BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kebaktian di gereja (persekutuan doa) pada hari lainnya,

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kebaktian di gereja (persekutuan doa) pada hari...

  • 1 Universitas Kristen Maranatha

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar ke-empat di dunia,

    memiliki tingkat kejahatan yang tinggi pula. Tercatat dalam portal Pikiran Rakyat

    (21 Mei 2012), tingkat kejahatan di Indonesia mengalami kenaikan 6% tiap

    tahunnya. Dapat dilihat bahwa kriminalitas merupakan salah satu persoalan rumit

    yang dihadapi pemerintah dan masyarakat di Indonesia saat ini. Para pelaku yang

    melakukan tindak kriminal pun beragam, hal ini dapat dilihat berdasarkan jenis

    kelamin, usia dan jenis kejahatannya (http://digilib.umm.ac.id).

    Pelaku tindak kriminal yang telah dijatuhkan vonis bersalah oleh hukum

    dan harus menjalani hukuman disebut narapidana (Harsono,1995). Setiap

    narapidana harus memertanggungjawabkan perbuatannya di Lembaga

    Permasyarakatan (Lapas). Dengan adanya Lapas ini, diharapkan orang-orang yang

    sudah mendapatkan vonis atas nama hukum dan memunyai perilaku yang

    menyimpang dapat dibina untuk dikembalikan ke masyarakat nantinya. Dalam

    menjalani kehidupan di Lembaga Pemasyarakatan, narapidana hidup dengan

    peraturan tata tertib yang ketat dan harus dipatuhi. Kebebasaan bergerak

    narapidana dibatasi serta bergabung dengan orang-orang yang melakukan tindak

    kriminal lainnya (http://repository.usu.ac.id/bitstream). Kehidupan di dalam

    Lembaga Pemasyarakatan harus dijalani oleh setiap narapidana selama mereka

    menjalani masa hukumannya.

    http://repository.usu.ac.id/bitstream

  • 2

    Universitas Kristen Maranatha

    Masa hukuman narapidana yang satu dengan narapidana yang lain

    berbeda. Lama masa hukuman yang harus dijalani oleh para narapidana

    didasarkan atas berat ringannya tindak kejahatan yang dilakukan oleh narapidana

    tersebut. Hal tersebut telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

    yang memuat tentang seluruh tindak kejahatan yang dilakukan masyarakat beserta

    sanksi-sanksinya (http://cyber.unissula.ac.id). Semakin berat tindak kriminal yang

    dilakukan narapidana maka masa hukumannya akan semakin lama dan sebaliknya

    semakin ringan tindak kriminal yang dilakukan narapidana maka masa

    hukumannya semakin ringan.

    Selama menjalani masa hukumannya, seorang narapidana juga

    mendapatkan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan. Adanya model pembinaan

    bagi narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan bertujuan untuk lebih banyak

    memberikan bekal bagi narapidana dalam menyongsong kehidupan setelah selesai

    menjalani masa hukuman (bebas). Harus disadari juga bahwa pembinaan yang

    diberikan selama di Lembaga Pemasyarakatan itu mempunyai tujuan yang baik,

    tetapi jika narapidana itu sendiri tidak sanggup ataupun masyarakat itu sendiri

    yang tidak mau menerimanya, maka pembinaan tidak akan mencapai sasarannya.

    (http://bledhos.wordpress.com/2012/05/22). Oleh karena itu diharapkan setiap

    narapidana dapat memanfaatkan pembinaan yang diberikan selama di Lembaga

    Pemasyarakatan.

    Beberapa kesulitan yang dialami mantan narapidana setelah bebas antara

    lain kesulitan untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat di

    sekitarnya dan kesulitan dalam memperoleh pekerjaan. Memunyai pekerjaan yang

    http://bledhos.wordpress.com/2012/05/22

  • 3

    Universitas Kristen Maranatha

    layak, hasil yang mencukupi serta hubungan baik dengan masyarakat adalah

    dambaan bagi setiap orang tidak terkecuali mantan narapidana.

    (http://repository.unand.ac.id).

    Pada Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung ditemukan berbagai kasus

    yang terkait tindak pidana seperti pencurian, pencabulan, perampokan, penipuan,

    penganiayaan, pencucian uang (money laundry), pembunuhan, perbuatan asusila

    terhadap anak di bawah umur dan tindak pidana korupsi (tipikor). Lembaga

    Pemasyarakatan “X” Bandung mempunyai daya tampung (kapasitas) sebanyak

    552 sel (kamar hunian), namun saat ini hanya diisi oleh 450 orang yang dibagi ke

    dalam empat blok, yaitu blok barat, utara, timur dan selatan. Pembagian blok

    tersebut tidak berdasarkan oleh tindak pidana ataupun lamanya masa hukuman.

    Blok Utara merupakan blok pertama yang harus ditempati oleh para

    narapidana ketika masa orientasi di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Para

    narapidana tersebut selama satu minggu hanya menempati kamar dalam Lembaga

    Pemasyarakatan dan tidak dapat melakukan aktivitas lainnya. Setelah satu

    minggu, para narapidana dapat beraktivitas seperti narapidana lainnya dan dapat

    dipindahkan ke dalam blok barat, timur maupun selatan.

    Di dalam Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung terdapat pembinaan

    rohani bagi para narapidana. Pembinaan rohani yang ada di dalam Lembaga

    Pemasyarakatan “X” Bandung adalah Pesantren / ceramah agama bagi yang

    beragama muslim dan kebaktian di Gereja bagi yang beragama nasrani.

    Pembinaan kerohanian ini dimaksudkan agar para narapidana mempunyai mental

    kerohanian yang kuat. Pembinaan kerohanian Pesantren dilakukan pada hari

  • 4

    Universitas Kristen Maranatha

    Jumat sedangkan kebaktian di Gereja dilakukan pada hari Minggu. Namun, diluar

    dari pembinaan rutin setiap minggunya, terdapat kegiatan siraman rohani dan

    kebaktian di gereja (persekutuan doa) pada hari lainnya, yaitu hari senin, selasa

    dan rabu, kamis dan sabtu. Jadwal pada hari lainnya (senin,selasa dan rabu) dapat

    berubah-ubah apabila ada acara di Lembaga Pemasyarakatan.

    Selain pembinaan kerohanian, terdapat pembinaan dalam bidang

    keterampilan dan kepemimpinan yaitu pramuka. Pembinaan kepramukaan ini

    bertujuan agar para narapidana lebih dapat meningkatkan kualitas kepribadiannya

    untuk menjadi manusia yang berwawasan kebangsaan dan mempunyai rasa

    nasionalisme, memiliki rasa percaya diri tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai

    bekal kehidupan bagi para narapidana setelah menjalani masa pidananya.

    Terdapat juga kegiatan pembinaan kemandirian yang bertujuan agar para

    narapidana dapat mengembangkan keterampilan yang telah dipelajari di Lembaga

    Pemasyarakatan “X” Bandung. Pembinaan kemandirian yang dilaksanakan di

    Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung adalah perkayuan, percetakan,

    pembuatan layang-layang, pertanian di dalam maupun di luar Lembaga

    Pemasyarakatan, konveksi, budi daya jamur, budi daya ikan, perbengkelan,

    pangkas rambut, handy craf angklung mini, penjahitan, pertamanan, kaligrafi

    dan laundry. Program pembinaan tersebut dilaksanakan pada hari senin sampai

    sabtu pada pukul 07.30 pagi sampai pukul 12.00 siang. Kegiatan pembinaan

    kemandirian, biasa disebut pos kerja oleh petugas maupun para narapidana.di

    dalam Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung. Dari kegiatan pembinaan yang

    dilakukan oleh para narapidana, setiap narapidana mendapatkan penghasilan dari

  • 5

    Universitas Kristen Maranatha

    hasil kerja ataupun karya yang telah dikerjakan oleh mereka. Sebagian besar

    narapidana mengikuti kegiatan pembinaan ataupun bekerja di dalam Lapas. Para

    narapidana mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari maupun

    untuk diberikan kepada keluarganya. Namun, penghasilan yang didapatkan oleh

    para narapidana tersebut terbatas sehingga penghasilan tersebut terkadang

    digunakan untuk memenuhi kebutuhan narapidana di dalam Lembaga

    Pemasyarakatan (membeli makan, rokok dan kebutuhan sehari-hari).

    Hasil kegiatan dari para narapidana bermacam-macam. Pada pembinaan

    perkayuan menghasilkan barang-barang seperti meja belajar, lemari, kursi, tempat

    tidur, dll. Pada pembinaan konveksi menghasilkan pakaian seragam SD dan SMP,

    t-shirt dan kaos olah raga dan kaos oblong. Selain itu, pembinaan kaligrafi

    menghasilkan hiasan dinding, tulisan arab dan ornamen. Pada pembinaan

    percetakan menghasilkan buku, kartu, box file, brosur, kartu nama dan kartu

    undangan.

    Selain pos kerja yang telah diuraikan di atas, para narapidana juga dapat

    membantu para petugas dengan bekerja sebagai tamping di bagian registrasi,

    bimbingan kemasyarakatan (bimkemas) maupun kunjungan. Untuk tamping

    bagian kantor (registrasi dan bimbingan kemasyarakatan), biasanya para petugas

    memilih narapidana yang terampil dalam mengetik dan mengerti mengenai cara

    menggunakan komputer. Para narapidana yang ditempatkan di pos kerja di bagian

    registrasi dan di bagian kemasyarakatan (bimkemas) untuk membantu petugas-

    petugas dalam menyusun data mengenai narapidana yang baru masuk ke dalam

    Lembaga Pemasyarakatan dan menyusun rencana kegiatan yang akan

  • 6

    Universitas Kristen Maranatha

    dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan “X” Bandung. Bagi tamping yang

    bekerja di bagian kunjungan, mereka diberikan tugas untuk mendata narapidana

    yang mendapatkan kunjungan dan memanggil narapidana tersebut untuk datang

    ke aula / ruang kunjungan. Namun bagi narapidana yang menjadi tamping bagian

    bimbingan kemasyarakatan, registrasi maupun kunjungan tidak mendapatkan

    penghasilan dari pihak Lembaga Pemasyarakatan.

    Di dalam Lembaga Pemasyarakatan “X” Band