Bab i Sampai Akhir

Embed Size (px)

Citation preview

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangFraktur adalah hilangnya kontinyuitas dari tulang. Fraktur pada tulang panjang dikelompokan menjadi tiga tipe yaitu tipe I fraktur pada segmen proksimal, tipe II fraktur pada diafisis atau shaft dan tipe III fraktur pada segmen distal. Dalam hal ini akan dibahas fraktur caput humeri. Tindakan medis yang sering diberikan pada fraktur caput humeri ada 2 yaitu jenis operatif dan non-opertif. Jenis tindakan dipengaruhi oleh tingkat kestabilan fraktur. Pada fraktur yang stabil tindakan yang diberikan berupa tindakan non operatif yaitu backslap atau gips dan plaster spica. Sedangkan pada fraktur yang tidak stabil tindakan medis yang diberikan berupa tindakan operatif yaitu dengan fiksasi internal misalnya intramedulary nail dan plate and screw serta fiksasi eksternal misalnya illizarov. Tindakan medis yang sering diberikan pada fraktur caput humeri adalah dengan pemasangan plate and screw. Fisioterapi sebagai salah satu profesi yang bertanggung jawab atas gerak dan fungsi dapat berperan pada kondisi di atas. Dengan modalitas fisioterapi berupa infra merah dan terapi latihan dapat digunakan untuk mengurangi oedema, mengurangi nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi (LGS), meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan kemampuan fungsional. Modalitas yang digunakan adalah static contraction untuk mengurangi nyeri, free active movement untuk meningkatkan kekuatan otot, relaxed passive movement dan assisted passive movement untuk memelihara LGS, infra merah untuk mengurangi oedema dan mengurangi nyeri, dan latihan fungsional untuk meningkatkan kemampuan fungsional.

1.2 TujuanPenulisan makalah ini bertujuan untuk :1. Memenuhi tugas akhir semester 5 mata kuliah skills lab.2. Menjelaskan anatomi dari Humeri.3. Mendeskripsikan defenisi Fraktur Kaput Humeri.4. Menjelaskan manifestasi klinis Fraktur Kaput Humeri.5. Menjelaskan tentang etiologi Fraktur Kaput Humeri.6. Menjelaskan tentang patofisiologi terjadinya Fraktur Kaput Humeri.7. Menjelaskan tentang cara menegakkan diagnosa Fraktur Kaput Humeri.8. Menjelaskan tentang pemeriksaan fisik pada Fraktur Kaput Humeri.9. Menjelaskan tentang diagnosa banding Fraktur Kaput Humeri.10. Menjelaskan tentang penatalaksanaan Fraktur Kaput Humeri.11. Menjelaskan prognosis Fraktur Kaput Humeri.

1.3 ManfaatPenulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut diantaranya sebagai berikut, yaitu :1. Bagi praktisi kesehatan, khususnya dokter agar semakin bisa menajamkan diagnosa tentang Fraktur Kaput Humeri.2. Bagi pembaca agar bermanfaat dalam menambah pengetahuan tentang Fraktur Kaput Humeri dan dapat mencegahnya.3. Bagi penulis, untuk menambah dan memperdalam wawasan mengenai Fraktur Kaput Humeri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi TulangTulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas), korpus, dan ujung bawah.1. KaputSepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari bangunan sendi bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur.2. KorpusSebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.3. Ujung BawahBerbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar etrdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. Gambar 1. Os Humerus

Sendi bahuSecara anatomi sendi bahu merupakan sendi peluru (ball and socket joint) yang terdiri atas bonggol sendi dan mangkuk sendi. Cavitas sendi bahu sangat dangkal, sehingga memungkinkan seseorang dapat menggerakkan lengannya secara leluasa dan melaksanakan aktifitas sehari-hari. Namun struktur yang demikian akan menimbulkan ketidakstabilan sendi bahu dan ketidakstabilan ini sering menimbulkan gangguan pada bahu.

Sendi SikuSendi siku dibentuk oleh tiga tulang, yaitu humeri, radius dan ulna yang saling berhubungan. Pada sendi siku dibentuk oleh 3 articulatio yaitu, (1) articulation humeroulnar, (2) articulatio humeroradial dan (3) articulatio radioulnar proksimal. Pada sendi ini terdapat gerakan kedua arah yaitu fleksi dan ekstensi yang terjadi pada bidang sagital dan rotasi (pronasi dan supinasi) yang terjadi pada bidang rotasi. Fleksi dan ekstensi terjadi antara humeri dan lengan bawah (radius dan ulna). Sendi siku merupakan sendi yang stabil. Sendi ini diperkuat oleh ligamentum colaterale laterale, ligamentum colaterale mediale dan ligamentum annulare radii yang menstabilkan caput radii.

2.2 DefenisiFraktur adalah hilang kontinyuitas dari tulang. Humeri adalah tulang panjang seperti tongkat yang membentuk struktur lengan atas. Caput adalah bagian paling atas dari tulang panjang. Jadi fraktur caput humeri adalah hilang kontinyuitas dari tulang humeri pada bagian paling atas. 2.3 EtiologiUntuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita harus mengetahui kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir (shearing).Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan membengkok, memutar dan tarikan. Trauma dapat bersifat :1) Trauma langsung : Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.2) Trauma tidak langsung : Disebut trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan extensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.3) Tekanan pada tulang dapat berupa :a) Tekanan berputar yang dapat menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblikb) Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversalc) Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasid) Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah misalnya pada bahan vertebra.e) Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Zf) Fraktur oleh karena remukg) Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang.

2.4 Klasifikasi FrakturGejala fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang yang patah, deformitas (angulasi, rotasi, diskrepansi), nyeri tekan, krepitasi, gangguan fungsi muskuloskeletal akibat nyeri, putusnya kontinuitas tulang, dan gangguan neurovaskular. Apabila gejala klasik tersebut ada, secara klinis diagnosis fraktur dapat ditegakkan walaupun jenis konfigurasi frakturnya belum dapat ditentukan.Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menentukan jenis dan kedudukan fragmen fraktur. Foto roentgen harus memenuhi beberapa syarat, yaitu letak patah tulang harus diletakkan di pertengahan foto dan sinar harus menembus tempat ini secara tegak lurus. Bila sinar menembus secara miring, gambar menjadi samar, kurang jelas, dan berbeda dari kenyataan. Harus selalu dibuat dua lembar foto dengan arah yang saling tegak lurus. Persendian proksimal maupun distal harus tercakup dalam foto. Bila ada kesangsian atas adanya patah tulang, sebaiknya dibuat foto yang sama dari ekstremitas kontralateral yang sehat untuk perbandingan. Bila tidak diperoleh kepastian tentang adanya kelainan, seperti fisura, sebaiknya foto diulang setelah satu minggu; retak akan menjadi nyata karena hiperemia setempat di sekitar tulang yang retak itu akan tampak sebagai dekalsifikasi. Osteoporosis pascatrauma merupakan tanda Roentgenologik normal pascatrauma yang disebabkan oleh hiperemia lokal proses penyembuhan.Fraktur kaput humerus ini termasuk pada fraktur proksimal humerus. Pada fraktur ini, Neer membagi fraktur ini menjadi empat kelompok :1. Fraktur satu-bagian dapat berupa fraktur impaksi atau tanpa dislokasi2. Fraktur dua-bagian dapat berupa fraktur dengan dislokasi tuberculum atau fraktur collum chirurgicum dengan disertai dislokasi atau angulasi3. Fraktur tiga-bagian melibatkan dislokasi atau angulasi kaput dan corpus dengan keterlibatan baik tuberculum majus maupun minus.4. Fraktur empat-bagian meliputi dislokasi atau angulasi keempat bagian, yaitu caput, corpus, tuberculum majus dan minus

2.5 PatofisiologiTulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadinya fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow dan jaringan lunak yang membungkus tulang akan rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan tebentuklah hematoma rongga medula jaringan. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Fraktur traumatik yaitu yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba. Fraktur patologis dapat terjadi hanya tekanan yang relatif kecil apabila tulang telah melemah akibat osteoporosis atau penyakit lainnya. Fraktur stres yang terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.

2.6 Manifestasi Klinis1. Pembengkakan dan ekimosis pada area bahu2. Memar besar pada bagian atas3. Ruang gerak dapat dapat terbatas akibat rasa nyeri 4. Pada cedera nervus aksilaris yang terjadi bersamaan, pasien mengalami mati rasa atau kesemutan pada otot deltoid latera5. Nyeri pada lengan atas6. Penurunan LGS siku dan bahu7. Penurunan kekuatan otot penggerak siku dan bahu, dan fungsilaesa

2.7 DiagnosisPemeriksaan awal terhadap pasien yang mungkin menderita fraktur tulang sama dengan pemeriksaan pada pasien yang mengalami luka pada jaringan lunak yang berhubungan dengan trauma. Penilaian berdasarkan pada tanda dan gejala. Setelah bagian yang retak telah di-imobilisasi dengan baik, kemudian dinilai adanya lima P yaitu Pain (rasa sakit), Palor (kepucatan/perubahan warna), Paralysis (kelumpuhan/ketidakmampuan untuk bergerak), Paresthesia (rasa kesemutan), dan Pulselessness (tidak ada denyut) untuk menentukan status neurovaskuler dan fungsi motorik pada bagian distal fraktur (Reeves, Roux, Lockhart, 2001).Rontgen sinar-x pada bagian yang sakit merupakan parangkat diagnostik definitif yang digunakan untuk menentukan adanya fraktur. Meskipun demikian, beberapa fraktur mungkin sulit dideteksi dengan menggunakan sinar-x pada awalnya sehingga akan membutuhkan evaluasi radiografi pada hari berikutnyaPemeriksaan RadiologisDengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur.Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip: 1. Dua posisi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-posterior dan lateral2. Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, diproximal dan distal sendi yang mengalami fraktur3. Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada kedua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis.4. Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka perlu dilakukan foto pada panggul dantulang belakang5. Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14 hari kemudian.Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu dinyatakan apakah fraktur terbuka/tertutup, tulang mana yang terkena dan lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri.Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mendapatkan gambaran anatomis untuk mendukung diagnosa kelainan pada tulang. Untuk itu pemeriksaan ossa antebrachii ditujukan untuk indikasi patologis sebagai berikut :1. Trauma ( kecelakaan )Trauma adalah terjadi benturan dengan benda tajam yang mengakibatkan cidera. Yang termasuk trauma adalah :a. FrakturFraktur adalah Patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.b. Fisura (retak tulang)c. Dislokasi (tulang keluar dari mangkok sendi)d. Luksasi (lebih ringan dari dislokasi)e. Ruptur (sobeknya jaringan ikat)2. Pathologisa. Arthritis (radang pada persendian)b. Osteoma (kanker pada tulang)3. Benda asing ( corpus alienum )Benda asing yatu benda yang tidak seharusnya ada dalam sistem fisiologi, masuknya tidak disengaja atau menyalahi prinsif fisiologi, dan mengganggu sirkulasi tubuh atau sistem fisiologi tubuh. Benda asing pada gambaran radiograf bisa berwarna lusen atau opaq. Berwarna lusen bila berasal dari benda non logam, nomor atomnya lebih rendah seperti kayu, duri, plastik, dan lain-lain. Berwarna opaq bila berasal dari logam, nomor aomnya lebih tinggi dari jaringan sekitar seperti paku, jarum, peluru, dan lain-lain.Prosedur Pemeriksaan Pemeriksaan ossa humerus adalah pemeriksaan secara radiologi dengan menggunakan sinar-X untuk mendiagnosa adanya kelainan pada ossa humerus.1. Persiapan PasienPemeriksaan ossa humerus tidak ada persiapan secara khusus cukup dengan memberikan pengertian kepada pasien tentang pelaksanaan yang akan dilakukan, sehingga pasien tahu tindakan apa yang akan dilakukan selama pemeriksaan. Selain itu membebaskan objek yang akan difoto dari benda-benda yang mengganggu radiograf, seperti gelang.2. Persiapan AlatAdapun persiapan alat pada pemeriksaan ini adalah :a. Pesawat sinar-Xb. Kaset dan Film sesuai ukuran,biasanya memakai ukuran 24 x 30c. Marker R / Ld. Alat proteksi radiasi ( apron, gonad shield, ovarium shield, dan lain-lain )e. Pakaian pasienf. Alat fiksasi ( sand bag, soft bag )g. Alat processingh. ID Camera.2.8 KomplikasiNervus aksilaris dapat mengalami cedera yang disebabkan oleh fraktur humerus proksimal. Keadaan ini dapat bermanifestasi sebagai defisit sensorik pada deltoid lateral. Cedera arteri dapat terjadi pada arteri aksilaris atau percabangannya pada fraktur yang bergeser. Nekrosis avaskular kaput humeri terjadi lebih sering pada fraktur empat bagian, sama seperti artritis pascratrauma. Dislokasi bahu inferior dapat disebabkan oleh atrofi otot akibat fraktur. Komplikasi lainnya meliputi malunion dan non-union.

2.9 Penatalaksanaan Tindakan medis yang sering diberikan pada fraktur caput humeri ada 2 yaitu jenis operatif dan non-opertif. Jenis tindakan dipengaruhi oleh tingkat kestabilan fraktur. Pada fraktur yang stabil tindakan yang diberikan berupa tindakan non operatif yaitu backslap atau gips dan plaster spica. Sedangkan pada fraktur yang tidak stabil tindakan medis yang diberikan berupa tindakan operatif yaitu dengan fiksasi internal misalnya intramedulary nail dan plate and screw serta fiksasi eksternal misalnya illizarov. Tindakan medis yang sering diberikan pada fraktur caput humeri adalah dengan pemasangan plate and screw. Penanganan fraktur tuberositas minor yang tidak bergeser biasanya secara non operatif, dengan imobilisasi menggunakan penyangga (sling) dan secara bertahap meningkatkan latihan ruang gerak. Sebagian besar fraktur kaput humeri lainbya memerlukan pin perkuatan atau reduksi terbuka dengan fiksasi internal. Rehabilitasi luas diperlukan untuk semua fraktur humers.

2.10 Prognosa Kasus fraktur caput humeri mempunyai prognosis gerak dan fungsi yang baik jika pasien secepat mungkin di bawa ke rumah sakit setelah trauma untuk mendapatkan penanganan yang tepat oleh tim medis dan pasien pasca operasi segera mendapatkan penanganan dari fisioterapi untuk mendapatkan terapi latihan, sehingga oedema, nyeri, penurunan LGS, dan penurunan kekuatan otot dapat diatasi, serta kontraktur dan kekakuan sendi dapat dicegah. Prognosis gerak dan fungsi akan buruk apabila fraktur disertai komplikasi atau faktor penyulit dan tidak mendapatkan fisioterapi.

BAB IIIPEMBAHASAN

3.1 TriggerNy Hayati Suriminah, 50 tahun dibawa ke RSI Siti Rahmah setelah jatuh dari motor akibat kecelakaan lalu lintas di daerah Lubuk Buaya. Pada kecelakaan tersebut, pasien terjatuh karena terserempet oleh pengendara motor lainnya dari arah yang sama. Pasien terjatuh ke arah kiri dengan tangan kiri dan bahu terbentur keras oleh batu dipinggir jalan. Saat ini pasien mengeluhkan nyeri, dan terdapat luka dan memar yang cukup besar di daerah bahu. 3.2 Identitas PasienNama: Ny. Hayati SuriminahJenis kelamin: PerempuanUmur: 50 tahunAlamat: Perumahan Pasir Putih No.23 PadangPekerjaan: SwastaAgama: IslamMasuk Rumah Sakit: 14 Juli 2014

AnamnesaAnamnesa dilakukan secara autoanamnesa dan alloanamnesa dengan suami penderita pada tanggal 14 Juli 2014.

Keluhan utama: Pasien mengeluh adanya nyeri pada daerah bahu kanan, nyeri meningkat ketika lengan kanan digerakan.

Riwayat penyakit sekarang : 1,5 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang, tiba-tiba dari arah yang sama motor pasien diserempet pengendara motor lainnya. Pasien terjatuh ke arah kiri dengan tangan kiri dan bahu terbentur keras oleh batu dipinggir jalan. Saat ini pasien mengeluhkan nyeri, dan terdapat luka dan memar yang cukup besar di daerah bahu. Pasien menggunakan helm standar. Setelah jatuh pasien masih sadar, masih bisa merasakan sakit saat digotong kepinggir jalan, setelah itu pasien dibawa ke RSI Siti rahmah. Pingsan (-), muntah (-), pusing (-).

Riwayat penyakit dahulu :Riwayat penyakit dahulu pasien yaitu pasien belum pernah mengalami patah tulang seperti yang dialami sekarang.

Riwayat penyakit keluarga :Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai riwayat sering patah tulang dengan atau tanpa trauma.Anamnesis sistem :Pada sistem kepala dan leher, sistem respirasi, sistem kardiovaskuler, sistem gastrointestinal dan sistem urogenetalis tidak ada gangguan. Pada sistem muskuloskeletal ada nyeri tekan pada daerah incisi, nyeri gerak pada bahu kanan dan siku kanan. Pada sistem nervorum tidak ada keluhan kesemutan pada lengan kanan.

Pemeriksaan fisik1. Tanda- tanda vitalTekanan darah: 140/80 mmHg, denyut nadi: 72 kali permenit, pernafasan 20 kali permenit, temperatur: 36,5 C, berat badan: 55 kg, tinggi badan: 145 cm.

1. Inspeksiwarna kulit kemerah-merahan, merasa nyeri saat menggerakkan siku dan bahu kanan.1. PalpasiDari palpasi diperoleh nyeri tekan, oedema pada lengan atas, suhu lengan atas kiri lebih hangat dibandingkan dengan lengan atas kanan, ada spasme pada otot disekitar bahu.

1. Pemeriksaan gerak dasarGerak aktif :Pasien diminta menggerkkan siku kanannya ke arah fleksi ekstensi, pronasi dan supinasi. Saat pasien bergerak ke arah fleksi pasien merasa nyeri, LGS terbatas dan kekuatan otot menurun. Saat pasien bergerak ke arah ekstensi pasien merasa nyeri, LGS penuh dan kekuatan otot menurun. Saat pasien bergerak ke arah pronasi dan supinasi tidak merasa nyeri, LGS penuh dan kesan kekuatan otot normal.Pasien diminta untuk menggerakan bahu kanannya ke arah fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, eksorotasi dan endorotasi. Saat pasien bergerak ke arah fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, eksorotasi dan endorotasi, pasien merasa nyeri, LGS menurun dan kekuatan otot menurun. Gerak pasif :Siku kanan pasien digerakan ke arah fleksi, ekstensi, pronasi dan supinasi. Saat digerakan ke arah fleksi, ekstensi didapatkan informasi adanya nyeri, LGS menurun, saat digerakan ke arah pronasi dan supinasi pasien tidak merasa nyeri. Bahu kanan pasien digerakan kearah fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, eksorotasi, endorotasi. Saat digerakan kesemua arah pasien merasa nyeri, LGS terbatas.

Diagnosa SementaraFraktur Kaput Humeri

Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan Radiologis1. Dilakukan foto rontgen sinar X pada posisi AP, ataupun lateral. 1. MRI

Pada pemeriksaaan sendi siku dapat dilakukan :1. foto polos1. foto lateral

PenatalaksanaanTindakan medis yang sering diberikan pada fraktur caput humeri ada 2 yaitu jenis operatif dan non-opertif. Jenis tindakan dipengaruhi oleh tingkat kestabilan fraktur. Pada fraktur yang stabil tindakan yang diberikan berupa tindakan non operatif yaitu backslap atau gips dan plaster spica. Sedangkan pada fraktur yang tidak stabil tindakan medis yang diberikan berupa tindakan operatif yaitu dengan fiksasi internal misalnya intramedulary nail dan plate and screw serta fiksasi eksternal misalnya illizarov. Tindakan medis yang sering diberikan pada fraktur caput humeri adalah dengan pemasangan plate and screw. Penanganan fraktur tuberositas minor yang tidak bergeser biasanya secara non operatif, dengan imobilisasi menggunakan penyangga (sling) dan secara bertahap meningkatkan latihan ruang gerak. Sebagian besar fraktur kaput humeri lainbya memerlukan pin perkuatan atau reduksi terbuka dengan fiksasi internal. Rehabilitasi luas diperlukan untuk semua fraktur humers.

Selain itu, pada fraktur kaput humeri ini, harus dilakukan terapi latihan. Terapi latihan merupakan upaya penyembuhan yang terdiri dari gerak aktif dan gerak pasif anggota gerak tubuh yang bertujuang untuk mengurangi oedema, mengurangi nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi (LGS) dan kekuatan otot serta meningkatkan kemampuan otot.

BAB IVPENUTUP

4.1 KESIMPULANIndikasi klinis pada humerus yang sering kita jumpai adalah fraktur. Fraktur adalah patah tulang, yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Untuk mengatasi indikasi klinis yang terjadi, harus dilakukan pemeriksaan rontgen terlebih dahulu agar dihasilkan foto rontgen untuk dijadikan sebagai diagnose klinis. Setiap klinis yang terjadi, mengalami pemeriksaan pada proyeksi yang berbeda-beda

4.2 SARANPenulis akan memberikan saran kepada : 1) pasien disarankan untuk melakukan terapi secara rutin, serta melakukan latihan-latihan yang telah diajarkan fisioterapis secara rutin di rumah 2) bagi fisioterapis hendaknya benar-benar melakukan tugasnya secara professional, yaitu melakukan pemeriksaan dengan teliti sehingga dapat menegakkan diagnosa, menentukan problematik, menentukan tujuan terapi yang tepat, untuk menentukan jenis modalitas fisioterapi yang tepat dan efektif buat penderita, fisioterapis hendaknya meningkatkan ilmu pengetahuan serta pemahaman terhadap hal-hal yang berhubungan dengan studi kasus karena tidak menutup kemungkinan adanya terobosan baru dalam suatu pengobatan yang membutuhkan pemahaman lebih lanjut. 3) bagi masyarakat umum untuk berhati-hati dalam melakukan aktivitas kerja yang mempunyai resiko untuk terjadinya trauma atau cidera. Disamping itu, jika telah terjadi cidera yang dicurigai terjadi patah tulang maka tindakan yang harus dilakukan adalah segera membawa pasien ke rumah sakit bukan ke alternatif misalnya sangkal putung karena dapat terjadi resiko cidera dan komplikasi yang lebih berat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Fakultas Kedoktran Universitas Indonesia. Jakarta: Binarupa Aksara. 19951. Apley AG, Solomon L. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta: Widya Medika. 1995.1. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang Lamumpatue. 2003.1. Bergman, Ronald, Ph.D. Anatomy of First Aid: A Case Study Approach. 1. Sjamsuhidajat R,Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta: EGC. 2004.1. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ketiga. Jakarta: Media Aesculapius. 2000.1. Snell, Anatomi Klinik. Bagian 2. Edisi ketiga. Jakarta: EGC. 1998

20