of 89 /89
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Salah satu bagian dari pembangunan nasional adalah pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan menjadi penting karena dengan adanya pembangunan kesehatan yang baik akan menunjang pembangunan nasional pada umumnya. Tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal, sehingga dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial. Yang memungkinkan seseorang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. (UU 23 tahun 1992 tentang kesehatan ). Paradigma sehat adalah salah satu cara pandang dan atau suatu konsep dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang dalam pelaksanaannya sepenuhnya menerapkan pengertian dan atau prinsip-prinsip pokok kesehatan. Keberhasilan pembangunan kesehatan dengan paradigma sehat sangat ditentukan oleh keberhasilan menumbuhkan wawasan kesehatan pada setiap pelaku pembangunan ( masyarakat maupun sektor lain diluar kesehatan ). Konsep paradigma sehat berarti mencegah lebih baik daripada mengobati dan pemberdayaan pada masyarakat agar dapat berperilaku sehat, hidup dalam lingkungan yang sehat. 1

BAB I PENDAHULUAN & LATAR BELAKANG

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Suatu Makalah dalam sistematika penulisannya harus didahului oleh penulisan BAB I yang berisikan pendahuluan atau hal-hal yang melatarbelakangi penulisan dilakukan oleh sang penulis

Text of BAB I PENDAHULUAN & LATAR BELAKANG

BAB IPENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANGSalah satu bagian dari pembangunan nasional adalah pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan menjadi penting karena dengan adanya pembangunan kesehatan yang baik akan menunjang pembangunan nasional pada umumnya. Tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal, sehingga dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial. Yang memungkinkan seseorang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. (UU 23 tahun 1992 tentang kesehatan ).Paradigma sehat adalah salah satu cara pandang dan atau suatu konsep dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang dalam pelaksanaannya sepenuhnya menerapkan pengertian dan atau prinsip-prinsip pokok kesehatan. Keberhasilan pembangunan kesehatan dengan paradigma sehat sangat ditentukan oleh keberhasilan menumbuhkan wawasan kesehatan pada setiap pelaku pembangunan ( masyarakat maupun sektor lain diluar kesehatan ). Konsep paradigma sehat berarti mencegah lebih baik daripada mengobati dan pemberdayaan pada masyarakat agar dapat berperilaku sehat, hidup dalam lingkungan yang sehat.Paradigma sehat berisi tentang upaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat Indonesia, yang meliputi pembangunan berwawasan kesehatan, profesionalisme, jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat dan desentralisasi.Adapun tujuan pembangunan nasional adalah untuk percepatan pencapaian MDGs . Adapun misi pembangunan kesehatan di Indonesia :0. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani.0. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan.0. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. 0. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.1. Strategi pembangunan kesehatan di Indonesia :0. Pembangunan nasional berwawasan kesehatan0. Profesionalisme0. Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat0. Desentralisasi1. Pokok-pokok program pembangunan kesehatan :1. Pokok program pemberdayaan masyarakat.1. Pokok program upaya kesehatan.1. Pokok program lingkungan sehat.1. Pokok program pengembangan sumber daya kesehatan.1. Pokok program pengembangan kebijakan dan manajemen.1. Pokok program pengembangan dan penelitian kesehatan.

Perubahan pemahaman tentang pengertian sehat dan kesadaran yang semakin meningkat mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi kesehatan telah membawa kesimpulan bahwa pemberian pelayanan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif tidak akan mampu menciptakan masyarakat sehat seperti yang diharapkan. Upaya mencapai kesehatan masyarakat memerlukan pendekatan yang bersifat pembinaan dalam jangka panjang akan mampu mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam pemeliharaan kesehatan melalui peningkatan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Upaya kesehatan yang semula lebih terfokus pada kuratif dan rehabilitatif, secara berangsur berkembang ke arah promotif dan preventif, sehingga puskesmas merupakan ujung tombak untuk mencapai MDGs (Millenium Development Goals).Propinsi Jawa Tengah mempunyai luas wilayah 3.254.620 ha atau 26,04% luas pulau jawa. Pemanfaatan tanah paling besar untuk areal pesawahan. Peningkatan angka pertambahan penduduk sangat mencolok, umur harapan hidup penduduk juga telah meningkat.Puskesmas sebagai salah satu kesatuan organisasi kesehatan fungsional terdepan berperan sebagai unit pelayanan kesehatan pemerintah diharapkan menjadi pusat pengembangan pembangunan kesehatan dalam mencapai tujuan nasional. Untuk merealisasikan peran dan fungsi puskesmas tersebut, maka diperlukan perangkat manajemen yang baik demi penyelenggaraan puskesmas secara terpadu dan menyeluruh.Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan pemerintah juga merupakan pusat pengembangan, pembinaan, dan pelayanan kesehatan masyarakat. Puskesmas dalam hal ini mempunyai fungsi medis dan administratif, oleh karena itu puskesmas dituntut untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut dengan sebaik-baiknya. Puskesmas dalam melaksanakan tugas ini diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan dan motivasi kerja dari para pekerja kesehatannya.Pelayanan kesehatan di puskesmas meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan pada semua umur. Puskesmas dengan segala keterbatasan meliputi keterbatasan SDM dan sarana, memiliki tanggung jawab yang besar. Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk melaksanakan tanggung jawab ini adalah dengan mengelola sumber daya sebaik mungkin dengan menggunakan manajemen puskesmas yang baik dan tepat. Pelayanan upaya kesehatan di Puskesmas dilaksanakan melalui 6 kegiatan pokok secara terpadu dan menyeluruh, meliputi KIA/KB, Usaha Peningkatan Gizi, Kesehatan Lingkungan, Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Pengobatan dan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM) serta ditambah lagi dengan Upaya Kesehatan Pengembangan yaitu : Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Upaya Kesehatan Masyarakat, Upaya Kesehatan Olahraga, Upaya Kesehatan Kerja, Upaya Kesehatan Gigi dan mulut, Upaya Kesehatan Jiwa, Upaya Kesehatan Mata, Upaya Kesehatan Usia Lanjut dan Upaya Pengobatan Tradisional sehingga dapat mewujudkan misi puskesmas. Upaya Kesehatan Pengembangan yang disebutkan diatas bergantung kepada situasi dan kondisi tiap-tiap Puskesmas.Secara operasional, Puskesmas berarti harus ada upaya yang berkelanjutan, menyeluruh, terpadu, sistematis dan objektif yang bertujuan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Untuk mengembangkan reformasi Puskesmas, ada 3 pendekatan yang dapat diterapkan yakni: a.Penentuan prioritas program puskesmas b.Pengembangan program menjaga mutu c. Pengembangan swadana Ketiga pendekatan itu sebaiknya dilaksanakan bertahap dan berkelanjutan karena saling terkait satu sama lain. Dengan melakukan reformasi Puskesmas, diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan terutama yang potensial berkembang di wilayah kerja Puskesmas.Untuk mengetahui apakah manajemen dari suatu kegiatan berhasil atau tidak maka diperlukan adanya suatu evaluasi. Evaluasi adalah membandingkan antara hasil yang telah dicapai dengan tujuan yang direncanakan. Evaluasi merupakan bagian yang penting dari proses manajemen, karena dengan evaluasi akan diperoleh umpan balik terhadap program atau pelaksanaan kegiatan. Tanpa adanya evaluasi, sulit rasanya untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum.Dilihat dari implikasi hasil evaluasi bagi suatu program, dibedakan adanya jenis evaluasi, yakni jenis evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk mendiagnosis suatu program yang hasilnya digunakan untuk pengembangan atau perbaikan program. Biasanya evaluasi sumatif adalah suatu evaluasi yang dilakukan untuk menilai hasil akhir dari suatu program. Meskipun demikian pada praktek evaluasi program sekaligus mencakup kedua tujuan tersebut.Evaluasi suatu program masyarakat dilakukan terhadap 3 hal, yakni evaluasi terhadap proses pelaksanaan program, evaluasi terhadap hasil program dan evaluasi terhadap dampak program:1. Evaluasi proses ditujukan terhadap pelaksanaan program, yang menyangkut penggunaan sumber daya seperti tenaga, dana dan fasilitas yang lain.1. Evaluasi hasil program ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut berhasil, yakni sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tercapai. Misalnya: meningkatnya cakupan imunisasi, meningkatnya ibu-ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya, dan sebagainya.1. Evaluasi dampak program ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut berdampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Dampak program kesehatan tercermin dari membaiknya atau meningkatnya indikator-indikator kesehatan masyarakat.

Pada laporan ini akan dibahas tentang pelaksanaan manajemen pelayanan PuskesmasSalaman I dan permasalahannya. Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yang ada yaitu bagaimana hasil pencapaian upaya kegiatan pokok di Puskesmas Salaman I dibandingkan dengan target dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang berlaku.Identifikasi masalah ini dilakukan menggunakan SPM Puskesmas Salaman dimana jumlah cakupan balita yang datang dan ditimbang (D/S) untuk bulan Januari - Februari 2012 sebesar 2604 balita (besar cakupan 41%) dimana target yang ditetapkan Dinkes Kabupaten Magelang sebesar 80% sehingga besar pencapaian adalah52% dari Dinkes.Sementara itu, di Dusun Jetis Desa Ngedirejo jumlah cakupan balita periode Januari Februari 2012 jumlah balita yang datang dan ditimbang (D) balita 15 untuk bulan Januari dan 22 untuk bulan Februari, dan jumlah seluruh balita adalah 28 balita sehingga cakupannya mencapai61 % sementara pencapaiannya 76%. Hal ini menunjukan bahwa cakupan balita yang datang dan ditimbang berat badannya di Dusun Jetis Desa Ngedirejo masih lebih rendah dari target yang ditetapkan.Hal ini menunjukan bahwa cakupan balita datang dan di timbang di Dusun Jetis Desa Ngadirejo masih lebih rendah dari target yang ditetapkan. Oleh karena itu penulis ingin mengambil judul tentang Evaluasi Program Gizi Cakupan Balita Yang Datang dan Ditimbang Berat Badannya di Dusun Jetis Desa NgedirejoKecamatan Salaman Kabupaten Magelang Periode Januari-Februari 2012I.2 RUMUSAN MASALAHBerdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas, serta hasil analisa program gizi di Dusun Jetis Desa Ngedirejo didapatkan data bahwa balita yang datang dan ditimbang periode Januari-Februari 2012 masih dibawah target pencapaian. Banyak faktor yang mempengaruhi hal itu, oleh sebab itu perlu diketahui apa sajakah penyebab masih rendahnya jumlah balita yang datang, ditimbang dan naik berat badannya di Dusun Jetis Desa Ngedirejoperiode Januari-Februari 2012.I.3 TUJUANPenulisan laporan kegiatan yang berjudul Evaluasi Manajemen Pelayanan Puskesmas Salaman I ini memiliki tujuan umum dan tujuan khusus.B.1. Tujuan umum :Mengetahui, mengidentifikasi, menganalisis, serta mengevaluasi penyebab rendahnya cakupan balita yang datang dan ditimbangn (D/S) di Dusun Jetis Desa Ngedirejo, kecamatan Salaman Iperiode Januari-Februari 2012.B.2. Tujuan khusus :1. Mendeskripsikan data umum (geografi, demografi, lingkungan, perilaku kesehatan) wilayah kerja Puskesmas Salaman I1. Mengetahui hasil pencapaian upaya-upaya kesehatan :1. KIA dan KB1. Gizi1. Kesehatan Lingkungan1. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2PM) 1. Promosi Kesehatan1. Pengobatan di Puskesmas Salaman I pada bulan Januari - Februari 2012.1. Mengetahui proses manajemen Puskesmas Salaman I1. Mampu mengidentifikasi masalah Puskesmas Salaman I1. Diperoleh data umum Dusun Jetis Desa Ngedirejo kecamatan Salaman I Kabupaten Magelang.1. Diperoleh profil balita di Dusun Jetis Desa Ngedirejo kecamatan Salaman I Kabupaten Magelang periode Januari-Februari 2012.1. Mengetahui faktor faktor yang menyebabkan rendahnya balita yang datang dan ditimbang (D/S) di Dusun Jetis Desa Ngedirejo kecamatan Salaman I Kabupaten Magelang periode Januari-Februari 2012.1. Menganalisis, dan mengevaluasi penyebab masalah rendahnya cakupan balita yang datang dan ditimbang berat badannya (D/S) di Dusun Jetis Desa Ngedirejo kecamatan Salaman I Kabupaten Magelang periode Januari-Februari 2012.1. Memilih alternatif dan menentukan prioritas pemecahan masalah rendahnya cakupan balita yang datang dan ditimbang berat badannya (D/S) di Dusun Jetis Desa Ngedirejo kecamatan Salaman I Kabupaten Magelang.

I.4 MANFAAT

1. Bagi Masyarakat Dusun JetisMenambah pengetahhuan masyarakat, terutama ibu ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya pemantauan dan penimbangan berat badan balita sehingga meningkatkan kesadaran ibu ibu yang mempunyai balita untuk melakukan penimbangan dan pemantauan perkembangan balita secara rutin di Posyandu.2. Bagi Puskesmas Salaman ISebagai masukan serta evaluasi kinerja petugas puskesmas maupun petugas kesehatan di Dusun Jetis, Desa Ngadirejosehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan serta meningkatkan cakupan balita yang datang dan ditimbang berat badannya.3. Bagi Penulisa. Menambah pengetahuan penulis tentang pemantauan dan pertumbuhan balitab. Menambah pengetahuan penulis tentang penyebab dan pemecahan masalah mengenai rendahnya cakupan balita yang datang dan di timbang berat badannya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

II.1. PEMBANGUNAN KESEHATANPembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan nasional. Konsep pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan, yaitu yang telah memperhitungkan dengan seksama berbagai dampak positif maupun negatif terhadap kegiatan kesehatan masyarakat. Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. (Depkes RI, 2004).(1)Sejalan dengan tujuan pembangunan yang berwawasan kesehatan dan kesejahteraan maka pemerintah telah menetapkan pola dasar pembangunan yaitu pembangunan mutu SDM di berbagai sektor serta masih menitik beratkan pada program program pra-upaya kuratif dan rehabilitatif yang didukung oleh informasi kesehatan secara berkesinambungan sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku hidup sehat, lingkungan sehat dan memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri serta dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas. Salah satu nya adalah pembentukan posyandu.

II.2. POSYANDUII.2.1. Pengertian PosyanduPosyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat dapat sekaligus memperoleh pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan antara lain : gizi, imunisasi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan penanggulangan diare.(3) Definisi lain Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi.(4)

II.2.2. Tujuan PosyanduTujuan penyelenggaraan posyandu adalah untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan bayi, balita, ibu dan pasangan usia subur.(3) Posyandu direncanakan dan dikembangkan oleh kader bersama Kepala Desa dan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) serta penyelenggaraannya dilakukan oleh kader yang terlatih dibidang KB-Kes, berasal dari PKK, tokoh masyarakat, pemuda dengan bimbingan tim pembina LKMD tingkat kecamatan. Kader adalah anggota masyarakat yang dipilih dari dan oleh masyarakat setempat yang disetujui oleh LKMD dengan syarat; mau dan mampu bekerja secara sukarela, dapat membaca dan menulis huruf latin dan mempunyai cukup waktu untuk bekerja bagi masyarakat. Posyandu dapat melayani semua anggota masyarakat, terutama ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta Pasangan Usia Subur (PUS). Biasanya dilaksanakan satu kali sebulan ditempat yang mudah didatangi oleh masyarakat dan ditentukan masyarakat sendiri.

II.2.3. Kedudukan PosyanduMenurut lokasinya Posyandu dapat berlokasi di setiap desa atau kelurahan atau negara. Bila diperlukan dan memiliki kemampuan, dapat berlokasi di tiap RW, dusun, atau sebutan lain yang sesuai. Kedudukan Posyandu (4) adalah : Terhadap pemerintah desa atau kelurahan, adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara kelembagaan dibina oleh pemerintah desa atau kelurahan. Terhadap Pokja Posyandu, sebagai satuan organisasi yang mendapat binaan aspek administrasi, keuangan dan program Pokja. Terhadap berbagai UKBM, adalah sebagai mitra. Terhadap Konsil Kesehatan Kecamatan, adalah sebagai satuan organisasi yang mendapat arahan dan dukungan sumberdaya dari Konsil Kesehatan Kecamatan. Terhadap Puskesmas, adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara teknis medis dibina oleh Puskesmas.

II.2.4. Tugas dan Tangung Jawab Pihak-Pihak yang TerkaitBeberapa pihak yang terkait dengan kegiatan Posyandu memilikitugas dan tangung jawab sebagai berikut (4) :a. Kader Kesehatan Menyiapkan tempat pelaksanaan, peralatan, sarana danprasarana Posyandu. Melaksanakan pendaftaran. Melaksanakan penimbangan balita dan ibu hamil yangberkunjung ke Posyandu. Mencatat hasil penimbangan di KMS atau buku KIA dan mengisibuku register Posyandu. Melaksanakan penyuluhan kesehatan dan gizi sesuai denganhasil penimbangan serta memberikan PMT. Memberikan pelayanan kesehatan dan KB sesuai dengankewenangannya, misalnya memberikan vitamin A, tablet besi,oralit, pil KB, kondom. Bila ada petugas kesehatan makakegiatan kesehatan dilakukan bersama dengan petugaskesehatan. Setelah selesai penimbangan bersama petugas kesehatanmelengkapi pencatatan dan membahas hasil kegiatan sertatindak lanjut.b. Petugas Kesehatan Membimbing kader dalam penyelenggaraan Posyandu. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana di meja 5 (lima). Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan, gizi dan KB kepada pengunjung Posyandu dan masyarakat luas. Menganalisa hasil kegiatan Posyandu dan melaporkannya kepada Kepala Puskesmas serta menyusun rencana kerja dan melaksanakan upaya perbaikan sesuai kebutuhan.II.2.5. Kegiatan PosyanduKegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatanpengembangan atau pilihan, yaitu (5) :a. Kegiatan Utama1) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)a) Ibu hamilPelayanan meliputi :i. Penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan oleh kader kesehatan.ii. Bila ada petugas Puskesmas ditambah dengan pengukuran tekanan darah, pemeriksaan hamil bila ada tempat atau ruang periksa dan pemberian imunisasi Tetanus Toxoid. Bila ditemukan kelainan maka segera dirujuk ke Puskesmas.iii. Bila dimungkinkan diselenggarakan kelompok ibu hamil pada hari buka Posyandu yang kegiatannya antara lain : penyuluhan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, persiapan menyusui, KB dan gizi ibu hamil, perawatan payudara dan pemberian ASI, peragaan perawatan bayi baru lahir dan senam ibu hamil.

b) Ibu nifas dan menyusuiPelayanannya meliputi :i. Penyuluhan kesehatan, KB, ASI, dan gizi, perawatan jalan lahir.ii. Pemberian vitamin A dan tablet besiiii. Perawatan payudaraiv. Senam ibu nifasv. Bila ada petugas kesehatan dan tersedia ruangan maka dapat dilakukan pemeriksaan payudara, tinggi fundus uteri, dan pmeriksaan lochea.

c) Bayi dan anak balitaJenis pelayanan untuk bayi dan balita mencakup :i. Penimbanganii. Penentuan status giziiii. Penyuluhan tentang kesehatan bayi dan balitaiv. Jika ada petugas kesehatan dapat ditambahkan pemeriksaan kesehatan, imunisasi, dan deteksi dini tumbuh kembang. Bila ditemukan adanya kelainanakan dirujuk ke Puskesmas.

2) Keluarga BerencanaPelayanan KB di Posyandu yang diselenggarakan oleh kader adalah pemberian pil dan kondom. Bila ada petugas keehatan maka dapat dilayani KB suntik dan konseling KB.3) ImunisasiPelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan bila ada petugas kesehatan Puskesmas. Jenis pelayanan imunisasi yang diberikan yang sesuai program, baik untuk bayi, balita maupun untuk ibu hamil, yaitu : BCG, DPT, hepatitis B, campak, polio, dan tetanus toxoid.4) Gizi Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Bentuk pelayanannya meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian PMT, pemberian vitamin A dan pemberian sirup besi (Fe). Untuk ibu hamil dan ibu nifas diberikan tablet besi dan yodium untuk daerah endemis gondok.5) Pencegahan dan Penanggulangan DiarePelayanan diare di Posyandu dilakukan antara lain dengan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare antara lain dengan cara penyuluhan tentang diare dan pemberian oralit atau larutan gula garam.(4,6)

b. Kegiatan PengembanganDalam keadaan tertentu Posyandu dapat menambah kegiatan baru, misalnya : perbaikan kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular dan berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya. Posyandu demikian disebut dengan Posyandu Plus.Penambahan kegiatan baru tersebut dapat dilakukan bila cakupan kegiatan utamanya di atas 50%, serta tersedianya sumberdaya yang mendukung. (4)

Kegiatan bulanan di Posyandu mengikuti pola keterpaduan KBKesehatan dengan sistem lima meja (10) :Meja I: Pendaftaran.Meja II: Penimbangan bayi dan anak balita.Meja III: Pengisian KMS.Meja IV: Penyuluhan peroranganMeja V:Pelayanan oleh tenaga profesional meliputi pelayanan KIA,KB, Imunisasi dan pengobatan, serta pelayanan lain sesuai dengan kebutuhan.

II.2.6. Stratifikasi PosyanduSemua Posyandu didata tingkat pencapaiannya, baik dari segipengorganisasian maupun pencapaian programnya. Tujuannya adalahmelakukan kategorisasi atau stratifikasi posyandu, yang bisadikelompokkan menjadi 4 tingkat, yaitu berturut-turut dari terendahsampai tertinggi sebagai berikut (10) :a. Posyandu Pratama, dengan warna merahb. Posyandu Madya, dengan warna kuningc. Posyandu Purnama, dengan warna hijaud. Posyandu Mandiri, dengan warna biru

Penggolongan diatas dilakukan atas dasar pengorganisasian dan tingkat pencapaian programnya, dalam hal ini digunakan 8 indikator yaitu :a. Frekuensi penimbangan pertahunSeharusnya posyandu menyelenggarakan kegiatan setiap bulan, jadi bila teratur akan ada 12 kali penimbangan setiap tahun. Dalam kenyataannya tidak semua posyandu dapat berfungsi setiap bulan.Untuk itu diambil batasannya 8 kali.Posyandu yang mapan bila kegiatannya > 8 kali. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Yonferizal (2007), yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan keaktifan kader dengan intensitas pelayanan posyandu.(7)b. Rata-rata jumlah kader pada hari H posyanduJumlah kader yang bertugas pada hari H dapat dijadikan indikasi lancar tidaknya posyandu.Bila jumlah kader 5 orang atau lebih tanda kegiatannya tertangani dengan baik.Hal ini sesuai dengan hasil penelitian M. Munir Salham, dkk. (2006) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara motiasi kader dan pengguna pada hari buka Posyandu dengan revitalisasi Posyandu, karena semakin tinggi tingkat motivasi kader dan pengguna semakin tercapai pula upaya revitalisasi atau sebaliknya.(6,7)

c. Cakupan D/SCakupan D/S dapat dijadikan tolak ukur peran serta masyarakatdan aktivitas kader atau tokoh masyarakat dalam menggerakkanmasyarakat setempat untukmemanfaatkan posyandu. Peran serta masyarakat dianggap baik bila D/S dapat mencapai 50 %. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati (2008), disebutkan bahwa pengetahuan, sikap, pekerjaan, penghasilan, ketersediaan PMT, kebutuhan, ketrampilan kader, dan keterjangkauan Posyandu mempunyai hubungan bemakna terhadap pemanfaatan Posyandu balita.(7)d. Cakupan ImunisasiCakupan imunisasi dihitung secara kumulatif selama 1 (satu) tahun.Cakupan kumulatif dianggap baik bila mencapai 50 % keatas.e. Cakupan ibu hamilCakupan pemeriksaan ibu hamil dihitung secara kumulatif selama 1 (satu) tahun.Batas mapan tidaknya posyandu digunakan angka 50 %.f. Cakupan KBCakupan peserta KB juga dihitung secara kumulatif selama 1 (satu) tahun.Pencapaian 50 % keatas.g. Program TambahanPosyandu pada mulanya melaksanakan 5 program yaitu : KIA, KB, Perbaikan Gizi, Imunisasi dan Penaggulangan Diare. Bila telah mantap, maka programnya dapat ditambahan. Program tambahan disini adalah bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat seperti : Bina Keluarga Balita, Pos Obat Desa, Pondok Bersalin Desa, dan sebagainya.h. Dana SehatDana sehat merupakan wahana untuk memandirikan posyandu. Diharapkan bila dana sehat telah mampu membiayai posyandu, maka tingkat kemandirian masyarakat sudah baik. Sebagai ukuran digunakan persentase kepala keluarga (KK) yang ikut dana sehat, dikatakan baik bila cakupan > 50 %.

Data Hasil Kegiatan PosyanduData yang dihasilkan dari kegiatan Posyandu yang tersedia di tingkat Posyandu dan desa adalah sebagai berikut (4) :

Tabel 1. Data hasil kegiatan Posyandu yang tersedia di tingkat Posyandu dan DesaData Posyandu Desa

S

K

D

N atau T

BGM

O

BJumlah seluruh balita di wilayah Posyandu

Jumlah balita yang memiliki KMS pada bulan ini di wilayahkerja Posyandu

Jumlah balita yang ditimbang bulan ini di wilayah kerja Posyandu

Balita yang ditimbang 2 bulan berturut-turut dan garis pertumbuhanpada KMS naik (N) atau tidak naik (T)

Balita yang BB-nya di bawah garis merah pada KMS.

Balita yang tidak ditimbang bulan sebelumnya.

Anak yang baru pertama kali ditimbang bulan ini Rekapitulasi jumlah balita yang baru pertama kali ditimbang bulan ini dari seluruh Posyandu di desa

Sumber : Depkes RI, 2002.

Data dan informasi yang dibutuhkan untuk pemantauan dari data yang tersedia di atas tidak semuanya digunakan untuk keperluan pemantauan pertumbuhan. Data yang diperlukan untuk pemantauan pertumbuhan adalah N atau T, D, BGM, O dan B.4

Faktor faktor yang menyebabkan rendahnya jumlah balita yang datang dan ditimbang (D/S)1. Tingkat PendidikanTingkat pendidikan seseorang mempengaruhi tingkat pengetahuan/ pemahaman masyarakat mengenai balita yang sehat.Makin rendah tingkat pendidikan seseorang makin rendaj pula tingkat pemahaman atau pengetahuan mengenai balita yang sehat, begitu pula sebaliknya, makin tinggi tingakat pendidikan seseorang makin tinggi pula tingkat pemahaman/ pengetahuan tentang balita sehat.Pendidikan juga dapat diberikan di bidang kesehatan secara formal di suatu klinik balita yang dapat dipakai di seluruh puskesmas.2. Tingkat PengetahuanTahu adalah mengerti sesudah melihat atau menyaksikan, mengalami, atau diajar. Pengetahuan gizi yang baik akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk di konsumsi. Semakin banyak pengetahuan gizi seseorang, maka ia akan memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi. Semakin bertambahnya pengetahuan ibu maka seorang ibu akan mengerti jenis dan jumlah makanan untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarganya termasuk pada anak balitanya. Hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, sehingga dapat mengurangi atau mencegah gangguan gizi pada keluarga.

II.3 Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita II.3.1 Pengertian KMSKMS adalah kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indikator perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balita setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun. KMS juga dapat diartikan sebagai rapor kesehatan dan gizi (Catatan riwayat kesehatan dan gizi ) balita ( Depkes RI, 1996 ). Di Indonesia dan negara - negara lain, pemantauan berat badan balita dilakukan dengan timbangan bersahaja ( dacin ) yang dicatat dalam suatu sistem kartu yang disebut Kartu Menuju Sehat (KMS). Hambatan kemajuan pertumbuhan berat badan anak yang dipantau dapat segera terlihat pada grafik pertumbuhan hasil pengukuran periodik yang dicatat dan tertera pada KMS tersebut. Naik turunnya jumlah anak balita yang menderita hambatan pertumbuhan di suatu daerah dapat segera terlihat dalam jangka waktu periodik ( bulan ) dan dapat segera diteliti lebih jauh apa sebabnya dan dibuat rancangan untuk diambil tindakan penanggulangannya secepat mungkin. Kondisi kesehatan masyarakat secara umum dapat dipantau melalui KMS, yang pertimbangannya dilakukan di Posyandu ( Pos Pelayanan terpadu ), ( Sediaoetama, 1999 ). Indikator BB / U dipakai di dalam Kartu Menuju Sehat ( KMS ) di Posyandu untuk memantau pertumbuhan anak secara perorangan. Pengertian tentang Penilaian status Gizi dan Pemantauan pertumbuhan sering dianggap sama sehingga mengakibatkan kerancuan. KMS tidak untuk memantau gizi, tetapi alat pendidikan kepada masyarakat terutama orang tua agar dapat memantau pertumbuhan anak, dengan pesan Anak sehat tambah umur tambah berat ( Soekirman, 2000 ).

II.3.2 Tujuan Penggunaan KMS Balita Umum : Mewujudkan tingkat tumbuh kembang dan status kesehatan anak balita secara optimal. Khusus : Sebagai alat bantu bagi ibu atau orang tua dalam memantau tingkat pertumbuhan dan perkembangan balita yang optimal. Sebagai alat bantu dalam memantau dan menentukan tindakan tindakan untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan balita yang optimal. Sebagai alat bantu bagi petugas untuk menentukan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi kepada balita. ( Depkes RI, 1996 )

II.3.3. Fungsi KMS Balitaa. Sebagai media untuk mencatat / memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap. b. Sebagai media penyuluhan bagi orang tua balita tentang kesehatan balita c. Sebagai sarana pemantauan yang dapat digunakan bagi petugas untuk menentukan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi terbaik bagi balita. d. Sebagai kartu analisa tumbuh kembang balita ( Depkes RI, 1996 )

Fungsi KMS ditetapkan hanya untuk memantau pertumbuhan bukan untuk penilaian status gizi. Artinya penting untuk memantau apakah berat badan anak naik atau turun, tidak untuk menentukan apakah status gizinya kurang atau baik, ( Soekirman, 2000 ).

II.4 Kerangka Pikir Pemecahan MasalahMasalah adalah kesenjangan antara keadaan spesifik yang diharapkan, yang ingin dicapai, yang menimbulkan rasa tidak puas, dan keinginan untuk memecahkannya.Dengan demikian didapatkan ciri-ciri masalah : Menyatakan hubungan dua atau lebih variable Dapat diukur Dapat diatasi (Hartoyo,2007)

Urutan dalam siklus pemecahan masalah antara lain:1. Identifikasi / inventarisasi masalahMenetapkan keadaan spesifik yang diharapkan, yang ingin dicapai, menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja, misalnya SPM.Kemudian mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau mengukur hasil pencapaian.Yang terakhir membandingkan antara keadaan nyata yang terjadi, dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau indikator tertentu yang sudah ditetapkan.2. Penentuan prioritas masalahPenyusunan peringkat masalah lebih baik dilakukan oleh banyak orang daripada satu orang saja. Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain: Hanlon, Delbeq, CARL, Pareto, dll.3. Penentuan penyebab masalahPenentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau kepustakaan dengan curah pendapat.Penentuan penyebab masalah hendaknya jangan menyimpang dari masalah tersebut.4. Memilih penyebab yang paling mungkinPenyebab masalah yang paling mungkin harus dipilih dari sebab-sebab yang didukung oleh data atau konfirmasi.5. Menentukan alternatif pemecahan masalahSeringkali pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari penyebab yang sudah diidentifikasi.Jika penyebab sudah jelas maka dapat langsung pada alternatif pemecahan masalah.6. Penetapan pemecahan masalah terpilihSetelah alternatif pemecahan masalah ditentukan, maka dilakukan pemilihan pemecahan terpilih.Apabila diketemukan beberapa alternatif maka digunakan Hanlon kualitatif untuk menentukan/memilih pemecahan terbaik.7. Penyusunan rencana penerapanRencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA (Plan of Action atau Rencana Kegiatan)8. Monitoring dan evaluasiAda dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan menyangkut masalah itu sendiri, apakah permasalahan sudah dapat dipecahkan.

Siklus Pemecahan Masalah

Gambar 1. Diagram Analisis Masalah

II.5 Analisis Penyebab MasalahDalam menganalisis masalah digunakan metode pendekatan system untuk mencari kemungkinan penyebab dan menyusun pendekatan pendekatan masalah. Dari pendekatan system ini dapat ditelusuri hal hal yang mungkin menyebabkan munculnya permasalahan di Dusun Jetis Desa Ngadirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang

Adapun sistem yang diutarakan disini adalah system terbuka pelayanan kesehatan yang dibarkan sebagai berikut :

ENVIRONMENT

OUTPUTCakupanProgramPROCESSP1P2P3INPUT

IMPACTOUTCOME

Gambar 2. Kerangka Pikir Pendekatan Sistem

II.6 Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah dengan Kriteria Matriks MIVCSetelah menemukan alternative pemecahan masalah, maka selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan metode Matriks :

M x I x VC

Keterangan: Magnitude (m)Artinya besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan, semakin besar atau banyak penyebab masalah dapat diselesaikan maka akan semakin efektif. Importancy (i)Artinya pentingnya penyelesaian masalah, semakin penting cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah maka akan semakin efektif. Vunerability (v)Artinya sensitifitas cara penyelesaian masalah, semakin sensitive maka akan semakin efektif.

Skor untuk (magnitude, importancy dan vunerability):1. Sangat kurang efektif2. Kurang efektif3. Cukup efektif4. Efektif5. Sangat efektif

Cost (c)Artinya biaya.Skor untuk (cost):1. Bila biaya atau sumber daya yang digunakan semakin kecil.2. Bila biaya atau sumber daya yang digunakan kurang besar3. Bila biaya atau sumber daya yang digunakan cukup besar4. Bila biaya atau sumber daya yang digunakan besarBila biaya atau sumber daya yang digunakan semakin atau sangat besar.

BAB 3KERANGKA PENELITIAN

3.1 Kerangka Teori Penelitian

LINGKUNGAN

INPUTManMoneyMethodMaterialMachine

PROSES

OUTPUT

Pengetahuan Kader akan pentingnya balita yang dan ditimbang di posyandu yang kurangIbu lebih mementingkan pekerjaan daripada memperhatikan pertumbuhan balitanya.Rendahnya Cakupan Balita yang Datang dan ditimbang.

Rendahnya pengetahuan ibu yang memiliki balita usia 0 5 tahun.Kurangnya kesadaran ibu untuk datang dan menimbang rebalitanya

Sedikitnya penyuluhan yang menarik untuk ibu ibu mengenai pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu

Gambar 4. Kerangka Teori Penelitian

3.2 Kerangka Konsep Penelitian

Pengetahuan dan kesadaran ibu yang memiliki balita untuk datang dan menimbang di posyandu

Balita yang datang dan di timbang

Keaktifan Kader atau petugas kesehatan (bidan desa)

Penyuluhan mengenai pentingnya balita yang datang dan ditimbang di posyandu

Gambar 4. Kerangka Konsep Penelitian

BAB IVMETODE PENELITIAN

Laporan ini disusun berdasarkan data primer dan data sekunder yang didapatkan selama empat hari dari tanggal 3 April s/d 6 April 2012 di Puskesmas Salaman dan Posyandu Jetis. Data primer berupa pelaksanaan proses manajemen (P1, P2, P3) yang diperoleh dari dokter puskesmas beserta staf staf Puskesmas. Data sekunder diperoleh dari data tertulis yang ada diPuskesmas Salaman I dan Posyandu Jetis.Hasil data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif. Kemudian dilakukan identifikasi masalah menggunakan SPM (Standar Pelayanan Minimal) dan ditentukan prioritasnya menggunakan metode Hanlon Kuantitatif. Tahap selanjutnya adalah analisa penyebab masalah menggunakan metode fishbone. Selanjutnya ditentukan alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan manajemen dan ditentukan pemecahan masalah dengan menggunakan kriteria matriks untuk selanjutnya dibuat rencana kegiatan POA (Planning of Action).IV.1 Batasan JudulLaporan kegiatan dengan judul Rencana Peningkatan Progran Gizi Cakupan Pemantauan dan Pertumbuhan Balita yang Datang dan Ditimbang Berat Badannya di Dusun Jetis Desa Ngadirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang Periode Januari 2012 memiliki batasan pengertian judul sebagai berikut :a. EvaluasiSuatu proses untuk menilai sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.b. Program GiziAdalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. Ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta pra sekolah.c. CakupanAdalah jangkauan suatu hal.d. BalitaAdalah bayi dan anak yang berusia 0 5 tahun.e. Balita yang datang dan ditimbang berat badannya (D/S)Jumlah balita yang datang serta di timbang berat badannya di posyandu balita.

f. Dusun Jetis Desa Ngadirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.Adalah salah satu dusun dari 9 dusun yang terdapat di Desa Ngadirejo yang berada di wilayah kerja Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. g. Periode Januari Februari 2012Adalah kurun waktu selama dua bulan pada awal tahun 2012.

IV.2 Definisi Operasionala. Sasaran adalah banyaknya jumlah balita yang datang dan menimbang berat badannya di wilayah Dusun Jetis Desa Ngadirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.b. Cakupan adalah persentase hasil perbandingan antara jumlah balita yang datang dan ditimbang dengan jumlah seluruh balita di wilayah Dusun Jetis Desa Ngadirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.c. Balita yang datang dan di timbang (D/S) adalah anak berusia 0 5 tahun yang datang ke posyandu untuk di timbang berat badannya.d. Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Menurut Notoadmojo (2003) kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat dikategorikan sebagai berikut Tingkat pengetahuan baik bila skor 75-100 % Tingkat pengetahuan cukup bila skor 60-75 % Tingkat pengetahuan kurang bila skor 50 %: perilaku kurang baikJika yang menjawab TIDAK < 50 %: perilaku baikTabel 23 diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku ibu kurang baik untuk datang dan menimbang balitanya ke Posyandu, membawa KMS saat ke posyandu, dan memperhatikan kenaikan dan penurunan berat badan balita.

Tabel 24. Penyebab Ibu Tidak Membawa Balitanya ke PosyanduPelayanan KesehatanJumlah%

Ibu bekerja atau sibuk

Ibu pergi atau berhalangan hadir

Ibu tidak tahu jadwal posyandu jika di undur dari jadwal biasanyaTotal20

5

3

2872

18

10

100

Tabel 25. Menunjukan bahwa ibu tidak membawa balita ke posyandu yang pertama adalah karena ibu bekerja dan sibuk. Penyebab kedua ibu pergi atau berhalangan hadir, yang ketiga adalah ibu tidak tahu jadwal posyandu jika diundur dari jadwal biasanya.

V.3.2 Hasil Wawancara Tenaga KesehatanHasil wawancara dengan tenaga kesehatan dalam hal ini dengan bidan Desa Ngadirejodidapatkan hasil sebagai berikut :Tabel 25. Hasil Wawancara Tenaga Kesehatam (Bidan Desa Ngadirejo)BagianNilai

IIdentitasUsia :Pendidikan :Masa Kerja :35 tahunPKB Kebidanan 20002 tahun

IIPENGETAHUANSkala nilai 1 5Menjelaskan 5 Program pokok kegiatan posyandu5

Untuk setiap pertanyaan Menjelaskan arti dari istilah N,K,T,D4

Total nilai 30Menjelaskan arti N/D5

< 80% = kurang baikMenjelaskan langkah penimbangan balita5

> 80 % = baikMenjelaskan kondisi balita yang menjadi perhatian setelah dilakukan penimbangan5

3Menjelaskan cara mengetahui pertumbuhan balita baik, kurang dan buruk5

Total nilai pengetahuan3996 %

3Sikap dan perilaku

Skala nilai 1 5 untuk setiap pertanyaanRutin mengadakan pelatihan setiap bulan tetapi masih di rasa kurang menyebar informasinya3

Selalu memperhatikan kenaikan/ penurunan BB balita5

Total nilai sikap & perilaku880%

1. Mana. Jumlah kader aktif disetiap dusun cukup2

2. Moneya. Sumber dana kegiatan posyandu dari swadaya masyarakatb. Untuk penanganan gizi buruk mendapat dana dari pemerintah3

5

3. Methodea. Dilakukan penimbangan setiap bulan sekalib. Pencatatan KMSc. Pencatatan di kohort balitad. System 5 meja5

55

3

4. MaterialPosyandu disetiap dusun biasanya di tempat/ rumah kepala dusun/ warga3

5. MachineTimbangan dacin, KMS balita5

Total nilai3672 %

2. ProsesP1Perencanaan jadwal kegiatan posyandu di setiap dusun.Jadwal pertemuan kader, pelatihan4

P2Pelaksanaan & penggerakPelaksanaan : Penimbangan balita Pencatatan KMS Pelayanan kesehatan gizi PMT4

P3(penilaian, pengawasan, pengendalian)Adanya laporan kegiatan setiap bulan dan evaluasi kinerja kader4

Total nilai1280 %

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan Bidan desa Ngadirejo adalah baik.

V.3.3 Hasil Wawancara dengan Kader Posyandu Kuesioner kader ini diisi oleh 3 kader aktif di Posyandu JetisDusun Jetis Desa Ngadirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.1. Tingkat pengetahuan tentang posyandu dan pemantauan pertumbuhan balita.Untuk penilaian pengetahuan digunakan skala 1 5 untuk 4 pertanyaan dengan skor total tertinggi 20 (100%)Tabel 26. Tingkat Pengetahuan KaderPertanyaanKader

123

Menyebutkan 5 sistem meja Posyandu555

Mengetahui makna pita warna pada KMS443

Mengetahui manfaat vitamin A dan Fe434

Mengetahui cara memantau pertumbuhan balita444

Total nilai setiap kader1780%1675%11675%

Tabel 27.Persentase Tingkat Pengetahuan KaderPengetahuanNilai 75-100%(Baik)Nilai 60-75 %(Cukup)Nilai < 60%(Kurang)

Jumlah Kader

%3

100

Dari Tabel 26 dan 27 dapat dilihat bahwa pengetahuan kader tentang pelayanan posyandu, cara penimbangan dan pemantauan pertumbuhan kader berpengetahuan baik.

2. Sikap kader tentang pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita.Tabel 28. Sikap KaderSikapNilai > 50 % (Baik)Nilai < 50 %(Kurang)

Jumlah

%3

1000

0

Dari tabel diatas didapatkan bahwa seluruh kader memiliki sikap yang baik mengenai pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita.

3. Perilaku kader tentang pemantauan dan pertumbuhan balita

Tabel 29. Perilaku KaderPerilakuYaTidak

1x2x3x

Jumlah0050

%001000

Keterangan :Jika yang menjawab TIDAK >50 %: perilaku kurang baikJika yang menjawab TIDAK < 50 %: perilaku baik

Dari data pada tabel di atas didapatkan bahwa perilaku kader sudah baik.

BAB VIANALISA MASALAH

VI.1 Analisis Penyebab MasalahDalam menganalisis mesalah digunakan metode pendekatan sistem untuk mencari kemungkinan penyebab dan menyusun pendekatan pendekatan masalah. Dari pendekatan sistem ini dapat ditelusuri hal hal yang mungkin menyebabkan munculnya permasalahan di Dusun Jetis Desa Ngadirejo .Tabel 30. Analisa Kemungkinan Penyebab Masalah Rendahnya D/S Ditinjau dari Faktor InputInputKelebihanKekurangan

Man(Tenaga Kerja) Jumlah 3 kader aktif Bidan Koordinator gizi di puskesmas Keterampilan kader dan bidan desa sudah baik-

Money(Pembiayaan) Tersedianya dana anggaran dari puskesmas untuk penyelenggaraan posyanduDana operasional yang terbatas untuk penyuluhan dan PMT (Pemberian Makanan Tambahan)

Methode(Metode) Adanya program penimbangan balita Jadwal pelaksanaan posyandu tetap setiap bulan.Minimnya penyuluhan tentang gizi dan pentingnya balita untuk datang dan ditimbang.

Material(Perlengkapan)Terdapat posyandu disetiap dusunTidak tetapnya tempat pelaksanaan posyandu.

Machine(Peralatan) Tersedia alat seperti timbangan dacin untuk kegiatan posyandu Adanya KMS dan Kohort balita untuk pencatatan Berat badan balita Masih kurangnya media promosi mengenai pentingnya penimbangan balita Posyandu

Tabel 31. Analisis Kemungkinan Penyebab Masalah RendahnyaDitinjau dari Faktor Proses dan LingkunganProsesKelebihanKekurangan

P1(Perencanaan) Posyandu sudah diadakan tiap bulannya, yaitu tanggal 5 setiap bulannya Kerjasama lintas program antara Gizi dengan KIA Jika terjadi perubahan jadwal posyandu, sulit untuk melakukan pemberitahuan secara merata.

P2(Pelaksanaan) Anak ditimbang Dilakukan pencatatan KMS Pencatatan di buku bantu Kader Terdapat pelayanan kesehatan dan KB Pelaporan ke bidan desa Jadwal pelaksaaan Posyandu yang berbenturan dengan jadwal PAUD Kurangnya kegiatan penyuluhan yang dapat menarik minat ibu-ibu untuk mengetahui pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu.

P3(Penilaian, pengawasan & pengendalian)Evaluasi berupa laporan bulanan hasil posyandu tentang D/S Kurangnya pengawasan terhadap pelaksanaan posyandu oleh petugas lapangan.

LingkunganIbu memiliki sikap yang baik terhadap kegiatan posyandu Banyaknya ibu-ibu yang lebih mementingkan kesibukannya daripada pertumbuhan balitanya. Perilaku orang tua yang menganggap bahwa datang ke posyandu tidak harus rutin Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pentingnya balita yang datang dan ditimbang.

VI.2 Daftar Penyebab Masalah1. Dana operasional yang terbatas untuk penyuluhan dan PMT (Pemeberian Makanan Tambahan).2. Minimnya penyuluhan tentang gizi dan pentingnya balita untuk datang dan ditimbang.3. Tidak tetapnya tempat pelaksanaan posyandu.4. Masih kurangnya media promosi mengenai pentingnya penimbangan balita Posyandu5. Jika terjadi perubahan jadwal posyandu, sulit untuk melakukan pemberitahuan secara merata.6. Jadwal pelaksaaan Posyandu yang berbenturan dengan jadwal PAUD7. Kurangnya kegiatan penyuluhan yang dapat menarik minat ibu-ibu untuk mengetahui pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu.8. Kurangnya pengawasan terhadap pelaksanaan posyandu oleh petugas lapangan.9. Banyaknya ibu-ibu yang lebih mementingkan kesibukannya daripada pertumbuhan balitanya.10. Perilaku orang tua yang menganggap bahwa datang ke posyandu tidak harus rutin11. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pentingnya balita yang datang dan ditimbang.

59

Kurangnya kegiatan penyuluhan yang dapat menarik minat ibu-ibu untuk mengetahui pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu Jadwal pelaksaaan Posyandu yang berbenturan dengan jadwal PAUDP1Jika terjadi perubahan jadwal posyandu, sulit untuk melakukan pemberitahuan secara merataKurangnya pengawasan terhadap pelaksanaan posyandu oleh petugas lapangan.P3P2

Kurangnya kegiatan penyuluhan yang dapat menarik minat ibu-ibu untuk mengetahui pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu.MachineTidak tetapnya tempat pelaksanaan posyanduRendahnya Cakupan Balita yang datang dan ditimbang (D/S) sebesar 61 % di dusun Jetis Desa Ngadirejo Kecamatan Salaman Sedangkan target Dinkes 80%MethodMinimnya penyuluhan tantang gizi dan pentingnya balita untuk datang dan ditimbangMaterialManMoneyDana operasional yang terbatas untuk penyuluhan dan PMT (Pemeberian Makanan Tambahan)INPUT

Banyaknya ibu-ibu yang lebih mementingkan kesibukannya daripada pertumbuhan balitanya.Perilaku orang tua yang menganggap bahwa datang ke posyandu tidak harus rutinKurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pentingnya balita yang datang dan ditimbang.

LINGKUNGANs

-

VI.3. Penyebab Masalah yang Paling MungkinSetelah dilakukan konfirmasi kepada bagian Gizi, Bidan Desa Ngadirejo, serta dilakukan wawancara dengan responden (ibu yang memiliki balita yang datang, tidak ditimbang dan ditimbang) maka didapatkan penyebab masalah yang paling mungkin, yaitu :1. Banyaknya ibu-ibu yang lebih mementingkan kesibukannya daripada pertumbuhan balitanya.2. Kurangnya kegiatan penyuluhan yang dapat menarik minat ibu-ibu untuk mengetahui pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu.3. Perilaku orang tua yang menganggap bahwa datang ke posyandu tidak harus rutin.4. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pentingnya balita yang datang dan ditimbang.5. Jadwal pelaksaaan Posyandu yang berbenturan dengan jadwal PAUD

BAB VIIALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

VII. 1 Analisa Alternatif Pemecahan MasalahSetelah diperoleh daftar masalah, dilakukan langkah selanjutnya yaitu dibuat alternatif pemecahan masalah. Berikut ini alternatif pemecahan masalah:Tabel 32. Alternatif Pemecahan MasalahNo.Penyebab MasalahAlternatif Pemecahan Masalah

1.Banyaknya ibu-ibu yang lebih mementingkan kesibukannya daripada pertumbuhan balitanya. Para kader mengingatkan jadwal posyandu pelaksanaan posyandu 1 atau 2 hari sebelumnya dan mengingatkan pentingnya untukdatang ke posyandu.

2.Kurangnya kegiatan penyuluhan yang dapat menarik minat ibu-ibu untuk mengetahui pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu Menggunakan media-media yang menarik seperti poster, leafleat, film dll agar menarik perhatian ibu-ibu yang memiliki balita untuk datang ke posyandu Mengadakan penyuluhan yang intensif oleh bidan desa kepada ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya menimbang berat badan balitanya ke posyandu secara rutin.

3.Perilaku orang tua yang menganggap bahwa datang ke posyandu tidak harus rutin. Memberikan penyuluhan kepada ibu yang memiliki balita tentang pentingnya mengikuti kegiatan posyandu hingga anak berusia 5 tahun Penyebaran informasi tentang pentingnya datang ke posyandu secara rutin melalui leaflet, poster atau kelompok RT dan arisan Meningkatkan keaktifan kader agar dapat mengajak ibu-ibu yang memiliki balita aktif ke posyandu balita.

4.Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pentingnya balita yang datang dan ditimbang.

Memberikan penyuluhan kepada ibu yang memiliki balita tentang pentingnya mengikuti kegiatan posyandu hingga anak berusia 5 tahun

5.Jadwal pelaksaaan Posyandu yang berbenturan dengan jadwal PAUDMembina kerja sama dengan sekolah untuk menimbang balita di lingkungan sekolah.

VII. 2 Penggabungan Pemecahan MasalahTabel 33. Penggabungan Alternatif Pemecahan MasalahNo.Penyebab MasalahAlternatif Pemecahan Masalah

1.Banyaknya ibu-ibu yang lebih mementingkan kesibukannya daripada pertumbuhan balitanya

Para kader mengingatkan jadwal posyandu pelaksanaan posyandu 1 atau 2 hari sebelumnya dan mengingatkan pentingnya untuk datang ke posyandu.

2.Kurangnya kegiatan penyuluhan yang dapat menarik minat ibu-ibu untuk mengetahui pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu

Menggunakan media-media yang menarik seperti poster, leafleat, film dll agar menarik perhatian ibu-ibu yang memiliki balita untuk datang ke posyandu

3.Perilaku orang tua yang menganggap bahwa datang ke posyandu tidak harus rutin. Mengadakan penyuluhan yang intensif oleh bidan desa kepada ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya menimbang berat badan balitanya ke posyandu secara rutin

4.Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pentingnya balita yang datang dan ditimbang.

Membina kerja sama dengan sekolah untuk menimbang balita di lingkungan PAUD

5.Jadwal pelaksaaan Posyandu yang berbenturan dengan jadwal PAUD

Penggabungan alternatif pemecahan masalah ini adalah :1. Para kader mengingatkan jadwal posyandu pelaksanaan posyandu 1 atau 2 hari sebelumnya dilaksanakannya kegiatan posyandu dan mengingatkan pentingnya untuk datang ke posyandu.2. Menggunakan media-media yang menarik seperti poster, leafleat, film dll agar menarik perhatian ibu-ibu yang memiliki balita untuk datang ke posyandu.3. Mengadakan penyuluhan yang intensif oleh bidan desa kepada ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya menimbang berat badan balitanya ke posyandu secara rutin.4. Membina kerja sama dengan sekolah untuk menimbang balita di lingkungan PAUD.

VII. 3. Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah Dengan Kriteria Matriks Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria matriks. Tabel 34. Matriks MIVCAlternatif Pemecahan MasalahMagnitude (M)Importancy (I)Vulnerability (V)Cost (C)JumlahPrioritas

Para kader mengingatkan jadwal posyandu pelaksanaan posyandu 1 atau 2 hari sebelumnya dilaksanakannya kegiatan posyandu dan mengingatkan pentingnya untuk datang ke posyandu334218II

Menggunakan media-media yang menarik seperti poster, leafleat, film dll agar menarik perhatian ibu-ibu yang memiliki balita untuk datang ke posyandu.33339IV

Mengadakan penyuluhan yang intensif oleh bidan desa kepada ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya menimbang berat badan balitanya ke posyandu secara rutin545425I

Membina kerja sama dengan sekolah untuk menimbang balita di lingkungan PAUD.334312III

Setelah melakukan penentuan prioritas alternatif penyebab pemecahan masalah dengan menggunakan kriteria matriks maka didapatkan urutan prioritas alternatif pemecahan penyebab masalah rendahnya cakupan balita yang datang dan ditimbang berat badannya di Dusun Jetis Desa Ngadirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, antara lain :1. Mengadakan penyuluhan yang intensif oleh bidan desa kepada ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya menimbang berat badan balitanya ke posyandu secara rutin2. Para kader mengingatkan jadwal posyandu pelaksanaan posyandu 1 atau 2 hari sebelumnya dilaksanakannya kegiatan posyandu dan mengingatkan pentingnya untuk datang ke posyandu.3. Membina kerja sama dengan sekolah untuk menimbang balita di lingkungan PAUD4. Menggunakan media-media yang menarik seperti poster, leafleat, film dll agar menarik perhatian ibu-ibu yang memiliki balita untuk datang ke posyandu.

VII. 4 Plan Of ActionDalam Plan Of Action akan disajikan perencanaan kegiatan pemecahan masalah D/STabel 35. Plan Of ActionNo.KegiatanTujuanSasaranLokasiPelaksanaWaktuDanaMetodeTolok ukur

1.Mengadakan penyuluhan yang intensif oleh bidan desa kepada ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya menimbang berat badan balitanya ke posyandu secara rutin.Memberikan informasi kepada ibu yang memiliki balita tentang pentingnya datang dan menimbang balita mereka di posyandu secara rutin

Ibu yang memiliki balita di Dusun JetisDesa NgadirejoDi rumah kader atau di rumah pendudukKader desaBidan desa3 bulan sekaliDana BOK Diskusi, tanya jawab, pemberian leaflet gratisMeningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya posyandu

2.Para kader mengingatkan jadwal posyandu pelaksanaan posyandu 1 atau 2 hari sebelumnya dilaksanakannya kegiatan posyandu dan mengingatkan pentingnya untuk datang ke posyandu.

Meningkatkan keaktifan kader Meningkatkan kesadaran ibu akan pentingnya datang ke posyandu agar ibu tidak lupa datang ke posyanduIbu yang memiliki balita di Dusun Jetis Desa Ngadirejo

Di rumah kader atau di rumah penduduk atau di tempat tempat umum atau tempat ibadah saat sedang diadakan acara atau kegiatan yang mengikusertakan masyrakat seperti arisan, pengajian.Kader desa1 bulan sekali-Pemberitahuan massal kepada ibu yang memiliki balita Meningkatnya partisipasi ibu yang datang dan menimbangkan balitanya ke posyandu Meningkatnya kesadaran ibu untuk mengantarkan balitanya ke posyandu.

3.Membina kerja sama dengan PAUD untuk menimbang balita di lingkungan PAUD Meningkatkan jumlah balita yang ditimbang

Ibu yang memiliki balita di Dusun JetisDesa NgadirejoSekolahKader , Bidan desa1 bulan sekaliPuskesmasMelakukan kegiatan Posyandu rutin bagi balitaMeningkatnya jumlah balita yang datang dan ditimbang di Posyandu

4.Menggunakan media-media yang menarik seperti poster,film dll agar menarik perhatian ibu-ibu yang memiliki balita untuk datang ke posyandu. Meningkatkan ketertarikan ibu untuk mengikuti kegiatan Posyandu

Ibu yang memiliki balita di Dusun JetisDesa NgadirejoPosyandu atau Balai DesaKader , Bidan desa2 bulan sekaliDana BOKMenempelkan poster di tempat-tempat umum, pemberian leaflet gratis, Meningkatnya kesadaran ibu untuk mengantarkan balitanya ke posyandu

VII. 5 Gann ChartTabel 36. Gann Chart Kegiatan Pemecahan MasalahKegiatanMaretAprilMeiJuniJuliAgustus

123412341234123412341234

Mengadakan penyuluhan yang intensif oleh bidan desa kepada ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya menimbang berat badan balitanya ke posyandu secara rutin

Para kader mengingatkan jadwal posyandu pelaksanaan posyandu 1 atau 2 hari sebelum dilaksanakannya kegiatan posyandu dan mengingatkan pentingnya untuk datang ke posyandu

Membina kerja sama dengan sekolah untuk menimbang balita di lingkungan PAUD

Menggunakan media-media yang menarik seperti poster, leafleat, film dll agar menarik perhatian ibu-ibu yang memiliki balita untuk datang ke posyandu.

BAB VIIIPENUTUP

VIII.1 Kesimpulan

1. Setelah melakukan analisis penyebab masalah, ditemukan penyebab angka balita yang datang dan ditimbang di Dusun Jetis Desa Ngadirejo adalah : Ibu lebih mementingkan kesibukannya daripada memantau pertumbuhan balitanya. Masih kurangnya kegiatan penyuluhan yang menarik untuk ibu ibu mengenai pentingnya menimbang balita secara rutin ke posyandu Perilaku orang tua yang menganggap bahwa posyandu tidak harus rutin. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu tentang pentingnya balita yang datang dan ditimbang. Jadwal pelaksanaan Posyandu yang berbenturan dengan jadwal sekolah2. Prioritas pemecahan masalah rendahnya angka balita yang datang dan ditimbang di Dusun Jetis Desa Ngadirejo adalah : Mengadakan penyuluhan yang intensif oleh bidan desa kepada ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya menimbang berat badan balitanya ke posyandu secara rutin Para kader mengingatkan jadwal posyandu pelaksanaan posyandu 1 atau 2 hari sebelum dilaksanakannya kegiatan posyandu dan mengingatkan pentingnya untuk datang ke posyandu Membina kerja sama dengan PAUD untuk melaksanakan kegiatan Posyandu di lingkungan sekolah Menggunakan media-media yang menarik seperti poster, leafleat, film dll agar menarik perhatian ibu-ibu yang memiliki balita untuk datang ke posyandu.

VIII. 2. Saran1. Dihimbau kepada puskesmas untuk meningkatkan upaya pembinaan kader dalam melakukan kegiatan posyandu.2. Dihimbau kepada kader untuk melakukan kunjungan rumah untuk melakukan penyuluhan atau konseling tentang pentingnya membawa balita untuk ditimbang ke posyandu secara rutin.3. Dihimbau kepada ibu yang memiliki balita untuk memiliki pengantar pengganti ke posyandu jika ibu berhalangan hadir.4. Dihimbau kepada PAUD agar mau membina kerja sama dengan Posyandu untuk melaksanakan penimbangan balita.

DAFTAR PUSTAKA

5. Depkes RI. Ruang Lingkup Penyelenggaraan Sistem SurveilansEpidemiologi Kesehatan. Sub Direktorat Survilans Epidemiologi,diunduh tanggal 4 Maret 2012dari : http://www.surveilans.org.50. 5. Depkes RI. Modul Surveilans KIA : Peningkatan Kapasitas AgenPerubahan dan Pelaksanaan Program Kesehatan Ibu dan Anak.Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta, 2007.5. Dinkes Propinsi Jawa Timur. Buku Pegangan Kader Posyandu. Subdin PSD, Surabaya, 2005.5. Depkes RI. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta, 2006.5. Depkes RI. Buku Kader Posyandu Dalam Upaya Perbaikan Gizi Keluarga. DIPA Program Perbaikan Gizi Masyarakat Dinkesprop Jawa Tengah, Sumarang, 2006.5. Pemerintah Provinsi Jawa tengah. Pedoman Teknis Operasional Posyandu Model di Provinsi Jawa Tengah. Semarang, 2006.5. Yonferizal MR. Koto. Proses Pelaksanaan Manajemen Posyandu Terhadap Intensitas Poyandu Analisis Data Sakerti 2000 (Tesis). 2007.5. Hartoyo. Kegiatan Kepaniteraan di Puskesmas Kabupaten Magelang. Magelang; 2011.5. Muninjaya Gde. Manajemen Kesehatan. EGC: Jakarta; 2002. 5. Hartoyo. Handout :Manajemen Pelayanan/Manajemen Program diPuskesmas. Magelang; 2011

LAMPIRAN