of 42/42
1 BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kegiatan olahraga telah dilakukan manusia sejak jaman prasejarah, belum ada suatu teori pasti yang dapat menjelaskan asal mula olahraga, tetapi yang jelas olahraga merupakan sebuah fenomena sosial (Crowther, 2007). Salah satunya penemuan pahatan pada dinding gua di Wadi Sura di Mesir yang menunnjukkan bahwa olahraga berenang dan memanah sudah dilakukan sejak 10.000 tahun sebelum masehi. Beberapa peneliti berpendapat bawa olaraga berawal dari dorongan naluriah manusia dari ritual berburu atau uji kekuatan, sebagian yang lain setuju bahwa religi merupakan awal mula adanya olahraga (Crowther, 2007). Seperti olahraga sumo yang ditemukan pada lukisan gua prasejarah di Jepang. Sumo berawal dari upacara festival pertanian khususnya sebagai bagian dari ritual Buddha dan Shinto sebagai cara untuk mengharapkan hasil panen yang baik dan menjauhkan masyarakat dari kejahatan setan. Saat ini aktivitas olahraga terus mengalami perkembangan hingga memiliki makna yang lebih kompleks bagi manusia (Schulenkorf, 2010). Melalui kompetisi antar negara atau antar etnis yang berbeda, olahraga dapat menjadi sebuah momen kebersamaan dan menjadi pendorong sekaligus perantara untuk perubahan sosial yang positif. Aktivitas olahraga terus mengalami perkembangan dan membuat kontribusi yang positif dan nyata untuk perdamaian pada masyarakat yang terpecah. Olympic Games merupakan kompetisi olahraga pertama yang berlangsung sejak tahun 776 SM, hanya dengan satu bidang kompetisi yaitu kompetisi lari (Stefani, 2016, pp. 1-2). Pada zaman Yunani olimpiade kuno didedikasikan untuk dewa dan para pemimpin kerajaan, namun olimpiade modern kini mendedikasikan olahraga untuk penggemar olahraga, media dan penonton atau masyarakat. Olympic games terus dikembangkan dengan bertambahnya jumlah olahraga baru IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI PERBEDAAN UKURAN ANTROPOMETRI... LISA DESTRIANI

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERBEDAAN UKURAN ANTROPOMETRI DAN SOMATOTIPE ATLET OLAHRAGA PANJAT DINDING ANTARA KATEGORI SPEED DAN KATEGORI LEAD-BOULDER (STUDI PADA ATLET FPTI JAWA TIMUR)Kegiatan olahraga telah dilakukan manusia sejak jaman prasejarah, belum
ada suatu teori pasti yang dapat menjelaskan asal mula olahraga, tetapi yang jelas
olahraga merupakan sebuah fenomena sosial (Crowther, 2007). Salah satunya
penemuan pahatan pada dinding gua di Wadi Sura di Mesir yang menunnjukkan
bahwa olahraga berenang dan memanah sudah dilakukan sejak 10.000 tahun
sebelum masehi. Beberapa peneliti berpendapat bawa olaraga berawal dari
dorongan naluriah manusia dari ritual berburu atau uji kekuatan, sebagian yang
lain setuju bahwa religi merupakan awal mula adanya olahraga (Crowther, 2007).
Seperti olahraga sumo yang ditemukan pada lukisan gua prasejarah di Jepang.
Sumo berawal dari upacara festival pertanian khususnya sebagai bagian dari ritual
Buddha dan Shinto sebagai cara untuk mengharapkan hasil panen yang baik dan
menjauhkan masyarakat dari kejahatan setan.
Saat ini aktivitas olahraga terus mengalami perkembangan hingga
memiliki makna yang lebih kompleks bagi manusia (Schulenkorf, 2010). Melalui
kompetisi antar negara atau antar etnis yang berbeda, olahraga dapat menjadi
sebuah momen kebersamaan dan menjadi pendorong sekaligus perantara untuk
perubahan sosial yang positif. Aktivitas olahraga terus mengalami perkembangan
dan membuat kontribusi yang positif dan nyata untuk perdamaian pada
masyarakat yang terpecah.
Olympic Games merupakan kompetisi olahraga pertama yang berlangsung
sejak tahun 776 SM, hanya dengan satu bidang kompetisi yaitu kompetisi lari
(Stefani, 2016, pp. 1-2). Pada zaman Yunani olimpiade kuno didedikasikan untuk
dewa dan para pemimpin kerajaan, namun olimpiade modern kini mendedikasikan
olahraga untuk penggemar olahraga, media dan penonton atau masyarakat.
Olympic games terus dikembangkan dengan bertambahnya jumlah olahraga baru
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2
dan beberapa olahraga lama yang dijadikan permanen. Pada tahun 2020 olimpic
games dilaksanakan dengan memperlombakan beberapa cabang olahraga baru.
Kini olahraga berkembang dan meluas ke arah aktivitas-aktivitas
petualangan sebagai bentuk pengembangan individu manusia yang melampaui
rutinitas kehidupannya. Seperti beberapa diantaranya olahraga paralayang, arung
jeram, canyoning dan sport climbing yang semakin berkembang pesat dan banyak
digemari oleh masyarakat. Olahraga panjat dinding adalah salah satu olahraga
yang akan dipertandingkan untuk pertama kalinya di Olympic Games bersama
dengan empat olahraga lain yaitu Karate, Softball, Baseball dan Surfing. Kempat
cabang olahraga ini diterima ke dalam program Olympic dan telah diumumkan
secara resmi tahun 2016 lalu (Stefani, 2016, p. 9). Olahraga panjat dinding (Sport
Climbing) selama dua dekade terakhir menunjukkan banyak pertumbuhan dan
memperoleh kredibilitas tidak hanya sebagai olahraga yang kompetitif tetapi juga
memiliki nilai sosial (ifsc-climbing.org, 2019). Olahraga panjat dinding semakin
meluas menjadi olahraga untuk berbagai kalangan. Olahraga panjat dinding dapat
memberikan aspek positif dengan menjadi alternatif olahraga terapi untuk
permasalahan mental illnesses (Mermier, Robergs, McMinn, & Heyward, 1997).
Pada tahun 1930-an untuk pertama kalinya aktivitas panjat tebing buatan
dibangun dari batu-batu asli besar di sebuah perkemahan pramuka di Schurman,
Camp Long (White, 2014). Ini merupakan awal munculnya konsep menciptakan
bentuk artifisial dari tebing dengan tujuan berlatih, khususnya pada teknis seperti
belajar untuk penambatan, mengelola tali dan belajar untuk memanjat bentuk
tebing tertentu seperti retakan atau patahan lempengan batuan.. Kegiatan
pemanjatan sebagai salah satu kegiatan luar ruangan (outdoor activity) memiliki
keterbatasan pada kondisi cuaca tertentu, misalnya musim dingin menjadikan
kegiatan ini berbahaya bahkan sampai pada tingkat tidak mungkin untuk
dilakukan. Hal ini adalah awal mula berkembangnya kegiatan panjat tebing alam
(rock climbing) beralih ke gimnasium yaitu memanjat pada medan dinding buatan
dalam ruangan (indoor wall climbing). Bagi pemanjat, adanya gimnasium
merupakan sebuah keuntunga karena para pemanjat tidak perlu lagi mengeluarkan
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
3
biaya yang banyak untuk bepergian ke setiap lokasi pemanjatan (White, 2014).
Selain itu pemanjat bisa mendapatkan referensi jalur pemanjatan yang lebih
bervariasi karena pegangan dan pijakan tidak permanen atau dapat diubah sesuai
kebutuhan pemanjat, tidak seperti yang ditemui pada tebing alami. Pemanjat
dalam ruangan dirasa sangat efisien dan efektif sebagai sarana latihan pemanjatan.
Berbagai keuntungan dan kemudahan ini menjadikan panjat dinding dalam
ruangan semakin terus berkembang serta lebih banyak diminati oleh masyarakat.
Pada awal perkembangannya, aktivitas pemanjatan merupakan bagian dari
kegiatan rekreasi atau hiburan yang menyatukan antara aktivitas olahraga
sekaligus kegiatan menikmati keindahan alam. Makna olahraga ini menjadi
semakin luas, mulai dari olaraga amatir, professional dan rekreasi atau pariwisata
yang berkualitas tinggi. Terlepas dari definisi yang diasumsikan, olahraga panjat
dinding telah berkembang sangat populer dan memasuki definisi modern sebagai
olahraga yang professional (Tomaszewski, Gajewski, & Lewandowska, 2011, p.
107). Kini pada tingkat Internasional, kompetisi olahraga panjat dinding telah
dinaungi oleh IFSC (International Federation of Sport Climbing) sebagai
organisasi pioneer dan terbesar yang sudah profesional dalam mengakomodir
kompetisi olahraga panjat dinding. IFSC adalah organisasi non-profit yang
didirikan untuk tujuan promosi, pengembangan, dan peningkatan kompetisi
olahraga panjat dinding (sport climbing) di seluruh dunia (ifsc-climbing.org,
2019).
1960 dan terus berkembang pesat dengan semakin banyak diadakannya kompetisi
pemanjatan mulai dari tingkat kecil di organisasi sampai dengan tingkat berskala
besar pada kompetisi nasional (Bahtiar, 2006). Perkembangan olahraga panjat
dinding di Indonesia semakin memasyarakat didukung dengan dibentuknya
Federasi Panjat Tebing dan Gunung Indonesia (FPTGI) atau yang kini dikenal
sebagai Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sejak berubah nama pada 21
April 1988. Lalu olahraga ini terus berkembang hingga menjadi salah satu cabang
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
4
olahraga yang resmi pertama kali dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional
XV (PON) tahun 2000 di Jawa Timur (Anggraini, 2017).
Indonesia merupakan salah satu negara yang diperhitungkan dalam
kompetisi olahraga panjat dinding di tingkat Internasional setelah tahun 2019.
Atlet asal Indonesia bernama Aries Susanti Rahayu, menjadi juara pertama
kompetisi olahraga panjat dinding kategori speed wanita dengan mencapai puncak
dinding panjat 15 meter dalam waktu 6,995 detik (Olympic Channel Services,
2019). Aries mengalahkan pemanjat terbaik sebelumnya Yi Ling Song dengan
waktu 7,101 detik dan menjadi wanita pertama yang mencapai rekor kurang dari
tujuh detik dalam kompetisi IFSC Speed World Cup tahun 2019 di Xiamen, Cina.
Pada tingkat nasional atlet panjat tebing Indonesia yang cukup
diperhitungkan adalah atlet dari FPTI Jawa Timur yang tercatat sampai tahun
2019 menduduki peringkat dalam 10 besar kejuaraan tingkat nasional pada ketiga
kategori kompetisi. Rahmad Adi mulyono adalah salah satu atlet FPTI Jawa
Timur yang pernah berhasil meraih peringkat 3 dalam kompetisi IFSC di Itaia
pada Agustus 2018 (Kurniawan, 2019).
Tabel I. 1. Peringkat Nasional 2019 Kategori Boulder Putra dan Putri
Sumber : (FPTI-Federasi Panjat Tebing Indonesia, 2019)
NO NAMA ASAL DAERAH TOTAL
POIN NO NAMA ASAL DAERAH
TOTAL
POIN
1 Akbar Hudawardana Jawa Timur 234 1 Alivany Ver Khadijah Sulawesi Selatan 270
2 M. Salim Jawa Timur 232 2 Fitria Hartani Jawa Timur 200
3 Jamal Al Hadad Kalimantan Timur 200 2 Nadya Virgita Bali 200
3 Khoirul Anam Jawa Timur 200 4 Kharisma Ragil Rakasiwi Jawa Timur 160
5 Abudzar Yulianto Jawa Timur 188 5 Choirul Umi Cahyaning A. Jawa Timur 130
6 Fatchur Roji Jawa Timur 160 5 Reky Picalia Kalimantan Timur 130
7 Yohanes Angel Rosiquin Jawa Timur 134 7 Virgi Rina Salja Navisa I. Jawa Timur 110
8 Raviandi Ramadhan DKI Jakarta 130 8 Nurul Aisyah Ramadhani S. DKI Jakarta 102
9 Waryani Jawa Tengah 110 8 Wilda Baco Achmad Sulawesi Selatan 102
9 Pangeran Septo W. S. Kalimantan Timur 110 10 Julita Bangka Belitung 94
11 Aan Aviansyah Jawa Timur 86 10 Paradeva Adelia Jawa Timur 94
11 Faisal Sulawesi Tengah 86 12 Dina Rehel Sumatera Utara 86
13 Ravianto Ramadhan DKI Jakarta 80 12 Sri Anggini Sulawesi Selatan 86
13 Poetra Adhitryan H.A Sulawesi Selatan 80 14 Popy Rilvia Riau 80
15 M. Iqbal Kamran Jawa Barat 74 14 Mega Lestari DI Aceh 80
16 Adek Adriantos DI Aceh 68 14 Nurul Maghfirah Hamzah Sulawesi Selatan 80
16 Rudiansyah Sulawesi Tengah 68 17 Qiqa Balqis Sulawesi Selatan 74
18 Mustholih Sumatera Barat 62 18 Yulianti Sulawesi Selatan 68
18 Rindi Sufriyanto Jawa Timur 62 19 Syamra Sulawesi Selatan 62
18 Gilang Alif Akbar Sulawesi Selatan 62 20 Siti Nurul Iftitah Sulawesi Selatan 56
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
5
Tabel I. 2. Peringkat Nasional 2019 Kategori Lead Putra dan Putri
Sumber : (FPTI-Federasi Panjat Tebing Indonesia, 2019)
Pencapaian prestasi olahraga dipengaruhi banyak aspek. Diantaranya
aspek biologis, psikologis dan aspek lingkungan. Menurut Sajoto (1995) dalam
(Bahtiar, 2006), aspek biologis meliputi gizi, potensi atau kemampuan dasar yang
dimiliki oleh tubuh struktur, dan postur tubuh. Ketiga aspek tersebut juga
ditentukan oleh faktor pendukung, misalnya program latihan yang tersusun
dengan sistematik, faktor ini berperan besar dalam pembentukan aspek fisik dan
psikologis. Latihan fisik yang berbeda membentuk fisik yang juga berbeda pada
tiap cabang olahraga. Karena itu banyak dilakukan penelitian untuk
mengidentifikasi variasi karakteristik tubuh yang terbentuk dari masing-masing
cabang olahraga.
mengkaji profil antropometri dan somatotipe untuk keperluan perkembangan
pelatihan atlet (Novoa-Vignau, Salas-Fraire, Salas-Longoria, Hernández-Suárez,
& Menchaca-Pérez, 2017). Komposisi tubuh atlet memiliki kecenderungan
berbeda dengan populasi umum begitu pula pada atlet yang berlatih pada olahraga
NO NAMA ASAL DAERAH TOTAL
POIN NO NAMA ASAL DAERAH
TOTAL
POIN
1 M. Salim Jawa Timur 254 1 Kharisma Ragil Rakasiwi Jawa Timur 200
2 Akbar Hudawardana Jawa Timur 220 1 Nadya Virgita Bali 200
3 Fatchur Roji Jawa Timur 200 3 Fitria Hartani Jawa Timur 160
3 Yohanes Angel Rosiquin Jawa Timur 200 3 Wilda Baco Achmad Sulawesi Selatan 160
5 Raviandi Ramadhan DKI Jakarta 160 5 Choirul Umi Cahyaning A. Jawa Timur 130
6 Ravianto Ramadhan DKI Jakarta 130 5 Virgi Rina Salja Navisa I. Jawa Timur 130
6 Jamal Al Hadad Kalimantan Timur 130 7 Julita Bangka Belitung 110
8 Rindi Sufriyanto Jawa Timur 102 7 Alivany Ver Khadijah Sulawesi Selatan 110
8 Syahrul Ramadhan Sulawesi Selatan 102 9 Anita Sumatera Barat 102
10 Adek Adriantos DI Aceh 94 9 Triara Putri Raudhah DKI Jakarta 102
10 Dedek Noprianto Riau 94 9 Iinaas Nuur Ghoni Jawa Timur 102
10 Waryani Jawa Tengah 94 9 Reky Picalia Kalimantan Timur 102
10 Gilang Alif Akbar Sulawesi Selatan 94 13 Nindi Febrianti Jawa Timur 94
14 Rahmat Adimulyono Jawa Timur 86 14 Paradeva Adelia Jawa Timur 86
15 Pangeran Septo W. S. Kalimantan Timur 80 15 Emi Zainah DKI Jakarta 80
16 Abudzar Yulianto Jawa Timur 74 15 Nurul Maghfirah Hamzah Sulawesi Selatan 80
17 Faisal Sulawesi Tengah 68 17 Nurul Aisyah Ramadhani S. DKI Jakarta 74
17 Mustholih Sumatera Barat 68 17 Siti Novia Jumidar Riau 74
19 M. Iqbal Kamran Jawa Barat 62 17 Dori Fatus Syafiah Jawa Timur 74
20 Andriko Sumatera Barat 56 20 Yulianti Sulawesi Selatan 68
20 Sukron Jawa Timur 56
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
6
yang berbeda. Bentuk dan ukuran menjadi variabel penting yang memengaruhi
keberhasilan atlet. Setiap cabang olahraga memiliki karakteristik yang
memerlukan kondisi antropometrik dan motorik tertentu (NandeP., MudafaleV.,
ValiS., 2008). Karakteristik antropometrik memiliki pengaruh yang besar
terhadap performance seorang atlet.
menunjukkan bahwa ukuran tubuh (indeks massa tubuh), lingkar lengan dan
diameter bahu berpengaruh terhadap keterampilan melempar pada pemain polo air.
Begitu pula seperti hasil penelitian oleh (Nasuka & Priambodo, 2017) yang
menunjukkan bahwa ada beberapa faktor anthropometrik yang dapat berpengaruh
terhadap performa pemain bola voli yaitu tinggi badan, berat badan, indeks massa
tubuh, panjang tungkai dan panjang lengan.
Selain antropometri, identifikasi komposisi tubuh dan somatotipe atlet
juga dapat digunakan untuk merancang perencanaan dan pemantauan hasil latihan
atlet. Penelitian somatotipe dapat dimanfaatkan untuk tolak ukur fisik pada seleksi
atlet pada olahraga tertentu. Seperti pada penelitian (Qurun, 2015) yang
menggunakan studi somatotipe untuk menggambarkan somatotipe pada atlet
sepak trakaw. Peneliian ini menunjukkaan bahwa somatotipe atlet sepak trakaw
putra dominan berkategori Balanced mesomorph begitu pula pada atlet putri.
Selain itu terdapat hubungan yang signifikan antara somatotipe dengan kelincahan
pada atlet putra, dimana somatotipe Balanced Mesomorph dikatakan merupakan
atlet yang paling lincah dibandingkan atlet dengan kategori somatotipe lain.
Satu cabang olahraga ada yang memiliki beberapa kategorisasi kompetisi.
Bentuk fisik yg terbentuk dari masing-masing kategorisasi juga bisa beda. Seperti
pada penelitian yang dilakukan oleh (Fidelix, Berria, Ferrari, Ortiz, Cetolin, &
Petroski, 2014) yang membandingkan somatotipe pada pemain sepak bola dan
mengklasifikasikan pada masing-masing peran dalam tim sepak bola. Lalu
ditemukan beberapa perbedaan karakteristik tubuh dari perbedaan jenis peran
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
7
tersebut. Selain itu juga pada penelitian yang telah dilakukan oleh (Putra, 2014)
yang menggunakan metode klasifikasi Kretschmer. Penelitian ini menunjukkan
bagaimana atlet renang memiliki variasi konstruksi tubuh yang berbeda pada
macam-macam gaya berenang. Berdasarkan perhitungan Indeks Rohrer diketahui
bahwa semua atlet yang diteliti mempunyai konstitusi tubuh atletik tetapi
bentuk batang tubuh (trunkus) yang terbentuk , berbeda pada masing-masing
gaya berenang.
Pada olahraga panjat dinding, performa atlet tidak hanya tergantung pada
kekuatan pegangan tetapi faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan seperti
kekuatan jari, rentang lengan, persentase lemak tubuh, pengalaman dalam
pemanjatan dan juga faktor antropometri (Salehhodin, Abdullah, & Yusoff, 2017).
Pada penelitian (Mermier, Janot, Parker, & Swan, 2000) juga dikatakan, tiga
komponen yang berpengaruh pada performa atlet panjat adalah komponen
training, antropometri, dan fleksibilitas. Sejalan dengan hal itu peneltian oleh
(Mitchell, 2016) pada atlet panjat dinding dari tiga tingkat kesulitan rute
pemanjatan yang berbeda, menunjukkan bahwa faktor antropometri tertentu
berperan dalam memprediksi kinerja pemanjat tebing rekreasional.
Penelitian antropometis pada olahraga panjat dinding telah banyak
dilakukan. Watts menghimpun data antropometri 21 semifinalis putra dan 18 putri
pada pertandingan olahraga panjat Piala Dunia (Watts, Martin, & Durtschi, 1993).
Watts melihat bahwa pemanjat olahraga kompetitif elite memiliki kesamaan
antropometri dan karakteristik fisiologis. Secara umum, pemanjat elit dicirikan
sebagai perawakan kecil, dengan presentase lemak tubuh (%BF) rendah, kekuatan
cengkeraman rata-rata hingga tinggi, dan rasio kekuatan cengkeraman terhadap
massa tubuh yang tinggi. Sedangkan pada perbandingan antara pemanjat pria dan
wanita, terdapat kecenderungan memiliki postur tubuh yang serupa. Contoh lain
pada penelitian (Giles, Rhodes, & Taunton, 2006) membandingkan berbagai
variabel antropometrik dan fisik dari pemanjat pria elit dan rekreasi. Penelitian ini
menunjukkan bahwa pemanjat elit memiliki daya tahan tubuh bagian atas yang
lebih besar (saat menggantung dan menarik lengan), kekuatan jari, dan kelenturan
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
8
pinggul yang diukur dengan tes duduk dan jangkauan. Sejalan dengan penelitian
(Michailov , Mladenov, & Schöffl, 2009) yang menunjukkan komponen
persentase lemak tubuh dan kekuatan tangan yang lebih besar pada atlet boulder
kompetisi kelas dunia dibandingkan dengan pemanjat olahraga elit. Selain itu
Novoa (Novoa-Vignau, Salas-Fraire, Salas-Longoria, Hernández-Suárez, &
Menchaca-Pérez, 2017) juga membandingkan karakter somatipe pemanjat elit
dengan populasi umum. Disimpulkan bahwa pemanjat elit, baik pria maupun
wanita, adalah individu kurus dengan dominasi perkembangan musculoskeletal.
Karakteristik endomorfik yang relatif kecil, karakteristik ektomorfik yang besar
dan presentase lemak tubuh (BF%) yang lebih rendah daripada populasi umum.
Pada olahraga panjat dinding sendiri telah berkembang 3 kategori
spesialisasi dalam kompetisinya, yaitu kategori lead dan boulder yang lebih
mengutamakan tingkat kesulitan dan kategori speed yang fokus pada pencapaian
kecepatan memanjat. Tetapi untuk pertama kalinya olahraga panjat dinding
dipertandingkan dalam Olympic 2020 di Tokyo dengan disiplin baru yaitu
"Climbing Combined". Kategori baru ini menggabungkan performa atlet dari
semua kategori yaitu speed, lead dan boulder. Hal ini dikarenakan olahraga panjat
dinding merupakan olahraga yang baru bergabung di Olympic sehingga kuota
yang disediakan hanya 4 medali untuk pemenang, 2 untuk atlet putra dan 2
lainnya untuk putri (FPTI-Federasi Panjat Tebing Indonesia, 2019).
Adanya disiplin baru "Climbing Combined" dapat memberikan kesulitan
tersendiri bagi proses pelatihan para atlet olahraga panjat dinding (Kozina,
Uvarova, Kniaz, Kabanska, & Kochina, 2020). Mengingat umumnya, atlet hanya
terfokus pada salah satu kategori saja. Salah satu contohnya seperti Reza Alipour
Shenazandifard, pemanjat kategori Speed asal Iran yang memutuskan untuk tidak
mengikuti kompetisi olahraga panjat dinding pada Olympic tahun 2020 di Tokyo
(Arunanta, 2018). Reza Alipour dijuluki sebagai “The Asiatic Cheetah” dan “The
Vertical World's Fastest Man" karena ia telah memecahkan rekor pemanjatan
World Record dengan catatan waktu 6,24 detik pada Piala Dunia di Haiyang, Cina
tahun 2013. Meskipun Reza Alipour berhasil meraih emas kategori speed
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
9
climbing putra pada Asian Games 2018 mengalahkan Zong Qixin atlet Cina dan
Aspar Jaelolo atlet Indonesia, ia merasa mungkin performanya akan menjadi tidak
maksimal jika ia mengikuti kompetisi di Olympic dengan kategori gabungan
(Climbing Combined). Sebab sebelumnya, Reza Alipour hanya terfokus berlatih
dan mengikuti kompetisi pada kategori speed saja sehingga mungkin akan
menjadi sulit jika ia harus mengandalkan kemampuan pada kategori lainnya. Reza
Alipour lebih memilih untuk mengikuti kejuaraan dunia daripada harus mengikuti
kompetisi di Olympic tetapi hanya akan meraih peringkat 7 atau 8.
Ketiga kategori olahraga panjat dinding memiliki fokus fisik yang berbeda.
Masing-masing kategori olahraga panjat dinding membutuhkan pemasukan energi
yang berbeda dan mekanisme kinerja tubuh yang berbeda. Kebutuhan fisik dan
fungsional tubuh juga berbeda, sehingga pada pembuatan program pelatihan perlu
dilakukan analisis mendalam mengenai kemampuan atlet untuk dapat membentuk
performa pemanjatan terbaik pada seluruh kategori (Levernier, Samozino, &
Laffaye, 2020). Setiap kategori dalam olahraga panjat dinding melibatkan
pelatihan yang kompleks dan metode pelatihan yang berbeda (Fanchini, Violette,
Impellizzeri, & Maffiuletti, 2013).
Perbedaan dalam pelatihan menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam
kekuatan di setiap pemanjat pada kategori yang berbeda. Seperti pada penelitian
(Ryepko, 2013) mengungkapkan bahwa panjang tubuh, pemanjat olahraga panjat
dinding kategori speed secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan
pemanjat dengan tingkat kesulitan memanjat (alpinism). Nilai berat badan, arm
span dan panjang bahu pada pemanjat dinding kategori speed memiliki nilai lebih
besar dibandingkan dengan pemanjat kategori kompleksitas. Selain itu penelitian
(Fanchini, Violette, Impellizzeri, & Maffiuletti, 2013) juga menunjukkan
kekuatan handgrip pada atlet kategori boulder lebih tinggi dari pada kategori lead.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari (Salehhodin, Abdullah, & Yusoff,
2017), bagaimana hand grib pada ketiga kategori olahraga panjat dinding
menunjukkan hasil yang berbeda. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa hand
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
10
grip pada kategori boulder memiliki nilai paling tinggi, lalu diikuti dengan
kategori lead dan speed.
Gambar I. 1. Foto Perbandingan Pemanjat Speed dan Lead oleh Reza Alipour.
(Sumber: https://www.instagram.com/p/B0k-7nzougX/, diakses diakses pada
tanggal 11 Desember 2020, pukul: 16:06 WIB)
Peneliti melihat telah banyak dilakukan penelitian mengenai ukuran
antropometri atlet panjat tebing tetapi belum ada yang mengkomparasi antar
kategori, hal ini sejalan dengan saran yang diberikan dari penelitian (Novoa-
Vignau, Salas-Fraire, Salas-Longoria, Hernández-Suárez, & Menchaca-Pérez,
2017) bahwa perlu dilakukan investigasi lebih lanjut terkait hal ini. Peneliti
merasa diperlukan untuk mendefinisikan karakteristik somatotipe dan
antropometrik khusus untuk setiap spesialisasi dari olahraga panjat dinding.
Peneliti juga melihat penelitian mengenai antropometri dan somatotipe pada atlet
di Indonsia masih sedikit ditemukan khususnya pada kajian antropologi di
Indonesia, padahal ini merupakan salah satu kajian dari studi antropologi biologi.
Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan aspek ukuran tubuh belum
diaplikasikan dalam proses pelatihan atlet di Indonesia. Peneliti menemukan
realita di lapangan bahwa atlet hanya dinilai berdasarkan hasil akhir performa
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
11
yang ditunjukkan dan prestasi yang didapatkan. Berdasarkan latar belakang
tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana profil antropometri dan perbedaan
apa yang muncul pada somatotipe dari kedua kategori, melalui atlet panjat dinding
yang ada di FPTI Jawa Timur yang berada pada sepuluh besar peringkat nasional
di ketiga kategori berdasarkan data terakhir tahun 2019.
1.2. Rumusan Masalah
dinding (Sport Climbing) kategori Lead-Boulder dan kategori Speed?
2. Apakah ada perbedaan pada ukuran antropometri dan somatotipe atlet
olahraga panjat dinding (Sport Climbing) antara kategori Lead-Boulder
dan kategori Speed?
1.3. Tujuan Penelitian
antropometri dan somatotipe pada atlet olahraga panjat dinding (Sport Climbing)
antara dua kategori yaitu kategori Lead-Boulder dan kategori Speed. Melalui
penelitian ini juga peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan variasi
somatotipe dan ukuran antropometri atlet olahraga panjat dinding antara kedua
kategori, sehingga nantinya dapat diketahui faktor apa saja yang menjadi penting
dan dapat dijadikan acuan dalam pembentukan fisik atlet dari masing – masing
kategori.
menghasilkan data dan hasil analisis atau kesimpulan yang dapat dimanfaatkan.
2. Data Pendukung Penelitian Lain
Penelitian ini juga dapat menjadi pendukung dari penelitian sebelumnya
dan menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya mengenai topik-topik yang
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
12
terkait.dan tidak menutup kemungkinan untuk studi penelitian studi lebih luas di
luar studi antropologi.
1.4.2. Manfaat Praktis
Profil antropomteri dan somatotipe dari penelitian ini dapat membantu
khususnya untuk pelatih juga para atlet panjat dinging sendiri dalam proses
pembentukan fisik. Selain dapat menjadi acuan pembentukan fisik sebagai usaha
mencapai prestasi yang lebih baik, data ini juga dapat dimanfaatkan untuk
panduan kriteria fisik dalam proses seleki pada atlet yang baru.
2. Manfaat untuk Masyarakat Umum
Hasil dari penelitian ini juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum,
mengingat semakin banyaknya penggemar aktivitas panjat dinding di Indonesia
dan Internasional yang ditandai dengan menjamurnya organisasi, komunitas,
sekolah panjat dan kompetisi-kompetisi ditingkat lokal maupun nasional.
Penelitian ini juga memberikan informasi kepada masyarakat luas mengenai
olahraga panjat dinding yang merupakan olahraga baru dan belum banyak
diketahui.
Olahraga panjat dinding adalah aktivitas olahraga yang menggunakan
kemampuan anggoata gerak tubuh untuk menggapai tambatan atau pijakan
menuju puncak dari medan pertandingan (wall/rock climbing) dengan sudut
kemiringan vertikal lebih dari 45o. Olahraga ini tidak hanya mengandalkan
kekuatan fisik, tetapi juga keseimabangan tubuh dan keahlian dalam strategi
pemanjatan. Kekuatan fisik juga meliputi banyak komponen mulai dari kekuatan
(power), kecepatan (speed), ketahanan (endurance), kelincahan (agility) dan
reaksi (reaction) (Pramukti & Junaidi, 2015). Modern ini tingkat tantangan
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
13
beberapa kategori yang fokus pada kemampuan tertentu.
Kebugaran tubuh seorang atlet dapat digambarkan melalui Physiological
Fitness yang terdiri dari kelenturan, power, kekuatan, kecepatan; dan Anatomical
Fitness yang terdiri dari tinggi badan, berat badan, ukuran panjang dan lingkar
bagian tubuh. (Idham, 2014).
Perkembangan olahraga panjat dinding (Sport Climbing) kini menjadi
kompetisi dalam ruangan dengan medan artifisial (dindin buatan), terbagi
kedalam tiga kategori yaitu :
Kategori pemanjatan yang mengacu pada kategori yang tidak
menggunakan tali saat pemanjatan, melibatkan jarak pendek dan lebih fokus pada
'problem' yang umumnya melibatkan gerakan kekuatan anaerob. Penilaian
dihitung melalui sejumlah upaya untuk memecahkan masalah rute yang diberikan
dalam waktu yang ditentukan.
B.2. Kategori Lead
Kategori Lead dilakukan di dinding yang lebih tinggi dari 12 meter dan
waktu memanjat lebih lama dari kategori Bouldering. Pemanjat membutuhkan
klip tali pengaman pada runner di berbagai jarak sepanjang rute yang disediakan.
Sebelum kompetisi dimulai, peserta dapat melihat rute (4-6 menit) sebelum
dipisahkan untuk menunggu waktu kompetisi dimulai. Penilaian dihitung
berdasarkan titik pencapaian terakhir yang ditahan tetapi pencapaian kecepatan
waktu juga memberikan poin tambahan.
B.3. Kategori Speed
Kategori Speed adalah kategori yang dimulai di bagian bawah rute dan
harus memanjat sesuai dengan rute yang disediakan. Kategori ini menyamakan
tingkat kesulitan sehingga penilaian terletak pada pencapaian kecepatan.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
14
Kecepatan adalah salah satu fakta yang terlihat dalam kategori Speed (Fanchini,
Violette, Impellizzeri, & Maffiuletti, 2013).
Gambar I. 2. Pemanjatan kategori Boulder (kiri), kategori Lead (tengah)
dan kategori Speed (kanan)
Performa olahraga termasuk olahraga panjat dinding, dipengaruhi oleh
komponen fisik. Komponen kondisi fisik menurut Sajoto (1995) dalam (Bahtiar,
2006) terdiri dari kekuatan (Strenght), daya tahan (Endurance), daya ledak
(Power), kecepatan (Speed), kelentukan (Fleksibility), kelincahan (Agility),
koordinasi (Coordination), keseimbangan (Balance), ketepatan (Accurance), dan
reaksi (Reaction). Seluruh komponen fisik tersebut dibutuhkan pada semua
kategori olahraga panjat dinging, baik kategori Boulder, Lead maupun Speed.
Tetapi teknis dari ketiga kategori pemanjatan sangat berbeda, sehingga beberapa
komponen fisik lebih dikembangkan dibandingkan komponen lain sesuai dengan
kebutuhan dari gaya pemanjatan masing-masing kategori.
Pada kategori Speed komponen kekuatan (Strenght), daya ledak (Power),
kecepatan (Speed), koordinasi (Coordination), dan ketepatan (Accurance) lebih
dibutuhkan untuk mencapai kecepatan dalam pemanjatan. Sedangkan komponen
daya tahan (Endurance), kelentukan (Fleksibility), kelincahan (Agility),
keseimbangan (Balance) dan reaksi (Reaction) tidak terlalu dibutuhkan. Tetapi
komponen ini justru sangat dibutuhkan pada kategori Lead untuk dapat berhasil
pada pemanjatan dengan rute yang sulit. Sedikit berbeda dari kategori Lead, pada
kategori Boulder komponen daya tahan (Endurance) tidak dibutuhkan karena
jalur pemanjatan pendek. Kategori Boulder juga membutuhkan komponen
kekuatan (Strenght), daya ledak (Power) dan koordinasi (Coordination) untuk
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
15
beebrapa kasus sangat sulit yang membutuhkan loncatan dan gerakan cepat seperti
pada kategori Speed.
C. Otot yang Digunakan
Ada tiga jenis otot pada tubuh manusia yaitu otot polos, otot jantung dan
otot rangka (Hansen, 2014). Otot polos merupakan otot yang melapisi berbagai
organ dalam dan otot jantung merupakan otot yang menyusun dinding jantung.
Sedangkan otot rangka merupakan otot yang melekat dan berada di tulang,
bertanggung jawab untuk menggerakkan tulang atau kerangka. Kontraksi dari sel-
sel otot rangka ini yang menghasilkan gerakan tubuh. Otot rangka menggerakkan
tulang pada persendiannya dan mengembalikan pada posisi semula, pelekatan di
bagian proksimal dan pelekatan otot tetap atau tidak dapat bergerak (punctum
fixum). Selain itu otot juga ada yang berinversi, perlekatan di bagian distal dan
otot dapat digerakkan (punctum mobile) (Hansen, 2014).
Olahraga ini membutuhkan keseimbangan antara otot kaki dan otot tangan
serta kekuatan otot yang maksimal (Rinaldi, Jumain, & Marhadi, 2018). Menurut
Gordon (2009) dalam (Hardiyono, Nurkadri, Pratama, & Laksana, 2019)
berdasarkan pada hubungannya dengan kecepatan dan panjang/ketegangan otot,
kekuatan dapat dibagi menjadi 5 tipe tingkatan yang dapat diimplikasikan untuk
atlet. Diantaranya yaitu base strength, action strength, maximum strength,
muscular endurance dan power strength. Pada dasarnya olahraga panjat dinding
menggunakan kelima tipe kekuatan tersebut. Pemanjatan secara umum pasti
menggunakan base strength dan action strength untuk setiap gerakan yang
membutuhkan kekuatan hingga akhir tujuan pemanjatan. Maximum strength dan
muscular endurance banyak dilakukan pada pemanjatan dengan tingkat kesulitan
tinggi. Maximum strength digambarkan sebagai kekuatan maksimal yang
dahasilkan dari kontraksi otot yang terlibat saat pemanjatan khususnya seperti
pada rute roof atau overhang yang merupakan rintangan sulit bagi para pemanjat.
Begitu pula dengan muscular endurance yang digambarkan sebagai kemampuan
otot untuk bertahan menahan beban dengan waktu yang lama, berperan khususnya
pada atlet kategori Lead yang pemanjatannya dilakukan pada rute yang panjang
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
16
dan tinggi. Sedangkan untuk power strength digambarkan dengan kekuatan otot
dengan kecepatan kontraksi, sehingga power strength banyak dilakukan pemanjat
pada jalur yang membutuhkan loncatan antar poin dengan waktu yang cepat
seperti pada pemanjatan kategori Speed.
Gambar I. 3. Otot Utama yang Digunakan saat Olahraga Panjat Dinding,
Warna Biru pada Kategori Speed, Hijau pada Lead-Boulder dan Merah Keduanya
Sumber : (Putz & Pabst, 2003)
selalu berlawanan dengan gaya gravitasi. Posisi tubuh pemanjat akan selalu
menggantung sehingga diperlukan otot yang kuat untuk berhasil dalam
pemanjatan (Cahyono, 2014). Menurut (LACRUX, 2018) hampir seluruh otot
rangka tubuh digunakan dalam pemanjatan, tetapi intensitas penggunaannya
berbeda – beda. Diantranya kelompok Primary Musculature atau otot yang sering
Muscle
17
digunakan yaitu: intrinsic hand muscle (finger flexor); forearm muscle; back
muscle; shoulder muscle; arm muscle; abdominal muscle; thigh muscle dan leg
muscle, sedangkan kelompok Secondary Musculature atau otot yang jarang
digunakan yaitu: Intrinsic Foot Muscles dan Gluteal Muscles.
Peneliti membagi spesialisasi olahraga panjat dinding menjadi dua
kalompok yakni kategori Speed sebagai kelompok pencapaian kecepatan,
sedangkan kategori Lead dan Boulder sabagai kelompok tingkat kesulitan. Teknik
pemanjatan yang digunakan pada kedua kategori sangat berbeda sehingga
kebutuhan dari kedua kelompok pemanjatan ini juga berbeda. Kedua kelompok
sama-sama menggunakan seluruh otot rangka tubuh tetapi gerakan yang paling
dibutuhkan berbeda sehingga otot utama yang dikembangkan juga berbeda. Otot-
otot utama yang bekerja pada dua kelompok pemanjatan adalah:
C.1. Otot pada Pemanjatan Tingkat Kesulitan (Lead-Boulder)
Kategori Lead dan Boulder merupakan pemanjatan dengan menggunakan
berbagai jenis model jalur pemanjatan yang kesulitannya bervariasi. Sama-sama
mengandalkan strength dan endurance, tetapi pemanjatan Lead jalurnya lebih
panjang atau tinggi sehingga memerlukan strategi menejemen power dan tenaga
dan lebih fokus ke endurance serta mengandalkan flexibility dengan
meminimalisir lipatan punggung agar tidak menjadi faktor pengganggu.
Endurance merupakan kemampuan menggunakan otot yang berkontraksi pada
beban tertentu untuk waktu yang lama (Bahtiar, 2006). Sedangkan pada kategori
Boulder pada beberapa kasus memerlukan power untuk mendapatkan gerakan
seperti meloncat pada jalur yang sangat sulit.
Otot memiliki peran yang penting pada olahraga panjat dinding, salah
satunya untuk gerakan yang membutuhkan genggaman tangan dan kekuatan jari-
jari (Sheel, 2014). Cengkraman tangan merupakan komponen yang sangat penting
bagi seorang pemanjat professional untuk kategori Lead dan Boulder. Saat ini,
variasi poin pegangan dan pijakan semakin bervariasi. Mulai dari ukuran yang
semakin lama semakin kecil, sampai dengan poin berbentuk volume (open point)
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
18
yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi disbanding model-model lama.
Pegangan pada poin-poin kecil ini semakin sulit, sehingga cengkraman yang kuat
dan sinergi setiap otot pada jari-jari tangan menjadi sangat penting dalam
pemanjatan (Nugroho, 2014).
untuk menghasilkan tenaga dan kekuatan otot (Salehhodin, Abdullah, & Yusoff,
2017). Otot yang berperan pada gerakan mencengkram / menggenggam saat
pemanjatan adalah otot fleksor jari (Finger Flexor). Otot tangan bertugas untuk
menggerakkan jari dan melengkapi kerja otot fleksor dan ekstensor lengan bawah
yang juga bekerja untuk menggerakkan jari. Mereka terhubung ke jari melalui
tendon yang mengalir melalui pergelangan tangan. Terdapat dua kelompok otot
jari yang terletak di permukaan yaitu otot thenar eminence yang terdiri dari tiga
otot tenar di pangkal ibu jari dan otot hypothenar eminence yang terdiri dari tiga
otot hipotenar di dasar jari kelingking. Pada bagian yang lebih dalam terdapat otot
adductor pollicis yang bertugas merentangkan ibu jari; lumbrikal yang terdiri dari
empat otot kecil menempel pada tendon flexor digitorum profundus; otot
interossei yang terdiri dari tiga otot palmar yang berfungsi untuk gerak abduksi
pada jari dan empat otot interoseus dorsal di antara metakarpal yang berfungsi
untuk gerak abduksi jari.
Berdasarkan analisis gerak oleh (Nugroho, 2014), pada saat pemanjat
melakukan pegangan pada poin untuk menambah ketinggian terdapat otot-otot
yang bekerja secara agonis dan antagonis. Otot agonis atau otot utama yang
berkontraksi saat melakukan gerakan mencengkram (gripping) adalah flexor
digitorum profundus, flexor digitorum superficialis, flexor carpibradialis, flexor
carpi ulnaris, flexor pollicis longus dan palmaris longus. Sedangkan otot yang
bekerja secara antagonis atau otot yang bekerja berlawanan dengan otot agonist
adalah extensor digitorum, extensor indicis, extensor digiti minimi, extensor carpi
radialis brevis, extensor carpi ulnaris, extensor digitorum communis dan extensor
pollicis longus. Extensor carpi radialis brevis dan extensor carpi radialis brevis
berperan penting pada kekuatan menggenggam (power grip).
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
19
saat Gerakan Menggenggam (Gripping) pada Aktivitas Panjat Dinding
Sumber: (Hansen, 2014)
saat Gerakan Menggenggam (Gripping) pada Aktivitas Panjat Dinding
Sumber: (Hansen, 2014)
20
Boulder pemanjat juga dituntut untuk benggantung dan mengangkat tubuh untuk
waktu yang cukup lama. Gerakan-gerakan ini melibatkan otot-otot pada lengan
bawah (forearm muscle), otot lengan atas (arm muscle) dan otot bahu (shoulder
muscle) (Nugroho, 2014). Otot lengan bawah (forearm muscle) yang bekerja pada
gerakan mengangkat tubuh adalah otot-otot fleksor dari tangan dan lengan yang
bekerja sebagai otot agonis, serta otot ekstensor dari tangan dan lengan yang
bekerja antagonis. Pada otot lengan atas (arm muscle), otot triceps bekerja agonis
dan otot biceps bekerja antagonis. Sedangkan pada otot bahu yang berperan
adalah otot deltoid, otot pectoralis mayor dan minor, otot supra spinatus serta otot
serratus anterior.
Sumber: (Saunders, 2015)
Gerakan mengangkat tubuh dilakukan dengan cara menekuk siku dan bahu
sehingga posisi tubuh dapat mendekati dinding panjat. Pada proses mengangkat
tubuh, terjadi gerak horizontal hiper-ekstensi pada bahu dengan otot latissimus
dan posterior deltoid yang berkontraksi. Selain itu juga terjadi gerakan fleksi
horizontal pada bahu yang melibatkan kontraksi otot anterior deltoid dan
pectoralis major. Sedangkan pada bagian siku terjadi gerak fleksi yang
melibatkan kontraksi otot biceps brachii yang membantu untuk menarik tubuh
lebih dekat ke dinding pemanjatan.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
21
Kondisi fisik yang juga penting dalam kategori difficult adalah kekuatan
otot perut (abdominal muscle), otot punggung (back muscle), dan otot tungkai
(calf/leg muscle). Ketiga kondisi fisik tersebut mempunyai peran yang vital untuk
pencapaian prestasi panjat dinding kategori difficult (Hardiyono, Nurkadri,
Pratama, & Laksana, 2019). Berdasarkan hasil penelitian oleh (Hardiyono,
Nurkadri, Pratama, & Laksana, 2019) kekuatan otot perut memiliki pengaruh
secara langsung positif terhadap hasil pemanjatan. Otot-otot perut (abdominal)
antara lain external oblique, internal oblique, transversus abdominis dan rectus
abdominis. Otot perut membantu menstabilkan dan mempertahankan posisi
sehingga tubuh tetap mendekati dinging panjat serta menjaga tekanan pada kaki
ketika memanjat untuk membagi tumpuan dan mengurangi beban vertikal pada
lengan yang mengakibatkan pemanjat cepat lelah. Otot ini menjadi sangat penting
bagi pemanjat Lead yang memanjat untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan
pada otot punggung, yang berperan saat pemanjatan adalah otot latissimus dorsi
dan trapezius. Kedua otot ini bersama dengan bantuan peran otot pundak
(shoulder muscle) seperti pectoralis major, deltoid, serratus anterior, berperan
saat gerakan mendayung dengan menarik ke arah dinding atau mendekati dinding.
Pinggul juga memiliki peran penting dalam memanjat. Misalnya saat
membutuhkan gerakan menekuk pinggul untuk mendekatkan tubuh ke dinding,
sehingga pusat gravitasi tubuh sejajar dengan kaki untuk mengurangi beban
lengan. Selain itu untuk gerakan fleksi lateral pada bagian tubuh di sekitar pinggul
seperti gerakan rock over. Gerakan ini terkenal membutuhkan langkah tinggi
dengan sendi pinggul tertekuk secara berlebihan daripada yang dilakukan dalam
aktivitas normal sehari-hari. Pijakan tinggi ini menjadikan beban tubuh pemanjat
berpindah ke atas (lebih tinggi daripada posisi pinggul secara vertikal), kemudian
semua beban pemanjat ditopangkan pada kaki itu dan pemanjat harus pada
tumpuan itu (dengan atau tanpa pegangan pada lengan). Pada proses ini pinggul
telah menekuk ke kisaran ujungnya. Otot yang berperan saat gerakan fleksi pada
pinggul adalah otot iliopsoas. Sedangkan pada gerakan ekstensi didukung dengan
peran otot hamstring dan gluteus maximus serta saat hiperekstensi dengan peran
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
22
otot gluteus maximus, gluteus minimus dan otot hamstring (biceps femoris,
semimebranosus, semitendinosus) (Nugroho, 2014).
Gambar I. 7. Contoh Rock Over pada Pemanjatan Kategori Boulder
Sumber: (FPTI-Federasi Panjat Tebing Indonesia, 2019)
Pemanjat tidak memanjat hanya dengan mengandalkan tanggannya tapi
juga memakai kakinya (Cahyono, 2014). Kaki merupakan tumpuan utama selain
tumpuan tangan. Hal ini sangat penting bagi pemanjat khususnya pada kategori
kesulitan (Lead dan Boulder). Bagi pemanjat Lead dan Boulder, penting untuk
terus menjaga agar beban tubuh pada titik yang seimbang dan posisi tangan tidak
banyak menahan beban tubuh selama pemanjatan (Nugroho, 2014). Sehingga
peran posisi kaki menjadi sangat penting untuk keseimbangan tubuh selama
menggantung di dinding pemanjatan. Terkadang pemanjat hanya menempelkan
kaki ke dinding pemanjatan tanpa menggantungkan salah satu kaki pada poin
hanya untuk menjaga keseimbangan tubuh dan tidak terjatuh.
Sebagian besar pergerakan kaki pada pemanjatan Lead dan Boulder
menggunakan ujung jari kaki yang tampak seperti menjinjit. Hal ini memberikan
keleluasaan yang lebih pada kaki untuk melakukan berbagai gerakan seperti pada
saat perpindahan kaki dari satu poin ke poin lain atau gerakan putaran ujung
depan kaki hingga 180° saat bertumpu pada poin untuk merubah arah gerak
pemanjat. Selain itu dengan menjinjit pemanjat dapat memiliki jangkauan ke atas
yang lebih tinggi khususnya saat menghadapi jalur dimana poin selanjutnya
berada pada posisi yang cukup jauh dari poin sebelumnya. Oleh karena itu, sepatu
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
23
panjat juga didesain runcing pada bagian depan kaki sehingga pemanjat dapat
memusatkan tumpuan di ujung kaki.
Gambar I. 8. Otot Pinggul dan Kaki pada Olahraga Panjat Dinding
Sumber: (Saunders, 2015)
tungkai memiliki berperan penting pada gerakan-gerakan pada kaki. Otot tungkai
juga memeiliki pengaruh secara langsung terhadap hasil pemanjatan. Hal ini telah
dibuktikan oleh Sinurat (2013) dalam (Hardiyono, Nurkadri, Pratama, & Laksana,
2019) bahwa kekuatan otot tungkai berkontribusi sebesar 25% terhadap
kemampuan panjat dinding pada kategori Boulder. Otot tungkai yang berperan
besar pada pemanjatan adalah otot soleus dan gastrocnemius khususnya saat
gerakan mengangkat atau menarik tubuh dengan tumpuan kaki. Menurut analisis
gerak oleh (Nugroho, 2014), saat pemanjatan kaki mengalami gerak plantar fleksi
dan dorsi fleksi. Saat mengalami gerak fleksi pada sendi pergelangan kaki ke arah
bawah telapak kaki, otot yang paling berperan adalah otot gastrocnemius serta
otot lain yang terlibat secara agonis yaitu otot soleus, fibularis (peroneus) longus,
fibularis (peroneus) brevis, flexor hallucis longus, tibialis posterior dan flexor
digitorum longus. Sebaliknya, otot yang bekerja agonis adalah otot tibialis
anterior, extensor digitorum longus dan extensor hallucis longus. Sedangkan saat
mengalami gerak dorsi fleksi yang berperan adalah otot tibialis anterior.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
24
Selain itu, pergelangan kaki juga mengalami gerak eversi dimana kaki
memutar sehingga sisi lateral telapak kaki terangkat ke luar (kombinasi pronasi
dan abduksi). Pada gerakan ini otot extensor digitorum longus dan otot fibularis
(peroneus) brevis bekerja agonis sedangkan otot tibialis anterior, tibialis posterior,
flexor digitorum longus dan flexor hallucis longus bekerja antagonis. Pada bagian
lutut juga terjadi gerakan fleksi dan ekstensi dimana saat fleksi otot hamstring
(biceps femoris, semimebranosus, semitendinosus) yang berkontraksi, sedangkan
saat gerakan ekstensi otot quadriceps femoris (rektus femoris, vastus lateralis,
vastus medialis, vastus intermedius) yang berperan.
C.2. Otot pada Pemanjatan Pencapaian Kecepatan (Speed)
Kategori Speed merupakan pemanjatan yang fokus pada pencapaian
kecepatan memanjat dari seorang pemanjat. Jalur pemanjatan yang digunakan,
ketinggian, letak dan bentuk poin pegangan atau pijakan diatur sama persis
dengan tujuan menyamakan variabel kesulitan. Pada satu babak pertandingan,
altet dituntut untuk dapat mencapai top/finish dengan waktu yang sesingkat-
singkatnya tanpa terjatuh (Bahtiar, 2006). Kecepatan seorang pemanjat tebing
dipengaruhi oleh koordinasi yang baik antar komponen-komponen kondisi fisik.
Beberapa komponen kondisi fisik adalah kekuatan lengan, daya ledak tungkai dan
kelincahan. Komponen fisik tidak terlepas dari peran penting otot ekstermitas atas
(upper limb) pada gerakan mengangkat tubuh (pull up) dan otot ekstermitas
bawah (lower limb) yang memberikan dorongan tubuh keatas.
Gerakan ekstermitas atas pada pemanjatan kategori Speed tidak terlepas
dari peran penting otot lengan (arm muscle), otot bahu (shoulder muscle) dan otot
punggung (back muscle). Berdasarkan hasil penelitian oleh (Satrianingsih &
Yusuf , 2016), otot lengan dan otot perut berpengaruh terhadap kemampuan
panjat tebing khususnya pada nomor Speed. Selain itu, kekuatan otot punggung
diketahui juga memiliki pengaruh secara langsung terhadap hasil pemanjatan atlet
panjat dinding (Hardiyono, Nurkadri, Pratama, & Laksana, 2019). Otot lengan,
otot bahu dan otot punggung sangat dibutuhkan saat gerakan mengangkat tubuh
(pull up). Kekuatan maksimal (power) dari otot-otot ini menghasilkan gerakan
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
25
dengan gaya tarikan tubuh (pull up) yang besar sehingga proses pencapaian dari
poin satu ke poin lainnya menjadi cepat. Latihan fisik yang dilakukan lebih fokus
ke power tubuh bagian atas dan bawah. Karena power sangat diperlukan, atlet
Speed banyak melakukan latihan-latihan yang membentuk masa otot (hipertrofi)
seperti latihan angkat beban dan leg press atau squat untuk tubuh bagian bawah.
Otot utama yang bekerja saat gerakan gerakan mengangkat tubuh (pull up)
adalah otot latissimus dorsi, otot trapezius, otot biceps brachii dan otot pectoralis
major. Pada gerakan memanjat, khususnya otot latissimus dorsi dan otot trapezius
adalah otot yang memiliki peran utama karena gerakan memanjat lebih
menyerupai gerakan pull up dimana genggaman tangan menghadap ke dinding
atau luar tubuh. Otot latissimus dorsi merupakan otot yang membentang ke
samping tubuh, sebagian ditutupi oleh otot trapezius. Otot ini beperan untuk
memutar, merentangkan dan menarik humerus mendekati tubuh. Otot trapezius
adalah otot yang terletak di tengah-tengah punggung bagian atas yang berperan
untuk mengangkat, menarik kembali, dan memutar scapula. Sedangkan otot
biceps brachii dan otot pectoralis major memiliki peran yang lebih kecil tetapi
berperan besar pada gerakan seperti chin up dimana genggaman tangan
menghadap ke dalam tubuh atau ke muka.
Gambar I. 9. Otot Latissimus dan Otot Trapezius pada Olahraga Panjat Dinding
Sumber: (Saunders, 2015)
26
melakukan gerakan yang tampak seperti lompatan. Lompatan ini merupakan hasil
singkronisasi yang baik selain dari otot ekstermitas atas (upper limb) juga
dukungan otot ekstermitas bawah (lower limb). Otot ekstermitas terdiri dari otot
gluteus, otot paha (thigh muscle) dan otot tungkai (calf/leg muscle). Pada saat
memanjat Speed, otot – otot ini berperan besar memberikan gaya dorongan ke atas
pada tubuh mirip seperti gerakan vertical jump. Gerakan ini membantu gerakan
mengangkat tubuh (pull up) dari ekstermitas atas. Daya ledak maksimal (power)
dari otot-otot tungkai menghasilkan gerakan lompatan sehingga proses pencapaian
dari poin satu ke poin lainnya menjadi cepat.
Otot utama yang bekerja saat gerakan ini adalah otot-otot quadriceps
femoris (rektus femoris, vastus lateralis, vastus medialis, vastus intermedius), otot
tibialis anterior, otot gluteal, otot-otot hamstrings (biceps femoris) dan otot-otot
calf (gastrocnemius, soleus). Fungsi utama otot quadriceps femoris (rektus
femoris, vastus lateralis, vastus medialis, vastus intermedius) adalah untuk
meluruskan bagian kaki dan menstabilkan kaki pada posisi lurus. Otot hamstrings
meregang saat otot quadriceps femoris (rektus femoris, vastus lateralis, vastus
medialis, vastus intermedius) kontraksi dan juga berfungsi meregangkan sendi
lutut saat gerakan menekuk kaki.
Berdasarkan analisis gerak oleh (Nugroho, 2014), otot paha (thigh muscle)
yang berperan dalam pemanjatan antara lain otot adductor longus, adductor
brevis, adductor magnus, sartorius, rektus femoris, vastus lateralis, vastus
medialis, vastus intermedius, biceps femoris, semimebranosus dan semitendinosus.
Sedangkan otot tungkai (calf/leg muscle) yang berperan adalah tibialis anterior,
tibialis posterior, popliteus, ekstensor talangus longus dan fleksor falangus longus.
1.5.2. Teknik Pengukuran Tubuh
Antropometri adalah salah satu kajian antropologi fisik atau antropologi
biologi yang berperan penting dalam studi variasi biologis atau morfologi dengan
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
27
Koesbardiati, 2008). Antropometri banyak digunakan pada berbagai macam
terapan misalnya pada bidang industi pakaian yang memanfaatkan ukuran tubuh
untuk desain baju, atau pada industri pembuatan produk transportasi yang
memanfaatkan data antropometri untuk memperhatikan kenyamanan dan
keselamatan pengguna. Selain itu pada perkembangannya antropometri juga
banyak digunakan pada studi kedokteran dan peneitian mengenai olahraga. Pada
perkembangan bidang olahraga banyak penelitian dilakukan untuk menemukan
proporsi tubuh yang tepat untuk mendukung performa dan prestasi atlet.
Penelitian ini menggunakan 10 variabel ukuran antropometri. Variabel ini
adalah variabel yang digunakan pada perhitungan somatotipe (Roger & Thomas,
2009). Variabel ukuran antropometri yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Tinggi badan (height)
b. Berat badan (weight)
supraspinale skinfolds dan medial calf skinfolds)
d. Dua variabel lebar biepicondylar (humerus width dan femur width)
e. Dua variabel lingkaran (biceps girth dan calf girth)
B. Somatotipe
digunakan untuk menilai bentuk dan komposisi tubuh manusia baik anak-anak
ataupun dewasa (Roger & Thomas, 2009). Pengklasifikasian tipe tubuh ini
dideskripsikan melalui peringkat angka atau kuantitatif. Angka ini bersifat fenotip
dan berlaku sama, baik pria ataupun wanita (Carter J. E., 2002).
Konsep pengklasifikasian konstitusi tubuh manusia diawali oleh
Kretschmer pada tahun 1921 dan Viola (Qurun, 2015). Kategorisasi Kretschmer
membagi tipe bentuk tubuh manusia dengan penilaian secara visual menjadi 3
kategori yaitu Atletik, Liptosom dan Piknik. Lalu pada tahun 1933 muncul konsep
lain dari Viola. Viola membuat penilaian yang ditentukan melalui pengukuran
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
28
lalu dijelaskan secara proporsional dengan 'normotype'.
Pada tahun 1940 istilah ‘somatotipe’ yang sekarang digunakan,
diperkenalkan pertama kali oleh seorang fisiologis Amerika bernama Sheldon.
Sheldon mengemukakan teori “Constitutional Psychology” yang merupakan
kombinasi ide-ide dasar dari konsep Kretschmer dan Viola (Sheldon, 1944) dalam
(Roger & Thomas, 2009). Sheldon mengemukakan tiga dimensi untuk
mendeskripsikan fisik manusia (Carter & Heath, 1990). Konsep ini untuk
menggambarkan ciri-ciri morfologi dari dasar genotip manusia. Berdasarkan tiga
lapis pada tahap embrional manusia yaitu: Endoderma, Mesoderma, dan
Ectoderma, Sheldon memberikan dasar logis-biologis pada tipologinya (Qurun,
2015).
Tipologi yang dikemukakan oleh Sheldon mengklasifikasikan konstitusi
tubuh manusia menjadi 3 tipe tubuh ekstrim: Endomorphy, tipe lemak atau bulat;
tipe Mesomorphy, atau otot; dan Ectomorphy, tipe linier atau ramping
(Encyclopaedia Britannica, Inc., 2020). Pada sistem Sheldon, bentuk tubuh
manusia dapat diklasifikasikan dalam tiga digit nomor somatotipe, dengan digit
pertama mengacu pada Endomorphy, digit kedua untuk Mesomorphy, dan digit
ketiga untuk Ectomorphy; setiap digit berada pada skala 1 sampai 7. Oleh karena
itu, Endomorph ekstrim memiliki somatotipe 711, Mesomorph ekstrim 171, dan
Ectomorph ekstrim 117. Angka klasifikasi berkorelasi negatif, sehingga angka
tinggi dalam satu kelas menghalangi angka tinggi pada kelas lainnya. Dalam
praktiknya, tipe ekstrim (711, 171, 117) jarang atau tidak ada. Orang dengan
tubuh normal memiliki somatotipe mendekati 444, seimbang secara merata di
antara yang ekstrim.
komponen tubuh tertentu. Komponen tubuh dalam somatotipe adalah deskripsi
yang didefinisikan secara empiris dari aspek atau sifat tertentu dari bentukan
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
29
(2001: 55-56) dalam (Qurun, 2015) yaitu :
1. Endomorphy
endoderma, khususnya sistem pencernaan. Badan didominasi oleh perut
sehingga diggambarkan dengan bentuk tubuh bulat, berisi pada bagian
perut, otot atau kerangka halus dan tungkai berbentuk lonjong.
2. Mesomorphy
yaitu sistem otot dan kerangka tubuh (termasuk saraf, ligament, tendon,
dan sendi). Digambarkan dengan kebugaran fisik, tulang dan otot tebal dan
kentara, rahang bawah persegi, berisi di bagian dada, bahu lebar, kulit
tebal, panggul dan anggota badan kuat.
3. Ectomorphy
Komponen ectomorphy didominasi organ yg terbentuk dari ektoderma:
saraf dan kulit. Digambarkan dengan aspek fisik yang kurus, tulang halus,
tungkai/lengan kurus dan panjang, bahu menurun, muka kecil, bagian otak
besar, lemah karena tidak adanya otot, lemak atau jaringan tubuh dalam
jumlah besar.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
30
berskala 7 dan kurangnya objektivitas dalam penilaiannya (Roger & Thomas,
2009). Oleh karena itu, metode ini tidak banyak digunakan oleh peneliti terutama
di bidang kinantropometri. Dari kritik ketiga konsep sebelumnya, pada tahun 1967
muncul metode baru yang dikemukakan oleh Heath dan Carter. Metode baru ini
sebagian dipengaruhi oleh gagasan dari Parnell (1954, 1958). Metode somatotipe
Heath dan Carter adalah metode yang paling banyak diterapkan secara universal,
dan akan digunakan dalam penelitian ini. Dua metode terkenal lainnya
diperkenalkan oleh Lindegard (1953) dan Conrad (1963), tetapi lebih jarang
digunakan daripada metode Heath-Carter.
Somatotipe Heath dan Carter mengusulkan pendekatan fenotip dengan
skala penilaian yang lebih terbuka dari tiga komponen genotip konsep Sheldon
(Roger & Thomas, 2009). Somatotipe terdiri dari nilai tiga angka yang dinilai dari
pengukuran antropometri yang obyektif, misalnya, 3,5-5-1. Nilai masing-masing
komponen dinyatakan dalam urutan yang sama, dimulai dari nol dan tidak
memiliki batas atas. Peringkat dibulatkan menjadi setengah unit. Pada praktiknya,
tidak ada peringkat yang lebih rendah dari setengah (karena sifat bentuk tubuh
tertentu tidak akan pernah benar-benar tidak ada), dan peringkat lebih dari tujuh
berarti sangat tinggi.
Sumber : (Carter J. E., 2002)
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
31
somatotipe dengan menggunakan Somatype Rating Form dan Somatochart (Carter
J. E., 2002). Nilai somatotipe diukur melalui Somatotype Rating Form dengan
berdasarkan perhitungan Endomorphy, Mesomorphy, dan Ectomorphy. Hasil dari
ketiga komponen Sheldon dipetakan dengan menggunakan rumus penentuan titik
X dan Y, sehingga akan terbentuk suatu koordinat yang menentukan variasi
somaotipe pada somatochart. Area letak perpotongan X dan Y merupakan dasar
penentuan variasi somatotipe. Variasi somatotipe didasarkan pada ke-13 kategori
menrut Carter & Heath (Carter J. E., 2002). Kategori somatotipe didefinisikan
kedalam 13 kategori (Carter J. E., 2002) sebagai berikut :
a. Central : yaitu tidak ada komponen antara endomorphy, ectomorphy, dan
mesomorphy
mesomorphy dan ectomorphy sama.
sedangkan mesomorphy lebih besar dari ectomorphy.
d. Mesomorph endomorph : yaitu endomorphy dan mesomorphy sama,
sedangkan ectomorphy lebih kecil.
sedangkan endomorphy lebih besar dari ectomorphy.
f. Balanced mesomorph : yaitu mesomorphy lebih dominan, sedangkan
endomorphy dan ectomorphy sama.
ectomorphy lebih besar dari endomorphy.
h. Mesomorph ectomorph : yaitu mesomorphy dan ectomorphy sama,
sedangkan endomorphy lebih kecil.
mesomorphy lebih besar dari endomorphy.
j. Balanced ectomorph : yaitu ectomorphy lebih dominan, sedangkan
endomorphy dan mesomorphy sama.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
32
endomorphy lebih besar dari mesomorphy.
l. Endomorph ectomorph : yaitu endomorphy dan ectomorphy sama,
sedangkan mesomorph lebih kecil.
ectomorphy lebih besar dari mesomorphy.
1.6. Hipotesis Penelitian
pada tingkat tertentu dapat dikatakan sebagai suatu kebenaran. Untuk menjawab
hal tersebut diperlukan susunan jawaban sementara yang bersifat dugaan menenai
hubungan satu variabel denga variabel lainnya. Susunan jawaban tersebut disebut
dengan hipotesa, yang dinyatakan dalam benuk parameter suatu populasi.
Hipotesa ini yang akan diuji kebenarannya melaui sebuah prosedur penelitian
empiris dengan menggunakan data dari sampel populasi peneltian tersebut
(Nuryadi, Astuti, Utami, & Budiantara, 2017, p. 81).
Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah
terdapat perbedaan yang signifikan pada ukuran antropometri atlet olahraga panjat
dinding (Sport Climbing) antara kategori Lead-Bouler dengan kategori Speed.
Adanya signifikansi perbedaan meruakan hipotesis pada penelitian ini yang perlu
diuji untuk dibuktikan kebenarannya. Apabila hasil meunjukkan hipotesis nol,
maka dapat disimpulkan bawa tidak adan perbedaan signifikan antara kedua
variabel yang dibandingkan. Jika hasil menunjukkan hipotesis alternatif, maka
dapat disimpulka bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua varibel
yang dibandingkan. Susunan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut :
H : Tidak ada perbedaan yang signifikan dari ukuran antropometri atlet
olahraga panjat dinding (Sport Climbing) antara kategori Lead dengan
kategori Speed
33
Ha : Ada perbedaan yang signifikan dari ukuran antropometri atlet olahraga
panjat dinding (Sport Climbing) antara kategori Lead dengan kategori
Speed.
digunakan untuk meneliti pada populasi yang dipilih dengan melakukan analisis
data bersifat kuanitatif untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono,
2017). Data ukuran antropometri berupa angka diolah dan didapatkan somatotipe
yang disajikan dalam bentuk somatometrik. Selanjutnya data ukuran
antropommetri dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk mendapatkan
gambaran perbedaan dari kedua kategori.
1.7.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lokasi atlet olahraga panjat dinding (Sport
Climbing) rutin melakukan aktivitas latihan yaitu di kantor pusat Pengurus
Provinsi FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) Jawa Timur. Lokasi ini berada
di lapangan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Jawa Timur yaitu di
jalan. Raya Kertajaya Indah No.96, Manyar Sabrangan, Kec. Mulyorejo, Kota
SBY, Jawa Timur
Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik
pemilihan sampel dengan kriteria tertentu (Hadi, 2004). Populasi dari penlitian ini
adalah atlet panjat dinding (Sport Climbing) Indonesia dimana diambil sampel
dari penelitian ini yaitu atlet dari FPTI Jawa Timur. FPTI memiliki cabang di 34
provinsi di Indonesia. Peneliti memilih atlet dari FPTI Jawa Timur karena
merupakan atlet berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur dan telah melalui
proses seleksi untuk menjadi atlet tingkat provinsi. Semua atlet ini memiliki
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
34
pengalaman berkompetisi mewakili Indonesia di kompetisi Internasional. Selain
itu pada tingkat Nasional atlet FPTI Jawa Timur tercatat sampai pada tahun 2019
masuk pada peringkat 10 besar di Indonesia, sehingga atlet FPTI Jawa Timur
dianggap dapat mewakili atlet panjat dinding di Indonesia.
Jumlah atlet dari FPTI Jawa Timur adalah 18 orang, dengan rincian 10
orang atlet putra dan 8 orang atlet putri. Atlet FPTI Jawa Timur masuk dalam
kategori dewasa dengan kisaran umur 17-35 tahun. Pengambilan sampel diambil
dari tiga kategori yaitu kategori Speed Climbing, Boulder Climbing dan Lead
Climbing. Lalu peneliti mengelompokkan ketiga kategori sampel kedalam dua
jenis pertandingan. Petama, jenis pertandingan tingkat kesulitan yaitu kategori
Lead dan Boulder dengan jumlah 5 orang atlet putra dan 4 orang atlet putri.
Kedua, jenis pertandingan pencapaian kecepatan yaitu kategori Speed dengan
jumlah yang sama 5 orang atlet putra dan 4 orang atlet putri.
1.7.4. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilasanakan pada masa terjadinya pandemi virus corona
(COVID-19). Salah satu protokol kesehatan yang diberlakukan adalah social
distancing dimana pemerintah menganjurkan masyarakat untuk tinggal di rumah
saja dan menghindari kegiatan dalam keramaian (Pinasti, 2020, p. 239). Kondisi
tersebut menjadikan proses pengumpulan data pada penelitian ini tidak dapat
dilakukan secara tatap muka. Karena adanya keterbatasan kondisi tersebut peneliti
tidak melakukan pengambilan data secara langsung. Tahap-tahap pengumpulan
data yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
A. Observasi
di lapangan terkait dengan kajian penelitian. Observasi tidak bisa dilakukan secara
langsung sehingga peneliti melakukan observasi melalui sumber informasi yang
diakses dengan daring yaitu official website FPTI Jawa Timur dan social media
seperi youtube atau instagram. Peneliti mendapatkan gambaran bagaimana
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
35
kegiatan rutin yang dilakukan atlet FPTI Jawa Timur dan bagaimana gambaran
jalannya kompetisi panjat tebing.
informasi yang terperinci atau lenkap (Bastian, Winardi, & Fatmawati, 2018).
Melalui wawancara dapat diperoleh pemahaman tentang objek penelitian terkait
sikap, opini, perilaku, pengalaman, fakta-fakta dan lain sebagainya yang dalam
penelitian ini adalah atlet olahraga panjat dinding di FPTI Jawa Timur. Tahap
wawancara dilakuka peneliti untuk mendatkan informasi yang mendalam untuk
melengkapi informasi dari data sekunder yang telah didapatkan pada tahap
observasi.
Tahap wawancara juga tidak bisa dilakukan secara tatap muka sehingga
peneliti melakukan komunikasi melalui social media secara personal dengan
Bapak Iswara Yoga Prana. Selaku manager sekaligus pelatih atlet FPTI Jawa
Timur Periode 2018-2023, Bapak Iswara adalah orang yang paling memahami
hal-hal yang berkaitan dengan atlet FPTI Jawa Timur dan proses latihannya.
Peneliti menjadikan Bapak Iswara sebagai informan dalam penelitian ini.
C. Pengukuran Antropometri
data secara langsung, khususnya pada tahap pengukuran tubuh atlet. Peneliti
menggunakan data ukuran antropometri yang dimiliki oleh FPTI Jawa Timur
melalui Bapak Iswara Yoga Prana. Data ukuran antropometri diambil pada tahun
2019 sebagai salah satu agenda yang rutin dilakukan. Data dalam bentuk file excel,
berjumlah dua buah file dengan rincian sebagai berikut :
1. Data Prestasi Per. Januari 2019
File ini berisi data nama lengkap 18 atlet FPTI Jawa Timur Tahun
2019 dengan keterangan jenis kelamin; tempat dan tanggal lahir;
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
36
Heigh (m)2
diperoleh.
2. Data Antropometrik Atlet (2019)
File ini berisi data nama 18 atlet FPTI Jawa Timur Tahun 2019
dengan variabel ukuran antropometri diantaranya tinggi badan; berat
badan; panjang tungkai kaki; panjang telapak tangan; panjang telapak
kaki; panjang rentang tangan (arm span); triceps skinfold; subscapular
skinfolds; supraspinal skinfolds; medial calf skinfolds; lingkar lengan atas;
lingkar betis; lebar humerus dan lebar femur.
Data yang diperoleh dari pelatih atlet, kemudian diorganisir menggunakan
Micosoft Excel. Data dikelompokkan atau diurutkan dan dipilah berdasarkan
variabel yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan utuk memudahkan proses pengolahan
data.
Pada variabel BMI (Body Mass Index) didapatkan melaui perhitungan dari
vatiabel yang sudah tersedia. Hasil perhitungan BMI dihitung dari perbandingan
berat badan (weight) dalam satuan kilogram dengan tinggi badan (height) kuadrat
dalam satuan meter (Roger & Thomas, 2009). Rumus BMI adalah sebagai
berikut :
D. Data Variasi Somatotipe
(Carter J. E., 2002) yaitu :
1. Pengisian Heath-Carter Somatotype Rating Form
Sepuluh dimensi ukuran antropometri diperlukan untuk menghitung
somatotipe antropometri (Carter J. E., 2002). Data pengisian Somatotype Rating
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
37
Form berdasarkan 10 variabel ukuran antropometri yaitu height, weight, triceps
skinfold, subscapular skinfold, supraspinale skinfold, calf skinfold, humerus width,
femur width, biceps girth, dan calf girth. Tiga komponen pengisian Somatotype
Rating Form adalah nilai Endomorphy, Mesomorphy dan Ectomorphy.
Peneliti menggunakan panduan dari (Roger & Thomas, 2009) untuk
menentukan somatotipe antropometri dengan menggunakan Heath-Carter
Somatotype Rating Form. Terdapat 16 langkah dimana Endomorphy dihitung
pada langkah 2 sampai dengan 5, Mesomorphy pada langkah 6 sampai dengan 10,
dan Ectomorphy pada langkah 11 sampai dengan 14. Langkah pengisian Heath-
Carter Somatotype Rating Form sebagai berikut:
• Langkah 1 : Catat data identifikasi di bagian atas formulir penilaian.
• Langkah 2 : Catat nilai masing-masing keempat ukuran skinfold
(triceps skinfold, subscapular skinfold, supraspinale skinfold, calf
skinfold)
• Langkah 3 : Jumlahkan nilai keempat ukuran skinfold; catat jumlah ini
di kotak seberang 'SUM 3 SKINFOLDS’. Koreksi tinggi dengan
mengalikannya berjumlah 170,18 / tinggi (cm).
• Langkah 4 : Lingkari nilai terdekat dalam baris skala 'SUM 3
SKINFOLDS'.
• Langkah 5 : Pada baris 'Endomorphy' lingkari nilai tepat di bawah
kolom yang dilingkari pada langkah 4
• Langkah 6 : Catat nilai height, humerus width dan femur width.
Lakukan koreksi skinfold dengan mengubah triceps skinfold dan calf
skinfold kedalam satuan cm Kurangi biceps girth dengan triceps
skinfold (cm) dan kurangi calf girth dengan calf skinfold (cm). Lalu
catat nilai biceps girth, dan calf girth.
• Langkah 7 : Lingkari nilai terdekat dalam baris skala height.
• Langkah 8 : Lingkari nilai yang paling mendekati pada masing-masing
baris nilai humerus width, femur width, biceps girth, dan calf girth (Jika
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
38
pengukuran jatuh di tengah-tengah antara dua nilai, lingkari nilai yang
lebih rendah).
• Langkah 9 : Dalam langkah ini, anggap kolom sebagai satuan, bukan
nilai numerik. Periksa deviasi yang dilingkari dari nilai humerus width,
femur width, biceps girth, dan calf girth dengan nilai yang dilingkari
pada kolom height. Hitung simpangan kolom di sebelah kanan kolom
nilai height sebagai simpangan positif, dan ke kiri sebagai simpangan
negatif. Hitung jumlah aljabar dari simpangan (D). Gunakan rumus:
Mesomorphy = (D/8)+4. Lingkari nilai Mesomorphy dari nilai yang
terdekat dengan hasil perhitungan rumus simpangan.
• Langkah 10 : Pada baris 'Mesomorphy,' lingkari nilai terdekat untuk
mesomorphy yang dihitung pada langkah 9 (Jika titik persis di tengah-
tengah antara dua rating poin, lingkari nilai yang paling mendekati
skala 4).
• Langkah 11 : Catat weight (kg).
• Langkah 12 : Menghitung nilai HWR (height divided by cube root of
weight) yaitu nilai height dibagi dengan akar pangkat tiga dari nilai
weight, lalu catat di kotak HWR.
• Langkah 13 : Lingkari nilai terdekat dalam baris skala HWR.
• Langkah 14 : Pada baris 'Ectomorphy' lingkari nilai tepat di bawah nilai
HWR yang telah dilingkari.
• Langkah 15 : Catat nilai yang dilingkari untuk setiap komponen di baris
'Anthropometry Somatotype'.
sebelah kanan kolom nilai hasil somatotipe.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
39
Sumber : (Roger & Thomas, 2009)
Data perhitungan nilai Endomorphy, Mesomorphy, dan Ectomorphy
mengguakan persamaan rumus dari Heath & Carter (Carter J. E., 2002). Rumus
perhitungan sebagai dapat dilihat pada gambar I.5
Gambar I. 13. Rumus Endomorphy, Mesomorphy, dan Ectomorphy
Sumber : (Roger & Thomas, 2009)
Kategori somatotipe ditetukan dengan menetahui titik hasil perpotongan
koordinat titik X dan Y pada somatocart. Nilai koordinat X dan Y ini dihitung
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
40
dikelompokkan dan disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis. Gambar I.6
adalah rumus perhitungan koordinat X dan Y.
Gambar I. 14 Rumus X dan Y Somatochart
Sumber : (Roger & Thomas, 2009)
titikberada pada somatocart. Area pada somatocart terbagi menjadi 13 sesuai
dengan ke-13 kategori somatotype menurut Carter & Heath (1990) dalam (Carter
J. E., 2002), yaitu: Central, Balanced endomorph, Mesomorphic endomorph,
Mesomorph endomorph, Endomorphic mesomorph, Balanced mesomorph,
Ectomorphic mesomorph, Mesomorph ectomorph, Mesomorphic ectomorph,
Balanced ectomorph, Endomorphic ectomorph, Endomorph ectomorph dan
Ectomorphic endomorph.
kategori somatotipe
41
a. Pedoman Wawancara
melalui pedoman wawancara yang telah disiapkan sebelumnya (Bastian,
Winardi, & Fatmawati, 2018). Pedoman wawancara adalah panduan
wawancara berisi topik yang terstruktur atau daftar pertanyaan. Daftar
pertanyaan bersifat tidak kaku, merupakan pertanyaan utama yang dapat
dikembangkan menjadi pertanyaan lanjutan yang berkaitan. Pedoman
wawancara ini dibuat sebagai panduan agar wawancara terarah sesuai
topik informasi yang ingin diketaui.
b. Data profil atlet dan data ukuran antropometri atlet FPTI Jawa Timur
tahun 2019.
Merupakan form pengukuran dan diagram yang dikemukakan oleh Heath
dan Carter untuk menentukan somatotype. Somatochart digunakan untuk
memberikan gambaran sebaran somatotipe dari data yang sudah
didapatkan.
Masing-masing variabel ukuran antropometri diolah untuk diketahui nilai
rata-rata (Mean), standar deviasi (SD) serta milai minimum (Min) dan nilai
maksimum (Max). Data diolah menggunakan statistik deskriptif. Data deskriptif
disajikan dalam bentuk tabel untuk dapat dibandingkan nilai masing-masing
variabel ukuran antropometri antara kedua kategori. Data somatotipe digambarkan
melalui somatochart dan diintepretasikan berdasarkan kerangka konseptual untuk
menjelaskan simpulan dari hasil yang diperoleh di lapangan.
Data ukuran antropometri yang diperoleh juga diuji secara statistik
menggunakan perangkat lunak SPSS 16 untuk mengetahui kebenaran susunan
hipotesis yang sudah ditentukan. Analisis statistik yang dilakukan menggunakan
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
42
uji-t sampel independen (independen sample t-test) untuk melihat apakah ada
yang perbedaan yang signifikan antara ukuran antropometri atlet panjat dinding
kategori Lead-Boulder dengan kategori Speed. Uji normalitas menggunakan uji
One-Sample Kolmogorov Smirnov dan uji homogenitas menggunakan uji Levene
juga dilakukan terlebih dahulu sebagai syarat sebelum dilakukan uji-t pada data
temuan.