of 41 /41
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dalam sebuah karya sastra berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari dan bahasa pada karya ilmiah. Bahasa karya sastra merupakan hasil ide atau kreativitas pengarang yang membutuhkan pemikiran yang mendalam, sedangkan bahasa dalam kehidupan sehari-hari terjadi secara spontan atau refleks yang bersifat praktis, mudah dimengerti, dan tidak mementingkan struktur karena lebih menekankan unsur komunikatif. Bahasa pada karya ilmiah bersifat denotatif, lebih terstruktur, langsung diarahkan ke objek sasaran, menghindarkan unsur estetis, fungsi mediasi dan emosionalitas. Bahasa karya sastra mengutamakan unsur estetis, fungsi mediasi dan emosionalitas. Perbedaan tersebut tergantung dalam proses seleksi, memanipulasi, mengombinasikan kata-kata (Nyoman Kutha Ratna, 2009: 14-15). Têmbang merupakan salah satu bentuk karya sastra sebagai hasil penuangan ide atau gagasan yang dimanifestasikan ke dalam bahasa dan memiliki makna filosofis bagi kehidupan manusia. Têmbang -têmbang Jawa tersebut memiliki nilai-nilai ajaran yang adiluhung, sehingga tidak heran jika sering diabadikan dalam karya sastra yang berupa sêrat. Karya sastra yang berupa sêrat tersebut lazimnya menggunakan ragam bahasa yang berbeda dari bahasa pada umumnya. Bahasa yang digunakan dalam suatu karya sastra cenderung menggunakan ragam bahasa literer dan memiliki nilai estetik. Sêrat banyak ditemukan pilihan kata yang arkhais dan penggunaan gaya bahasa yang memiliki makna konotatif. Hal tersebut menimbulkan suatu permasalahan dalam hal penggunaan bahasa. Masalah- masalah yang timbul dalam penggunaan bahasa sangatlah kompleks, dan di setiap masalah

BAB I PENDAHULUAN - abstrak.ta.uns.ac.idabstrak.ta.uns.ac.id/wisuda/upload/C0112038_bab1.pdf · Mangkunegaran, yaitu Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Sêrat Tripama

Embed Size (px)

Text of BAB I PENDAHULUAN - abstrak.ta.uns.ac.idabstrak.ta.uns.ac.id/wisuda/upload/C0112038_bab1.pdf ·...

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Bahasa dalam sebuah karya sastra berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari dan

    bahasa pada karya ilmiah. Bahasa karya sastra merupakan hasil ide atau kreativitas pengarang yang

    membutuhkan pemikiran yang mendalam, sedangkan bahasa dalam kehidupan sehari-hari terjadi

    secara spontan atau refleks yang bersifat praktis, mudah dimengerti, dan tidak mementingkan

    struktur karena lebih menekankan unsur komunikatif. Bahasa pada karya ilmiah bersifat denotatif,

    lebih terstruktur, langsung diarahkan ke objek sasaran, menghindarkan unsur estetis, fungsi

    mediasi dan emosionalitas. Bahasa karya sastra mengutamakan unsur estetis, fungsi mediasi dan

    emosionalitas. Perbedaan tersebut tergantung dalam proses seleksi, memanipulasi,

    mengombinasikan kata-kata (Nyoman Kutha Ratna, 2009: 14-15).

    Tmbang merupakan salah satu bentuk karya sastra sebagai hasil penuangan ide atau

    gagasan yang dimanifestasikan ke dalam bahasa dan memiliki makna filosofis bagi kehidupan

    manusia. Tmbang -tmbang Jawa tersebut memiliki nilai-nilai ajaran yang adiluhung, sehingga

    tidak heran jika sering diabadikan dalam karya sastra yang berupa srat. Karya sastra yang berupa

    srat tersebut lazimnya menggunakan ragam bahasa yang berbeda dari bahasa pada umumnya.

    Bahasa yang digunakan dalam suatu karya sastra cenderung menggunakan ragam bahasa literer

    dan memiliki nilai estetik. Srat banyak ditemukan pilihan kata yang arkhais dan penggunaan gaya

    bahasa yang memiliki makna konotatif.

    Hal tersebut menimbulkan suatu permasalahan dalam hal penggunaan bahasa. Masalah-

    masalah yang timbul dalam penggunaan bahasa sangatlah kompleks, dan di setiap masalah

  • 2

    kebahasaan dapat dikaji dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini akan

    mengkaji penggunaan bahasa dalam Srat Tripama.

    Berikut adalah unsur stilistika yang ditemukan dalam tmbang Dhandhanggula Srat

    Tripama.

    (1) yogyanira kang para prajurit (ST/B1/L1) seyogyanya para prajurit

    Pada data (1) di atas terdapat asonansi/ purwakanthi guru swara atau pengulangan huruf

    vokal /a/ yang terdapat dalam kata yogyanira seyogyanya pada suku kata ketiga dari belakang

    (anteapaenultima); kang yang pada suku kata pertama; prajurit prajurit pada suku kata

    pertama. Adapun asonansi/ purwakanthi guru swara atau perulangan bunyi huruf /O/ terdapat

    dalam kata yogyanira seyogyanya pada suku kata terakhir; dan dalam kata para para pada suku

    kata pertama dan suku kata terakhir. Di samping itu, asonansi /a/ dtemukan pada kata para yaitu

    pada suku kata pertama dan suku kata terakhir (ultima). Dengan adanya asonansi/ purwakanthi

    guru swara /O/ dan /a/ tersebut membuat lirik pada contoh data (1) menjadi lebih merdu.

    (2) lir llabuhan tri prakawis (ST/B2/L1) arti jasa bakti yang tiga macam

    Pada data (2) di atas terdapat aliterasi/ purwakanthi guru sastra yang berupa konsonan /r/,

    yaitu dalam kata lir arti pada suku kata terakhir; tri tiga pada suku kata pertama; dan dalam

    kata prakawis macam pada suku kata pertama. Adanya aliterasi/ purwakanthi guru sastra

    tersebut membuat lirik tmbang menjadi lebih indah dan juga untuk mempertegas makna tmbang.

    Selain purwakanthi guru swara dan purwakanthi guru sastra juga ditemukan purwakanthi

    lumaksita atau purwakanthi basa. Adapun contoh penggunan data yang mengandung purwakanthi

    umaksita sebagai berikut.

    (3) guna bisa saniskarng karya (ST/B2/L2)

  • 3

    memiliki kepandaian dan kemampuan dalam segala pekerjaan

    Data (3) menunjukkan adanya pemanfaatan purwakanthi lumaksita yang berupa

    perulangan suku kata kar pada kata saniskarng dalam segala dan pada kata karya pekerjaan.

    Perulangan suku kata kar pada kedua kata tersebut memberikan kesan estetis dalam pelafalannya,

    sehingga kedua kata tersebut terasa merdu.

    Srat Tripama merupakan karya sastra yang diciptakan oleh salah satu raja pujangga

    Mangkunegaran, yaitu Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Srat Tripama

    berisi tentang ajaran keprajuritan yang ditujukan bagi prajurit Mangkunegaran pada masa itu. Srat

    tersebut berbentuk tmbang Dhandhanggula yang berjumlah tujuh bait. Karena bentuk Srat

    Tripama berupa tmbang, maka menjadi suatu kelaziman jika bahasa yang digunakan adalah

    bahasa yang mengandung ragam bahasa literer dan tidak mudah dipahami oleh orang awam pada

    umumnya. Pernyataan tersebut diperkuat dengan adanya pemanfaatan aspek penanda morfologis

    ragam literer, pemanfaatan diksi, dan pemanfaatan gaya bahasa yang digunakan dalam Srat

    Tripama.

    Pemanfaatan aspek penanda morfologis ragam literer berupa penambahan imbuhan yang

    meliputi prefiks, sufiks, infiks, sufiks, dan simulfiks. Kesan arkhais dan indah karena adanya diksi

    yang meliputi sinonimi, antonimi, protesis, tmbung plutan, tmbung garba, tmbung camboran,

    tmbung saroja, dan penggunaan bahasa Jawa Kuna/ Sanskerta. Berikut akan diuraikan beberapa

    contoh pemanfaatan diksi dalam Srat Tripama.

    (4) yogyanira kang para prajurit (ST/B1/L1) seyogyanya para prajurit

    Data (4) menunjukkan pemanfaatan aspek penanda morfologis yang berupa akhiran atau

    sufiks {-ira}. Pemanfaatan sufiks {-ira} tersebut masih termasuk rumpun bahasa Jawa Kuna,

    sehingga kata yang dilekati sufiks tersebut terkesan lebih arkhais.

  • 4

    (5) binudi dadi unggul (ST/B2/L3) diusahakan menjadi yang unggul

    Imbuhan yang berupa infiks {-in-} pada kata binudi diusahakan merupakan salah satu

    contoh pemanfaatan aspek penanda morfologis ragam literer. Infiks {-in-} pada konteks data (5)

    di atas terasa lebih indah dibandingkan dengan afiks lain yang berarti sama, misalnya prefiks {di-

    }.

    (6) tur iku warna diyu (ST/B3/L4) meskipun itu berwujud raksasa

    Data (6) menunjukkan adanya diksi yang berupa pemanfaatan bahasa Jawa Kuna atau

    bahasa Sanskerta. Kata diyu raksasa merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa Kuna yang

    berarti raksasa. Pemilihan kata diyu dalam konteks kalimat tersebut menjadikan tuturan lebih

    arkhais, sehingga menimbulkan kesan keindahan.

    (7) katri mangka sudarsanng Jawi (ST/B7/L1) ketiganya merupakan teladan bagi orang Jawa

    Kata sudarsanng teladan bagi pada data (7) di atas merupakan diksi yang berupa

    tmbung garba, yaitu gabungan dua kata yang mengalami persandian di dalamnya. Kata

    sudarsanng teladan bagi berasal dari kata sudarsana teladan dan kata ing di. Pertemuan

    vokal /O/ pada akhir kata sudarsana dengan vokal /i/ pada awal kata ing di menjadikan kedua

    kata tersebut mengalami persandian, sehingga menjadi vokal //. Adanya pemanfaatan tmbung

    garba tersebut berfungsi untuk menjadikan tuturan lebih indah, dan juga untuk memenuhi

    konvensi tembang yang berupa jumlah guru wilangan pada setiap barisnya.

    Selain pemanfaatan bunyi bahasa dan pemanfaatan aspek penanda morfologis serta diksi,

    dalam penelitian ini juga ditemukan adanya pemanfaatan gaya bahasa. Aspek gaya bahasa dalam

    Srat Tripama meliputi gaya bahasa simile, epilet, anastrof, eponim, hiperbola, metonimia, dan

  • 5

    inuendo. Pemanfaatan gaya bahasa dalam Srat Tripama betujuan untuk memberikan kesan yang

    tidak lazim atau arkhais sehingga bahasa yang digunakan di dalamnya tidak monoton dan memiliki

    fungsi keestetisan suatu tembang. Adapun contoh penggunaan gaya bahasa dalam Srat Tripama

    adalah sebagai berikut.

    (8) duk bantu prang Manggada nagri (ST/B2/L5) ketika berperag membantu negeri Manggada

    Frasa Manggada nagri negeri Manggada pada data di atas merupakan salah satu contoh

    pemanfaatan gaya bahasa yang berupa gaya bahasa anastrof. Gaya bahasa anastrof merupakan

    pemanfaatan gaya bahasa dengan cara pembalikan susunan kata. Pembalikan kata Manggada

    nagri negeri Manggada seperti yang ditunjukkan oleh data (8) bertujuan untuk memenuhi

    konvensi sastra yang berupa jatuhnya guru lagu /i/ pada tmbang dhandhanggula, yakni di akhir

    kalimat pada baris ke lima.

    Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan mengkaji Srat Tripama dengan kajian stilistika.

    Alasan pemilihan topik penelitian ini yaitu peneliti ingin mengetahui dan mengkaji: (1) aspek-

    aspek penanda bunyi yang terkait dengan fungsi purwakanthi guru swara, purwakanthi guru

    sastra, dan purwakanthi lumaksita (2) aspek penanda morfologis literer dan diksi yang arkhais,

    dan (3) aspek pemanfaatan gaya bahasa yang berkaitan dengan keprajuritan dalam Srat Tripama

    Karya KGPAA Mangkunegara IV. Dari berbagai pemanfaatan aspek bunyi yang bervariasi,

    penanda morfologis literer dan diksi yang arkhais, serta gaya bahasa yang relevan dengan dunia

    keprajuritan dalam Srat Tripama Karya KGPAA Mangkunegara IV tersebut, adapun penelitian

    sejenis sebagai berikut:

    1. Srat Piwulang Warni-Warni Karya Mangkunegara IV, skripsi oleh Priyanto, Fakultas Sastra

    dan Seni Rupa, UNS (2007). Penelitian tersebut mengkaji tentang aspek-aspek pemanfaatan

  • 6

    bunyi bahasa, pemilihan kata, dan penggunaan gaya bahasa. Sumber datanya berupa Srat

    Paliatma, Srat Paliwara, dan Srat Yogatama.

    Srat Piwulang Warni-Warni dan Srat Tripama merupakan karya Mangkunegara IV,

    sehingga akan dapat diketahui adanya kesamaan gaya bahasa atau ciri khas pengarang.

    2. Kajian Stilistika Lirik Lagu Bahasa Jawa Karya Sujiwo Tedjo, skripsi oleh Dewi Arum Sari,

    Fakultas Sastra dan Seni Rupa, UNS (2011). Penelitian tersebut mengkaji tentang aspek-aspek

    penanda bunyi, pilihan diksi, gaya bahasa, dan aspek pencitraan dalam lirik lagu berbahasa

    Jawa modern karya Sujiwo Tedjo.

    Penelitian ini sebagai referensi dalam hal penganalisisan aspek-aspek pemanfaatan bunyi

    bahasa, diksi, dan gaya bahasanya.

    3. Kajian Stilistika Antologi Geguritan Puser Bumi Karya Gampang Prawoto, skripsi oleh Dewi

    Untari, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, UNS (2014). Penelitian tersebut mengkaji tentang

    aspek-aspek pemanfaatan bunyi bahasa, pilihan diksi, pemanfaatan gaya bahasa, dan aspek

    pencitraan dalam antologi geguritan Puser Bumi karya Gampang Prawoto yang sebagian besar

    berbahasa Jawa modern dan disisipi bahasa Indonesia serta bahasa Jawa Kuna.

    Penelitian Dewi Untari dijadikan sebagai referensi dalam penganalisisan aspek-aspek

    pemanfaatan bunyi bahasa, pilihan kata, dan gaya bahasanya.

    4. Stilistika Syiir Berbahasa Jawa Bait Pengajian Akbar Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir

    Assegaf, skripsi oleh Erlyna Puspitasari, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, UNS (2014).

    Penelitian tersebut mengkaji tentang aspek-aspek bunyi, pemilihan diksi, penggunaan bahasa,

    dan aspek pencitraan dalam syiir berbahasa Jawa pada pengajian akbar bersama Habib Syech

    bin Abdul Qodir Assegaf.

  • 7

    Kajian ini sebagai referensi penentuan metode penelitian dan dalam aspek-aspek penanda

    bunyi bahasa, pemilihan kata, dan penggunaan gaya bahasa atau majas.

    Perbedaan penelitian (1) Srat Piwulang Warni-Warni Karya Mangkunegara IV, (2)

    Kajian Stilistika Lirik Lagu Bahasa Jawa Karya Sujiwo Tedjo, (3) Kajian Stilistika Antologi

    Geguritan Puser Bumi Karya Gampang Prawoto, dan (4) Stilistika Syiir Berbahasa Jawa Bait

    Pengajian Akbar Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf tersebut dengan penelitian ini

    adalah adanya pemilihan kata-kata arkhais yang berfokus dalam hal keprajuritan. Kata-kata

    arkhais yang termasuk dalam keprajuritan tersebut misalnya: prajurit, satriya, jurit, aprang,

    tandhing, jinmparing, dan prawira yang digambarkan melalui tiga tokoh pewayangan yaitu Patih

    Suwanda, Kumbakarna, dan Adipati Karna.

    B. Pembatasan Masalah

    Dalam sebuah penelitian, perlu adanya pembatasan permasalahan dengan tujuan agar

    permasalahan yang dikaji tidak meluas.

    Dalam penelitian ini, pengkajian masalah dibatasi pada aspek pemanfaatan aspek-aspek

    bunyi bahasa, penanda morfologis dan diksi, serta penggunaan gaya bahasa dalam Srat Tripama

    Karya KGPAA Mangkunegara IV.

    C. Perumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah

    sebagai berikut:

    1. Bagaimanakah pemanfaatan aspek-aspek bunyi bahasa dalam Srat Tripama Karya KGPAA

    Mangkunegara IV?

  • 8

    (Permasalahan ini dikaji untuk mendeskripiskan ritme persajakan yang berupa purwakanthi

    guru swara (asonansi), purwakanthi guru sastra (aliterasi), dan purwakanthi lumaksita dalam

    Srat Tripama).

    2. Bagaimanakah aspek penanda morfologis dan diksi dalam Srat Tripama Karya KGPAA

    Mangkunegara IV?

    (Permasalahan ini dikaji untuk mendeskripsikan aspek penanda morfologis ragam literer yang

    berupa penggunaan prefiks, sufiks, infiks, konfiks, dan simulfiks. Permasalahan ini juga dikaji

    untuk mendeskripsikan diksi yang berupa sinonimi, antonimi, protesis, tmbung plutan,

    tmbung garba, tmbung camboran, tmbung saroja, penggunaan bahasa Jawa krama dan

    penggunaan bahasa Sanskerta dalam Srat Tripama).

    3. Bagaimanakah penggunaan gaya bahasa dalam Srat Tripama Karya KGPAA Mangkunegara

    IV?

    D. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

    1. Mendeskripsikan pemanfaatan aspek-aspek bunyi bahasa dalam Srat Tripama Karya

    KGPAA Mangkunegara IV.

    2. Mendeskripsikan aspek morfologis dan diksi dalam Srat Tripama Karya KGPAA

    Mangkunegara IV.

    3. Mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa dalam Srat Tripama Karya KGPAA

    Mangkunegara IV.

    E. Manfaat Penelitian

    Manfaat penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu manfaat penelitian teoretis dan

    manfaat penelitian praktis.

  • 9

    1. Manfaat Teoretis

    Manfaat teoretis dari penelitian ini diharapkan berguna bagi pengembangan teori stilistika,

    terutama yang berkaitan dengan kajian stilistika tmbang Jawa. Penelitian ini diharapkan juga

    mampu memperkuat teori stilistika yang sudah ada.

    2. Manfaat Praktis

    Manfaat praktis dari penelitian ini:

    1. Untuk menambah hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang stilistika tmbang-

    tmbang Jawa.

    2. Untuk menambah materi ajar yang ada kaitannya dengan bidang stilistika, terutama

    dalam tmbang-tmbang Jawa.

    3. Sebagai model penelitian stilistika berikutnya.

  • 10

    F. LANDASAN TEORI

    1. Pengertian Stilistika

    Panuti Sudjiman dalam bukunya yang berjudul Bunga Rampai Stilistika (1993),

    menjelaskan bahwa makna dari stilistika yaitu mengkaji ciri khas penggunaan bahasa dalam

    wacana sastra. Secara singkat stilistika mengkaji fungsi puitika suatu bahasa. Menurut Sudjiman,

    stilistika menjembatani analisis bahasa dan sastra (dalam Nyoman Kutha Ratna, 2009: 42).

    Stilistika berkaitan dengan medium utama, yaitu bahasa, keindahan berkaitan dengan hasil akhir

    dari kemampuan medium itu sendiri dalam menampilkan kekhasannya (Nyoman Kutha Ratna,

    2009: 253). Stilistika sebagai ilmu pengetahuan mengenai gaya bahasa, maka sumber

    penelitiannya adalah semua jenis komunikasi yang menggunakan bahasa, baik lisan maupun

    tulisan (Nyoman Kutha Ratna, 2009: 13).

    Stilistika adalah ilmu tentang gaya (style). Gaya (style) adalah cara penggunaan sistem

    tanda yang mengandung ide, gagasan, dan nilai keindahan tertentu (Aminuddin, 1995: 31 dalam

    Untari, 2014: 11). Gaya tersebut menjadi ciri khas pengarang dalam menciptakan karangannya.

    Sutejo (2010: 4-5 dalam Puspitasari: 11) style merupakan gaya bahasa termasuk di dalamnya

    pilihan gaya pengekspresian seorang pengarang untuk menuangkan sesuatu yang dimaksudkan

    yang bersifat individu atau kolektif. Kasnadi dan Sutejo (2010: 82 dalam Puspitasari: 12)

    mengelompokkan fokus perhatian teori stilistika pada bunyi, kata, kalimat yang digunakan oleh

    pengarang dalam menciptakan karya sastra. Bunyi-bunyi dalam karya sastra meliputi pola rima

    dan irama, kata meliputi pemilihan kata atau diksi, sedangkan kalimat meliputi kalimat pendek,

    kalimat yang kompleks, kalimat pasif, kalimat aktif, kalimat interogatif, kalimat yang ritmis dan

    puitis.

  • 11

    Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa

    definisi stilistika ialah kekhasan penggunaan bahasa oleh seseorang dalam menciptakan suatu

    karya sastra, sehingga dapat menjadi karya yang indah dan unik karena setiap pengarang memiliki

    ciri khas tersendiri.

    Dalam penelitian ini, penulis cenderung mengacu pada teori yang disampaikan oleh Panuti

    Sudjiman dan teori yang disampaikan oleh Kasnadi serta Sutejo. Hal itu dikarenakan teori yang

    dikemukakan oleh ketiga ahli tersebut relevan dengan penelitian stilistika dalam Srat Tripama

    ini. Penelitian yang berjudul Kajian Stilistika dalam Srat Tripama Karya KGPAA Mangkunegara

    IV ini menganalisis tentang aspek-aspek bunyi bahasa (meliputi pola rima dan irama), aspek-aspek

    penanda morfologi dan diksi, serta satuan lingual yang mengandung gaya bahasa yang puitis.

    2. Pengertian Tmbang

    Tmbang adalah suatu karya sastra menyerupai syair atau puisi (geguritan) yang berirama

    dan kata-kata yang digunakan lazimnya memiliki nilai keindahan. Dalam hal ini, tmbang juga

    memiliki makna filosofis yang kuat sebagai simbol pengingat bagi berbagai segi kehidupan

    manusia. Istilah tmbang biasanya sering dikaitkan dengan budaya Jawa.

    Dalam Ngngrngan Kasusastran Djawa I (Padmosoekotjo, 1955: 12-14) dijelaskan

    bahwa tmbang macapat juga disebut sebagai tmbang cilik yang terdiri dari 9 macam. Masing-

    masing tmbang memiliki konvensi atau aturan, yang antara satu dengan lainnya tidak sama.

    Penelitian ini membahas tentang tmbang macapat Dhandhanggula bait 1-7 yang terdapat dalam

    Srat Tripama. Tmbang Dhandhanggula terdiri dari 10 gatra (baris). Masing-masing gatra atau

    baris memiliki guru lagu (bunyi vokal di setiap akhir baris) dan guru wilangan (jumlah suku kata

    tiap baris) yang berbeda. Jumlah guru lagu dan guru wilangan pada tmbang Dhandhanggula

    mulai dari baris pertama sampai baris ke sepuluh akan dijelaskan sebagai berikut:

  • 12

    1. Baris pertama terdiri dari 10 suku kata dengan bunyi vokal terakhir berbunyi i

    2. Baris kedua terdiri dari 10 suku kata dengan bunyi vokal terakhir berbunyi a

    3. Baris ketiga terdiri dari 8 suku kata dengan bunyi vokal terakhir berbunyi

    4. Baris keempat terdiri dari 7 suku kata dengan bunyi vokal terakhir u

    5. Baris kelima terdiri dari 9 suku kata dengan bunyi vokal terakhir i

    6. Baris keenam terdiri dari 7 suku kata dengan bunyi vokal terakhir a

    7. Baris ketujuh terdiri dari 6 suku kata dengan bunyi vokal terakhir u

    8. Baris kedelapan terdiri dari 8 suku kata dengan bunyi vokal terakhir a

    9. Baris kesembilan terdiri dari 12 suku kata dengan bunyi vokal terkahir i

    10. Baris kesepuluh terdiri dari 7 suku kata dengan bunyi vokal terkahir a

    Menurut Padmoesoekotjo (1955: 13), ananggula awatak: luwes, rsp. Tumrap ing

    tjarita kang ngmu surasa kepriy ba bisa mauk, pantjn luwsan. Kanggo ing bbuka prajoga,

    kanggo mearak piwulang ja kna, kanggo tjarita kang isi gandrung-gandrungan uga kna,

    kanggo panutuping karangan ja lumrah dhandhanggula berwatak: fleksibel, menyenangkan. Di

    dalam cerita yang berisi apa saja bisa cocok, memang fleksibel. Untuk pembukaan juga baik, untuk

    memaparkan pelajaran juga bisa, untuk cerita yang berisi tentang percintaan juga bisa, untuk

    penutupan karangan juga suatu hal yang lazim.

    3. Pengertian Srat Tripama

    Srat Tripama merupakan suatu karya sastra karya KGPAA Mangkunegara IV yang

    bertahta sebagai raja pada tahun 1809-1881 di Pura Mangkunegaran Surakarta. Srat Tripama

    berbentuk tmbang Dhandhanggula sebanyak tujuh bait yang mengisahkan keteladanan tiga

    prajurit Pura Mangkunegaran, yaitu Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarna, dan

    Suryaputra (Adipati Karna).

  • 13

    Kisah Patih Suwanda terdapat dalam bait satu dan dua. Patih Suwanda memiliki nama kecil

    Bambang Sumantri. Ia adalah putra dari pendeta Suwandahagni, salah seorang pendeta yang

    sangat tekun bertapa. Sejak kecil, Bambang Sumantri sudah diajarkan berbagai ilmu tentang

    kesaktian. Setelah beranjak dewasa, Bambang Sumantri mengabdikan dirinya sebagai prajurit

    kepada Harjunasasrabahu di Maespati. Ia dikenal sebagai prajurit yang gagah berani dan memiliki

    kesetiaan serta tanggung jawab yang besar terhadap Harjunasasrabahu. Hal itu dibuktikan dengan

    kerelaan untuk mengorbankan nyawanya ketika ia berperang melawan Dasamuka, hingga pada

    akhirnya ia gugur di medan perang.

    Kisah Kumbakarna terdapat dalam bait tiga dan empat. Di dalam bait tersebut dikisahkan

    bahwa Kumbakarna yang berwujud sebagai raksasa juga ingin mencapai keutamaan. Ia adalah

    adik dari Dasamuka. Meskipun bertubuh raksasa, tetapi jiwanya tidak seburuk raganya. Raden

    Kumbakarna memiliki sifat-sifat cinta tanah air dan watak ksatria. Kumbakarna rela

    mempertaruhkan jiwa raganya dan berperang melawan prajurit kera, semata-mata demi

    menjalankan kewajibannya sebagai ksatria dan warga negara.

    Kisah Suryaputra atau Adipati Karna terdapat dalam bait lima dan enam. Raden Suryaputra

    adalah seorang adipati di Ngawangga, yang masih memiliki hubungan saudara seibu lain ayah

    dengan Pandhawa. Sejak lahir hingga dewasa, Suryaputra tidak hidup dan tinggal bersama

    Pandhawa. Ia diasuh oleh kusir Adirata. Ketika beranjak dewasa, Suryaputra diangkat menjadi

    adipati oleh raja Ngastina, yaitu Prabu Duryudana. Menjelang perang Bharatayuda, Karna dibujuk

    oleh ibunya agar berperang di pihak Pandhawa. Namun, Karna bersikukuh bahwa walaupun

    Pandhawa masih saudaranya dan berada di pihak yang benar, tetapi sebagai ksatria ia harus

    membela raja yang telah mengangkat derajatnya. Karna ingin membalas budi kepada Prabu

  • 14

    Duryudana, sehingga ia rela berjuang di medan perang untuk melawan saudaranya sendiri. Hingga

    akhirnya, Karna gugur akibat terkena panah Raden Arjuna.

    Bait ketujuh merupakan kesimpulan dari keteladanan tiga tokoh tersebut. Ketiga tokoh

    tersebut adalah teladan bagi orang Jawa. KGPAA Mangkunegara IV berpesan agar kita

    meneladani apa yang telah dicontohkan ketiganya. Secara ringkas, ajaran yang dapat dicontoh dari

    Patih Suwanda adalah keutamaan tri prakaranya, yaitu guna, kaya, lan purun, kepandaian,

    kecukupan, dan keberaniannya. Adapun keteladanan yang dapat dicontoh dari sosok Kumbakarna

    adalah sikap setia mengabdi kepada negara. Keteladanan yang dapat dipetik dan dijadikan contoh

    dari Adipati Karna adalah berani mengorbankan segala-galanya demi mempertahankan loyalitas

    dan komitmen walaupun ia sadar sepenuhnya bahwa yang ia bela berada di pihak yang salah

    (Jatmiko, 2012: 217-225).

    4. Pengertian Aspek Bunyi

    Pemanfaatan aspek bunyi meliputi purwakanthi swara (asonansi), purwakanthi sastra

    (aliterasi), dan purwakanthi lumaksita. Purwakanthi secara etimologis berasal dari kata purwa dan

    kanthi. Purwa atgs wiwitan, kanthi atgs ganng, kanca, nganggo, migunakak. Purwakanthi

    yaiku prangan kang buri ngganng kang wis kasbut ana ing prangan ngarp. Wondn sing

    diganng iku swarane utawa aksaran tarkaang tmbung kata purwa berarti permulaan dan

    kanthi berarti merangkai, teman, menggunakan. Purwakanthi yaitu bagian yang belakang

    merangkai yang sudah disebutkan di bagian awal atau depan, atau yang sudah disebutkan di bagian

    depan. Adapun yang dirangkai itu vokalnya, konsonannya, atau katanya (S. Padmosoekotjo,

    1955: 118).

    Adapun penjelasannya sebagai berikut:

    a. Purwakanthi Swara (Asonansi)

  • 15

    Purwakanthi swara tgs purwakanthi kang awwaton utawa paugran swara sabab sing

    dikanthi utawa sing diganng swara purwakanthi swara artinya purwakanthi yang berdasarkan

    persaman bunyi vokal, sebab yang digunakan atau yang dirangkai adalah bunyi vokalnya (S.

    Padmosoekotjo, 1955: 118). Secara singkat, purwakanthi swara adalah perulangan bunyi vokal

    yang sama. Contoh:

    (9) Suwanda mati ngrana (ST/B2/L10) (Patih) Suwanda gugur dalam peperangan

    Data (9) terjadi perulangan bunyi a jjg /O/ tertutup konsonan /n/ pada kata Suwanda di

    suku kata kedua dari belakang (panultima), dan perulangan bunyi a jjg /O/ terbuka di suku kata

    terakhir (ultima); pada kata ngrana terjadi pada suku kata pertama dan suku kata terakhir (ultima)

    terjadi perulangan bunyi a jjg /O/ terbuka. Adanya asonansi a jjg /O/ di atas untuk

    memperindah bunyi sekaligus untuk mempertegas arti dalam rangkaian kata tersebut. Adapun

    perulangan bunyi a miring /a/ terdapat dalam contoh:

    (10) aprang tandhing lan sang Dananjaya (ST/B6/ L2) perang bertanding melawan Sang Dananjaya

    Data (10) menunjukkan adanya perulangan bunyi a miring /a/ terbuka pada kata aprang

    dan Dananjaya yang kesemuanya berealisasi di suku kata pertama. Dalam kata tandhing, kata lan,

    dan kata sang, perulangan bunyi /a/ tertutup konsonan /n/ dan konsonan /G/ terdapat di suku kata

    pertama. Kata Dananjaya mengalami perulangan bunyi /a/ tertutup konsonan /n/ pada suku kata

    ketiga dari belakang (antpanultima). Adanya perulangan bunyi atau asonansi a miring /a/

    tersebut menimbulkan bunyi khusus sehingga menimbulkan pola yang indah dalam tmbang. Dari

    data tersebut juga diketahui bahwa dominasi letak asonansi a miring /a/ terdapat di awal dan tengah

    kata.

  • 16

    Selain asonansi a jjg /O/ dan a miring /a/, ada pula asonansi yang berupa i jjg /i/; dan

    u jjg /u/. Adapun data-data yang mengandung memanfaatkan asonansi-asonansi tersebut adalah

    sebagai berikut.

    Data yang mengandung asonansi i jjg /i/:

    (11) binudi dadi unggul (ST/B2/ L3) diusahakan menjadi yang unggul

    Data tersebut menunjukkan adanya asonansi i jjg /i/ yang terdapat dalam kata binudi

    pada suku kata pertama dan suku kata terakhir (ultima); dalam kata dadi pada suku kata terakhir

    (ultima). Adanya asonansi i jjg /i/ tersebut membuat pola ritmis berbunyi di akhir kata binudi

    dan dadi. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa distribusi asonansi i jjg /i/ terletak di tengah

    dan di akhir kata.

    Data yang mengandung u jjg /u/:

    (12) guna kaya purun kang dnantpi (ST/B1/L9) pandai dan berani itulah yang ditekuninya

    Asonansi u jjg /u/ terdapat dalam kata guna pandai pada suku kata pertama; dan dalam

    kata purun keberaniannya pada suku kata pertama dan suku kata kedua dari belakang

    (panultima). Timbulnya asonansi u miring /u/ pada panultima dalam kata purun

    keberaniannya terjadi karena adanya akhiran (sufiks) , sehingga kata purUn berani yang

    semula vokal u miring /u/ menjadi purun keberaniannya u jjg /u/. Adanya asonansi u jjg

    /u/ tersebut juga untuk memberikan kesan estetis pada kalimat dengan memunculkan irama /u/

    yang berdistribusi di tengah kata.

    b. Purwakanthi Sastra (Aliterasi)

    Purwakanthi sastra tgs purwakanthi kang awwaton utawa paugran sastra utawa

    aksara, sabab sing dikanthi utawa sing diganng sastra utawa aksara purwakanthi sastra

  • 17

    artinya purwakanthi yang berdasarkan persamaan sastra atau konsonan, sebab yang digunakan

    atau yang dirangkai adalah sastra atau konsonan (S. Padmosoekotjo, 1955: 18). Purwakanthi

    sastra atau aliterasi adalah bentuk perulangan konsonan yang sama. Contoh:

    (13) mring raka amrih raharja (ST/B3/L8) kepada kakandanya agar selamat

    Pada data di atas terjadi perulangan konsonan /r/, yaitu dalam kata mring kepada terjadi

    pada suku kata pertama; pada kata raka kakak terjadi pada suku kata pertama; pada kata amrih

    agar terjadi pada suku kata kedua; dan pada kata raharja selamat terjadi pada suku kata pertama

    dan kedua. Perulangan konsonan /r/ yang berdistribusi di awal yaitu kata raka kakak dan kata

    raharja selamat; aliterasi /r/ yang berdistribusi di tengah yaitu kata mring kepada; amrih agar

    dan kata raharja selamat. Adanya aliterasi /r/ untuk mempertegas maksud dari kalimat tersebut

    dan untuk menambah nilai estetik dalam kalimat itu.

  • 18

    c. Purwakanthi Lumaksita

    Purwakanthi lumaksita disebut juga purwakanthi basa,, yaitu pengulangan satuan lingual

    yang berupa suku kata, kata, frasa, klausa atau kalimat pada satuan lingual berikutnya. Contoh:

    (14) d mung mungsuh wanara (ST/B3/L10) karena hanya melawan barisan kera

    Data tersebut menunjukkan adanya purwakanthi lumaksita yaitu berupa perulangan kata

    mung hanya dan suku kata mungsuh musuh. Suku kata mung dan kata mungsuh pada dasarnya

    tidak memiliki keterkaitan makna, namun memunculkan adanya unsur keindahan yang berupa

    perulangan suku kata mung. Selain memunculkan kesan keindahan, perulangan suku kata mung

    tersebut juga berfungsi untuk mempertegas makna bahwa yang akan dilawan Patih Suwanda

    hanyalah barisan kera.

    5. Pengertian Aspek Penanda Morfologis

    Aspek penanda morfologis dalam Srat Tripama termasuk ke dalam ragam bahasa literer,

    yakni yang berupa afiksasi dan reduplikasi. Berikut uraian lengkapnya.

    a. Afiksasi

    Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan mengimbuhkan afiks

    (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Afiks merupakan

    bentuk (Richards, 1992). Kridalaksana (1993) berpendapat bahwa afiks adalah bentuk terikat yang

    apabila ditambahkan ke bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya. Afiksasi yang terdapat

    dalam data meliputi prefiks, sufiks, infiks, konfiks, dan simulfiks. Berikut contoh afiksasi dalam

    data.

    1. Prefiks

    Prefiks adalah imbuhan di depan kata dasar yang penulisannya disambung dengan kata

    dasarnya. Dalam bahasa Jawa, prefiks disebut dengan atr-atr. Menurut Sry Satriya Tjatur Wisnu

  • 19

    Sasangka (2011: 41), atr-atr dalam bahasa Jawa yang meliputi unsur literer adalah sebagai

    berikut:

    1.1. Atr-atr Pi-

    Ater-ater pi- bisa ndhapuk tmbung lingga dadi tmbung aran lan duwe tgs sing di-

    - ak prefiks pi- bisa berperan sebagai kata dasar menjadi kata benda dan memiliki arti

    yang di- (kata dasar) -kan (Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka, 2011: 54).

    (15) dn sira pikantuk (ST/B6/L4) dengan demikian yang didapatkan

    pikantuk => pi + antuk

    Kata pikantuk yang didapatkan memiliki kata dasar antuk dapat yang memperoleh

    afiksasi berupa prefiks pi, sehingga kata antuk dapat yang berupa kata dasar menjadi kata benda.

    Hadirnya konsonan k pada kata pikantuk berfungsi sebagai cluster atau pelancar.

    1.2. Atr-atr Pra-

    Tmbung lingga atau kata dasar yang menapat atr-atr sa-, pa-, pi-, pra-, tar-, dan ka-

    termasuk salah satu jenis tmbung aran atau kata benda, kecuali yang berawalan tra (tar-). Data

    yang menunjukkan adanya prefiks atau atr-atr pra- adalah sebagai berikut.

    (16) yogyanira kang para prajurit (ST/B1/L1) seyogyanya para prajurit

    prajurit => pra + jurit

    Kata prajurit menurut Baoesastra Djawa memiliki arti wong kang maju prang orang

    yang maju berperang. Kata dasarnya jurit perang, dan mendapatkan imbuhan berupa awalan

    atau prefiks pra-. Kata jurit perang berkelas kata sebagai kata kerja atau verba. Setelah

    mendapatkan imbuhan pra-, kata jurit perang berubah menjadi kata prajurit orang yang maju

  • 20

    berperang yang berkelas kata sebagai kata benda atau nomina. Prefiks pra- berfungsi mengubah

    kata kerja (verba) menjadi kata benda (nomina).

    2. Sufiks

    Sufiks adalah imbuhan yang diletakkan di bagian akhir suatu kata dasar. Dalam morfologi

    bahasa Jawa, sufiks disebut panambang. Sufiks atau panambang yang terdapat pada data:

    2.1. Panambang {-ipun}

    Panambang -ipun bisa ndhapuk sawijining tembung dadi tmbung aran (nomina). Yn ing

    basa krama panambang iku malih dadi -ipun. Panulise panambang kasbut kudu kasambung.

    Tmbung lingga kang pungkasane awujud vokal lan dipanambangi ipun, panambang ipun bakal

    malih dadi nipun. sufiks ipun yang bisa berperan sebagai salah satu kata menjadi kata benda

    (nomina). Jika dalam bahasa krama sufiks itu berubah menjadi ipun. Penulisan sufiks tersebut

    harus dirangkai. Kata dasar yang akhirannya berupa vokal dan diberi sufik -ipun, sufiks ipun

    tersebut akan menjadi nipun (Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka, 2011: 65).

    Adapun data yang menunjukkan adanya sufiks ipun sebagai berikut:

    (17) llabuhanipun (ST/B1/L7) jasa-jasanya

    llabuhanipun => llabuhan + ipun

    Kata llabuhanipun berasal dari kata dasar labuh jasa yang mengalami perulangan dwi

    purwa menjadi lalabuh jasa dan mendapatkan sufiks ipun. Sufiks ipun dipilih karena imbuhan

    tersebut mengacu kepada Patih Suwanda, sehingga terkesan lebih halus dan sopan.

    2.2. Sufiks atau Panambang {-ira}

    Sufiks atau panambang {ira-} merupakan imbuhan yang terletak di sebelah kanan atau di

    akhir kata dasar. Sufiks {ira-} tersebut sama dengan sufiks {-/-n}, yaitu sebagai kata ganti orang

  • 21

    ketiga. Kata dasar yang berakhiran vokal jika diberi imbuhan sufiks {-ira} maka penulisannya

    menjadi {-nira}, sedangkan kata dasar yang berakhiran konsonan jika diberi imbuhan sufiks {-

    ira} tidak mengalami perubahan penulisan.

    (18) yogyanira kang para prajurit (ST/B1/L1) seyogyanya para prajurit

    yogya + ira => yogyanira

    Kata yogyanira seyogyanya berasal dari kata dasar yogya yogya yang mengalami proses

    afiksasi berupa sufiks ira. Kata yogya merupakan kata dasar yang berakhiran dengan huruf vokal,

    sehingga imbuhan berupa sufiks ira akan berubah menjadi nira. Munculnya konsonan /n/ pada

    kata yogyanira seyogyanya berfungsi sebagai cluster atau pelancar bunyi. Pemilihan kata

    yogyanira seyogyanya sebagai suatu harapan kepada para prajurit dinilai lebih arkhais

    dibandingkan dengan lain yang memiliki makna yang sama, misalnya kata sayogyan

    seyogyanya.

    2.3. Sufiks atau Panambang {-ing}

    Sufiks atau panambang {ing-} merupakan imbuhan yang terletak di sebelah kanan atau di

    akhir kata dasar. Sufiks {ing-} tersebut sama dengan sufiks {-} namun termasuk dalam kata yang

    arkhais dan hanya digunakan dalam karya sastra. Kata dasar yang berakhiran vokal jika diberi

    imbuhan sufiks {-ing} maka penulisannya menjadi {-ning}, sedangkan kata dasar yang berakhiran

    konsonan jika diberi imbuhan sufiks {-ing} tidak mengalami perubahan penulisan.

    (19) manggala golonganing prang (ST/B5/L8) yang tergolong panglima di dalam perang

    golonganing => golongan + ing

    Kata golonganing tergolong berasal dari kata dasar golongan golongan yang

    mengalami proses afiksasi berupa sufiks {-ing}, menjadi golonganing tergolong. Kata golongan

  • 22

    merupakan kata dasar yang tertutup konsonan /n/ di akhir katanya, sehingga imbuhan berupa sufiks

    {-ing} tidak mengalami perubahan menjadi {-ning}. Sufiks {-ing} pada kata golonganing

    tergolong membentuk frasa benda. Pemilihan kata golonganing tergolong lebih menonjolkan

    aspek keindahan jika dibandingkan dengan kata golongan tergolong yang memiliki makna

    sama.

    2.4. Sufiks atau Panambang {-nta}

    Sufiks atau panambang {-nta} berarti para para. Sufiks atau panambang {-nta} lazimnya

    terdapat dalam bahasa pedhalangan yang berfungsi sebagai sarana pengakraban dalam pergaulan.

    Pada tmbang Dhandhanggula ditemukan data yang menunjukkan adanya penggunaan sufiks atau

    panambang {-nta} yakni sebagai berikut.

    (20) marmanta kalangkung (ST/B6/L7) maka ia dengan rasa belas kasihnya

    marmanta => marma + nta

    Kata marma berarti belas kasih mendapatkan imbuhan berupa sufiks atau panambang {-

    nta} menjadi marmanta belas kasihnya. Penggunaan sufiks {-nta} memang sudah sangat jarang

    ditemui, karena sufiks {-nta} merupakan ragam bahasa kuna yang arkhais. Adanya penggunaan

    sufiks {-nta} dalam data dikarenakan Srat Tripama mengisahkan tiga tokoh pewayangan yang

    digambarkan sebagai prajurit teladan, sehingga hal ini sangat erat kaitannya dengan penggunaan

    bahasa dalam sebuah pementasan wayang yang menggunakan ragam bahasa pedhalangan.

    Sufiks atau panambang {-nta} dalam data tersebut juga mempunyai arti menghormati.

    Sikap menghormati yang dimaksud adalah bentuk balas budi Adipati Karna kepada Prabu

    Duryudana yang bersedia diutus berperang melawan Pandhawa, meskipun Adipati Karna sadar

    bahwa ia berada di pihak yang salah. Namun, karena rasa belas kasih dan sikap hormat kepada

  • 23

    Prabu Duryudana, Adipati Karna rela untuk mempertaruhkan nyawanya di medan perang melawan

    saudaranya sendiri.

    3. Infiks

    Infiks adalah afiks yang disisipkan di tengah kata dasar. Dalam bahasa Jawa, infiks disebut

    dengan sslan. Sslan dalam Jawa yang terdapat dalam penelitian ini adalah:

    3.1. Sslan {in-}

    Imbuhan {-in-} iku mung bisa sumambung ing tmbung lingga kang apurwa konsonan

    sabab yn sumambung ing tmbung kang apurwa vokal, imbuhan iku malih dadi {-ing} infiks {

    in-} itu hanya bisa disambungkan pada kata dasar yang berawalkan konsonan sebab jika

    disambungkan pada kata yang berawalkan vokal, imbuhan itu berubah menjadi {ing-} (Sry

    Satriya Tjatur Wisnu Sasangka, 2011: 59).

    (21) kang ginlung tri prakara (ST/B1/L8) yang dipadukan dalam tiga hal

    ginlung => in + glung

    Pada data di atas terdapat infiks {in-} yakni pada kata ginlung dipadukan. Kata

    ginlung dipadukan berasal dari kata glung padu yang berkelas kata sebagai kata kerja aktif,

    dan dengan adanya infiks {in-} tersebut kata glung berubah menjadi kata kerja pasif, yaitu

    ginlung dipadukan. Pemilihan kata ginlung dipadukan lebih indah dibandingkan kata

    diglung yang memiliki arti sama.

    4. Konfiks

    Konfiks adalah imbuhan yang digabungkan secara serentak. Dalam bahasa Jawa, konfiks

    disebut sebagai imbuhan bebarngan rumaket. Yang dimaksud serentak yaitu prefiks dan sufiks

    diimbuhkan pada kata dasar secara bersamaan. Konfiks meliputi:

    4.1. Imbuhan {ka- -an}

  • 24

    Imbuhan {ka- -an} kang sumambung ing tembung lingga bisa andhapuk tembung kriya

    utawa tembung aran imbuhan {ka- -an} yang disambung pada kata dasar bisa berperan sebagai

    kata kerja atau kata benda (Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka, 2011: 82).

    (22) dnnya ngtog kasudiran (ST/B6/L8) mencurahkan segala keberaniannya

    kasudiran => ka-an + sudira

    Kata sudira berani merupakan kata sifat atau ajektiva yang mengalami proses afiksasi

    berupa konfiks {ka- -an}. Adanya konfiks {ka- -an} tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap

    kelas katanya. Kata sudira berani dan kata kasudiran keberanian masing-masing berkelas kata

    sebagai ajektiva. Pemilihan kata kasudiran keberanian menimbulkan kesan lebih indah

    dibandingkan dengan kata lain yang berarti sama, misalnya kata kndl yang juga berarti berani.

    5. Simulfiks

    Simulfiks dalam bahasa Jawa disebut dengan imbuhan bbarngan rnggang. Simulfiks

    merupakan suatu proses afiksasi yang menggabungkan antara prefiks (atr-atr) dan sufiks

    (panambang) pada kata dasar secara bertahap. Salah satu contoh data yang mengandung simulfiks

    yaitu:

    (23) kaya sayktinipun (ST/B2/L4) seperti kenyatannya

    sayktinipun => sa + ykti + ipun

    Simulfiks {sa- -ipun} pada kata sayktinipun kenyatannya pada data di atas mengalami

    proses afiksasi sebagai berikut: sa + ykti + ipun. Kata dasar ykti nyata lebih dahulu bergabung

    dengan prefiks {sa-} sehingga menjadi kata saykti kenyataan. Proses penggabungan

    selanjutnya, kata saykti kenyataan bergabung dengan sufiks {-ipun} sehingga menjadi kata

    sayktinipun kenyatannya. Kata ykti merupakan kata dasar yang memiliki vokal akhir /i/,

  • 25

    sehingga jika diberi sufiks {-ipun} penulisannya menjadi {-nipun} yang berfungsi untuk

    membantu dalam pelafalannya.

    b. Reduplikasi

    Reduplikasi atau perulangan adalah proses pengulangan kata atau unsur kata. Reduplikasi

    dalam Srat Tripama akan diuraikan dalam pembahasan.

    6. Pengertian Diksi

    Diksi atau pilihan kata adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna

    dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai

    (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Pilihan kata

    yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau

    perbendaharaan kata bahasa itu. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang

    dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata

    yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik

    digunakan dalam situasi-situasi (Keraf, 2004: 24, dalam Untari, 2014: 16).

    Diksi digunakan untuk menyatakan kata-kata yang dipakai untuk mengungkapkan suatu

    ide gagasan, yang meliputi persoalan frasaologi, gaya bahasa, dan ungkapan (Teguh Supriyanto,

    2014: 32). Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (contoh penggunaannya) untuk

    mengungkapkan gagasan sehingga memperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)

    (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996: 233, dalam Untari, 2014: 16).

    Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan

    kata yang tepat dalam suatu karya sastra agar menghasilkan efek tertentu, misalnya menjadikan

    karya sastra tersebut memiliki nilai estetis dan berbeda dari karya sastra yang lain. Penggunaan

    diksi dalam tmbang Dhandhanggula pada Srat Tripama ini meliputi sinonimi, antonimi,

  • 26

    protesis, tmbung plutan berupa aferesis, tmbung garba, penggunaan bahasa Jawa ragam krama,

    dan penggunaan bahasa Jawa Kuna/ Sanskerta. Selain itu, ada pula pemilihan kosakata yang

    meliputi afiksasi dan reduplikasi.

    a. Sinonimi

    Sinonimi yaiku rong tmbung utawa luwih kang wujud lan panulis bda, nanging duw

    tgs padha, utawa mh padha sinonimi yaitu dua kata atau lebih yang wujud penulisannya

    berbeda, tetapi memiliki arti yang sama, atau hampir sama (Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka,

    2008: 223). Sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau hampir sama dengan bentuk

    bahasa lain (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996: 946, dalam Untari: 18).

    Berdasarkan dua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sinonimi adalah satuan lingual

    yang terdiri dari dua kata atau lebih yang memiliki arti yang sama atau hampir sama. Contoh:

    (24) guna bisa saneskarng karya (ST/B2/L2) memiliki kepandaian dalam segala pekerjaan

    Pada data di atas terdapat sinonim atau persamaan kata dengan kata, yaitu kata guna

    pandai dan bisa pandai yang terdapat pada bait kedua baris kedua. Kedua kata itu dipilih

    karena juga memilki kesamaan asonansi /O/ di setiap suku kata keduanya, sehingga kedua kata

    tersebut terasa berirama.

    b. Antonimi

    Antonimi yaiku tmbung, frasa utawa ukara kang duw tgs walikan karo tmbung, frasa,

    utawa ukara liyane antonimi yaitu kata, frasa, atau kalimat yang memiliki arti berkebalikan

    dengan kata, frasa, atau kalimat lainnya (Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka, 2008: 225).

    Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang

    maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain

  • 27

    (Abdul Chaer, 2003: 209). Berdasarkan sifatnya, (Sumarlam, 2013: 63) membedakan antonimi/

    oposisi makna menjadi lima macam:

    (1) Oposisi mutlak, yakni pertentangan makna secara mutlak. Satu kata beroposisi dengan

    satu kata. Misalnya, kata urip hidup dengan kata mati meninggal.

    (2) Oposisi kutub, yakni oposisi makna yang tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat gradasi.

    Artinya, terdapat tingkatan makna pada kata-kata tersebut. Misalnya, kata bungah senang

    dengan kata susah susah.

    (3) Oposisi hubungan adalah oposisi makna yang bersifat saling melengkapi. Misalnya, kata

    yayah ayah dengan kata ibu ibu.

    (4) Oposisi hirarkial adalah oposisi makna yang menyatakan deret jenjang atau tingkatan.

    Misalnya, kata millimeter >< sentimeter >< meter >< kilometer.

    (5) Oposisi majemuk adalah oposisi makna yang terjadi pada beberapa kata (lebih dari dua).

    Misalnya, kata mlayu berlari >< mlaku berjalan >< mlangkah melangkah >< mandheg

    berhenti.

    Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa antonimi adalah satuan

    lingual yang berbentuk kata, frasa, atau kalimat yang bertentangan makna. Antonimi yang terdapat

    dalam penelitian berupa antonimi hubungan yang sifatnya saling melengkapi. Contoh:

    (25) ln yayah tunggil ibu (ST/B5/L4) lain ayah satu ibu

    Pada data di atas, terdapat antonimi hubungan antara kata yayah dan ibu. Antonimi atau

    oposisi hubungan adalah oposisi makna yang bersifat saling melengkapi. Yayah ayah sebagai

    realitas dimungkinkan ada karena kehadirannya dilengkapi oleh ibu ibu.

    c. Protesis

  • 28

    Protesis adalah penambahan suara di awal kata. Penambahan suara tersebut tidak

    mengubah arti dan makna kata (Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka, 2011: 20).

    d. Tmbung Plutan

    Tmbung diplutan ateges: ana wandane tmbung iku loro (rong wanda, rong kecap) sing

    dirangkep, didadekake sidji, didadekake sawanda (sakecap).Tmbung plutan artinya ada dua (dua

    suku kata, dua suara) yang disederhanakan, dijadikan satu suku kata (satu suara), (Padmasoekotjo,

    1960: 46, dalam Untari 2014: 21). Tmbung plutan yang terdapat pada data berupa aferesis da

    sinkop. Aferesis adalah berkurangnya suara di awal kata, sedangkan sinkop adalah berkurangnya

    suara di tengah kata (Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka, 2013: 20-21). Adapun contoh tmbung

    plutan yang terdapat di dalam teks yaitu:

    (26) duk bantu prang Manggada nagri (ST/B2/L5) waktu membantu perang negeri Manggada

    Pada data di atas, terdapat tmbung plutan dalam kata prang perang. Kata prang berasal

    dari kata prang perang yang mengalami sinkop atau proses pengurangan suara di tengah kata,

    sehingga kata prang perang disederhanakan menjadi kata prang perang untuk mempermudah

    dalam pengucapannya dan mendapatkan tuturan sesuai dengan jumlah suku kata tiap guru

    wilangannya.

    e. Tmbung Garba

    Garba ateges: (1) weteng (guwa garba, ateges: weteng ing prangan dunung baji). (2)

    sesambungan, rerangkn, geganngan. Tjunduk karo tmbung sani, ndlnga katrangan kang

    kasbut ana ing prangan sani-asma garba berarti: (1) perut (rahim, berarti: perut di bagian

    adanya bayi. (2) sambungan, rangkaian, keterkaitan. Mengacu dengan kata sandi, lihatlah

    keterangan yang disebut ada di bagian sandi asma.

  • 29

    Nggarba tmbung, atgs: ngganng tmbung loro utawa luwih, prlu kanggo njuda

    tjahtjahing wandan menggabung kata, berarti: merangkai kata dua atau lebih, diperlukan untuk

    mengurangi jumlah suku katanya.

    Tmbung garba, teges: tmbung rerangkn, tmbung sesambungan, tmbung kang

    kadadan saka ganng tmbung loro utawa luwih kata gabung, artinya: kata rangkaian, kata

    gabungan, kata yang terjadi dari terangkainya dua kata atau lebih. (Padmosoekotjo, 1955: 29).

    Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa tmbung garba atau kata gabung

    yaitu satuan lingual yang terjadi sebagai akibat dari penggabungan dua kata atau lebih. Contoh:

    (27) guna bisa saniskarng karya (ST/B2/L2) memiliki kepandaian dalam segala pekerjaan

    Pada data di atas terdapat tmbung garba atau kata gabung yaitu kata saniskareng

    mengatasi di, yang berasal dari gabungan kata saniskara mengatasi dan ing di. Dalam

    penggabungan tersebut terjadi adanya suatu persandian, yaitu vokal /O/ pada akhir kata saniskara

    mengatasi bertemu dengan vokal /i/ pada awal kata ing di menyebabkan adanya persandian

    dalam, sehingga berubah menjadi vokal // saniskarng mengatasi di. Adanya tmbung garba

    tersebut untuk memenuhi jumlah guru wilangan dan memunculkan keindahan dalam lirik

    tmbang.

  • 30

    f. Tmbung Camboran

    Tmbung camboran ialah dua kata atau lebih disambung menjadi satu, adapun kata-

    katanya ada yang utuh dan ada juga yang sudah disingkat. Adapun tmbung camboran tang

    terdapat pada data sebagai berikut.

    (28) aprang tandhing lan ditya Ngalngka aji (ST/B2/L9) perang tanding melawan raja raksasa Ngalngka

    Kata ditya raksasa dan kata Ngalngka Ngalngka merupakan dua kata yang memiliki

    hubungan determinatif, karena kata Ngalngka Ngalngka berkedudukan sebagai kata yang

    menerangkan kata ditya raksasa. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa yang dimaksud ditya

    Ngalngka atau raksasa negeri Ngalngka adalah Kumbakarna.

    (29) suryaputra narpati Ngawangga (ST/B5/L2) suryaputra raja Ngawangga

    Kata suryaputra suryaputra merupakan dua kata yang disingkat menjadi satu kata. Kata

    surya surya pada kata di atas mengacu kepada Bathara Surya, dan kata putra putra pada kata

    di atas berarti putra atau anak. Dengan demikian, kata suryaputra dimaknai sebagai seorang putra

    Bathara Surya yang mengacu kepada Adipati Karna.

    g. Tmbung Saroja

    Tmbung saroja atgs tmbung rangkp. Maksud: tmbung loro kang paa tgs utawa

    mh paa tgs, dianggo bbarngan tmbung saroja berarti kata rangkap. Maksudnya: dua kata

    yang berarti sama atau hampir sama artinya, digunakan secara bersamaan (Padmosoekotjo, 1955:

    25). Berikut tmbung saroja yang terdapat pada data.

    (30) guna bisa saniskarng karya (ST/B2/L2) memiliki kepandaian dalam segala pekerjaan

    Kata guna pandai dan kata bisa pandai memiliki arti yang sama yaitu pandai. Data di

    atas menunjukkan adanya penggunaan kata guna dan bisa secara bersisihan, yang bertujuan untuk

  • 31

    menekankan atau menyangatkan suatu tuturan. Adanya tmbung saroja pada data di atas juga

    membuat makna tuturan lebih mendalam.

    h. Penggunaan bahasa Jawa krama

    Penggunaan bahasa Jawa krama dalam Srat Tripama bertujuan untuk menghadirkan

    kesan keindahan dan kesopanan dalam tuturannya. Penggunaan bahasa Jawa krama ini berwujud

    imbuhan maupun kata yang utuh. Penggunaan bahasa Jawa krama yang berupa imbuhan misalnya

    akhiran ipun nya pada kata lalabuhanipun jasa-jasanya, sedangkan penggunaan bahasa Jawa

    krama yang berupa kata yang utuh misalnya pada tuturan Sri Karna suka manah Sri Karna

    bahagia hatinya. Meskipun demikian, penggunaan bahasa Jawa krama yang berupa imbuhan

    dalam penelitian ini dimasukkan ke dalam subbab afiksasi atau imbuhan. Penemuan data yang

    lebih lengkap diuraikan dalam pembahasan.

    i. Penggunaan bahasa Jawa Kuna/ Sanskrta

    Tmbung Sanskrta utawa tmbung Jawa Kuna kang tinemu sumla ana ing karangan-

    karangan ing jaman saiki, ing rriptan-rriptan kang nganggo basa Jawa anjar, ya basa Jawa ing

    jaman saiki kata Sanskerta atau kata Jawa Kuna yang ditemukan pada karangan-karangan di

    zaman sekarang, di penciptaan-penciptaan yang menggunakan bahasa Jawa baru, ya bahasa Jawa

    di zaman sekarang (Padmosoekotjo, 1955: 17). Contoh:

    (31) kang ginlung tri prakara (ST/B1/L8) yang diringkas dalam tiga perkara

    Pada data di atas terdapat kata berbahasa Kawi, yaitu kata tri tiga. Penggunaan kata

    berbahasa Kawi atau bahasa Sanskerta tersebut berguna untuk memenuhi konvensi sastra yang

    berupa jumlah guru wilangan dan juga untuk menambah nilai arkhais pada tmbang.

    7. Pengertian Gaya Bahasa

  • 32

    Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang

    individual atau karakteristik, atau yang memiliki nilai artistik yang tinggi (Keraf, 2004: 23). Gaya

    bahasa atau style dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas

    yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) (Keraf, 2004: 112). Gaya

    bahasa adalah: (1) pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis;

    dan (2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu (Kridalaksana, 2008: 70).

    Gaya bahasa adalah ekspresi linguistik, baik di dalam puisi maupun prosa (cerpen, novel, dan

    drama) (Nyoman Kutha Ratna, 2009: 22). Menurut Simpson (2004: 3, dalam Nyoman Kutha

    Ratna: 2009: 84) gaya bahasa baik bagi penulis maupun pembaca berfungsi untuk mengeksplorasi

    kemampuan bahasa, khususnya bahasa yang digunakan.

    Tujuan utama gaya bahasa adalah menghadirkan aspek keindahan (Nyoman Kutha Ratna,

    2009: 67). Gaya bahasa tidak hanya dianggap sebagai pemakaian bahasa yang berbeda dengan

    pemakaian bahasa biasa, tetapi mungkin juga dipahami sebagai pemakaian bahasa yang menyalahi

    tata bahasa (Teguh Supriyanto, 2014: 4).

    Menurut Pradopo (1993: 265, dalam Teguh Supriyanto, 2014: 22), gaya bahasa sebagai

    cara bertutur untuk mendapatkan efek tertentu, yaitu efek estetis atau efek kepuitisan. Gaya bahasa

    adalah penggunaan bahasa yang khas karena berbeda dengan pemakaian bahasa sehari-hari dan

    dapat diidentifikasi melalui pemakaian bahasa yang menyimpang dari penggunaan bahasa sehari-

    hari (Teguh Supriyanto, 2014: 23).

    Gaya bahasa merupakan sarana strategis yang banyak dipilih pengarang untuk

    mengungkapkan pengalaman kejiwaannya (Kasnadi dan Sutejo, 2010: 46). Jenis-jenis gaya bahasa

    menurut Gorys Keraf (2004: 115-145) antara lain:

  • 33

    a. Segi non bahasa, meliputi: berdasarkan pengarang, berdasarkan masa, berdasarkan medium, berdasarkan subjek, berdasarkan tempat, berdasarkan

    hadirin, berdasarkan tujuan.

    b. Segi bahasa 1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, meliputi: gaya bahasa resmi, gaya

    bahasa tak resmi, gaya bahasa percakapan.

    2. Gaya bahasa berdasarkan nada, meliputi: gaya sederhana, gaya mulia, gaya bertenaga, dan gaya menengah.

    3. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, meliputi: klimaks, antiklimaks, paraletisme, antitesis, dan repetisi.

    4. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, meliputi: a. Gaya bahasa retoris, meliputi: aliterasi, asonansi, anastrof/ inversi,

    apofasis atau preterisio, apostrof, asindeton, polisindenton, kiasmus,

    elipsis, eufemismus/ eufemisme, litotes, histeron proteron, pleonasme

    dan tatutologi, perifrasis, prolepsis atau antisipasi, erotesis atau

    pertanyaan retoris, silepsis dan zeugma, koreksio atau epanortosis,

    hiperbol, paradoks, oksimoron.

    b. Gaya bahasa kiasan, meliputi: persamaan atau simile, metafora, alegori, parabel dan fabel, personifikasi atau prosopopoeia, alusi, eponim,

    epitet, sinekdoke, metonimia, antonoia, hipalase, ironi, sinisme dan

    sarkasme, satire, inuendo, antifrasis, pun atau paranomasia.

    Berdasarkan pengertian gaya bahasa di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa

    gaya bahasa adalah penggunaan bahasa yang tidak wajar untuk menimbulkan aspek keindahan

    atau estetika. Gaya bahasa yang dipakai setiap pengarang berbeda-beda, sesuai ciri khasnya

    masing-masing.

    Menurut Gorys Keraf, gaya bahasa terbagi menjadi:

    a. Repetisi

    Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap

    penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.

    b. Anastrof

    Anastrof adalah semacam gaya retorik yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata

    yang biasa dalam kalimat. Adapun contoh dalam data sebagai berikut.

    (32) duk bantu prang Manggada nagri (ST/B2/L5) ketika membantu perang di negeri Manggada

  • 34

    Pada data di atas, terdapat gaya bahasa anastrof yang ditunjukkan pada frasa Manggada

    nagri negeri Manggada. Frasa tersebut disusun terbalik (DM atau diterangkan, menerangkan)

    yang fungsinya untuk memenuhi konvensi sastra yang berupa jatuhnya guru swara /i/ di akhir

    larik.

    c. Hiperbola

    Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang

    berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Adapun penggunaan majas hiperbola yang

    terdapat di dalam tmbang sebagai berikut.

    (33) guna bisa saniskarng karya (ST/B2/L2) memiliki kepandaian dalam segala pekerjaan

    Pada data di atas terdapat majas hiperbola dalam kalimat guna bisa saniskarng karya

    memiliki kepandaian dalam segala pekerjaan. Hal itu berlebihan, karena Patih Suwanda

    digambarkan sebagai seorang manusia yang menjadi prajurit atau Patih, dan tidak dapat dipungkiri

    bahwa manusia juga memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Begitu pun juga dengan

    Patih Suwanda, ia juga pasti memiliki kekurangan, sehingga kemungkinan kecil jika ia bisa

    melakukan segala hal pekerjaan.

    d. Simile

    Simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Adapun penggunaan gaya bahasa

    simile dalam teks bait pertama larik pertama dan ke-2 sebagai berikut.

    (34) yogyanira kang para prajurit (ST/B1/L1) lamun bisa samya anuladha (ST/B1/L2)

    kadya nguni caritan (ST/B1/L3)

    seyogyanya para prajurit

    bila dapat semuanya mencontoh

    seperti masa dahulu

  • 35

    Pada data di atas terdapat penggunaan gaya bahasa simile, yang ditunjukkan dengan

    penanda kata kadya seperti. Perbandingan tersebut ditujukan antara para prajurit masa dahulu

    dan para prajurit sekarang.

    e. Eponim

    Eponim adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan

    dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Adapun penggunaan

    gaya bahasa eponim yang ditemukan di dalam teks pada bait enam larik kedelapan dan kesembilan

    sebagai berikut.

    (35) aprang ram Karna mati jinmparing (ST/B6/L9) sumbaga wirotama (ST/B6/L10)

    dalam perang ramai Karna mati dipanah

    mahsyur sebagai perwira utama

    Pada data di atas nama Karna dihubungkan dengan sifat keteladanannya, yaitu ia memiliki

    sifat sebagai wirotama atau perwira utama.

    f. Epilet

    Epilet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari

    seseorang atau sesuatu hal. Pengunaan gaya bahasa dalam teks bait 3 larik ke-3 dan ke-4 sebagai

    berikut.

    (36) sang Kumbakarna naman (ST/B3/3) tur iku warna diyu (ST/B3/L3)

    sang Kumbakarna namanya

    padahal ia berwujud raksasa

    Pada data di atas, terdapat penggunaan majas eponim yaitu ditunjukkan dalam nama

    Kumbakarna yang dikenal sebagai adik dari Dasamuka dan berwujud sebagai raksasa.

    g. Metonimia

  • 36

    Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan

    sesuatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Adapun penggunaan gaya bahasa

    metonimia yang terdapat di dalam teks terdapat dalam bait 3 larik kedua dan ketiga sebagai berikut.

    (37) satriya gung nagari Ngalengka (ST/B3/L2) sang Kumbakarna naman (ST/B3/L3)

    satriya besar Negeri Alengka

    sang Kumbakarna namanya

    Pada data di atas terdapat penggunaan gaya bahasa yang berupa metonimia, yaitu satriya

    gung nagari Ngalengka satriya besar Negeri Alengka mengacu kepada Sang Kumbakarna.

    5. METODE PENELITIAN

    Dalam metode penelitian ini akan dijelaskan mengenai beberapa hal, yaitu: (1) jenis

    penelitian, (2) data dan sumber data, (3) alat penelitian, (4) metode dan teknik pengumpulan data,

    (5) metode analisis data, dan (6) metode peyajian hasil analisis data.

    1. Jenis Penelitian

    Berdasarkan fenomena kebahasaan yang terdapat dalam sebuah karya sastra, maka

    penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Deskriptif adalah penelitian yang

    dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang

    secara empiris hidup pada penutur-penuturnya, sehingga yang dihasilkan atau yang dicatat berupa

    perian bahasa yang biasa dikatakan sifatnya seperti potret: paparan seperti nyatanya (Sudaryanto,

    1993: 62). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud memahami tentang fenomena

    tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam

    bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan

    berbagai metode alamiah (Moleong, 2010: 6 dalam Puspitasari, 2014: 37).

  • 37

    Penelitian kualitatif itu berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan

    manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif, mengadakan analisis

    data secara induktif, mengarahkan sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari

    dasar, bersifat deskiptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi

    dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan kata, rancangan

    penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitiannya disepakati oleh kedua belah

    pihak: peneliti dan subjek penelitian (Lexy J Moleong, 2010: 44).

    Jadi, penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan

    data-data kebahasaan yang berupa kata-kata, bukan angka atau statistik. Dalam penelitian ini, data-

    data kebahasaan meliputi aspek-aspek penanda bunyi, aspek penanda morfologis dan diksi, dan

    aspek gaya bahasa dalam Srat Tripama.

    2. Data dan Sumber Data

    Data adalah semua informasi atau bahan yang disediakan oleh alam (dalam arti luas) yang

    harus dicari atau dikumpulkan dan dipilih oleh peneliti (Edi Subroto, 1992: 34). Data dalam

    penelitian ini berupa data tulis yang meliputi semua satuan bahasa (fonem, morfem, kata, frasa,

    klausa, kalimat) yang terdapat pada teks tmbang Dhandhanggula bait 1-7 dalam Srat Tripama,

    yang di dalamnya terdapat aspek bunyi, aspek penanda morfologis dan diksi, serta gaya bahasa.

    Sumber data adalah asal muasal diperolehnya data (Edi Subroto, 1992: 34). Sumber data

    dalam penelitian ini berasal dari Srat Tripama karya Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya

    Mangkunegara IV yang berisi teks tmbang Dhandhanggula yang dikutip dari laman buku

    elektronik oleh Dimas Hendri. Alasan pemilihan sumber data dari laman buku elektronik oleh

    Dimas Hendri dikarenakan sumber data Srat Tripama yang berbentuk tmbang dhandhanggula

    dalam laman buku elektronik tersebut lebih bisa dipahami dan lebih familiar dibandingkan dari

    sumber lain.

    3. Alat Penelitian

  • 38

    Alat penelitian adalah alat yang mendukung terjadinya penelitian ini. Alat penelitian adalah

    peneliti sendiri, artinya ketentuan sikap peneliti mampu menggapai dan menilai makna dari

    berbagai interaksi (Sutopo, 2002: 35-36). Dengan ketajaman intuisi kebahasaan/ lingual peneliti

    mampu membagi data secara baik menjadi beberapa unsur (Sudaryanto, 1993: 31-32). Dengan

    intuisi lingual peneliti bisa bekerja secara serta merta mengahayati terhadap bahasa yang diteliti

    secara utuh (Edi Subroto, 199: 23). Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini meliputi

    bolpoin, kertas catatan, dan alat elektronik yang berupa komputer jinjing, telepon genggam, dan

    mesin cetak (printer).

    4. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

    Metode adalah cara yang harus dilaksanakan; teknik adalah cara melaksanakan metode

    (Sudaryanto, 1993: 9). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode simak,

    dengan cara menyimak data-data yang diperlukan untuk penelitian. Data-data yang disimak

    tersebut berupa fonem, morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat yang berupa teks tmbang

    Dhandhanggula bait 1-7 dalam Srat Tripama.

    Di dalam metode simak, teknik yang digunakan adalah teknik dasar dan teknik lanjutan.

    Adapun teknik dasar yang digunakan adalah teknik pustaka. Teknik pustaka yaitu pengumpulan

    data berdasarkan sumber-sumber tertulis yang mencerminkan pemakaian bahasa sinkronis (Edi

    Subroto, 1992: 45). Teknik pustaka adalah mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk

    memperoleh data. Teknik lanjutannya yaitu teknik catat, dengan cara mencatat beberapa bentuk

    yang relevan dilakukan dalam penelitian antara lain mengenai aspek bunyi, diksi atau pilihan kata,

    dan aspek gaya bahasanya. Teknik catat yaitu pencatatan data kebahasaan yang relevan dilakukan

    dengan transkripsi tertentu menurut kepentingan (Edi Subroto, 1992: 42). Setelah data berhasil

    disimak secara cermat, tepat, dan teliti kemudian dilakukan pencatatan dan diklasifikasikan.

  • 39

    Pengklasifikasian atau pengelompokan tersebut didasarkan atas karakteristik yang sama mengenai

    aspek bunyi, aspek penanda morfologis ragam literer dan diksi, serta gaya bahasa yang terdapat

    dalam tmbang Dhandhanggula Srat Tripama.

    5. Metode Analisis Data

    Metode analisis data adalah cara yang digunakan peneliti dalam mengolah dan

    menganalisis data penelitian. Dalam penelitian ini data yang terkumpul dianalisis dengan

    menggunakan metode distribusional. Metode distribusional adalah metode analisis data yang alat

    penentunya merupakan bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto, 1993: 15).

    Metode ini digunakan untuk menganalisis aspek bunyi, aspek penanda morfologis ragam literer,

    dan aspek diksi atau pilihan kata yang terdapat dalam tmbang Dhandhanggula pada Srat

    Tripama. Teknik yang digunakan adalah teknik interpretasi, yaitu dengan cara menginterpretasi

    atau menafsirkan data yang disesuaikan dengan pemahaman dalam berpikir berdasarkan satuan

    lingual yang ada. Contoh penerapan metode distribusional sebagai berikut.

    (38) tur iku warna diyu (ST/B3/L4) dan itu berwujud raksasa

    Dalam data di atas terdapat kosakata bahasa Jawa Kuna, yaitu kata diyu raksasa. Kosakata

    tersebut digunakan untuk memenuhi konvensi sastra tmbang Dhandhanggula pada baris

    keempat, yaitu vokal terakhir berbunyi /u/. Di samping itu, penggunaan kata diyu yang merupakan

    serapan dari bahasa Jawa Kuna tersebut memberi kesan estetik dalam karya sastra daripada kata

    buta, raseksa, ataupun raseksi yang memiliki arti yang sama.

    Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya di luar, terlepas dan tidak

    menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993: 13). Alat penentunya

    ialah kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa atau referent bahasa (Sudaryanto, 1993: 13). Alat

    penentu adalah kenyataan atau segala sesuatu (yang bersifat luar bahasa) yang ditunjuk bahasa

  • 40

    (tindakan, peristiwa, kejadian, dan lain-lain) berada di luar bahasa terlepas dan tidak menjadi

    bagian dari bahasa. Metode padan diterapkan untuk menganalisis pemanfaatan aspek pilihan kata

    dan aspek gaya bahasa. Penerapan metode padan di dalam data sebagai berikut.

    (39) yogyanira kang para prajurit lamun bisa samya anuladha

    kadya nguni caritan

    andlira sang Prabu

    sasrabahu ing Maspati

    aran Patih Suwanda

    llabuhanipun

    kang ginlung tri prakara

    guna kaya purunn kang dnantpi

    nuhoni trah utama (ST/B1/L1-10)

    seyogyanya para prajurit

    bila dapat semua meneladani

    seperti masa dahulu

    andalan sang raja

    sasrabahu di Maespati

    bernama Patih Suwanda

    jasa-jasanya

    yang dicerminkan dalam tiga hal

    pandai mampu dan berani yang ditekuninya

    menepati sifat keturunan orang yang utama

    Pada data di atas dapat terdapat gaya inuendo, yaitu gaya bahasa yang berupa sindiran.

    Dalam teks di atas, KGPAA Mangkunegara IV secara tersirat menginginkan prajurit-prajuritnya

    untuk mencontoh keteladanan dari Patih Suwanda yang menjadi andalan sang Prabu. Seorang

    prajurit atau Patih seyogyanya memiliki sifat-sifat seperti Patih Suwanda, yaitu guna, kaya, dan

    purun yang seharusnya ditiru dan diteladani oleh prajurit-prajurit zaman sekarang.

    6. Metode Penyajian Hasil Analisis Data

    Hasil analisis data yang diperoleh berupa temuan penelitian sebagai jawaban atas masalah

    yang akan dipecahkan. Dalam penyajian hasil temuan, terdapat dua metode, yaitu metode

    penyajian informal dan metode penyajian formal. Metode penyajian informal adalah perumusan

    dengan kata-kata biasa walaupun dengan terminologi yang teknis sifatnya; sedangkan penyajian

  • 41

    formal adalah perumusan dengan tanda dan lambang-lambang. Tanda yang dimaksud di antaranya

    tanda dua garis miring sejajar (/ /), tanda tambah (+), tanda sama dengan (=), tanda kurung runcing

    ke kanan (>), tanda kurung biasa (( )), dan tanda kurung kurawal ({ }). Adapun lambang yang

    dimaksud di antaranya lambang huruf sebagai singkatan nama (Sudaryanto, 1993: 145).