of 107 /107
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kabupaten Balangan terbentuk secara resmi Sejak dikeluarkannya Undang-Undang No. 2 Tahun 2003 tanggal 27 Januari 2003 bersamaan dengan terbentuknya Kabupaten Tanah Bumbu di Provinsi Kalimantan Selatan dimana keberadaannya tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Disadari bahwa dalam pelaksanaan pembangunan sekarang dan dimasa yang akan datang dihadapkan pada tantangan yang begitu besar. Menghadapi hal tersebut konsep pembangunan harus benar-benar diselaraskan dengan mengakomodasi kepentingan masyarakat yang sejalan dengan kegiatan pembangunan nasional maupun pembangunan daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Balangan merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun. RPJP ini selanjutnya akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Balangan untuk setiap jangka waktu 5 (lima) tahunan. RPJPD ini merupakan dokumen perencanaan yang bersifat makro dengan cakupan meliputi kondisi umum daerah, visi, misi, dan arah pembangunan jangka panjang Kabupaten Balangan. Proses penyusunan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh unsur pelaku pembangunan yang dilaksanakan dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut: Pertama, penyiapan rancangan RPJP Kabupaten Balangan dimana kegiatan ini dibutuhkan guna mendapat gambaran awal dari visi, misi, dan arah pambangunan Kabupaten Balangan. Kedua, musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) jangka panjang Kabupaten Balangan dilaksanakan untuk mendapat masukan dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terhadap RPJP Kabupaten Balangan. Ketiga, penyusunan rancangan akhir RPJP Kabupaten Balangan dimana seluruh masukan dan komitmen hasil Musrenbang Jangka Panjang Kabupaten Balangan menjadi masukan utama dan penyempurnaan rancangan RPJP Kabupaten Balangan, menjadi rancangan akhir RPJP Kabupaten Balangan. Keempat, penetapan Peraturan Daerah tentang RPJP Kabupaten Balangan dibawah koordinasi Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi hukum. Rancangan akhir RPJP Kabupaten Balangan beserta lampirannya disampaikan kepada DPRD sebagai inisiatif Pemerintah Daerah untuk diproses lebih lanjut menjadi Peraturan Daerah Tentang RPJP Kabupaten Balangan. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN RPJP Kabupaten Balangan sebagai dokumen perencanaan pembangunan kabupaten untuk jangka waktu 20 tahun ke depan, ditetapkan dengan maksud untuk memberikan arah sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen daerah kabupaten (pemerintah, masyarakat dan dunia usaha), didalam mewujudkan cita- cita dan tujuan kabupaten sesuai dengan visi, misi, dan arah pembangunan yang telah disepakati bersama. Dengan demikian seluruh upaya yang dilakukan oleh

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kabupaten

Embed Size (px)

Text of BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kabupaten

  • BAB IPENDAHULUAN

    1.1. LATAR BELAKANG

    Kabupaten Balangan terbentuk secara resmi Sejak dikeluarkannya Undang-UndangNo. 2 Tahun 2003 tanggal 27 Januari 2003 bersamaan dengan terbentuknyaKabupaten Tanah Bumbu di Provinsi Kalimantan Selatan dimana keberadaannyatidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Disadari bahwadalam pelaksanaan pembangunan sekarang dan dimasa yang akan datangdihadapkan pada tantangan yang begitu besar. Menghadapi hal tersebut konseppembangunan harus benar-benar diselaraskan dengan mengakomodasikepentingan masyarakat yang sejalan dengan kegiatan pembangunan nasionalmaupun pembangunan daerah Provinsi Kalimantan Selatan.

    Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Balangan merupakandokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun.RPJP ini selanjutnya akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan RencanaPembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Balangan untuk setiap jangkawaktu 5 (lima) tahunan. RPJPD ini merupakan dokumen perencanaan yang bersifatmakro dengan cakupan meliputi kondisi umum daerah, visi, misi, dan arahpembangunan jangka panjang Kabupaten Balangan.

    Proses penyusunan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh unsurpelaku pembangunan yang dilaksanakan dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut:Pertama, penyiapan rancangan RPJP Kabupaten Balangan dimana kegiatan inidibutuhkan guna mendapat gambaran awal dari visi, misi, dan arah pambangunanKabupaten Balangan. Kedua, musyawarah perencanaan pembangunan(Musrenbang) jangka panjang Kabupaten Balangan dilaksanakan untuk mendapatmasukan dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders)terhadap RPJP Kabupaten Balangan. Ketiga, penyusunan rancangan akhir RPJPKabupaten Balangan dimana seluruh masukan dan komitmen hasil MusrenbangJangka Panjang Kabupaten Balangan menjadi masukan utama danpenyempurnaan rancangan RPJP Kabupaten Balangan, menjadi rancangan akhirRPJP Kabupaten Balangan. Keempat, penetapan Peraturan Daerah tentang RPJPKabupaten Balangan dibawah koordinasi Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerahyang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi hukum.Rancangan akhir RPJP Kabupaten Balangan beserta lampirannya disampaikankepada DPRD sebagai inisiatif Pemerintah Daerah untuk diproses lebih lanjutmenjadi Peraturan Daerah Tentang RPJP Kabupaten Balangan.

    1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

    RPJP Kabupaten Balangan sebagai dokumen perencanaan pembangunankabupaten untuk jangka waktu 20 tahun ke depan, ditetapkan dengan maksud untukmemberikan arah sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen daerahkabupaten (pemerintah, masyarakat dan dunia usaha), didalam mewujudkan cita-cita dan tujuan kabupaten sesuai dengan visi, misi, dan arah pembangunan yangtelah disepakati bersama. Dengan demikian seluruh upaya yang dilakukan oleh

  • Bab I Pendahuluan

    Rancangan RPJP Kabupaten Tahun Balangan 2005-20252

    masing-masing pelaku pembangunan diharapkan menjadi bersifat sinergis,koordinatif dan melengkapi satu dengan lainnya di dalam satu pola sikap dan polatindak.

    Tujuan dari disusunnya RPJP Kabupaten Balangan adalah untuk (a) mendukungkoordinasi pelaku pembangunan dalam mencapai visi daerah Kabupaten Balangan,(b) Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah, antarruang, antar waktu, antar fungsi, pemerintahan, maupun antar pusat dan daerah, (c)Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencana, penganggaran, pelaksana,dan pengawas, (d) Menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien,efektif, berkeadilan dan berkesinambungan, serta (e) mengoptimalkan partisifasimasyarakat.

    Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Balangan juga menjadi acuanbagi Kepala Daerah dalam membuat Visi dan Misinya yang implementasinya akandituangkan dalam Rencana Pembanguan Jangka Menengah (RPJM). RJPM inimerupakan arah pembangunan yang ingin dicapai dalam jangka lima tahun sesuaimasa bakti Kepala Daerah. Program dan kegiatan yang direncanakan dibuat sesuaidengan batas kewenangan dengan mempertimbangkan kemampuan kapasitaskeuangan daerah. Hal ini diterapkan agar terjadi kesinambungan dalampembangunan daerah yang tujuan akhirnya adalah terciptanya kesejahteraan rakyatyang adil dan merata seperti diamanatkan dalam UUD 1945, yang lebih khusus lagiterwujudnya kabupaten Balangan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

    1.3 LANDASAN HUKUM

    Landasan idiil dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) KabupatenBalangan adalah Pancasila dan landasan Konstitusional UUD 1945, sedangkanlandasan operasional adalah RPJP Nasional dan RPJP Provinsi Kalimantan Selatanserta seluruh ketentuan perundangan yang berkaitan langsung denganpembangunan daerah, yaitu:

    1. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia NomorVII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan.

    2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.3. Undang-undang Nomor 02 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten

    Balangan4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

    Pembangunan Nasional.6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

    antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah.8. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tahun 2005

    tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah

  • Bab I Pendahuluan

    Rancangan RPJP Kabupaten Tahun Balangan 2005-20253

    1.4 HUBUNGAN RPJP KABUPATEN BALANGAN DENGAN DOKUMENPERENCANAAN LAINNYA

    Seperti halnya kabupaten lain Kabupaten Balangan merupakan bagian integral dariProvinsi Kalimantan Selatan, sementara Provinsi Kalimantan Selatan adalah bagianintegral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan kegiatan pembangunanyang dilaksanakannya. Ini menuntut terciptanya keserasian dan kesinambunganpembangunan antar daerah kabupaten dalam propinsi, antara kabupaten-kabupaten dengan provinsi, antar provinsi dan antara provinsi-provinsi denganpembangunan pada tingkat nasional.

    Sesuai pula dengan UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem PerencanaanPembangunan Nasional (SPPN), penyusunan RPJP Kabupaten Balanganmengacu pada RPJP Provinsi Kalimantan Selatan yang dengan sendirinyamengacu pada RPJP Nasional. Pengacuan kepada rencana yang berada diatasnyaini justru dalam arti mengupayakan pengembangan diri secara optimal sesuaidengan potensi dan memampuan serta kebutuhan riil yang dimiliki oleh KabupatenBalangan sendiri. Hubungan dengan daerah lain dalam kerangka yang lebih luasmenjadi peluang bagi terbangunnya sinergi yang lebih mantap yang menjadikanseluruh kegiatan pembangunan berjalan lebih efisien dan efektif.

    1.5 SISTEMATIKA PENYUSUNAN

    Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Balangan Tahun 2005-2025ditulis dengan sistematika, sebagai berikut:

    BAB I PendahuluanBAB II Kondisi, Analisis, dan Prediksi Kondisi Umum Kabupaten BalanganBAB III Visi, Misi, dan Arah Pembangunan Kabupaten BalanganBAB IV Penutup

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-20254

    BAB IIKONDISI, ANALISIS DAN PREDIKSI KONDISI UMUM

    KABUPATEN BALANGAN

    2.1. KONDISI DAN ANALISIS2.1.1. GEOMORFOLOGI DAN LINGKUNGAN HIDUP

    KEADAAN WILAYAH Letak Geografis dan Batas Administrasi Wilayah

    Kabupaten Balangan terletak di bagian utara dari wilayah ProvinsiKalimantan Selatan, berada pada koordinat 114 50' 24" sampai 115 50'24" Bujur Timur serta 2 01' 37" hingga 2 35' 58" Lintang Selatan. Luaswilayahnya 1.878,30 Km2 atau sekitar 4,99 % dari luas wilayah ProvinsiKalimantan Selatan.

    Secara administratif, Kabupaten Balangan dengan ibukotanya Paringinberbatasan dengan Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Pasir ProvinsiKalimantan Timur di sebelah Utara, Kabupaten Pasir dan Kotabaru disebelah Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah di sebelah Selatan, danKabupaten Hulu Sungai Utara di sebelah Barat. Terbagi kedalam 8 wilayahkecamatan dan 152 desa, dimana kecamatan yang terluas adalahKecamatan Halong 659,84 Km2 (35,13 %), dan yang tersempit adalahKecamatan Lampihong 96,96 Km2 (5,16 %).

    Tabel .1. Luas Wilayah Kabupaten Balangan Menurut KecamatanTahun 2009

    No Kecamatan Luas Wilayah (Km2) Persentase

    1. Lampihong 96,96 5,162. Batu Mandi 147,96 7,883. Awayan 14,57 7,594. Paringin 100,04 5,335. Juai 386,88 20,596. Halong 659,84 35,137. Paringin Selatan 86,80 4,628. Tebing Tinggi 257,25 13,70

    JJumlah 1.878,30 100,00

    Sumber: BPS, Balangan dalam angka 2008

    Topografi atau MorfologiDitinjau dari Topografinya, bagian utara merupakan dataran tinggi danbergunung-gunung, dimana Pegunungan Meratus terbentang dari arahutara ke Selatan bagian timur. Menurut ketinggiannya Kabupaten Balangan

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-20255

    terbagi kedalam 5 kelas, yaitu antara 0 7 meter d.p.l.; 35,30 Km2 (1,88%), 7 25 meter 363,82 Km2 (19,37 %), 25 100 meter 720,84 Km2(38,38 %), 100 500 meter 588,82 Km2 (31,35 %) dan diatas 500 meter160,52 Km2 (9,03 %).

    Sungai Balangan, Sungai Pitap, dan Sungai Halong, ketiganya merupakansumberdaya air yang penting bagi penunjang kehidupan masyarakat, baiksebagai sumber air baku untuk diolah menjadi air bersih maupun untukmemenuhi kebutuhan pertanian.

    IklimIklim dan curah hujan di Kabupaten Balangan termasuk yang beriklimtropis, musim hujan berkisar antara bulan Oktober sampai dengan bulanApril dan musim kemarau atau panas berkisar pada bulan Mei sampaidengan September setiap tahunnya. Sedangkan Suhu di daerah KabupatenBalangan berkisar antara 23,2C sampai 31,7C. Curah hujan bulanannyasekitar 175 mm dengan kisaran antara 45 400 mm. Bulan-bulan basahterjadi sekitar Desember Januari, dan bulan-bulan kering sekitar Agustus- September. Menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson iklim KabupatenBalangan termasuk tipe B.

    Jenis TanahJenis tanah Podsolik merah kuning dengan bahan induk batuan endapanyang sifat tanahnya mudah tererosi dan umumnya miskin unsur Haramendominasi wilayah ini. Kemiringan lerengnya didominasi oleh lahandengan kemiringan rendah (0-5%), sisanya memiliki kemiringan sedang(15-40%) dan lebih dari 40%. Kedalaman efektif tanah rata-rata lebih dari90 cm, dan sebagian besar tanahnya bertekstur halus

    KONDISI SAMPAI SAAT INI Luas Kabupaten Balangan berdasarkan ketinggian tempat tersebar

    pada berbagai ketinggian yang berbeda. Kemampuan tanah berdasarkan kombinasi dan gabungan berbagai

    faktor seperti kelerengan, kedalaman efektif,tekstur, draenase danerosi pada berbagai tempat cukup variatif.

    Berdasarkan jenis tanahnya wilayah Kabupaten Balangan sesuai untukbudidaya tanaman pangan lahan kering, perkebunan dan kehutananberbasis agroforestri karena jenis tanahnya podsolik merah kuning.Untuk pertanian lahan basah hanya sebagian kecil dari wilayahKabupaten Balangan dengan jenis tanah aluvial dan organosolgleihumus. Akan tetapi jenis tanah podsolik merah kuning ini memilikisifat yang sangat rentan yaitu mudah tercuci, peka erosi, permiabilitasrendah dan agregat kurang stabil. Jenis tanah ini tingkat kesuburannyasangat tergantung pada jenis vegetasi yang menjadi penutupnya. Darisegi lingkungan maka penggunaan jenis tanah ini harus dengan sistemsiklus unsur hara tertutup. Pola yang sesuai untuk dikembangkanadalah agroforestri yaitu pola pengkombinasian tanaman pertaniandengan tanaman kehutanan.

    Berdasarkan kondisi geologi maka Kabupaten Balangan tersusun atasbeberapa formasi batuan. Berdasarkan kondisi geologis KabupatenBalangan kaya dengan berbagai sumberdaya alam mineral.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-20256

    Berdasarkan kesesuaian lahan dengan jenis tanaman yang akandikembangkan maka terdapat 18 sistem lahan dengan 5 tingkatkesesuaian yaitu sangat sesuai, cukup sesuai, kurang sesuai,tidaksesuai saat ini dan tidak sesuai permanen. Kesesuaian dikaitkandengan dapat atau tidaknya suatu jenis tanaman dikembangkan.

    Penggunaan tanah yang diusahakan terdiri dari perkebunan,kebunrakyat, ladang, kolam, pemukiman. Luas tanah yang belumdiusahakan merupakan modal dan potensi untuk usaha budidayapertanian dan kehutanan sedangkan yang sudah diusahakan dapatditingkatkan produktivitasnya.

    Pola wilayah tanah usaha (WTU) berdasarkan kondisi geomorfologi danlingkungan hidup yang ada terbagi menjadi 6 WTU yaitu WTU terbatasdengan ketinggian kurang 7 m dpl, permukaan tanah datar sampaisangat datar dan kadang-kadang terkena banjir , wilayah ini untukperikanan dan persawahan. WTU utama Ia,Ib dengan ketinggian 7-25m dpl, permukaan tanah datar sampai bergelombang ringan, sesuaiuntuk perikanan dan persawahan. WTU utama Ic pada ketinggian 25-100 m dpl, permukaan tanah bergelombang, sesuai untuk perkebunan,agroforestri,pertanian tanah kering dan sawah. WTU utama Id padaketinggian 100-500 m dpl, permukaan tanah bergelombang sampaiberbukit, sesuai untuk perkebunan,agroforestri dan pertanian tanahkering.WTU utama II 500-100 m dpl, keadaan permukaan tanahberbukit dan bergunung, dimanfaatkan sebagai kawasan lindung. WTUterbatas II, ketinggian lebih 1000 m dpl, peruntukan untuk kawasanlindung karena kelerengan lebih dari 40%.

    ANALISISProyeksi Peluang

    Berdasarkan kondisi geomorfologi dan lingkungan hidup makasebagian besar wilayah yang ada di Kabupaten Balangan sangatpotensial untuk pengembangan budidaya pertanian dalam arti luasdan pemanfaatan sumberdaya mineral.

    Masih banyak tanah yang belum dikelola dan dimanfaatkan secaraoptimal sehingga dengan introdusir teknologi berbasis lingkungantanah tersebut akan bermanfaat dan berfungsi optimal.

    Berdasarkan kondisi geomorfologi maka pengembangan agroforestrisangat signifikan dilaksanakan dimana pola ini merupakan kombinasiantara 3 sektor vital yaitu kehutanan, pertanian dan perikanan-peternakan. Dengan sistem ini keseimbangan produksi danlingkungan akan dapat tercapai dalam rangka kelestarianpembangunan dan ekologi.

    Proyeksi Ancaman Ketergantungan yang besar pada sumberdaya alam yang tidak dapat

    diperbaharui akan menimbulkan permasalahan lingkungan hidupyang serius dan akan merubah kondisi geomorfologi wilayah secarabertahap. Sehingga kelestarian pembangunan dan ekologi tidak akandapat terwujud.

    Pola penggunaan tanah dan pola pemanfaatan lahan yang tidakdidasarkan pada keadaan geomorfologi akan berpengaruh terhadap

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-20257

    stabilitas bentang lahan sehingga memicu permasalahan lingkunganhidup seperti terganggunya keseimbangan tata tanah, tata air dantata udara.

    Keberadaa sumberdaya mineral dalam bentuk bahan galian banyakyang berada pada posisi geomorfologi yang tidak sesuai berdasarkanketinggian tempat dan faktor kelerengan sehingga potensial akanmerubah bentuk bentang lahan yang ada.

    Jenis tanah podsolik merah kuning yang meliputi sebagian besarwilayah Kabupaten Balangan bersifat sangat rentan terhadappenurunan produktivitas berbagai komuditi tanaman budidaya.

    Proyeksi Permasalahan Ekses negatif dari pemanfaatan sumberdaya mineral, sumberdaya

    hutan dan sumberdaya air selama ini belum dapat ditangani secaraoptimal. Sementara Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dariketiga sumberdaya tersebut secara signifikan belum menunjukanhasil yang memuaskan untuk meningkatkan kesejahteraanmasyarakat Balangan secara merata.

    Orientasi kegiatan ekonomi pada sumberdaya pertanian danperkebunan belum dilakukan secara optimal dan belum mampumenciptakan komoditi primadona bagi Kabupaten Balangan sehinggaupaya untuk menjadikan Kabupaten Balangan sebagai pusatagribisnis belum terwujud.

    Sistem pemanfaatan tanah dan lahan berdasarkan kondisigeomorfologi belum dipahami secara komprehenshif oleh berbagaistakeholders untuk itu perlu ada koordinasi dan komitmen daerahdalam mengelolanya melalui kebijakan dan peraturan daerah.

    Proyeksi Keberhasilan Dengan kondisi geomorfologi yang ada telah menjadikan Kabupaten

    Balangan sebagai salah satu kabupaten yang kaya akan sumberdayaalam sehingga dapat menunjang pemasukan bagi daerah dalambentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang selanjutnya diharapkandapat mendorong percepatan pembangunan daerah.

    Adanya koordinasi dan komitmen daerah dalam mengelola danmenjaga peruntukan lahan sejalan dengan kesesuaiannya secarageomorfologis hendaknya dipertegas melalui kebijakan dan peraturandaerah yang ditegakkan secara konsisten.

    PREDIKSI KONDISI GEOMORFOLOGI Berdasarkan kondisi geomorfologi yang ada maka upaya untuk

    menjadikan Kabupaten Balangan untuk pengembangan agribisnissangat didukung oleh potensi geomorfologinya. Sehingga KabupatenBalangan akan memiliki struktur perekonomian yang kokoh dimanapertanian (dalam arti luas) sesuai untuk menjadi komditi utamanya.

    Perubahan orientasi pemanfaatan sumberdaya alam dari sumberdayaalam yang tidak dapat diperbaharui ke sumberdaya alam yang dapatdiperbaharui melalui terwujudnya pengelolaan dan pendayagunaansumber daya alam dan perlindungan fungsi lingkungan hidup secaraberkelanjutan, berkeadilan, dan berkeseimbangan dengan perolehan

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-20258

    nilai tambah yang optimal bagi kepentingan negara dan untuksebesar-besar kesejahteraan rakyat Indonesia khususnya yangbertempat tinggal di Kabupaten Balangan.

    Dengan berkembangnya agribisnis pertanian dalam arti luas baikdalam bentuk pertanian tanaman pangan,perkebunan,kehutananberbasis agroforestri, perikanan-peternakan maka ancamanperubahan kondisi bentang lahan pada geomorfologi wilayahKabupaten Balangan akan dapat teratasi.

    Sumberdaya mineral diperkirakan secara alamiah depositnyamenurun akan tetapi tetap diperlukan untuk menopangperekonomian daerah dengan sistem pemanfaatan yang tidaksemata eksploitatif, melainkan mengutamakan keseimbangan dankelestarian lingkungan.

    2.1.2 DEMOGRAFI

    KONDISI SAMPAI SAAT INI

    Selama 10 tahun, yaitu antara 1998 - 2007 penduduk Kabupaten Balanganmengalami peningkatan sebanyak 8.157 jiwa, atau mengalami pertumbuhan sekitar 0,87 % per tahun. Tahun 1998 jumlah penduduknyasebanyak 94.042 jiwa dan tahun 2007 menjadi 102.199 jiwa. Pertumbuhanpenduduk tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan denganpertumbuhan penduduk di Kalimantan Selatan yang sekitar 1,32 % pertahun. Pertambahan penduduk berdampak pada peningkatan jumlah rumahtangga, yaitu dari 26.117 KK pada tahun 2003 menjadi 28.882 KK padatahun 2007.

    Sebaran penduduk di Kabupaten Balangan tidak merata, dimana sebagianbesar penduduknya terkonsentrasi di ibu kota kabupaten dan ibu kotakecamatan. Data sebarannya (2007) adalah; Kecamatan Paringin 14.335jiwa (14,03 %), Halong 17.413 jiwa (17,04 %), Awayan 11.193 jiwa(10,95 %), Lampihong 14.594 jiwa (14,28 %), Batu Mandi 14.076 jiwa(13,77 %) , Juai 15.251 jiwa (14,92 %), Tebing Tinggi 5.483 jiwa (5,37 %)dan Paringin Selatan 9.854 jiwa (9,64 %).

    Kepadatan penduduk Kabupaten Balangan relatif masih jarang, sekitar 54jiwa per Km2. Kota Paringin sebagai ibukota Kabupaten Balangan,kepadatannya sekitar 143 jiwa per Km2. Kepadatan penduduk terendahterdapat di Kecamatan Halong yakni hanya 26 jiwa per Km2.

    Penduduk usia muda, yang berusia antara 0 14, tahun pada tahun 2007mencapai 29,42 %, turun dibanding 2003 yaitu 30,69 %. Penurunan itudipicu oleh turunnya laju pertumbuhan kelompok usia muda dibandingtahun-tahun sebelumnya. Sementara itu penduduk usia tua (65 keatas)turun dari 4,53 % (2003) menjadi 4,37 % (2007).

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-20259

    Tabel 2. Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten BalanganTahun 2003 dan 2007 (Jiwa dan %)

    Penduduk2003 2007

    Jumlah % Jumlah %

    Usia Muda (0-14) 29.836 30,69 30.070 29,42

    Usia Produktif (15-64) 62.974 64,78 67.658 66,25

    Usia Lanjut (65 +) 4.403 4,53 4.471 4,53

    Jumlah 97.213 100,00 102.199 100,00Sumber : BPS, Balangan dalam angka 2008

    Dari 102.199 jiwa penduduk Kabupaten Balangan tahun 2007, jumlah laki-laki 50.702 jiwa dan perempuan 51.497 jiwa, sehingga Sex Ratio pendudukKabupaten Balangan adalah sebesar 0,98.

    Tabel 3. Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten BalanganTahun 2003 dan 2007 (Jiwa)

    Kelompok UmurLaki-Laki Perempuan

    2003 2007 2003 2007

    Usia Muda (0 14) 16.002 14.959 16.167 15.111

    Usia Produktif (15 - 64) 30.001 34.120 30.640 33.538

    Usia Lanjut (65 +) 2.051 1.623 2.352 2.848

    Jumlah 48.054 50.702 49.159 51.497Sumber : BPS, Balangan dalam angka 2008

    Rasio ketergantungan penduduk (2007) relatif masih cukup tinggi yaitu49,84 atau hampir 50. Tapi jika dibandingkan dengan rasio tahun 2003yang sebesar 60,30, maka beban rasio ketergantungan telah mengalamipenurunan.

    PendidikanSalah satu faktor pendukung keberhasilan pembangunan adalah sumberdaya manusia (Human Resources) yang berkualitas. Jalur pendidikanmerupakan wadah untuk mendapatkan sumber daya manusia yangberkualitas, baik itu pendidikan formal maupun non formal. Peningkatansumber daya manusia sekarang ini lebih diutamakan dengan memberikankesempatan kepada masyarakat Balangan untuk menempuh pendidikanyang seluas- luasnya, terutama yang berusia 7 24 tahun ( penduduk usiasekolah).

    Secara umum pendidikan di Kabupaten Balangan dari tahun ke tahunmenunjukkan kemajuan. Pembangunan pendidikannya sudah mampu

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202510

    mewujudkan suasana belajar mengajar yang cukup kondusif. Pendidikandasar sudah menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang sebelumnyabelum memiliki sarana pendidikan yang memadai, seperti SD terpencil danSMP Terbuka.

    Angka partisipasi Kasar (APK) SD dan Madrasah Ibtidaiyah tahun 2004mencapai 113,11 %. Sedangkan Angka Partisipasi Murninya (APM) 113,23%.Pada tahun 2007 Sebanyak 13.782 orang murid SD dan 3.288 orangmurid Madrasah Ibtidaiyah belajar pada 159 buah SD dan 42 buahMadrasah, tetapi dari segi kebutuhan kelas masih kekurangan 92 ruanguntuk memenuhi proses belajar mengajar secara normal. Banyaknya guruSD 1.325 orang dengan kualifikasi yang layak mengajar 68,44 %, semilayak mengajar 18,66 % dan tidak layak mengajar 12,90 %. Sedangkanguru Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 420 orang dengan kualifikasi layakmengajar 68,27 %, semi layak mengajar 28,27 % dan tidak layak mengajar3,46 %.

    Dijenjang pendidikan SMP dan Madrasah Tsanawiyah Angka partisipasiKasar (APK) tahun 2004 mencapai 70,40 %. Sedangkan Angka PartisipasiMurninya (APM) 48,94 %. Jumlah murid SMP dan Madrasah Tsanawiyahtahun 2007; 4.333 orang, terdiri dari 1.836 orang murid SMP, 2.429 orangmurid Madrasah Tsanawiyah dan 68 orang murid SMP Terbuka. Banyaknyasarana pendidikan per kecamatan dapat dilihat pada lampiran 2.

    Guru SMP tercatat 177 orang dengan kualifikasi layak mengajar 63,41 %,semi layak mengajar 28,05 % dan tidak layak mengajar 8,54 %.Sedangkan guru Madrasah Tsanawiyah 201 orang dengan kualifikasi layakmengajar 37,81 %, semi layak mengajar 19,90 % dan tidak layak mengajar42,09 %.

    Dijenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA/MA dan SMK), Angkapartisipasi Kasar (APK) tahun 2004 mencapai 35,72 %. Sedangkan AngkaPartisipasi Murninya (APM) 19,26 %. Banyaknya murid SMA dan SMKtahun 2007; 1.268 orang, terdiri dari 858 orang murid SMA Negeri, 360orang murid SMK dan 50 orang murid SMA Swasta di Paringin. Banyaknyasekolah 7 buah, terdiri dari SMA Negeri 3 buah masing-masing di ParinginSelatan, Awayan dan Juai, SMK Negeri 2 buah (SPPN dan SMKN diParingin) dan 2 buah SMA Swasta di Paringin. Jumlah guru SMA Negeri 73orang dengan kualifikasi layak mengajar 82,00 %, semi layak mengajar16,00 % dan tidak layak mengajar 2,00 %. Sedangkan guru SMK sebanyak33 orang dengan kualifikasi layak mengajar 88,00 %, dan semi layakmengajar 12,00 %.

    Masih cukup tingginya angka mengulang dan putus sekolah mencerminkanrendahnya kualitas proses belajar mengajar dan optimalisasi pemberdayaansumberdaya pendidikan, pada akhirnya berpengaruh terhadap kemajuanpendidikan. Angka mengulang SD di Kabupaten Balangan tahun 2004 13,17% dan putus sekolah 0,43 %. Madrasyah Ibtidayah 2,08 % dan 1,79 %;SMP 0,92 % dan 2,07 %; Madrasyah Tsanawiyah 0,50 % dan 2,00 %.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202511

    Angka melanjutkan sekolah, SD/MI ke SMP/Madrasah Tsanawiyah sekitar76,25 %, dari SMP/Madrasah Tsanawiyah ke SMA/SMK sekitar 74,21 %.

    Kondisi tersebut mencerminkan permasalahan di bidang pendidikan,yang pemecahannya diarahkan pada 4 upaya pokok, yaitu :a. Pemerataan pendidikan, termasuk peningkatan perpustakaan

    sekolah, fasilitas olah raga, usaha kesehatan sekolah, pada semuajenjang pendidikan, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK.

    b. Peningkatan mutu, terutama diarahkan pada peningkatan kualitas dankompetensi guru (masih cukup banyak guru yang tidak layak mengajar).

    c. Relevansi, yang kurang didukung ketersediaan sarana dan prasaranapenunjang peningkatan keterampilan dasar, kesenian, bahasa Inggris,bahasa Indonesia dan Matematika.

    d. Efisiensi dan efektifitas, melalui optimalisasi pengelolaan sekolah,ruang kelas dan kelayakan guru.

    KesehatanIndikator kesehatan mencerminkan kondisi kesehatan perorangan,kelompok atau masyarakat. Indikator kesehatan tercermin dari dari 3indikator utama, yaitu angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibumelahirkan (AKI) dan usia harapan hidup (UHH) yang didukung olehperbaikan gizi dan lingkungan.a. Angka Kematian Bayi (AKB)

    Angka kematian bayi merupakan indikator yang paling peka dalammenggambarkan ketersediaan, penggunaan dan efektifitas pelayanankesehatan. Angka Kematian Bayi di Kabupaten Balangan pada tahun2004 sebesar 52,40 per 1000 kelahiran, lebih baik dari pada kondisirata-rata Kalimantan Selatan, yaitu 52,90 per 1000 kelahiran.

    b. Angka Kematian Ibu (AKI)Angka Kematian Ibu merupakan gambaran keadaan sosial ekonomisecara umum, keadaan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatanlingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil, ibumelahirkan dan ibu nifas. Angka Kematian Ibu berdasarkan data yangada menunjukkan adanya kemunduran. Jika tahun 2003 AKI masih101,84 per 100.000 kelahiran hidup, maka pada tahun 2004 menjadi102,35 per 100.000 kelahiran hidup.

    c. Usia Harapan Hidup (UHH)Usia harapan hidup waktu lahir menunjukkan rata-rata tahun hidup yangakan dijalani oleh seseorang dari mulai melahirkan. Usia Harapan HidupWaktu Lahir dapat dipandang sebagai suatu bentuk akhir dari suatuupaya peningkatan terhadap kesehatan secara keseluruhan. UsiaHarapan Hidup penduduk Kabupaten Balangan semakin menunjukkanpeningkatan, yang mana pada tahun 2003 UHH penduduk hanya 63,1tahun, sedangkan pada tahun 2004 menjadi 63,7 tahun. Meskipunterjadi peningkatan UHH pada penduduk Kabupaten Balangan padatahun 2003 2004 apabila dibandingkan dengan UHH rata-rata ProvinsiKalimantan Selatan yang 67,9 tahun maka UHH Kabupaten Balanganmasih kalah jauh.

    d. Tenaga Kesehatan dan Sarana KesehatanTenaga Kesehatan merupakan sumberdaya utama dalam upayapeningkatan mutu pelayanan kesehatan yang lebih baik dan terjangkau.Adapun rasio tenaga kesehatan (per 100.000 penduduk) pada tahun

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202512

    2004 dokter umum sebanyak 12 orang dengan rasio 1 : 8.100 kemudianpada tahun 2007 naik menjadi 17 orang dengan rasio menjadi makinbaik yaitu menjadi 1 : 6.000, dokter gigi sebanyak 3 orang dengan rasio1 : 32.500 (2004) kemudian pada tahun 2007 rasionya naik menjadi1:34.000, bidan 82 orang dengan rasio 1 : 1.200 (2004) kemudian 2007berjumlah 103 orang dengan rasio 1 ; 990, dan perawat 53 orangdengan rasio 1 : 1.700 (2004) dan pada tahun 2007 menjadi 88 orangdengan rasio 1 : 1.160.

    Penyediaan sarana kesehatan merupakan kebutuhan pokok dalam upayapeningkatan derajat kesehatan masyarakat yang menjadi salah satuperhatian utama pembangunan di bidang kesehatan. Jumlah Puskesmaspada tahun 2004 sebanyak 8 buah meningkat menjadi 10 buah (2007),Puskesmas Pembantu pada tahun 2004 sebanyak 23 buah meningkatmenjadi 27 buah (2007) dan Polindes pada tahun 2004 sebanyak 108buah turun menjadi 64 buah (2007).

    Berdasarkan aspek kuantitas, pertumbuhan penduduk KabupatenBalangan relatif lebih ringan bebannya dalam menghadapi desakanjumlah penduduk.

    Menurut struktur umurnya, terlihat perkembangan yang baik dimanajumlah usia produktif dan usia tua meningkat. Hal ini menunjukkanrasio ketergantungan berkurang dan kesehatan yang baik telahmeningkatkan usia harapan hidup. Namun dari segi tingkat kelahiranmasih tinggi karena golongan umur muda dan balita masih terlihattinggi.

    Kepadatan penduduk antar kecamatan cukup variatif Jumlah penduduk (kepala keluarga) prasejahtera pada tahun 2004

    sebesar 2.018 kk kemudian pada tahun 2007 naik menjadi 2.346 kk,sejahtera I turun dari 9.450 kk (2004) menjadi 9.161 kk, sejahtera IIturun dari 13.801 kk (2004), menjadi 13.593 kk, sejahtera III naikdari 3.089 kk (2004) menjadi 5.003 kk (2007) dan sejahtera plusnaik dari 271 kk (2004) menjadi 454 kk (2007). Jadi terlihat adapenurunan tingkat kemiskinan.

    Angka pengangguran terbuka yang merupakan perbandingan antarajumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja, menurut hasilSakernas pada tahun 2007 angka pengangguran terbuka berjumlah3,86% dari jumla angkatan kerja.

    Berdasarkan aspek kualitas dilihat dari perkembangan indikatorIndeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Balanganmenunjukkan perbaikan. Akan tetapi peningkatan ini masih jauh dariharapan yang diinginkan, karena Nilai Indeks Pembangunan Manusiamasih dibawah rata-rata nasional yang sebesar 65,8, sementara IPMrata-rata Nasional masih jauh tertinggal dibandingkan dengannegara-negara tetangga. Dengan demikian kondisi kualitas SDMKabupaten Balangan masih tertinggal apabila kita akan masuk padalingkungan global.

    Pada aspek kesehatan, dilihat dari perkembangan angka tiapindikator memang menunjukkan peningkatan, tetapi peningkatantersebut masih berada dibawah rata-rata nasional, seperti indikator

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202513

    angka harapan hidup, angka kematian bayi, angka kurang gizi padabalita, disparitas status kesehatan antar wilayah.

    Pada aspek pendidikan, dilihat dari perkembangan angka tiapindikator memang juga menunjukkan peningkatan, tetapipeningkatan tersebut masih dibawah rata-rata nasional, sepertiindikator angka partisipasi kasar, angka partisipasi murni, jumlahpenduduk yang buta huruf, disparitas status pendidikan antarwilayah.

    Capaian tingkat pendidikan tertinggi di Balangan juga masih rendah Faktor lain yang menentukan pembangunan manusia adalah tingkat

    pengeluaran riil per kapita. Pada aspek budaya, daerah ini relatif sudah mengalamai kemajuan,

    yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhdap keragamanbudaya, pentingnya toleransi, dan mulai berkembangnya interaksiantar budaya. Pada sisi lain dirasakan nilai-nilai solidaritas dankekeluargaan semakin memudar karena belum optimalnyaketeladanan para pemimpin, lemahnya budaya patuh hukum danlemahnya penegakkan hukum serta disiplin yang rendah.

    Pada aspek kehidupan beragama, dirasakan berkembang denganbaik, dilihat dari aspek fisik maupun non fisik, seperti makinmaraknya pembangunan tempat ibadah, kelompok-kelompokpengajian serta besarnya minat masyarakat untuk menjalankanibadah haji dan toleransi antar umat beragama yang semakin baik,namun peningkatan kesadaran tersebut belum sepenuhnyamenjamin kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YangMaha Esa. Demikian juga ajaran agama mengenai etos kerja danpesan-pesan moral agama belum sepenuhnya dapat diwujudkandalam kehidupan sehari-hari.

    Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak menunjukkanpeningkatan yang tercermin dari semakin mambaiknya kualitas hidupperempuan dan anak. Partisipasi pemuda dalam pembangunan yangsemakin membaik seiring dengan budaya olah raga yang makinmeluas dikalangan masyarakat. Tingkat kesejahteraan sosialmasyarakat cukup memadai melalui berbagai upaya pemberdayaan,pelayanan, rehabilitasi dan perlindungan sosial bagi masyarakat yangrentan masalah social termasuk bagi penyandang masalahkesejahteraan sosial (PMKS). Meskipun demikian, kualitas hidup danperan perempuan terutama dibidang pendidikan, kesehatan, ekonomidan politik masih rendah.

    Masyarakatnya taat dan kuat dalam menjalankan ajaran agama yangdianutnya, memegang teguh adat istiadat, terbuka terhadapperadaban dan pembaharuan, tinggi sifat kekeluargaan dan gotong-royong serta tinggi partisipasinya dalam setiap kegiatanpembangunan.

    ANALISISProyeksi Peluang

    Interaksi yang lebih intens dengan dunia yang lebih luas baik regionalmaupun internasional tidak hanya memaparkan tantangan tetapi juga

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202514

    peluang seperti terbukanya akses ke sumber-sumber baru yangmungkin lebih baik dan lebih murah dimana sebelumnya tidak ada.Termasuk dalam hal ini berbagai hasil informasi dan teknologi yangmenjadi sumber bagi pembangunan kesehatan, pendidikan, ekonomi,budaya, dan spiritual.

    Proyeksi Ancaman Dalam dua dasa warsa kedepan kehidupan sosial masyarakat

    Balangan akan menghadapi era keterbukaan yang lebih luas. Eraglobalisasi makin kental dengan berbagai dampak yang dibawanyaseperti budaya dan gaya hidup yang tidak cocok dengan akar budayamasyarakat yang kalau tidak disikapi dengan tepat bisamenyebabkan culture shock.

    Kualitas yang rendah seperti ditunjukkan Indeks PembangunanManusia (IPM) Kabupaten Balangan menunjukkan gambaran bebanyang semakin berat dalam menghadapi persaingan pasar bebas. Jikaperbaikan tidak segera dilakukan, masyarakat Balangan bisamenjadi masyarakat tertinggal yang tidak bisa berperan aktif dalamaktifitas pembangunan dimasa depan.

    Proyeksi Permasalahan Dari komposisi demografi Balangan sudah merasakan sedikit jebakan

    demografis sebagai dampak lain dari menigkatnya mutu kesehatandalam bentuk menurunnya kematian bayi dan balita dibarengidengan meningkatnya tingkat harapan hidup. Hal ini patut menjadiperhatian agar tingkat kelahiran dapat direncanakan dengan tepat,ditingkatkannya penyediaan sarana dan prasarana sekolah yangbermutu, dan penyediaan lapangan kerja yang mencukupi.

    Meski angka pengangguran terbuka relatif rendah akan tetapiterdapat kecendrungan untuk meningkat terutama akibat dampakkrisis moneter dan perubahan harga-harga yang terjadi dalam tigatahun terkhir yang mengakibatkan korporasi perlu mengkalkulasiulang struktur ongkos produksi perusahaan.

    Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Balanganadalah salah satu hal yang perlu mendapat perhatian ditengahberkembang baiknya indikator-indikator lain. Hal tersebut palingdipengaruhi oleh rendahnya pengeluaran riil per kapita. Selain itutingkat harapan hidup dan melek huruf pun cukup rendah dan harusmendapat perhatian.

    Meski terus membaik, indikator kesehatan seperti angka harapanhidup, angka kematian bayi, angka kurang gizi pada balita, disparitasstatus kesehatan antar wilayah di Balangan masih rendah dan lebihrendah dari sebagian besar daerah lain di Kalsel.

    Pada aspek pendidikan, indikator melek huruf, enrollment sertacapaian tingkat pendidikan tertinggi di Balangan juga masih rendahyakni karena yang paling dominan hanya tamat SD. Hal ini harussegera ditingkatkan secara konsisten karena menyangkut mutu SDMyang urgent dalam menjalankan pembangunan. Sementarapenyediaan lapangan kerja untuk klasifikasi pendidikan relatif tinggi

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202515

    masih perlu ditingkatkan karena untuk kategori ini tingkatpengangguran relatif masih tinggi.

    Fakta bahwa tingkat pengeluaran riil perkapita nilainya masih rendahmenggambarkan bahwa tingkat hidup masyarakat masih belum jauhdari tingkat rendah (subsistens). Oleh karena itu usahameningkatkan pendapatan melalui peningkatan produksi danpemerataan yakni dengan terus memperbaiki koefisien gini yangdicapai menjadi mutlak.

    Proyeksi Keberhasilan Dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif terkendali.

    Kabupaten Balangan relatif lebih ringan bebannya dalam menghadapidesakan jumlah penduduk. Hal ini memberi kesempatan luas bagidaerah untuk menata pembangunannya dalam upayamengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada secara efisiendan efektif.

    Angka pengangguran terbuka yang selama ini dapat dikendalikansehingga relatif paling rendah di Kalimantan Selatan dapat menjadilandasan yang kuat bagi terciptanya tingkat produktifitas danproduksi yang tinggi dalam ekonomi. Hal terakhir menjadi sangatpenting terutama dalam menghadapi perkembangan dalam dua dasawarsa kedepan.

    Dengan komitmen yang kuat dari seluruh unsur masyarakat danperangkat pemerintah mendukung peningkatan mutu SDM makakerjasama yang terpadu dan sinergis dari aspek kesehatan,pendidikan, dan kesejahteraan menjadi kunci keberhasilan bagipembangunan bidang kependudukan Kabupaten Balangan.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202516

    PREDIKSI KONDISI DEMOGRAFI

    Jumlah penduduk Balangan dengan dua puluh tahun kedepan akantumbuh

    Dari segi kualitasnya berdasarkan indikator IPM yang merupakankomposit indikator kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraanekonomi, Balangan diharapkan dapat bertransformasi dari klasifikasirendah saat ini menjadi memiliki SDM berkualitas tinggi.

    Keadaan ini dibarengi dengan menurunnya jumlah penganggur danjumlah penduduk miskin. Hal ini karena berjalannya mekanismeredistribusi pendapatan yang efektif dengan pemerataan akseskepada sumber ekonomi secara adil sehingga mampu menurunkantingkat kesenjangan. Angka gini coefficent pun secara konsisten terusmenurun menggambarkan pemerataan yang lebih baik ini.

    Laju pertumbuhan penduduk relatif terkendali. Hal ini dicapai denganadanya partisipasi aktif masyarakat merencanakan keluarga secaramatang sehingga tingkat kelahiran menurun, kematian bayi danbalita menurun, dan tingkat harapan hidup meningkat.

    Dari aspek tigkat pendidikan, SDM meningkat rata-ratapendidikannya ditandai dengan rata-rata tingkat enrollment yangsejak 2015 sudah mencapai 12 tahun yakni rata-rata telahmenamatkan SLTA karena jika dibawah itu niscaya tidak bisabersaing. Seperti sekarang ini yang dominan adalah pendudukdengan tingkat pendidikan tertinggi masih SD. Sementara tingkatmelek huruf juga telah dicapai sebesar 100% pada 2010 denganmelalui program wajib belajar dan Kejar Paket A dan B yangmenyeluruh.

    Pembinaan pendidikan selain melalui pendidikan formal yang lebihdiarahkan pada kemampuan teknis menengah dan akademis yanglebih tinggi guna mengantisifasi kebutuhan pemenuhan sumber dayalokal dalam mendorong perekonomian, juga dilakukan denganmelalui pendidikan informal dan wadah pembinaan swadayamasyarakat yang berfokus pada peningkatan skills (teknis, jasa,bahasa, dan lain-lain) serta mental spiritual keagaaman yang aktifdan terlindungi.

    Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak semamin nampakhasilnya melalui semakin baiknya kualitas hidup perempuan dananak. Partisipasi pemuda dalam pembangunan yang semakinmembaik seiring dengan budaya olah raga yang makin meluasdikalangan masyarakat. Tingkat kesejahteraan social masyarakatsudah memadai melalui berbagai upaya pemberdayaan, pelayanan,rehabilitasi dan perlindungan sosial sehingga Balangan bebas darimasyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

    Kualitas hidup dan peran perempuan terutama dibidang pendidikan,kesehatan, ekonomi dan politik makin seimbang guna membawaaspirasinya ketengah masyarakat tanpa melupakan peran utamawanita sebagai pengurus rumah tangga dan tiang negara lewatpendidikan yang baik yang diberikannya kepada anak-anaknya.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202517

    2.1.3. EKONOMI DAN SUMBER DAYA ALAM

    2.1.3.1. MAKRO EKONOMI

    KONDISI SAMPAI SAAT INISecara makro, Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten BalanganMenurut PDRB Kabupaten Balangan (atas dasar harga konstan) antaratahun 2005 2007 perekonomian Kabupaten Balangan (termasuk minyakdan pertambangan) menunjukkan pertumbuhan rata-rata 4,56% per tahun.Sedangkan jika tanpa minyak bumi dan pertambangan, pertumbuhannyasekitar 6,45% per tahun. Beda pertumbuhan itu menunjukkan besarnyaandil pertambangan ( rata-rata sekitar 66,04%) terhadap perekonomiansecara keseluruhan. Kondisi ini perlu diwaspadai, sebab pertambangan,khususnya batubara sangat rentan terhadap gejolak ekonomi danmerupakan komoditas yang non-renewable. Secara bertahap KabupatenBalangan perlu memperbaiki struktur ekonominya dengan mendorongpertumbuhan sektor-sektor lainnya, khususnya pertanian yang bersifatrenewable.

    Tanpa pertambangan, sektor pertanian merupakan sektor andalan ekonomirakyat dan kontribusinya terhadap PDRB tahun 2007 sekitar 60,35%dengan bagian terbesar berasal dari sub sektor pangan, yaitu sekitarRp.206,5 milyar (31,06 %). Nilai ini meningkat dibanding tahun 2005sekitar Rp. 168,8 milyar dan 2006 sekitar Rp. 181,9 milyar.

    Tabel 4. Struktur Ekonomi Kabupaten Balangan Tahun 2005 - 2007 (%)(Dengan pertambangan dan minyak bumi)

    No Sektor 2005 2006 2007

    1 Pertanian 20,31 20,43 21,412 Pertambangan dan Penggalian 67,19 66,28 64,643 Industri Pengolahan 0,20 0,25 0,274 Listrik & Air Bersih 0,09 0,08 0,125 Bangunan 1,46 1,55 1,916 Perdagangan, Rest dan Hotel 3,36 4,12 4,117 Pengangkutandan Komunikasi 2,07 1,93 1,818 Keu, Persewaan & Jasa Perush 1,00 0,97 0,969 Jasa-jasa 4,32 4,93 4,76

    Total PDRB 100,00 100,00 100,00

    Sub sektor lainnya yang memberikan kontribusi cukup besar terhadapsektor pertanian adalah sub sektor perkebunan, yakni sekitar Rp. 122,8

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202518

    milyar pada tahun 2007 (6,55 %) dengan komoditi andalannya karet,kelapa sawit dan pisang.

    Meskipun dalam usia yang relatif masih muda, Kabupaten Balanganmenunjukkan keberhasilannya menata sendi-sendi kehidupan ekonomikerakyatan. Kegiatan pertanian pangan, perkebunan, peternakan danperikanan terus berkembang, didukung usaha mikro, kecil dan menengahyang semuanya itu merupakan sendi-sendi pokok pembangunan ekonomikerakyatan.

    Atas dasar harga berlaku (tanpa pertambangan) perekonomian KabupatenBalangan tahun 2005 mampu menghasilkan PDRB hampir Rp. 504,9 milyar.Tahun 2006 mencapai Rp. 585,8 milyar dan tahun 2007 mencapai Rp.664,7 milyar.Jika dimasukan sektor pertambangan pada tahun 2005 PDRBKabupaten Balangan pada tahun 2005 mencapai Rp 1.534,4 milyar danterus naik menjadi Rp 1.732,1 milyar pada tahun 2006 dan menjadi Rp1.874,1 milyar pada tahun 2007.

    Selanjutnya selama 2005 - 2007 semua sektor ekonomi menunjukkanpertumbuhan positif. Sektor yang pertumbuhannya relatif tinggi adalahsektor bangunan (rata-rata sekitar 15,91 %); sektor industri pengolahan (14,42% ) sektor listrik dan air minum ( 13,66%) dan perdagangan, hotel &restoran (10,36% ), sedang sektor-sektor lainnya kurang dari 5 %.

    Atas dasar harga berlaku, PDRB per kapita Kabupaten Balangan tanpapertambangan dan minyak bumi tahun 2005 mencapai Rp. 5,1 juta. Nilaitersebut naik menjadi Rp 5,7 juta (2006) dan naik lagi menjadi Rp 6,5 juta(2007). Jika dimasukkan sektor pertambangan maka PDRB per kapita padatahun 2005 mencapai Rp 15,6 juta dan terus naik menjadi Rp 17,3 juta(2006) dan naik menjadi Rp 18,4 juta (2007) Apabila dibandingkan denganProvinsi Kalimantan Selatan nilai tersebut lebih tinggi.

    Dalam kerangka struktur pekonomian Provinsi Kalimantan Selatanterlihat bahwa pekonomian daerah Kabupaten Balangan tumbuh lebihpesat dari pada pertumbuhan provinsi, terutama sekali disebabkanmenonjolnya sektor pertambangan dan penggalian, industripengolahan, perdagangan-hotel-dan restoran, dan jasa keuangan. Inimenunjukan peranan perekonomian Balangan mengarah semakintinggi dalam skala perekonomian provinsi.

    Perekonomian Balangan memiliki konsentrasi yang tinggi padasektor-sektor yang pertumbuhannya cepat di Kalimantan Selatanseperti pertanian, pertambangan dan penggalian, listrik-gas & air,bangunan, dan jasa-jasa lain. Oleh karenanya Balangan potensialmenjadi pusat pengembangan sektor tersebut, seperti pertanian,bagi Provinsi Kalimantan Selatan.

    Sektor pertambangan dan penggalian, industri pengolahan,perdagangan-hotel-dan restoran, dan jasa keuangan ternyatamemiliki daya kompetisi yang baik dalam perekonomian KalimantanSelatan karena sektor-sektor ini tumbuh menonjol dibandingpertumbuhannya di Kalimantan Selatan keseluruhan. Karenanyasektor-sektor inilah yang secara struktural saat ini dapat dianggapmenjadi sektor-sektor unggulan. Namun dengan melihat potensi

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202519

    kedepan dan untuk mencapai peningkatan kesempatan kerja danpemerataan yang lebih baik maka pengembangan sektor Pertaniandalam kerangka Agribisnis adalah pilihan paling baik.

    ANALISISProyeksi Peluang

    Balangan dapat dikatakan sangat kaya akan potensi sumber dayayang dapat dikembangkan bagi peningkatan taraf ekonomi, mulaidari sumber daya dan kekayaan air (perikanan), pertanian tanamanpangan, perkebuan, kehutanan, sampai kepada pertambangan dangalian sebagai sumber energi. Balangan seperti sebuah miniaturIndonesia dengan alamnya yang lengkap dari perbukitan danpegunungan sampai ke dataran rendah yang berawa sehinggabelajar dari pengalaman krisis di Indonesia, perlu kecermatan dalammemanfaatan segala potensi yang ada.

    Melalui ketersediaan sarana prasarana infrastruktur jalan,listrik/energi, dan air yang ada sekarang serta disertai ketersediaaninformasi termasuk lewat sarana world wide web (internet)merupakan faktor yang kondusif dalam mendorong kegiataninvestasi. Apalagi memiliki sumber daya energi yang dapatmendukung Kabupaten Balangan yang diproyeksikan menjadi pusatpembangkit tenaga listrik di wilayah Utara Kalimantan Selatan yangdapat melayani Banua Enam dan daerah Lintas Provinsi.

    Pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah memberikan keleluasaan kewenangan kepadadaerah Kabupaten Balangan untuk menentukan sendiri dan memilihproyek eksploitasi sumber daya, misalnya pertambangan, yang amandari ekses buruk terhadap lingkungan

    Adanya globalisasi yang membuka peluang usaha dalam kemitraanmaupun kesempatan pemasaran lebih luas seudah tentu jugamemberikan kesempatan bagi Balangan mengambil manfaatsebesar-besarnya.

    Adanya komitmen untuk mengembangkan agribinis dengan polaaspiratif masyarakat melalui kemitraan dapat menjadi landasan yangkokoh bagi tumbuhnya sistem ekonomi berbasis kerkayatan yangsecara langsung menciptakan sumber pendapatan yang bermanfaatuntuk meningkatkan kesejahteraan.

    Proyeksi Ancaman Menjadi ancaman nyata di masa depan adalah dampak globalisasi

    dan pasar bebas yang membawa keterbukaan arus keluar masukmodal, komoditas, dan tenaga kerja baik inter-regional maupuninternasional. Jika Balangan kalah dalam hal kualitas dan daya saingniscaya akan tenggelam dan kalah bersaing dari arus masuk sumber-sumber yang datang dari luar ke pasar lokal apalagi untuk bersaingdipasar inter-regional maupun internasional.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202520

    Masih dominannya ketergantungan ekonomi pada sektorpertambangan sementara produktifitasnya cenderung semakinmenurun disamping cadangannya akan terus menipis jugadampaknya yang sangat signifikan dalam merusak tata cadangan airdan keseimbangan lingkungan.

    Situasi politik, sosial, dan keamanan saat ini yang masih belumbenar-benar stabil secara masional sedikit banyak berpengaruhterhadap indikator-indikator penentu kegiatan ekonomi sepertitingkat inflasi dan investasi.

    Karena agribisnis merupakan sektor yang baru diunggulkan, terbukakemungkinan masih rendahnya ketersediaan SDM baik dariperangkat pemerintahan maupun para pelaku di dunia usaha.Demikian pula dalam hal pemanfaatan teknologi tepat guna jugamsih belum optimal. Sementara struktur dan infrastruktur terpasangyang mendukung langsung pengembangannya harus segera disiapkan.

    Proyeksi Permasalahan Pengaruh krisis ekonomi bagi pertumbuhan PDRB masih begitu

    terasa sehingga secara struktural perekonomian Balangan harusmelakukan penyesuaian-penyesuaian agar proses recovery dapatberjalan lancar.

    Masih dominannya ketergantungan ekonomi pada sektorpertambangan menjadikan Balangan perlu segera membenahipembangunan supaya terdapat percepatan pertumbuhan di sektorlainnya terutama agribisnis yang dimasa depan lebih prospektif danbersinambungan.

    Proyeksi Keberhasilan Sebagaimana komitmen arah pembangunan masa depan yang

    bertumpu pada agribisnis didukung oleh lokasi strategis Balanganmaka secara sinergis potensi fisik dan tekad daerah tersebut sangatmendukung kemajuan.

    Di Kabupaten Balangan sudah terdapat lembaga-lembaga penunjangperekonomian berupa lembaga keuangan dan koperasi yang terdiriatas Bank Pemerintah, BPR, BMT, USP, LPK, dan Koperasi baik KUDmaupun Non KUD yang dapat diberdayakan secara optimal untukmendukung pemerataan akses kepada sumber pembiayaan bagiberjalannya produksi di sektor riil.

    Sumber daya agribisnis yang siap didayagunakan untukpembangunan ekonomi daerah adalah, meliputi lahan, air, beragamhayati, sumber daya manusia dibidang agribisnis, teknologi di bidangagribisnis, dan lain-lain. Melalui proses modernisasi teknologi danmanajerial agribisnis akan secara langsung memodernisasiperekonomian daerah dan dapat memecahkan sebagian besarpersoalan ekonomi di Kabupaten Balangan.

    Untuk mewujudkan hal itu perlu adanya penelaahan kembali secarateliti untuk mengidentifikasi komoditas ataupun produk yang benar-

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202521

    benar dapat diunggulkan dari Kabupaten Balangan baik secarakomparatif maupun kompetitif sehingga nantinya benar-benar dapatbersaing dan menonjol di pasar lokal, regional dan global yangsemakin terbuka.

    Sarana informasi dan promosi potensi yang ada perlu lebihdioptimalkan fungsinya sejalan dengan upaya peningkatanketersediaan sarana dan prasarana sebagai fasilitas pendukungdalam menunjang kegiatan pembangunan secara terintegrasi dalamProvinsi Kalsel khususnya di Kabupaten Balangan.

    Pemanfaatan kerjasama strategis antar wilayah perlu terusdikembangkan agar terjalin kerjasama yang kuat dan salingmenunjang bagi pemanfaatan sumber-sumber daya dan kesatuanlangkah dalam pemanfaatan peluang secara optimal.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202522

    PREDIKSI KONDISI MAKRO EKONOMI Berdasarkan kecendrungan perkembangan nilai PDRB yang telah

    dicapainya maka Kabupaten Balangan pada dua dekade ke depan akanmencapai tingkat PDRB tanpa minyak bumi dengan pertumbuhan rata-rata yang cukup tinggi per tahun.

    Hal tersebut mengakibatkan pendapatan perkapita masyarakatBalangan naik dan diharapkan dapat mengurangi jumlah pendudukmiskin.

    Laju pertumbuhan ekonomi yang diperlukan untuk mencapai tingkatini adalah sebesar rata-rata 6,5%.

    Sektor-sektor ekonomi akan tumbuh dengan stabil ditandai dengansemakin kuatnya perananan subsektor kluster agroindustri (secarabersama-sama pertanian-agroindustri-perdagangan) ditengah makinmenurunnya peranan sektor pertambangan dan galian yang secaraalamiah depositnya diperkirakan akan terus menurun. Sektor yangdapat meningkat juga adalah listrik, gas, dan air dalam hal ini akandidirikan sejalan dengan akan didirikannya pusat pembangkit listrikenaga uap dengan tujuan untuk dapat memanfaatkan sumber dayabatu bara dengan cermat dan efisien.

    Aktifnya unit-unit kegiatan ekonomi masyarakat yang bertumbuhmemberikan kontribusi yang signifikan bagi total produksi Balanganserta menjadi mitra yang tangguh bagi unit-unit ekonomi berskalabesar.

    Melalui pola seperti inilah terlahir komoditas dan produk unggulanyang mampu bersaing di pasar lokal, regional, maupun global.

    Terjaminnya pemenuhan kebutuhan pokok dan energi yang cukupmelalui berjalannya kebijakan yang tepat. Hal ini penting disampingsebagai landasan bagi tercapainya tingkat kesejahteraan yang adil danmerata juga memberikan ruang geerak yang kondusif bagi masyarakatuntuk aktif berusaha.

    Bergeraknya taraf ekonomi ketingkat yang lebih tinggi secara pastidiikuti oleh berkembangnya mentalitas masyarakat yang telah menjadilebih produktif mengakibatkan volume tabungan yang dapatdisalurkan kedalam bentuk investasi berkembang pesat dan kegiataninvestasi secara berkesinambungan menimbulkan akselerasi danmengembangkan volume ekonomi.

    Balangan dapat menyerap manfaat sebesar-besarnya keterbukaanekonomi seperti dengan mendapatkan sumber-sumber daya danteknologi yang murah dengan tanpa merusak struktur ekonomi yangberakar dimasyarakat dan kemandiriannya dalam mengolah potensi-potensi lokal.

    Pada arah yang lain produk dan komoditas hasil produksi Balangandapat melalkukan pentrasi pasar seluas-luasnya ditunjang sengansistem informasi pasar yang sudah terbangun dan berfungsi denganbaik serta tersedanya infrastruktur yang mantap dan mencukupi.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202523

    2.1.3.2. PERTANIAN

    Agenda dan Prioritas Pembangunan Nasional sejak tahun 2005 yang lalumenetapkan Revitalisasi Pertanian sebagai salah satu prioritasPembangunan bidang Ekonomi. Revitalisasi Pertanian diarahkan untukmeningkatkan kesejahteraan sebagian besar rakyat dan meletakkanlandasan yang kokoh bagi pembangunan ekonomi. Konsep tersebutmerupakan komitmen politik yang harus didukung dan dijabarkan lebihlanjut operasionalnya oleh semua instansi yang terkait dengan pertanian.

    Pembangunan pertanian secara umum di Kabupaten Balangan merupakanbagian integral dari pembangunan nasional yang dilaksanakan melaluiotonomi daerah dan pengaturan sumberdaya, yang memberikankesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah yangberdayaguna dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelayananmasyarakat, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerahsecara merata dan berkeadilan.

    Sektor Pertanian Kabupaten Balangan masih merupakan sektor yangdiandalkan dilihat dari kontribusinya terhadap total PDRB dan penyerapantenaga kerja.

    Pembangunan pertanian dan perkebunan yang dilaksanakan secarabertahap dan berkesinambungan telah menunjukkan keberhasilan yangcukup menggembirakan. Keberhasilan tersebut antara lain dalampeningkatan produksi dan pendapatan, tambahan kesempatan kerja sertadalam mendukung sektor industri dan ekspor.

    Dari sisi penyediaan lapangan pekerjaan, pada tahun 2000 sektorpertanian menampung 57.713 pekerja atau 64,9% dari total pendudukberusia di atas 15 tahun yang bekerja. Banyaknya jumlah pekerja sektorpertanian disebabkan karena sektor ini dapat menampung tenaga kerjatanpa memandang umur, jenis kelamin dan jenjang pendidikan.

    Searah dengan rumusan RPJM, fokus pembangunan sektor pertanianyang ditempuh Kabupaten Balangan dalam periode sampai tahun 2030adalah :

    Mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis padakemampuan produksi, keragaman sumberdaya pangan sertakelembagaan dan budaya lokal.

    Mengembangkan agribisnis yang berorientasi global denganmembangun keunggulan kompetitif produk-produk daerahberdasarkan kompetisi dan keunggulan komparatif sumberdayaalam dan sumberdaya manusia yang bersangkutan.

    Untuk mencapai hal tersebut di atas, Pemerintah KabupatenBalangan melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan telahmengambil kebijakan merubah orientasi pembangunan pertanian dan

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202524

    perkebunan yang semula berdasarkan pendekatan produksi menjadipendekatan agribisnis dan revitalisasi perkebunan.

    Pembahasan Sektor Pertanian dibagi ke dalam lima Sub Sektor seperti dibawah ini.

    2.1.3.2.1. TANAMAN PANGAN

    KONDISI SAMPAI SAAT INILuas Lahan dan Pemanfaatannya

    Luas potensi lahan, baik berupa sawah maupun lahan kering diKabupaten Balangan.

    Menurut Laporan Tahunan Dinas Tanaman Pangan dan Perkebunan,penyebab belum optimalnya pemanfaatan lahan antara lain adalahterbatasnya tenaga kerja (baik manusia, ternak kerja maupunmesin/traktor), tingkat kesuburan tanah yang rendah, belumtersedianya saluran irigasi dan drainase yang baik dan memenuhisyarat, terbatasnya modal petani untuk mengelola usahataninya, danadanya beberapa lahan yang cukup jauh letaknya dari domisili petani.

    Tanaman padi diusahakan oleh petani di berbagai tipe lahan. Luas tanam dan luas panen padi sawah dan padi ladang. Perbedaan

    antara luas tanam dan luas panen padi sawah yang cukup signifikandisebabkan oleh adanya force majeur (kebanjiran dan kekeringan)serta adanya eksplosi hama dan penyakit.

    Luas tanam padi ladang turun. Penurunan yang cukup tajam tersebutbaik luas tanam dan luas panen padi ladang disebabkan oleh adanyapergeseran penggunaan lahan kepada komoditi perkebunan.

    Luas tanam dan luas panen palawija selama kurun waktu lima tahun.Terjadinya penurunan ini antara lain disebabkan oleh kurangnyakemampuan dan kemauan petani untuk melaksanakan diversifikasiusahatani.

    Untuk memenuhi kebutuhan benih, komoditi pangan di KabupatenBalangan dikoordinasikan dengan instansi terkait seperti BPSB, OPB,penangkar dan lainnya untuk menghasilkan kelas benih BS FS danFS SS dari Balai Benih Induk (BBI) dan Balai Benih Utama (BBU).

    Penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) dan benih bersertifikat masihterbatas. Hal ini disebabkan rendahnya pemahaman petani mengenaipentingnya benih bersertifikat bagi petani.

    Produksi Produksi padi selama kurun waktu lima tahun terjadi penurunan.

    Kondisi ini sudah tergambar pada luas panen padi karena ada korelasipositif antara luas panen dengan produksi.

    Sementara itu produksi palawija selama kurun waktu lima tahun jugaterjadi penurunan. Kondisi ini terjadi karena makin berkurangnyaminat masyarakat dalam melaksanakan diversifikasi usahatani.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202525

    Perkembangan produksi sayur-sayuran selama kurun waktu limatahun cukup menggembirakan, karena mengalami peningkatan.Keadaan ini terjadi karena makin bertambahnya umur tanaman,sementara upaya peremajaan tanaman masih terbatas.

    Produktivitas Produktivitas padi meningkat namun produktivitas yang dicapai

    Kabupaten Balangan masih jauh lebih rendah. Berdasarkan data produksi padi, dapat diketahui bahwa Kabupaten

    Balangan masih mengalami surplus beras. Surplus beras diperolehmelalui pengurangan produksi padi terhadap keperluan benih untukpenanaman kembali, buffer stock, dan konsumsi rumah tangga.

    Walaupun perkembangan produksi padi selalu terjadi peningkatannamun penambahan produksi tersebut masih di bawah peningkatanjumlah penduduk setiap tahunnya.

    Perhitungan surplus tersebut adalah dengan mengurangkan produksidengan keperluan benih, pakan ternak, konsumsi, industri, losses danbuffer stock. Masih banyaknya losses (kehilangan hasil) panen jugamenjadi penyebab rendahnya surplus.

    ANALISISProyeksi Masalah

    Adanya surplus beras dan peningkatan total produksi tanaman panganselama ini ternyata belum cukup untuk menghadapi keadaan yangakan berkembang di masa yang akan datang karena walaupunperkembangan produksi padi selalu terjadi peningkatan namunpenambahan produksi tersebut masih di bawah peningkatan jumlahpenduduk setiap tahunnya.

    Luas lahan yang tersedia belum optimal dimanfaatkan, antara laindisebabkan terbatasnya tenaga kerja (baik manusia karena kurangnyamotivasi, ternak kerja maupun mesin/traktor), tingkat kesuburantanah yang rendah, belum tersedianya saluran irigasi dan drainaseyang baik dan memenuhi syarat, terbatasnya modal petani untukmengelola usahataninya, dan adanya beberapa lahan yang cukup jauhletaknya dari domisili petani.

    Dalam hal luas panen sistem yang sudah berkembang belum mampumengantisiapisi secara optimal seperti adanya force majeur(kebanjiran dan kekeringan) serta adanya eksplosi hama danpenyakit.

    Luas tanam padi ladang bahkan menurun begitu pula halnya denganluas panen. Namun penurunan yang cukup tajam tersebut lebihdisebabkan oleh adanya pergeseran penggunaan lahan kepadakomoditi perkebunan. Hal ini berarti menyangkut kepentingan atauprioritas yang menjadi kebutuhan dan potensi daerah.

    Luas tanam dan luas panen padi dan palawija cenderung menurundisebabkan rendahnya diversifikasi usahatani, terbatasnyaPenggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) dan benih bersertifikat. Hal

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202526

    ini disebabkan rendahnya pemahaman petani mengenai pentingnyabenih bersertifikat bagi petani.

    Produksi buah-buahan mengalami penurunan karena makinbertambahnya umur tanaman, sementara upaya peremajaan tanamanmasih terbatas.

    Surplus beras yang mengalami penurunan disebabkan makinbertambahnya tingkat konsumsi, yang diindikasikan melaluipeningkatan jumlah penduduk yang tidak diikuti penambahanproduksi secara proporsional.

    2.1.3.2.2. PERKEBUNAN

    KONDISI SAMPAI SAAT INILuas Lahan dan Pemanfaatannya

    Lahan yang dapat digunakan untuk tanaman perkebunan masih luas. Didalam Sub Sektor Perkebunan komoditas yang paling berpotensi

    untuk dikembangkan saat ini adalah komoditas karet, kopi, lada,kemiri, kelapa dan kelapa sawit. Hal ini dilihat dari luas areal tanam,produksi dan produktivitas komoditas tersebut.

    Usaha perkebunan karet rakyat merata di seluruh kecamatan denganpusat konsentrasi di wilayah utara.

    Untuk pemenuhan kebutuhan benih komoditi perkebunan, terutamabibit karet di Kabupaten Balangan dilaksanakan oleh para petanipenangkar yang telah dibina oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangandan Perkebunan.

    Penggunaan klon unggul masih terbatas pada klon tertentu saja. Inidisebabkan masih belum tersedianya kebun entres dengan klonterbaru.

    Secara keseluruhan pencapaian luas areal tanaman perkebunanmeningkat.

    Produksi dan Produktivitas Karet yang diharapkan dapat menjadi komoditas unggulan.

    2.1.3.2.3. PETERNAKAN

    KONDISI SAMPAI SAAT INILahan Pengembangan

    Pada Sub Sektor Peternakan tersedia lahan untukpenggembalaan/padang rumput untuk pengembangan ternak besar.

    Pengembangan ternak unggas cukup sesuai dengan lahan yangtersedia.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202527

    Populasi Ternak Usaha ternak yang cukup menonjol adalah sapi, kambing dan ternak

    unggas (ayam ras, ayam buras dan itik)

    Produksi Produksi daging dari berbagai jenis ternak selama kurun waktu 2003

    - 2007 mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan.Peningkatan produksi ini karena pemotongan ternak yang terusmeningkat begitu pula halnya dengan pemasukan ternak dari daerahlain.

    Perkembangan produksi telur (ayam dan itik) dalam kurun waktulima tahun berfluktuasi.

    Konsumsi Konsumsi daging selama lima tahun terakhir berfluktuasi. Konsumsi telur selama kurun waktu yang sama juga mengalami

    fluktuasi. Meningkatnya konsumsi masyarakat akan bahan pangan asal ternak

    berdampak terhadap meningkatnya angka kecukupan gizi danprotein asal ternak, walaupun masih dibawah target nasional sebesar6 gr/kapita/hari.

    Penyakit Hewan Penyakit menular yang dapat dipantau pada hewan/ternak di

    Kabupaten Balangan baik secara laboratoris maupun klinis adalahRabies, Brucellosis (Kluron menular pada sapi) dengan keadaannegatif, Penyakit ngorok pada sapi, Parasit Darah, Newcastle Disease(tetelo pada ayam) yang diduga ada hampir di seluruh Kabupaten,Fasciolosis (cacing hati) yang banyak ditemukan. Penyakit DemamTiga Hari yang ditemukan di beberapa kecamatan, PenyakitKambing, serta penyakit-penyakit lain pada unggas.

    Pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan melalui vaksinasi,eliminasi dan pengobatan sudah banyak dilakukan oleh DinasPeternakan dan Perikanan, akan tetapi masih belum optimal.Pengendalian ini juga sangat tergantung pula pada pemeliharaanyang dilakukan peternak dan lingkungannya.

    ANALISISProyeksi Peluang atau Kesempatan

    Pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah memberikan keleluasaan kewenangan kepadadaerah Kabupaten Balangan untuk mengelola sumberdaya alamnyasesuai dengan potensi yang ada.

    Adanya globalisasi yang membuka peluang usaha dalam kemitraanmaupun kesempatan pemasaran lebih luas sudah tentu jugamemberikan kesempatan bagi Kabupaten Balangan mengambilmanfaat dari arus keluar masuknya modal serta arus teknologi daninformasi.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202528

    Adanya komitmen pemerintah daerah untuk mengembangkanagribisnis yang berorientasi global dengan membangun keunggulankompetitif produk-produk daerah berdasarkan kompetisi dankeunggulan komparatif sumber daya alam dan sumberdaya manusia.

    Pembangunan peternakan provinsi diarahkan untuk mewujudkanKalimantan Selatan sebagai daerah sumber bibit sapi potong tahun2010. Hal ini memberikan peluang bagi Kabupaten Balangan untukmengembangkan usaha peternakan khususnya sapi potong.

    Proyeksi Ancaman Pengaruh globalisasi membuat persaingan yang dihadapi akan

    semakin berat. Globalisasi dan pasar bebas membawa keterbukaanarus keluar masuk modal, sumberdaya manusia baik inter-regionalmaupun internasional. Jika Kabupaten Balangan tidak memacu diriuntuk meningkatkan kualitas dan daya saing niscaya akan tenggelamdalam arus globalisasi tersebut.

    Semakin meningkatnya konsumsi masyarakat akan protein hewani,terutama daging dan telur, merupakan tantangan yang harusdihadapi bidang peternakan terlebih lagi dengan terus meningkatnyajumlah penduduk. Oleh karena itu, untuk dua puluh tahun ke depan,produksi daging dan telur harus terus ditingkatkan.

    Semakin meningkatnya usaha pertambangan merupakan ancamanbagi usaha pertanian secara umum maupun usaha peternakankarena adanya perubahan fungsi lahan. Bila hal ini tidak disikapidengan bijaksana, maka dampak usaha pertambangan yangmeningkat justru akan menjadi ancaman bagi kelangsungan usahapeternakan.

    Masih ditemukannya berbagai penyakit ternak yang belumsepenuhnya dapat dicegah dan diberantas merupakan ancaman bagistabilitas populasi ternak yang selanjutnya akan mempengaruhiproduksi asal ternak.

    Bencana alam yang tidak dapat diduga juga dapat menjadi ancamanbagi kelangsungan usaha peternakan.

    Proyeksi Permasalahan Bencana alam yang tidak dapat diduga juga dapat menjadi ancaman

    bagi kelangsungan usaha peternakan. Populasi ternak besar terus menurun, yang disebabkan antara lain

    karena terjadinya peningkatan jumlah pemotongan ternak setiaptahunnya sebagai akibat meningkatnya konsumsi daging. Hal iniakan terus menjadi permasalahan bila tidak diatasi sesegeramungkin. Pemotongan ternak yang kurang terkendali akanmempengaruhi jumlah populasi dan produksi.

    Bibit, bakalan dan ternak siap potong masih tergantung dari luaryang ditunjukkan oleh banyaknya pemasukkan ternak. Hal ini akan

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202529

    mengganggu stabilitas populasi ternak yang ada di KabupatenBalangan. Oleh karena itu perlu diupayakan mengurangiketergantungan tersebut dan menjaga kestabilan populasinyamelalui inseminasi buatan (pembibitan), peningkatan pelayanankesehatan ternak dan pengendalian pemotongan betina produktif.

    Ketersediaan pakan ternak masih tergantung dari luar. Apabila hal initidak segera diatasi, maka akan mempengaruhi produksi baik darisegi kuantitas maupun kualitas.

    Permasalahan dari sisi produksi adalah masih rendahnyaproduktivitas induk, mutu bakalan yang ada masih kurang, AverageDaily Gain (rata-rata pertambahan berat per hari) masih rendah, danpemanfaatan teknologi masih rendah. Hal ini bisa terjadi akibatketergantungan pakan ternak dari luar dan masih lemahnyapengendalian penyakit ternak.

    Masih rendahnya kualitas sumberdaya manusia di bidang peternakandan masih lemahnya kelembagaan peternak. Keterampilan dalammemelihara ternak danpengendalian hama penyakit ternak masihlemah. Di samping itu, masih banyak peternak yang menjalankanusaha ternaknya dengan skala subsisten dengan manajemenusahatani yang lemah.

    Di samping itu belum optimalnya pemanfaatan Rumah Potong Hewan(RPH). Hal ini terlihat dari masih banyaknya pemotongan di luar RPH,bahkan masih banyak pemotongan ternak yang tidak tercatat.

    Produksi ternak dijual dalam keadaan hidup dan homogen, belumada produk yang terstandarisasi (gradding). Hal ini mengakibatkannilai tambah yang diperoleh peternak juga rendah.

    Di bidang pemasaran, sistem pemasaran belum tertata dengan baikdan bargaining position (posisi tawar) peternak masih lemah.

    Masih terbatasnya modal yang dimiliki oleh peternak, hal ini akanmempengaruhi keberlangsungan usaha ternak yang mereka miliki.Oleh karena itu pemerintah daerah perlu memfasilitasi peternakdalam mendapatkan kemudahan kredit permodalan.

    Proyeksi Keberhasilan Masih tersedianya lahan untuk penggembalaan/padang rumput

    untuk pengembangan ternak besar. Hal ini sangat mendukung untukpengembangan ternak besar. Meskipun kondisi selama sepuluhtahun terakhir menunjukkan penurunan populasi ternak besar, akantetapi kondisi ini dapat diperbaiki dengan cara mendatangkan bibitdan bakalan ternak besar dari luar dan selanjutnya diusahakan untukmengembangkan usaha penangkaran, dibarengi dengan usahapengendalian pemotongan betina produktif.

    Adanya visi dan misi Kabupaten Balangan yang jelas serta adanyakomitmen aparatur daerah untuk mengembangkan sektor pertaniandalam arti luas dengan pendekatan agribisnis. Hal ini juga akanmendukung peternakan dimana untuk masa yang akan datangpeternakan juga tidak lagi hanya berorientasi kepada produksi tetapimengarah kepada agribisnis.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202530

    Kegiatan peternakan sektor produksi mengalami penurunan tetapisektor usaha meningkat. Hal ini disebabkan karena sudah semakinterbukanya persaingan baik pada faktor produksi maupunproduksinya sehingga harga yang lebih murah dan kualitas yanglebih baik sangat dominan di pasaran. Faktor produksi yang masihberbasis pada bahan baku lokal dan harga bersaing masih bisabertahan dengan baik.

    Pelaksanaan Pilot Project Penguatan Kelembagaan danPengembangan Prasarana Pedesaan (PKP2D) di Kabupaten Balangandengan menggunakan pendekatan kawasan strategis. Salah satukomoditas unggulan yang ditetapkan dalam program ini adalahternak sapi potong. Dengan adanya kawasan strategis tersebutdiharapkan dapat mendorong peningkatan produksi sapi potong.

    Semakin meningkatnya konsumsi asal ternak baik berupa dagingmaupun telur memberikan angka kecukupan gizi yang terusmeningkat pula, meskipun kondisi saat ini masih di bawah targetnasional, akan tetapi dengan kecenderungan produksi daging yangsemakin meningkat akan dapat memenuhi kebutuhan konsumsimasyarakat.

    PREDIKSI KONDISI PETERNAKANPopulasi Ternak

    Berdasarkan data populasi ternak besar, yaitu sapi, sepuluh tahunterakhir cenderung mengalami penurunan, maka dua dekade kedepan populasi ternak ini juga akan terus semakin menurun.

    Populasi unggas cenderung mengalami peningkatan, kecuali itik.Prediksi dua dekade ke depan populasi ayam ras dan ayam burasakan terus mengalami peningkatan.

    Begitu pula halnya dengan populasi ayam buras.

    Pemasukan Ternak Populasi ternak sapi semakin menurun, sementara produksi dan

    konsumsi cenderung meningkat, hal ini berarti produksi sapididukung oleh pemasukan ternak siap potong.

    Pemasukan ternak sapi dua dekade mendatang juga akan terusmeningkat. Akan tetapi pemasukan ini lebih diarahkan kepadapemasukan bakalan dan bibit.

    Pemasukan ayam ras dua dekade mendatang terus meningkat,dengan laju pertumbuhan per tahun yang semakin menurun.

    Produksi Produksi dua dekade mendatang juga akan terus ditingkatkan

    mengingat semakin tingginya tingkat konsumsi masyarakat asalternak ditambah lagi dengan semakin bertambahnya jumlahpenduduk.

    Prediksi produksi daging meningkat. Prediksi produksi telur (ayam ras, ayam buras dan itik) meningkat.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202531

    Konsumsi Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka konsumsi

    pangan asal ternak juga meningkat. Prediksi konsumsi daging dua dekade mendatang cenderung

    meningkat. Prediksi konsumsi telur dua dekade mendatang meningkat. Semakin meningkatnya konsumsi pangan asal ternak dua dekade

    mendatang akan mendorong pula peningkatan angka kecukupan giziberupa protein hewani. Konsumsi protein hewani lima tahun pertamamencapai angka 4,97 gr/kapita/hari, lima tahun kedua sebesar 5,32gr/kapita/hari, lima tahun ketiga sebesar 5,67 gr/kapita/hari danlima tahun keempat mencapai angka 6,01 gr/kapita/hari.

    2.1.3.2.4. PERIKANAN

    KONDISI SAMPAI SAAT INI Pembangunan perikanan di Kabupaten Balangan telah tumbuh dan

    berkembang seiring dengan pesatnya pembangunan daerah diberbagai sektor lainnya. Kebijakan pembangunan perikanandiarahkan dalam rangka pemanfaatan potensi sumberdaya perikanansecara optimal untuk meningkatkan produksi dan produktivitasdengan tetap memperhatikan kelestariannya.

    Adanya kecenderungan penurunan produktivitas penangkapan ikandi perairan umum dan berkembangnya teknologi budidayaperikanan, telah mendorong peran perikanan budidaya lebih besardalam upaya penyediaan komoditas perikanan.

    Lahan Pengembangan Di bidang perikanan, Kabupaten Balangan memiliki sumberdaya

    hayati perikanan yang cukup besar, dimana potensi perairan umumdapat dikembangkan untuk kegiatan budidaya ikan, baik di karamba,kolam, minapadi, fishpen, maupun jala apung. Potensi perairan yang bisa dikembangkan untuk kegiatan

    perikanan terdiri dari budidaya ikan di kolam, budidaya ikan dikaramba, Budidaya ikan di sawah (minapadi).

    Pada Sub Sektor Perikanan ditunjang dengan keberadaan arealperikanan darat yang memiliki potensi untuk budidaya danpembibitan ikan.

    Benih Sumber air yang mengairi lahan perbenihan berasal dari sungai

    Balangan. Aktivitas pembenihan ikan dapat dilakukan melalui Unit Pembenihan

    Rakyat (UPR) di Kabupaten Balangan untuk penghasil bibit ikan,,

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202532

    merupakan ujung tombak dalam pengembangan kegiatan budidayapembesaran ikan.

    Sumberdaya Manusia Potensi lain yang tidak kalah pentingnya adalah tersedianya

    sumberdaya manusia. Perkembangan Rumah Tangga Perikanan (RTP). Seiring dengan berkembangnya jumlah UPR dan luas lahan

    pembenihan, produksi benih juga mengalami perkembangan yangmenggembirakan.

    Produksi dan Kosumsi Perkembangan produksi ikan Perkembangan produksi dari hasil penangkapan di perairan umum Konsumsi ikan per kapita per tahun mempunyai kecenderungan yang

    terus meningkat

    ANALISISProyeksi Peluang

    Pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah memberikan keleluasaan kewenangan kepadadaerah Kabupaten Balangan untuk mengelola sumberdaya alamnyasesuai dengan potensi yang ada.

    Adanya globalisasi yang membuka peluang usaha dalam kemitraanmaupun kesempatan pemasaran lebih luas sudah tentu jugamemberikan kesempatan bagi Kabupaten Balangan mengambilmanfaat dari arus keluar masuknya modal serta arus teknologi daninformasi.

    Adanya komitmen pemerintah daerah untuk mengembangkanagribisnis yang berorientasi global dengan membangun keunggulankompetitif produk-produk daerah berdasarkan kompetisi dankeunggulan komparatif sumber daya alam dan sumberdaya manusia.

    Proyeksi Ancaman Pengaruh globalisasi membuat persaingan yang dihadapi akan

    semakin berat. Globalisasi dan pasar bebas membawa keterbukaanarus keluar masuk modal, sumberdaya manusia baik inter-regionalmaupun internasional. Jika Kabupaten Balangan tidak memacu diriuntuk meningkatkan kualitas dan daya saing niscaya akan tenggelamdalam arus globalisasi tersebut.

    Semakin meningkatnya kebutuhan pemenuhan gizi masyarakatmelalui konsumsi protein hewani asal ikan, merupakan tantanganyang harus dihadapi bidang perikanan terlebih lagi dengan terusmeningkatnya jumlah penduduk.

    Semakin meningkatnya usaha pertambangan merupakan ancamanbagi usaha pertanian secara umum maupun usaha perikanan karenaadanya perubahan fungsi lahan. Bila hal ini tidak disikapi dengan

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202533

    bijaksana, maka dampak usaha pertambangan yang meningkatjustru akan menjadi ancaman bagi kelangsungan usaha perikanan.

    Semakin menyempitnya areal penangkapan memberikan tantanganke depan untuk lebih meningkatkan budidaya (kolam, karamba danminapadi).

    Proyeksi Permasalahan Adanya kecenderungan penurunan produktivitas penangkapan ikan

    di perairan umum. Hal ini berarti bahwa untuk memenuhi kebutuhankonsumsi masyarakat akan ikan maka budidaya harus lebihditingkatkan.

    Ketersediaan pakan ternak ikan masih tergantung dari luar.Ketersedian pakan ternak ikan baik dalam kuantitas, kualitasmaupun kontinuitas sangat berpengaruh terhadap pembesaran ikanyang dibudidayakan, yang selanjutnya tentu saja akan berpengaruhpada produksi dan produktivitas ikan.

    Terbentuknya kawasan sentra produksi benih ikan di KabupatenBalangan sangat mendukung bagi kelancaran usaha perikanan, akantetapi benih yang dijual belum terstandarisasi.

    Belum optimalnya pemanfaatan lahan pembenihan Belum optimalnya pemanfaatan lahan budidaya (baik kolam,

    minapadi dan karamba). Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) penangkapan dan jumlah

    alat tangkap cenderung mengalami peningkatan, sedangkan produksipenangkapan justru menurun dengan semakin menyempitnya arealpenangkapan. Hal ini berarti bahwa RTP penangkapan harus lebihdiarahkan ke budidaya.

    Proyeksi Keberhasilan Di bidang perikanan, Kabupaten Balangan memiliki sumberdaya

    hayati perikanan yang cukup besar, dimana potensi perairan umum(sungai, danau, rawa, cekdam dan genangan air lainnya) dapatdikembangkan untuk kegiatan budidaya ikan, baik di karamba,kolam, minapadi, fishpen, maupun jala apung.

    Potensi perairan yang bisa dikembangkan untuk kegiatan perikanan.Hal ini berarti untuk masa yang akan datang peningkatan produksiperikanan dapat dilakukan melalui budidaya dengan memanfaatkanpotensi lahan yang ada.

    Terbentuknya kawasan sentra produksi benih ikan Potensi lain yang tidak kalah pentingnya adalah tersedianya

    sumberdaya manusia. Konsumsi masyarakat akan ikan yang cenderung mengalami

    peningkatan, akan semakin mendorong peternak ikan untukmeningkatkan produksi ikan.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202534

    PREDIKSI KONDISI PERIKANAN Selama dua dekade mendatang aktivitas penangkapan dikurangi dan

    lebih diarahkan kepada budidaya. Produksi ikan dari hasil budidaya lebih ditingkatkan lagi di masa dua

    dekade mendatang. Untuk dapat menghasilkan pertumbuhan produksi yang positif, maka

    luas areal budidaya juga harus ditingkatkan.

    2.1.3.2.5. KEHUTANAN

    KONDISI SAMPAI SAAT INI Luas kawasan hutan yang terdapat di Kabupaten Balangan pada

    tahun 2007 adalah 98.153 ha yang terdiri dari hutan lindung(51.938 ha), hutan produksi terbatas (7.510 ha) dan hutan produksi(38.705 ha).

    Kondisi ekologis dan biologis kawasan hutan di Kabupaten Balanganmencerminkan tipe hutan Dipteropcarp pegunungan selain itu jugaterdapat tipe hutan Dipterocarp dataran lembah dan dasar lembah,tipe hutan biwan,rivarian forest (tepi sungai), bukit kapur, batukapur dan hutan sekunder. Sebagian besar pohon-pohon yangterdapat di kawasan hutan tersebut merupakan anggota familiDipterocarpaceae seperti meranti (Shorea sp.), kapur (Driobalanopssp),keruing (Dipterocarpus spp),nyatoh (Palaquium spp), bangkirai(Shorea laevis), balau (Shorea eliptica),biwan(Endertia spectabilis),merijang (Sindora spp) dan ulin(Eusideroxylon zwageri). Selain vegetasi pohon juga terdapatberagam jenis burung terutama burung penghasil sarang yangbernilai ekonomi tinggi seperti walet , beragam jenis kelalawar yangtinggal di gowa-gowa dalam hutan, beragam jenis ikan dan amfibi,juga terdapat owa-owa, orang utan, macan dahan, beruangmatahari,bekantan dan banteng.

    Sejalan dengan kondisi umum kehutanan Indonesia secara makromaka hutan dan kehutanan di Kabupaten Balangan jugamenghadapi tantangan yang besar berupa pesatnya deforestasisumberdaya hutan, penebangan liar, kegiatan perladangan,kebakaran hutan, perubahan fungsi hutan, penebangan olehIUPHHKHA, dan kegiatan pertambangan.

    Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar hutankebanyakan mencerminkan petani dengan sistem pertanian berupaladang berpindah. Mereka memiliki mata pencaharian denganmemanfaatkan produk-produk hutan baik kayu maupun non kayu.Disamping itu kegiatan sosial-ekonomi masyarakat setempat jugabergerak dibidang perkebunan karet yang dianggap masyarakatsetempat sebagai sumber pendapatan yang dapat diandalkan.Perkebunan karet dengan menggunakan karet lokal merupakan

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202535

    sumber investasi jangka panjang dengan sedikit input dan sebagaidasar legalitas terhadap hak tenurial atas pembukaan dankepemilikan lahan dan hutan. Sedangkan kegiatan penebangankayu yang terdapat di dalam hutan secara finansial dan pemasaranterkait dengan dukungan pihak yang berada di luar area

    Kebanyakan keadaan sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan jikadiukur dengan pendekatan kesejahteraan secara kuantitatif masihberada di bawah garis kemiskinan dengan tolok ukur rendahnyatingkat pendapatan, pendidikan dan kesehatan, kurangnya aksesterhadap pasar, kurangnya sanitasi perumahan dan lingkungan.Upaya untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat telahdilakukan melalui program Pembinaan Masyarakat Desa Hutan,Pembinaan dan pendampingan Kelompok Produktif dengan SistemKemitraan ,Penyuluhan, Pelatihan Agroforestri dan PengembanganHutan Kemasyarakatan (HKm) dan Sosial forestry.

    Kontribusi bidang kehutanan terhadap penerimaan asli daerah (PAD)berupa dana PSDH, DR dan Retribusi Hasil Hutan berdasarkan DataDinas Kehutanan Kabupaten Balangan menunjukan peningkatanyang berarti pada setiap tahunnya.

    Program Dinas Kehutanan Balangan selaku institusi daerah yangberwenang menangani kegiatan kehutanan setelah otonomi daerahmeliputi 7 program utama yaitu :Pengembangan informasisumberdaya alam dan lingkungan, peningkatan efisiensipemanfaatan SDA dan lingkungan hidup, konservasi dan rehabilitasiSDA dan lingkunganhidup,penetapan hukum dan kelembagaan SDAdan lingkungan hidup,peningkatan peran serta masyarakat dalampengelolaan SDA dan lingkungan hidup, penertiban perizinanpengelolaan dan pemanfaatan SDA, konservasi dan rehabilitasi lahankritis dan pasca tambang. Program tersebut terintegrasi dengan 5kebijakan Departemen Kehutanan yang meliputi kebijakanpemberantasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangankayu illegal, revitalisasi sektor kehutanan khususnya industrikehutanan, rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan,pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar hutan,pemantapan kawasan hutan.

    Keberhasilan pengelolaan hutan mesti didukung oleh manajemenpengelolaan hutan yang baik dan sumber daya manusia (pelaksana)yang handal. Manajemen yang baik harus berorientasi padaparadigma pengelolaan hutan baru yang memiliki konsep forestresources management dan forest ecosistem managementmengintegrasikan sub-sistem kehutanan dan sub-sistem sosekbudmasyarakat secara holistik. Sumber daya manusia yang handalharus berkualitas atau profesionalisme dan memiliki budayarimbawan yang berhubungan dengan nilai-nilai moralitas.

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202536

    ANALISISProyeksi Peluang

    Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kehutanan Nasional.RPJPK yang disusun untuk tahun 2010 sampai 2029 merupakanperencanaan makro bidang kehutanan yang bersifat strategis yangmenjabarkan visi, misi, tujuan, strategi, sasaran, kebijakankehutanan yang dapat berfungsi sebagai acuan (guidance) untukrencana kehutanan jangka panjang di daerah sehingga apa yangmenjadi substansi dari penyusunan RPJPK di daerah bahan pijakandan landasannya sudah sangat jelas yaitu RPJP DepartemenKehutanan yang sifatnyanya sinergis dengan RPJPK yang disusun didaerah.

    Desentralisasi dan Otonomi Daerah.Kebijakan otonomi daerah yang terdapat dalam UU No.32 tahun2004 yang secara substansial memberikan kewenangan luas bagidaerah dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatanpembangunan. Daerah otonom berhak mengelola sumber daya alamdan juga berkewajiban menjaganya agar terjaga kelestariannya.Dengan adanya desentralisasi dan otonomi daerah maka daerahmemiliki peluang dan kesempatan dalam hal mengkaji dan bahkanmenghapus beberapa peraturan kehutanan yang bertentangandengan desentralisasi dan otonomi daerah,menerbitkan peraturanbaru bidang kehutanan dalam rangka mendorong pelaksanaanmanajemen hutan lestari, memantapkan keberadaan mitrakehutanan dan potensi peran serta masyarakat dalam mendukungpembangunan kehutanan melalui pola manajemen hutanpartisipatif.

    Isu Internasional Tentang Lingkungan Hidup.Isu tentang lingkungan hidup secara global seperti kesepakatanClean Development Green Development di Kyoto merupakan peluangyang akan mendukung penyelenggaraan pengelolaan hutan secaralestari. Dimasa yang akan datang berbagai macam produk yangberasal dari hutan harus berasal dari hutan yang memiliki kondisilingkungan stabil sesuai kreteria dan indikator hutan lestari dengansertifikat manajemen (ISO). Secara internasional maka dukunganpengelolaan hutan lestari amat besar.

    Faktor Peluang LainPeluang lain terkait dengan potensi sumberdaya hutan yang tersediaberupa kayu dan NTFP cukup besar, komitmen daerah dalammengelola sumberdaya hutan,ketergantungan terhadap sumberdayahutan, permintaan pasar terhadap sumberdaya hutan dan peluanginvestasi di bidang sumberdaya hutan.

    Proyeksi Ancaman Paradigma Desentralisasi dan Otonomi Yang Sempit

    Salah menafsirkan makna desentralisasi dan otonomi daerah akanmemperkeruh manajemen pengelolaan hutan di daerah. Tidakmustahil dengan adanya desentralisasi dan otonomi daerah justru

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202537

    para pejabat di daerah akan berlomba-lomba memanfaatkan apasaja yang ada dan tersisa dari hutan yang ada di daerah.Padahalotonomi daerah merupakan kesempatan untuk mengembangkan danmeningkatkan potensi daerah untuk sebesar-besar kemakmuranmasyarakat sebagai bagian kekuatan bangsa untuk mendukungkeutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Paradigma pemanfaatan sumber-sumber ekonomi daerah yangberlebihan dapat menimbulkan ego sektoral daerah otonom padahalfaktor lingkungan hidup harus dikelola secara terpadu, apalagifenomena lingkungan hidup tidak memperdulikan batas-batasadministrasi daerah otonom tetapi lebih banyak berdasarkan batasDAS yang melewati batas-batas administrasi.

    Besarnya Permintaan Produk KehutananPermintaan akan kayu bukan hanya berasal dari dalam daerah tetapijuga berasal dari luar daerah.

    Konversi Lahan HutanKonversi atau alih guna lahan sangat tidak bisa dihindari karenahampir semua lahan di Indonesia dulunya hutan alam yang secaraberangsur-angsur berubah menjadi berbagai bentuk penggunaanlahan lain seperti pemukiman-pekarangan, pertanian, kebun,perkebunan, HTI,penggalian bahan tambang,tempat penampunganair, bencana alam,dan lain-lain. Dengan kata lain kebutuhan lahanuntuk berbagai kepentingan sangat tinggi.

    Kerusakan HutanPopulasi dan distribusi kekayaan sumber daya hutan di KabupatenBalangan diprediksi akan mengalami penurunan berkaitan denganmunculnya berbagai sumber ancaman dan tekanan hutan sepertipenebangan dan perdagangan kayu liar,perladangan dengan tujuanuntuk tanaman padi dan karet, kebakaran hutan yang belumsepenuhnya dapat diatasi, perubahan fungsi hutan, kondisi penataankawasan hutan yang belum mantap, kegiatan pertambangan.Konsekuensi logis dari berbagai sumber dan tekanan tersebut akanberdampak pada terjadinya penurunan populasi dan distribusikekayaan sumber daya hutan berupa terjadinya erosi yangberdampak pada penurunan kesuburan tanah, banjir, kualitas pohonberkurang, hasil hutan non kayu berkurang, jumlah dan jenisbinatang berkurang, jumlah dan jenis pohon berkurang dan luashutan berkurang.

    Proyeksi Permasalahan Perspektif Sumber Daya Hutan

    Dari sumberdaya hutan yang ada di Kabupaten Balangan selainmemiliki sisi kekuatan juga memiliki sisi kelemahan.Dari kondisiobjektif SDH yang ada sekarang menunjukan bahwa sebagianmengalami degradasi. Dengan kondisi hutan seperti itu makatantangan masa depan manajemen pengelolaan hutan adalahmerehabilitasi logged over area atau hutan sekunder dan kawasanpasca balak yang dalam keadaan kondisi rusak, padang alang-alang,

  • Rancangan RPJP Kabupaten Balangan Tahun 2005-202538

    areal perladangan dan juga kawasan hutan tanaman dengan kondisirusak agar kembali produktif namun tetap mengedepankan aspekkepentingan lokal.

    Perspektif Manajemen Pengelolaan HutanManajemen pengelolaan hutan dengan visi dan misi pengelolaanhutan yang berorientasi pada hasil hutan kayu dengan menafikanfaktor sosekbud masyarakat yang ada di dalamnya merupakan