku siswa sebelum, ketika, dan bahkan setelah pembelajaran menulis denganm menggunakan model jaring laba-laba, terlihat perubahan yang cukup signifikan. Hal ini tampak jelas terlihat pada saat siswa melakukan proses penulisan karangan mulai dari

pengidentifikasian subteme, pengembangan hingga penyampaian hasil karangan menunjukkan antusias yang cukup tinggi pula. Tingginya perubahan sikap dan tingkah laku tersebut disebabkan oleh pola pemetaan pembelajaran yang cukup representatif, teknik menulis karangan yang efektif dan efisien, inovatif, dan mampu memberikan kesan menyenangkan, sehingga sebagian besar siswa tidak dibebani oleh masalah-masalah yang berhubungan dengan menulisnya yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang sulit. Demikian juga halnya pada permasalahan ketiga penelitian ini. Dengan melaksanakan pembelajaran menulis karangan secara terpadu melalui model jaring laba-laba terlihat peningkatan yang cukup signifikan juga. Sebagian besar siswa baik secara individu maupun kelompok telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Artinya, banyak siswa yang tingkat kemampuan menulisnya dengan menggunakan model jaring laba-laba pada kategori baik/istimewa (B). Hal ini mengimplikasikan bahwa pembelajaran keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep dengan menggunakan teknik/model jaring laba-laba sebagai suatu upaya guru mengalami peningkatan. Oleh karena itu, dari siklus 1 sampai dengan

siklus 3 dijumpai banyak perubahan yang cukup signifikan, maka pada siklus ketiga ditetapkan sebagai pembatas akhir refleksi dan tindakan pembelajaran.

BAB V PENUTUPA. Kesimpulan Berdasarkan paapran data, temuan data, dan pembahasan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa upaya meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep melalui model jaring laba-laba dapat dideskripsikan sebagai berikut.

31

Pertama, aktifitas siswa dalam pembelajaran menulis karangan dengan model jaring laba-laba baik secara perorangan maupun secara kelompok menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini terlihat dari keterlibatan sebagian besar siswa dalam kegiatan menulis karangan meliputi persiapan, penetuan/identifikasi subtema, pengembangan subtema menjadi karangan, penyampaian hasil karangan yang sudah cukup antusias. Tingkat aktifitas siswa dalam pembelajaran tersebut semakin terlihat mulai dari siklus II hingga siklus terakhir yakni siklus III. Sedangkan pada siklus I memang masih belum menunjukkan tingkat aktifitas siswa yang sangat berarti. Kedua, terhadap sikap dan tingkah laku siswa dalam proses pembelajaran keterampilan menulis karangan melalui model jaring laba-laba juga

menunjukkan tingkat perubahan sikap dan tingkah laku yang berarti. Artinya, sikap dan tingkah laku yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan efektif mulai siklus I sampai dengan siklus III mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ketiga, peningkatan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI MI. Assasul Muttaqin Pakondang Kecamatan Rubaru Kab. Sumenep baik secara perorangan maupun kelompok telah memberikan eksistensi dan efektifitas terhadap penggunaan model jaring laba-laba dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan sebagai pengejawantahan dari keterampilan berbahasa yang bersifat aktif_produktif. B. Saran Saran-saran berikut ini ditujukan kepada pihak yang memanfaatkan hasil

penelitian ini yang secara rinci disampaikan di bawah ini. Pertama, kepada guru Sekolah Dasar atau yang sederajat, yang bertugas sebagai pengajar Bahasa Indonesia di dalam memberikan pembelajaran menulis karangan hendaknya memperhatikan (1) kurikulum, ruang lingkup, alokasi waktu, dan tema yang mampu mengkondisikan siswa, (2) mempersiapkan segala perangkat pembelajaran menulis karangan yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa, dan (3) mengemas pola interaksi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan efisien, menarik/menyenangkan serta inovatif (PAKEM+I). Kedua, kepada kepala sekolah. Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan wahana pengetahuan baru bagi siswa, guru, begitu pula pihak lain yang terkait dengan pembelajaran. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai penanggung jawab terhadap pengelolaan pendidikan dan pengajaran di sekolah hendaknya bisa memfasilitasi sumber belajar (buku, majalah, bulletin, internet/komputer, dan berbagai media pembelajaran yang lain) yang dapat menunjang pembelajaran. Ketiga, saran ini dikhususkan kepada guru yang juga sebagai pendidik, pengajar, dan pelaksana tindakan kelas (action reaseach). Hasil penelitian ini dapat diajadikan sebagai acuan untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas yang dikelolanya. terhadap keberhasilan dan ketercapaian proses kegiatan

C. Daftar Pustaka

33

____2004. Penilaian Berbasis Kelas untuk Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia: Bahan Pembekalan Program Pengalaman Lapangan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tanggal 14 Juni 2004. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya. Akhadiah, Sabarti. 1988. Evaluasi dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud BP3GSD. Dikti. Pembelajaran Terpadu D-2 PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar (Lokakarya BP3GSD. Dikti tanggal 7 s.d 9 Agustus 1996 dan tanggal 23 s.d 25 September 1996. Malang. IKIP Malang. Costa, Jones. 1985: Guide to Writing. New York: Harpers College. Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Gani, Erizal. 2002. Efektivitas Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing: Studi Kasus pada Seorang Pelajar dari Beland. Padang. Universitas Negeri Padang. Hamid, Fuad Abdul. 1987. Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta: Depdikbud. Hidayat, Roehadi dkk., 1990. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Bandung: Tarsito. Keraf, Gorys. (1989). Komposisi. Flores: Nusa Indah. Keraf, Gorys. 1989. Komposisi. Flores: Nusa Indah. Kurniawan, Khaerudin. 2000. Model Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Lanjut (Makalah Seminar). Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta. Liang Gie, The. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi. Mahardhika, Bagus Setya. 2002. Menggairahkan Menulis dalam Kehidupan (Cerpen Lubis Grafura. Malang. Universitas Negeri Malang.

Marahimin, Ismail. 1994. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya. Mc. Crimmon, James M.et.al. 1984. Writing With a Purpose. Boston: Houghton Mifflin Company. Moleong, Lexy J. 1989. Metodologi Penilaian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya. Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung. PT. Remaja Rosda Karya. Nunan, David. 1991. Language Teaching Methodology. New York: Prentice Hall. Nurgiantoro, Burhan. 1987. Penilaian dalam Pengajaran Yogyakarta: BPFE. Rifai, Mien A. (1997). Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan Penerbitan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Rusyana, Yus. 1988. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: Diponegoro. Semi, M. Atar. 1990. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Bandung: Angkasa. Subyakto. Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud. Sutama, I Made. 200. Tanya Jawab Pramenulis untuk Memudahkan Pembelajar Menghasilkan Tulisan. Singaraja. IKIP Negeri Singaraja. Tarigan, Hendrik Guntur. 1989. Metodologi Pengajaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Thahar, Harris Effendi. 2002. Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Artikel Populer Melalui Model Bongkar Pasang: Studi Kasus Terhadap Peserta Penataran Menulis Kreatif untuk Guru-guru SLTP Se-Sumatera Barat di BPG Bahasa dan Sastra.

35

Padang, Juni 2002. Padang. Universitas Negeri Padang. Wahya. 2002. Pengajaran Keterampilan Menulis pada Program Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di Universitas Padjadjaran (Makalah Seminar). Bandung. Universitas Padjadjaran. Wijayanti, Ari. 2000. Pengajaran Bahasa yang Kreatif (Cerpen Lubis Grafura). Malang. Universitas Negeri Malang.